LAPORAN KEGIATAN
PRAKTIK KERJA LAPANG (PKL)
DI UD. EVIA CRAFTNPRODUCTION BANTUL
YOGYAKARTA.
Oleh:
Afen Setiawan NIM : 130 500 040
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
Nama : Afen Setiawan
NIM : 130 500 040
Program Studi : Teknologi Hasil Hutan
Jurusan : Teknologi Pertanian
Lulus pada tanggal :
Penguji I,
Eva Nurmarini, S.Hut, MP NIP. 197508081999032002
Penguji II,
Dr. Ir. F. Dwi Joko Priyono, MP NIP. 195810171988031001 Pembimbing,
Ir. Andi Yusuf, MP NIP. 196210221998031001
Menyetujui/Mengesahkan,
Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Eva Nurmarini, S.Hut, MP NIP. 197508081999032002
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang selalu melimpahkan rahmat dan kasih-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Laporan Praktik Kerja Lapang ini.
Penulis menyadari sepenuhnya dari segi teknis penulisan dan uji materi penulisan masih sangat jauh dari kesempurnaan dan juga penulis menyadari bahwa masih terbatasnya kemampuan yang dimiliki. Hal yang wajar jika dalam penyelesaian Laporan Praktik Kerja Lapang (PKL) ini masih banyak mengalami hambatan dan masalah. Namun berkat bimbingan dan petunjuk serta dorongan dari berbagai pihak, sehingga Laporan Praktik Kerja Lapang ini dapat terselesaikan.
Untuk itu maka dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Ayah dan Ibunda tercinta yang telah mengasuh dan memberikan bantuan
yang sangat berharga kepada penulis, sehingga penulis mampu
menyelesaikan laporan ini dengan baik dan tepat waktu.
2. Bapak Suwardi selaku pemilik perusahaan dan rekan kerja di UD. Evia Craft Production yang tidak dapat disebutkan satu persatu, dimana sudah banyak memberikan pengalaman serta wawasan baru terutama tentang cara berfikir kritis dan mampu memberikan solusi terhadap kendala yang dihadapi suatu perusahaan.
3. Dosen Pembimbing, yaitu Bapak Ir. Andi Yusuf , MP yang telah membimbing dan memberikan saran sehingga membantu penulis dalam menyelesaikan penyusunan laporan ini.
4. Dosen Penguji, yaitu Ibu Eva Nurmarini, S.Hut, MP dan Bapak Dr. Ir. F. Dwi Joko Priyono, MP yang telah banyak memberikan saran untuk kesempurnaan laporan ini.
5. Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan, yaitu Ibu Eva Nurmarini, S.Hut, MP
6. Ketua Jurusan Teknologi Pertanian, yaitu Bapak Hamka, S.TP.,MP.,M.Sc 7. Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, yaitu Bapak Ir. Hasanudin,
penyempurnaan laporan ini. Penulis berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat serta pengetahuan baru untuk adik-adik tingkat dan umumnya bagi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda serta terlebih khusus bagi Program Studi Teknologi Hasil Hutan.
Samarinda, Mei 2016
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN ... i KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... iv DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi I. PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan Praktik Kerja Lapang (PKL) ... 2
C. Hasil Yang Diharapkan ... 2
II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN ... 4
A. Tinjauan Umum Perusahaan ... 4
B. Manajemen Perusahaan ... 5
C. Lokasi dan Waktu Kegiatan Praktik Kerja Lapang ... 7
III. HASIL PRAKTIK KERJA LAPANG... 8
A. Persiapan Bahan Baku ... 8
1. Penggergajian ... 8
a. Tujuan ... 8
b. Dasar Teori ... 8
c. Alat dan Bahan ... 8
d. Prosedur Kerja ... 8
e. Hasil yang dicapai ... 8
f. Pembahasan ... 9
2. Pengawetan ... 9
a. Tujuan ... 9
b. Dasar Teori ... 9
c. Alat dan Bahan ... 9
d. Prosedur Kerja ... 10
e Hasil yang dicapai ... 10
f. Pembahasan ... 10
3. Pengeringan ... 10
a. Tujuan ... 10
b. Dasar Teori ... 10
c. Alat dan Bahan ... 11
d. Prosedur Kerja ... 11
e. Hasil Yang dicapai ... 11
f. Pembahasan ... 11
B. Pengolahan ... 12
1. Pembentukan ... 12
a. Tujuan ... 12
c. Alat dan Bahan ... 12
d. Prosedur Kerja ... 13
e. Hasil yang dicapai ... 13
f. Pembahasan ... 13
2. Pembubutan ... 14
a. Tujuan ... 14
b. Dasar teori ... 14
c. Alat dan bahan ... 14
d. Prosedur kerja ... 14
e. Hasil yang dicapai ... 15
f. Pembahasan ... 15 3. Penghalusan 1 ... 16 a. Tujuan. ... 16 ... 16 ... 16 ... 16
e. Hasil yang Dicapai.. ... 16
f. ... 17 4. Penghalusan 2 ... 17 a. ... 17 b. ... 17 c. ... 17 d. ... 17
e. Hasil yang dicapai.. ... 18
f. ... 18 5. Perangkaian... ... 18 a. Tujuan... 18 b. Dasar ... 18 c. ... 18 d. ... 18 e. ... 19 f. ... 19 C. Finishing ... 20 1. Pemberian Filler... 20 a. Tujuan ... 20 b. DasarTeori ... 20
c. Alat dan Bahan ... 20
d. Prosedur Kerja... 20
e. Hasil yang Dicapai ... 20
f. Pembahasan ... 21
2. Pendempulan 1 ... 21
a. Tujuan ... 21
b. Dasar Teori ... 21
c. Alat dan Bahan ... 21
d. Prosedur Kerja... 21
e. Hasil yang Dicapai ... 22
f. Pembahasan ... 22
3. Pengamplasan 1 ... 22
a. Tujuan ... 22
vi
c. Alat dan Bahan ... 22
d. Prosedur Kerja... 22
e. Hasil yang Dicapai ... 23
f. Pembahasan ... 23
4. Sanding Sealer 1 ... 23
a. Tujuan ... 23
b. Dasar Teori ... 23
c. Alat dan Bahan ... 23
d. Prosedur Kerja... 24
e. Hasil yang Dicapai ... 24
f. Pembahasan ... 24
5. Pendempulan 2 ... 24
a. Tujuan ... 24
b. Dasar Teori ... 24
c. Alat dan Bahan ... 25
d. Prosedur Kerja ... 25
e. Hasil yang dicapai ... 25
f. Pembahasan ... 25
6. Pengamplasan 2 ... 25
a. Tujuan ... 25
b. Dasar teori ... 25
c. Alat dan bahan ... 26
d. Prosedur kerja ... 26
e. Hasil yang dicapai ... 26
f. Pembahasan ... 26 7. Sanding Sealer 2 ... 26 a. Tujuan. ... 26 ... 26 ... 27 ... 27
e. Hasil yang Dicapai.. ... 27
f. ... 28 8. Pengamplasan 3 ... 28 ... 28 ... 28 ... 28 d. ... 28
e. Hasil yang dicapai.. ... 28
f. ... 28 9. Pewarnaan... ... 29 a. Tujuan.. ... 29 ... 29 ... 29 ... 29 ... 30 f. ... 30 10. Clear / Coating ... 30 ... 30 ... 30 c. Alat ... 30
... 31
e. Hasil yang dicapai... 31
... 31 C. Pengepakan ... 32 Pengepakan... ... 32 a. Tujuan.. ... 32 ... 32 ... 32 ... 32 e. Hasil ... 33 ... 33
IV. KESIMPULAN DAN SARAN ... 34
A. Kesimpulan ... 34
B. Saran ... 34
DAFTAR PUSTAKA ... 35
viii
DAFTAR TABEL
Nomor Tubuh utama Halaman
DAFTAR GAMBAR
Nomor Tubuh utama Halaman
1. Plakat Penghargaan dan Dudukan Piala ... 6
2. Tempat Lilin Dan Nampan ... 6
3. Plakat Penghargaan Tugu Pedang ... 19
4. Plakat Penghargaan Tugu Layar Kotak ... 19
Lampiran Nomor Tubuh utama Halaman 1. Struktur Organisasi UD. Evia Craft Production ... 37
2. Lay Out Proses Produksi UD. Evia Craft Production ... 38
3. Pembelian kayu gelondong ... 39
4. Proses pembelahan kayu ... 39
5. Proses pemberian bahan pengawet ... 40
6. Proses memasukan kayu kedalam bak ... 40
7. Proses menyerut pinggiran kayu ... 41
8. Proses membelah kayu gergajian ... 41
9. Proses menyerut permukaan kayu ... 42
10. Proses pemotongan sesuai ukuran Panjang produk ... 42
11. Proses pembuatan pola ... 43
12. Proses membentuk kayu dengan mesin jigsaw ... 43
13. Proses pemberian profile ... 44
14. Proses pembubutan kayu ... 44
15. Proses mengamplasan sisi kayu ... 45
x
17. Proses menyatukan bodi dan dudukan ... 46
18. Proses pemberian filler ... 46
19. Proses pendempulan ... 47
20. proses pengamplasan produk mentah ... 47
21. Proses penyemprotan Sanding sealer ... 48
22. Proses pemberian warna kayu ... 48
23. Proses pemberian Clear ... 49
manusia. Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi
handycraft tidak hanya digunakan untuk skala pemakaian dalam rumah tangga
tetapi sudah mulai masuk industri dan diekspor ke luar negeri.
Untuk mengantisipasi tuntutan atau kebutuhan serta kemajuan di masa
yang akan datang, maka diperlukan upaya pembangunan industri handycraft
yang terampil dan berinovasi baik yang memiliki skala produksi besar, menengah
ataupun skala kecil (home industry).
Bahan baku kayu sudah semakin berkurang sehingga banyak
pabrik-pabrik kayu telah ditutup dan dikarenakan bahan baku tidak lagi mampu
mencukupi kebutuhan produksi, hanya sedikit perusahaan yang mampu
bertahan. Keadaan ini menyebabkan industri perkayuan tidak lagi dapat
diharapkan untuk mendukung perekonomian seperti dahulu.
Bahkan beberapa pabrik tidak lagi bisa menerima mahasiswa untuk
melaksanakan PKL di perusahaannya. Akan tetapi peluang lain masih terbuka
lebar dari sektor industri kerajinan, karena bahan bahan baku bisa dari kayu
dalam jumlah kecil, limbah kayu, dan bahan kayu dari limbah non kayu.
Kegiatan PKL yang dilaksanakan pada semester akhir merupakan salah
satu rangkaian utama pelaksanaan pendidikan di Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda. Kegiatan PKL dimaksudkan agar para mahasiswa mendapatkan
pengalaman yang lebih nyata dalam dunia kerja bahkan boleh menjadi
gambaran untuk membuka peluang usaha baru untuk masa-masa setelah
2
Produk kerajinan merupan salah satu peluang usaha yang selalu
berkembang sehingga pengetahuan tentang proses pembuatan produk produk
kerajinan menjadi begitu penting dan menarik untuk dipelajari dengan tetap
disesuaikan dengan disiplin ilmu yang telah dipelajari sehingga mahasiswa
mendapatkan pengalaman dan pengertian sesuai dengan bidang keahliannya.
Usaha dagang (UD) Evia Craft Production Bantul Yogyakarta merupakan usaha
perdagangan yang tujuannya mendapatkan keuntungan dan mengembangkan
produk kerajianan.
Dengan pengalaman PKL di UD Evia Craft Production ini diharapkan para
mahasiswa mampu mengaitkan antar pengetahuan akademik teknologi hasil
hutan dengan pengetahuan praktis tentang kerajinan dan mampu menghimpun
data mengenai suatu kajian pokok dalam bidang keahliannya.
B. Tujuan Praktik Kerja Lapang (PKL)
Tujuan dari pelaksanaan kegiatan praktik kerja lapang ini adalah agar
mahasiswa lebih memahami prinsip kerja kegiatan industri kerajinan kayu solid
dan industri kerajinan kayu lainnya, memiliki pengetahuan teknis dan
keterampilan praktis tertentu, pengetahuan untuk menambah kepercayaan diri,
melatih menggunakan daya nalar terhadap kegiatan di lapangan, disamping itu
juga memahami penggunaan alat sarana yang lainnya dalam tahapan industri
kerajinan kayu.
C. Hasil yang Diharapkan
Diharapkan setelah mahasiswa selesai melaksanakan Praktik Kerja
Lapang (PKL) ini dapat menambah pengalaman dan memperluas ilmu
kegiatan di lapangan, sehingga dapat membandingkan antara teori yang diterima
BAB II
KEADAAN UMUM PERUSAHAAN
A. Tinjauan Umum Perusahaan
1. Sejarah singkat UD. Evia Craft Production
Suwardi merintis usaha UD. Evia Craft Production sejak tahun 1989
dan mulai mengembangkan ke pasar ekspor pada tahun 2002. UD. Evia Craft
Production memiliki luas areal 0.575 Ha dan usaha dagang milik Suwardi ini
mengolah kayu sonokeling (Dalbergia latifolia) dan mahoni (Swietenia
mahagoni) menjadi berbagai macam kerajinan yang disukai konsumen lokal
maupun luar negeri. Sampai saat ini, ratusan model telah diproduksi UD. Evia
Craft Production dengan memperhatikan selera dan perkembangan pasar.
UD. Evia Craft Production mulai merambah pasar ekspor setelah bekerjasama
dengan salah satu pedagang (trader) di Yogyakarta.
Produk UD. Evia Craft Production telah mencapai puluhan jenis
dengan berbagai macam model. Untuk lokal, UD . Evia Craft Production
memproduksi berbagai jenis souvenir dengan berbagai bentuk. Sedangkan
untuk produk ekspor, UD. Evia Craft Production memproduksi berbagai
macam asesoris hotel. Sonokeling dan mahoni menjadi pilihan Suwardi
karena serat dan warna kayu yang disukai konsumen luar negeri. Untuk
mempertahankan tampilan kayu, Suwardi menggunakan cat waterbase
sehingga aman untuk produk peralatan makanan dan juga cat dengan
2. Struktur organisasi UD. Evia Craft Production terdiri dari:
a. Pemilik
b. Pembimbing
1. Kepala Bagian Persiapan Bahan Baku
2. Kepala Bagian Pengolahan
3. Kepala B agian Finishing
4. Kepala B agian Pengepakan
c. Sekretaris
d. Bendahara
e. Karyawan
Untuk lebih jelas dapat di lihat di lampiran pada gambar 3: halaman 37
untuk struktur organisasi UD. Evia Craft Production
3. Ketenagakerjaan
UD. Evia Craft Production memiliki jumlah karyawan sebanyak 17
orang, terdiri dari 12 orang laki-laki dan 5 orang perempuan.
Tabel 1. Daftar Jumlah Karyawan Menurut Tingkat Pendidikan
Pekerja Jumlah SD SMP SMA
Laki-laki 12 2 8 2
Perempuan 5 1 3 1
Jumlah 17 3 11 3
B. Manajemen Perusahaan
1. Bahan Baku
Suwardi selaku pemilik membeli bahan baku berupa potongan kayu
gelondong dengan ukuran 1-4 meter dengan harga Rp.1.000.000
2.000.000/Satu Truk kecil dari Wonosari, Piyungan dan Dling o yang letaknya
masih dalam wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Potongan
?
relatif lebih murah. Bahan kayu tersebut oleh pemilik dikombinasi dengan
bahan lain yaitu kertas, bambu, rotan, fiber, kaca dan lain-lain menjadi produk
bernilai jual tinggi.
2. Produk yang di hasilkan:
Untuk Lokal:
1. Plakat piagam/penghargaan
2. Dudukan piala
3. Rekal
4. Papan nama
Gambar 1: Plakat Penghargaan dan Dudukan Piala
Untuk ekspor:
1. Tempat lilin
2. Kotak perhiasan
3. Nampan
4. Mangkok
Gambar 2: Tempat Lilin dan Nampan
3. Pemasaran
Pemasaran produk kayu ini untuk pasar lokal ke Jogja, Magelang,
Semarang, Solo, Purwokerto, Bali, Jakarta dan Kalimantan. UD. Evia Craft
Production juga memasarkan produknya secara rutin bekerjasama dengan
beberapa pedagang (trader) keberbagai negara. Inggris, Amerika, Jepang,
Jerman, Australia dan negara-negara di ASEAN dari UD. Evia Craft
Production.
C. Lokasi dan Waktu Kegiatan PKL
1. Lokasi
Tempat Praktik Kerja Lapang (PKL) berlokasi di Dusun Cempluk, RT
02, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah
Istimewa Yogyakarta. Jarak dari Yogyakarta ke UD. Evia Craft Production
melalui jalan darat memakan waktu 1 jam atau 22 km.
2. Waktu
Kegiatan Prakt ik Kerja Lapang (PKL) di UD. Evia Craft Production ini
dilaksanakan pada tanggal 3 Maret 3 Mei 2016 dengan waktu kerja mulai
pukul 08.00 WIB - 14.00 WIB, ada waktu istirahat pada pukul 12:00 13:00
BAB III
HASIL PRAKTIK KERJA LAPANG
A. Persiapan Bahan Baku
1. Penggergajian
a. Tujuan
Membelah log/gelondong menjadi beberapa bagian dengan
ukuran berbeda-beda sesuai dengan prosedur yang ditentukan.
b. Dasar Teori
Kayu gelondong yang akan digergaji adalah kayu Sonokeling dan
Mahoni yang sudah dipilih oleh pekerja dari penggergajian itu sendiri.
Pekerja dari penggergajian akan memilih langsung kayu gelondong yang
ada, Panjang kayu yang akan digergaji adalah 1 - 4 meter, dengan kayu
berbentuk papan dan balok dengan ukuran tertentu.
c. Alat dan Bahan
1. Gergaji pembelah (circular saw)
2. Chain saw
3. Penggaris
4. Kayu Gelondong (Sonokeling dan Mahoni)
d. Prosedur Kerja
1. Pilih dan potong kayu gelondong yang akan digergaji yaitu kayu
Sonokeling atau Kayu Mahoni
2. Lalu gergaji sedikit pada kedua sisi kayu gelondong untuk
mengambil sisi lurus dan sisi rata pada kayu menggunakan circular
saw
3. Kemudian gergaji/belah kayu sesuai dengan ukuran yang telah di
e. Hasil yang Dicapai
Papan dan balok dengan masing-masing ukuran yang telah
ditentukan yaitu 1 x 15 x 100 cm, 2 x 15 x 400 dan 3 x 15 x 400 cm.
f. Pembahasan
Dari hasil penggergajian yaitu berupa papan dan balok dengan
ukuran yang berbeda. Sedangkan sisa penggergajian dan serbuk
gergajian yang tidak dipakai dapat digunakan untuk bahan bakar
pengovenan.
2. Pengawetan
a. Tujuan
Tujuan dari pengawetan kayu adalah untuk mencegah serangan
serangga/organisme maupun jamur perusak kayu.
b. Dasar Teori
Pengawetan/Pengobatan kayu adalah suatu proses memasukkan
bahan pengawet ke dalam (pori-pori) kayu sehingga menembus
permukaan kayu setebal beberapa mm ke dalam daging kayu. Dengan
tujuan meningkatkan daya tahan kayu terhadap organisme perusak kayu
sehingga dapat memperpanjang masa pakai kayu (Anonim, 1997). Bahan
pengobatan kayu, yaitu bahan kimia tunggal atau campuran yang dapat
mencegah kerusakan kayu terhadap salah satu atau kombinasi antara
pelapukan (decay), rayap (termite), binatang laut penggerek kayu (marine
borer), cuaca (weathering), penyerapan air dan reaksi kimia.
c. Alat dan Bahan
1. Sekop
??
3. Ember
4. Bahan Pengawet (Termikon)
5. Air
6. Kayu gergajian dengan ukuran 1 x 15 x 100 cm, 2 x 15 x 400 dan 3
x 15 x 400 cm.
7. Batu
d. Prosedur Kerja
1. Kayu gergajian dengan ukuran 1 x 15 x 100 cm, 2 x 15 x 400 dan 3
x 15 x 400 cm disiapkan yang akan diberi bahan pengawet
2. Bak di isi dengan air sebanyak 580 liter air
3. Obat dicampur ke dalam bak yang telah diisi air dengan 4 botol (400
ml) bahan pengawet, lalu aduk sampai bahan pengawet dan air
tercampur rata
4. Lalu dimasukkan kayu gergajian ukuran 1 x 15 x 100 cm, 2 x 15 x
400 dan 3 x 15 x 400 cm kedalam bak yang telah diisi air dan
dicampur obat sampai bak penuh, lalu dikasih batu/pemberat diatas
tumpukan kayu agar kayu tenggelam dalam air sehingga kayu
dapat menyerap obat secara merata, dan direndam selama 24 jam
e. Hasil yang Dicapai
Kayu lebih awet atau tahan lama dan terhindar dari serangan
rayap atau perusak kayu lainnya.
f. Pembahasan
Dengan pemberian obat pada kayu dapat mempertinggi hasil
produksi, dalam hal ini meningkatkan daya tahan kayu terhadap
dipakai lebih lama oleh konsumen atau bahkan dapat memenuhi
persyaratan untuk penggunaan tertentu yang lebih berarti.
3. Pengeringan
a. Tujuan
Tujuan proses pengeringan adalah untuk mengeluarkan kadar air
yang terdapat di dalam kayu. Kadar air kayu memberikan pengaruh besar
terhadap pemakaian kayu.
b. Dasar Teori
Pengeringan kayu adalah suatu proses pengeluaran air dari dalam
kayu hingga mencapai kadar air yang seimbang dengan lingkungan
dimana kayu akan digunakan tanpa menurunkan kualitas kayu tersebut.
c. Alat dan Bahan
1. Mesin Pengering
2. Sarung Tangan
3. Serbuk gergajian (bahan bakar)
4. Kayu pembatas/sekat dengan ukuran 1 x 2 x 3
5. Kayu Gergajian 1 x 15 x 100 cm, 2 x 15 x 400 dan 3 x 15 x 400 cm.
d. Prosedur Kerja
1. Kayu disiapkan yang sudah dikeluarkan dari bak perendaman
2. Kayu dimasukkan dan disusun ke dalam oven serta diberi
sekat/pembatas berupa kayu kayu kecil dengan ukuran 1 x 2 x 3 cm
antara kayu satu dan kayu yang lainnya, agar panas pada saat kayu
di oven bisa panas merata
??
4. Untuk kayu yang tidak terlalu basah dapat langsung di keringkan di
bawah sinar matahari langsung tanpa harus di oven, dengan cara
disusun di tempat yang terbuka dan diberi sekat/pembatas berupa
kayu kayu kecil dengan ukuran 1 x 2 x 3 cm antara kayu satu dan
kayu lainnya agar kayu dapat kering merata
e. Hasil yang Dicapai
1. Membebaskan kayu dari serangan jamur kayu
2. Menstabilkan dimensi kayu, sehingga kayu tidak akan lagi
mengalami perubahan bentuk, retak maupun pecah
3. Menjadikan warna kayu menjadi lebih cerah
4. Memudahkan kayu pada saat di berikan warna kayu
f. Pembahasan
Kayu di oven selama satu minggu untuk mengurangi kadar air
yang terdapat pada kayu karena jika kadar air pada kayu terlalu banyak
akan mempengaruhi proses pengerjaan kayu itu sendiri. Sementara
dalam proses pengeringan ini sendiri bahan bakar yang digunakan
adalah limbah berupa serbuk gergajian dari kayu Sonokeling dan
Mahoni yang tidak dapat digunakan lagi. Saat proses pengeringan
bahan bakar akan selalu ditambah agar suhu tidak berubah untuk
B. Pengolahan
1. Pembentukan
a. Tujuan
Pembentukan bertujuan untuk menentukan ukuran lebar, panjang,
dan tebal kayu yang akan dijadikan produk serta mengerjakan kayu
sesuai dengan model dan bentuk produk yang akan dibuat.
b. Dasar Teori
Pembentukan adalah proses melakukan perubahan bentuk pada
benda kerja dengan cara memberikan gaya luar sehingga terjadi
perubahan bentuk pada sebuah kayu yang akan dijadikan produk dan
menjadi lebih indah dan memiliki model sesuai dengan produk yang akan
dibuat.
c. Alat dan Bahan
1. Mesin planer
2. Mesin gergaji pembelah
3. Mesin ketam tangan
4. Mesin gergaji pemotong
5. Mesin jigsaw
6. Mesin router/profile
7. Mal/contoh produk
8. Kunci pas
9. Penggaris dan Siku
10. Spidol
11. Kayu gergajian dengan ukuran 1 x 15 x 100 cm, 2 x 15 x 400 dan 3
??
d. Prosedur Kerja
1. Pilih dan ukur kayu gergajian Sonokeling atau Mahoni sesuai
dengan ketebalan kayu pada contoh produk yang akan dibuat
2. Kayu gergajian diserut pada salah satu pinggirnya untuk mengambil
sisi lurus pada salah satu sisinya
3. Diukur panjang dan lebar unutuk dudukkan dan bodi sesuai contoh
produk yang akan dibuat
4. Kayu dibelah sesuai dengan ukuran lebar bodi dan lebar dudukan
produk yang telah ditentukan
5. Kedua permukaan diserut/dipasah pada masing-masing kayu yang
sudah dibelah
6. Kayu dipotong sesuai ukuran panjang bodi dan panjang dudukan
produk yang telah ditentukan
7. Untuk potongan kayu yang akan dijadikan bodi produk digambar
pada salah satu permukaannya dengan bentuk pola menggunakan
mal/contoh, sesuai dengan model produk yang akan dibuat
8. Kayu dipotong sesuai dengan bentuk pola yang telah digambar
menggunakan mesin jigsaw, jika pada bagian bodi hanya bagian
atas atau samping yang memiliki lekukan, untuk bagian yang lurus
pada bodi bisa dipotong menggunakan circular saw
9. Masing-masing dudukan dan bodi diprofile sesuai motif atau variasi
pada contoh produk yang dibuat, jika bodi dan dudukan perlu
e. Hasil yang Ingin Di capai
Kayu dengan berbagai model/bentuk dan ukuran sesuai dengan
contoh model yang dibuat.
f. Pembahasan
Pada proses pembentukan kayu harus memperhatikan prosedur
kerja agar proses membentuk kayu tidak terlalu memakan banyak waktu
serta faktor keamanan pada saat membentuk kayu tidak terlalu berisiko
kecelakaan.
2. Pembubutan
a. Tujuan
Untuk mengolah kayu menjadi silindris dengan model dan bentuk
produk yang akan di buat
b. Dasar Teori
Bubut merupakan suatu proses pemakanan benda kerja yang
sayatannya dilakukan dengan cara memutar benda kerja kemudian
dikenakan pada pahat yang digerakkan secara translasi sejajar dengan
sumbu putar dari benda kerja. Gerakan putar dari benda kerja disebut
gerak potong relatif dan gerakkan translasi dari pahat disebut gerak
umpan.
c. Alat dan Bahan
1. Mesin bubut
2. Gergaji pemotong
3. Circular saw
4. Ketam tangan
?? 6. Kunci pas 7. Jangka 8. Tukul 9. Penggaris 10. Paku 11. Oli
12. Kertas amplas no P. 100 dan P. 150/180
13. Kayu Sonokeling atau Mahoni
d. Prosedur Kerja
1. Mempersiapkan kayu Sonokeling atau Mahoni
2. Dipilih dan diukur lebar, tebal, dan panjang kayu Sonokeling atau
Mahoni yang akan dibubut sesuai dengan ukuran contoh produk
yang akan di buat
3. Dibelah atau diserut pada bagian pinggir kayu sehingga kayu
berbentuk persegi 8
4. Garis/titik tengah dicari pada kayu menggunakan jangk a, dan di
tandai dengan cara dilubangi dengan paku pada kedua ujung kayu
yang akan dibubut
5. Kayu dipasang pada mesin bubut, lalu diberi oli pada salah satu
ujung kayu agar mesin dapat memutar kayu dengan mudah
6. Kemudian kayu dibubut sampai bulat, lalu buat pola pada kayu
menggunakan jangka sesuai ukuran dan model produk yang akan
dibuat
7. Lalu bubut kayu sesuai dengan pola dan model contoh produk yang
8. Setelah selesai dibentuk kayu langsung diamplas dengan kertas
amplas no P. 100 untuk menghilangkan bagian yang kasar dan
serat yang menonjol pada kayu, kemudian diamplas lagi
menggunakan kertas amplas P. 150/180 untuk menghaluskan kayu
yang dibubut sehingga kayu menjadi halus dan rata
e. Hasil yang Dicapai
1. Tempat lilin 2. Mangkok 3. Gelas 4. Piala 5. Piring f. Pembahasan
Dalam menyiapkan kayu untuk dibubut, sebaiknya dipilih kayu
yang tidak cacat, (misalnya : retak, ada matanya, dimakan hama, kayu
bekasyang masih ada pakunya). jika memakai kayu cacat pasti hasilnya
tidak bagus dan berbahaya bagi yang membubut karena kayu dapat
terpelanting.
3. Pengamplasan 1
a. Tujuan
Untuk menghilangkan serat yang menonjol keluar dan bekas pisau
yang terdapat pada sisi kayu saat pemotongan dan pembelahan kayu
sehingga kayu halus dan rata.
b. Dasar Teori
Pengamplasan adalah kegiatan untuk mengikis atau permukaan
benda-??
benda menj adi lebih halus dengan cara menggosokkan salah satu
permukaan amplas yang telah ditambahkan bahan yang kasar kepada
permukaan benda tersebut.
c. Alat dan Bahan
1. Mesin amplas meja
2. Kertas amplas P. 150
3. Kayu (Sonokeling atau Mahoni)
4. Serbuk kayu halus
5. Lem korea (Alteco)
d. Prosedur Kerja
1. Bahan disiapkan yang akan di amplas
2. Jika terdapat lubang atau pecah pada sisi kayu sebelum dilakukan
pengeleman tutup dengan serbuk kayu yang halus lalu dilem,
untuk mengurangi kerusakan/cacat pada sisi kayu
3. Lalu amplas masing-masing sisi kayu yang akan dijadikan produk
serta lekukan yang terdapat pada kayu sehingga menjadi halus
dan rata
e. Hasil yang Dicapai
Sisi kayu menjadi halus dan rata tanpa meninggal serat yang
menonjol dan menghilangkan bagian yang kasar pada kayu.
f. Pembahasan
Pada proses ini yang perlu diperhatikan adalah kertas amplas
yang digunakan dan teknik mengamplas sisi kayu yang perlu dilakukan
4. Pengamplasan 2
a. Tujuan
Untuk menghilangkan serat yang menonjol keatas dan bekas
pisau saat kayu diserut/pasah pada permukaan kayu sehingga kayu
menjadi halus dan rata.
b. Dasar Teori
Pengamplasan adalah kegiatan untuk mengikis atau
menghaluskan permukaan benda kerja dengan cara digosokkan dan
membuat permukaan benda-benda menjadi lebih halus dengan cara
menggosokkan salah satu permukaan amplas yang telah ditambahkan
bahan yang kasar kepada permukaan benda tersebut.
c. Alat dan Bahan
1. Mesin amplas tangan
2. Kertas amplas P. 100
3. Kayu (Sonokeling atau Mahoni)
4. Serbuk kayu halus
5. Lem korea
d. Prosedur Kerja
1. Alat dan bahan disiapkan yang akan diamplas
2. Jika terdapat lubang atau pecah pada sisi kayu sebelum dilakukan
pengamplasan tutup dengan serbuk kayu yang halus lalu di lem,
untuk mengurangi kerusakan/cacat pada sisi kayu
3. Kedua permukaan kayu diamplas yang akan dijadikan bodi produk
??
saja, dan amplas permukaan kayu sesuai dengan arah serat
sehingga menjadi halus dan rata
e. Hasil yang Dicapai
Permukaan kayu menjadi halus dan rata tanpa ada serat yang
menonjol keatas.
f. Pembahasan
Pada proses ini yang perlu diperhatikan adalah kertas amplas
yang digunakan dan cara mengamplas permukaan kayu harus sesuai
dengan arah serat kayu agar mendapatkan hasil yang maksimal.
5. Perangkaian
a. Tujuan
Untuk menyatukan dan menggabungkan kayu satu dan kayu
lainnya untuk dijadikan produk.
b. Dasar Teori
Perangkaian adalah proses menyatukan satu jenis produk dengan
pelengkap produk yang di satukan dengan perakat sehingga berbentuk
suatu produk mentah.
c. Alat dan Bahan
1. Mesin bor tangan
2. Tukul
3. Paku
4. Tang
5. Lem korea
6. Kayu/produk
d. Prosedur Kerja
1. Bahan yang akan dirangkai disiapkan
2. Setiap dudukan direkatkan jika produk memiliki dua jenis dudukan
lalu dilem
3. Paku dipasang jika salah satu dudukkan memiliki tebal lebih dari 2
cm, kemudian potong bagian atas paku menggunakan tang
4. Bor bagian bawah bodi yang akan dijadikan produk untuk
disatukan dengan dudukan produk agar bodi produk tidak pecah
saat disatukan
5. Lalu bodi disatukan dengan dudukan yang telah di pasang paku,
lalu berikan sedikit bubuk kayu di antara bodi dan dudukan
kemudian di lem hingga rata agar tidak lepas
e. Hasil yang Ingin Dicapai
Produk mentah dengan berbagai model dan bentuk sesuai
dengan contoh produk yang di buat.
??
f. Pembahasan
Dalam perangkaian kayu harus dengan ketelitian pada proses pemasangan paku yang harus berada tepat pada bagian tengah dudukan kayu karena akan mempengaruhi proses selanjutnya
C. Finishing
1. Pemberian Filler
a. Tujuan
Untuk mengisi, menutup pori-pori, dan celah-celah yang terdapat
pada kayu.
b. Dasar Teori
Wood filler adalah pengisi pori-pori kayu yang memiliki daya isi ke
dalam pori-pori (pore filling ability) yang baik, mudah diamplas dan cepat
kering tanpa harus menunggu lama.
c. Alat dan Bahan
1. Kuas 2. Kaleng kosong 3. Air Nailer 4. Wood filler 5. Tinner 6. Kayu/produk d. Prosedur Kerja
1. Disiapkan tempat dan bahan yang akan diberi filler
2. Wood filler dicampur dengan tinner secukupnya lalu aduk sampai
3. Kemudian oles pada produk sampai merata, jika bagian depan
produk akan ditempelkan plat untuk bagian tengahnya tidak perlu
diberi filler
4. Lalu dijemur selama 5 menit sampai wood filler kering
5. Kemudian tembak dengan paku pada bagian produk yang belum
dipaku
e. Hasil yang Dicapai
Pori-pori pada kayu terisi penuh dan kayu tidak akan berubah
bentuk sehingga proses selanjutnya lebih maksimal.
f. Pembahasan
Pada proses pemberian filler perlu diperhatikan adalah keenceran
wood filler jika wood filler terlalu encer dan kental maka hasilnya kurang
maksimal.
2. Pendempulan 1
a. Tujuan
Untuk menutupi cacat dan kerusakan yang terdapat pada kayu
seperti lubang akibat gigitan serangga, pecah/retak, dan bagian kasar
pada saat kayu di olah.
b. Dasar Teori
Suatu kegiatan perbaikan terhadap permukaan dan sisi kayu dari
cacat alami maupun cacat teknis dengan menggunakan dempul.
c. Alat dan Bahan
1. Scrap
2. Kaleng kosong
??
4. Tinner
5. Produk mentah
d. Prosedur Kerja
1. Bahan disiapkan yang akan di dempul
2. Jika dempul terlalu kental tambahkan tinner secukupnya agar
dempul tidak terlalu kental, lalu aduk hingga rata
3. Bila terdapat retak dan lubang besar pada kayu tutup dengan
serbuk kayu dan dilem terlebih dahulu
4. Kemudian dempul dioles ke bagian yang cacat seperti lubang
bekas gigitan serangga, pacah/retak, dan bagian yang kasar
sampai kerusakan dan cacat yang terdapat pada kayu tertutup
rata
5. Lalu dijemur selama 5 menit sampai dempul kering merata
e. Hasil yang Dicapai
Kayu menjadi rata dan tidak terdapat cacat atau rusak pada kayu
yang akan dijadikan produk sehingga proses finishing kayu mendapat
hasil yang maksimal.
f. Pembahasan
Dempul yang digunakan adalah dempul yang memiliki kekentalan
dan warna dempul yang disesuaikan dengan warna dan jenis kayu.
3. Pengamplasan 1
a. Tujuan
Untuk menghaluskan kayu dan meratakan bagian kayu yang
didempul agar kayu menjadi rata dan tidak terdapat bekas bercak dempul
b. Dasar Teori
Pengamplasan adalah kegiatan untuk mengikis atau
menghaluskan permukaan benda kerja dengan cara digosokkan dan
membuat permukaan benda-benda menjadi lebih halus dengan cara
menggosokkan salah satu permukaan amplas yang telah ditambahkan
bahan yang kasar kepada permukaan benda tersebut.
c. Alat dan Bahan
1. Mesin amplas tangan (sander)
2. Kertas amplas no P. 150/180
3. Kayu/produk
d. Prosedur Kerja
1. Disiapkan bahan yang akan diamplas
2. Lalu diamplas produk dengan mesin sesuai dengan arah serat
kayu sehingga produk benar-benar halus dan rata tanpa
meninggalkan bercak bekas dempul
3. Kemudian diamplas secara manual pada bagian produk yang
terjangkau dengan mesin dan pada pinggiran kayu sampai halus
e. Hasil yang Dicapai
Dempul pada kayu menjadi rata dan kayu menjadi halus dan licin.
f. Pembahapsan
Pengamplasan pada kayu harus sesuai dengan arah serat kayu
??
4. Sanding Sealer 1
a. Tujuan
Untuk menutup dan merapatkan pori-pori yang terdapat pada kayu
sehingga membentuk suatu dasar yang padat, keras dan halus .
b. Dasar Teori
Sanding sealer merupakan sebagai alas untuk pengecatan kayu.
Untuk lebih menutup dan merapatkan pori -pori kayu, mencegah
peresapan top coat ke dalam kayu, serta mempunyai daya tutup pori-pori
yang besar, mudah diampelas, cepat kering, keras tapi fleksibel dan tidak
mudah retak.
c. Alat dan Bahan
1. Spet/spray gun 2. Kompresor 3. Selang 4. Sendok 5. kaleng kosong 6. Kayu/Produk mentah
7. Sanding sealer impra NC 141
8. Sanding sealer impra melamine 9. Tinner
10. Impra Hardener
d. Prosedur Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan di berikan sanding sealer
2. Dicampur sanding sealer impra NC (nitrocellulose) 141 dengan
1 liter tinner (1:1). Jika menggunakan sanding sealer impra
melamine dengan komposisi = 1 liter sanding sealer impra melamine : 1,5 liter tinner (1:1,5) : Hardener secukupnya, lalu aduk
sampai bahan tercampur rata
3. Sebelum diberikan sanding sealer terlebih dahulu produk di
jemur/panaskan sampai kayu hangat
4. Kemudian disemprotkan sanding sealer ke produk dari bagian atas
ke bawah sampai merata, jika bagian depan produk akan
ditempelkan plat untuk bagian di tengahnya tidak perlu diberi
sanding sealer
5. Kayu/produk dijemur selama 5 menit sampai sanding sealer kering
e. Hasil yang Dicapai
Serat kayu tetap terjaga dan pori-pori kayu tertutup dan menjadi
rapat sehingga permukaan kayu lebih terlindungi.
f. Pembahasan
Yang perlu diperhatikan diproses ini adalah saat penyemprotan
sanding sealer yang harus rata, jika sanding sealer tidak rata maka
??
5. Pendempulan 2
a. Tujuan
untuk menutupi cacat dan kerusakan yang terlihat setelah kayu di
sanding sealer.
b. Dasar Teori
Pendempulan adalah suatu kegiatan perbaikan ulang terhadap
permukaan dan sisi kayu dari pengampelasan yang tak rata, dempul yang
tidak merata dan lubang kecil yang belum didempul.
c. Alat dan Bahan
1. Scrap
2. Kaleng kosong
3. Wood filler/Dempul
4. Kaypu/produk
d. Prosedur Kerja
1. Disiapkan bahan yang akan didempul ulang
2. Lalu produk dioles dempul pada permukaan kayu yang masih terlihat
lubang kecil, retak, kasar, dan tidak rata pada permukaan kayu
setelah dilakukan sanding sealer sampai tertutup rata
3. Lalu kayu dijemur sampai dempul kering merata
e. Hasil yang Dicapai
Kayu menjadi rata dan tidak terdapat cacat atau rusak pada kayu
yang akan dijadikan produk sehingga proses selanjutnya kayu mendapat
f. Pembahasan
Pada proses ini diperlukan ketelitian pada saat pemberian dempul
ulang pada bagian yang cacat atau bagian yang belum rata untuk
mendapatkan hasil yang maksimal.
6. Pengamplasan 2
a. Tujuan
Untuk meratakan dan menghaluskan dempul dan sanding sealer
pada kayu.
b. Dasar Teori
Pengamplasan adalah kegiatan untuk mengikis atau
menghaluskan permukaan benda kerja dengan cara digosokkan dan
membuat permukaan benda-benda menjadi lebih halus dengan cara
menggosokkan salah satu permukaan amplas yang telah ditambahkan
bahan yang kasar kepada permukaan benda tersebut.
c. Alat dan Bahan
1. Mesin amplas tangan (sander)
2. Kertas amplas no P 240
3. Kayu/produk
d. Prosedur Kerja
1. Disiapkan bahan yang akan diamplas
2. Lalu diamplas kayu dengan mesin sesuai dengan arah serat kayu
sehingga kayu halus dan rata tanpa ada bekas dempul yang
tertinggal
3. Kemudian diamplas secara manual pada bagian produk yang
??
e. Hasil Yang Dicapai
Kayu menjadi lebih halus, rata dan licin.
f. Pembahasan
Pengamplasan pada kayu harus sesuai dengan arah serat kayu
dan menggunakan kertas amplas yang telah di tentukan.
7. Sanding Sealer 2
a. Tujuan
Untuk mempertebalkan sanding sealer pertama dan sebagai cat
dasar pada kayu yang akan dijadikan produk.
b. Dasar Teori
Sanding sealer merupakan sebagai alas untuk pengecatan kayu.
Untuk lebih menutup dan merapatkan pori-pori kayu dan mencegah
peresapan top coat ke dalam kayu, serta mempunyai daya tutup pori-pori
yang besar, mudah diampelas, cepat kering, keras tapi fleksibel dan tidak
mudah retak.
c. Alat dan Bahan
1. Spet/Spray gun 2. Kompresor 3. Selang 4. Sendok 5. kaleng kosong 6. Kayu/produk mentah
7. Sanding sealer impra NC 141 8. Sanding sealer impra melamine 9. Tinner
10. Hardener
11. Kain
d. Prosedur Kerjaa
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan di berikan sanding sealer
2. Dicampur sanding sealer impra NC (nitrocellulose ) 141 dengan
tinner, dengan komposisi= 1 liter sanding sealer impra NC 141 : 1
liter tinner (1:1). Jika menggunakan sanding sealer impra melamine,
dengan komposisi= 1 liter sanding sealer impra melamine : 1,5 liter
tinner (1:1,5) : Hardener secukupnya, lalu aduk sampai bahan
tercampur rata
3. Terlebih dahulu produk di jemur/panaskan sampai kayu hangat
supaya sanding sealer cepat kering
4. Sebelum disemprot dengan sanding sealer, kayu dibersihkan dengan
kain hingga bersih, kemudian semprotkan sanding sealer ke produk
dari bagian atas ke bawah sampai merata, jika bagian depan produk
akan ditempelkan plat untuk bagian di tengahnya tidak perlu diberi
sanding sealer
e. Hasil yang Dicapai
Sanding sealer pada kayu menjadi tebal dan rata.
f. Pembahasan
Yang perlu diperhatikan dalam proses ini adalah saat
penyemprotan sanding sealer yang harus tebal dan rata jika sanding
??
8. Pengamplasan 3
a. Tujuan
Untuk meratakan dan menghaluskan sanding sealer pada kayu
sebelum diberi warna.
b. Dasar Teori
Pengamplasan adalah kegiatan untuk mengikis atau
menghaluskan permukaan benda kerja dengan cara digosokkan dan
membuat permukaan benda-benda menjadi lebih halus dan rata dengan
cara menggosokkan salah satu permukaan amplas yang telah
ditambahkan bahan yang kasar kepada permukaan benda tersebut.
c. Alat dan Bahan
1. Kertas amplas no P. 360
2. Kayu/produk mentah
d. Prosedur Kerja
1. Siapkan bahan yang akan diamplas
2. Lalu amplas kayu/produk secara manual agar sanding sealer
menjadi rata dan halus
e. Hasil yang Dicapai
Sanding sealer pada kayu menjadi halus dan rata
f. Pembahasan
Pada proses ini kayu harus dihaluskan secara merata jika tidak
9. Pewarnaan
a. Tujuan
Untuk memberikan warna pada kayu serta untuk menyamakan
warna kayu jika kayu menggunakan warna natural.
b. Dasar Teori
Wood Stain adalah pewarna kayu dengan penampilan
warna-warna transparan yang cerah, tidak cepat pudar sehingga dapat
menonjolkan keindahan alami kayu. Sehingga kayu yang diberi warna
lebih indah dan menarik.
c. Alat dan Bahan
1. Spet/spray gun 2. Kompresor 3. Selang 4. Sendok 5. Kain 6. Kaleng kosong 7. Kayu/produk 8. Pewarna kayu 9. Clear dof/impra NC -141 d. Prosedur Kerja
1. Disiapkan bahan yang akan di berikan warna
2. Ditambahkan clear dof/impra NC -141 secukupnya kedalam
pewarna kayu yang sudah di tentukan agar warna tidak terlalu
??
3. Dijemur/dipanaskan kayu sampai hangat agar warna kayu cepat
kering
4. Sebelum disemprot dengan pewarna kayu harus dibersihkan
dengan kain sampai bersih, kemudian semprot warna kayu
keproduk dari bagian atas kebawah sampai merata, jika pada
bagian depan produk akan ditempelkan plat untuk bagian
tengahnya tidak perlu diberikan warna
e. Hasil yang Dicapai
kayu yang semulanya berwarna natural setelah diberi pewarna
akan menambah nilai seni tersendiri pada kayu yang akan dijadikan
produk.
f. Pembahasan
Pada proses ini penyemprotan warna harus rata dan tidak ada
bagian yang tebal dan tipis jika produk yang diberi warna tidak rata maka
hasilnya akan kurang maksimal
10. Clear/Coating
a. Tujuan
Untuk melindungi warna kayu dan untuk mengkilapkan warna
kayu
b. Dasar Teori
Clear/coating merupakan salah satu cara untuk memperindah dan
membuat finishing pada produk. Pada intinya, teknik ini adalah mengecat
produk mentah dengan menggunakan cat yang disemprot. teknik ini juga
sering diterapkan pada pintu dan jendela, dinding, serta bagian bangunan
c. Alat dan Bahan 1. Spet/spray gun 2. Kompresor 3. Selang 4. Sendok 5. Kaleng kososng 6. Kain 7. Kayu/produk mentah 8. Clear gloss 9. Clear Dof 10. Tinner 11. Hardener d. Prosedur Kerja
1. Disiapkan bahan yang akkan di berikan clear
2. Dicampur clear gloss dengan tinner, dengan komposisi= 1 liter
clear gloss : 1 liter tinner (1:1) : Hardener secukupnya. Jika
menggunakan clear dof, dengan komposisi= 1 liter clear dof : 1,5
liter tinner (1:1,5), lalu aduk sampai bahan tercampur rata
3. Terlebih dahulu kayu dijemur/dipanaskan sampai hangat supaya
clear cepat kering
4. Sebelum disemprot dengan clear kayu dibersihkan dengan kain
sampai bersih, kemudian semprotkan clear gloss atau clear dof
dari bagian atas ke bawah sampai merata, jika bagian depan
produk akan ditempelkan plat untuk bagian tengahnya tidak perlu
??
5. Untuk produk yang menggunkan clear gloss di keringkan pada
tempat yang teduh tanpa terkena sinar matahari langsung,
sedangkan produk yang menggunakan clear dof dapat dikeringkan
di bawah sinar matahari langsung
e. Hasil yang Dicapai
1. Menjaga kestabilan kayu dari pengaruh cuaca
2. Melapisi permukaan kayu
3. Mempertajam serat kayu
4. Mengkilapkan permukaan kayu
5. Menambah keawetan kayu
f. Pembahasan
Untuk pemberian clear pada kayu yang perlu diperhatikan adalah
takaran bahan clear dan tinner jika tidak sesuai takaran maka hasilnya
pun tidak maksimal.
D. Pengepakan
1. Pengepakan
a. Tujuan
Untuk menjaga kondisi barang agar tetap utuh dan tidak rusak
pada saat pengiriman produk
b. Dasar Teori
Pengepakan adalah bagian terluar yang membungkus suatu
produk dengan tujuan untuk melindungi produk dari cuaca, guncangan
dan benturan-benturan, terhadap benda lain. Setiap bentuk barang
dengan packing/pengepakan sejauh hal tersebut memang melindungi
isinya.
c. Alat dan Bahan
1. Gunting
2. Lakban besar ukuran 5 cm warna putih/transparan
3. Lakban kecil ukuran 1 cm warna putih/transparan
4. Kardus atau Box
5. Produk/kayu
6. Koran bekas
7. Foam packing
d. Prosedur Kerja
1. Disiapkan bahan yang akan di packing
2. Dibersihkan produk yang akan dipak dengan kain
3. Untuk produk lokal kayu dibungkus menggunakan koran bekas,
sedangkan untuk produk ekspor kayu dibungkus menggunakan
foam packing agar produk tidak rusak
4. Dimasukan dan disusun produk ke dalam box atau kardus dengan
rapi dan berikan pada celah-celah susunan produk dengan kertas
bekas sebagai ganjalan dan ditutup dan ditempelkan alamat
tujuan pengiriman pada permukaan box lalu diberi lakban agar box
atau kardus tidak terbuka atau rusak.
e. Hasil yang Dicapai
??
f. Pembahasan
Pada proses packing/pengepakan yg perlu di perhatikan adalah
pada saat menyusun barang di dalam box atau kardus harus benar-benar
1. Produk yang dihasilkan dari di UD. Evia Craft Production adalah: Plakat
piagam/penghargaan, Dudukan piala, Rekal, Tempat lilin, Kotak
perhiasan, Nampan, Mangkok, Piring, Gelas, Satu set teko, Vas bunga,
Tampat koran dari Bahan Baku kayu Sonokeling dan Mahoni berupa
potongan kayu gelondong yang didapat dari limbah industri mebel,
dengan tujuan pemasaran dalam negeri dan luar negeri.
2. Target produksi yang direncanakan dapat tercapai apabila ketersediaan
bahan baku mencukupi, kondisi mesin dalam keadaan baik dan sumber
daya manusianya disiplin, sehat dan tepat waktu.
3. Pada proses produksi, bahan baku yang ada dipergunakan semaksimal
mungkin sehingga limbah yang terbuang dapat diminimalisir.
B. Saran
1. Agar lebih memperhatikan keselamatan pekerja, karena efektivitas
produksi tergantung dari kondisi pekerja.
2. Pemanfaatan limbah harus lebih dioptimalkan karena selain agar tidak
menumpuk dan hanya dibakar, juga dapat memberikan pendapatan yang
menguntungkan untuk perusahaan.
3. Perawatan pada alat dan mesin harus diperhatikan, sehingga pemakaian
??
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1997. Pengawetan Kayu dan Bambu. Tim ELSSPAT. Puspa Swara. Jakarta.
Budianto, A, D. Sistem Pengeringan Kayu. Kanisius;1996. Ygyakarta.
Dumanauw, J, F. Mengenal Kayu. Kanisisus;2010. Yogyakarta.
Evia Craft:Kerajinan Kayu Mahoni dan Sonokeling. Edisi 26 Agustus 2011. Diunduh dari www.bantulbiz.com, 13 mei 2016.
Haygreen and Bowyer, 1993. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu (Suatu Pengantar). Diterjemahkan oleh Sujipto A. Hadikusumo. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Muchoyar, I dan Darmono. 1995. Pengetahuan Finishing dengan Bahan
Melamine. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Yogyakarta:
FPTK IKIP Yogyakarta.
Prasetyo, A, H. dkk.. 1999. Alat dan Bahan Finishing. PPG Teknologi. Bandung.
Prasetyo, A, H. dkk.. 1999. Finishing Cat dan Politur. PPG Teknologi. Bandung.
Siregar IZ, Yunanto T, Ratnasari J. Kayu Sengon. Penebar Swadaya; 2000.h.62-3. Semarang.
Sunaryo, A. 1995. Peningkatan Produktivitas Bagian Finishing Melalui Aspek Aplikasi. Pusat Pengembangan dan Pelatihan Industri Kayu (PPPIK-PIKA). Semarang.
??
Gambar 5: Struktur Organisasi UD. Evia Craft Production
BENDAHARA KEPALA PERSIAPAN BAHAN BAKU KEPALA BAGIAN PENGOLAHAN KEPALA BAGIAN PENGEPAKAN KEPALA BAGIAN FINISHING KARYAWAN W D />/< SEKRETARIS W D /D /E '
Gambar 6: Lay Out Proses Produksi UD. Evia Craft Production A. Persiapan Bahan Baku
Penggergajian Pengawetan Pengeringan Pembubutan B. Pengolahan Pembentukan Pengamplasan 1 Pengamplasan 2 Perangkaian C. Finishing Pemberian Filler Pendempulan 1 Pendempulan 2 Pengamplasan 2 Pengamplasan 1 Sanding Sealer 1 Pewarnaan Pengamplasan 3 Sanding Sealer 2 Clear/Coating D. Pengepakan
??
Gambar 7: Pembelian Kayu Gelondong
Gambar 9: Proses Pemberian Bahan Pengawet
??
Gambar 11: Proses Menyerut Pinggiran Kayu
Gambar 13: Proses Menyerut P ermukaan Kayu
??
Gambar 15: Proses Pembuatan Pola pada Kayu
Gambar 17: Proses Pemberian Profile
??
Gambar 19: Proses Mengamplas Sisi Kayu
Gambar 21: Proses Menyatukan Bodi dan Dudukan
??
Gambar 23: Proses Pendempulan
Gambar 25: Proses Penyemprotan Sanding Saeler
??
Gambar 27: Proses Pemberian Clear