PERANAN KONSTITUSI
DALAM PENYELENGARAAN NEGARA
TUGAS KELOMPOK III
TUGAS MATA KULIAH : HUKUM TATA NEGARA
DAFTAR NAMA
1. Diah Fitriana : 14407188
UNIVERSITAS TAMA
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Negara yaitu suatu tempat yang di dalamnya di diami oleh banyak orang yang mempunyai tujuan hidup yang bermacam-macam dan berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain. Suatu tempat dapat disebut dengan Negara jika mempunyai 3 unsur terpenting yang harus ada didalamnya yaitu :
1. Wilayah
Suatu negara tidak dapat berdiri tanpa adanya suatu wilayah. Disamping pentingnya unsur wilayah dengan batas-batas yang jelas, penting pula keadaan khusus wilayah yang bersangkutan, artinya apakah layak suatu wilayah itu masuk suatu negara tertentu atau sebaliknya dipecah menjadi wilayah berbagai negara. Apabila mengeluarkan peraturan perundang-undangan pada prinsipnya hanya berlaku bagi orang-orang yang berada di wilayahnya sendiri. Orang akan segera sadar berada dalam suatu negara tertentu apabila melampaui batas-batas wilayahnya setelah berhadapan dengan aparat (imigrasi negara) untuk memenuhi berbagai kewajiban yang ditentukan.
Paul Renan (Perancis) menyatakan satu-satunya ukuran bagi suatu masyarakat untuk menjadi suatu negara ialah keinginan bersatu (le desir de’etre ansemble).
2. Pemerintah
Ciri khusus dari pemerintahan dalam negara adalah pemerintahan memiliki
kekuasaan atas semua anggota masyarakat yang merupakan penduduk suatu negara dan berada dalam wilayah negara. Ada empat macam teori mengenai suatu
kedaulatan, yaitu ; Kedaulatan Tuhan, Kedaulatan Negara, Kedaulatan Hukum dan Kedaulatan Rakyat.
Masyarakat merupakan unsur terpenting dalam tatanan suatu negara. Masyarakat atau rakyat merupakan suatu individu yang berkepentingan dalam suksesnya suatu tatanan dalam pemerintahan. Pentingnya unsur rakyat dalam suatu Negara, dimana diperlukan dalam ilmu kenegaraan (staatsleer)
Ketiga unsur tersebut harus ada dalam suatu Negara. Jika salah satu dari unsur tersebut tidak ada maka tempat tersebut tidak dapat dinamakan Negara. Ketiga unsur tersebut saling melengkapi dalam suatu Negara. Unsur yang lainnya yang juga harus dimiliki oleh suatu Negara adalah pengakuan dari Negara lain. Pengakuan dari Negara lain harus dimiliki oleh suatu Negara supaya keberadaan Negara tersebut diakui oleh Negara-negara lain.
Setelah suatu Negara terbentuk maka Negara tersebut berhak membentuk undang-undang atau konstitusi.Konstitusi. Di Indonesia sudah ada sejak zaman dahulu bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia, konstitusi telah ada yang berfungsi mengatur kehidupan bermasyarakat yang disebut dengan adat istiadat yang ada karena kesepakatan dari suatu masyarakat yang terlahir dan dipakai sebagai pengatur kehidupan bermasyarakat.Adat istiadat mempunyai suatu hukum yang dinamakan hukum adat. Pada jaman dahulu walaupun belum ada undang-undang seperti halnya sekarang, tetapi kehidupan masyarakat sudah diatur dengan adat istiadat dan yang melanggar adat istiadat akan dikenakan suatu hukum yang telah masyarakat setempat sepakati yaitu hukum adat.
Berlakunya suatu konstitusi sebagai hukum dasar yang mengikat didasarkan atas kekuasaan tertinggi atau prinsip kedaulatan yang dianut dalam suatu negara. Hal inilah yang disebut oleh para ahli sebagai constituent power yang merupakan kewenangan yang berada di luar dan sekaligus di atas sistem yang diaturnya. Karena itu, di lingkungan Negara - negara demokrasi, rakyatlah yang dianggap menentukan berlakunya suatu konstitusi.Constituent power mendahului konstitusi, dan konstitusi mendahului organ pemerintahan yang diatur dan dibentuk berdasarkan konstitusi 1
Pengertian constituent power berkaitan pula dengan pengertian hierarki hukum (Hierarchy of law). Konstitusi merupakan hukum yang lebih tinggi atau bahkan paling tinggi
serta paling fundamental sifatnya, karena konstitusi itu sendiri merupakan sumber legitimasi atau landasan otorisasi bentuk-bentuk hukum atau peraturan-peraturan perundang- undangan lainnya. Sesuai dengan prinsip hukum yang berlaku universal, maka agar peraturan -peraturan yang tingkatannya berada di bawah Undang-Undang Dasar dapat berlaku dan diberlakukan, peraturan-peraturan itu tidak boleh bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi tersebut.
Keberadaan UUD 1945 yang selama ini disakralkan, dan tidak boleh diubah, Saat ini UUD 1945 telah mengalami beberapa perubahan. Tuntutan perubahan terhadap UUD 1945 itu pada hakekatnya merupakan tuntutan bagi adanya penataan ulang terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Perubahan konstitusi ini menginginkan pula adanya perubahan sistem dan kondisi negara yang otoritarian menuju kearah sistem yang demokratis dengan relasi lembaga negara yang seimbang. Dengan demikian perubahan konstititusi menjadi suatu agenda yang tidak bisa diabaikan. Hal ini menjadi suatu keharusan dan amat menentukan bagi jalannya demokratisasi suatu bangsa.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat dirumuskan masalah-masalah yang akan dibahas pada penulisan kali ini. Masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.2.1. Apakah pengertian negara itu? 1.2.2. Apakah pengertian konstitusi itu? 1.2.3. Apakah pengertian Negara konstitusi? 1.2.4. Bagaimana konstitusi di Indonesia?
1.2.5. Apakah peranan Konstitusi dalam Penyenggaraan Negara?
1.3. TUJUAN PENULISAN
Tulisan ini ditujukan agar supaya para pembaca dapat mengetahui apa tujuan dari konstitusi pada suatu Negara, melalui pengertian konstitusi dan seluk-beluknya dan perannya di dalam penyelenggaraan sebuah Negara. Dan kami juga ingin pembaca mengetahui pentingnya konstitusi dalam suatu Negara.
Pada umumnya hukum bertujuan untuk mengadakan tata tertib untuk keselamatan masyarakat yang penuh dengan konflik antara berbagai kepentingan yang ada di tengah masyarakat. Tujuan hukum tata negara pada dasarnya sama dan karena sumber utama dari hukum tata negara adalah konstitusi atau Undang-Undang Dasar, akan lebih jelas dapat dikemukakan tujuan konstitusi itu sendiri.
Konstitusi juga memiliki tujuan yang hampir sama dengan hukum, namun tujuan dari konstitusi lebih terkait dengan :
1. Berbagai lembaga-lembaga kenegaraan dengan wewenang dan tugasnya masing-masing. 2. Hubungan antar lembaga Negara.
3. Hubungan antar lembaga negara ( pemerintah ) dengan warga negara ( rakyat ). 4. Adanya jaminan atas hak asasi manusia
5. Hal-hal lain yang sifatnya mendasar sesuai dengan tuntutan jaman.
Di dalam prakteknya, banyak negara yang memiliki lembaga-lembaga yang tidak tercantum di dalam konstitusi namun memiliki peranan yang tidak kalah penting dengan lembaga-lembaga yang terdapat di dalam konstitusi. Bahkan terdapat hak-hak asasi manusia yang diatur diluar konstitusi mendapat perlindungan lebih baik dibandingkan dengan yang diatur di dalam konstitusi.
2.1 NEGARA
Negara secara literal merupakan penjelasan dari kata-kata asing yaitu state (bahasa inggris), staat ( bahasa Belanda dan Jerman), dan etat (bahasa Prancis), dimana semua kata-kata ini diambil dari bahasa Latin yaitu statum yang artinya keadaan yang tetap dan tegak. Istilah umum itu diartikan sebagai kedudukan (standing, station).
Adapun pengertian Negara menurut para ahli adalah sebagai berikut:
Prof. Farid S.
Negara adalah Suatu wilayah merdeka yang mendapat pengakuan Negara lain serta memiliki kedaulatan.
Georg Jellinek
Negara adalah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah berkediaman di wilayah tertentu.
Georg Wilhelm Friedrich Hegel
Negara merupakan organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesis dari kemerdekaan individual dan kemerdekaan universal
Max Weber
Negara adalah suatu masyarakat yang memonopoli penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah
Aristoteles
Negara adalah perpaduan beberapa keluarga mencakupi beberapa desa, hingga pada akhirnya dapat berdiri sendiri sepenuhnya, dengan tujuan kesenangan dan kehormatan bersama.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Negara adalah suatu organisasi dari kelompok-kelompok manusia yang bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu dan mengakui adanya satu pemerintahan yang mengurus tata tertib serta keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia tersebut.
.2 KONSTITUSI
Konstitusi merupakan sesuatu yang sangat penting bagi setiap bangsa dan negara, baik yang sudah lama merdeka maupun yang baru saja memperoleh kemerdekaannya. Dalam buku “Corpus Juris Scundum” volume 16, pengertian konstitusi dirumuskan sebagai berikut2
“A constitution is the original law bay which a system of government is created and set up, and to which the branches of government must look for all their power and authority”.
Konstitusi juga dapat diartikan:
”A constitution as a form of social contract joining the citizens of the state and defining the state itself3
Konstitusi memiliki fungsi-fungsi yang oleh Jimly Asshiddiqie, guru besar hukum tata negara, diperinci sebagai berikut:4
1. Fungsi penentu dan pembatas kekuasaan organ negara. 2. Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antar organ negara.
2 Corpus Juris Scundum, Constitutional Law, volume 16, Brooklyn, N.Y. The American Law Book, tanpa tahun, hal. 21.
3 Dennis C.Mueller, Constitutional Democracy, Oxford University Press, 1996, hal. 61. Dalam buku ini juga, Dennis menyatakan: “A contract is an agreement among two or more individuals specifying certain duties,
obligation, and rights of each individual, and penalties for complying or violating the terms of the contract”. Baca juga, Jean-Jacques Rousseau, The Social Contrat and Discourses. Terjemahan dalam bahasa Inggris oleh G.D.H. Cole, J.M.Dent & Sons Ltd, London, Reprinted, 1991, hal. 193 dst.
3. Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antar organ negara dengan warga negara. 4. Fungsi pemberi atau sumber legitimasi terhadap kekuasaan negara ataupun
kegiatan penyelenggaraan kekuasaan negara.
5. Fungsi penyalur atau pengalih kewenangan dari sumber kuasaan yang asli (yang dalam sistem demokrasi adalah rakyat) kepada organ negara.
6. Fungsi simbolik sebagai pemersatu (symbol of unity), sebagai rujukan identitas dan keagungan kebangsaan (identity of nation), serta sebagai center of ceremony. 7. Fungsi sebagai sarana pengendalian masyarakat (social control), baik dalam arti
sempit hanya dibidang politik maupun dalam arti luas mencakup bidang sosial dan ekonomi.
8. Fungsi sebagai sarana perekayasa dan pembaruan masyarakat (social engineering atau social reform).
Istilah konstitusi menurut Wirjono Prodjodikoro5 berasal dari kata kerja “constituer” dalam bahasa Perancis yang berarrti “membentuk”; jadi konstitusi berarti pembentukan. Dalam hal ini yang dibentuk adalah suatu negara, maka konstitusi mengandung permulaan dari segala macam peraturan pokok mengenai sendi-sendi pertama untuk menegakkan bangunan besar yang bernama negara6. Istilah konstitusi sebenarnya tidak dipergunakan untuk menunjuk kepada satu pengertian saja. Dalam praktek, istilah konstitusi sering digunakan dalam beberapa pengertian. Di Indonesia selain dikenal istilah konstitusi juga dikenal istilah undang-undang dasar. Demikian juga di Belanda, disamping dikenal istilah “groundwet” (undang-undang dasar) dikenal pula istilah “constitutie”.
Konstitusi dan Undang-Undang Dasar seringkali memiliki batasan yang berbeda sungguhpun keduanya sama-sama menunjuk pada pengertian Hukum Dasar. Secara umum konstitusi menunjuk pada pengertian hukum dasar tidak tertulis, sedangkan undang-undang dasar menunjuk pada pengertian hukum dasar tertulis.
5 Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Tata Negara di Indonesia, Jakarta: Dian Rakyat, 1977, hal. 10.
Eric Barendt dalam bukunya yang berjudul “An Introduction to Constitutional Law” menyebutkan:7
“the constitution of a state is the written document or text which outlines the powers of its parliament, government, courts, and other important national institution”.
Konstitusi dapat diartikan sebagai dokumen yang tertulis yang secara garis besarnya mengatur kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif serta lembaga negara penting lainnya. Konstitusi dengan istilah lain constitution atau verfasung dibedakan dari undang-undang dasar atau groundgesetz. Herman Heller menyatakan bahwa konstitusi mempunyai arti yang lebih luas dari pada undang-undang dasar8. Solly Lubis berpendapat, konstitusi memiliki dua pengertian yaitu: konstitusi tertulis (undang-undang dasar) dan konstitusi tidak terulis (konvensi)9.
Undang-undang dasar sendiri menurut Joeniarto, ialah suatu dokumen hukum yang mengandung aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang pokok-pokok atau dasar-dasar mengenai ketatanegaraan dari suatu negara yang lazimnya kepadanya diberikan sifat luhur dan “kekal” dan apabila akan mengadakan perubahannya hanya boleh dilakukan dengan prosedur yang berat kalau dibandingkan dengan cara pembuatan atau perubahan bentuk-bentuk peraturan dan ketetapan yang lain-lainnya10.
Jadi pengertian undang-undang dasar itu baru merupakan sebagian dari pengertian konstitusi, yaitu konstitusi yang tertulis. Pendangan ini sama dengan pendapat Van Apeldoorn yang mengatakan bahwa undang-undang dasar adalah bagian dari konstitusi tertulis11. Sementara, Sri Soemantri dalam disertasinya, tidak membedakan istilah konstitusi dengan undang-undang dasar12
7 Eric Barendt, An Introduction to Constitutional Law, London: Oxford University Press, 1998, hal. 1.
8 Moh. Kusnardi dan Harmaly Ibrahim, Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta: Pusat Studi HTN, 1983, cet.5, hal.64-65
9 M.Solly Lubis, Asas-asas Hukum Tata Negara,Bandung: Alumni,1978 hal.45.
10 Joeniarto, Sumber-sumber Hukum Tata Negara di Indonesia, Yogyakarta: Liberty, 1981, hal.22.
11 Van Apeldorn dalam E.Utrecht, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, Jakarta: Ichtiar baru, 1983, hal. 108.
Sifat Konstitusi
Konstitusi disamping bersifat yuridis juga memiliki makna sosiologis dan politis. Pandangan ini sejalan dengan pendapat Herman Heller seorang sarjana Jerman, yang membagi pengertian konstitusi ke dalam tiga pengertian13:
K.C. Wheare F.B.A dalam buku Modern Constitution114, menjelaskan istilah
konstitusi, secara garis besarnya dapat dibedakan ke dalam dua pengertian, yaitu: Pertama, istilah konstitusi dipergunakan untuk menunjuk kepada seluruh rules mengenai sistem ketatanegaraan. Kedua, istilah konstitusi menunjuk kepada suatu dokumen atau beberapa dokumen yang memuat aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan tertentu yang bersifat pokok atau dasar saja mengenai ketetanegaraan suatu negara.
Pengertian konstitusi dan undang undang dasar menunjuk kepada pengertian hukum dasar suatu negara, yang mengatur susunan organisasi pemerintahan15, menetapkan badan-badan negara dan cara kerja badan-badan tersebut16 , menetapkan hubungan antara pemerintah dan warga negara17, serta mengawasi pelaksanaan pemerintahan18. Perbedaannya hanya terletak pada proses terjadinya konstitusi itu19. Perbedaan istilah antara konstitusi dan undang-undang dasar tidak menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini. Di Indonesia sendiri pernah memakai kedua istilah tersebut, yaitu ketika tahun 1945 dan tahun 1950, hukum dasar negara Indonesia diberi nama dengan istilah “undang-undang dasar” yaitu Undang Undang Dasar 1945 dan Undang Undang Dasar Sementara 1950. Sementara pada tahun 1949 negara Indonesia menggunakan istilah “konstitusi” untuk menyebut hukum dasarnya yakni Konsitusi Republik Indonesia Serikat.
13 Moh. Kusnardi dan Harmaly Ibrahim, Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta: Pusat Studi HTN, 1983, cet.5, hal.64-65.
14 K.C.W. Wheare F.B.A, Modern Constitution, London : Oxford University Press, 1975, hal.1-2.
15 15K.C. Wheare, Modern Constitution, London, Oxford University Press, 1975, hal. 14
16 16James Bryce, dalam C.F. Strong, opcit, hal. 11.
17 17Ivor Jenning, The Laws and the Constitution, University of London, 1960, hal. 33.
18 18Russell F. Moore. Basic Comparative Government and Modern Constitution, Iowa, 1957, hal. 3.
2.3. NEGARA KONSTITUSIONAL
Secara umum konstitusi dan negara merupakan dua lembaga yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya20. Bahkan setelah abad pertengahan dapat dikatakan, tanpa konstitusi negara tidak mungkin terbentuk21. Setiap negara memiliki konstitusi tetapi tidak setiap negara mempunyai undang undang dasar22. Inggris tidak punya Undang Undang Dasar, namun bukan berarti Inggris tidak memiliki Konstitusi23. Konstitusi Inggris terdiri atas berbagai prisip dan aturan dasar yang timbul dan berkembang selama berabad-abad sejarah bengsa dan negerinya (konvensi konstitusi)24. Aturan dasar tersebut antara lain tersebar dalam Magna Charta (1215), Bill of Rights (1689), dan Parliament Act (1911)25.
Konstitusi lahir sebagai suatu tuntutan dan harapan masyarakatnya untuk mencapai suatu keadilan. Dengan didirikannya negara dan konstitusi, masyarakat menyerahkan hak-hak tertentu kepada penyelenggara negara. Namun, tiap anggota masyarakat dalam negara tetap mempertahankan hak-haknya sebagai pribadi. Negara dan konstitusi didirikan untuk menjamin hak asasi itu. Hak-hak itu menjadi titik tolak pembentukan negara dan konstitusi. Carl Schmitt dalam bukunya yang berjudul Verfassungslehre, membagi konstitusi dalam empat pengertian.
20 “Negara” Madinah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad saw telah memiliki “Piagam Madinah” yakni piagam tertulis pertama dalam sejarah umat manusia yang dapat dibandingkan dengan pengertian konstitusi nodern. Baca Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionlisme Indonesia di Masa Depan, opcit, hal. 16; dan Muhammad Tahir Azhari, Negara Hukum, Jakarta: Bulan Bintang,1992, hal.12-13.
21 Pada jaman Negara Kedatuan Sriwijaya mengenal dua buah pertulisan (683 M) di atas batu berbahasa Indonesia lama berisi peraturan-peraturan hukum ketatanegaraan, yang oleh Muhammad Yamin disebut “Batu Konstitusi Kedatuan Sriwijaya”, dan Batu Proklamasi Pembuatan Kedatuan Sriwijaya”, Muhammad Yamin,
Pembahasan Undang Undang Dasar Republik Indonesia, opcit, hal. 109. 1957, hal. 34-50
22 22Commissie Staatkunde Leiden, opcit., hal. 27.
23 23Baca Eric Barendt, opcit, hal. 8
24 24Michael Allen and Brian, Cases & Materials on Constitutional & Administrative Law, London, Blackstone Press, Ltd.1968 hal. 242
Pengertian pertama terdiri atas empat sub pengertian, dan pengertian kedua terdiri atas dua sub pengertian, sehingga seluruhnya berjumlah delapan26 arti; yang secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut27:
Pertama, Konstitusi dalam arti absolut. Pengertian ini mencakup empat sub pengertian yaitu: (1) konstitusi sebagai kesatuan organisasi negara; (2) konstitusi sebagai bentuk negara baik demokrasi ataupun monarki; (3) konstitusi sebagai faktor integrasi; dan (4)konstitusi sebagai norma hukum dasar negara.
Kedua, Konstitusi dalam arti relatif. Maksudnya sebagai konstitusi yang dihubungkan dengan kepentingan suatu golongan tertentu. Dalam pengertian ini mencakup dua hal: (1) Konstitusi sebagai tuntutan dari golongan borjuis liberal agar hak-haknya dijamin tidak dilanggar oleh penguasa; dan (2) Konstitusi dalam arti formil atau konstitusi tertulis.
Ketiga, Konstitusi dalam arti positif, yang mengandung pengertian sebagai keputusan politik yang tertinggi tentang sifat dan bentuk suatu kesatuan politik yang disepakati oleh suatu negara28.
Keempat, Konstitusi dalam arti ideal. Disebut demikian karena ia merupakan idaman atau cita-cita (golongan borjuis leberal) agar pihak penguasa tidak berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat.
Memperhatikan pandangan-pandangan di atas, timbul pertanyaan apakah suatu konstitusi yang tidak memuat jaminan perlindungan negara terhadap hak asasi manusia
26Djokosutono, Hukum Tata Negara, Dihimpun Harun Alrasid, Jakarta: Ghalia Indonesia, Cet. Pertamja, 1982, hal. 33.
27Carl Schmitt, Verfassungslehre, Duncer & Humbolt, Berlin Unverandester neudruk, 1954, hal 4-41.
28Sebagai contoh dalam pengertian ini adalah Konstiotusi Wiemar tahun 1918, baca: B.N. Marbun, Demokrasi Jerman, Perkembangan dan Masalahnya, Jakarta: Sinar Harapan, 1983, hal. 30-35.
28 Sebagai contoh dalam pengertian ini adalah Konstiotusi Wiemar tahun 1918, baca: B.N. Marbun, Demokrasi Jerman, Perkembangan dan Masalahnya,
warganya dan juga isi pasal-pasalnya ternyata mengabaikan kedaulatan rakyat, dapat dinyatakan sebagai suatu konstitusi? Apakah negara yang menggunakan konstitusi tersebut layak disebut sebagai negara yang menganut sistem konstitusional?
Suatu negara yang memiliki konstitusi yang isinya mengabaikan ketiga hal pokok di atas, dan tidak menempatkan kedaulatan di tangan rakyat, serta menempatkan semua kekuasaan di tangan seorang pemimpin untuk digunakan menurut kepentingannya sendiri, maka ia bukan merupakan negara konstitusional. Negara konstitusional bukan sekedar konsep formal tetapi juga memiliki makna normatif. Secara historis, munculnya pemerintahan konstitusional senantiasa berhubungan dengan terbatasnya negara dan kekuasaan para pengelolanya29. Karena itu, Daniel S. Lev memandang konstitusionalisme (abstraksi yang sedikit lebih tinggi daripada rule of law30 atau rechstaat) berarti paham “negara terbatas” di mana kekuasaan politik resmi dikelilingi oleh hukum yang jelas dan yang menerimanya akan mengubah kekuasaan menjadi wewenang yang ditentukan secara hukum31.
Carl J. Friedrich dalam bukunya berjudul “Constitutional Government and Democracy: Theory and Practice in Europe and America (1967)” berpendapat32:
Konstitusionalisme adalah gagasan bahwa pemerintah merupakan suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat, tetapi yang tunduk kepada beberapa pembatasan yang dimaksud untuk memberi jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan itu tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah. Pembatasan yang dimaksud termaktub dalam konstitusi.
29Larry Alexander, Editor, Constitutionalism, Philosophical Foundations, Cambridge, University Press, 2001, hal. 16.
3030Paham rule of law ini mencakup tiga unsur utama, yaitu: (1)
Supremacy of law, (2) equality before the law, dan (3) constitution based on individual rights. Lihat: A.V. Dicey, Introduction to the Study of the Law of the Constitution, London, 1971, hal. 222-224.
3131Daniel S. Lev, Hukum dan Politik di Indonesia, Kesinambungan dan Perubahannya, Jakarta: LP3S, cet.1, 1990, hal. 514.
32 32Carl J.Friedrich, Constitutional Government and Democracy: Theory and Practice in Europe and America, Waltham, Massachusetts, Toronto-London: Blaidell Publishing Company, Edisi IV, 1967, hal. 123-133; dan Miriam
Jadi konstitusi memiliki fungsi untuk mengorganisir kekuasaan agar tidak dapat digunakan secara paksa dan sewenang-wenang. Konstitusi dalam pengertian ini juga biasanya memuat nilai-nilai yang terdapat dalam prinsip klasik pemisahan kekuasaan seperti yang diformulasikan oleh Montesquieu dalam L’Espirit des Lois (1748)33.
Di dalam gagasan konstitusinalisme, konstitusi atau undang-undang dasar tidak hanya merupakan suatu dakumen yang mencerminkan pembagian kekuasaan (anatomy of a power relationship), seperti antara eksekutif, legislatif dan yudikatif. Akan tetapi dalam gagasan konstitusionalisme, konstitusi atau undang-undang dasar dipandang sebagai suatu lembaga yang mempunyai fungsi khusus, yaitu menentukan dan membatasi kekuasaan di satu pihak dengan melakukan perimbangan kekuasaan antara eksekutif, parlemen dan yudikatif. Sementara di pihak lain menjamin hak-hak asasi dan hak-hak politik dari warganegaranya. Konstitusi dipandang sebagai perwujudan dari hukum tertinggi yang harus dipatuhi oleh negara dan pejabat-pejabat pemerintah, sesuai dengan dalil: “Government by laws, not by men” Negara yang menganut gagasan ini dinamakan Constitutional States (negara konstitusional)34. Sementara Adnan Buyung Nasution dalam desertasinya, mengatakan bahwa yang dimaksud negara konstitusional adalah pertama-tama ia merupakan negara yang mengakui dan menjamin hak-hak warga negara, serta membatasi dan mengatur kekuasaannya secara hukum35. Pandangan ini sejalan dengan pendapat Muhammad Yamin, yang mengatakan bahwa dalam pengertian konstitusionalisme harus dipenuhi persyaratan36:
1. bahwa pengakuan dan deklarasi hak-hak asasi manusia merupakan persyaratan mutlak bagi setiap deklaraasi kemerdekaan suatu negara;
2. kekuasaan rakyat atau kedaulatan harus diselaraskan dengan keadilan;
33Eric Barendt, opcit, hal. 14.
34 Miriam Budiardjo, opcit., hal. 57
35 Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia, Jakarta: Grafity, 1995, hal. 118.
3. kedaulatan rakyat dan kesejahteraan rakyat tidak hanya perlu dicatat dalam istilah yang jelas, tetapi harus diwujudkan pula dalam pasal-pasal yang jelas di dalam undang-undang dasar.
Demikian juga seperti yang dikatakan oleh Greg Russell dalam Jurnal Demokrasi37, bahwa di bawah teori konstitusional, tak bisa tidak, pemerintah harus adil dan bertindak bijaksana, bukan hanya dari sudut pandang perasaan mayoritas namun juga diiringi ketaatan terhadap hukum yang lebih tinggi tingkatannya, yang oleh Deklarasi Kemerdekaan dinyatakan sebagai “Hukum-hukum Alam dan Tuhan Penguasa Alam”.
BAB III
PERAN KONSTITUSI
DALAM PENYELENGGARAAN NEGARA
Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa negara konstitusi merupakan suatu organisasi dari kelompok-kelompok manusia yang bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu dan mengakui adanya satu pemerintahan yang mengurus tata tertib serta keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia tersebut, yang diatur dengan aturan-aturan dasar (fundamental) yang dibentuk di dalam mengatur hubungan antar negara dan warga negara. Konstitusi lahir sebagai usaha untuk melaksanakan dasar negara. Dasar negara memuat norma-norma ideal, yang penjabarannya dirumuskan dalam pasal-pasal oleh UUD (Konstitusi)
3.1. Konstitusi Di Indonesia
3.1.1. Hukum Dasar Tertulis (UUD)
UUD itu rumusannya tertulis dan tidak berubah. Adapun pendapat L.C.S wade dalam bukunya contution law 38, UUD menurut sifat dan fungsinya adalah suatu naskah yang memaparkan kerangka dan tugas-tugas pokok dari badan-badan pemerintahan suatu Negara dan menentukan pokok-pokok cara kerja badan-badan tersebut jadi UUD itu mengatur mekanisme dan dasar dari setiap sistem pemerintahan.
UUD juga dapat dipandang sebagai lembaga/sekumpulan asas yang menetapkan bagaimana kekuasaan tersebut bagi mereka memandang suatu Negara dari sudut kekuasaan dan menganggapnya sebagai suatu organisasi kekuasaan.Adapun hal tersebut di bagi menjadi tiga badan legislatif,eksekutif dan yudikatif.
UUD menentukan cara-cara bagaimana pusat-pusat kekuasaan ini bekerjasama dan menyesuaikan diri satu sama lain. UUD merekam hubungan-hubungan kekuasaan dalam satu Negara. Dalam penjelasan UUD 1945 disebutkan bahwa UUD 1945 bersifat singkat dan supel, UUD 1945 hanya memilik 37 pasal, adapun pasal-pasal lain hanya memuat aturan peralihan dan aturan tambahan yang mengandung makna:
1. Telah cukup jikalau UUD hanya memuat aturan-aturan pokok, hanya memuat grafis besar intruksi kepada pemerintah pusat dan semua penyelenggara Negara untuk menyelenggarakan kehidupan Negara dan kesejahteraan social.
2. Sifatnya harus supel (elastic) dimaksudkan bahwa kita harus senantiasa ingat bahwa masyarakat ini harus terus berkembang dan dinamis seiring perubahaan zaman . Oleh karena itu, makin supel sifatnya aturan itu makin baik. jadi kita harus menjaga agar sistem dalam UUD itu jangan ketinggalan zaman.
Sifat-sifat UUD 1945
1. Bersifat hukum positif yang mengikat pemerintah sebagai penyelenggara Negara maupun mengikat bagi warga Negara.
2. UUD 1945 itu bersifat supel dan singkat karena memuat aturan-aturan pokok yang setiap kali harus di kembangkan sesuai dengan perkembangan zaman dan memuat ham.
3. Memuat norma-norma/aturan-aturan/ketentuan-ketentuan yang dapat dan harus dilaksanakan secara kontituional.
4. UUD 1945 dalam tertib hukum Indonesia merupakan peraturan hukum positif yang tertinggi,disamping itu sebagai alat kontrol terhadap norma-norma hukum positif yang lebih rendah dalam hirarki tertib hukum Indonesia.
3.1.1. Hukum Dasar Tidak Tertulis (Convensi )
Convensi adalah hokum dasar yang tak tertulis yaitu aturan-aturan dasar yang timbul dan terperihara dalam praktek penyelenggaraan Negara meskipun sifatnya tidak tertulis.
Sifat-sifat Convensi
1. Merupakan kebiasaan yang berulang kali dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan Negara.
4. Bersifat sebagai pelengkap sehingga memungkinkan bawa convensi bias menjadi aturan-aturan dasar yang tidak tercantum dalam UUD 1945.
Praktek-praktek penyelenggaraan Negara yang sudah menjadi hukum dasar tidak tertulis antara lain:
Pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah mufakat.
Menurut pasal 37 ayat(1) dan (4) UUD 1945 segala keputusan MPR diambil berdasarkan suara terbanyak tetapi sistem ini kurang jiwa kekeluargaan sebagai kepribadian bangsa. Oleh karena itu, dalam praktek-praktek penyelenggaraan Negara selalu di usahakan untuk mengambil keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat dan ternyata hampir selalu berhasil. Pungutan suara baru ditempuh jika usaha musyawarah untuk mufakat sudah tak dapat dilaksanakan.
Pidato kenegaraan presiden RI setiap 16 Agustus di dalam sidang DPR Pidato presiden yang di ucapkan sebagai keterangan pemerintah tentang rencana anggaran pendapatan belanja (RAPB) Negara pada minggu 1, pada bulan januari tiap tahunnya.
Jika convensi ingin di jadikan rumusan yang bersifat tertulis maka yang berwenang adalah MPR dan rumusannya bukan lah merupakan suatu hukum dasar melainkan tertuang dalam ketetapan MPR dan tidak secara otomatis setingkat dengan UUD melainkan sebagai suatu ketetapan MPR.
3.2. PERANAN KONSTITUSI DALAM PENYELENGGARAAN NEGARA DI INDONESIA
negara adalah pilar-pilar atau tembok yang tidak bisa berdiri kokoh tanpa pondasi yang kuat, yaitu konstitusi Indonesia. Hampir setiap negara memiliki konstitusi, terlepas dari apakah konstitusi tersebut sudah berjalan optimal atau belum.
Kaitan antara negara dengan konstitusi adalah keterkaitan antar dasar negara dan konsitusi tampak pada gagasan dasar, cita-cita, dan tujuan negara yang tertuang dalam mukadimah atau Pembukaan Undang-Undang Dasar suatu negara. Pembukaan UUD 1945 merupakan suatu kebatinan negara. Pembukaan memuat asas kerohanian negara, asas politik negara, asas tujuan negara, serta menjadi dasar hukum daripada undang-undang. Pancasila dengan batang tubuh merupakan wujud yuridis konstitusional tentang sesuatu yang telah dirumuskan dalam pembukaan. UUD 1945 adalah peraturan perundangan teringgi negara Indonesia yang bersumberkan pada Pancasila.
Konstitusi memegang peranan dalam penyelenggaraaan negara, dimana diatur jelas tugas negara dalam Pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) 1945 pada alinia keempat, yang berbunyi:
“… melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UndangUndang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, … ”.
Sebagai bentuk negara kesatuan, maka peran negara sangat kuat terhadap seluruh bangsa dan tanah air negara Indonesia. Bagaimana bentuk pelaksanaannya terlihat dari pernyataan “…yang berbentuk republik..”, yang menunjukkan bahwa bentuk pemerintahan negara adalah ”republik” dimana ciri utamanya adalah kepala negara adalah Presiden. Dengan demikian tinggi atau rendahnya, kuat atau lemahnya peranan negara sangat ditentukan oleh kekuasaan yang dimainkan oleh Presiden. Khususnya kekuasaan yang ditujukan kepada fungsi dan peranan negara yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 di atas. “Pasal 1 ayat (2) Kedaulatan berada di tangan rakyat dilaksanakan menurut UndangUndang dasar”. Ayat ini menyatakan bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, sistem pemerintahan yang digunakan adalah demokrasi. Sebagai negara demokrasi harus sesuai dengan ketentuan yang dinyatakan dalam UUD 1945. Karakteristik demokrasi yang dituntut menurut UUD 1945 adalah semua lembaga kenegaraan yang memiliki kekuasaan harus dipilih baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Kelembagaan negara menurut UUD 1945 dapat dibedakan atas kelembagaan bersifat aktif, yaitu lembaga eksekutif (Presiden dan Wakil Presiden) dan legislatif (DPR dan DPD) dan kelembagaan negara yang bersifat pasif, yaitu kekuasaan kehakiman/yudikatif (Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial).
Kelembagaan negara yang bersifat aktif harus dilakukan pengisian jabatan tersebut melalui pemilihan umum secara langsung, yaitu pemilihan umum terhadap Presiden dan wakil Presiden secara langsung sebagaimana yang dinyatakan dalam UUD 1945, pasal 6A ayat (1): “Presiden dan wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat”. Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dalam satu pasangan secara langsung merupakan jawaban secara historis dan politik kenegaraan Indonesia yang menghendaki legitimasi kekuasaan lebih kuat sekaligus relevansi aspirasi dan keinginan rakyat. Dengan demikian Presiden dan wakil Presiden memiliki kepercayaan yang luas untuk menjalankan kekuasaannya. Selain Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah (Majelis Permusyawaratan Rakyat) sebagai lembaga legislatif yang juga bersifat aktif, juga dipilih secara langsung melalui pemilihan umum sebagaimana dinyatakan oleh UUD 1945 pasal 19 ayat (1): ”anggota Dewan Perwakilan Rakyat dipilih melalui pemilihan umum”. Begitu juga dengan Dewan Perwakilan Daerah menurut UUD 1945 pasal 22C ayat (1):anggota Dewan perwakilan daerah dipilih dari setiap provinsi melalui pemilihan umum”.
1. Pemilihan anggota DPR dan DPRD melalui kelembagan partai politik, dimana dominasi partai berperan menentukan sesiapa yang dapat dicalonkan oleh partai politik tersebut. Rakyat yang berdaulat dibayangbayangi oleh simbol partai politik untuk memilih wakil yang mereka kehendaki. Kesan partai politik lebih dominan terhadap rakyat pemilih berbanding calon/personal, disini akan terjadi calon wakil rakyat dengan rakyat pemilih kurang dikenal, sekalipun berbagai sistem pemilihan umum telah disempurnakan memalui perubahan – undang pemilihan. Kualitas partai politik dan kesadaran serta pemahaman (pendidikan politik) makna demokrasi bagi warga negara sangat mempengaruhi terhadap kualitas wakil rakyat yang dipilih melalui pemilihan umum.
2. Pemilihan anggota DPD adalah perseorangan sesuai pasal 22E ayat (4). Pemilihan anggota DPD kurang populer bagi masyarakat umum, lembaga ini hanya sekedar pelengkap disamping DPR dalam menempatkan fungsinya sebagai Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pendekatan personal dari caloncalon DPD untuk dipilih dalam pemilihan umum belum menyangkau rasionalisasi massa, apalagi UUD 1945 menempatkan DPD sebagai lembaga negara dalam posisi sangat lemah, sebagaimana yang dinyatakan dalam UUD 1945 pasal 22D, dengan kalimat kerja “…dapat mengajukan kepada DPR… ”, “… ikut membahas…” dan ”… dapat melakukan pengawasan…”, semua terkait dengan otonomi daerah, namun demikian keputusan dalam legislasi berada di bawah kekuasaan DPR.
3. Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden sebagaimana dinyatakan dalam pasal 6A ayat (1) UUD 1945 ”… secara langsung oleh rakyat”. Hal ini mengandung makna bahwa legitimasi Presiden dan Wakil Presiden sangat kuat. Sekalipun pencalonan Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik, namun warga negara yang berhak memilih fokus kepada personal tanpa simbolsimbol partai. Hal ini berbeda dengan pemilihan anggota DPR yang lebih menonjolkan simbol partai politik. Dengan demikian legitimasi dan kedekatan secara psikologis Presiden dan Wakil Presiden lebih kuat berbanding DPR dihadapan rakyat. Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintah merupakan simbol ”republik” dan lebih dominan memainkan kuat dan lemahnya peranan negara.
Kelembagaan negara yang bersifat pasif, juga memiliki peranan sebagaimana diamanatkan dalam pasal 1 ayat (3) UUD 1945, yaitu: Negara Indonesia adalah negara hukum. Ketentuan kekuasaan kehakiman dinyatakan dalam konstitusi, sebagai berikut:
hukum memiliki rasa keadilan masyarakat dapat dilihat dalam dua ketentuan dalam UUD 1945, yaitu: Pasal 24A ayat (1), menyatakan bahwa: ”Mahkamah Agung berwenang… , menguji peraturan perundangundangan dibawah undangundang terhadap undangundang… ”. Ketentuan ini menunjukkan bahwa pemerintah atau Presiden dan aparturan negara lainnya yang berwenang mengeluarkan hukum (Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, Peraturan Daerah dan lainlainnya) harus mampu menterjemahkan undangundang sesuai dengan citacita hukum dan rasa keadilan masyarakat . Pasal 24C ayat (1) menyatakan bahwa: ”Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undangundang terhadap UndangUndang Dasar,…memutuskan pembubaran partai politik,…”. Ketentuan ini menunjukkan adanya jaminan supremasi hukum yang berjiwa keadilan, hukum berada diatas kekuasaan, keputusan yang dibuat oleh lembaga eksekutif bersama legislatif dapat dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) apabila menurut penilaian MK tidak sesuai atau bertentangan dengan UndangUndang Dasar 1945. Sembilan orang hakim memiliki integritas yang tidak diragukan keahliannya, sesuai pasal 24C ayat (5) ” … memiliki integriatas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan…”. Hakim MK ditetapkan oleh Presiden (secara administratif) yang berasal dari pengajuan masingmasing tiga orang dari Presiden, Mahkamah Agung dan Dewan Perwakilan Rakyat (pasal 24C ayat (3). Berdasarkan ketentuan UUD 1945 peranan negara pada hakekatnya dominasi dari kekuasaan Presiden, sedangkan lembaga lagi lebih banyak memberikan pengawasan secara legislasi yang diperankan oleh DPR dan DPD serta pengawasan judisial oleh lembaga kekuasaan kehakiman, khususnya MA dan MK.
Kekuasaan Pemerintahan
Sistem presidensial dalam UUD 1945 mengacu kepada kedudukan dan peran sentral dari presiden dalam penyelenggaraan negara. Presiden memimpin administrasi negara, mengendalikan pemerintahan sebagai pemimpin tertinggi lembaga eksekutif dan juga sebagai kepala negara. Ketika Presiden secara sah memenangi pemilu, dia memperoleh mandat langsung dari rakyat dan menjadi pemimin administrasi negara, sebagai kepala negara, Presiden secara moral dan hukum menampilkan semua gerak dan kegiatan negara secara nyata. Menjaga keharmonisan dan keserasian pelaksanaan fungsi masingmasing institusi yang ada dalam negara merupakan dimainkan oleh sang kepala negara (Presiden).
Kewenangan konstitusional kepala negara ditandai dengan kewenangan yang dimilikinya dalam penggunaan hak prerogatif sebagaimana dinyatakan dalam pasal 10 sampai dengan pasal 15 UUD 1945, seperti: memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan darat, laut dan udara, membuat perdamaian dengan negara lain, menyatakan keadaan bahaya, memberi grasi, amnesti, abolisi, rehabilitasi, mengangkat dan menerima duta.
1945 (sebelum direformasi) dinyatakan bahwa bagaimanapun baik suatu undangundang dasar apabila semangat penyelenggaranya kurang, maka peranan negara yang telah baik dan kuat dalam undangundang dasar tidak mempunyai arti, sebaliknya apabila semangat penyelenggara negaranya adalah baik, sekalipun undangundang dasar kurang sempurna, maka jalannya kenegaraan boleh jadi lebih baik, yang penting adalah semangat penyelenggara negaranya.
Pada era reformasi dari awalnya banyak harapan rakyat yang ditumpukan kepada negara agar neara mampu berperan sebagaimana diamanatkan UUD 1945, namun demikian setelah bergulirnya reformasi selama lebih 10 tahun kepercayaan masyarakat pada kemampuan negara mengelola berbagai permasalahan tampaknya menipis. Dispartitas yang tinggi antara problem dan tingkat kepuasan terhadap penanganan masalah bangsa menunjukkan komponen kenegaraan belum optimal menangani berbagai masalah (Sultani, 5), negara terkesan tidak memiliki pijakan yang kuat sehingga kerap tergagap dalam menghadapi problem penting yang muncul, sering persoalan dibiarkan mengambang tanpa penyelesaian bersifat substansial, seperti masalah korupsi dan kemiskinan adalah problem yang besar, negara bersikap defensif dalam menghadapinya persoalan pada Bank Century, mafia pajak, mafia hukum dan lainlainnya yang berakhir dengan antiklimaks. Dalam persoalan kemiskinan Kompas, 114 201, negara cenderung menampilkan agregat kenaikan pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi menutupi jurang kaya – miskin yang semakin mendalam.
Berdasarkan jajak pendapat (Sultani, 5), tentang tingkat kepuasan masyarakat dengan upaya yang dilakukan negara untuk menyelesaikan persoalanpersoalan, korupsi, ancaman terorisme, kriminalitas, kekerasan sosial, harga barang dan biaya hidup, pengangguran dan ketimpangan sosial, pengelolaan keuangan daerah era otonomi, sikap Dewan Perwakilan Rakyat. Persoalan tersebut masyarakat merasakan tidak puas antara diatas 80%, kecuali terroris (66,7%). Berdasarkan data diatas menunjukkan lemahnya negara dalam mengemban tugas berbeda dengan ketentuan yang telah digariskan dalam UUD 1945.
BAB IV PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa negara konstitusional adalah suatu negara yang melindungi dan menjamin terselenggaranya hak-hak asasi manusia dan hak-hak-hak-hak sipil lainnya serta membatasi kekuasaan pemerintahannya secara berimbang antara kepentingan penyelenggara negara dan warga negaranya. Pembatasan yang termaksud tertuang di dalam suatu konstitusi. Jadi bukan semata-mata karena negara yang dimaksud telah memiliki konstitusi
1. Negara merupakan suatu organisasi di antara sekelompok atau beberapa kelompok manusia yang secara bersama-sama mendiami suatu wilayah (territorial) tertentu dengan mengakui adanaya suatu pemerintahan yang mengurus tata tertib dan keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia yang ada di wilayahnya
3. Negara dan konstitusi berhubungan sangat erat, konstitusi lahir merupakan usaha untuk melaksanakan dasar negara.Bagi bangsa Indonesia, negara dan konstitusi adalah dwitunggal.
4. Perubahan yang begitu besar menimbulkan implikasi terhadap struktur ketetanegaraan, yaitu terjadinya perubahan kelembagaan secara mendasar . Implikasi perubahan tidak hanya terjadi terhadap struktur lembaga-lembaga negara tetapi juga perubahan terhadap sistem ketatanegaraan secara keseluruhan.
4.2. SARAN
Bagi pembaca diharapkan agar mengetahui apakah pengertian dari negara dan konstitusi di Indonesia. Dengan mengetahui hakikat dari negara dan konstitusi, diharapkan kita bisa menjadi warga negara yang baik dan mampu melaksanakan segala peraturan yang tertuang dalam konstitusi secara optimal.