PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK
INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI ELEMEN PASIF MELALUI
GROUP INVESTIGATION
PADA SISWA KELAS X TIT-3 SEMESTER I
TAHUN 2016/2017 SMK N 3 BOYOLANGU TULUNGAGUNG
Oleh: Sariyem
SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung
Abstrak. Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mendapatkan gambaran obyektif tentang peningkatan prestasi belajar kompetensi keahlian teknik instalasi tenaga listrikmateri ele-men pasif melalui melalui group investigation pada siswa kelas X TIT-3SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung Semester I Tahun 2016/2017. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas X TIT-3 SMK Negeri TIT-3 Boyolangu Tulungagung. Jumlah subyek penelitian sebanyak TIT-37 siswa semester I tahun 2016/2017. Alasan peneliti melakukan penelitian di Kelas X TIT-3 karena siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran elemen pasif. Hal ini diketahui dari nilai rata rata siswa tersebut masih banyak yang dibawah KKM. Diperolah gambaran obyektif tentang peningkatan prestasi belajar siswa pada siswa Kelas X TIT-3 SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik yaitu guru membagi siswa dalam 7 kelompok. Guru menggunakan fasilitas internet sekolah untuk sebagai media pembelajaran. Siswa diberi kesem-patan untuk mencari informasi dengan melakukan investigasi tentang materi yang dibahas dengan menggunakan internet. Hasil investigasi ditulis dalam sebuah rangkuman untuk dipresentasikan. Pada siklus II, guru meminta siswa untuk memabgi materi menjadi sub materi, sehingga semua siswa dapat bertanggung jawab terhadap mateir yang dibahas. Pemberian reward berupa bintang prestasi mampu membangkitkan motivasi siswa. Prestasi belajar yang meningkat dari setiap si-klusnya dapat diketahui bahwa nilai rata-rata pada pra siklus 67, 30 dengan persentase ketuntasan belajar 43, 24%, meningkat pada siklus I menjadi 82, 43 dengan persentase ketuntasan belajar siswa 78, 38 %meningkat pada siklus II menjadi 93, 24 persentase ketuntasan sebesar 100%.
Kata Kunci: Group Investigation, Elemen Pasif
Hakekat pendidikan merupakan wadah pencetak insan bangsa yang produktif dan berwawasan kebangsaan. Pilar utama ke-suksesean sebuah pendidikan terletak pada profesionalisme guru. Guru merupakan pilar utama dalam pembelajaran. Seorang guru harus mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga terciptakondisi belajar yang optimal. Hal ini berdampak tewujudnya tujuan pembelajaran. Pengatur-an berkaitPengatur-an dengPengatur-an penyampaiPengatur-an pesPengatur-an pengajaran atau dapat pula berkaitan dengan penyediaan kondisi belajar.
Terciptanya kondisipembelajaran se-cara optimal, maka proses belajar
berlang-sung secara optimal pula. Tetapi bila tidak dapat disediakan secara optimal, tentu saja akan menimbulkan gangguan terhadap bela-jar mengabela-jar. Gangguan dapat bersifat se-mentara sehingga perlu dikembalikan lagi ke dalam iklim belajar yang serasi (kemam-puan mendiskusikan), akan tetapi gangguan dapat bisa pula bersifat cukup serius dan terus-menerus sehingga guru dituntut untuk dapat mengelola proses pembelajaran dengan baik.
Melihat paradigma pembelajaran seka-rang ini menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran atau student center. Dengan demikian pembelajaran modern menghen-daki siswa untuk aktif dan tidak pasif. Siswa
yang aktif tidak hanya sekedar duduk mendengarkan dan mencatat keterangan dari guru, akan tetapi siswa terlibat aktif secara langsung dalam proses belajar mengajar.
Sekolah menengah kejuruan (SMK) merupakan pendidikan yangmempersiapkan siswa untuk dapat bekerja dalam bidang ter-tentu (UUNO. 20/2003). Berbagai usaha sekolah dalam mempersiapkan siswa agar bisabekerja sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki diantaranya, memberikan be-kal kompetensi yang sesuai dengan bidang kejuruan masing-masing.
Teknik ketenaga listrikan merupakan salah satu jurusan dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dipersiapkan untuk dapat bekerja dan berwirausaha dalam per-baikan kerusakan ketenaga listrikan (Orien-tasi tujuan SMK, 2008). Kompetensi yang diperoleh siswa harus sesuai dengan kriteria atau benar-benar menjadi tenaga ahli yang siap bekerja pada sebuah industri, maka keahlian yang yang diberikan disalurkan lewat proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran kegiatanyang dilakuan adalah kegiatan belajar mengajar. Proses pembela-jaran merupakan proses yang sangat penting danberpengaruh di bidang pendidikan. Da-lam proses pembelajaran siswamenyerap ilmu serta menyalurkan ilmunya kepada orang lain. Ada empatkomponen yang harus dipenuhi dalam proses pembelajaran. Kom-ponen-komponentersebut adalah tujuan, ba-han, metode dan media serta penilaian (Nana Sudjana, 2008: 30). Keempat kompo-nen tersebut saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Berdasarkan pengamatan yang dil-akukan, model pembelajaran yang diterap-kan diSMKN 3 Boyolangu Tulungagung, khususnya kompetensi keahlian teknik in-stalasi tenaga listrikmasih didominasi
me-laluimetode ceramah (konvensional). Guru sebagai subyek utama dalam proses pem-belajaran. Peserta didik belum banyak yang terlibat secara dialogis dan kerja kelompok. Tidak heran jika pemahaman dan prestasi belajar siswa belum terlalu menggembi-rakan. Olehkarena itu usaha yang tepat un-tuk mengajarkan kompetensi keahlian terse-but agar peserta didik dapatdengan mudah memahami dan menguasainya antar lain dengan menggunakan model belajar group investigation.
Dengandemikian, motivasi peserta didik untuk mempelajari dan menguasai ma-teri pembelajaranyang diberikan oleh guru diharapkan dapat dicapai. Strategi pembela-jaran kooperatif berpusat padapeserta didik, yang dilaksanakan dengan cara berdiskusi dan memberikan kesimpulanterhadap materi yang didiskusikan. Peserta didik akan dapat beriteraksi denganteman dalam kelompok diskusinya.
Berdasarkan identifikasi dan ruang lingkup permasalahan di atas, dalam pene-litian ini yang menjadi rumusan masalah adalah: pertama, bagaimanakah tanggapan peserta didikterhadap penerapan strategi pembelajaran kooperatif pada mata diklat instalasi listrik penerangan dengan meng-gunakan media interaktif terinovasi; kedua, seberapa besarpencapaian kompetensi hasil belajar peserta didik pada mata diklat in-stalasi listrik penerangandengan mengguna-kan media pembelajaran interaktif terinovasi melalui pembelajaran kooperatif. Guna mendapatkan pemecahan permasalahan se-bagaimana telah dikemukakan diatas, di-ajukan beberapa landasan teori atau bahan kajian pustaka yang relevan. Pertama, pen-didikan kecakapan hidup adalah penpen-didikan yang memberikan kecakapan personal, ke-cakapan sosial, keke-cakapan intelektual dan
kecakapan vokasional untuk bekerja atau usahamandiri. Dengan demikian, dapat di-katakan bahwa tujuan mata diklat yang ter-tera padakurikulum dapat dirumuskan dalam bentuk kemampuan dasar atau kompetensi dasar. Berdasar kurikulum, guru dapat me-nyelenggarakan pembelajaran berbasis kom-petensi ataupendidikan berbasis komkom-petensi (UU Sisdiknas, 2003). Kedua, metode me-ngajar yangditerapkan seorang peme-ngajar sa-ngat tergantung dari kebiasaan yang dikem-bangkanberdasarkan pengalaman dan tujuan tertentu.
Metode pembelajaran tidak terlepas dengan adanya cara yang direncanakan agartercapai efisiensi dalam mencapai suatu tujuan. Menurut Winarno Surakhmad (1986), metodemerupakan cara yang sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan disegala lapangan kehidupanuntuk mencari efisiensi agar mencapai suatu keberhasilan. Dengan demikian metodemerupakan suatu prosedur untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien.
Ada beberapa cara atau metode yang sering digunakan oleh seorang guru dalam penyampaian materi pembelajaran di kelas, di antaranya adalah dengan ceramah, kerja kelompok, diskusi dan tanya jawab. Me-nurut Johnson dan Johnson (1991), dika-takan bahwa siswa yang belajar secara bekerjasama dalam suatu kelompok akan dapat belajar dengan lebih baik dan berupa-ya meningkatkan prestasi dalam kelompok-nya. Dalam hal ini, pembelajaran kooperati-fmerupakan suatu pendekatan pembelajaran yang melibatkan sekumpulan kelompok siswa. Melalui pendekatan kooperatif siswa dalam kerja kelompok dapat mencapai satupemahaman yang sama. Dalam pem-belajaran koopererif siswa akan melak-sanakan aktivitas: saling bergantung satu
sama lain secara positif, saling berinteraksi, ada keterbukaan, terjadikerjasama yang pos-itif. Melalui pendekatan kooperatif siswa dalam kerja kelompok dapatmencapai satu pemahaman yang sama.
Group Investigationn merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan ak-tivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misal-nya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ket-erampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk me-numbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.
Dalam metode group investigation terdapat tiga konsep utama, yaitu: penelitian atau enquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group, (Udin S. Winaputra, 2001:75). Penelitian di sini adalah proses dinamika siswa memberikan respon ter-hadap masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Seda-ngkan dinamika kelompok menunjukkan su-asana yang menggambarkan sekelompok s-aling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar peng-alaman melaui proses saling beragumentasi.
Para guru yang menggunakan metode GI umumnya membagi kelas menjadi
be-berapa kelompok yang beranggotakan 5 sampai 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen, (Trianto, 2007:59). Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kese-nangan berteman atau kesamaan minat ter-hadap suatu topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang telah dipilih, kemudian me-nyiapkan dan mempresentasikan laporannya di depan kelas.
METODE PENELITIAN
Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian tinda-kan kelas digunatinda-kan untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan.
Penelitian tindakan kelas ini meng-gunakan model dari Kemmis & Taggart. Model Kemmis & Taggart pada hakekatnya berupa perangkat-perangkat atau unatain-utauan dengan satu perangkat dari empat komponen yaitu: perencanaan, tindakan, pe-ngnamatan dan refleksi. Keempat komponen yang berupa untaian tersebut dipandang se-bagai satu siklus. Berikut ini dikemukakan bentuk designya (Kemmis & Mc. Taggart), 1990:14).
Dalam penelitian ini masalah yang akan dibahas adalah rendahnya prestasi belajar siswa Kelas X TIT-3 SMKN Bo-yolangu Tulungagung, terhadap Belajar Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik Materi Elemen Pasif. Ada-pun penyebab timbulnya masalah tersebut adalah: (1) Siswa enggan untuk bertan-ya/mengemukakan pendapat; (2) Nilai dibawah KKM.
Untuk menunjang pemecahan masalah dalam penelitian ini peneliti bersama mitra guru merencanakan/membuat kelengkapan dalam penelitian sebagai berikut: (1) Mem-buat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan pendekatan
Group investigation; (2) Membuat lembar observasi untuk mengetahui kondisi belajar mengajar di kelas. Lembar observasi yang digunakan adalah observasi terstruktur dan supervisi; (3) Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka optimalisasi kreativitas siswa, yaitu berupa Lembar Kerja Siswa (LKS); (4) Membuat alat evaluasi un-tuk mencatat dan menganalisa peningkatan kualitas hasil belajar, tes dilaksanakan tiap akhir siklus; (5) Dokumentasi.
Gambar 1 Desain Penelitian Tindakan Kelas (Sumber: Sukaryana, 2002: 32) Refleksi Pelaksanaan Observasi Siklus II Perencanaan II dst Refleksi Pelaksanaan Observasi Siklus I Identifikasi Ma-salah Perencanaan I Hasil Refleksi
Untuk mengetahui lebih jelas tindakan yang akan dilaksanakan, berikut disam-paikan deskripsi, skenario dan prosedur tin-dakan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: (1) engidentifikasi topik dan membagi siswa ke dalam kelompok; (2) Merencana-kan tugas; (3) Membuat penyelidiMerencana-kan; (4) Mempersiapkan tugas akhir; (5) Setiap ke-lompok mempersiapkan tugas akhir yang akan dipresentasikan di depan kelas; (6) Mempresentasikan tugas akhir; (7) Evaluasi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas X TIT-3 SMK Negeri 3 Bo-yolangu Tulungagung. Jumlah subyek pene-litian sebanyak 37 siswa semester I tahun 2016/2017. Alasan peneliti melakukan pe-nelitian diKelas X TIT-3 karena siswa men-galami kesulitan dalam pembelajaran ele-men pasif. Hal ini diketahui dari nilai rata rata siswa tersebut masih banyak yang dibawah KKM.
Dalam penelitian tindakan kelas ini, instrument yang digunakan adalah instru-ment tes. Skor hasil tes siswa dalam mengerjakan soal-soal yang meliputi tes pa-da tiap akhir siklus (siklus I pa-dan siklus II). Hasil dari tes tersebut akan digunakan untuk melihat peningkatan pemahaman dan pen-capaian hasil belajar siswa.
Teknik Pengumpulan Data, yaitu menggunakan tes dan observasi. Untuk me-nganalisis tingkat keberhasilan atau persen-tase keberhasilan siswa setelah proses bela-jar mengabela-jar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.
Untuk menilai ulangan atau tes for-matif peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di ke-las tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
N X XDengan: X = Nilai rata-rata
Σ X = Jumlah semua nilai siswa Σ N = Jumlah siswa
Untuk ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:
% 100 . . . x Siswa belajar tuntas yang Siswa P
HASIL DAN PEMBAHASAN Pra Siklus
Pada tahap ini peneliti bersama ko-laboratorpenelitian memberikan pertanyaan apresiasi untuk mengetahui sejauh mana pe-ngetahuan siswa terhadap Kompetensi Ke-ahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrikmateri “Elemen Pasif” di kelas. Setelah itu peneliti melakukan kegiatan pembelajaran. Selama proses pengamatan siswa kurang merespon guru sehingga hanya terjadi komunikasi satu arah, dan siswa terlihat bosan selama proses pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh guru hanya melakukan ceramah dalam menjelas-kan materi dan memberimenjelas-kan penugasan. Siklus I
Planning (perencanaan)
Persiapan yang perlu dilakukan sebe-lum pelaksanaan tindakan ini adalah: (1) Menyusun rencana pelaksanaan pembelaja-ran sesuai dengan model belajar group in-vestgation; (2) Membuat format penilaian; (3) Membuat format pengamatan aktivitas siswa.
Action (pelaksanaan)
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dalam 2 pertemuan dengan tiga tahap yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Berikut ini peneliti akan
mendikripsi-kan proses pembelaajaran elemen pasif dengan menggunakan group investigtion:
Pertemuan pertama tanggal 14 Sep-tember 2016, pada kegiatan pendahuluan, guru mempersilahkan ketua kelas memper-siapkan kelas dan memimpin Do’a. Dilan-jutkan dengan presensi siswa. Guru me-nyampaikan tujuan dan kompetensi yang harus dicapai tentang siswa tentang nilai re-sistansi, simbol resistor, bagaimana cara menentukan nilai dari resistor tetap, standart resistor.
Pada kegiatan inti guru meminta siswa secara kelompok untuk mencari informasi tentang nilai resistansi, simbol resistor, bagaimana cara menentukan nilai dari resis-tor tetap, dan standart resisresis-tor melalui inter-net. Guru meminta siswa untuk membuka jaringan internet dengan menggunakan fasil-iltas dari sekolah. Pada tahap ini guru ber-keliling pada semua kelompok untuk mela-kukan observasi terhadap aktivitas siswa. Guru mengingatkan siswa untuk menuliskan hasil investigasinya tentang nilai resistansi, simbol resistor, bagaimana cara menentukan nilai dari resistor tetap, dan standart resistor dalam sebuah rangkuman. Setelah siswa selesai melakukan investigasi, guru meminta siswa secara acak untuk mempresentasikan hasil investigasinya di depan kelas, se-dangkan siswa yang lain memberikan tang-gapan. Pada saat presentasi guru berusaha memotivasi siswa untuk memberikan tang-gapan. Guru mengucapkan “Ayo anak SMK, bukan malu tapi maju” yang direspon dengan senyuman oleh siswa. Hal inim dil-akukan oleh guru untuk memecah ketegan-gan pada diri siswa. Setelah kegiatan pre-sentasi, guru memberikan penguatan.
Pada kegiatan penutup, guru membim-bing siswa membuat kesimpulan. Guru
me-nutup pembelajaran dengan doa bersama yang dipimpin oleh ketua kelas.
Pertemuan kedua tanggal 21 Septem-ber 2016, pada kegiatan pendahuluan, guru mempersilahkan ketua kelas mempersiapkan kelas dan memimpin Do’a. Dilanjutkan dengan presensi siswa. Guru menyampaikan tujuan dan kompetensi yang harus dicapai tentang hukum ohm, menghitung rangkaian pengganti pada resistor, rumus pembagi arus dan pembagi tegangan, KCL dan KVL.
Pada kegiatan inti guru meminta siswa secara kelompok untuk mencari informasi tentang hukum ohm, menghitung rangkaian pengganti pada resistor, rumus pembagi arus dan pembagi tegangan, KCL dan KVL me-lalui internet. Guru meminta siswa untuk membuka jaringan internet dengan meng-gunakan fasililtas dari sekolah. Pada tahap ini guru berkeliling pada semua kelompok untuk melakukan observasi terhadap aktivi-tas siswa. Guru mengingatkan siswa untuk menuliskan hasil investigasinya tentang hukum ohm, menghitung rangkaian peng-ganti pada resistor, rumus pembagi arus dan pembagi tegangan, KCL dan KVL dalam sebuah rangkuman. Setelah siswa selesai melakukan investigasi, guru meminta siswa secara acak untuk mempresentasikan hasil investigasinya di depan kelas, sedangkan siswa yang lain memberikan tanggapan. Pa-da saat presentasi guru berusaha memotivasi siswa untuk memberikan tanggapan. Guru mengucapkan “SMK eya eya” yang dire-spon dengan “eya saya bisa” oleh siswa. Hal ini dilakukan oleh guru untuk memecah ketegangan pada diri siswa. Setelah kegiatan presentasi, guru memberikan penguatan.
Pada kegiatan penutup, guru mem-bimbing siswa membuat kesimpulan. Guru memberikan informasi kepada siswa tentang uji kompetensi pada pertemuan berikutnya.
Guru menutup pembelajaran dengan doa bersama yang dipimpin oleh ketua kelas.
Pertemuan ketiga, tanggal 28 Oktober 2016. Pada kegiatan pendahuluan, guru mempersilahkan ketua kelas mempersiapkan kelas dan memimpin Do’a. Dilanjutkan de-ngan presensi siswa. Guru menyampaikan tujuan dan kompetensi yang harus dicapai tentang uji kompetensi tentang nilai re-sistansi, simbol resistor, bagaimana cara menentukan nilai dari resistor tetap, standart resistor, tentang hukum ohm, menghitung rangkaian pengganti pada resistor, rumus pembagi arus dan pembagi tegangan, KCL dan KVL.
Pada kegiatan inti, guru memberikan lembar uji kompetensi tentang nilai resistan-si, simbol resistor, bagaimana cara menen-tukan nilai dari resistor tetap, standart resis-tor, tentang hukum ohm, menghitung rang-kaian pengganti pada resistor, rumus pem-bagi arus dan pempem-bagi tegangan, KCL dan KVL. Siswa diminta untuk mengerjakan uji kompetensi secara mandiri. Setelah siswa selesai mengerjakan uji kompetensi, guru mengkonfirmasi pekerjaan siswa.
Pada kegiatan penutup, guru membim-bing siswa membuat kesimpulan. Guru me-nutup pembelajaran dengan doa bersama yang dipimpin oleh ketua kelas.
Observation (pengamatan)
Pengamatan dilakukan oleh peneliti untuk memantau aktivitas siswa dalam me-lakukan investigasi dengan menggunakan internet, diskusi kelompok dan presentasi. Indicator aktivitas siswa adalah tanggung jawab, kedisiplinan, kesantunan, dan tang-gung jawab siswa. Pada siklus I aktivitas siswa adalah 75, 00%. Artinya siswa sudah baik dalam melakukan aktivitas pembelaja-ran.
Reflection (refleksi)
Dari hasil proses pembelajaran pada siklus I dapat direfleksikan sebagai berikut:
Tabel 1 Prestasi belajar Siswa Siklus I
No Nilai Frekuensi Siklus I N x F Persentase Ket
1 100 5 500 13. 51 T 2 90 7 630 18. 92 T 3 80 17 1360 45. 95 T 4 70 8 560 21. 62 T Jumlah 37 3050 Rata-rata 82. 43
Dari Tabel 1 dapat direfleksikan bah-wa nilai rata-rata sisbah-wa pada siklus I adalah 82, 43 dengan persentase ketuntasan belajar siswa 78, 38%. Belum tercapainya ketuntsan belajar siswa secara klasikal ini disebabkan oleh siswa belum terbiasa bekerjasama da-lam mencari informasi melalui internet, siswa masih malu-malu dalam memberikan tanggapan. Pemberian motivasi guru belu mampu memotivasi siswa untuk aktif dalam kegiatan diskusi, untuk itu maka peneltian akan dilanjutkan pada siklus berikutnya. Siklus II
Planning (perencanaan)
Perencanaan tindkan pada siklus II adalah sebagai berikut: (a) Mempersiapkan perangkat pembelajaran termasuk RPP dan media yang lain; (b) Memperbaiki teknik motivasi guru; (c) Pemberian reward. Action (pelaksanaan)
Pertemuan pertama tanggal 5 Oktober 2016, pada kegiatan pendahuluan, guru mempersilahkan ketua kelas mempersiapkan kelas dan memimpin Do’a. Dilanjutkan dengan presensi siswa. Guru menyampaikan tujuan dan kompetensi yang harus dicapai siswa tentang macam-macam induktor, sim-bol induktor, cara menghitung induktansi, dan rangkaian induktor.
Pada kegiatan inti guru meminta siswa secara kelompok untuk mencari informasi tentang macam-macam induktor, simbol in-duktor, cara menghitung induktansi, dan rangkaian induktormelalui internet. Guru meminta siswa untuk membuka jaringan internet dengan menggunakan fasililtas dari sekolah. Hanya saja guru meminta siswa untuk membagi materi menjadi sub materi, sehingga semua anggota mendapatkan tugas yang sama. Pada tahap ini guru berkeliling pada semua kelompok untuk melakukan ob-servasi terhadap aktivitas siswa. Guru meng-ingatkan siswa untuk menuliskan hasil vestigasinya tentang macam-macam in-duktor, simbol inin-duktor, cara menghitung induktansi, dan rangkaian induktordalam sebuah rangkuman. Setelah siswa selesai melakukan investigasi, guru meminta siswa secara acak untuk mempresentasikan hasil investigasinya di depan kelas, sedangkan siswa yang lain memberikan tanggapan. Pa-da saat presentasi guru berusaha memotivasi siswa untuk memberikan tanggapan. Yang membedakan pada siklus sebelumnya guru memberikan reward berupa bintang prestasi. Setelah kegiatan presentasi, guru mem-berikan penguatan.
Pada kegiatan penutup, guru mem-bimbing siswa membuat kesimpulan. Guru menutup pembelajaran dengan doa bersama yang dipimpin oleh ketua kelas.
Pertemuan kedua tanggal 12 Oktober 2016, pada kegiatan pendahuluan, guru mempersilahkan ketua kelas mempersiapkan kelas dan memimpin Do’a. Dilanjutkan de-ngan presensi siswa. Guru menyampaikan tujuan dan kompetensi yang harus dicapai tentang macam-macam kapasitor, simbol kapasitor, cara menghitung kapasitansi, dan rangkaian, kapasitor.
Pada kegiatan inti guru meminta siswa secara kelompok untuk mencari informasi tentang macam-macam kapasitor, simbol kapasitor, cara menghitung kapasitansi, dan rangkaian, kapasitormelalui internet. Guru meminta siswa untuk membuka jaringan internet dengan menggunakan fasililtas dari sekolah. Pada tahap ini guru berkeliling pa-da semua kelompok untuk melakukan ob-servasi terhadap aktivitas siswa. Guru meng-ingatkan siswa untuk menuliskan hasil in-vestigasinya tentang macam-macam kapasi-tor, simbol kapasikapasi-tor, cara menghitung ka-pasitansi, dan rangkaian, kapasitordalam se-buah rangkuman. Setelah siswa selesai me-lakukan investigasi, guru meminta siswa secara acak untuk mempresentasikan hasil investigasinya di depan kelas, sedangkan siswa yang lain memberikan tanggapan. Pa-da saat presentasi guru berusaha memotivasi siswa untuk memberikan tanggapan. Guru kembali memberikan reward bintang pres-tasi kepada siswa. Setelah kegiatan presen-tasi, guru memberikan penguatan.
Pada kegiatan penutup, guru mem-bimbing siswa membuat kesimpulan. Guru memberikan informasi kepada siswa tentang uji kompetensi pada pertemuan berikutnya. Guru menutup pembelajaran dengan doa bersama yang dipimpin oleh ketua kelas.
Pertemuan ketiga, tanggal 19 Oktober 2016. Pada kegiatan pendahuluan, guru mempersilahkan ketua kelas mempersiapkan kelas dan memimpin Do’a. Dilanjutkan dengan presensi siswa. Guru menyampaikan tujuan dan kompetensi yang harus dicapai tentang uji kompetensi macam-macam ka-pasitor, simbol kaka-pasitor, cara menghitung kapasitansi, dan rangkaiankapasitor.
Pada kegiatan inti, guru memberikan lembar uji kompetensi tentang macam-macam kapasitor, simbol kapasitor, cara
menghitung kapasitansi, dan rangkaiankapa-sitor. Siswa diminta untuk mengerjakan uji kompetensi secara mandiri. Setelah siswa selesai mengerjakan uji kompetensi, guru mengkonfirmasi pekerjaan siswa.
Pada kegiatan penutup, guru mem-bimbing siswa membuat kesimpulan. Guru menutup pembelajaran dengan doa bersama yang dipimpin oleh ketua kelas.
Observing (pengamatan)
Pengamatan dilakukan oleh peneliti untuk memantau aktivitas siswa dalam me-lakukan investigasi dengan menggunakan internet, diskusi kelompok dan presentasi. Indikator aktivitas siswa adalah tanggung ja-wab, kedisiplinan, kesantunan, dan tanggu-ng jawab siswa. Pada siklus I aktivitas siswa adalah81, 25%. Artinya siswa sudah baik dalam melakukan aktivitas pembelajaran. Reflection (refleksi)
Dengan berjalannya aktivtas pembela-jaran pada siklus II sesuai dengan rencana maka prestasi belajar siswa dapat berkem-bang sesuai dengan tujuan penelitian yang diharapkan. Prestasi belajar siswa pada si-klus II adalah sebagai berikut:
Tabel 2 Prestasi belajar Siswa Siklus II
No Nilai Frekuensi Siklus II N x F Persentase Ket
1 100 16 1600 43. 24 T 2 90 17 1530 45. 95 T 3 80 4 320 10. 81 T Jumlah 37 3450 100. 00 Rata-rata 93. 24
Dari Tabel 2 dapat direfleksikan bah-wa nilai rata-ratasisbah-wa pada siklus II adalah 93, 24 dengan persentase ketuntasan belajar siswa adalah 100%. Dengan tercapainya ke-tuntasan belajar secara klasikal maka penelitian ini berkahir pada siklus II.
Penerapan goroup investigation pada Peningkatan Prestasi Belajar Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik
Dalam menerapkan group investiga-tion guru membagi siswa dalam 7 kelom-pok. Guru menggunakan fasilitas internet sekolah untuk sebagai media pembelajaran. Siswa diberi kesempatan untuk mencari in-formasi dengan melakukan investigasi ten-tang materi yang dibahas dengan menggu-nakan internet. Hasil investigasi ditulis da-lam sebuah rangkuman untuk dipresentasi-kan. Pada siklus II, guru meminta siswa un-tuk memabgi materi menjadi sub materi, sheingga semua siswa dapat bertanggung jawab terhadap mateir yang dibahas. Pem-berian reward berupa bintang prestasi mam-pu membangkitkan motivasi siswa.
Prestasi belajar
Tabel 3 Perkembangan Prestasi Belajar Siswa Indikator Pra Siklus Siklus I Siklus II
Nilai rata-rata 67. 30 82. 43 93. 24 Ketuntasan 43. 24 78. 38 100. 00
Dari hasil Tabel 3 menunjukkan pres-tasi belajar yang meningkat dari setiap si-klusnya dapat diketahui bahwa nilai rata-ra-ta pada siswa Kelas X TIT-3 SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung Kompetensi Keah-lian Teknik Instalasi Tenaga Listrik pada pra siklus 67, 30 dengan persentase ketuntasan belajar 43, 24%, meningkat pada siklus I menjadi 82, 43dengan persentase ketuntasan belajar siswa 78, 38 %meningkat pada sik-lus II menjadi 93, 24 persentase ketuntasan sebesar 100%. Hal ini menandakan keber-hasilan dalam meningkatkan prestasi belajar pada siswa Kelas X TIT-3 SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung Kompetensi Keah-lian Teknik Instalasi Tenaga Listrik, dengan hasil penelitian yang selalu meningkat setiap siklusnya berarti bahwa penelitian telah ber-hasil. Untuk dapat lebih jelasnya dalam
pen-ingkatan prestasi belajar ini peneliti sajikan dalam bentuk Gambar 1.
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa dapat diperolah gambaran obyektif tentang pen-ingkatan prestasi belajar siswa pada siswa Kelas X TIT-3 SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik yaitu guru membagi siswa dalam 7 kelompok. Guru mengguna-kan fasilitas internet sekolah untuk sebagai media pembelajaran. Siswa diberi kesem-patan untuk mencari informasi dengan melakukan investigasi tentang materi yang dibahas dengan menggunakan internet. Hasil investigasi ditulis dalam sebuah rang-kuman untuk dipresentasikan. Pada siklus II, guru meminta siswa untuk memabgi materi menjadi sub materi, sehingga semua siswa
dapat bertanggung jawab terhadap mateir yang dibahas. Pemberian reward berupa bin-tang prestasi mampu membangkitkan moti-vasi siswa. Prestasi belajar yang meningkat dari setiap siklusnya dapat diketahui bahwa nilai rata-rata pada pra siklus 67, 30 dengan persentase ketuntasan belajar 43, 24%, meningkat pada siklus I menjadi 82, 43 dengan persentase ketuntasan belajar siswa 78, 38 %meningkat pada siklus II menjadi 93, 24 persentase ketuntasan sebesar 100%. Saran
Siswa hendkanya dapat menggunakan sumber belajar dari berbagi sumber belajar. Guru hendaknya menggunakan metode bervariasi dalam penyampaian materi pada setiap PBM, sebab dengan metode yang bervariasi siswa tidak akan jenuh dan bahkan menyenangi materi yang disam-paikan. Sekolah hendaknya memberikan sarana dan prasarana belajar yang memadai.
Gambar 1 Peningkatan Prestasi BelajarSiswa 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00
Pra Siklus SIKLUS I SIKLUS II 67.30 82.43 93.24 43.24 78.38 100.00 Nilai rata-rata Ketuntasan
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. 2003. Undang-undang RI No. 20 tahun 2003. tentang sistem pendidikan nasional.
Johnson DW & Johnson, R, T (1991) Learn-ing Together and Alone. Allin and Ba-con: Massa Chussetts
Sudjana, Nana. 2008. Penilaian Hasil Pros-es Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Udin S. Winaputra. 2001. Model Pembela-jaran Inovatif. Jakarta: Universitas Terbuka. Cet. Ke-1.
Winarno Surakhmad. 1986. Pengantar In-teraksi Mengajar Belajar Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran. Ban-dung: Tarsito.