Bisnis.com, MEDAN--Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan akan membuka pendidikan dan latihan penerbang atau sekolah pilot mulai 2015.
Sekolah pilot ini nantinya akan menjadi satu-satunya sarana bagi calon penerbang di kawasan Sumatra bagian Utara.
Direktur ATKP Medan Asri Santosa menyebutkan saat ini terjadi lonjakan permintaan tenaga penerbang baik dari maskapai nasional.
"Oleh karena itu kami berambisi untuk membuka jurusan pilot di ATKP Medan. Rencananya pada 2015 kami akan memulai dengan 10 siswa dan pada 2019 kami menargetkan mencapai 60 siswa, sehingga dapat meluluskan maksimal 200 pilot per tahun," ujarnya, Kamis (20/2/2014). Asri memaparkan, ATKP Medan akan menggunakan Polonia sebagai tempat latihan lokal atau touch and go pemenuhan Flop Taruna Penerbang, hangar, ruang diskusi, dan sebagainya.
"Untuk sementara, kami sudah memastikan tiga orang instruktur. Untuk pesawat kami mendapat hibah dari STPI. Pengadaan peswat latih selanjutnya, kami akan menyewa dari pihak ketiga," tambah Asri.
Rencana ini juga telah didukung Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho. Dia menyetujui pembukaan jurusan pilot ATKP Medan pada 2015.
Adapun, Gatot telah menghubungi Danlanud Medan dan Dinas Perhubungan untuk membantu merealisasikan rencana ATKP Medan tersebut. Secepatnya, Pemprovsu akan menggelar rapat koordinasi bersama TNI AU di Bandara Polonia.
"Memang ini telah lama kami inginkan. Apalagi saat ini Sumut sudah punya Bandara
Mau Jadi Pilot, Berapa Biaya Sekolahnya?
MedanBisnis - Cengkareng. Kebutuhan penerbang baru di Indonesia sangat tinggi. Setiap tahun, kebutuhan pilot baru mencapai sekitar 500 orang. Berapa biaya untuk belajar di sekolah
penerbang saat ini?
Ketua Sekolah Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug Yurlis Hasibuan
menerangkan, biaya pendidikan di sekolah penerbangan pemerintah mencapai Rp 500 juta per orang, dengan masa pendidikan 2 tahun.
Namun pemerintah memberikan subsidi Rp 400 juta per orang, sehingga biaya yang ditanggung calon siswa hanya Rp 100 juta. Beasiswa ini khusus berlaku untuk sekolah penerbangan milik pemerintah di Curug dan Banyuwangi.
"Kalau hitungan STPI, biaya mencetak pilot Rp 500 juta per orang. Kalau anak baru dihitung Rp 100 juta, karena negara memberi beasiswa Rp 400 juta," kata Yurlis di Kantor AirAsia,
Cengkareng, Tangerang, Kamis (23/10/2014).
Pengenaan tarif ini baru berlaku sejak awal 2014. Sebelumnya siswa sama sekali tidak dikenakan biaya. Namun ada kebijakan baru yang terbit sejak akhir 2013. Isi kebijakan ini ialah tidak menanggung 100% biaya pendidikan.
"Dulu gratis, tapi mulai November 2013 ada kebijakan baru. Sehingga ada pengenaan biaya yang berlaku mulai awal 2014," jelasnya.
Sedangkan biaya untuk mencetak penerbang helikopter, menurut Yurlis jauh lebih mahal. Biaya yang dikenakan sebesar Rp 820 juta per orang.
"Biaya pendidikan merujuk pada PP 74 senilai Rp 820 juta. Itu dikenakan kalau perusahaan swasta ingin menyekolahkan calon penerbang," jelasnya.
Kapasitas atau daya tampung STPI Curug dan Banyuwangi mampu mencetak 200 penerbang setiap tahun. Khusus STPI Curug, setiap tahun mampu melahirkan 20 pilot khusus helikopter. Lama pendidikan berkisar 1,5 tahun sampai 2 tahun. Untuk mendukung operasional, STPI Curug memiliki 30 pesawat latih.
Biaya Sekolah Pilot di STPI Curug
Mulai tahun 2015 Kementerian Perhubungan membuat kebijakan untuk tidak lagi memberikan subsidi bagi siswa calon pilot di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug.
Pengurangan subsidi sebenarnya sudah dimulai pada tahun ajaran 2014, namun sebagian besar biaya masih ditanggung pemerintah. Penghentian subsidi ini berarti mengakhiri era biaya gratis bagi sekolah pilot di STPI Curug yang dinikmati calon penerbang hingga tahun 2013.
Saat ini STPI masih menjalani proses menuju status badan layanan umum (BLU) sehingga memungkinkan siswa yang berprestasi mendapatkan beasiswa atau siswa tidak mampu dibebaskan dari biaya pendidikan dengan kriteria tertentu.
Jurusan Penerbang STPI Curug memiliki 2 (dua) program studi bagi pilot yakni Prodi Pernerbang Sayap Tetap dan Program Studi Penerbang Sayap Putar. Perbedaannya prodi Penerbang Sayap Putar ditujukan mencetak siswa menjadi penerbang helikopter.
Biaya pendidikan kedua prodi tersebut juga berbeda. Secara akumulatif biaya sekolah pilot untuk penerbang helikopter (rotary wing) lebih mahal dibanding pilot pesawat sayap tetap (fixed wing). Hal tersebut terkait dengan biaya operasional helikopter yang lebih besar, imbasnya biaya
praktek terbang juga lebih mahal.
Biaya pendidikan pilot di STPI Curug bisa dihitung sejak pendaftaran sampai wisuda kelulusan. Acuannya jelas yaitu Peraturan Pemerintah RI Nomor 11 Tahun 2015 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Perhubungan.
Akumulasi biaya pendidikan pilot dapat dilihat daftar berikut:
Dapat dibandingkan bahwa biaya membentuk penerbang helikopter sampai lulus sebesar Rp 610.240.000 lebih besar dari pada penerbang pesawat sayap tetap yang mencapai Rp
493.550.000
Pendidikan pilot bisa berlangsung sampai 2 tahun terdiri dari 4 semester dengan total SKS 81 rinciannya Teori 62 SKS dan praktek 19 SKS. Selama pendidikan siswa dapat menggunakan Fasilitas Pendidikan Penerbang yang meliputi:
1. Flight Simulator Single Engine TB-10 2. Flight Simulator Multi Engine B-58 3. Flight Simulator Helicopter Bell 206 4. Computer Base Training
5. Pesawat Latih
Mau jadi pilot yang punya gaji puluhan juta tiap bulannya?
Well, Anda harus sekolah pilot terlebih dahulu!
Tantangan nya adalah memilih sekolah yang tepat. Perlu Anda tau biaya sekolah pilot (flight school) itu mahal (700 – 800 juta), jika salah pilih, uang yang tidak sedikit ini bisa melayang. Berikut 3 pertimbangan yang perlu Anda ketahui sebelum memilih:
Lisensi apa yang Anda mau ambil?
Biaya sekolah sangat tergantung lisensi apa saja yang Anda ambil. Banyak calon pilot dan orang tua hanya fokus pada berapa biaya yang harus dibayarkan tapi tidak tau rincian tepatnya. Baca lisensi dasar pilot: PPL, CPL, IR, MER
Per 2016 ini, biaya sekolah pilot sekitar:
PPL, CPL, IR = 700 juta
PPL, CPL, IR, MER = 800 juta
PENTING: Setiap tahunnya ada 400 pilot asal Indonesia yang lulus dari sekolah baik dalam dan luar negeri. Sekitar 350 diantaranya hanya memiliki lisensi PPL, CPL, IR, hanya 50an yang memiliki lisensi PPL, CPL, IR, MER. Jika Anda berpikir sebagai maskapai, mana pilot yang akan Anda pekerjakan lebih dulu? Pasti yang punya lisensi lebih komplit karena lebih siap kerja.
Komponen ‘termahal’ dari sekolah pilot adalah jam terbang yang Anda dapatkan. Bahkan perbedaan 5 jam terbang akan memberikan perbedaan terhadap skill terbang yang Anda punya. Jadi waktu Anda membandingkan biaya antara satu sekolah dan sekolah lainnya, cari tau pula berapa jam terbang yang diberikan.
Contoh: Sekolah A, untuk lisensi PPL, CPL, IR = biaya 720 juta – jam terbang 158 jam Sekolah B, untuk lisensi PPL, CPL, IR = biaya 750 juta – jam terbang 170 jam
Mana sekolah yang sebaiknya Anda pilih? Sekolah B! Memang ada perbedaan 30 juta tapi beda 12 jam terbang akan sangat penting untuk skill Anda.
Jika skill Anda bagus, waktu dites di maskapai nanti, Anda bisa lolos tes dengan gampang tapi jika skill Anda pas-pasan, rasanya sulit.
Jumlah pesawat latih?
Problem sekolah penerbangan pada umunya adalah kekurangan pesawat latihan sehingga cadet terlambat lulus dari waktu yang ditentukan.
ICAO (International Civil Aviation Organization) atau Organisasi Penerbangan Internasional menghimbau sekolah agar 1 pesawat hanya digunakan untuk 5 siswa. Agar waktu pembelajaran bisa lebih optimal.
Berapa biaya TOTAL yang harus dikeluarkan?
Pelajari dengan seksama biaya-biaya yang harus dibayarkan. Jangan sungkan untuk bertanya. Diluar biaya sekolah, berikut beberapa biaya yang kadang terlewat:
berapa biaya pendaftaran
biaya asrama, transport, makan apakah sudah termasuk. Jika tidak, minta perkiraan biaya
biaya ujian dan transport saat ujian & biaya pengulangan ujian (seandainya Anda gagal)
biaya transport ujian (jika lokasi sekolah jauh dari tempat tes, terkadang Anda diminta pergi
sendiri)
biaya endorsement (jika Anda sekolah diluar negeri) biaya jam terbang tambahan
Dalam sekolah pilot (penerbangan) ada istilah PPL, CPL, IR, dan MER. Mungkin Anda tau artinya tapi tidak tau persis bedanya apa antara satu lisensi dan yang lainnya. Berikut penjelasannya:
PPL (Private Pilot License) adalah lisensi yang diperoleh oleh siswa sekolah pilot setelah mencapai 40 jam terbang (tiap negara punya standar jam terbang yang berbeda). Pilot yang memegang lisensi ini dapat menerbangkan pesawat untuk rekreasi atau bisnis pribadi hanya di siang hari dan tidak boleh di malam hari. Pemegang lisensi PPL tidak dipekerjakan oleh operator penerbangan atau maskapai penerbangan manapun untuk dibayar.
CPL (Commercial Pilot License) adalah lisensi lanjutan dari PPL. Dengan lisensi ini Anda dapat menerbangkan pesawat komersial dan membawa penumpang (baik berbayar atau tidak). Pilot pemegang lisensi ini dapat bekerja pada maskapai penerbangan. Namun, jam terbang dan jarak tempuh maksimal pilot berlisensi CPL ini masih dibatasi apabila belum memiliki IR (Instrument Rating) misalnya hanya sebatas siang hari.
IR (Instrument Rating) adalah lisensi atau izin terbang tambahan untuk melengkapi CPL bagi pilot profesional yang dapat menerbangkan pesawat di siang dan malam hari dalam kondisi cuaca yang agak buruk misalnya, kabut, mendung, dan kondisi apapun yang dapat menghalangi penglihatan namun tetap berada di bawah IFR (Instrument Flight Rules) dan VFR (Visual Flight Rules). Setelah memperoleh CPL, siswa sekolah pilot dapat melanjutkan jam terbangnya selama 10 - 20 jam untuk memperoleh IR.
ME (atau ada yang sebut MER) - Multi-Engine Rating adalah izin terbang untuk
menerbangkan pesawat multi-engine atau bermesin ganda/banyak melengkapi lisensi-lisensi sebelumnya (PPL, CPL, dan IR). Dalam menerbangkan pesawat multi-engine memiliki kinerja dan kecepatan yang lebih cepat, tanggung jawab yang dipegang oleh pemegang lisensi ini lebih tinggi karena kinerja mesin-mesinnya harus seimbang. Pemegang lisensi MER juga dapat bekerja dibidang penerbangan lain selain menjadi pilot, seperti instruktur.
Mengapa Pilot dengan lisensi ME mudah dapet kerja?
menyekolahkan Anda tersebih dahulu. Bagi maskapai hal ini tentu merepotkan karena habis waktu dan uang.
Mungkin Anda berpikir, 'Bagus donk, bisa dapet lisensi ME gak bayar'
Sebenernya bukan gak bayar cuma gak keliatan aja. Gini, jika Anda diterima oleh airline dan disuruh dapetin lisensi ME ini, Airline pasti akan memberikan kontrak dalam jangka waktu panjang (10 - 18 tahun) dan memotong gaji Anda selama itu. Pastinya Airline gak mau rugi lah. Dengan memiliki lisensi ME, Anda bisa dikategorikan 'pilot siap pakai'.
Coba pikir baik2, kalo Anda jadi Airline kaya Garuda Indonesia atau Lion Air, kira-kira akan terima pilot yang siap pakai atau yang gak? Pastinya yang siap pakai donk!
Makanya Pilot dengan lisensi ME mudah dapet kerja! Jadi, bijaksanalah dalam mengambil keputusan!
3 Hal TERPENTING untuk jadi pilot
1. Kemampuan Bahasa Inggris
Bisa berbahasa Inggris adalah keharusan bagi seorang calon pilot. Mengapa? Baca artikelnya disini
2. Punya fisik yang sehat
Jagalah kesehatan Anda baik-baik terutama kesehatan mata dan gigi. Sebelum diterima oleh sekolah pilot, Anda harus melakukan medical examination.
3. Biaya sekolah
Biaya sekolah pilot cukup mahal (sekitar IDR 500 - 800 juta) so jika Anda bercita-cita jadi pilot, menabunglah sedini mungkin.
Tips Dapet Kerja Begitu Lulus
Tiap tahun banyak pilot yang lulus dari sekolah pilot tidak langsung dapet kerja. Mereka KALAH saing dengan yang lainnya.
Ini penyebabnya: Mereka belum punya lisensi ME (Multi Engine)
FAQ
Dana saya kurang kalo mau sekolah sampe ME, saya mesti gimana
donk?
Jawaban: Solusinya ada 2: Pertama, coba pertimbangkan masuk sekolah pilot di Filipina. Biaya ambil lisensi PPL, CPL, IR, dan ME disana hampir dengan ambil lisensi PPL, CPL, IR di sekolah pilot Indonesia.