• Tidak ada hasil yang ditemukan

MIKROFISIKA AWAN DAN HUJAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MIKROFISIKA AWAN DAN HUJAN"

Copied!
282
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Bayong Tjasyono HK
  • Pengajar:
    • Drs. Hadi Widiatmoko, M.Si
    • Prof. Dr. Mezak A. Ratag
  • Sekolah: Institut Teknologi Bandung
  • Mata Pelajaran: Meteorologi
  • Topik: Mikrofisika Awan Dan Hujan
  • Tipe: buku
  • Tahun: 2012
  • Kota: Jakarta

I. Pendahuluan

Bab Pendahuluan buku Mikrofisika Awan dan Hujan memberikan landasan penting bagi pemahaman materi selanjutnya. Bagian ini membahas atmosfer ekuatorial Indonesia sebagai konteks geografis utama, menyoroti pentingnya wilayah ini dalam studi mikrofisika awan dan hujan. Sejarah perkembangan mikrofisika awan dan hujan diulas secara ringkas, menunjukan evolusi pemahaman kita tentang proses-proses pembentukan awan dan presipitasi. Klasifikasi awan berdasarkan berbagai parameter seperti mekanisme pembentukan, tinggi dasar awan, dan jenis partikel penyusun dijelaskan dengan detail, dilengkapi dengan tabel deskriptif yang memudahkan pemahaman mahasiswa. Penggunaan gambar-gambar awan yang beragam juga memperkaya pemahaman visual.

1.1. Atmosfer Ekuatorial Indonesia

Bagian ini menjelaskan karakteristik unik atmosfer ekuatorial Indonesia, mencakup lapisan atmosfer, proses konveksi yang aktif, dan pengaruhnya terhadap sirkulasi global. Diskusi mengenai definisi 'tropis' dan 'ekuatorial', serta perbedaannya, memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang konteks geografis studi. Pengaruh fenomena seperti Osilasi Tengah Tahunan (Semiannual Oscillation) dan ENSO (El Niño – Southern Oscillation) juga dibahas, menekankan pentingnya pemahaman atmosfer ekuatorial dalam konteks iklim global. Bagian ini mengarahkan mahasiswa untuk memahami kompleksitas interaksi atmosfer di wilayah ekuator, pentingnya observasi, dan dampaknya terhadap iklim global.

1.2. Sejarah Mikrofisika Awan dan Hujan

Bagian ini menelusuri perkembangan sejarah mikrofisika awan dan hujan, dimulai dari pemahaman awal yang keliru mengenai komposisi awan hingga penemuan-penemuan kunci yang mengarah pada teori-teori modern. Kontribusi para ilmuwan seperti Coulier, Aitken, Wilson, Wegener, dan Bergeron diulas, menunjukkan bagaimana pemahaman tentang proses pembentukan awan dan presipitasi berkembang secara bertahap. Perkembangan ini dijelaskan secara kronologis, menunjukkan kemajuan ilmiah dan menekankan pentingnya pendekatan ilmiah yang berkelanjutan dalam penelitian. Mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana teori-teori berkembang dan saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

1.3. Klasifikasi Awan

Klasifikasi awan dibahas secara rinci, meliputi klasifikasi berdasarkan mekanisme pembentukan (stratiform dan cumuliform), tinggi dasar awan (rendah, menengah, tinggi), dan jenis partikel penyusun (awan tetes dan awan es). Tabel 1.1 memberikan deskripsi yang komprehensif tentang berbagai jenis awan, membantu mahasiswa untuk mengidentifikasi dan membedakan berbagai jenis awan berdasarkan karakteristiknya. Penjelasan mengenai proses pembentukan tetes air dan kristal es dalam awan, serta perbedaan sifat fisik keduanya, memberikan dasar yang kuat untuk memahami proses mikrofisika awan yang lebih kompleks. Bagian ini menekankan pentingnya observasi awan dan interpretasinya dalam meteorologi.

1.4. Bentuk Utama Awan

Bagian ini membahas tiga bentuk utama awan (berserat, lapisan, dan gumpalan) dengan ilustrasi Gambar 1.1, memberikan pemahaman visual yang penting bagi mahasiswa. Penjelasan mengenai sepuluh jenis awan (genus) dan subjenisnya, memberikan kerangka klasifikasi yang sistematis. Pentingnya studi awan dan kaitannya dengan peramalan cuaca jangka pendek dijelaskan, menunjukkan relevansi praktis dari materi yang dipelajari. Contoh-contoh interpretasi bentuk awan dan kaitannya dengan kondisi atmosfer, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.2 dan 1.3, menunjukkan aplikasi praktis dari pengetahuan ini dalam meteorologi.

1.5. Awan dalam Berita Sinop

Bagian ini menjelaskan kode dan simbol yang digunakan dalam berita sinop awan, memberikan pemahaman praktis tentang bagaimana data awan direpresentasikan dan dikomunikasikan dalam meteorologi operasional. Penjelasan tentang arti dari setiap simbol, seperti N, Nh, CL, CM, CH, dan Ns, memberikan wawasan tentang detail informasi yang terkandung dalam berita sinop. Bagian ini menghubungkan materi teori dengan praktik di lapangan, menunjukkan bagaimana pengetahuan tentang klasifikasi awan diterapkan dalam konteks observasi dan pelaporan meteorologi.

1.6. Resumé

Bagian resume memberikan ringkasan dari keseluruhan bab 1, membantu mahasiswa untuk mengulang dan memperkuat pemahaman mereka tentang konsep-konsep kunci yang telah dibahas. Bagian ini berfungsi sebagai alat untuk menguji pemahaman mahasiswa sebelum melanjutkan ke bab berikutnya. Resume juga bisa berfungsi sebagai panduan bagi mahasiswa untuk mengidentifikasi poin-poin penting yang perlu dipelajari lebih lanjut.

II. Termodinamika Udara

Bab ini membahas prinsip-prinsip termodinamika yang mendasari proses-proses di atmosfer. Materi mencakup termodinamika udara kering dan basah, persamaan keadaan, serta peubah-peubah yang terkait dengan kelembaban. Pemahaman bab ini penting untuk menjelaskan perubahan fasa uap air dan pertumbuhan partikel awan. Penggunaan diagram termodinamika, seperti tephigram, membantu mahasiswa memvisualisasikan proses-proses yang terjadi di atmosfer.

2.1. Termodinamika Udara Kering

Menjelaskan hukum-hukum dasar termodinamika yang berlaku pada udara kering, misalnya hukum gas ideal dan konsep energi internal dan entropi. Penjelasan disertai persamaan matematis yang relevan untuk memudahkan pemahaman mahasiswa yang memiliki latar belakang fisika. Menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip termodinamika di aplikasikan untuk menganalisis perubahan temperatur dan tekanan udara di atmosfer.

2.2. Persamaan Keadaan Udara Kering

Membahas persamaan keadaan udara kering dan aplikasinya dalam menghitung parameter-parameter atmosfer seperti densitas, temperatur, dan tekanan. Menekankan pentingnya persamaan ini dalam memahami perilaku udara kering di atmosfer, terutama dalam kaitannya dengan proses-proses adiabatik. Menunjukkan bagaimana persamaan tersebut dapat digunakan dalam model-model numerik untuk simulasi cuaca.

2.3. Bentuk Alternatif Persamaan Energi dan Entropi

Menyajikan bentuk alternatif persamaan energi dan entropi untuk udara kering, yang sering digunakan dalam meteorologi. Menjelaskan bagaimana bentuk-bentuk alternatif ini memudahkan dalam perhitungan dan analisis termodinamika. Membandingkan dan kontras berbagai bentuk persamaan energi dan entropi untuk membantu mahasiswa memahami konsep yang mendasari.

2.4. Persamaan Keadaan Udara Basah

Membahas persamaan keadaan yang mempertimbangkan keberadaan uap air dalam udara, menjelaskan kompleksitas tambahan yang disebabkan oleh keberadaan uap air. Menjelaskan konsep tekanan uap jenuh dan bagaimana hal itu memengaruhi kondisi atmosfer. Menyediakan dasar untuk memahami proses kondensasi dan pembentukan awan.

2.5. Peubah Kebasahan

Menjelaskan berbagai peubah yang digunakan untuk menggambarkan tingkat kebasahan udara, seperti kelembaban spesifik, kelembaban relatif, dan temperatur titik embun. Membandingkan dan kontras berbagai peubah kebasahan dan menunjukkan aplikasinya dalam meteorologi. Menunjukkan bagaimana peubah kebasahan digunakan untuk memprediksi kemungkinan pembentukan awan dan presipitasi.

2.6. Resumé

Memberikan ringkasan dari keseluruhan bab 2, menekankan konsep-konsep kunci yang telah dibahas. Membantu mahasiswa untuk mengulang dan memperkuat pemahaman mereka tentang termodinamika udara kering dan basah. Menyiapkan mahasiswa untuk mempelajari bab selanjutnya yang membahas proses fisis uap air.

Referensi Dokumen

  • Mikrofisika Awan dan Hujan ( Prof. Dr. Bayong Tjasyono HK., DEA. )
  • Diplome d’Etudes Approfondies (DEA), Meteorologi ( Universite’ de Clermont, Perancis )
  • Monsoon Experiment ( World Meteorological Organization (WMO) )

Gambar

Gambar 1.1. Bentuk utama awan : berserat, lapisan, dan gumpalan.
Gambar 1.2. Awan stratus dan hubungannya dengan profil temperatur.
Gambar 1.3.  Jenis cumulus dalam lapisan inversi. (a) Awan cerobong, (b) cumulus  dempak.
Tabel 1.2. Arti sandi awan rendah, menengah dan tinggi. Sandi Angka Awan Rendah (C ) L Awan Menengah(C )M Awan Tinggi(C )H 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 X
+7

Referensi

Dokumen terkait