BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Pada saat ini, planet bumi mengalami pemanasan global. Pemanasan global adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca. Efek rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
tidak memerlukan perawatan khusus, tetapi dapat mengikat gas CO2 dengan
volume yang besar.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk membuat Paper ini dengan judul “Perencanaan Pelestarian Pohon Bambu sebagai Upaya untuk Mengurangi Penyebab Pemanasan Global”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasikan masalah pokok penelitian ini adalah sebagai berikut
1. Bagaimana kondisi planet bumi akibat pemanasan global?
2. Seberapa besar pengaruh adanya perencanaan pelestarian pohon bambu sebagai upaya mengurangi penyebab pemanasan global?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, dalam penulisan Paper ini mempunyai tujuan yaitu sebagai berikut
1. Untuk mengetahui bagaimana kondisi planet bumi akibat pemanasan global.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perencanaan
2.2 Pohon Bambu
Bambu adalah salah satu tumbuhan daerah tropis dan subtropik. Bambu termasuk dalam devisi spermatophyta, subdevisi angiospermae, klas monocotyledonae, ordo Graminales, family graminiae, sub family bamusoideae. Secara alami bambu dapat tumbuh pada hutan primer maupun hutan sekunder (bekas perladangan dan belukar). Pada umumnya bambu menghendaki tanah subur, sedangkan jenis lainnya dapat tumbuh pada tanah yang kurang subur merupakan tempat jenis tanaman berkayu. Yang termasuk dengan tempat tumbuhnya bambu adalah curah hujan yang cukup, minimal 1000 mm/thn ( Anonim, 1998).
Anonim (1999), mengemukan bahwa tanaman bambu dapat tumbuh mulai dari 0 – 1500 m dari permukaan laut, bahkan jenis –jenis yang berbatang kecil dijumpai tumbuh pada ketinggian antara 2000-3750 m dari permukaan laut. Pada ketinggian 3750 m dari atas permukaan laut, habitusnya berbentuk rumput.
2.3 Pemanasan Global 2.3.1 Pengertian
Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi sebagai akibat meningkatnya jumlah emisi Gas Rumah Kaca di atmosfer. Menurut Budianto (2000:195) dalam Rajaguguk, E dan Ridwan K (2001) perubahan iklim global sebagai peristiwa naiknya intensitas efek rumah kaca yang terjadi karena adanya gas dalam atmosfer yang menyerap sinar panas yaitu sinar infra merah yang dipancarkan oleh bumi.
berbagai sektor kehidupan manusia. Perubahan fisik ini tidak terjadi hanya sesaat tetapi dalam kurun waktu yang panjang.
LAPAN (2002;1) mendefinisikan perubahan iklim adalah perubahan rata-rata salah satu atau lebih elemen cuaca pada suatu daerah tertentu. Sedangkan istilah perubahan iklim skala global adalah perubahan iklim dengan acuan wilayah Bumi secara keseluruhan.
2.3.2 Penyebab
Penyebab terjadinya pemanasan global yaitu menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Kedua, Efek umpan balik yaitu pada penguapan air.
2.3.3 Dampak Pemanasan Global
Adapun dampak dari pemanasan global ini yaitu, sebagai berikut 1. Cuaca
Para ilmuwan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Pada pegunung-gunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan.
2. Tinggi muka laut
lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21. Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan.
3. Pertanian
Lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
4. Hewan dan tumbuhan
dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
5. Kesehatan manusia
BAB III
PERENCANAAN PELESTARIAN POHON BAMBU SEBAGAI UPAYA UNTUK MENGURANGI PENYEBAB PEMANASAN GLOBAL
Kondisi planet bumi saat ini sedang mengalami ancaman yang sangat serius yaitu adanya pemanasan global. Pemanasan global adalah naiknya suhu rata-rata bumi akibat menumpuknya konsentrasi gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana di lapisan atmosfer yang disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu efek rumah kaca. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Meningkatnya suhu global menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, semakin berkurangnya keanekaragaman hayati, timbulnya penyakit dan punahnya beberapa spesies satwa, serta meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim. Gas-gas rumah kaca ini berasal dari aktivitas manusia yaitu polusi karbondioksida dari pembangkit listrik bahan bakar fosil dan pembakaran bensin untuk transportasi, gas metana dari peternakan dan pertanian, aktivitas penebangan pohon, dan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Apabila aktivitas tersebut terus menerus dilakukan oleh manusia tanpa adanya penanggulangan, maka akibat pemanasan global yang terjadi akan semakin parah.
dan Chlorofluorocarbon (CFC). Hutan yang diharapkan menjadi tempat penimbunan gas CO2 telah rusak, bahkan rusaknya hutan ini menambah jumlah
CO2 di udara. Pohon-pohon yang telah mati akan menghasilkan gas CO2 dan
melepasnya ke atmosfer. Oleh sebab itu perlu adanya tindakan untuk mencegah semakin meningkatnya pemanasan global dan harus memulihkan kembali kondisi planet bumi agar dapat berjalan sesuai koridor yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis ikut berkontribusi dalam penanggulangan pemanasan global ini yang dituangkan dalam Paper yang berjudul “Perencanaan Pelestarian Pohon Bambu sebagai Upaya untuk Mengurangi Penyebab Pemanasan Global”. Di mana penulis memberikan saran yaitu adanya perencanaan pelestarian pohon bambu karena dapat mengurangi jumlah volume gas karbondioksida yang merupakan salah satu penyebab terjadinya pemanasan global dengan memperhatikan kondisi lingkungan di Indonesia serta efisiensi dalam melaksanakan perencanaan pelestarian bambu ini dengan harapan adanya tanggapan dari pemerintah sebagai penentu kebijakan untuk mempertimbangkan perencanaan pelestarian bambu ini dalam menentukan kebijakan tentang pembangunan yang berkelanjutan. Sehingga dapat disosialisasikan kepada lembaga-lembaga dalam bidang lingkungan hidup, para pengusaha industry, dan masyarakat sebagai subjek dalam upaya penanggulangan efek pemanasan global.
3.1 Peran Pohon Bambu dalam Pemanasan Global
dengan jumlah yang cukup besar tergantung jenis pohonnya. Pohon yang memiliki kemampuan untuk mengikat CO2 dalam jumlah yang besar yaitu
bambu.
Tanaman bambu berpotensi menjadi solusi alternatif bagi sejumlah permasalahan lingkungan terutama dalam mengatasi pemanasan global. Bambu memiliki daya serap karbon yang cukup tinggi untuk mengatasi persoalan CO2 di udara, bambu juga merupakan tanaman yang cukup baik untuk
memperbaiki lahan kritis. Selain itu Indonesia memiliki bambu sebagai sumber daya lokal terbarukan dengan potensi yang luar biasa dari aspek lingkungan alam, sosial, dan ekonomi.
3.2 Pelestarian Pohon Bambu
Menurut Widjaja (2004), cepatnya pertumbuhan bambu dibanding dengan pohon kayu, membuat bambu dapat diunggulkan untuk deforestasi. Dalam sehari bambu dapat bertambah panjang 30-90 cm. Rata-rata pertumbuhan bambu untuk mencapai usia dewasa dibutuhkan waktu 3-6 tahun. Pada umur ini, bambu memiliki mutu dan kekuatan yang paling tinggi. Bambu yang telah dipanen akan segera tergantikan oleh batang bambu yang baru. Hal ini berlangsung secara terus menerus secara cepat sehingga tidak perlu dikhawatirkan bambu ini akan mengalami kepunahan karena dipanen. Berbeda dengan kayu, setelah ditebang akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menggantinya dengan pohon yang baru.Selain itu bambu juga merupakan penghasil oksigen paling besar dibanding pohon lainnya.
a. Tanah
Bambu dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, mulai dari tanah berat sampai ringan, tanah kering sampai becek, dan dari tanah subur sampai kurang subur, dari tanah pegunungan yang berbukit terjal sampai tanah yang landai. Perbedaan jenis tanah dapat berpengaruh terhadap kemampuan perebungan bambu. Tanaman bambu dapat tumbuh pada tanah yang bereaksi masam pada pH 3,5 dan umumnya menghendaki tanah yang pH-nya 5,0 sampai 6,5. Pada tanah yang subur tanaman bambu akan tumbuh baik karena kebutuhan makanan bagi tanaman tersebut akan terpenuhi.
b. Ketinggian Tempat
Tanaman bambu dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah maupun dataran tinggi yaitu antara 0 – 1000 mdpl bahkan jenis –jenis yang berbatang kecil dijumpai tumbuh pada ketinggian antara 2000-3750 m dari permukaan laut. Pada ketinggian 3750 m dari atas permukaan laut, habitusnya berbentuk rumput. c. Iklim
d. Teknik Pembibitan
Perbanyakan tanaman bambu dapat dilakukan dengan cara vegetatif dan generatif, perbanyakan generatif melalui bijinya, sedangkan perbanyakan vegetatif melalui stek
e. Pola Tanam
Adapun cara penanaman pohon bambu ini yaitu sebagai berikut 1) Penanaman Monokultur
Penanaman bambu secara murni dilakukan dengan menanam satu jenis bambu pada seluruh areal yang luas, hasilnya untuk memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar.
2) Penanaman Campuran
Penanaman tanaman bambu ditanam bersama-sama dengan tanaman lainnya dengan tujuan mengendalikan erosi dan mempertahankan kesuburan tanah.
f. Tebing Pilih
karena akan didapatkan mutu bambu sesuai dengan yang diinginkan dan kelansungan pertumbuhan bambu akan tetap berjalan.
3.3 Bentuk Pelestarian Pohon Bambu
Adapun bentuk pelestarian pohon bambu diantaranya
1. Dikembangkan pada lahan kritis sekaligus sebagai tanaman penghijau guna sebagai pengendali erosi dan konservasi air.
2. Dikembangkan di tebing-tebing sungai, tepi jurang, tanah-tanah perbukitan dan tanah kosong lainnya guna sebagai upaya pengendalian tanah longsor dan banjir dapat
3. Dikembangkan bambu hias tanam yang ditanam di kota, perkarangan rumah, tepi lapang, di tepi jalan, halaman sekolah dan halaman rumah untuk menambah keindahan, keasrian lingkungan
4. Dikembangkan pula taman bambu dan bambu hias di lingkungan industri, halaman pabrik, dan di lingkungan perumahan sebagai upaya penanggulangan polusi udara dan kebisingan.
5. dikembangkan di lahan milik rakyat sebagai pemilikan atau di kawasan hutan sebagai tanda batas hutan antara lahan milik dan lahan hutan milik negara.
3.4 Kelebihan Pelestarian Pohon Bambu
Sebagai Negara kepulauan yang subur, perlu adanya pemanfaatan khusus yaitu dengan melestarikan pohon bambu di Indonesia karena memiliki beberapa kelebihan, yaitu sebagai berikut
1. Bambu merupakan salah satu sumber daya alam Indonesia 2. Bambu adalah salah satu tumbuhan daerah tropis dan subtropis
3. Bambu dapat tumbuh dengan cepat dibanding pohon-pohon kayu lainnya 4. Bambu mudah ditanam dan perawatannya pun tidak memerlukan
5. Bambu dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun tinggi yaitu antara 0-2000mdpl dalam tanah yang subur, kurang subur, berat, ringan pada suhu 8,8-36oC
6. Bambu dapat menyerap gas CO2 sebanyak 12ton/hektar/tahun
7. Bambu mempunyai struktur akar yang kuat untuk menahan erosi
BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari pembahasan paper ini yaitu pemanasan global merupakan masalah serius yang harus segera diatasi dengan adanya perencanaan pelestarian pohon bambu dapat mengurangi penyebab pemanasan global.
4.2 Rekomendasi
Adapun rekomendasi dari penulis dalam paper ini yaitu, sebagai berikut
1. Kepada Pemerintah sebagai penentu kebijakan diharapkan dapat mempertimbangkan perencanaan pelestarian global ini sehingga bisa disosialisasikan ke seluruh masyarakat Indonesia
2. Kepada Pengusaha Industri diharapkan dapat mendukung perencanaan ini dan mengaplikasikannya yaitu penanaman pohon bambu di sekitar pabrik atau lapangan industrinya tersebut agar gas karbondioksida yang dihasilkan dari industrinya tersebut dapat diserap oleh pohon bambu yang ditanam.
3. Kepada Lembaga yang berkontribusi dalam bidang lingkungan hidup diharapkan dapat mendukung dan membantu sosialisasi perencanaan ini agar dapat diaplikasikan secara global.
DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Robinson. Perencanaan Pembangunan Wilayah. 2006. Jakarta: PT Bumi Aksara
http://stiacomunitypalu.blogspot.com/2012/11/beberapa-arti-perencanaan-menurut-para.html
DAFTAR ISI
1. Kesimpulan...16 2. Saran...16
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang.
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. Sholawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjungan alam nabi Muhammad SAW. Penulis panjatkan puji sepenuh hati karena berkat bimbingan–Nya, penulis dapat menyelesaikan Paper yang berjudul ”Perencanaan Pelestarian Pohon Bambu sebagai Upaya untuk Mengurangi Penyebab Pemanasan Global”.
Paper ini disusun untuk menyelesaikan tugas Mata kuliah Pengentar Perencanaan Wilayah dan Kota. Dalam penyusunan Paper ini penulis telah berusaha semaksimal mungkin agar paper ini berkualitas sebagaimana yang diharapkan, namun rupanya hanya inilah yang dapat penulis persembahkan sesuai dengan batas kemampuan dan pengetahuan yang ada pada diri penulis. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Paper ini masih banyak kekurangan baik dari segi materi maupun dari penyajiannya. Oleh karena itu, dengan senang hati penulis akan menerima segala saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pembaca.
Akhirnya, penulis berharap semoga Paper ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya. Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni dan melindungi kita seterusnya dalam mengabdikan diri kepada-Nya. Amin ya Robbal Alamin.
PAPER
PERENCANAAN PELESTARIAN POHON BAMBU SEBAGAI UPAYA UNTUK MENGURANGI PENYEBAB PEMANASAN GLOBAL Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perencanaan Wilayah dan Kota
Disusun oleh:
Eneng Dayu Saidah NPM: 052113022
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PAKUAN Tahun Ajaran 2013/2014
20