Belum banyak orang yang mengenal kesenian Betawi yang satu ini, “topeng blantek”. Asal penamaan ‘blantek’ ini berasal dari kata blind–text, yang artinya tanpa naskah. Seni teater rakyat Betawi ini memang tak bernasib sama dengan kesenian lain, seperti ondel-ondel, tanjidor dan gambang kromong. Jika dulu topeng blantek kerap kali menjadi hiburan masyarakat saat hajatan pernikahan, sunatan, dan syukuran lainnya, seiring berkembangnya zaman, topeng blantek justru semakin dilupakan. Kini, keberadaan grup “topeng blantek” tak lebih dari 5 grup di Jakarta dan sekitarnya. Salah satu yang masih terus bertahan adalah Grup Topeng Blantek ”Fajar Ibnu Sena” yang dipimpin oleh Bang Nashir, di kawasan Ulujami, Jakarta Selatan. Keluarga Bang Nashir memang memiliki darah seni Betawi. Adik kandungnya yang bernama Fauzi pun memiliki keahlian membuat karya seni betawi, seperti ondel-ondel, pernak-pernik khas Jakarta dan juga membuat topeng. Yang menjadi unik, Fauzi membuatnya dengan menggunakan kertas bekas yang kemudian diolah menjadi bubur kertas, hingga akhirnya siap dibentuk menjadi beragam karya indah khas Jakarta. Dalam episode kali ini, Intan Erlita menyambangi grup topeng blantek Fajar Ibnu Sena. Tidak hanya melihat proses latihan teater rakyat, ia juga ikut jadi lakon dalam salah satu pertunjukkan di kawasan Cipulir, Jakarta Selatan.
Di Antara Kita Topeng Blantek Seni yang
Bebas
2
0
0
Teks penuh
Dokumen terkait