• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENGANTAR. Kota sebagai tempat aktivitas manusia paling ramai. belum banyak mendapatkan perhatian sejarawan akademis di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENGANTAR. Kota sebagai tempat aktivitas manusia paling ramai. belum banyak mendapatkan perhatian sejarawan akademis di"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang

Kota sebagai tempat aktivitas manusia paling ramai belum banyak mendapatkan perhatian sejarawan akademis di Indonesia sampai abad ke-20,1 terutama kota-kota di kawasan

sepanjang aliran sungai. Perkembangan kota-kota di Indonesia menunjukkan ciri yang berbeda-beda. Perbedaan itu dipengaruhi oleh letak geografis dan pertumbuhan penduduk.

Pulau Kalimantan pada masa lalu merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak peradaban yang tumbuh di sepanjang aliran sungai.2 Sungai-sungai besar yang ada di

Kalimantan seperti sungai Barito, sungai Kapuas dan sungai

1 Kuntowijoyo, Kota Sebagai Bidang Kajian Sejarah

(Makalah pada Seminar Sejarah Lokal: Dep. P&K. 1992), hlm. 4.

2 Munculnya kerajaan di Kalimantan Selatan berawal di

sepanjang aliran sungai Barito dan cabang sungainya yang banyak terdapat kantong-kantong pemukiman. Pemukiman itu dipersatukan menjadi sebuah kerajaan. Kerajaan yang pertama kali muncul adalah Nagara Dipa yang didirikan oleh keluarga Mpu Jatmika sekitar awal abad ke-14, yang terletak di bantaran sungai Tabalong. Pada abad ke-15 kerajaan Nagara Dipa dipindahkan ke bantaran sungai Nagara oleh Raden Sari Kaburangan dengan nama kerajaan Daha. Namun, keberadaan kerajaan Daha tidak berlangsung lama karena terjadi konflik didalamnya. Kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin di bantaran sungai Kween dengan nama Kerajaan Banjar. Johanes Jacobus Ras, Hikajat Banjar a

Study in Malay Historiography (Martinus Nijhoff: The Hague, 1968),

(2)

2 Mahakam. Sungai Barito yang berada di wilayah Kalimantan Selatan sebagai sungai utama yang mempunyai cabang sungai, antara lain: sungai Martapura, sungai Tabalong, sungai Nagara, dan sungai Kween.

Secara geografis Banjarmasin3 terletak di bantaran

sungai Martapura. Menurut Laporan Residen Meijer tahun 1887, penduduk Banjarmasin tinggal di pinggiran sungai atau di kampung-kampung yang berada di bantaran sepanjang kedua sisi Sungai Martapura.4 Laporan tersebut membuktikan bahwa

masyarakat Banjarmasin adalah masyarakat yang sangat ketergantungan dengan sungai. Realitas tersebut tidak dapat dipungkiri mengingat Banjarmasin khususnya dan pulau Kalimantan pada umumnya memiliki sungai-sungai besar maupun kecil. Pemandangan yang tampak sejak dahulu ketika mengunjungi Banjarmasin adalah terlihat jelas pemukiman

3 Penyebutan „Banjarmasin‟ mulai digunakan dalam

kegiatan administrasi Belanda. Sebelumnya disebut „Bandjarmasih‟. Menurut Johanes Jacobus Ras penggunaan nama Bandjarmasih karena dilekatkan pada nama seorang pembesar atau orang yang sangat berkuasa di Banjar yang bernama Patih Masih. M. Idwar Saleh, Banjarmasih. Sejarah Singkat Mengenai Bangkit Berkembangnya Kota Banjarmasin Serta Wilayah

Sekitarnya sampai Dengan Tahun 1950 (Museum Negeri Lambung

Mangkurat Propinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru, 1981/1982), hlm. 30-33; Johanes Jacobus Ras, Ibid., hlm. 398-399. Lihat peta pada lampiran 1.

4 Carl Bock, Reis in Oost en Zuid Borneo. Van Kutai Naar Banjermasin Ondernomen Op Last der Indische Regering in 1879 en 1880 („s Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1887), hlm. 50.

(3)

3 penduduk yang berjajar di bantaran-bantaran sungai. Kondisi ini terus berjalan hingga masuknya pemerintah kolonial Belanda yang mengubah wajah pemukiman penduduk Banjarmasin yang monoton mengikuti sungai menjadi pemukiman di daratan.

Pemukiman di kota Banjarmasin tidak banyak memiliki prasarana jalan darat, oleh karena itu prasarana jalan yang ada harus selalu dijaga dari genangan air sungai pada waktu pasang dengan cara ditinggikan dengan tanah dan dibangun tanggul untuk menahan tanah supaya tidak tergerus. Pusat kota pada saat itu dialiri dan dipetak oleh anak sungai beserta kanal-kanal sungai dengan lembahnya yang berawa-rawa sehingga daratan yang ada menyerupai sebuah pulau. Banjarmasin sebagai sebuah kota dengan area yang selalu digenangi air, juga disebut oleh orang-orang Eropa sebagai kota “seribu sungai”, yang lebih mirip kota Venesia di negara Italia.5 Sebutan ini juga dikarenakan kota

Banjarmasin dialiri banyak anak sungai dan kanal-kanal yang dibuat oleh penduduk. Sungai Martapura yang membelah kota dengan anak sungai dan kanal-kanal sungainya tersebut menjadi urat nadi kehidupan penduduk Banjarmasin.

5 Donald F. Lach and Edwin J. van Kley, Asia in the

Making of Europe, volume III : a Century of Advance (London:

(4)

4 Rumah penduduk berbentuk panggung dari kayu dan rumah-rumah rakit yang ditambatkan di tiang-tiang kayu supaya tidak terbawa oleh air sungai yang menjadi ciri khas dari kota ini.6

Sungai menjadi jalur utama, semua kebutuhan penduduk diangkut melalui sungai di setiap depan rumah terdapat dermaga kecil dari kayu untuk menambatkan perahu.7

Pada pertengahan abad ke-17, kota Banjarmasin memiliki infrastruktur yang memadai sebagai pintu masuk pelayaran dan perdagangan di Kalimantan Selatan. Infrastruktur itu berupa pelabuhan sungai yang berfungsi sebagai tempat bertemunya para saudagar dari berbagai daerah untuk transaksi dagang. Selain itu, kota Banjarmasin berkembang menjadi

6 Hal ini menyerupai kota Palembang yang dibelah oleh

sungai Musi dan sungai itu sebagai urat nadi kehidupan penduduk. Perbedaan terlihat dari penghuninya; di kota Banjarmasin, rumah panggung yang berada di daratan dan rumah rakit yang berada di atas sungai ditempati oleh semua lapisan penduduk sedangkan di kota Palembang penghuni rumah panggung ditempati oleh orang-orang Palembang dan Arab sedangkan rumah di atas sungai berbentuk rakit yang ditopang kayu ditempati orang-orang Cina, Melayu dan orang-orang asing lainnya. Dedi Irwanto M. Santun, Produksi dan Reproduksi Atas Jembatan Ampera; memaknai konstruksi fisik dan Ideologis Kota

Palembang dari Kolonial ke Pascakolonial, 1930-1960-an. Tesis.

(Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2009), hlm. 2.

7 Pedagang dari pantai utara Jawa yang menghindarkan

diri dari tekanan Sultan Agung dari Mataram, memindahkan usaha dagangnya ke kota Banjarmasin. Hal ini mendorong perkembangan perdagangan dan pelabuhan. Sulanjari, Politik dan

Perdagangan Lada di Kesultanan Banjarmasin, Tesis (Jakarta:

(5)

5 pelabuhan pembongkaran dan pemuatan barang dari dan ke Banjarmasin.8 Kombinasi antara faktor alamiah yang strategis dan

kekayaan alam di daerah hinterland yang melimpah menyebabkan pelabuhan yang terletak di tengah kota Banjarmasin ini berkembang pesat. Komoditas perdagangan itu dikumpulkan di pelabuhan Banjarmasin untuk kemudian didistribusikan ke seluruh daerah. Komoditas perdagangan yang banyak terdapat di Banjarmasin antara lain karet, kayu, rotan, sarang burung walet, batu besoar, lilin lebah, minyak kayu gaharu, lada dan darah naga.9 Komoditas perdagangan ini menjadi daya tarik para

saudagar dari berbagai daerah datang ke Banjarmasin untuk berdagang. Para saudagar ini berasal dari Sulawesi, Jawa, Sumatera, Cina dan Jazirah Arab.10 Sumber daya alam

Banjarmasin sebagai komoditas perdagangan yang laku di pasar dunia juga menjadi incaran para pedagang Eropa, antara lain: Portugis, Inggris dan Belanda.

8 Untuk fasilitas-fasilitas pelabuhan dan volume

perdagangan yang dilakukan di Banjarmasin, khususnya pada abad keduapuluh, lihat R. Broesma, Handel en Bedrijf in Zuid en

Oost-Borneo. („s Gravenhage: Naeff, 1927), hlm. 18-22.

9 Goh Yoon Fong, Trade and Politics in Banjarmasin,

1700-1747. Tesis. (London: University of London, 1969), hlm.10.

Lihat juga; Tundjung, Karet dari Hulu Sungai, Budidaya, Perdagangan dan pengaruhnya terhadap Perekonomian di

Kalimantan Selatan, 1900-1940. Tesis. (Jakarta: Universitas

Indonesia, 1994), hlm. 49-58.

(6)

6 Belanda (VOC) untuk pertama kali datang di Banjarmasin pada tahun 1606 untuk menjalin hubungan dagang dengan kesultanan Banjarmasin.11 Di dalam jalinan perdagangan

rempah antara kesultanan Banjarmasin dengan VOC terjadi monopoli yang dilakukan oleh VOC. VOC ingin menguasai secara penuh perdagangan rempah sebagai komoditas yang penting bagi kesultanan. Hal ini menyebabkan perlawanan terhadap VOC.12

Masuknya Belanda di kesultanan Banjarmasin pada abad ke-19 masehi menjadi tonggak sejarah perubahan kehidupan kesultanan dan masyarakat dari berbagai aspek antara lain aspek ekonomi dan aspek politik.13 Pasca perang Banjar (1859-1906)14,

cengkeraman kekuasaan kolonial semakin kuat, hal ini diikuti dengan penerapan kebijakan dan konsolidasi dalam perencanaan

11 L.C.D. van Dijk, Nederland’s Vroegste Betrekkingen met Borneo, den Solo-Archipel, Cambodja, Siam en Cochin-Cina.

(Amsterdam: J.H. Schetema, 1862), hlm. 127-128.

12 Ita Syamtasiyah Ahyat, Politics and Economy of Banjarmasin Sultanate in the Period of Expansion of the Netherlands East Indies Government in Indonesia, 1826-1860

(International Journal for Historical Studies, 2012), hlm. 155-156.

13 Helius Sjamsuddin, Pegustian dan Temenggung, Akar Sosial, Politik, Etnis dan Dinasti. Perlawanan di Kalimantan Selatan

dan Kalimantan Tengah 1859-1906. (Jakarta: Balai Pustaka,

2001), hlm. 72-84.

14 Perlawanan yang berkepanjangan antara tahun

1859-1906 di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah terhadap Kolonial Belanda adalah yang terpanjang dalam sejarah Indonesia. Helius Sjamsuddin. Ibid., hlm. 472.

(7)

7 pembangunan kota Banjarmasin.15 Dalam perencanaan dan

pembangunan kota yang dilaksanakan pemerintah kolonial Belanda ini menimbulkan perubahan orientasi yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Pada awalnya, Belanda mendirikan benteng dan pusat pemerintahan di tanah daratan yang menyerupai pulau yang disebut Tatas sebagai pusat kota.16 Di kota itu dibangun

rumah-rumah Belanda, kanal, rumah-rumah sakit, alun-alun dan gudang. Di luar benteng, terdapat kampung-kampung yang dihuni oleh berbagai macam etnis. Kondisi ini menyebabkan migrasi ke daerah sekitar benteng untuk mencari peluang usaha. Namun, dalam perkembangannya muncul persoalan di sekitar benteng yang tidak mampu menampung arus migrasi yang membutuhkan tempat bermukim.

Ada satu hal yang menarik dari penjelasan tersebut bahwa perubahan kehidupan masyarakat dan kondisi Banjarmasin pada abad ke-20 tidak terlepas dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda terutama yang berhubungan dengan tata pemerintahan dan kebijakan pada aspek politik.

15 J. Thomas Lindblad, Between Dayak and Dutch, The

Economic History of Southeast Kalimantan 1880-1942. (Dordrecht:

Foris Publication, 1988), hlm. 5-6. Lihat juga M. Idwar Saleh,

Op.cit., hlm. 30.

(8)

8 perubahan inilah yang menjadi daya tarik penulis untuk mengungkap secara terstruktur dan menyeluruh yang terjadi pada masyarakat kota Banjarmasin pasca perang Banjar.

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup Penelitian

Banjarmasin sebagai daerah yang terletak di bantaran sungai besar di Kalimantan cenderung memperlihatkan aktivitas kehidupan masyarakat yang berorientasi ke sungai. Kondisi ini berjalan cukup lama hingga hadirnya pemerintah kolonial Belanda yang merubah tatanan tersebut berdasarkan kehendak kolonial. Oleh sebab itu, perlu kajian yang mendalam untuk mengungkap perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat dan daerah Banjarmasin pada umumnya.

Untuk memudahkan pemahaman dan fokus kajian dalam penelitian ini, maka perlu diungkapkan permasalahan pokok antara lain:

1. Perubahan apakah yang terjadi pada tata kota Banjarmasin dan kehidupan masyarakat ketika orientasi berubah dari sungai ke darat?

2. Akibat apa yang muncul pada masyarakat kota Banjarmasin ketika pembangunan yang dilaksanakan pemerintah kolonial Belanda lebih menitikberatkan daratan dari pada sungai?

(9)

9 Penelitian ini memiliki batasan temporal tahun 1906 sampai tahun 1942. Pada tahun 1906 dimulai rencana pembangunan kota oleh Ir. Sebinga Mulder untuk memudahkan penataan kota berkelanjutan dan mendapatkan legitimasi keberadaan kota Banjarmasin yang bersifat otonom. Rencana umumnya menyangkut soal pelabuhan yang erat hubungannya dengan perkembangan ekonomi, disamping pertanian dan angkutan air sekitar kota serta pembangunan jalan darat yang yang berbeda dari orientasi sebelumnya. Proses ini ditandai dengan konsolidasi pemerintah kolonial dalam rangka penetapan kota Banjarmasin menjadi daerah otonom.17 Sementara tahun

1942 dijadikan batas akhir penelitian karena alasan berakhirnya kekuasaan kolonial yang sebelumnya menjadi pengendali kota Banjarmasin. Pembangunan infrastruktur baru kota berhenti, sejalan dengan berakhirnya pendanaan bagi infrastruktur kota.

Batasan spasial atau geografi mencakup wilayah kota Banjarmasin yang didukung oleh aliran sungai-sungai yang menghubungkan kota Banjarmasin dengan daerah lain di Kalimantan Selatan. Dasar pertimbangannya adalah bahwa sungai-sungai tersebut merupakan urat nadi utama yang memberikan dinamika kehidupan dan aktivitas kota Banjarmasin. Di samping itu letak kota Banjarmasin sangat menguntungkan

(10)

10 untuk perdagangan karena Sungai Barito dan Sungai Martapura yang luas bisa dilayari dan disandari kapal-kapal besar. Kota Banjarmasin menjadi tempat transit para pedagang untuk melakukan kegiatan ekspor dan impor. Pada perkembangannya, keberadaan jalan darat mulai merubah peran sungai yakni masyarakat mulai menggunakan mobil dan sepeda untuk berbagai aktivitas di kota Banjarmasin.

Selain itu, batasan penelitian ini mengambil tema kajian sejarah sosial kota khususnya perkembangan kota yang dipengaruhi oleh faktor ekologi dan kebijakan pemerintah yang menambah akses jalan darat di kota Banjarmasin. Dampak perubahan tersebut dapat menjelaskan mengapa pembangunan pemukiman masyarakat perkotaan yang mulai teratur dan mengelompok dalam suatu wilayah yang berdampingan.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses perubahan orientasi masyarakat kota Banjarmasin dari sungai ke darat setelah berakhirnya perang Banjar (1859-1906). Dengan memfokuskan kajian pada kehidupan masyarakat ketika orientasi berubah dari sungai ke darat yang terjadi pada kurun waktu 1906-1942, interpretasinya menjadi sumbangsih untuk memecahkan persoalan kebuntuan sejarah kota Banjarmasin

(11)

11 pada periode setelah perang. Kajian Ita Syamtasiyah Ahyat sebagai sejarawan akademik mengenai Banjarmasin hanya menjelaskan ekonomi dan politik di dalam kesultanan Banjarmasin sampai tahun 1860 dengan dihapuskan kesultanan Banjarmasin oleh Kolonial Belanda. Sedangkan Helius Syamsudin menjelaskan tentang Perang Banjar sampai tahun 1906. Sehingga ruang kajian kota Banjarmasin pada era kekuasaan kolonial tidak tersentuh sama sekali. Oleh karena itu, suatu kajian dibutuhkan untuk menjelaskan situasi kota Banjarmasin setelah perang berakhir dan memasuki era kekuasaan kolonial.

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sumbangan pemikiran untuk mengetahui pengaruh dan sepak terjang pemerintah kolonial dalam membangun kota Banjarmasin pada awal abad ke-20. Hal ini, sekaligus menjadi titik awal bagi penelitian selanjutnya untuk mengkaji pengaruh kolonial Belanda baik di kota Banjarmasin maupun di Kalimantan Selatan. Dari sisi akademis, penelitian ini diharapkan mampu mengungkap berbagai fakta dan analisis baru yang juga bisa membuka bagi penelitian-penelitian berikutnya.

D. Tinjauan Pustaka

Beberapa kajian tentang kota Banjarmasin telah dilakukan oleh beberapa peneliti, namun pembahasannya masih

(12)

12 terpaku pada masalah ekonomi dan perdagangan yang didukung oleh kondisi geografis yang melingkupi. Inspirasi tulisan ini berasal dari buku karya M. Idwar Saleh yang berjudul “Banjarmasih”. Di dalam buku tersebut cerita sejarah Banjarmasin sebagai sebuah kota dijabarkan secara singkat mulai dari jaman kerajaan sampai era orde lama. Buku tersebut masih dideskripsikan secara umum dan belum menggambarkan pemaknaan yang menyangkut penduduknya atau dengan kata lain penulis belum memberikan porsi cerita yang lebih luas pada masyarakat Bumiputera.18 Perkembangan dan eksistensi

kelompok marginal perkotaan sebagai bagian dari berlangsungnya modernisasi belum banyak disinggung.

Makalah Bambang Subiyakto19 mengenai infrastruktur

pelayaran sungai kota Banjarmasin tahun 1900-1970, memberikan gambaran bagaimana kota ini berkembang didukung oleh adanya sungai-sungai sebagai jalur transportasi. Bagi Bambang, kota saat itu berkembang karena adanya akses untuk keluar masuk Banjarmasin sangat tersedia oleh karena kondisi alamnya. Budaya penduduk Banjarmasin yang suka membuat

18 M. Idwar Saleh, Op.cit.

19 Bambang Subiyakto, Infrastruktur Pelayaran Sungai:

Kota Banjarmasin Tahun 1900-1970. Dalam buku Kota Lama Kota

Baru, Sejarah Kota-kota di Indonesia. Editor Freek Colombijn dkk.

(13)

13 kanal-kanal untuk jalur transportasi dan irigasi juga ikut mendukung perkembangan kota ini.

Penulis dan petualang Belanda bernama Carl Bock menulis sebuah buku yang berjudul Reis in Oost en Zuid Borneo. Van Kutai naar Banjermasin ondernomen op Last der Indische

Regering in 1879 en 1880. Buku ini merupakan kisah perjalanan

Carl Bock yang terinspirasi oleh berita-berita dari Hollander.20 Carl

Bock dalam perjalanan menyusuri sungai-sungai di Kalimantan banyak menulis apa yang dilihatnya dan mengenai kota Banjarmasin secara khusus dicantumkan dalam satu bab. Walaupun hanya satu bab, cerita tentang kota ini sangat mendalam dan memberi gambaran menarik tentang perdagangan, kehidupan sehari-hari penduduk kota Banjarmasin dalam hubungannya dengan Cina, Bugis dan Jawa.

Tulisan Dedi Irwanto M.S., yang berjudul “Produksi dan Reproduksi Atas Jembatan Ampera; memaknai konstruksi fisik dan Ideologis Kota Palembang dari Kolonial ke Pascakolonial, 1930-1960-an”. Tesis ini mengungkap pembentukan dan penciptaan simbol sebagai sebuah realitas. Penafsiran atas perubahan kota Palembang dapat dijadikan pembanding dengan

20 Hollander adalah ilmuwan dari Belanda yang menulis

kisah perjalanannya pada waktu masa VOC, yang dituangkan ke dalam sebuah buku berjudul “Land-en Volkenkunde van Ned.Indie”.

(14)

14 penelitian tentang kota sungai lainnya dan digambarkan secara berbeda dari tulisan lainnya.

Peneliti tentang Kalimantan Selatan J. Thomas Lindblad21 menjelaskan kegiatan perekonomian tahun 1880

dengan pola berlapis perdagangan yang telah terbentuk di Kalimantan Selatan di mana sebagian besar demarkasi berada pada sepanjang garis etnis. Melayu atau Banjar terlibat khusus dalam perdagangan di sepanjang sungai dengan etnis Dayak. Etnis Cina masuk ke pedalaman untuk melakukan aktivitas perdagangan sungai namun hanya dalam pengiriman hasil perdagangan. Mereka menguasai pasar pokok regional di Banjarmasin dan jalur perdagangan ke Singapura. Tumpang tindih kepentingan lingkungan memunculkan persaingan dalam dua konteks yang berbeda: antara Melayu dan Cina di sungai dan antara Cina dan Eropa dalam perdagangan luar negeri. Seringkali, konfrontasi akhirnya berakhir dalam ko-eksistensi damai atau bahkan dalam bentuk kerja sama, misalnya ketika pedagang Cina bekerja secara simultan untuk dirinya sendiri dan sebagai agen dari Borsumij. Dinamika itu memberikan gambaran, bagaimana persaingan dagang di kota Banjarmasin berlangsung yang memberikan warna perubahan pada kota yang sedang berkembang itu.

(15)

15 Tesis dari Sulanjari22 dan Goh Yoon Fong mengisi

kekosongan tulisan awal abad ke-18.23 Banyak menjelaskan tentang ekonomi kesultanan Banjar yang mengalami pasang surut berdagang lada dengan VOC, antara Kerajaan Banjar dengan pedagang-pedagang dari Cina, India, Inggris dan Portugis. Ada faktor penyebab Belanda (VOC) dan Inggris tidak suka berdagang dengan bangsawan Banjar. Sultan sebagai penguasa menjalankan sistem monopoli dan sering berbuat curang. Monopoli perdagangan yang dikuasai oleh sultan dapat dilihat dari proses pembongkaran dan pengapalan barang yang tidak dapat dilakukan tanpa adanya pemeriksaan terlebih dahulu dari pegawai kepercayaan sultan. Hal ini berbanding terbalik pada abad ke-19. Paper Ita Syamtasiyah Ahyat menjelaskan masuknya pengaruh kolonial Belanda dalam mengatur kesultanan memberikan perubahan di bidang politik dan ekonomi. Perubahan ini disebabkan terutama oleh intervensi dari kolonial Belanda dan perselisihan tahta kesultanan di antara keluarga sultan. Pada akhirnya kolonial Belanda sukses menguasai kesultanan Banjarmasin pada tahun 1960.24

22 Sulanjari, loc.cit.

23 Goh Yoon Fong, loc. cit.

24 Ita Syamtasiyah Ahyat, op.cit.

(16)

16 Disertasi Tunjung25 (1994) tentang karet memberikan

gambaran bahwa Kota Banjarmasin menjadi sentral bagi perdagangan dan penimbunan karet sebelum dijual ke pasar internasional. Transaksi yang dilakukan pedagang di Banjarmasin memberi andil yang besar dalam perkembangan kota terutama prasarana pelabuhan dan pergudangan yang ada di kota.

Broesma, Handel on Bedrijf in Zuid on Oost-Borneo, (The Hague, 1927), buku ini banyak menggambarkan sejak awal tentang kekuatan ekonomi yang dimiliki Pulau Kalimantan untuk diambil keuntungannya bagi negeri Belanda. Buku ini menjelaskan secara umum tentang pemerintahan kolonial Belanda dan aktivitas ekonomi masyarakat di Kalimantan Selatan yang saling memberikan pengaruh mempengaruhi di dalam perkembangan kota Banjarmasin pada abad ke-20.

Sementara seorang pelaku sejarah Banjar yang bernama Amir Hasan Bondan menulis buku yang berjudul Suluh Sejarah

Kalimantan,26 menjadi sebuah sumber tertulis yang sangat

bermanfaat untuk membandingkan data yang ditulis Belanda sebagai laporan dengan peristiwa yang ada kaitannya tentang

25 Tundjung, Karet dari Hulu Sungai, Budidaya, Perdagangan dan pengaruhnya terhadap Perekonomian di

Kalimantan Selatan, 1900-1940. Disertasi. (Jakarta: Universitas

Indonesia, 1994).

26 Amir Hasan Bondan, Suluh Sejarah Banjar.

(17)

17 kondisi sosial-ekonomi rakyat Banjarmasin yang sebenarnya. Walaupun hanya digambarkan secara ringkas dengan mengambil riwayat-riwayat atau keterangan dari peristiwa di Kalimantan, buku ini merupakan cerita para pelaku kegiatan pembangunan ekonomi dan perdagangan dari kota ke wilayah pedalaman.

Tentang pelayaran dan transportasi sungai dibahas oleh Bambang Subiyakto. Kegiatan perdagangan dan perekonomian di Banjarmasin digerakkan lewat sungai utama yaitu sungai Barito. Sungai ini sebagai penghubung antara daerah pedalaman dengan pelabuhan kota Banjarmasin sehingga sungai tersebut menjadi ramai karena menjadi tempat bertemunya para pedagang untuk bertransaksi. Sungai-sungai yang ada di Kalimantan berfungsi sebagai prasarana lalu lintas orang dan barang. Bambang Subiyakto melihat pelayaran sungai tetap bertahan karena faktor manusia di Kalimantan Selatan masih sangat tergantung pada faktor alam. Pertanyaannya apakah betul sungai masih dijadikan jalur transportasi sampai pertengahan abad ke-20? Hal ini belum tentu benar, ada bukti yang menjelaskan mengapa transportasi sungai tidak lagi menjadi jalur transportasi di pertengahan abad ke-20. Bukti itu sampai sekarang masih dimiliki penduduk Banjarmasin, seperti kepemilikan sepeda dan mobil. Kajian paling kontemporer dihadirkan oleh Endang Susilowati mengenai

(18)

18 pelayaran perahu rakyat di Banjarmasin.27 Kajiannya mengenai

respon pelayaran perahu dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan zaman terutama berkaitan dengan perubahan teknologi dalam sarana pengangkutan laut. Disertasi ini juga membahas mengenai perkembangan jaringan pelayaran perahu rakyat di kawasan sekitarnya.

Dari beberapa buku dan penelitian yang sejauh penulis ketahui, beberapa kajian tersebut sangat membantu penulis dalam memahami secara utuh kaitan antara satu peristiwa dan perubahan-perubahan yang muncul di Banjarmasin. Dengan realitas itu, penulis akan dapat memahami dan menganalisis berbagai temuan-temuan yang muncul baik yang sudah masuk dalam kajian peneliti lain maupun apa yang penulis temukan dalam penelitian ini.

E. Kerangka Konseptual

Dalam penelitian sejarah, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, adalah data sebagai sumber informasi dan analisis terhadap informasi yang terkandung dalam data tersebut, hasil analisis selalu disebut sebagai fakta. Dalam melakukan analisis atau interpretasi terhadap data, sejarawan memerlukan

27 Endang Susilowati, “Pasang Surut Pelayaran Perahu

Rakyat di Pelabuhan Banjarmasin, 1880-1990. Disertasi (Jakarta;

(19)

19 suatu wawasan yang luas dan tajam terhadap persoalan yang ditelitinya. Ini diperlukan agar pokok persoalan penelitian tetap berada dalam konteks kajian historis meskipun ada beberapa batasan yang diberikan. Untuk bisa mempertajam analisis baik dalam proses interpretasi maupun melakukan penulisan laporan akhir, sejarawan memerlukan suatu pendekatan teori yang sesuai dengan bidang disiplin yang ditelitinya.28 Penerapan teori dalam

menganalisis masalah akan diatur dalam metodologi penulisan sejarah tersebut.

Fokus utama dari penelitian sejarah ini yaitu perubahan tata kota Banjarmasin dan kehidupan masyarakat ketika orientasi

28 Arti penting penggunaan teori mulai muncul di

kalangan para sejarawan sebagai reaksi terhadap metodologi rekonstruksi yang dirintis oleh Leopold von Ranke pada pertengahan abad XIX di Jerman. Ranke menekankan arti penting penggunaan arsip dalam menulis sejarah dan menyebutnya sebagai metodologi rekonstruksi. Pada awal abad XX bersamaan dengan tumbuhnya aliran strukturalisme di Prancis, para sejarawan Annales kemudian menerapkan metodologi baru yang disebut metodologi konstruksi. Dalam metodologi ini disebutkan bahwa arsip saja tidak cukup untuk menjelaskan suatu peristiwa sejarah, karena arsip hanya merupakan susunan dan permainan kata. Untuk bisa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dalam konteks ruang dan waktu saat peristiwa terjadi, sejarawan konstruksi menuntut adanya analisis dengan menggunakan bantuan disiplin ilmu lain yang sesuai. Untuk itu teori-teori dari disiplin ilmu tersebut mulai diterapkan sebagai alat bantu analisis persoalan penelitian. Sejak itu metodologi struktural yang menganut model konstruksi dalam penulisan sejarah mengutamakan penggunaan teori bagi penajaman analisisnya. Lihat Alun Munslow, Deconstructing History. (London: Routledge, 1997), hlm. 23.

(20)

20 berubah dari sungai ke darat. Untuk itu, Banjarmasin harus diletakkan dalam konteks periodisasi yang digunakan dalam penelitian ini secara mikro, tidak berarti perkembangan Banjarmasin pada masa itu bisa dilepaskan dengan perkembangan wilayah yang lebih luas di zaman yang sama.

Studi terhadap konsep dan teori dari beberapa ahli sangat berguna untuk memperoleh bahan dasar bagi penelitian selanjutnya. Sejumlah ahli tata ruang kota memiliki kerangka teori sebagai dasar pemikiran bagi pertumbuhan kota. Djoko Suryo menyebutkan bahwa perkembangan kota kolonial atau kota-kota indis pada tahun 1900-1940-an meningkat seiring dengan perkembangan perekonomian pada sektor-sektor tertentu, misalnya pertambangan, perdagangan, perindustrian, dan perkebunan.29

Ahli perkotaan seperti Peter J.M. Nas, mengatakan bahwa pertumbuhan kota berlangsung melalui tiga tahap yang berlaku untuk mengkaji tentang perluasan kota. Pada tahap pertama adalah adanya lingkungan alami dan material buatan manusia. Lingkungan ini menjadi modal dasar dalam meletakkan kearah mana fondasi pertumbuhan kota ini akan dibawa. Tahap kedua adalah komunitas budaya kota, yang terbentuk sebagai

29 Freek Colombijn, et.al., (eds), Kota Lama Kota Baru:

Sejarah Kota-kota di Indonesia. (Yogyakarta: Ombak, 2005), hlm.

(21)

21 akibat adanya interaksi antara komponen-komponen yang membentuk kehidupan kota, Tahap ketiga adalah adanya masyarakat yang terkontrol. Dalam tahap ini unsur kekuasaan mulai diterapkan untuk mengatur dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan morfologi kota.30 Dari tiga tahap

ini, sudut pandang Nas jelas bertolak dari jumlah penghuni yang ada di kota itu sebagai faktor yang menentukan perubahan kota baik secara administratif maupun geografis. Kota tumbuh dan meluas bukan hanya karena kepadatan penduduknya tetapi juga penyebarannya. Proses ini harus diatur oleh institusi pengontrol yang akan mengarahkan perkembangan kota dan mencegah terjadinya persoalan sosial-geografis seperti pemukiman kumuh, kesalahan penggunaan tata ruang kota dan sebagainya.

Analisis Nas ada kesesuaian untuk melihat sejarah perkembangan Banjarmasin sebagai kota pelabuhan dan tempat bermukimnya sebagian besar penduduk dan orang-orang Eropa. Tiga tahap tersebut menunjukkan arah yang diambil oleh pemerintah kolonial dan masyarakat Banjarmasin. Banjarmasin tumbuh terlebih dahulu sebagai kota tempat bermukim sejak zaman kerajaan dan pemerintah kolonial baru mengkonsolidasi kemudian setelah penaklukan tahun 1860 sampai dengan

30 Peter J.M. Nas, The Indonesian City. (Leiden: KITLV

(22)

22 ditetapkan sebagai ibukota Kalimantan Selatan. Di antara penduduk yang membentuk kota Banjarmasin juga terjadi suatu interaksi sosial yang integratif. Akibatnya budaya perkotaan di Banjarmasin dibentuk dari berbagai unsur latar belakang penduduk yang menempatinya.

Sementara itu pertumbuhan sebuah kota dimotivasi oleh berbagai faktor, yang kemudian juga mempengaruhi perilaku dan pandangan budaya warganya. Salah satu dari motivasi ini adalah fungsi kota sebagai titik pertemuan transaksi ekonomi yang melibatkan warga dari berbagai wilayah sekitarnya. Untuk itu, Logemann memandang perkembangan kota dari sudut pandang pertumbuhan ekonomi. Bagi Logemann, kota memiliki daya tarik bagi daerah sekitarnya karena menjadi satu-satunya saluran keluar bagi produk pedesaan. Dengan demikian karena fungsinya sebagai tempat pemasaran dan lapangan kerja, kota menjadi sumber penghasilan bagi daerah pedalaman di sekitarnya. Sebaliknya pedalaman menjadi daerah penyangga bagi perkembangan, pertumbuhan, dan perluasan kota.31

Aspek yang tidak bisa dihindari sebagai dampak dari proses ini adalah terjadinya migrasi dan urbanisasi. Para pendatang ini kemudian tinggal secara permanen di kota. Hal ini

31 J.H.A. Logemann, The Characteristic of urban Centres

in the East, dalam S. Hofstra, Eastern and Western World. (The

(23)

23 mengakibatkan kepadatan penduduk kota yang memerlukan lahan bagi tempat tinggal mereka. Ini mengakibatkan pertumbuhan kota Banjarmasin yang ramai sebagai salah satu lokasi transaksi niaga di Kalimantan Selatan. Ini menjadi dasar utama bagi perkembangan kota pelabuhan sebagai pusat aktivitas ekonomi dan permukiman permanen.

Bertolak dari analisis Logemann, Banjarmasin memenuhi persyaratan bagi proses pertumbuhannya. Dengan dibukanya pelabuhan dan jalan darat yang menghubungkan antar wilayah yang satu dengan yang lain di Kalimantan Selatan dengan mengandalkan pelabuhan Banjarmasin. Hal ini menambah daya tarik bagi penduduk Kalimantan Selatan untuk memanfaatkan transportasi jalur darat selain jalur sungai sebagai sarana pengangkutan produk dari pedalaman. Ini mengakibatkan pertumbuhan kota Banjarmasin yang ramai sebagai salah satu lokasi transaksi di Kalimantan Selatan. Dalam perkembangannya, Banjarmasin menjadi pintu gerbang pertama bagi pengangkutan produk impor yang tiba di pelabuhan Banjarmasin untuk dikirim ke Jawa maupun luar negeri.

Adapun Burgess menunjukkan bahwa persebaran kelompok heterogen dalam kota tidak berlangsung secara liar. Kalau dilihat fakta dari zaman kolonial, ruang kota Banjarmasin ada pengelompokan-pengelompokan berdasarkan ras, keagamaan

(24)

24 ataupun pekerjaan. Dua yang pertama dapat saja berdampingan sehingga merupakan suatu natural area.32 Natural area dibentuk

oleh keadaan alami berdasarkan penggunaan tanah dan berdasarkan tipe penduduknya.

Pusat-pusat urban yang muncul melalui proses praktek-praktek irigasi33 yang diciptakan oleh kelompok-kelompok

masyarakat disebut sebagai urban „primer‟ karena mengikuti suatu proses ekologis. Sedangkan pusat urban „skunder‟ dibangun melalui perencanaan oleh karena pertumbuhan dalam bidang perdagangan dan perniagaan. Perdagangan dan perniagaan itu memerlukan infrastruktur penunjang yang baik.

F. Metode Penelitian dan Kajian Sumber

Penelitian sejarah bertumpu pada sumber data. Sumber data yang digunakan sebagai informasi utama adalah data-data yang merupakan peninggalan masa lalu karena memuat penjelasan tentang aktivitas manusia sesuai dengan tema penelitian. Sumber menjadi sangat penting sehingga penelusurannya (heuristik) dijadikan sebagai tahap pertama dari metode penelitian sejarah. Tanpa sumber data ini, tidak mungkin

32 S. Menno dan Mustamin Alwi, “Antropologi Perkotaan”,

(Jakarta: Rajawali Pers, 1992), hlm. 7.

(25)

25 suatu penelitian sejarah dilakukan. Secara ringkas rencana penelitian ini terwujud melalui tiga tahapan penelitian yaitu pengumpulan sumber, interpretasi dan penulisan. Pengumpulan sumber ini akan dilakukan di beberapa tempat. Khusus arsip dilakukan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta maupun di Banjarmasin yaitu di Museum Lambung Mangkurat, yang banyak menyimpan koleksi foto-foto, dokumen, buku-buku tentang sejarah Banjar dan laporan para Residen dan lain-lain. Ada tiga sumber yang menjadi bahan utama isi dari penelitian ini, arsip, laporan, dan surat kabar. Keseluruhan sumber ini terbit pada masa pemerintahan kolonial. Sumber arsip diperlukan untuk mengungkap kegiatan pemerintahan di Banjarmasin khusus berkenaan dengan surat menyurat dan keputusan-keputusan.

Banyak hal yang tidak memberikan kesan yang baik ditemui penulis dalam proses penelitian, sebagai salah satu contoh ketika baru memulai pencarian buku-buku yang relevan untuk penulisan tesis di perpustakaan nasional yang hanya tinggal sampulnya saja dan satu hal yang dari dulu menjadi kendala adalah proses administrasi ketika di ANRI, belum lagi bahasa sumber menjadi hambatan dalam penelitian.

Dalam penelitian ini, sumber primer yang ditelusuri adalah arsip yang ada di ANRI, untuk penelitian sejarah kota Banjarmasin, menggunakan data leksikografi. Leksikografi adalah

(26)

26 sumber arsip yang diterbitkan secara resmi yang berisi peraturan terutama terdiri atas kumpulan peraturan yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang atau pemerintah pusat. Di antaranya adalah Regeeringsalmanak (Almanak pemerintah, yang terdiri atas dua jilid: jilid pertama berisi katalog bagi petunjuk peraturan dan jilid kedua berisi daftar nama para pejabat di seluruh Hindia Belanda), Staatsblad van Nederlandsch Indie (Lembaran Negara Hindia Belanda) dan lain-lain.

Arsip terbitan resmi pemerintah kolonial Belanda yang berisi laporan dari lembaga pemerintah. Di antaranya adalah

Kolonial Verslag atau Laporan Kolonial, yang merupakan pidato

pertanggungjawaban Menteri Koloni atas semua jajahan Belanda di dunia di depan sidang umum tahunan parlemen Belanda. Arsip ini berisi informasi tentang peristiwa yang terjadi selama setahun di tanah jajahan Belanda dalam berbagai bidang termasuk transportasi, agraria, politik, perdagangan, perekonomian, militer, pembangunan infrastruktur dan tenaga kerja. Kolonial Verslag

terbit dari tahun 1849-1930. Pada tahun 1931, Kolonial Verslag

diganti menjadi Indische Verslag terbit hingga tahun 1942.

Apa yang ada di arsip memang tidak banyak memuat informasi yang berhubungan dengan kegiatan di luar sektor formal atau lebih khususnya pada sektor pemerintahan dan birokrasi. Majalah dan koran yang banyak memuat respon masyarakat

(27)

27 terhadap kebijakan dan tindakan yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda juga bisa ditelusuri. Data-data diperoleh dari laporan yang sudah dibukukan dan diterbitkan diperoleh dari perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Daerah Yogyakarta, Perpustakaan Museum Sonobudoyo, Pusat Studi Kependudukan dan Kawasan maupun perpustakaan lain yang masih menyimpan koleksi sezaman.

Setelah melakukan penelusuran data arsip, penelitian ini juga akan menggunakan data-data terbitan sezaman. Yang dimaksud di sini adalah sumber-sumber informasi yang dimuat dalam koran-koran yang terbit pada masa tema penelitian. Seperti halnya sumber leksikografi, sumber koran ini menjadi koleksi perpustakaan Nasional di Jakarta. Koran-koran yang digunakan adalah koran terbitan sekitar Kalimantan Selatan khususnya Banjarmasin. Koran-koran itu seperti Suara Borneo, Pewarta Borneo, Sinar Borneo, Pengharapan, Bataviaasch nieuwsblad dan lain-lain yang sezaman. Untuk informasi pelengkap maupun pembanding lainnya, penelitian ini menggunakan buku-buku pendukung sebagai sumber sekunder. Buku-buku ini dipilih dengan prioritas pada kajian teori tentang perkotaan atau kehidupan sosial-ekonomi kota.

Sumber lisan dalam sejarah kota untuk periode yang masih tidak terlalu kuno sebenarnya masih memungkinkan.

(28)

28 Setidaknya sumber lisan dapat membantu mengisi kekosongan data tertulis yang mungkin akan ditemui dalam penelitian lapangan. Sekalipun antara peneliti sejarah kota dengan obyek kajian terpisah oleh waktu yang cukup lama, perlu dilakukan studi lapangan untuk membangun sebuah historical mindedness.

Langkah ini merupakan keharusan bagi penelitian sosiologi, namun belum menjadi sebuah keharusan bagi sejarawan.

G. Sistematika Penulisan

Berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan dalam permasalahan penelitian, penulisan penelitian ini akan menjadi lima bagian. Bab I dijelaskan mengenai latar belakang masalah yang dikaji dalam penelitian ini. Dalam bab ini memuat permasalahan dan ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori dan pendekatan konseptual, metode penelitian dan kajian sumber, serta sistematika penulisan.

Bab II Banjarmasin, sebagai kota seribu sungai membahas tentang bentang alam yang menunjang Banjarmasin menjadi pusat kota pemerintahan dan ekonomi. Dijelaskan pula soal penduduk dan stratifikasi sosial, orientasi kehidupan masyarakat kota. Dalam uraian, seluruh aspek digeneralisasi secara terstruktur sehingga penjelasan yang berkaitan dengan kota Banjarmasin dijelaskan secara mendalam.

(29)

29 Bab III menjelaskan tentang penguatan kekuasaan kolonial dan perubahan orientasi ruang, penataan administrasi pemerintahan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pengaruh kekuasaan dan kebudayaan Belanda ada melalui proses yang panjang akan dijelaskan pada bab ini. Perubahan sosial ekonomi masyarakat kota Banjarmasin oleh hadirnya sistem administrasi yang modern memberikan orientasi yang berbeda dari sebelumnya. Perubahan itu mempengaruhi masyarakat yang berada di kampung-kampung dekat bantaran sungai ikut mendorong terjadinya proses pengkotaan yang modern dan terkontrol.

Bab IV membahas mengenai pembangunan infrastruktur kota Banjarmasin yang menunjukkan suatu tatanan peradaban barat berdampak pada perubahan kehidupan masyarakat kota. Bagaimana reaksi masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur kota yang dilakukan pemerintah kolonial versus keinginan masyarakat kota membangkitkan kejayaan masa lalu sebagai daerah yang maju dalam perdagangannya, akan dijabarkan di bab berikut ini.

Bab V adalah kesimpulan, merupakan hasil yang bisa penulis simpulkan dari berbagai ulasan dan analisis serta temuan-temuan di lapangan. Kesimpulan bukan hanya sekedar jawaban dari pertanyaan, tapi juga kemampuan penulis dalam

(30)

30 menyimpulkan dari hasil penelitian sebagai pengalaman dan temuan yang ada, sehingga bisa jadi kesimpulan adalah jawaban dari temuan tapi juga bisa bagian dari analisis di atas fakta-fakta yang hadir dalam kajian penelitian.

Referensi

Dokumen terkait