• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lp Ansietas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Lp Ansietas"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN

ANSIETAS

Oleh: Suwarningsih NPM : 1406523465

PROGRAM STUDI PASCASARJANA

PROGRAM KEKHUSUSAN KEPERAWATAN JIWA

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS INDONESIA

2014

(2)

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ANSIETAS

1. Masalah Utama

Ansietas

2. Proses Terjadinya

2.1 Pengertian

Ansietas adalah keadaan emosi dan pengalaman subyektif individu, tanpa objek yang spesifik karena ketidaktahuan dan mendahului semua pengalaman yang baru seperti masuk sekolah, pekerjaan baru, atau melahirkan anak (Stuart, 2013)

2.2 Faktor Predisposisi a. Biologis

Ansietas terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis, terjadi peningkatan pelepasan katekolamin dan naiknya noreepineprin.

Teori biologis menjelaskan bahwa ekpresi emosi melibatkan struktur anatomi di dalam otak yang mengandung reseptor khusus benzodiazepine berfungsi untuk membantu mengatur ansietas.

Penghambat GABA juga berperan utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan ansietas sebagaimana halnya dengan endorfin. Aspek biologis yang menjelaskan gangguan ansietas adalah adanya pengaruh neurotransmiter. Tiga neurotransmiter utama yang berhubungan dengan ansietas adalah norepineprin, serotonin dan

gamma-aminobutyric acid (GABA).

Gangguan fisik dapat mengancam integritas seseorang baik berupa ancaman internal dan ekternal, dimana ancaman internal berupa kegagalan mekanisme tubuh seperti nyeri, sedangkan ancaman ekternal berupa kuman, virus, bakteri, makanan dan lainnya. Gangguan fisik akan menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor contohnya rasa nyeri yang merupakan indikasi awal adanya ancaman

(3)

integritas fisik, sehingga memberikan respon ansietas dimana kondisi seseorang meminta pertolongan perawatan.

b. Psikologis

Ansietas dapat muncul akibat impuls bawah sadar, dimana penggunaan mekanisme pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil sehingga menimbulkan kecemasan yang mengambang. Ansietas merupakan peringatan yang bersifat subjektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya.

Berdasarkan teori psikoanalitik bahwa ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara antara 2 elemen kepribadian – id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego atau aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.

Teori Interpersonal menjelaskan bahwa, ansietas timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Ansietas berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kelemahan spesifik. Orang yang mengalami harga diri rendah terutama mudah mengalami perkembangan ansietas yang berat.

Teori perilaku menjelaskan bahwa ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pakar perilaku menganggap sebagai dorongan belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari kepedihan. Individu yang terbiasa dengan kehidupan dini dihadapkan pada ketakutan berlebihan lebih sering menunjukkan ansietas dalam kehidupan selanjutnya.

(4)

Aspek biologis memiliki karakteristik berupa ancaman eksternal dan internal, dimana ancaman eksternal yang terkait dengan kondisi psikologis dan dapat mencetuskan terjadinya ansietas diantaranya adalah peristiwa kematian, perceraian, dilema etik, pindah kerja, perubahan dalam status kerja, sedangkan ancaman internal meliputi gangguan hubungan interpersonal dirumah, ditempat kerja atau ketika menerima peran baru (istri, suami, murid dan sebagainya).

c. Social Budaya

Ansietas dapat terjadi karena frustasi, tekanan, konflik atau krisis. Ansietas dapat timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadaan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya.

Stres pekerjaan dan status social ekonomi merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya stress yang akan berdampak munculnya ansietas. Status ekonomi yang menurun akan mempengaruhi integritas seseorang, hal tersebut akan mencetus terjadinya ansietas.

2.3 Factor Presipitasi

1. Faktor Biologis

 Status nutrisi kurang atau berlebih

 Kondisi kesehatan secara umum : menderita sakit, gangguan/kehilangan anggota tubuh

 Sensivitas biologi : gangguan pada system limbic, thalamus, korteks frontal, system neurokimia GAMA, Norefinefrin, serotonin

2. Faktor Psikologis

a. Intelegensia : RM ringan, RM sedang, tidak konsentrasi, tidak dapat membuat keputusan

b. Kemampuan verbal kurang, krn gangguan sensori pendengaran, penglihatan dan wicara, isolasi budaya, tempat tinggal jauh. c. Moral : Konflik norma dan nilai di masyarakat.

d. Kepribadian terganggu.

(5)

f. Gangguan konsep diri g. Motivasi rendah h. Self control kurang

3. Faktor Sosial Budaya

 Usia : remaja, dewasa, lansia  Gender = wanita:pria = 2:1  Pendidikan : rendah/kurang  Pendapatan : rendah/kurang

 Pekerjaan : tidak tetap, tidak punya pekerjaan, tidak mandiri dalam ekonomi, beban kerja terlalu tinggi.

 Status social: belum bias memisahkan diri dari autokritas keluarga.  Latar belakang budaya : budaya yang individualis, nilai budaya yang

bertentangan dengan nilai kesehatan dan nilai dirinya.

 Agama dan kenyakinan: semua agama, kurang mengamalkan ajaran agama dan kenyakinan/mempunyai religi dan nilai agam yang buruk.

 Keikutsertaan dalam politik: pengurus partai politik, post power syndrome.

 Pengalaman social

 Adanya perasaan takut terhadap tidak penerimaan atau penolakan interpersonal.

 Berpisah dengan orang yang dicintai

 Kehilangan orang yang dicintai, lingkungan social yang rawan bencana, kriminalitas

 Kadang tidak mampu behubungan intim dengan lawan jenis.  Peran social : gagal melaksanakan peran, gagal membentuk keluarga

baru, belum menikah.

Origin

1. Internal

(6)

2. Eksternal

a. Kurang dukungan kelompok/ peer group b. Kurang dukungan keluarga

c. Kurang dukungan masyarakat.

Timing

 Stress terjadi dalam waktu dekat  Stress terjadi dalam waktu cukup lama.

 Stres terjadi secara berulang-ulang /terus-menerus

Number

 Sumber stress lebih dari satu (semua stressor yang ada selama usia tum-bang)

 Stres dirasakan sebagai masalah yang sangat berat

2.4 Sumber Koping Personal Ability

Kurang komunikatif, hubungan interpersonal kurang baik, kurang memiliki kecerdasan atau bakat tertentu, mengalami gangguan fisik, perawatan diri yang kurang baik, tidak kreatif, kurang kemampuan personal untuk menyelesaikan masalah

Sosial Support

Hubungan yang baik atau kurang baik antar invidu, keluarga kelompok dan masyarakat, kurang atau terlibat dalam organisasi social/kelompok sebaya, ada atau tidak ada konflik budaya

Material Asset

Penghasilan cesara individu : cukup atau tidak, pelayanan kesehatan : mudah atau sulit didapat, pekerjaan/vokasi/posisi : memiliki atau tidak

(7)

Positif Belief

Kenyakinan dan nilai positif : ada atau tidak ada, memiliki motivasi atau tidak, orientasi kesehatan : baik atau tidak/kurang, ada pencegahan atau tidak

2.5 Penilaian Terhadap Stressor

a. Perilaku. Ditandai dengan dengan Produktivitas menurun, Mengamati

dan waspada, Kontak mata jelek, Gelisah, Melihat sekilas sesuatu, Pergerakan berlebihan (seperti; foot shuffling, pergerakan lengan/ tangan), Ungkapan perhatian berkaitan dengan merubah peristiwa dalam hidup, Insomnia, Perasaan gelisah.

b. Afektif

Menyesal, Iritabel, Kesedihan mendalam, Takut, Gugup, Sukacita berlebihan, Nyeri dan ketidakberdayaan meningkat secara menetap, Gemeretak, Ketidak pastian, Kekhawatiran meningkat, Fokus pada diri sendiri, Perasaan tidak adekuat, Ketakutan, Distressed, Khawatir, prihatin dan Mencemaskan

c. Fisiologis

Suara bergetar, Gemetar/ tremor tangan, Bergoyang-goyang, Respirasi meningkat (Simpatis), Kesegeraan berkemih (Parasimpatis), Nadi meningkat (Simpatis), Dilasi Pupil ( Simpatis), Refleks-refleks meningkat (Simpatis), Nyeri abdomen (Parasimpatis), Gangguan tidur (Parasimpatis)

Perasaan geli pada ekstremitas (Parasimpatis), Eksitasi kardiovaskuler (Simpatis), Peluh meningkat, Wajah tegang, Anoreksia (Simpatis), Jantung berdebar-debar (Simpatis), Diarhea (Parasimpatis), Keragu-raguan berkemih (Parasimpatis), Kelelahan (Parasimpatis), Mulut Kering (Simpatis), Kelemahan (Simpatis), Nadi berkurang (Parasimpatis), Wajah bergejolak (Simpatis), Vasokonstriksi superfisial (Simpatis), Berkedutan (Simpatis), Tekanan Darah Menurun

(8)

(Parasimpatis), Pingsan (Parasimpatis), Sukar bernafas (Simpatis), Tekanan darah meningkat (Parasimpatis)

d. Kognitif

Hambatan berfikir, Bingung, Preokupasi, Pelupa, Perenungan, Perhatian lemah, Lapang persepsi menurun, Takut akibat yang tidak khas, Cenderung menyalahkan orang lain., Sukar berkonsentrasi, Kemampuan berkurang terhadap : (Memecahkan masalah dan belajar), Kewaspadaan terhadap gejala fisiologis

2.6 Mekanisme Koping

Tingkat ansietas sedang dan berat menimbulkan dua jenis mekanisme koping sbb;

a. Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan berorientasi pada tindakan untuk memenuhi secara realistik tuntutan situasi stres, misalnya perilaku menyerang untuk mengubah atau mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan, Menarik diri untuk memindahkan dari sumber stress, Kompromi untuk mengganti tujuan atau mengorbankan kebutuhan personal.

b. Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi ansietas ringan dan sedang, tetapi berlangsung tidak sadar dan melibatkan penipuan diri dan distorsi realitas dan bersifat maladaptif.

2.7 Akibat

Terpapar toksin, Konflik tidak disadari tentang pentingnya nilai-nilai/ tujuan hidup, Hubungan kekeluargaan/ keturunan, Kebutuhan yang tidak terpenuhi, Interpersonal – transmisi/ penularan, Krisis situasional/ maturasi, Ancaman Kematian, Ancaman terhadap konsep diri, Stress, Penyalahgunaan zat, Ancaman terhadap atau perubahan dalam : Status peran, Status kesehatan, Pola Interaksi, Fungsi Peran, Lingkungan, Status Ekonomi. (NANDA,2005)

(9)

3. Diagnosa Keperawatan

3.1 Pohon Masalah

Harga Diri Rendah

Gangguan Citra Tubuh

Ansietas (Core problem)

Koping Individu Tak Efektif

Kurang Pengetahuan Perubahan fisik/Operasi Stressor Fisik Masalah Keperawatan

1. Harga diri Rendah 2. Gangguan citra tubuh 3. Ansietas

4. Koping Individu inefektif 5. Kurangnya pengetahuan

3.2 Tindakan Keperawatan

1. Tindakan keperawatan Generalis a. Bina hubungan saling percaya

b. Kaji kebutuhan rasa aman klien

c. Sediakan waktu untuk ekspress feeling d. Latihan Teknik Relaksasi dan reduksi Stress

e. Membuat rencana latihan Teknik Relaksasi dan reduksi stress

f. Mempraktikkan teknik relaksasi dan reduksi stress dalam kehidupan sehari-hari

(10)

2. Tindakan Keperawatan Spesialis a. Terapi Individu : TS, PMR, Logo

Penelitian Butet Agustarika (2009) dengan hasil penelitian yaitu menunjukkan adanya penurunan ansietas secara bermakna pada klien yang mendapat terapi Thought Stopping yang meliputi respon fisiologis, kognitif, perilaku dan emosi.

Penelitian Lilik Supriati, (2010) tujuan penelitian yaitu menjelaskan pengaruh terapi thought stopping dan PMR thd ansietas klien dgn ggn fisik. Hasil penelitian menunjukkan ansietas klien yg m’dpt thought stopping dan PMR menurun dr ansietas sedang ke ringan. Thought stopping dan PMR menurunkan respon fisiologis, kognitif, perilaku dan emosi scr bermakna (p-value <0,05). Terapi tsb direkomendasikan utk penanganan ansietas ditatanan RSU dan masyarakat

Penelitian Duma (2012) hasil penelitian menunjukkan tjd penurunan ansietas dan depresi serta peningkatan kemampuan relaksasi dan kemampuan memaknai hidup klien yg m’dpt terapi PMR dan logoterapi lebih besar dibandingkan dibandingkan kelompok yg hanya m’dpt logoterapi saja (p-value <0,05). Terapi PMR & logoterapi direkomendasikan sbg terapi keperawatan lanjutan dlm merawat klien kanker dgn ansietas dan depresi.

b. Terapi Keluarga : FPE

Penelitian Arena (2011) dengan tujuan untuk menganalisis pengaruh terapi psikoedukasi keluarga terhadap pengetahuan dan tingkat ansietas keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami TB paru di kota Bandar Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan terapi FPE dan ada perbedaan signifikan tingkat ansietas keluarga sebelum dan sesudah terapi FPE, sehingga peneliti merekomendasikan terapi FPE diperlukan untuk mengatasi permasalahan ansietas yang

(11)

dapat dilakukan baik di Puskesmas bekerjasama dengan spesialis jiwa keperawatan.

Penelitian Nurbani (2009) bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi FPE terhadap masalah psikososial ansietas dan beban keluarga dalam merawat pasien stroke di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Hasil penelitian tersebut menunjukkan ansietas hasil self evaluasi mengalami penurunan bermakna dan ansietas hasil obeservasi mengalami penurunan bermakna, sedangkan beban mengalami penurunan tetapi tidak bermakna, hasil tersebut dilakukan setelah dilakukan terapi FPE, sehingga rekomendasi dari penelitian tersebut yaitu psikoedukasi keluarga dapat digunakan di rumah sakit umum untuk mengatasi masalah psikososial keluarga khususnya ansietas. Penelitian Riris (2013) menunjukkan bahwa pasien yang mendapatkan ACT dan FPE secara bermakna menurunkan kondisi depresi dan ansietas lebih besar dibandingkan hanya ACT. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi ACT dan FPE terhadap kemampuan menerima dan berkomitmen serta mengatasi kondisi depresi dan ansietas pada pasien dengan HIV/AIDS di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Rekomendasi penggunaan ACT dan FPE sebagai psikoterapi untuk menurunkan kondisi depresi dan ansietas pasien HIV/ AIDS.

Penelitian Sri Atun (2012) yang bertujuan untuk menggambarkan manajemen asuhan keperawatan ansietas pada klien gangguan fisik yang mendapatkan terapi thought stopping, PMR dan psikoedukasi dengan pendekatan model adaptasi Roy. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan klien dan keluarga setelah mendapatkan terapi adalah mampu mengontrol ansietas, mempunyai keyakinan positif dan mendapatkan dukungan dari keluarga.

(12)

Penelitian yang dilakukan oleh Endang Widuri (2014) yang bertujuan untuk mengetahui hasil penerapan terapi kognitif dan FPE pada klien ansietas dengan menggunakan pendekatan Model Adaptasi Roy. Hasilnya menunjukkan bahwa yang diberikan terapi generalis klien, keluarga, terapi kognitif dan FPE memberikan dampak penurunan tanda dan gejala dan peningkatan kemampuan yang lebih besar dibandingkan pada kelompok yang hanya diberikan terapi generalis saja, sehingga terapi spesialis tersebut direkomendasikan untuk digunakan pada klien dengan ansietas.

c. Terapi Kelompok : Suportif terapi

Penelitian Keksi (2011) yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh terapi suportif terhadap ansietas siswa dalam menghadapi UN menunjukkan hasil penurunan ansietas pada kedua kelompok dengan adanya selisih score yang cukup signifikan , sehinggan terapi suportif direkomendasikan untuk mengatasi ansietas pada siswa yang menghadapi UN.

Penelitian yang hampir serupa dilakukan oleh Hasmila (2009) yang bertujuan untuk memaparkan penerapan terapi kelompok suportif dalam manajemen kasus keperawatan spesialis pada ibu hamil dengan ansietas sedang dengan menggunakan pendekatan konsep adaptasi stuart dan teori Mercer. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terapi ini sangat efektif digunakan pada ibu hamil yang sedang mengalami ansietas sedang.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Reni Nuryani (2014) yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang penerapan terapi suportif pada klien dengan hipertensi yang mengalami ansietas menggunakan pendekatan social support theory, menunjukkan hasil yaitu menurunkan tanda dan gejala ansietas dan meningkatkan kemampuan klien dalam menggunakan sumber pendukung.

(13)

Daftar Pustaka

Alini, et all. (2010). Pengaruh Terapi Assertiveness Training dan PMR thd

gejala dan Kemampuan Klien dgn Perilaku Kekerasan di RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. FIK UI . Tesis

Copel, L.C. (2007). Kesehatan Jiwa & Psikiatri, Pedoman Klinis Perawat

(Psychiatric and Mental Health Care: Nurse’s Clinical Guide). Edisi

Bahasa Indonesia (Cetakan kedua). Alihbahasa : Akemat. Jakarta : EGC. Duma, (2012). Pengaruh PMR dan Logoterapi terhadap Ansietas & Depresi,

Kemampuan Relaksasi dan Kemampuan Memaknai Hidup Klien Kanker di RS Kanker Dharmais Jakarta.FIK UI. Thesis.

Diyan, et all (2010). Pengaruh Logoterapi terhadap kecemasan Napi

Perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Semarang tahun 2010. FIK UI : Tesis

Doenges, M.E, Townsend, M.C dan Moorhouse, M.F. (2007). Rencana

Asuhan Keperawatan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku

Kedokteran EGC

EndangWiduri,et all.(2014). Pelaksanaan Terapi Kognitif dan Psikoedukasi

Keluarga Terhadap Ansietas pada Klien Penyakit Kronik dengan Pendekatan Model Konsep Adaptasi Roy. FIK UI :Tesis

Fontaine, K.L. (2009). Mental health nursing (7 th Edition). New Jersey: Pearson Education, Inc.

Hasmilah, et all (2009). Penerapan terapi kelompok suportif pada ibu hamil

dengan ansietas melalui pendekatan teori Mercer di RW 03 dan 04 kelurahan Balumbang Jaya Bogor Barat. FIK UI : Tesis

Keliat, B.A dan Akemat. (2010). Model Praktik Keperawatan Profesional

Jiwa. Cetakan I. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Livana, (2014). Pengaruh PMR terhadap Tingkat Stres Keluarga dalam

Merawat Klien Gangguan Jiwa Berat di Poli Jiwa RSUD Dr. H. Soewondo Kendal. FIK UI. Thesis

(14)

Lilik, (2010). Pengaruh Terapi Thaought Stopping & PMR terhadap Ansietas

pd klien dengan gangguann fisik di RSUD Dr. Soedono Madiun. FIK UI.

Thesis

NANDA, (2011). Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Cetakan 2011. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Nurbayani, et all. (2009). Pengaruh Psikoedukasi Keluarga terhadap masalah

psikososial ansietas dan beban keluarga dalam merawat pasien stroke di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta. FIK UI : Tesis

Reni, et all. (2014). Penerapan Terapi Spesialis Keperawatan Jiwa Terapi

Suportif pada Klien dengan Ansietas Menggunakan Pendekatan Social Support Theory. FIK UI :Tesis

Rika Sarfika, et all. (2012). Pengaruh Terapi Kogntif dan Logoterapi

Terhadap Depresi, Ansietas, Kemampuan Mengubah Pikiran Negatif, dan Memaknai Hidup Klien Diabetes Melitus di RSUPN Dr. M. Djamil Padang. FIK UI :Tesis.

Riris, et all. (2013). Pengaruh Acceptance and Commitment Therapy and

Family Psychoeducation terhadap Kemampuan Menerima dan Berkomitmen serta Mengatasi Kondisi Depresi dan Ansietas Pasien HIV/ AIDS di RS CiptoMangunkusumo Jakarta. FIK UI :Tesis

RisetKesehatanDasar. (2013). Badan Penelitian dan Pengembangan

Kesehatan, DepartemenKesehatan, Republik Indonesia. Jakarta

Sri Atun, et all. (2012). Manajemen Asuhan Keperawatan Ansietas pada Klien

Gangguan Fisik dengan Pemberian Terapi Thought Stopping, Relaksasi Progresif dan Psikoedukasi di RumahSakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta. FIK UI :Tesis

Stuart, G.W. (2009). Principles and Practice of Psychyatric Nursing. 8th edition. Missouri : Mosby

Townsend. M.C, (2010). Buku Saku Diagnosis Keperawatan Psikiatri

Rencana Asuhan & Medikasi Psikotropik. Edisi 5. Jakarta: Penerbit Buku

(15)

__________. (2014). Draft Standar Asuhan Keperawatan. FIK UI. Tidak dipublikasikan

__________. (2014). Modul Terapi Keperawatan Jiwa. FIK UI. Tidak dipublikasikan.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengobatan dan besarnya biaya terapi pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Banyudono tahun 2010 serta mengetahui

Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan kemampuan mengatasi ansietas pada klien HIV/AIDS sebelum dan sesudah diberikan perlakuan berupa terapi stought stopping.. Skema

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengobatan dan besarnya biaya terapi pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Banyudono tahun 2010 serta mengetahui

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Ners, terapi thought stopping dan terapi kelompok suportif hasil penelitian menunjukkan ada penurunan rata – rata yang lebih

Dari hasil penelitian yang dilakukan, disimpulkan bahwa terapi diet pisang ambon secara bermakna menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada

Penelitian yang dilakukan tentang terapi musik ini juga memberikan pengetahuan dan wawasan yang baru bahwa tindakan ini merupakan intervensi non farmakologis yang dapat digunakan pada

Transformational leadership dilakukan melalui perawat sebagai role model memberikan pengaruh ideal kepada warga binaan wanita untuk melakukan perubahan melalui terapi suportif kelompok;

3 LEMBAR PENGESAHAN Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul : GAMBARAN PENERAPAN TERAPI RELAKSASI OTOT PROGRESIF PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI