• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETERKAITAN SOSIAL BUDAYA INDONESIA DENG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KETERKAITAN SOSIAL BUDAYA INDONESIA DENG"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KETERKAITAN SOSIAL BUDAYA INDONESIA DENGAN HUBUNGAN INTERNASIONAL

Dosen :Indraswari, M.A., Ph.D.

Gracia Yobel 2015 330 116

Kelas A

(2)

Pentingnya pengenalan sosial budaya sama halnya dengan pengenalan akan identitas diri dalam kehidupan bernegara. Oleh sebab itu setiap masyarakat diharapkan mampu mengenal kebudayaan negaranya masing-masing serta dapat berinteraksi sosial secara nasional maupun global. Terdapat dua dimensi yang dapat dikelompokkan untuk memahami ilmu pengetahuan sosial-budaya.1

 Dimensi Fenomenal; membahas suatu proses melalui refleksi, imajinasi, kontemplasi, observasi, eksperimental, komparasi yang tidak pernah berhenti untuk menemukan kebenaran ilmiah. Dalam dimensi ini juga tercakup unsur masyarakat sebagai masyarakat elit yang dalam kehidupan kesehariannya sangat konsern terhadap kaidah

universalisme, komunalisme, disinterestedness, dan skeptisme. Unsur terakhir dalam dimensi ini adalah produk, yaitu hasil dari aktivitas berupa dalil-dalil, teori, dan paradigma beserta hasil penerapannya berupa fenomena sosial atau alam.

 Dimensi Struktural; tersusun atas komponen-komponen objek sasaran yang ingin diketahui dan tahap demi setahap disusun kembali dalam satu kesatuan sistem ilmu pengetahuan.

Kelanjutan masyarakat dalam suatu negara akan berasaskan pada kerjasama dan mufakat nilai-nilai. Pola pikir, pola tindak, serta fungsi sistem budaya Indonesia juga berperan penting dalam interaksi hubungan internasional. Sikap sadar budaya dapat mewujudkan ide dan tingkah laku yang akan membawa pelaku budaya tersebut kepada suatu keinginan untuk men-jadi dominan dalam suatu kesatuan masyarakat.

Apabila dikaitkan dengan era globalisasi saat ini maka kita akan dengan mudah menemukan terjadinya akulturasi atau pencampuran budaya antara budaya lokal kita dengan budaya barat. Seolah-olah masyarakat Indonesia mulai mengadopsi budaya luar karena dianggap

‘tren’ dan ‘keren’. Berubahnya tradisi budaya seperti ini disebut dengan ‘revivalism’. Lebih tepatnya, revivalism adalah proses penolakkan budaya luar yang masuk ke dalam dengan merusak budaya dari masyarakat itu sendiri.

Di satu sisi, proses akulturasi juga bisa menghasilkan dampak yang positif, seperti  Ajang untuk meningkatkan kelestarian budaya;

 Sebagai media untuk pengenalan akan budaya lain;  Mempererat hubungan antar negara;

(3)

 Membangun masyarakat dunia yang berkomitmen untuk mendukung keragaman dengan nyata dalam kehidupan sehari-hari;

 Memerangi polarisasi dan stereotype untuk meningkatkan pemahaman dan kerja sama antar budaya yang berbeda.

2

Apabila dikaitkan dengan

hubungan internasional,

maka hal akulturasi tersebut dapat

pula melahirkan “The Clash of Civilization”3, yang berarti perbedaan kebudayaan, identitas, dan

perlawanan yang terjadi, kemudian dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya konflik antar-negara atau konflik internasional.

4Bicara soal keterkaitan antara sosial budaya Indonesia dengan hubungan internasional dapat dilihat dari kutipan berita “Indonesia Cetak Rekor Dunia Permainan Angklung di Amerika Serikat”5 Musik angklung khas budaya Indonesia telah diperkenalkan kepada dunia lewat

pencetakkan rekor tersebut. Sebanyak kira-kira 5.000 orang memadati stadion di Washington, DC untuk berkolaborasi memainkan angklung. Para warga negara Amerika nampak tertarik mendalami alat musik tradisional Indonesia satu ini. Oleh karenanya, penting bagi masyarakat 2 “Multicultural Children”, diakses pada 19 Februari 2016,

http://www.123rf.com/stock-photo/cultural_diversity.html

3 Simon Murden, “Culture in Global Politics”, Globalization of World Politics, 2005.

4 “Amerika Terpukau Alunan Angklung Saung Udjo”, Detik News, diakses pada 19 Februari 2016,

http://travel.detik.com/read/2012/03/27/162853/1877990/1025/5/amerika-terpukau-alunan-angklung-saung-udjo

(4)

asli Indonesia untuk tahu mengenai seluk-beluk sosial budaya negara sendiri agar dapat diperkenalkan ke dunia internasional dalam kaitannya dengan hubungan internasional.

Contoh lain dari keterkaitan sosial-budaya dengan hubungan internasional adalah pada

saat Indonesia menjadi tuan rumah dalam acara Festival Konfrensi Asia Afrika, Maret 2015. Acara festival tersebut dihadiri oleh hampir semua negara dari Asia. Masing-masing negara juga

6menunjukkan tarian, pakaian, maupun alat musik tradisional dari negara mereka masing-masing.

Bukan saja masyarakat Indonesia yang terkesima melihat pagelaran seni tradisional berbagai negara tersebut, melainkan delegasi negara-negara lain pun turut menikmati culture diversity dari berbagai penjuru dunia. Ridwan Kamil, walikota Bandung menyatakan bahwa acara Festival Konfrensi Asia Afrika ini pun dapat berguna sebagai ajang promosi kota Bandung dan Indonesia kepada dunia.7

6 “Kemeriahan Parade KAA di Bandung”, Liputan 6, diakses pada 19 Februari 2016, http://photo.liputan6.com/news/kemeriahan-parade-kaa-di-bandung-2220647

7 “Peringatan 60 Tahun KAA, Bandung Siapkan Berbagai Festival”, Kompas, diakses pada 19 Februari 2016,

(5)

Dari kedua contoh tersebut diatas dapat dikatakan bahwa interaksi sosial budaya Indonesia dalam kaitannya dengan hubungan internasional sangat penting. Untuk itu, sebagai masyarakat Indonesia yang baik, sudah seharusnya lah kita melestarikan budaya daerah kita masing-masing dan bangga akan status budaya tersebut. Dengan adanya era globalisasi, bukan berarti kehidupan sosial budaya kita justru semakin condong ke arah barat-baratan, melainkan makin memperkokoh ciri khas dan identitas negara masing-masing. Penting pula memiliki sikap saling menghargai budaya lain. Apresiasi terhadap beragam jenis sosial budaya dapat memperkaya pola pikir kita.

Indonesia Cetak Rekor Dunia Permainan

Angklung di Amerika

Minggu, 10 Juli 2011 14:50 WIB | 10.688 Views

(6)

New York (ANTARA News) - Indonesia berhasil menggalang pembuatan rekor dunia "Guinness World Records" permainan angklung dengan peserta multibangsa terbanyak setelah lebih dari 5.000 orang mampu memainkan lagu "We Are the World" di Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu petang (9/7).

Lagu ciptaan Michael Jackson dan Lionel Richie itu berhasil dimainkan para peserta di bawah panduan yang diberikan oleh Daeng Udjo dari Saung Angklung "Udjo" di Bandung, Jawa Barat. Pencetakan rekor dunia itu berlangsung di taman National Mall-Washington Monument, yang lokasinya antara lain menghadap Capitol Hill (Gedung Kongres AS) serta berseberangan dengan Gedung Putih, yaitu kantor dan kediaman resmi Presiden AS.

Para peserta yang masing-masing mendapatkan sebuah angklung serta syal batik atau ikat kepala khas Bali saat memasuki arena, mengikuti panduan Daeng Udjo dengan membunyikan angklung berdasarkan salah satu nama pulau di Indonesia yang tercantum pada angklung mereka.

Nama-nama pulau tersebut --Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Lombok, Maluku, Flores, Papua, Halmahera-- secara berurutan menggambarkan not do-re-mi-fa-so-la-ti-do-re (atas)-mi (atas).

Peserta membunyikan angklung masing-masing saat Daeng Udjo memberikan tanda not-not tersebut dengan menggunakan berbagai bentuk tangan.

Dari atas panggung, Daeng melatih para peserta memainkan beberapa lagu termasuk "Take Me Home, Country Roads" ciptaan John Denver, Taffy Nivert, dan Bill Danoff, sebelum akhirnya masuk ke lagu resmi pencetakan rekor, "We Are the World".

Sebelum pengumuman, juri dari pihak "Guinness World Records" mengaku terkesima dengan kenyataan bahwa banyak peserta sebelumnya sama sekali tidak pernah memegang angklung namun pada Sabtu sore di National Mall bisa bersama-sama memainkan "We Are the World". "Ini di luar dugaan. Saya tadi di panggung hampir menangis," kata Duta Besar Indonesia untuk AS, Dino Patti Djalal, kepada ANTARA, tentang kepastian yang diumumkan pihak "Guinness World Records" dari atas panggung bahwa rekor angklung berhasil dicetak dengan peserta mencapai 5.182 orang.

Sebelumnya pada Sabtu siang, Dino mengaku tidak dapat memprediksi berapa --dari target 5.000 orang-- yang akan hadir memainkan angklung untuk mencetak rekor.

"Hanya 1.000 orang pun bisa mencetak rekor kalau bisa memainkan lagu," tuturnya. Hingga Jumat (7/7), calon peserta yang terdaftar baru mencapai 1.600 orang.

(7)

Dunia Sri Mulyani serta pengusaha dan promotor musik Peter Gontha.

Selain pencetakan rekor dunia permainan angklung, hari Sabtu di tempat yang sama juga dijadikan sebagai Festival Indonesia dan hari perayaan multikulturalisme.

Festival menghadirkan sejumlah artis Indonesia, seperti Sherina, Elfa`s Singers, Denada, Balawan serta artis mancanegara termasuk Brazilian Percussion, Interfaith Concert hingga kelompok musik kondang dari Australia, Air Supply.

(T.K-TNY) Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2011

Peringatan 60 Tahun KAA, Bandung

Siapkan Beragam Festival

Selasa, 24 Februari 2015

http://travel.kompas.com/read/2015/02/24/183200627/Peringatan.60.Tahun.KAA.Bandung.Siapk an.Beragam.Festival

BANDUNG, KOMPAS.com — Bandung akan menggelar puluhan festival menyambut

peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 pada 21-27 April 2015 sekaligus menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

"Festivalnya terbagi dua, ada main event dan side event," kata Wali Kota Bandung Ridwan Kamil di Bandung, Selasa (24/2/2015).

Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, menyebutkan, acara utama dalam festival tersebut adalah "Smartcity Summit" yang akan diikuti oleh ratusan delegasi dari negara-negara di kawasan Asia dan Afrika ditambah dari Eropa dan Amerika.

(8)

promosi Bandung ke dunia serta sebagai sarana membangun kebanggaan masyarakat Bandung terhadap kotanya. Hal itu tampak dari antusiasme masyarakat untuk membantu terlaksananya acara tersebut secara sukarela.

"Sejauh ini sudah ada sekitar 4.500 orang yang mau membantu perhelatan akbar itu sebagai relawan," katanya.

Selain itu, puluhan festival yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung dan masyarakat lokal juga akan memeriahkan perhelatan akbar 10 tahunan itu.

"Dari Disbudpar akan ada enam main events dan 10 subevents dari 21-27 April," kata juru bicara Disbudpar, Reni.

Dia menjelaskan, pihaknya sudah siap 100 persen untuk menyambut KAA ke-60, mulai dari persiapan logo, dekorasi, dan sebagainya.

"Dalam festival di tanggal 25 April nanti akan ada pemecahan rekor memainkan 20.000 angklung bersama," katanya.

Referensi

Dokumen terkait