PENYELIDIKAN BATUBARA
KALORI TINGGI UNTUK COOKING COAL
DAERAH TERING, KABUPATEN KUTAI BARAT
PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Eko Budi Cahyono
Kelompok Program Penelitian Energi Fosil
S A R I
Penyelidikan batubara di daerah Tering dan sekitarya, Kabupaten Kutai Barat,
Provinsi Kalimantan Timur dilakukan dalam rangka pencarian potensi bahan galian
khususnya batubara yang diduga sebagai ‘Cooking Coal‘ di wilayah Tering dan
sekitarnya. Pelaksanaan kegiatan penyelidikan batubara dilakukan dengan
mengumpulkan data sekunder berupa pencarian data dan informasi mengenai daerah
yang bersangkutan, baik dari informasi dari pemerintah setempat, data pendukung
geologis, penyelidik terdahulu dan segala informasi yang menunjang. Sedangkan
penyelidikan di lapangan sebagai bentuk kegiatan primer dengan cara pencarian
singkapan batubara dan mendapatkan informasi dari pemerintah serta penduduk
setempat.
Secara umum geologi daerah peyelidikan termasuk ke dalam Cekungan Kutai,
dimana cekungan tersebut dibatasi oleh Tinggian Kucing, sebelah utara oleh Tinggian
Mangkalihat, sebelah selatan oleh Cekungan Barito dan sebelah timur oleh Selat
Makasar Secara stratigrafi formasi pembawa batubara di daerah peyelidikan adalah
Formasi Warukin, Pamaluan, Montalat, Ujohbilang, dan Haloq, dan Formasi Haloq
merupakan formasi batubara yang mempunyai nilai kalori tinggi.
Hasil penyelidikan di lapangan didapatkan loasi singkapan batubara sebanyak
19 buah yang tersebar pada Formasi Haloq dan Pamaluan arah umum strike
singkapan batubara adalah timurlaut – baratdaya, dengan kemiringan singkapan
antara 8
O- 25
O. Ketebalan singkapan berkisar antara 0,10 – 1,1 m. Analisa dari data
laboratorium didapatkan nilai kalori batubara sebesar 6.750 – 7.452 kal/gr (adb),
dimana batubara merupakan katagori jenis kualitas tinggi.
Total perhitungan sumber daya batubara di daerah penyelidikan didapatkan
sebesar 12.444.265,65 ton, dari jumlah 6 seam lapisan batubara hasil korelasi dengan
rincian 4 buah seam pada Formasi Haloq dan 2 seam pada Formasi Pamaluan.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam rangka usaha peningkatan
tersedianya data dan informasi
mengenai potensi batubara kalori tinggi
di Indonesia, maka pemerintah mulai
melakukan penyelidikan batubara dan
mencari potensi serta sumberdaya
energi. Hal ini juga terkait dengan
penyusunan neraca sumber daya
batubara dan gambut serta peningkatan
investasi di bidang eksplorasi batubara.
Maksud Dan Tujuan
penyebarannya. Pengamatan dilakukan
dengan cara mencari dan mengamati
singkapan batubara yang ada di dalam
lapisan pembawa batubara. Kemudian
dari singkapan yang telah ditemukan
diharapkan dapat memberikan gambaran
mengenai luas, sebaran dan
sumberdaya batubara di daerah
tersebut.
Tujuannya adalah untuk
mengetahui batubara kalori tinggi yang
dapat digunakan sebagai batubara
cooking coal
yang banyak dibutuhkan
oleh industri. Selain itu, penyelidikan
batubara kalori tinggi ini dapat
menambah data potensi dan sumber
daya batubara pada di Pusat Sumber
Daya Geologi, dalam rangka penyediaan
informasi bagi pemerintah setempat dan
menarik minat investor dalam
pengembangan pertambangan batubara,
terutama
cooking coal
.
Lokasi Daerah Penyelidikan
Lokasi penyelidikan terletak
sekitar 200 km ke arah baratlaut dari
Kota Samarinda, ibukota Provinsi
Kalimantan Timur. Dimana dari ibukota
provinsi ditempuh melalui jalan darat/air
menuju Melak/Sendawar, ibukota
Kabupaten Kutai Barat, dan selanjutnya
ditempuh dengan jalan darat dan air
menuju daerah Tering (Gambar 1).
Secara administratif lokasi
penyelidikan berada di wilayah
Kecamatan Tering, yang merupakan
kecamatan pemekaran dari Kecamatan
Longiram. Dan secara geografis wilayah
penyelidikan berada pada koordinat 0
o05’ LU – 0
o10’ LS dan 115
o20’ – 115
o35’
Keadaan Lingkungan
Karakteristik iklim Kabupaten
Kutai Barat termasuk dalam kategori
iklim tropika humida, dengan rata-rata
curah hujan tertinggi terdapat pada bulan
April dan terendah di bulan Agustus, dan
tidak menunjukkan adanya bulan kering,
atau sepanjang bulan dalam satu tahun
selalu terdapat sekurang-kurangnya
tujuh hari hujan. Namun demikian dalam
tahun-tahun terakhir ini, keadaan iklim di
Kabupaten Kutai Barat terkadang tidak
menentu. Pada bulan-bulan yang
seharusnya turun hujan dalam
kenyataannya tidak hujan, atau
sebaliknya pada bulan yang seharusnya
kemarau bahkan terjadi hujan dengan
dengan musim yang lebih panjang.
Temperatur minimum umumnya terjadi
pada bulan Oktober sampai dengan
Januari, sedangkan temperatur
maksimum terjadi antara bulan Juli
sampai dengan bulan Agustus.
Daerah beriklim seperti ini tidak
mempunyai perbedaan yang jelas antara
musim hujan dan musim kemarau. Pada
musim angin barat hujan turun sekitar
sekitar bulan Agustus sampai bulan
Maret, sedangkan pada musim timur
hujan relatif kurang, hal ini terjadi pada
sekitar bulan April sampai bulan
September.
berproduksi, dan sekarang memulai
tahap reklamasai dan reboisasi di sekitar
kawasan pertambangan.
Peralatan Yang Digunakan
Kompas geologi (Brunton)
Penyelidik terdahulu belum ada
yang secara khusus meneliti batubara
kalori tinggi di daerah ini, namun para
penyelidik terdahulu pernah melakukan
penyelidikan batubara di sekitar daerah
penyelidikan yang dapat dijadikan
referensi untuk kepentingan pekerjaan,
diantaranya adalah :
Beberapa penyelidik terdahulu di
sekitar wilayah penyelidikan ini antara
lain adalah sebagai berikut :
1) Sumaatmadja,
Eddy
dkk.,
Inventarisasi Batubara Daerah Long
Daliq, Kabupaten Kutai Barat,
Provinsi Kalimantan Timur
, Tahun
2006. Pusat Sumber Daya Geologi
2) Sumaatmadja,
Eddy
dkk.,
Inventarisasi Batubara Bersistem
Daerah Longiram, Kabupaten Kutai
Barat, Provinsi Kalimantan Timur
,
Tahun 2007. Pusat Sumber Daya
Geologi
Penyelidik terdahulu umumnya
menyebutkan bahwa Formasi Haloq dan
Pamaluan merupakan lapisan pembawa
batubara, dan penyebaran lapisan
sangat luas di sekitar wilayah
penyelidikan.
GEOLOGI UMUM
Daerah Tering dan sekitarnya
termasuk kedalam bagian dari Cekungan
Kutai dan terletak dalam 4 lembar Peta
Geologi skala 1:250.000, yang terdiri
atas Peta Geologi Lembar Long
Pahangai (H.Z. Abidin, P.E. Pieters dan
D. Sudana, 1993), Peta Geologi Lembar
Muaratewe (S. Supriatna, A. Sudrajat,
dan H.A. Abidin, 1995), sebagian Peta
Geologi Lembar Muaraancalong (S.
Atmawinata, N. Ratman dan Baharuddin,
1995) dan sebagian Peta Geologi
Lembar Longiram (N. Suwarna dan T.
Apandi, 1994) ; (Gambar 2). Cekungan
ini sebelah barat dibatasi oleh Tinggian
Kucing, sebelah utara oleh Tinggian
Mangkalihat, sebelah selatan oleh
Cekungan Barito dan sebelah timur oleh
Selat Makasar.
Cekungan Kutai diinterpretasikan
terjadi karena adanya gerakan
pemisahan Kalimantan dan Sulawesi
yang mungkin dimulai pada Akhir Kapur
hingga Awal Paleogen.
Sedimen-sedimen Tersier yang di endapkan di
Cekungan Kutai dibagian timur sangat
tebal dengan fasies pengendapan yang
berbeda-beda, tetapi secara keseluruhan
lapisan sedimen memperlihatkan siklus
genang laut – susut laut.
Secara litologi hampir semua pengisi
Cekungan Kutai mengandung batupasir,
batulempung, batulanau dengan sisipan
batubara yang diendapkan dalam
lingkungan neritik – paralik (litoral, delta
sampai laut terbuka) dan dipengaruhi
oleh susut serta genang laut.
Secara umum stratigrafi regional
wilayah penyelidikan dimulai dari urutan
muda ke tua, terdiri atas Aluvial (Qa),
Formasi Batuan gunung Api Metualang,
(TmQm), Formasi Balikpapan (Tmbp),
Formasi Merogoh (Tmm), Formasi Ojoh
Bilang (Tou), Formasi Haloq (Teh) dan
Batuan Gunungapi Nyaan (Ten) ;
(Gambar 3). Adapun ciri litologi secara
umum masing-masing formasi tersebut,
dapat diuraikan sebagai berikut :
Aluvial (Qa)
, terdiri dari kerakal, kirikil,
pasir, lanau, dan lumpur, di endapkan di
sungai dan rawa.
Formasi Batuan gunung Api Metualang
(TmQm),
litologinya terdiri atas lava,
breksi lava, tufa, aglomerat, breksi lahar,
bersusun basalt-andesit, diorit, dolerit
dan andesit portir ; umurnya Pliosen –
Plistosen.
Formasi Warukin (Tmw)
, litologinya tediri
atas batupasir kuarsa berbutir sedang,
terdapat sisipan batulempung karbonan,
batulanau karbonan, batupasir berbutir
kasar-sedang, sebagian konglomeratan;
umurnya Miosen Tengah – Miosen Akhir.
Formasi Balikpapan (Tmbp)
, litologinya
terdiri dari batupasir kuarsa dan
batulempung bersisipan batulanau,
serpih batugamping dan lignit; umurnya
Awal Miosen Tengah diendapkan dalam
lingkungan delta litoral – laut dangkal.
Formasi Merogoh (Tmm),
litologinya
terdiri atas lava diabas, tuf breksi,
gunungapi dan aglomerat. ; umurnya
Miosen Awal – Miosen Tengah.
Formasi Pamaluan (Tomp)
, litologinya
terdiri dari batupasir dengan sisipan
batulempung, serpih, napal, batulanau,
tuf, batubara, oksida besi, lensa
batugamping dan batulempung
bersisipkan batupasir, umurnya Oligosen
Akhir - Miosen Awal.
Formasi Montalat (Ttmm)
, litologinya
terdiri atas batupasir kuarsa berbutir
halus-sedang, mengnadung lapisan tipis
karbonan, rombakan batubara vitrinit dan
muskovit, bersisipkan batulempung
karbonan berwarna kelabu dan
batulanau menyerpih berwarna kelabu
tua. Batupasir kuarsa berstuktur
silangsliur, sebagian gampingan,
bersisipkan batulanau/menyerpih dan
batubara, terdapat fosil foram kecil ;
umurnya Oligosen.
Formasi Ujohbilang (Tou)
, litologinya
terdiri dari batulumpur, batupasir,
sebagian gampingan dan karbonan,
setempat tufaan; umurnya Eosen Akhir –
Oligosen Awal yang diendapkan dalam
lingkungan laut terbuka sampai paparan
luar.
Formasi Tuyu (Toty),
litologinya terdiri
atas napal, dan sisipan batugamping,
lingkungan pengendapan laut terbuka;
umurnya Oligosen.
Formasi Haloq (Teh)
, litologinya terdiri
dari batupasir, sedikit konglomerat dan
batulumpur dan lapisan batubara,
umurnya Eosen Akhir yang diendapkan
dalam lingkungan laut dangkal/laguna.
Dari susunan stratigrafi di atas,
Formasi Balikpapan, Pamaluan,
Montalat, Ujohbilang, dan Haloq,
merupakan formasi pembawa batubara
“
Coal Bearing Formation“
, namun dari
sumber data sekunder/referensi yang
didapatkan, Formasi Haloq merupakan
salah satu formasi yang mempunyai
indikasi adanya endapan batubara yang
mempunyai nilai kalori tinggi. Oleh sebab
itu penyelidikan di konsentrasikan pada
daerah Formasi Haloq ini, walaupun
tidak menutup kemungkinan jika formasi
yang lain juga terdapat
endapan/singkapan batubara yang
mempunyai indikasi kalori tinggi.
Struktur geologi yang
berkembang di daerah Tering dan
sekitarnya berupa perlipatan, sesar turun
dan sesar naik berarah
timurlaut-baratdaya.
Kegiatan tektonik diduga sudah
terjadi sejak Jaman Jura yang
menyebabkan bercampurnya batuan
yang terdiri dari ultrabasa, rijang
radiolaria dan sekis. Batuan ultrabasa
dan malihan dalam lembar ini diterobos
oleh Granit Batanglai berumur Kapur
Awal. Selama Kapur Awal juga terjadi
pengendapan batuan karbonat yang
diikuti pengendapan batuan sedimen
“flysch” Formasi Pitap batuan gunungapi
Formasi Haruyan.
Selama Paleosen Awal, terjadi
penerobosan batuan granodiorit yang
diikuti oleh pengangkatan, erosi dan
pendataran, kegiatan berlangsung
sampai Eosen sehingga terbentuk
Formasi Tanjung.
Pada Oligosen terjadi genang
laut yang menghasilkan batugamping
Formasi Berai yang dibarengi oleh
pengendapan batuan klastika Formasi
Pamaluan.
Selama Miosen Tengah terjadi
susut laut yang menghasilkan Formasi
Warukin dan Pulubalang. Pada Miosen
Akhir pengendapan terhenti dengan
terjadinya pengangkatan yang
membentuk Tinggian Meratus dan
cekungan-cekungan Barito, Kutai dan
Pasir.
KEGIATAN PENYELIDIKAN
Penyelidikan Lapangan
Penyelidikan lapangan dilakukan
dengan menggunakan 2 tahapan, yaitu
dengan cara pengumpulan data
sekunder dan pengumpulan data primer,
dimana masing-masing kegiatan ini
dilakukan berdasarkan waktu dan tempat
yang berbeda. Hal ini dilakukan oleh
karena data primer tanpa dilakukan atau
didukung dengan data sekunder tidak
akan menghasilkan hasil yang
diinginkan, oleh karena keterbatasan
data dan intensitas indikasi pendekatan
pelaksanaan di lapangan cukup kurang
memadai. Berikut ini uraian pendekatan
yang dilaksanakan.
Pengumpulan Data Sekunder
Pekerjaan ini dilakukan tidak berada
di lapangan, yang terdiri atas pekerjaan
analisa kegiatan, pengolahan data dan
pekerjaan laboratorium, yang terdiri
antara lain :
1) Melakukan/mencari informasi dari
data sekunder terhadap informasi
data batubara khususnya yang
mempunyai kalori tinggi
2) Studi literatur dari laporan terdahulu
mengenai potensi sumber daya
batubara di sekitar daerah
penyelidikan
3) Korelasi singkapan batubara
4) Membuat peta geologi, sebaran
batubara dan penampang geologi
5) Menghitung sumber daya batubara
6) Analisa kimia dan petografi dari
conto batubara lapangan
Pengumpulan Data Primer
Kegiatan di lakukan lebih banyak
saat di lapangan dengan rincian umum
sebagai berikut :
1) Mencari lokasi singkapan batubara
berdasarkan informasi yang
didapatkan di lapangan
2) Melakukan pengamatan, pengukuran
kududukan dan tebal lapisan
batubara, melakukan deskripsi
batuan dan singkapan batubara,
pengeplotkan titik singkapan
batubara pada peta dasar/peta
topografi sekala 1 : 50.000
3) Pengambilan conto batubara
4) Pengamatan litologi pada formasi
batuan lainnya
5) Dokumentasi singkapan
Dari data hasil lapangan diperoleh 19
lokasi singkapan batubara dan nomor
lokasi serta letak geografis titik
singkapan dapat dilihat pada Tabel 1.
Secara umum kenampakan batubara
kompak, hitam-kecoklatan, kilap kusam
dan ringan, sebagian ada lapisan
pengotor lempung, pyrit dan silicified.
Pengambilan sampel dilakukan dari
hasil menyusuri anak-anak sungai dan
informasi penduduk sekitar, sehingga
singkapan didapatkan dan diukur arah
jurus dan kemiringannya, serta posisi
singkapan scara koordinat dan di plot
pada peta kerja. Rata-rata ketebalan
singkapan batubara berkisar antara
0,1-1,1 meter.
Analisis Laboratorium
Untuk mengetahui kualitas
batubara di daerah penyelidikan,
dilakukan analisa kimia (proximat/ultimat)
di laboratorum. Conto diambil dari
singkapan yang ditemukan, dan
dianalisa secara umum kualitas batubara
di laboratroum kimia, agar kualitas
batubara dapat diketahui.
Analisa conto kualitas batubara di
laboratorium untuk mengetahui nilai
kalori, kandungan sulfur, kandungan abu
dan lain sebagainya. Conto batubara
yang dianalisis sebanyak 12 buah,
dengan kode TRG-01, TRG-02, TRG-03,
TRG-04, TRG-05, TRG-09, TRG-10,
TRG-11, 01, 03, 08 DAN
TR-09. Selanjutnya hasil analisa
laboratorium berupa sertifikat analisa
dapat dilihat pada Tabel 2.
Data hasil analisa laboratorium
kimia didapatkan kisaran nilai kalori
batubara antara 6.750 – 7.452 kal/gr
(adb). Nilai kalori ini menunjukkan bahwa
rank batubara sudah berada pada
katagori
‘high rank coal’
. Kandungan abu
berkisar antara 1,09 – 8,77% dan sulfur
total 0,93 – 4,71%. Total moisture (ar)
cukup tinggi berkisar dari 6,62 – 13,53%,
demikian juga kandungan zat terbang,
berkisar antara 38,93 – 44,58%.
Pengolahan Data
Titik singkapan batubara yang
telah ditemukan dikorelasikan dengan
titik singkapan lainnya dalam peta
geologi untuk mendapatkan sebaran
lapisan batubara. Setelah mengetahui
hasil korelasi lapisan batubara, di dalam
peta geologi tersebut dibuat
model/penampang dari peta geologi
yang mewakili semua formasi batuan,
terutama formasi pembawa batubara
yang didalamnya terdapat singkapan
batubara yang telah ditemukan di
lapangan. Sehingga nampak gambaran
secara vertikal urutan litologi yang
mewakili daerah penyelidikan. Hasil
korelasi dari lapisan batubara tersebut
dipergunakan sebagai unsur penentu
sejauh mana penyebaran lateral lapisan
batubara tersebut terbentuk dan
diendapkan. Nilai dari penyebaran lateral
ini sebagai salah satu parameter dalam
penghitungan sumber daya lapisan
batubara.
HASIL PENYELIDIKAN
Geologi Daerah Penyelidikan
Satuan morfologi daerah
penyelidikan hampir seluruhnya
merupakan perbukitan
terjal-bergelombang dan sebagian kecil
morfologi dataran/aluvial. Bentuk
morfologi perbukitan terjal tersebar
tersebut hampir menempati sekitar 85 %
dari seluruh luas daerah penyelidikan,
dan batuan dibawah satuan morfologi ini
umumnya terdiri dari susunan sedimen
dan beberapa batuan gunungapi. 15 %
wilayah lainnya merupakan dataran
aluvial disepanjang Sungai Mahakam, di
bagian timur laut daerah penyelidikan.
Aliran sungai umumnya
mempunyai pola dendritik. Sungai
terbesar adalah Sungai Mahakam, yang
merupakan sungai utama dan
memanjang dari hulu sungai di
Kabupaten Kutai Barat hingga mencapai
hilir di daerah Samarinda, Provinsi
Kalimantan Timur. Dengan lebar
rata-rata sungai hingga mencapai 100 meter.
Anak Sungai Mahakam didaerah
penyelidikan umumnya merupakan
sungai kecil. Namun beberapa sungai
sedang juga ada dengan lebar sekitar 25
m, seperti Sungai Kelian, Sungai Mujan
dan Sungai Leban. Kemudian ada
beberapa sungai kecil lainnya seperti
Sungai Babi, Sungai Bentayang, Sungai
Jurai, Sungai Dunsip, Sungai Banyan,
Sungai Baliu, Sungai litak dan anak
sungai kecil lainnya. Sungai-sungai
tersebut di atas mengalir dan bermuara
ke Sungai Mahakam.
Berdasarkan letak dan posisi
secara geografis di daerah penyelidikan
(Gambar 2), tatanan stratigrafi terdiri
atas Aluvial (Qa), Batuan gunung Api
Metualang, (TmQm), Batuan Terobosan
Sintang (Toms), Formasi Warukin
(Tmw), Formasi Pamaluan (Tomp),
Fomasi Montalat (Tomm). Formasi Ojoh
Bilang (Tou), Formasi Tuyu (Toty),
Formasi Haloq (Teh) dan Batuan
Gunungapi Nyaan (Ten).
Dari susunan stratigrafi di atas,
Formasi Warukin, Pamaluan, Montalat,
Ujohbilang, dan Haloq, merupakan
formasi pembawa batubara
“ Coal
Bearing Formation “.
Namun
berdasarkan hasil pengamatan
singkapan batubara di lapangan,
singkapan batubara pada Formasi Haloq
mempunyai kenampakan secara
megaskopis merupakan batubara kalori
tinggi.
Pamaluan. Sesar tersebut mempunyai
arah baratdaya – timurlaut.
Dengan adanya sesar tersebut di
atas, dapat berpengaruh terhadap
pembentukan batuan atau formasi di
sekitarnya. Demikian pula dapat
berpengaruh terhadap pembentukan
tingkat kematangan lapisan batubara
pada formasi pembawa batubara. Ciri-ciri
adanya sesar di lapangan sulit
ditemukan, namun berdasarkan adanya
variasi arah jurus dan kemiringan lapisan
di lapangan yang berebda dapat
dijadikan tolaok ukur adanya perubahan
arah lapisan yang disebabkan oleh
adanya pengaruh struktur tersebut di
atas.
Potensi Endapan Batubara
Berdasarkan dari data singkapan
batubara di lapangan, secara
megaskopis batubara tersebar pada
Formasi Haloq dan Pamaluan. Pada
Formasi Haloq secara umum
kenampakan batubara mempunyai
ciri-ciri berwarna hitam, terang, kompak,
konkoidal dan ringan. Ini menunjukkan
bahwa secara megaskopis singkapan
batubara pada Formasi Haloq
mempunyai indikasi kalori yang tinggi.
Berbeda dengan singkapan batubara
yang berada pada Formasi Pamaluan,
dengan ciri-ciri umum batubara berwarna
hitam –sedikit kecoklatan, agak kusam,
sedikit lebih berat, setempat ada lapisan
tipis karbonan dan lempung, beberapa
tempat tersebar mineral pyrit. Pada
beberapa tempat terdapat juga lempung
karbonan.
Tidak ada tanda-tanda
kemenerusan batubara secara lateral
memanjang lebih dari 5 km di lapangan.
Hal ini dimungkinkan lapisan batubara
tersebut bersifat spotting, dan
pengendapan batubara yang tidak luas.
Lapisan batubara di Formasi Haloq
cukup prospek dan ketebalan batubara
sekitar 0.5 – 1.1 meter.
Hasil korelasi lapisan batubara
dari singkapan batubara di lapangan dan
kaidah geologi setempat didapatkan
sejumlah 6 seam (Gambar 3).
Sedangkan dari hasil penghitungan
sumberdaya batubara, didapatkan total
sumberdaya batubara sebesar
12.444.265,65 ton, dengan batasan
sumberdaya mencapai kedalaman 50
meter. Dan panjang lapisan searah strike
dibatasi sejauh 2000 meter.
Prospek Pemanfaatan dan
Pengembangan Batubara
Prospek batubara dengan kalori
tinggi tersebar di tengah daerah
penyelidikan, dan umumnya di sekitar
Sungai Babi dan Sungai Mujan. Pada
daerah sekitar inilah penyebaran relatif
memanjang dan menerus, dengan
ketebalan batubara rata-rata di atas 1
meter. Bila dilihat dari kondisi geologi
dapat dimungkinkan adanya pola struktur
sesar yang sangat berpengaruh
terhadap pembentukan coalifikasi yang
berdampak pada tingkat kematangan
batubara, sehingga daerah tersebut
menghasilkan batubara yang mempunyai
nilai rank yang lebih tinggi dari daerah
sekitar lainnya di sekitar wilayah
penyelidikan.
Dari beberapa sumber literatur
yang ada (Coolin R. Ward, 1984),
batubara jenis Coke/Kokas adalah
batubara yang mempunyai kemampuan
untuk meleleh atau melebur dan
membentuk residu yang koheren
(
coherent residu
) pada saat dipanaskan,
residu tersebut kemudian mengeras
sehingga disebut
cake
. Batubara seperti
ini digunakan dalam pabrik pengolahan
besi dan baja, berfungsi sebagai energi
panas dan sebagai bahan untuk bijih
besi (
iron ore
) yang larut ketika berada
dalam tungku (
blast furnace
). Oleh
karena itu selain disebut kokas oleh R.M.
Bustin (1983) disebut juga sebagai
metallurgical coke
.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kegiatan penyelidikan batubara
di daerah Tering dan sekitarnya
merupakan kegiatan yang bertujuan
untuk mengetahui akan adanya prospek
potensi keberadaaan batubara yang
mempunyai nilai kalori tinggi, dimana
batubara tersebut dapat dijadikan
sebagai
” Cooking Coal ”.
Penyelidikan
batubara ini dapat menambah informasi
terhadap potensi daerah setempat dan
pengembangan wilayah secara umum.
Dari semua uraian yang telah di
sebutkan pada bab sebelumnya, hasil
penyelidkan sampai saat laporan akhir
ini dibuat, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1)
Secara umum geologi daerah
penyelidikan termasuk ke dalam
Cekungan Kutai, dimana morfologi
daerah penyelidikan terdiri atas 85 %
morfologi perbukitan terjal dan
selebihnya adalah morfologi dataran.
2) Startigrafi daerah penyelidikan
secara umum terdiri atas Aluvial,
Batuan gunung Api Metualang,
Batuan Terobosan Sintang, Formasi
Warukin, Formasi Pamaluan,
Formasi Ojoh Bilang, Formasi Tuyu,
Formasi Haloq, Batuan Gunungapi
Nyaan dan Formasi Montalat.
Singkapan batubara tersebar dan
ditemukan pada Formasi Haloq dan
Formasi Pamaluan. Namun indikasi
batubara kalori tinggi terdapat pada
Formasi Haloq.
3) Hasil lapangan mendapakan 19 titik
singkapan batubara dengan
ketebalan seam bervariasi antara 0,5
– 1,1 meter.
4) Dari hasil analisa kimia didapakan
bahwa batubara di daerah
penyelidikan merupakan katagori
batubara kalori tinggi
(high rank)
,
dengan nilai kalori sebesar 6.750 –
7.452 kal/gr (adb) atau rata-rata
kalori 7.242 kal/gr (adb).
5) Menurut H.C. Rance (1975)
volatile
matter
yang diperlukan untuk kokas
sangat bervariasi, untuk batubara
low
volatile
berkisar antara 16 %-21 %
(dmmf), untuk batubara
medium
volatile
berkisar antara 21 %-26 %
(dmmf), dan untuk batubara
high
volatile
berkisar antara 26 % - 31 %
(dmmf), sedangkan menurut Laver &
Laverick (1978) berkisar antara 19 %
- 37 % (adb).
6) Dari hasil analisa, baik dari hasil
kandungan nilai kalori, total moisture,
volatil-matter, ash-content, sulfur dan
FSI, maka batubara Daerah Tering
kurang sesuai untuk dijadikan Kokas
bila ditinjau dari hasil analisa
kandungan sulfur ( >1), dan nilai FSI
(kurang dari 6).
7)
Parameter-parameter lain yang
masih diperlukan untuk kokas tapi
belum dilakukan terhadap batubara
Daerah Tering, diantaranya adalah
Fluidity
,
Dilatation
,
Gray King Coke
dan
Roga Index
.
9) Diharapkan dari data awal ini, dapat
dilakukan studi lanjut mengenai
potensi batubara Daerah Tering
untuk dikembangkan menjadi kokas,
terutama melalui beberapa analisis
seperti disebutkan diatas.
Kemudian saran yang dapat
dikemukakan pada hasil penyelidikan
adalah sebagai berikut :
1) Mengingat kondisi geografis daerah
penyelidikan yang komplek,
diperlukan data dan informasi akan
keberadaan singkapan batubara
yang mempunyai nilai kalori tinggi.
Perlunya kajian yang lebih detil dan
komplek lagi dalam memperoleh
daerah potensi batubara kaori tinggi
dengan sistem zonasi daerah
prospek . Sehingga tercapainya
sasaran pencapaian zona daerah
yang mempunyai batasan batubara
dengan kalori tinggi yang diinginkan.
2) Perlu adanya informasi data dukung
akan keberadaan batubara yang
mempunyai nilai kalori tinggi, baik
informasi data dari pihak PEMDA
terkait dan perusahaaan swasta di
sekitar daerah penyelidikan, serta
dukungan informasi masyarakat lokal
setempat.
DAFTAR PUSTAKA
H.Z. Abidin, P.E. Pieters dan D. Sudana, 1993.
Peta Geologi Lembar Long Pahangai
,
skala 1 : 250.000, Kalimantan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung
Koesoemadinata, R.P., dan Hardjono., 1977.
Kerangka sedimenter endapan batubara
Tersier Indonesia.
Pertemuan Ilmiah Tahunan ke VI, IAGI.
N. Suwarna dan T. Apandi, 1994.
Peta Geologi Lembar Longiram
, skala 1 : 250.000,
Kalimantan, PPPG, Bandung.
Roberson Research ;
Coal Resources of Indonesia
, volume 1 Report, Australia.
S. Atmawinata, N. Ratman dan Baharuddin, 1995.
Peta Geologi Lembar Muara
Ancalong,
skala 1 : 250.000, Kalimantan, Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi, Bandung.
S. Supriatna, A. Sudrajat, dan H.A. Abidin, 1995.
Peta Geologi Lembar Muaratewe,
skala 1 : 250.000, Kalimantan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi,
Bandung.
Sumaatmadja, Eddy dkk.,
Inventarisasi Batubara Daerah Long Daliq, Kabupaten Kutai
Barat, Provinsi Kalimantan Timur
, Tahun 2006. Pusat Sumber Daya Geologi
Sumaatmadja, Eddy dkk.,
Inventarisasi Batubara Bersistem Daerah Longiram,
Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur
, Tahun 2007. Pusat Sumber Daya
Geologi
Lokasi Daerah Penyelidikan
Gambar 1. Peta Lokasi Daerah Tering dan Sekitarnya
Tabel 1. Singkapan Batubara Daerah Penyelidikan
No. Kode Lintang Bujur Strike/
Dip
Tebal
(m) Lokasi
1. TRG-01 00O 02’ 40,3’’ 115O 30’ 12,5’’ 195/13 0,8 S. Dunsip 2. TRG-02 00O 02’ 41,4’’ 115O 30’ 07,0’’ 130/18 0,8 S. Dunsip 3. TRG-03 00O 02’ 35,1’’ 115O 29’ 49,7’’ 350/20 0.7 S. Dunsip 4. TRG-04 00O 02’ 37,2’’ 115O 30’ 00,3’’ 18/25 0,8 Amak S. Dunsip 5. TRG-05 00O 02’ 12,3’’ 115O 30’ 02,0’’ 10/10 0,6 Tebing jalan 6. TRG-08 00O 02’ 16,5’’ 115O 32’ 05,0’’ 192/5 0,6 Tebing jalan 7. TRG-09 00O 05’ 03,4’’ 115O 28’ 42,0’’ 245/17 0,5 S. Ds. Tutung 8. TRG-10 00O 05’ 25,7’’ 115O 28’ 53,5’’ 242/12 0,7 S. Ds. Tutung 9. TRG-11 00O 05’ 25,5’’ 115O 28’ 52,8’’ 243/13 0,8 S. Ds. Tutung 10. CLY-09 00O 08’ 42,2’’ 115O 23’ 46,1’’ 30/14 0,2 Kp. Bilem
11. TRG-66B 00O 03’ 04,4’’ 115O 32’ 23,5’’ 189/25 1,0 Anak S. Babi, Kp. Kelian dalam
Tabel 2. Tabel Analisa Kimia Proksimat Batubara di Daerah Penyelidikan
No. Conto
ANALISA
Kode Conto
Total Moisture
(%)
Volatile Matter
(%)
FC (%)
Abu (%)
Total Sulfur
(%)
Nilai Kalori (kal/gr)
HGI SI
1 TRG-01 6,72 44,58 47,86 3,39 0,96 7314 45 1
2 TRG-02 7,85 43,28 50,14 1,88 0,93 7363 38 1
3 TRG-03 9,38 41,97 50,16 2,63 0,95 7092 36 ½
4 TRG-04 8,58 42,25 50,58 2,47 1,02 7289 41 1
5 TRG-05 8,41 43,66 49,35 2,12 1,03 7300 45 ½
6 TRG-09 12,10 41,42 52,02 1,09 0,61 7273 47 1
7 TRG-10 6,78 42,58 50,88 2,20 1,53 7452 39 1 ½
8 TRG-11 6,62 42,52 50,44 2,76 1,66 7412 40 ½
9 TR-01 11,00 42,76 50,64 1,71 1,26 6977 50 0
10 TR-03 7,31 43,68 49,01 3,00 2,34 7362 45 1
11 TR-08 13,53 38,93 47,94 8,77 4,71 6750 48 1
12 TR-09 7,32 43,61 48,91 3,17 2,17 7324 44 1/2
Tabel 3. Data Kualitas Rata-rata Batubara Yang Terpilih Untuk Kokas (Laver &
Laverick, 1978)
A U S T R A L I A U S A GERMANY
SYDNEY
BASIN
BOWEN
BASIN
Low
volatile
Medium
volatile
High
volatile RUHR
south north (range)
Maceral (mmf) %
Vitrinite % 45 75 45-75 72 72 74 70
Liptinite % 5 0-7 10 10 10 10
Inertinite % 55 20 20-55 18 18 16 20
Rvmax % 1.3 0.8 1.0-1.35 1.7 1.2 1.0 1.3
CSN 5 6 6-8 8 7 7 8
Fluidity (ddm) 200 300 500-3000 20 1000 5000 400
Ash (db) % 10 9 8-9 7 8 7 6
VM (db) % 24 37 23-32 19 28 35 24
S (db) % 0.4 0.6 0.5-0.7 0.7 0.8 0.9 1.0
Note : mmf =Mineral matter free ddm= Dial divisions per minute db= Dry basis