• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS KINERJA LAYANAN MODEL CARTER TERHADAP KEPUTUSAN DAN KEPUASAN BERTRANSAKSI NASABAH DI PT. BPRS BHAKTI SUMEKAR SUMENEP.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "EFEKTIVITAS KINERJA LAYANAN MODEL CARTER TERHADAP KEPUTUSAN DAN KEPUASAN BERTRANSAKSI NASABAH DI PT. BPRS BHAKTI SUMEKAR SUMENEP."

Copied!
163
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS KINERJA LAYANAN MODEL CARTER

TERHADAP KEPUTUSAN DANKEPUASAN

BERTRANSAKSINASABAHDI PT. BPRS BHAKTI SUMEKAR

SUMENEP

SKRIPSI

OLEH :

NUR SUCI ROMADLIYAH

C74212125

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARI’AH

SURABAYA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Judul penelitian ini adalah Efektivitas Kinerja Layanan Model CARTER Terhadap Keputusan dan Pengaruhnya Pada Kepuasan Bertransaksi Nasabah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep. PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep merupakan Bank Syariah terbesar di Kabupaten Sumenep yang merupakan lembaga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ini memiliki 99,99% saham berasal dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep. PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep tergolong Bank Syariah terbesar di Kabupaten Sumenep ditinjau dari jumlah aset,jumlah nasabah dan perluasan jaringan kantor cabang dan kantor kasnya di seluruh Kabupaten Sumenep dan Kabupaten Pamekasan Madura.

Tujuan dari penelitian Efektivitas Kinerja Layanan Model CARTER Terhadap Keputusan dan Pengaruhnya Pada Kepuasan Bertransaksi Nasabah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenepini adalah untuk mengetahui dan menganalisispengaruh langsung kinerja layanan model CARTER secara parsial maupun simultan terhadap keputusan nasabahbertransaksi di PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep serta pengaruh langsung dan tidak langsung kinerja layanan model CARTER secara parsial maupun simultan terhadap kepuasan nasabah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep.Jenis penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan penarikan sampel menggunakan Rumus Slovin dari jumlah populasi sebanyak 279.416 nasabah.Adapunmetode yang digunakan dalam penarikan sampel adalah Purposive Samplingdan Convenience Sampling.Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan studi kepustakaan, observasi, memberikan kuisioner,wawancara, dan dokumentasi.Alatanalisis yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis jalur (Path Analyze).

Analisis Path dalam penelitian ini terbagi kedalam tiga substruktur sesuai dengan rumusan masalah yang ada.Dari hasil penelitian menggunakan Analisis Path diketahui Model CARTER memberikan pengaruh langsung secara simultan terhadap keputusan nasabah bertransaksi sebesar 46,4% dan berpengaruh langsung secara simultan terhadap kepuasan nasabah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep sebesar 43,1%.Dari hasil penelitian ini juga ditemukan pengaruh secara tidak langsung variabel-variabel dimensi CARTER terhadap kepuasan nasabah melalui variabel perantara, yaitu keputusan nasabah bertransaksi secara parsial. Adapun nilai e (eror term), baik � maupun � pada substruktur 1 ataupun substruktur 2 memiliki angka yang cukup tinggi, yaitu diatas 50%, artinya terdapat faktor lain selain variabel eksogen (independen) yang cukup tinggi.

(7)

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TRANSLITERASI ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 11

C. Tujuan Penelitian ... 11

D. Manfaat Penelitian ... 12

E. Sistematika Pembahasan ... 13

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 15

A. Landasan Teori ... 15

1. Standar Kinerja Layanan Perbankan Syariah Model CARTER ... 15

a. Definisi kinerja Layanan ... 15

b. Model-model dimensi layanan ... 20

2. Pembangunan minat atau keputusan nasabah untuk bertransaksi .... 30

3. Konsep Kepuasan Nasabah ... 38

B. Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 40

C. Kerangka Konseptual ... 45

D. Hipotesis ... 47

BAB IIIMETODE PENELITIAN... 52

A. Jenis Penelitian ... 52

(8)

C. Populasi Dan Sampel ... 53

D. Variabel Penelitian ... 55

E. Definisi Operasional... 57

F. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 60

G. Data dan Sumber Data ... 61

H. Teknik Pengumpulan Data ... 63

I. Teknik Analisa Data ... 65

1. Uji Asumsi Klasik ... 65

a. Uji Multikolinieritas ... 65

b. Uji Heteroskedastisitas ... 66

c. Uji Normalitas ... 67

2. Analisis Jalur (Path Analysis) ... 67

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Umum Objek Penelitian ... 71

1. Profil PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep ... 71

a. Sejarah PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep... 71

b. Visi dan Misi ... 72

c. Struktur Organisasi ... 73

d. Jenis-jenis Produk ... 75

2. Gambaran Umum Responden ... 81

B. Analisis Data ... 90

1. Analisis Deskriptif ... 91

2. Hasil uji Validitas dan Reliabilitas ... 103

3. Analisis Kuantitatif ... 107

a. Uji Asumsi Klasik ... 107

1) UjiMultikolinieritas ... 107

2) Uji Heteroskedastisitas ... 109

3) Uji Normalitas ... 111

b. Analisis Jalur (Path Analysis) ... 113

1) Analisis substruktur 1 ... 113

(9)

3) Analisis substruktur 3 ... 119

c. Uji Hipotesis ... 121

1) Uji F ... 121

2) Uji t ... 125

BAB V PEMBAHASAN ... 134

BAB VI PENUTUP ... 147

A. Kesimpulan ... 147

B. Saran ... 148

Daftar Pustaka ... 150

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 : Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu yang relevan ... 44

Tabel 4.1 : Equivalency rate simpanan PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep per Desember 2015... 78

Tabel 4.2 : Karakteristik responden berdasarkan alamat tempat tinggal ... 80

Tabel 4.3 : Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin ... 83

Tabel 4.4 : Karakteristik responden berdasarkan agama ... 83

Tabel 4.5 : Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan ... 84

Tabel 4.6 : Karakteristik responden berdasarkan pendapatan ... 85

Tabel 4.7 : Karakteristik responden berdasarkan usia ... 86

Tabel 4.8 : Karakteristik responden berdasarkan jenis transaksi ... 87

Tabel 4.9 : Karakteristik responden berdasarkan intensitas transaksi... 88

Tabel 4.10 : Karakteristik responden berdasarkan periode menjadi nasabah .... 88

Tabel 4.11 : Karakteristik responden berdasarkan sumber informasi untuk menjadi nasabah PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep ... 89

Tabel 4.12 :Distribusi frekuensi variabel compliance ( ) ... 91

Tabel 4.13 :Distribusi frekuensi variabel Assurance ( ) ... 93

Tabel 4.14 :Distribusi frekuensi variabelReliability ) ... 94

Tabel 4.15 : Distribusi frekuensi variabel Tangible ) ... 95

Tabel 4.16 : Distribusi frekuensi variabel Empathy ( ... 96

Tabel 4.17 : Distribusi frekuensi variabel Responsiveness ) ... 97

Tabel 4.18 :Distribusi frekuensi variabel Keputusan ( ) ... 98

Tabel 4.19 : Distribusi frekuensi variabel Kepuasan ( ) ... 102

Tabel 4.20 : Hasil uji Validitas variabel kualitas layanan model CARTER (X) ... 103

Tabel 4.21 : Hasil uji Validitas variabel Keputusan ( ) ... 104

Tabel 4.22 : Hasil uji Validitas variabel Kepuasan ( ) ... 105

Tabel 4.23 : Hasil uji Reliabilitas variabel kualitas layanan model CARTER (X) ... 106

Tabel 4.24 : Hasil uji Reliabilitas variabel Keputusan ( ) ... 106

(11)

Tabel 4.26 : Hasil uji Multikolinieritas dengan variabel dependen ... 108

Tabel 4.27 : Hasil uji Multikolinieritas dengan variabel dependen ... 108

Tabel 4.28 : Hasil uji Heteroskedastisitas dengan variabel dependen ... 110

Tabel 4.29 : Hasil uji Heteroskedastisitas dengan variabel dependen ... 111

Tabel 4.30 : Hasil uji Normalitas dengan variabel dependen ... 112

Tabel 4.31 : Hasil uji Normalitas dengan variabel dependen ... 112

Tabel 4.32 : Pengaruh langsung kinerja layanan model CARTER terhadap keputusan nasabah secara simultan ... 113

Tabel 4.33 : Pengaruh langsung kinerja layanan model CARTER terhadap keputusan nasabah secara parsial ... 115

Tabel 4.34 : Pengaruh langsung kinerja layanan model CARTER terhadapkepuasan nasabah secara simultan ... 116

Tabel 4.35 : Pengaruh langsung kinerja layanan model CARTER terhadap kepuasan nasabah secara simultan ... 118

Tabel 4.36 : Pengaruh variabel perantara (keputusan nasabah) terhadap variabel endogen (kepuasan nasabah) ... 120

Tabel 4.37 :Annalyse of Variance variabel eksogen terhadap variabel endogen ... 122

Tabel 4.38 :Annalyse of Variance variabel eksogen terhadap variabel endogen ... 124

Tabel 4.39 : Nilai t Hitung variabel eksogen terhadap variabel endogen .... 128

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 : Kerangka Konseptual ... 46

Gambar 3.2 : Model Analisis Jalur ... 70

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bank mempunyai peran yang penting bagi aktivitas perekonomian.

Karena berperan ke arah peningkatan taraf hidup masyarakat. Bank sebagai

lembaga moneter dapat meningkatkan taraf perekonomian negara karena

mampu memberikan fasilitas modal untuk masyarakat dalam melakukan

usaha.

Bank merupakan lembaga perantara keuangan (Financial

Intermediary) sebagai prasarana pendukung yang amat vital untuk menunjang

kelancaran perekonomian.1 Bank pada dasarnya mempunyai fungsi mentransfer dana-dana (Loanable Funds) dari penabung atau unit Surplus

(Lenders) kepada peminjam (Borrowers) atau unit defisit. Dana-dana tersebut

dialokasikan dengan negosiasi antar pemilik dengan pemakai dana di pasar

uang dan pasar modal .

Bank menempati posisi yang strategis dalam bidang keuangan,

karena Bank memiliki kewenangan yang cukup luas dalam mengelola

keuangan. Pengelolaan keuangan yang dilakukan Bank meliputi pengumpulan

dana, penyaluran dana kepada masyarakat, dan juga berwenang menciptakan

uang.

1 Susilo, S.Y dkk, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta : Salemba Empat,

(14)

2

Manfaat lain dari kebijakan pemerintah dalam sistem moneter yang

kewenangannya dimiliki oleh Perbankan tercermin dalam Pasal empat (4)

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang menjelaskan, ”Perbankan

Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam

rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas

nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak. Sehingga aktivitas

perbankan meliputi penciptaan uang, mendukung kelancaran mekanisme

pembayaran, penghimpunan dana simpanan masyarakat, mendukung

kelancaran transaksi internasional, penyimpanan barang-barang berharga, dan

pemberian jasa lainnya (seperti pembayaran listrik, telepon, dan lain-lain).

Bank di Indonesia terbagi atas Bank Konvensional dan Bank

Syariah. Dari kedua Bank tersebut kemudian dibagi lagi kedalam beberapa

bentuk, meliputi Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR), sehingga

muncullah istilah Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat untuk jenis

Bank Konvensional serta Bank Umum Syari’ah dan Bank Pembiayaan

Rakyat Syariah untuk jenis Bank Syariah. Dan keempat Bank tersebut tentu

memiliki persamaan dan perbedaan.

Bank secara umum (konvensional) diartikan sebagai badan usaha

yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan

menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau

bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak

(Undang-undang Nomer 10 Tahun 1998 pasal 1 ayat 2 tentang Perbankan),

(15)

3

Islam dalam operasionalnya. Sehingga Bank Syariah tidak terlepas dari

Al-Qur’an dan As-sunnah sebagai sumber hukum Islam. Menurut UU. No. 10

Tahun 1998 tentang Perbankan, Prinsip Syariah adalah aturan perjanjian

berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan

dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang

dinyatakan sesuai dengan syariah, antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip

bagi hasil (mud{a>rabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal

(musyaraka>h), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan

(mura>bahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni

tanpa pilihan (ija>rah), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan

atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ija>rah wa iqtina>).

Menurut UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan UU No. 7 tahun

1992 tentang Perbankan, juga disebutkan bahwa Bank Syariah adalah Bank

Umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang

dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Dalam

menjalankan aktivitasnya, Bank Syariah menganut prinsip keadilan,

kesederajatan dan ketentraman.2

Lebih lanjut dijelaskan dalam UU No. 21 tahun 2008 bahwa Bank

Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan

Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan

proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.3

2 Muhammad, Bank Syariah, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2005), 78.

(16)

4

Perbedaan yang sangat menonjol antara Bank Konvensional dan

Bank Syariah yang pertama adalah dari segi akad, Semua transaksi yang

dilakukan di bank syariah harus berdasarkan akad yang dibenarkan oleh

Syariah Islam, yaitu berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist serta telah difatwakan

oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), seperti akad Mud}a>rabah (bagi hasil),

Musyaraka>h (perkongsian), Musa>qa>h (kerja sama tani), Ija>rah

(sewa-menyewa), Waka>lah (perwakilan), dan lain sebagainya. Sementara khusus

untuk bank konvensional surat penjanjian dibuat berdasarkan hukum positif

yang berlaku di Indonesia.

Perbedaan kedua adalah dari segi keuntungan. Bank syariah

mengunakan pendekatan bagi hasil atau marjin (bonus) untuk mendapatkan

keuntungan, sementara bank konvensional justru mengunakan konsep biaya

untuk menghitung keuntungan. Sehingga muncullah istilah bunga.

Berdasarkan kerangka falsafah Bank Islam, hal mendasar yang

membedakan antara Bank Islam dan Bank non Islam adalah terletak pada

pengembalian dan pembagian keuntungan yang diberikan oleh nasabah

kepada lembaga keuangan dan atau yang diberikan oleh lembaga keuangan

kepada nasabah. Sehingga terdapat istilah bunga dan bagi hasil.4

Perbedaan ketiga terletak pada aspek pengelolaan dana. Dalam

pengelolaan dananya, Bank Syariah wajib mengetaui secara mendetail motif

nasabah melakukan pembiayaan, digunakan untuk kebutuhan konsumtif

ataukah produktif (modal kerja), sehingga terdapat perbedaan akad dari sisi

(17)

5

pembiayaan, meliputi akad Mud}a>rabah dan Musyaraka>h (untuk pembiayaan

modal kerja), Mura>bahah (untuk pembiayaan barang-barang konsumtif), dan

lain-lain. Selai itu, Bank Syariah juga wajib mengetahui secara mendetail

usaha dari nasabah pembiayaan tersebut, apakah pembiayaan yang

dilakukannya digunakan untuk menjalankan usaha yang halal atau yang

haram (seperti bisnis Khamr atau barang-barang lainnya yang diharamkan

berdasarkan agama Islam, bisnis yang penuh dengan spekulatif dan perjudian

atau Maisir, dan lain-lain). Hal ini berbeda dengan Bank Konvensional yang

menyalurkan kredit tanpa harus mengetahui dari mana atau kemana uang

tersebut disalurkan.

Perbedaan keempat meliputi kewajiban mengelola zakat untuk Bank

Syariah. Zakat yang dikelola oleh Bank Syariah ini nantinya akan disalurkan

pada masyarakat yang tidak mampu, sehingga disini benar-benar terdapat

peran peningkatan taraf hidup masyarakat yang dilakukan oleh Bank Syariah

melalui penyaluran dana zakat dari nasabah yang notabene memiliki

kelebihan dana terhadap masyarakat yang kekurangan dana, lebih-lebih

masyarakat yang tidak mampu.

Perbedaan kelima antara lain struktur organisasi. Di dalam struktur

organisasi Bank Syariah terdapat Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang

bertugas mengawasi segala transaksi yang dilakukan oleh Bank Syariah

tersebut. Dewan Pengawas Syariah (DPS) ini ditunjuk langsung oleh Dewan

(18)

6

Bank Konvensional yang tidak memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS)

dalam struktur organisasinya.

Perbedaan terakhir antara Bank Konvensional dan Bank Syariah

menurut penulis adalah dari segi hubungan antara Bank dengan nasabah.

Bank Syariah cenderung memperlakukan nasabah sebagai mitra bisnis, sebab

terdapat akad-akad atau produk pembiayaan di dalam Bank Syariah yang

berupa perkongsian atau kerjasama usaha seperti Mud}a>rabah dan

Musyaraka>h. Berbeda dengan Bank Konvensional yang hubungannya dengan

nasabah cenderung sebatas debitur dan kreditur saja.

Adapun perbedaan antara Bank Umum dan Bank Perkreditan

Rakyat baik dari jenis Bank Konvensional maupun Bank Syariah adalah dari

wilayah operasionalnya. Bank Umum memiliki wilayah yang lebih luas yakni

mengkhususkan diri untuk melaksanakan kegiatan tertentu atau memberi

perhatian yang lebih besar kepada hal tertentu dari pada Bank Perkreditan

Rakyat (baik Bank Konvensional maupun Bank Syariah), namun secara

umum terutama dari sisi pelayanan dan kinerja antara Bank Umum Syariah

(BUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) sama.

Operasional Perbankan (termasuk Perbankan Syariah) adalah segala

hal atau aktivitas yang dilakukan oleh perbankan dalam menjalankan

bisnisnya, sehingga operasional perbankan tidak hanya menyentuh aspek

produk, permodalan, dan struktur organisasi, namun juga aspek layanan.

Dalam hal ini terdapat perbedaan mendasar tentang kerangka operasional

(19)

7

lembaga keuangan syariah mempunyai falsafah mencari keridhoan Allah

untuk memperoleh kebajikan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, setiap

kegiatan lembaga keuangan yang dikhawatirkan menyimpang dari tuntunan

agama, harus dihindari oleh Bank Syariah atau lembaga Syariah.5 Oleh karenanya Selain menjaga stabilitas moneter, Bank Indonesia selaku Bank

sentral tentu memiliki peran vital untuk menciptakan kinerja lembaga

keuangan yang sehat, salah satunya adalah menjaga kualitas kinerja layanan

di setiap lembaga perbankan.

Kualitas produk dan layanan adalah bagian yang tidak dapat

terpisahkan untuk menarik minat nasabah bertransaksi di Bank Syariah

(secara khusus Bank Pembiayaan Rakyat Syariah) serta untuk mencapai

kepuasan nasabah. Sehingga produk dan layanan adalah dua hal yang harus

diperhatikan oleh Bank Syariah dalam opersionalnya.

Menurut Kotler dalam analisis perilaku konsumen yang menurut

penulis bisa dipersamakan dengan nasabah dalam Perbankan (termasuk Bank

Syariah), keputusan konsumen dalam memilih suatu produk tertentu serta

kepuasan konsumen dicapai dengan beberapa tingkatan proses. Perilaku

konsumen dalam menentukan keputusan (minat) di konstruk oleh beberapa

faktor, yaitu faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi dan faktor psikologi.6

Sedangkan kepuasan (Satisfaction) adalah perasaan senang atau kecewa

seseorang yang timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan

5 Ibid., 53.

6 Philip Kotler, Kevin Lane Keller, Manajemen Pemasaran, (Jakarta : Erlangga, 2009),

(20)

8

produk (atau hasil) terhadap ekspektasi mereka.7 Kualitas kinerja layanan ini nantinya akan mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung

terhadap keputusan dan kepuasan nasabah dalam bertransaksi.

Dari keputusan dan kepuasan, mari membahas mengenai kinerja

layanan yang tentunya berpengaruh terhadap keputusan dan kepuasan

nasabah. Teori yang digunakan dalam standar layanan Perbankan untuk

membentuk minat dan mencapai kepuasan nasabah secara umum adalah

metode SERVQUAL, metode ini dikembangkan oleh Parasuraman yang

menetapkan standar layanan untuk perusahaan jasa termasuk Bank dengan

lima dimensi, antara lain tangible (kenyataan), reliability (keandalan),

responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), dan empathy (empati).

Perbankan Syariah yang memiliki karakteristik khusus berupa

menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dirasa kurang efektif jika hanya

mengandalkan lima dimensi SERVQUAL sebagai standar layanan. Sehingga

perlu adanya modifikasi dalam standar layanan yang diterapkan dalam

lembaga syariah seperti perbankan syariah. Hal ini telah terjawab oleh suatu

model layanan yang dicetuskan oleh Othman dan Owen (2001), yaitu sebuah

model layanan yang lebih ideal diterapkan dalam lembaga-lembaga syariah

seperti perbankan syariah yang disebut dengan model CARTER.

Model CARTER merupakan suatu pengukuran kualitas layanan

perbankan syariah dengan 6 dimensi, antara lain : Complience, Assurance,

Reliability, Tangible, Empathy, dan Responsiveness. Di dalam model

(21)

9

CARTER terdapat dimensi Complience yang merupakan standar pengukuran

pada aspek kepatuhan syariah yang seharusnya menjadi dimensi unggulan

yang pada akhirnya akan membedakan perbankan syariah dan perbankan

konvensional.

Othman dan Owen (2001) dalam penelitiannya mengadopsi model

CARTER dalam menganalisis kualitas layanan jasa pada Bank Syariah yang

ada di Kuwait. Penelitian tersebut dilakukan dengan menyebarkan kuisioner

pada 360 nasabah Bank Syariah di Kuwait. Dalam penelitiannya ditemukan 6

dimensi yang membentuk kepuasan nasabah pada Bank Syariah, yaitu :

complience, assurance, reliability, tangible, empathy, dan responsiveness.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perbankan Syariah saat ini harus

memperbaiki service financial karena kuatnya kompetisi diantara perbankan

yang ada di Kuwait dan cepatnya perubahan teknologi yang semakin maju.

Bank Syariah harus memberikan perhatian yang lebih untuk perubahan

tersebut dan memulai untuk menetapkan strategi agar dapat memberikan

suatu produk yang berkualitas dan pelayanan yang maksimal untuk kepuasan

nasabah.8 Bank Syariah disini mencakup Bank Umum Syariah (BUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) untuk skala Indonesia.

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) yang notabene memiliki

kewenangan lebih kecil dari pada Bank Umum Syariah (BUS) dalam

pengelolaan keuangan negara (aspek moneter) tidak dipungkiri juga

8 Othman, A., Owen, L, Adapting and Measuring Customer Service Quality (SQ) in

(22)

10

mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat. Sehingga

diasumsikan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) telah mampu menarik

minat dan memberikan kepuasan terhadap nasabah atau masyarakat serta

menghadapi persaingan bisnis perbankan.

Perkembangan Bank Pembiayaan Syariah (BPRS) di kabupaten

sumenep cukup signifikan pada akhir dekade ini. Hal ini dibuktikan dengan

pesatnya pertumbuhan PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep yang

ditunjukkan dengan semakin meluasnya kantor cabang dan kantor kas di

beberapa daerah bahkan di luar kabupaten sumenep, serta prestasi PT. BPRS

Bhakti Sumekar Sumenep sebagai BPRS terbaik dan terbesar kedua di

Indonesia pada tahun 2014 lalu.

Selain itu, berkembangnya perbankan-perbankan syariah seperti

Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah dan BNI Syariah cukup membuktikan

bahwa perbankan syariah cukup menarik perhatian masyarakat di kabupaten

Sumenep.

Dari beberapa faktor diatas penulis mencoba meneliti apakah

standar kinerja layanan dengan model CARTER, yang meliputi enam dimensi

antara lain : Complience, Assurance, Reliability, Tangible, Empathy, dan

Responsivness, yang lebih ideal diterapkan dalam perbankan syariah telah

diterima oleh masyarakat sebagai bagian dari bahan pertimbangan untuk

memutuskan bertransaksi di Perbankan Syariah, khususnya di PT. BPRS

Bhakti Sumekar Sumenep dan apakah standar kinerja layanan di PT. BPRS

(23)

11

mampu menciptakan kepuasan bagi nasabah sehingga akselerasi pertumbuhan

perbankan syariah di kabupaten Sumenep tidak sekedar bagian dari tuntutan

persaingan bisnis namun juga mampu menjadi tolak ukur perkembangan

transaksi ekonomi syariah sesuai harapan dan anjuran agama.

B. Rumusan Masalah

Dari beberapa latar belakang diatas, maka rumusan masalah dari penelitian

ini antara lain sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh langsung kinerja layanan model CARTER secara

parsial maupun simultan terhadap keputusan nasabah bertransaksi di PT.

BPRS Bhakti Sumekar Sumenep ?

2. Bagaimana pengaruh langsung kinerja layanan model CARTER secara

parsial maupun simultan terhadap kepuasan nasabah bertransaksi di PT.

BPRS Bhakti Sumekar Sumenep ?

3. Bagaimana pengaruh tidak langsung kinerja layanan model CARTER

secara parsial maupun simultan terhadap kepuasan nasabah bertransaksi

di PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka

(24)

12

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh langsung kinerja layanan

model CARTER secara parsial maupun simultan terhadap keputusan

nasabah bertransaksi di PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh langsung kinerja layanan

model CARTER secara parsial maupun simultan terhadap kepuasan

nasabah bertransaksi di PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep.

3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh tidak langsung kinerja

layanan model CARTER secara parsial maupun simultan terhadap

kepuasan nasabah bertransaksi di PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin diperoleh dari penelitian ini baik secara teori

maupun praktik antara lain diuraikan sebagai berikut :

1. Secara Teoritis :

1) Penelitian ini dapat menjadi sumber bacaan sebagai sumbangsih ilmu

pengetahuan untuk memperluas wawasan dalam dunia Perbankan

Syariah baik untuk akademisi maupun praktisi.

2) Penelitian ini dapat menjadi acuan penentuan standar layanan

Perbankan Syariah.

3) Penelitian ini dapat memperkuat efektivitas standar kinerja layanan

(25)

13

4) Penelitian ini dapat dijadikan acuan evaluasi strategi pemasaran

lembaga-lembaga bisnis yang memutuskan untuk menjalankan

operasionalnya sesuai prinsip Islam.

2. Secara Praktis :

1) Hasil penelitian ini memberikan gambaran riil kondisi kepuasan

nasabah terhadap PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep.

2) Hasil penelitian ini menggambarkan seberapa besar model CARTER

sebagai standar kinerja layanan untuk Perbankan Syariah diterima

oleh nasabah secara luas.

E. Sistematika Pembahasan

Dalam penyusunan skripsi ini penulis membagi kedalam enam bab

yang sistematis.

Bab pertama adalah pendahuluan yang terdiri dari latar belakang

masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan

sistematika pembahasan.

Bab kedua berisi landasan teori sebagai pengantar pembahasan, terdiri

atas teori kinerja layanan berikut model-model yang diterapkan dalam jasa

layanan perbankan, serta konsep pembangunan keputusan bertransaksi dan

kepuasan nasabah. Selain itu terdapat juga penelitian terdahulu yang relevan

dengan judul skripsi ini, kerangka konseptual skripsi dan hipotesis.

Bab ketiga menjelaskan mengenai metode penelitian yang digunakan

(26)

14

penelitian, waktu dan tempat penelitian, populasi dan sampel penelitian,

variabel penelitian, definisi operasional, uji validitas dan reliabilitas, data dan

sumber data, teknik pengumpulan data serta teknik analisa data.

Bab keempat merupakan bagian hasil penelitian yang memaparkan

tentang deskripsi umum objek penelitian dan hasil dari analisa data.

Bab kelima adalah inti dari pembahasan skripsi yang berisi uraian

pendapat penulis dari hasil penelitian ini.

Bab keenam yang merupakan bab penutup dari skripsi ini berisi

(27)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teoretik

1. Standar Kinerja Layanan Perbankan Syariah Model CARTER

a. Definisi kinerja Layanan

Sebelum memahami makna layanan, penulis akan memaparkan

makna kinerja terlebih dahulu. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa

Indonesia (KBBI), kinerja diartikan sebagai sesuatu yang dicapai,

prestasi yang diperlihatkan, atau kemampuan kerja.

Moeheriono (2012 : 32) mengemukakan beberapa indikator

kinerja antara lain sebagai berikut1 :

1) Economic Value Added (EVA)

2) Pertumbuhan pendapatan (Revenue Growth)

3) Pemanfaatan aktiva yang diukur dengan Asset Turn Over

4) Jumlah Customer baru

5) Jumlah Customer yang menjadi Non-Customer

6) Kecepatan waktu layanan Customer

7) Tingkat kepuasan Customer

8) Ketepatan waktu produksi (Cycle Time)

9) Ketepatan pesanan (On-time Dellivery)

10) Perputaran keevektivan (Cycle-Effectiveness-CI)

1

(28)

16

11) Rasio ketersediaan informasi

12) Tingkat kepuasan karyawan

13) Tingkat pemberdayaan karyawan

14) Tingkat produktivitas layanan

15) Presentase sasaran yang diimplementasikan

16) Tingkat pencapaian kriteria pendukung, keberhasilan tim, dan

lain-lain.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa indikator-indikator kinerja

tersebut merupakan alat atau karakteristik tertentu yang dipergunakan

untuk mengukur output atau outcome suatu kegiatan. Kutipan

menarik dalam buku Moeheriono, bahwa “What gets measured, gets

managed, gets done ! “jika anda dapat mengukur kinerja, maka anda

akan mudah mengelolanya, jika anda mudah mengelolanya, maka

anda akan mudah mengelola tujuan.”

Oleh karena kata kinerja disandarkan pada bahasa layanan,

maka indikator kinerja tersebut diartikan sebagai alat atau

karakteristik khusus untuk menilai output atau outcome suatu

layanan.

Nina Rahmayanty (2010 : 15) mengemukakan bahwa kata

layanan pada hakikatnya sama dengan makna kata service secara

umum2, “Service is a manner in which you and other employees treat

your customer and other as you deliver your company’s products or

2

(29)

17

other deliverables. Effective use of the techniques and strategies

outlined later in this book is required in order to satisfy the needs of

your costumers.”3

Teori Robert W. Lucas dapat dipahami bahwa

service/layanan/jasa merupakan suatu aktivitas dimana kamu dan

karyawan lainnya memperlakukan pelangganmu dan lainnya seperti

kamu menyampaikan produk perusahaanmu atau penyampaian

lainnya. Efektivitas yang digunakan melalui tekhnik-tekhnik dan

strategi-strategi berupa bagan di dalam buku ini adalah diperlukan

untuk memuaskan kebutuhan pelangganmu.

Dapat disimpulkan bahwa layanan adalah suatu aktivitas atau

perlakuan karyawan untuk konsumen/nasabah yang semata-mata

hanya untuk memberikan kepuasan bagi konsumen tersebut sehingga

terciptalah konsumen yang loyal (setia) yang disebut dengan

pelanggan.

Lebih lanjut Nina Rahmayanty dalam bukunya menyebutkan

layanan prima adalah pelayanan yang sangat baik dan melampaui

harapan pelanggan, layanan prima juga diartikan sebagai layanan yang

memiliki cirri khas kualitas (quality nice) atau pelayanan dengan

standar kualitas yang tinggi dan selalu mengikuti perkembangan

kebutuhan pelanggan setiap saat secara konsisten dan akurat (handal),

serta suatu pelayanan yang memenuhi kebutuhan praktis (practical

3

Robert W Lucas, Customer Service : building successful skills for the twenty-first

(30)

18

needs) dan kebutuhan emosional (emotional needs) pelanggan.

Kebutuhan praktis berupa nilai yang dirasakan dengan bentuk

berwujud fisik (tangible) dan kebutuhan emosional yang dirasakan

kepada fisiologis pelanggan.4

Konsep jasa atau layanan juga dikemukakan oleh Philip Kotler

dalam beberapa tulisannya. Dijelaskan bahwa jasa setiap tindakan

atau kinerja yang dapat ditawarkan oleh satu pihak pada pihak lain,

yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan

kepemilikan sesuatu. Produksinya mungkin saja terkait dan mungkin

juga tidak terkait dengan produk fisik.5

Jadi hakikat bauran jasa memiliki implikasi pada bagaimana

konsumen mengevaluasi mutu. Selanjutnya jasa/layanan memiliki

empat karakteristik mencolok yang sangat mempengaruhi desain

program pemasaran, antara lain : tidak berwujud (intangibility), tidak

terpisahkan (inseparability), bervariasi (variability), dan tidak tahan

lama (perishability).6

1) Tidak berwujud

Dalam hal ini artinya jasa berbeda dengan produk fisik,

jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar atau dicium oleh

pembeli. Sebagai contoh seseorang yang mengoperasi wajah tidak

4

Nina Rahmayanty, Manajemen Pelayanan Prima, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2010), 17.

5

Philip Kotler, Kevin Lane Keller, Manajemen Pemasaran edisi 12, (Jakarta : Erlangga, 2007), 42.

6

(31)

19

akan pernah dapat mengetahui hasil yang sesungguhnya sebelum

ia membeli jasa tersebut.

Untuk mengurangi ketidakpastian, pembeli akan mencari

bukti mutu jasa tersebut. Oleh karenanya perusahaan jasa

ditantang untuk mampu menunjukkan mutu layanan mereka

melalui bukti fisik dan presentasi. Andaikan suatu Bank ingin

memposisikan diri sebagai Bank yang “cepat” maka Bank tersebut

harus dapat mewujudkan strategi pemosisian ini melalui sejumlah

alat pemasaran, misalnya tempat, orang (pegawai), peralatan,

bahan komunikasi, symbol, harga, dan lain-lain.

2) Tidak terpisahkan,

Karakter jasa yang tidak terpisahkan memberikan

pengertian bahwa antara penyedia jasa dengan klien berinteraksi

secara utuh, dan keduanya hadir dalam interaksi tersebut. Artinya

antara penyedia jasa dan klien hadir pada saat jasa itu dihasilkan.

Interaksi penyedia jasa dan klien merupakan ciri khusus

pemasaran jasa.

3) Bervariasi

Jasa sangat bervariasi karena bergantung pada siapa, kapan

dan dimana jasa tersebut diberikan. Contoh, seorang dokter

memiliki keramahan yang berbeda dalam berinteraksi dengan

pasien. Pembeli jasa menyadari keragaman tersebut dan seringkali

(32)

20

4) Tidak tahan lama

Jasa tidak dapat disimpan. Sifat jasa yang mudah rusak

tersebut tidak akan menjadi masalah selama permintaan tetap

lancar. Contoh perusahaan angkutan harus memiliki jauh lebih

banyak perlengkapan karena permintaan jam-jam sibuk. Beberapa

dokter menerapkan biaya tambahan bagi pasien yang tidak

menepati janji pertemuan karena nilai jasa tersebut hanya ada

pada saat itu.

b. Model-model dimensi layanan

Model dimensi layanan yang paling umum digunakan dalam

menilai kualitas layanan adalah model yang dikemukakan oleh

seorang ekonom bernama Parasuraman yaitu meliputi: tangible (bukti

fisik), reliability (keandalan), responsiveness (daya tanggap),

assurance (jaminan), emphaty (empati).7

Tangibles (bukti fisik) merupakan segala perlengkapan yang

menjadi bukti awal yang bisa ditunjukkan oleh organisasi penyedia

layanan yang ditunjukkan oleh tampilan gedung, fasilitas fisik

pendukung, perlengkapan, dan penampilan pekerja. Reliability

(keandalan) adalah kemampuan penyedia layanan memberikan

layanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.

Responsiveness (daya tanggap) mencakup para pekerja yang memiliki

kemauan dan bersedia membantu pelanggan dan memberi layanan

7

(33)

21

dengan cepat dan tanggap. Assurance (jaminan) diartikan sebagai

pengetahuan dan kecakapan para pekerja yang memberikan jaminan

bahwa mereka bisa memberikan layanan dengan baik. Sedangkan

Empathy (empati) yaitu para pekerja mampu menjalin komunikasi

interpersonal dan memahami kebutuhan pelanggan.

Berdasarkan lima faktor tersebut, kemudian beberapa periset

mengembangkannya menjadi item-item SERVQUAL, antara lain8 :

1) Reliability (Kendalan)

a) Memberikan layanan sesuai janji

b) Ketergantungan dalam menangani masalah layanan pelanggan

c) Melakukan layanan pada saat pertama

d) Menyediakan layanan pada waktu yang dijanjikan

e) Mempertahankan rekor bebas cacat

2) Responsiveness (daya tanggap)

a) Mengusahakan pelanggan tetap terinformasi, misalnya kapan

layanan itu akan dilakukan

b) Layanan yang tepat pada pelanggan

c) Keinginan untuk membantu pelanggan

d) Kesiapan untuk menanggapi permintaan pelanggan

3) Assurance (jaminan)

a) Karyawan yang membangkitkan kepercayaan kepada

pelanggan

8

(34)

22

b) Membuat pelanggan merasa aman dalam transaksi mereka

c) Karyawan yang sangat santun

d) Karyawan yang memiliki pengetahuan untuk menjawab

pertanyaan pelanggan

4) Empathy (empati)

a) Memberikan pelanggan perhatian individual

b) Karyawan yang menghadapi pelanggan yang peduli mode

c) Sangat memperhatikan kepentingan pelanggan terbaik

d) Karyawan yang memahami kebutuhan pelanggan mereka

e) Jam bisnis yang nyaman

5) Tangibles (bukti fisik)

a) Peralatan yang modern

b) Fasilitas yang secara visual menarik

c) Karyawan yang memiliki penampilan yang rapi dan

professional

d) Bahan-bahan materi yang enak dipandang yang diasosiasikan

dengan layanan.

Othman and Owen (2001) mengemukakan model CARTER

sebagai sebuah instrumen yang dapat digunakan untuk mendefinisikan

dan mengukur layanan kualitas lembaga Islam termasuk perbankan

Islam. Mekanisme pengukuran metode CARTER sama dengan

SERVQUAL yang dikemukakan oleh Parasuraman, hanya saja dalam

(35)

23

prinsip dan hukum islam) sehingga model CARTER ini terdiri atas 6

dimensi yaitu: compliance, assurance, reliability, tangible, empathy,

dan responsiveness, yang secara keseluruhan terdiri dari 34 item.9

Keenam dimensi tersebut dijabarkan lebih lanjut oleh Othman

and Owen sebagai berikut:

1) Compliance

Complience berarti kemampuan untuk memenuhi hukum

Islam dan beroperasi di bawah prinsip-prinsip ekonomi dan

perbankan islam. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah dalam

Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 208,



































Artinya : Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah : 208).10

Ayat tersebut menerangkan bahwa umat muslim

diperintahkan untuk melakukan apapun dengan prinsip Islam

secara Kaffah (Keseluruhan) tidak terkecuali dalam

bisnis/perdagangan.

9 Othman, A., Owen, L, “Adapting and Measuring Customer Service Quality (SQ) in Islamic Banks : A Case Study in Kuwait Finance House”, International Journal of Islamic Finance Service, Vol 3, 2001, 4.

(36)

24

Aspek Complience dalam Perbankan Syariah juga

mencakup larangan terhadap bunga/riba. Beberapa ayat Al-Qur’an

tentang larangan terhadap riba ini antara lain :

a) QS. Al-Baqarah : 275

































































































































Artinya : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah

disebabkan mereka Berkata (berpendapat),

Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah : 275).11

b) QS. A<<>li ‘Imra>n : 130





































(37)

25

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. A>li ‘Imra>n : 130).12

Selain beberapa hal diatas, aspek Complience dalam

Perbankan Syariah juga termaktub dalam Al-Qur’an surat

An-Nisa>’ ayat 29 :































































Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisa>’ : 29).13

2) Assurance

Assurance memiliki makna pengetahuan dan kesopanan

karyawan dan kemampuan mereka memberikan rasa aman dan

percaya kepada pelanggan. Hal tersebut juga termasuk komunikasi

secara verbal dan tulisan antara karyawan dan pelanggan.

Salah satu keteladanan Rasulullah SAW dalam

berdagang/berbisnis adalah sifat Amanah yang dapat diartikan

tanggungjawab. Assurance dapat dipersamakan dengan sifat

12 Ibid., 66.

(38)

26

tanggungjawab, artinya memberikan kepercayaan dan rasa aman

kepada pelanggan.

3) Reliability

Reliability merupakan kemampuan untuk memiliki

performa layanan yang dijanjikan, dapat diandalkan dan akurat.

Jika dikaitkan dengan keteladanan Rasulullah dalam berdagang

adalah sifat Siddiq yang artinya cerdas, sehingga para pelaku

bisnis tidak terkecuali lembaga perbankan syariah dituntut untuk

berperilaku cerdas.

4) Tangible

Tangible adalah aspek yang terlihat secara fisik misal

peralatan, personel, dan bahan-bahan komunikasi. Dimensi

Tangible adalah upaya tambahan layanan yang diberikan oleh

lembaga perbankan syariah untuk menambah kepuasan dan

kenyamana nasabah dalam bertransaksi.

5) Emphaty

Emphaty diartikan sebagai kemampuan personel untuk

peduli dan memberikan perhatian secara individu kepada

pelanggan.

Tolong-menolong adalah kewajiban bagi seluruh umat

muslim, hal tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Ma>’idah

(39)

27











































































































































Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar

kehormatan bulan-bulan haram, jangan

(mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula)

mengganggu orang-orang yang mengunjungi

Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum Karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.(QS. Al-Ma>’idah : 2).14

6) Responsiveness

Responsiveness adalah keinginan untuk membantu

pelanggan dan memberikan layanan yang cepat. Dimensi ini

(40)

28

hampir sama dengan dimensi Empathy dalam sudut pandang

Syariat Islam.

Dari keenam dimensi tersebut dapat diturunkan

indikator-indikator yang terdiri atas 34 item antara lain :

1) Compliance

a) Menjalankan prinsip dan hukum islam

b) Tidak ada pembayaran bunga baik untuk tabungan maupun

pinjaman.

c) Menerapkan ketentuan layanan produk secara islami

d) Kesempatan mendapatkan pinjaman bebas bunga

e) Menerapkan ketentuan pembagian keuntungan investasi

2) Assurance

a) Karyawan yang sopan dan bersahabat

b) Menyediakan saran-saran / nasehat-nasehat keuangan

c) Interior kantor dan ruang tunggu yang nyaman

d) Bank Syariah menyediakan akses informasi rekening

e) Tim manajemen yang berpengalaman dan memiliki

pengetahuan luas

3) Reliability

a) Pemberian layanan yang menyenangkan (waktu layanan yang

cepat)

b) Penyediaan produk dan layanan yang luas

(41)

29

d) Waktu (jam) layanan yang optimal

e) Pengintegrasian penggunaan nilai tambah layanan (Seperti

ketersediaan ATM)

4) Tangible

a) Tampilan kantor dan fasilitas fisik yang menarik

b) Transaksi yang cepat dan efisien

c) Jam operasi yang jelas

d) Menyediakan sekat-sekat atau pembatas loket yang jelas

e) Menyediakan layanan penarikan kas dengan hak istimewa

5) Empathy

a) Lokasi yang mudah dijangkau

b) Nama, reputasi dan citra yang mudah dikenali

c) Bank memiliki aset dan modal yang besar

d) Penyediaan area parkir yang memadai

e) Kerahasiaan data nasabah yang terjamin

f) Manajemen yang meyakinkan

g) Penyediaan produk dan layanan yang menguntungkan

h) Penetapan tarif layanan yang rendah

6) Responsiveness

a) Penyediaan ketentuan konsultasi keuangan

b) Karyawan bersedia membantu konsumen

(42)

30

d) Menyediakan pinjaman dengan jangka waktu pelunasan yang

menguntungkan

e) Layanan yang cepat dan efisien

f) Mempunyai cabang yang tersedia dengan cukup

2. Pembangunan minat atau keputusan nasabah untuk bertransaksi

Perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu,

kelompok dan organisasi memilih, membeli, menggunakan dan

bagaimana barang, jasa, ide atau pengalaman untuk memuaskan

kebutuhan dan keinginan mereka.15 Sehingga diketahui bahwa keputusan

pembelianpun tentu dipengaruhi oleh pola perilaku konsumen.

Perilaku konsumen yang juga menentukan keputusan pembelian

terdiri atas beberapa faktor antara lain16 :

1) Faktor Budaya

a) Budaya

Budaya merupakan determinan dasar keinginan dan perilaku

seseorang. Melalui determinan dasar seperti keluarga dan institusi,

seorang anak yang lahir di Amerika dan Negara-negara lain tentu

berbeda dalam memandang diri sendiri, hubungan dengan orang

lain, dan ritual-ritual lainnya.

15 Philip Kotler, Kevin Lane Keller, Manajemen Pemasaran, (Jakarta : Erlangga, 2009), 166.

(43)

31

b) Subbudaya

Setiap budaya mengandung subbudaya yang lebih kecil yang

memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk

anggota mereka. Subbudaya meliputi kebangsaan, agama,

kelompok, ras, dan wilayah geografis. Ketika subbudaya tumbuh

besar dan cukup kaya, perusahaan sering merancang program

pemasaran khusus untuk melayani mereka.

c) Kelas Sosial

Kelas sosial merupakan divisi yang relative homogen dan

bertahan lama dalam sebuah masyarakat, tersusun secara hierarki

dan mempunyai anggota yang berbagi nilai, minat dan perilaku

yang sama.

Kelas sosial mempunyai beberapa karakteristik. Pertama,

orang-orang yang berada dalam masing-masing kelas cenderung

mempunyai kemiripan dalam cara berpakaian, pola bicara dan

preferensi rekreasional dibandingkan orang dari kelas sosial yang

berbeda. Kedua, orang dianggap menduduki posisi lebih rendah

atau lebih tinggi berdasarkan kelas sosial. Ketiga, kelompok

variabel, misalnya pekerjaan, penghasilan, kekayaan, pendidikan,

dan orientasi nilai mengindikasikan kelas sosial, alih-alih variabel

tunggal. Keempat, kelas sosial seseorang dalam tangga kelas

(44)

32

2) Sosial

a) Referensi

Kelompok referensi adalah semua kelompok yang

mempunyai pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap

atau perilaku orang tersebut. Kelompok yang mempunyai

pengaruh langsung disebut sebagai kelompok keanggotaan

(Membership group) yang terdiri atas kelompok primer dan

kelompok sekunder. Kelompok primer adalah kelompok yang

paling sering berinteraksi secara langsung, terus menerus dan

tidak resmi, seperti keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja.

Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang dalam

interaksinya cukup resmi, dan memerlukan interaksi yang kurang

berkelanjutan, seperti agama, professional, dan

kelompok-kelompok persatuan perdagangan.

Selain kelompok keangggotaan terdapat pula kelompok di

luar keanggotaan yang disebut dengan kelompok aspirasional

(aspirational group) dan kelompok disosiatif (dissociative group).

Kelompok aspirasional adalah kelompok yang ingin diikuti oleh

orang tersebut. Sedangkan kelompok disosiatif adalah kelompok

yang nilai dan perilakunya ditolak oleh orang-orang tersebut.

(45)

33

b) Keluarga

Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling

penting dalam masyarakat. Anggota keluarga merepresentasikan

kelompok refrensi utama yang paling berpengaruh. Ada dua

keluarga dalam kehidupan pembeli yaitu keluarga orientasi dan

keluarga prokreasi. Keluarga orientasi terdiri atas orang tua dan

saudara kandung. Sedangkan keluarga prokreasi terdiri atas suami

(pasangan) dan anak-anak. Perbedaan keduanya terletak pada

pengaruh atas pembelian atau keputusan seseorang. Keluarga

prokreasi memiliki pengaruh yang lebih besar dari keluarga

orientasi.

c) Peran

Peran diartikan sebagai setiap perilaku atau kegiatan yang

dilakukan oleh seseorang. Peran dapat dimaknai juga dengan

sebuah partisipasi seseorang dalam suatu organisasi atau instansi.

d) Status

Status merupakan akibat dari peran yang disandang oleh

seseorang. Status dapat pula dimaknai sebagai potensi yang

dimiliki seseorang sehingga ia mampu melakukan peran-peran dan

partisipasi di dalam sebuah organisasi, instansi, atau masyarakat

(46)

34

Setiap orang yang memilih produk mencerminkan dan

mengkomunikasikan peran dan status aktual atau status yang

diinginkannya dalam masyarakat.

3) Pribadi

a) Usia

Setiap perbedaan usia seseorang akan melahirkan kebutuhan

yang berbeda, sehingga akan berpengaruh pula terhadap pola

perilaku dan pengambilan keputusan seseorang tersebut. Missal

kebutuhan seoranga anak usia duabelas tahun berbeda dengan

kebutuhan anak dengan usia tujuhbelas tahun, sehingga konsumsi

juga dibentuk oleh siklus hidup keluarga, usia serta jenis kelamin

seseorang dalam suatu periode tertentu.

b) Ekonomi

Pekerjaan dan kondisi ekonomi tentu sangat berpengaruh

terhadap pola konsumsi seseorang, bahkan pilihan produk pun juga

sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi, seperti penghasilan

yang dapat dibelanjakan, tabungan dan asset, utang, kekuatan

pinjaman, dan sikap terhadap pengeluaran dan tabungan.

c) Kepribadian

Kepribadian adalah sekumpulan sikap psikologis manusia

yang menyebabkan respons yang relative konsisten dan tahan

lama terhadap rangsangan lingkungan (termasuk perilaku

(47)

35

kepercayaan diri, dominasi, otonomi, rasa hormat, kemampuan

bersosialisasi, pertahanan dan kemampuan beradaptasi.

Kepribadian juga merupakan variabel paling pentting dalam

menganalisis pilihan merk konsumen atas sebuah produk.

Jennifer Aker dari Stanford meriset kepribadian merk dan

mengidentifikasi sifat-sifat berikut :

 Ketulusan/sincerity (membumi, sehat dan ceria)

 Kegembiraan/excitement (berani, bersemangat, imajinatif dan

modern)

 Kompetensi/competence (dapat diandalkan, cerdik dan sukses)

 Kesempurnaan/sophisticated (kelas atas dan menarik)

 Ketahanan/ruggedness (petualang dan tangguh)

Ia menganalisis beberapa merk terkenal dan menemukan

bahwa sejumlah merk tersebut cenderung kuat pada sifat tertentu :

Levi’s dengan “ketahanan”, MTV dengan “kegembiraan”, CNN

dengan “kompetensi”, dan Champbell dengan “ketulusan”.

Implikasinya adalah bahwa merk-merk ini akan menarik

orang-orang dengan kepribadian yang sama.

d) Gaya hidup

Gaya hidup (lifestyle) adalah pola hidup seseorang di dunia

yang tercermin dalam kegiatan, minat, dan pendapat. Gaya hidup

(48)

36

Bahkan orang-orang dari subbudaya, kelas sosial, dan pekerjaan

yang sama mungkin bisa memiliki gaya hidup yang berbeda.

4) Psikologi

a) Motivasi

Motivasi merupakan suatu tekanan psikologis yang

mempengaruhi kebutuhan seseorang. Sigmund Freud

mengasumsikan bahwa kekuatan psikologis yang membentuk

perilaku seseorang sebagian besar adalah ketidaksadaran, dan

bahwa seseorang tidak dapat memahami secara penuh motivasinya

sendiri.

b) Memori

Seluruh informasi dan pengalaman yang kita hadapi akan

terekam dalam memori kita. Memori adalah proses yang sangat

konstruktif, karena seseorang tidak akan dapat mengingat

informasi dan kejadian secara lengkap dan akurat. Sering kita

mengingat beberapa keping dan potongan dan mengisi sisanya

berdasarkan hal lain yang kita ketahui.

Ketika seorang konsumen secara aktif memikirkan dan

mengelaborasikan arti penting informasi produk atau jasa, asosiasi

merk yang yang diciptakan dalam memori akan semakin kuat.

Oleh karenanya tugas besar seorang pemasar adalah menciptakan

(49)

37

kontinyu dan masif sehingga pemahaman merk akan melekat pada

memori konsumen.

c) Persepsi

Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur,

dan menerjemahkan masukan informasi untuk menciptakan

gambaran dunia yang berarti. Poin utamanya adalah bahwa

persepsi tidak hanya bergantung pada rangsangan fisik, tetapi juga

pada hubungan ransangan terhadap bidang yang mengelilinginya

dan kondisi seseorang tersebut.

Persepsi lebih penting dari realitas, karena persepsi yang

mempengaruhi perilaku aktual konsumen. Seseorang dapat

memiliki persepsi yang berbeda tentang objek yang sama karena

tiga proses pemahaman : atensi selektif, distorsi selektif dan

retensi selektif.

Atensi selektif (selective attention) merupakan rangsangan

yang dapat menarik konsumen. Distorsi selektif (selective

distortion) adalah kecendrungan untuk menerjemahkan informasi

dengan cara yang sesuai dengan konsepsi awal seseorang.

Sedangkan retensi selektif (selective retention) merupakan

poin-poin yang dapat dengan mudah diingat dan dilupakan oleh

(50)

38

d) Pembelajaran

Pembelajaran mendorong perubahan dalam perilaku yang

timbul dari pengalaman. Sebagian besar aktivitas seseorang

didapatkan dari pembelajaran, meskipun sebagian besar dari

pembelajaran bersifat tidak sengaja. Poin penting dalam aspek

pembelajaran yang perlu diperhatikan oleh para pemasar adalah

terjadinya bias hedonis (hedonic bias) yang mengatakan bahwa

seseorang mempunyai kecendrungan umum untuk mengaitkan

keberhasilan dan kegagalannya pada penyebab eksternal. Maka

konsumen lebih sering menyalahkan produk dari pada diri mereka

jika terjadi sebuah kegagalan dalam dirinya.

3. Konsep Kepuasan Nasabah

Philip Kotler mengemukakan konsep kepuasaan sebagai suatu

perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan

antara kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk dan

harapan-harapannya.17

Lebih lanjut dikemukakan bahwa kepuasan pembeli (dalam hal ini

penulis maksudkan sebagai nasabah) merupakan sebuah fungsi dari pada

jauh dekatnya produk menurut harapan (H) konsumen dan pandangan

prestasi (P)18, sehingga dapat dituliskan sebuah fungsi :

K = f (H, P)

17 Philip Kotler, Manajemen Pemasaran : Marketing Manajemen 9a jilid 1, (Jakarta : Erlangga, 1997), 36.

(51)

39

Dimana K menunjukkan kepuasan, H adalah harapan dan P

merupakan preestasi. Artinya harapan dan prestasi berbanding lurus, jika

produk memenuhi harapan maka konsumen akan merasa puas dan

sebaliknya, jika produk itu dibawah tingkat yang diharapkan maka

konsumen merasa tidak puas.

Konsumen membentuk pengharapan-pengharapan mereka

berdasarkan pada pesan-pesan yang mereka peroleh dari para penjual,

teman-temannya, dan sumber informasi lain. jika para penjual

melebih-lebihkan keuntungan yang akan diperoleh, konsumen akan mengalami

pengharapan yang tak terpenuhi yang akan menyebabkan ketidakpuasan.

Makin besar jurang antara pengharapan dan prestasi, makin besar

ketidakpuasan konsumen.

Konsep penuntun untuk memilih produk yang memuaskan adalah

nilai.19 Nilai adalah taksiran konsumen tentang kapasitas produk untuk

memuaskan seperangkat tujuan. Nilai setiap produk akan sangat

bergantung pada seberapa dekat produk itu dengan produk ideal sesuai

konsepsi konsumen.

Customer delivered value

Gambar

Gambar 2.1  Kerangka konseptual
 Gambar 3.1
Gambar 4.1
Tabel 4.3  Karakteristik Responden berdasarkan jenis kelamin
+7

Referensi

Dokumen terkait