MASYITHOH KALIWUNGU KENDAL
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Dalam
Ilmu Pendidikan Islam Oleh :::: DWI SUSANTI NIM : 073111096
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
ii IAIN Walisongo Semarang
di Semarang
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:
Judul : Aplikasi Metode Beyond Centers And Circles Time (BCCT) Dalam Pembelajaran Materi Imtak Di Playgroup Masyithoh Kaliwungu Kendal
Nama : Dwi Susanti
NIM : 073111096
Jurusan : Pendidikan Agama Islam Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam siding Munaqasyah.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Pembimbing I,
H. Mursid, M.Ag.
iii IAIN Walisongo Semarang
di Semarang
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:
Judul : Aplikasi Metode Beyond Centers And Circles Time (BCCT) Dalam Pembelajaran Materi Imtak Di Playgroup Masyithoh Kaliwungu Kendal
Nama : Dwi Susanti
NIM : 073111096
sJurusan : Pendidikan Agama Islam Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam siding Munaqasyah.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Pembimbing II,
Drs. Karnadi, M.Pd.
iv
PENGESAHAN
Naskah skripsi dengan:Judul : Aplikasi metode Beyond Centers and Circles Time (BCCT) Dalam Pembelajaran Materi Imtak di Playgroup Masyithoh Kaliwungu Kendal
Nama : Dwi Susanti
NIM : 073111096
Jurusan : Pendidikan Agama Islam Program studi : Pendidikan Agama Islam
Telah diujikan dalam sidang munaqasyah oleh Dewan Penguji Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo dan dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam.
Semarang, 10 Juni 2011
Dewan Penguji
Ketua, Sekretaris,
DR. Abdul Wahib, M.Ag DR. Musthofa, M.Ag NIP: 19600615 199103 1004 NIP: 19710403 199603 1002
Penguji I, Penguji II,
Drs. Ahmad Suja’i, M.Ag Lift Anis Ma’sumah, M.Ag NIP: 19511005 197612 1001 NIP: 19720928 199703 2001
Pembimbing I, Pembimbing II
H. Mursid, M.Ag. Drs. Karnadi, M.Pd. NIP. 196703052001121001 NIP. 196803171994031003
v
Nama : Wahab Hasbullah
NIM : 073111096
Jurusan/Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Menyatakan bahwa Skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.
Semarang, 17 Mei 2011 Saya yang menyatakan,
Dwi Susanti NIM : 073111096
vi
Kaliwungu Kendal.
Penulis : Dwi Susanti NIM : 073111096
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Bagaimana penerapan Metode Beyond Centers And Circles Time (BCCT) Dalam Pembelajaran Materi Imtak Di Playgroup Masyithoh Kaliwungu Kendal (2) Bagaimana proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik di Playgroup Masyithoh Kaliwungu Kendal
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan field research atau penelitian lapangan dengan teknik analisis data secara deskriptif kualitatif. Peneliti langsung terjun ke lapangan, tempat penelitian melihat keadaan disana kemudian memperoleh berbagai informasi dan data-data yang dibutuhkan. Kemudian data-data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan pendekatan deduktif dan induktif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Beyond Centers And
Circles Time (BCCT) Dalam Pembelajaran Materi Imtak Di Playgroup Masyithoh
Kaliwungu Kendal telah direalisasikan dengan baik dalam bentuk pembelajaran di sentra Imtak (agama) yang diintegrasikan ke sentra lainnya. Proses pembelajaran dengan menggunakan empat pijakan yaitu pijakan lingkungan, pijakan sebelum main, pijakan saat main dan pijakan setelah main. Yang mana dalam kegiatan bermain harus mencakup tiga jenis main yaitu main sensorimotor, main peran, dan main pembangunan. Prestasi hasil belajar peserta didik di Playgroup Masyithoh terbilang baik, hal ini bisa dilihat dari kemampuan anak menerapkan materi Imtak yang diajarkan seperti: tahfidz surat-surat pendek, hafalan hadist kebersihan, doa sehari-hari, aqidah, akhlak, dan praktek ibadah. Materi imtak tersebut dilakukan setiap hari oleh anak dengan menggunakan metode bermain, bercerita, bernyanyi, keteladanan, pembiasaan dan demonstrasi. Materi Imtak tersebut diajarkan secara langsung dengan menghadirkan dunia nyata pada anak, sehingga anak tidak sekedar mendengarkan materi yang disampaikan tetapi anak juga mengalaminya.
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan masukan bagi para mahasiswa, para pendidik dan pengasuh anak usia dini, para peneliti serta semua pihak yang membutuhkan di lingkungan IAIN Walisongo.
vii
rahmat, taufik, hidayah, dan bimbingan serta kekuatan lahir batin kepada diri peneliti, sehingga skripsi ini yang merupakan hasil dari sebuah usaha ilmiah dan proses akademik yang cukup panjang dapat terselesaikan sebagaimana mestinya.
Sholawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad saw, sosok historis yang membawa proses transformasi dari masa ”uncivilized” yang gelap gulita ke arah alam yang sangat terang benderang dan berperadaban ini, juga kepada para keluarga, sahabat serta semua pengikutnya yang setia disepanjang zaman.
Penelitian yang berjudul” Aplikasi Metode Beyond Centers And Circles Time (Bcct) Dalam Pembelajaran Materi Iman dan Takwa Di Playgroup Masyithoh Kaliwungu Kendal” ini pada dasarnya disusun untuk memenuhi
persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. Oleh karena itu, karya ilmiah ini merupakan kulminasi-formal akademik yang sudah barang tentu tetap disertai akuntabilitas akademik juga dan bukan hanya untuk memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga sebagai media untuk memberikan wacana dan solusi dalam dunia kependidikan..
Dalam proses penyusunan penelitian tersebut, peneliti banyak mendapatkan bantuan, bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, oleh karena itu izinkan peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada hamba-hamba Allah yang telah membantu peneliti sehingga karya sederhana ini bisa menjadi kenyataan, bukan hanya angan dan keinginan semata. Peneliti ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :
1. DR. Suja’i, M. Ag., Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo. 2. Nasirudin, M. Ag., Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam. 3. H. Mursid, M. Ag., Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam.
4. H. Mursid M.Ag., selaku Pembimbing I (Bidang Materi), disela-sela jadwalnya yang padat telah berkenan meluangkan waktu, tenaga, dan
viii
dengan tekun dan sabar memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
6. Bapak dan Ibu Dosen yang telah membimbing, mendidik dan memberikan pencerahan untuk selalu berpikir kritis-edukatif, transformatif-inovatif dalam menggali ayat-ayat qauliyyah dan kauniyyah selama berada di lingkungan Kampus IAIN Walisongo Semarang.
7. Kepala Playgroup MASYITHOH Kaliwungu Kendal yang telah memberikan ijin kepada peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. 8. Skripsi ini saya persembahkan untuk: Kedua orang tua saya, Bapak
Rusmakno dan Ibu Mudrikah yang telah memberikan dukungan penuh baik secara moril maupun spirituil. Terima kasih banyak atas semangat yang diberikan serta tak henti-hentinya mengalirkan doa tulusnya untuk kesuksesan saya. Kakakku tersayang Agus Irfan, terima kasih telah memberi semangat bagi saya dan memberi warna indah dalam hidup ini. 9. Mas Khanif yang senantiasa memberi motivasi dan dukungan penuh.
Sahabat-sahabat PAI C 2007 tercinta Nova, Inda, Fela, Ila, Ida, Tina, Maf, dan Lia . Rekan-rekanita KSR IAIN Walisongo, santriwan dan santriwati PPRT yang sama-sama berjuang dan saling memberi dukungan. Teman-teman KKN; Fidloh, Mami, Luluk, Teni, kalian semua sangat berarti. 10. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, namun tak
terlupakan bantuannya yang turut dalam penyelesaian penelitian ini.
Semarang, 17 Mei 2010 Penulis
ix
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
NOTA PEMBIMBING ... iv
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Penegasan Istilah ... 6
C. Rumusan Masalah ... 8
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
E. Kajian Pustaka ... 9
F. Metodologi Penelitian ... 11
BAB II : METODE BEYOND CENTERS AND CIRCLES TIME (BCCT) DALAM PEMBELAJARAN MATERI IMTAK A. Metode Beyond Centers and Circles Time (BCCT) 1. Sejarah singkat ... 15
2. Pengertian BCCT ... 16
3. Tujuan BCCT ... 18
4. Bentuk-bentuk Sentra dalam BCCT ... 21
5. Langkah-langkah pelaksanaan dalam BCCT ... 25
B. BCCT Sebagai Metode Pendidikan Anak Yang Sesuai Dengan Perkembangan (Developmentally Appropriate Practice) 1. Aspek Perkembangan Anak Prasekolah ... 29
2. BCCT Sebagai Metode Pendidikan Anak Yang Sesuai Dengan Perkembangan. ... 34
C. Beyond Centers and Circles Time (BCCT) Sebagai Metode Pembelajaran Materi Iman dan Takwa (IMTAK) 1. Pengertian ... 36
x
PLAYGROUP MASYITHOH KAIWUNGU KENDAL A. Gambaran Umum Playgroup Masyithoh
1. Sejarah Berdirinya ... 49
2. Visi dan Misi ... 50
3. Letak Geografis ... 50
4. Keadaan Peserta didik ... 50
5. Keadaan Pendidik... 51
6. Sarana dan Prasarana... 52
7. Stuktur Organisasi ... 54
B. Metode Beyond Centers and Circles Time (BCCT) Dalam Pembelajaran Materi Imtak di Playgroup Masyithoh 1. Metode Beyond Centers And Circles Time (BCCT) di Playgroup Masyithoh ... 54
a. Materi Pembelajaran... 54
b. Alokasi Waktu ... 57
c. Persiapan guru ... 57
2. Penerapan metode Beyond Centers and Circles Time (BCCT) dalam pembelajaran materi imtak di Playgroup Masyithoh Kaliwungu Kendal. ... 58
a. Sentra Imtak dalam metode BCCT... 58
b. Materi imtak dalam pembelajaran melalui metode Beyond Centers and Circles Time (BCCT)... 59
c. Metode pembelajaran di sentra imtak (Agama)………. 61
d. Proses pembelajaran di sentra imtak (Agama) dengan metode Beyond Centers and Circles Time (BCCT) ... 63
e. Hasil belajar ... 66
xi KALIWUNGU KENDAL
A. Penerapan Metode Beyond Centers and Circles Time
(BCCT) ... 69 B. Pelaksanaan Metode Beyond Centers and Circles Time
(BCCT) Dalam Pembelajaran Materi Imtak ... 70 BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 75 B. Saran-saran ... 77 C. Penutup ... 77 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP
1
Taman Kanak-Kanak (TK) memang merupakan jenjang pendidikan anak usia dini. Namun, pendidikan anak usia dini bagi anak tidak hanya terbatas pada taman kkanak, melainkan juga dapat ditujukan bagi anak-anak usia 2-3 tahun.1 Jenjang pendidikan ini disebut juga dengan istilah pendidikan pra TK. Pendidikan tersebut (pra TK) memiliki peran penting dalam mempersiapkan anak Pada jenjang pendidikan tersebut diajarkan materi-materi dasar yang berhubungan dengan materi-materi pendidikan di tingkat TK. Perbedaan antara kedua tingkat pendidikan tersebut hanyalah pada pendekatan dan metode yang digunakan.
Peran penting pendidikan pra TK untuk persiapan pendidikan TK kiranya tidak berlebihan karena dalam proses pendidikan di TK seringkali anak mengalami kesulitan-kesulitan yang dapat menjadi masalah pendidikan. Salah satunya seperti tidak jarang anak yang belum pernah mendapatkan pendidikan pra TK merasa takut ketika pertama kali masuk TK. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, misalnya bertemu guru sebagai orang asing. Apalagi anak yang tidak melalui pendidikan pra TK belum terbiasa bersosialisasi dan bergaul dengan teman-teman sebayanya. Hal tersebut dinyatakan oleh Solihatun Masyhariyah selaku pengasuh di RA Masyithoh Tugurejo, kecamatan Tugu Semarang.2 Penjabaran di atas menunjukkan bahwa pendidikan pra TK memiliki peran yang sangat penting bagi anak usia dini. Khususnya membantu kesiapan anak untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Terkait dengan pendidikan pada fase usia 2-3 tahun, Langeveld sebagaimana dikutip dalam Sutari Imam B, secara spesifik menjelaskan
1
Maimunah Hasan, Pendidikan Anak Usia Dini (Jogjakarta: DIVA Press, 2010), Cet IV. Hlm. 355
2
Wawancara dengan ibu Solihatun Msyhariyah, salah satu pengasuh RA Masyithoh Tugurejo Kecamatan Tugu Semarang.
tentang batas kemampuan anak untuk menerima pendidikan secara langsung dari orang yang lebih dewasa dan bukan karena naluri kebutuhan fisiknya. Menurutnya, pendidikan dapat dilakukan ketika anak berusia tiga (3) tahun. Karena usia tersebut anak mulai mengenal adanya kewibawaan dan dapat diakhiri mendidik kalau anak itu sudah dewasa atau tidak membutuhkan pertolongan lagi. Dewasa menurut Langeveld dalam bukunya Sutari Imam Barnadib ialah dewasa dalam arti jasmaniah dan rokhaniahnya. Dewasa jasmaniah apabila umur dan pertumbuhan jasmaninya sudah memenuhi. Adapun dewasa rokhaniahnya ialah apabila anak itu sudah dapat berdiri sendiri, bertanggung jawab, susila, tidak lagi membutuhkan pertolongan-pertolongan orang lain. Dengan demikian anak itu baru sungguh-sungguh dapat dididik kalau anak berumur 3 tahun.3
Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, psikis, sosial, moral dan sebagainya. Masa kanak-kanak juga masa yang paling penting untuk sepanjang usia hidupnya. Sebab masa kanak-kanak adalah masa pembentukan fondasi dan dasar kepribadian yang akan menentukan pengalaman anak selanjutnya.4 Dilihat dari tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget seperti dikutip oleh Isjoni anak usia prasekolah berada pada tahapan praoperasional, yaitu tahapan di mana anak belum menguasai operasi mental secara logis. Periode ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan menggunakan sesuatu untuk mewakili sesuatu yang lain dengan menggunakan simbol-simbol. Melalui kemampuan tersebut anak mampu berimajinasi atau berfantasi tentang berbagai hal .meskipun cara berfikir mereka masih dibatasi oleh persepsi serta masih bersifat kaku, namun mereka sudah mulai mengerti bagaimana mengklasifikasi sesuatu berdasarkan pemahaman mereka yang masih sederhana.5 Pada tahap ini, konsep yang stabil dibentuk, penalaran
3
Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, (Yogyakarta: Andi Offset, 1995), Cet. XV, hlm. 25-26.
4
Isjoni, Model Pembelajaran Anak Usia Dini, (Bandung: Alfabeta, 2009), Cet II, hlm. 31.
5
mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis.6
Seiring dengan perkembangan sosial, anak-anak usia prasekolah juga mengalami perkembangan moral. Menurut Santrock, sebagaimana dikutip oleh Desmita, yang dimaksud dengan perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral (immoral). Tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan. Karena itu, melalui pengalamannya berinteraksi dengan orang lain (dengan orang tua, saudara, dan teman sebaya). Anak belajar memahami tentang perilaku mana yang baik, yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk, yang tidak boleh dikerjakan.7
Sehingga dalam pertumbuhan dan perkembangannya di lingkungan social tempat ia hidup perlu diasuh dan dididik sesuai dengan nilai-nilai/norma-norma yang ada di masyarakat.8 Nilai yang kita ajarkan kepada Anak melalui perbuatan bukan nasihat atau khutbah. Sebab anak-anak pada usia dini belajar melalui melihat apa yang ada disekitarnya.9 Sehingga anak mudah meniru dari kebiasaan-kebiasaan tersebut.
Karena anak usia dini sangat sensitif terhadap rangsangan dari luar, maka perilaku dan sepak terjang orang tua sangat berpengaruh terhadap anak. Cara orang tua dalam berbicara, berperilaku, dan bergaul dengan orang lain menjadi cermin bagi anak. Orang tua idealnya harus mampu memberikan teladan sempurna kepada anak-anaknya dalam bertutur sapa, berperilaku, dan bergaul. Perilaku seseorang biasanya terpengaruh dari faktor agama. Karena itu, orang tua harus memantapkan diri dalam hal agama menanamkan nilai-nilai agama yang suci dan luhur kepada anak-anaknya. Dari cahaya keimanan
6
Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), Cet IV, hlm. 130.
7
Ibid., hlm. 149.
8
Mursid,. Manajemen Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), (Semarang: Akfi Media, 2009), hlm. 31.
9
dan ketakwaan yang suci inilah keagungan moral dan ketinggian budi akan menyinari perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.10 Oleh karena itu tepatlah apabila landasan yang kokoh perlu ditanamkan kepada anak sejak usia dini. Agar pendidikan anak kita tidak dilumuri dengan tangan kotor. Dalam Islam terdapat dua konsep ajaran Rasulullah SAW. yang maknanya sangat padat dan memiliki kaitan erat dengan tujuan pendidikan yaitu “iman dan taqwa”. Kedua konsep itu tidak dapat dipisahkan. Taqwa merupakan asas, sedangkan iman merupakan pernyataan pembenaran dengan kalbu sehingga manusia terbebas dari dosa.
Anak kecil sangat membutuhkan perkembangan yang dinamis di masa pertumbuhannya, karena anak dilahirkan tidak dalam keadaan lengkap dan tidak pula dalam keadaan kosong. Ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, ia dilahirkan dalam keadaan tidak tahu apa-apa, akan tetapi ia telah dibekali dengan pendengaran, penglihatan dan kata hati, sebagai modal yang harus dikembangkan dan diarahkan kepada martabat yang mulia, mengisi dan menjadikan kehidupannya sebagai takwa kepada Allah. 11 Maka dalam hal ini membutuhkan bantuan orang dewasa untuk tumbuh dan berkembang, termasuk belajar. Karena pendidikan bagi anak usia dini sangat penting untuk menciptakan interaksi edukatif yang diarahkan bagi perkembangan optimal seluruh potensi yang dimiliki anak. Dengan anak memiliki kerangka dasar (foundation) potensi yang kuat ketika usia dini, maka akan menjadi dasar dan penopang bagi perkembangan anak memasuki pendidikan lanjutan, berkarir maupun hidup di masyarakat kelak.12 Hal itulah yang mengilhami berdirinya lembaga bagi pendidikan bagi anak usia dini, seperti Kelompok Bermain (Playgroup). Karena di sinilah kreatifitas dan berbagai kecerdasan anak lainnya diasah dan dikembangkan.
10
Jamal Ma’mur Asmani, Manajemen Strategis Pendidikan Anak Usia Dini, (Yogyakarta, Diva Press, 2009), hlm. 75-76.
11
Muhammad ‘Ali Quthb, Sang Anak dalam Naungan Pendidikan Islam, (Bandung, CV. Diponegoro, 1993), hlm. 11.
12
Mursid, Kurikulum dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Akfi Media, Semarang, 2009. Hlm.49.
Kelompok bermain merupakan tempat bermain dan belajar bagi anak sebelum memasuki Taman Kanak-kanak. Kelompok bermain menampung anak usia 3-4 tahun.13 Dimana usia tersebut merupakan kesempatan emas bagi anak untuk belajar, sehingga disebut usia emas (golden age). Oleh karena itu, kesempatan ini hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk proses belajar anak. Rasa ingin tahu pada usia ini berada pada posisi puncak. Tidak ada usia sesudahnya yang menyimpan rasa ingin tahu anak melebihi usia dini, khususnya usia 3-4 tahun.14 Pendidikan anak usia dini dalam hal ini kelompok Bermain sebagai penyelenggara pendidikan berfungsi membina, menumbuhkan, dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal, sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangan agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang menitikberatkan bagaimana metode yang tepat diberikan kepada anak usia prasekolah agar pendidikan berjalan secara efektif dan efisien. Salah satu metode mengajar yang paling efektif di Kelompok Bermain (playgroup) adalah bermain. Pada usia yang masih sangat dini, anak-anak akan senang bila diajak bermain. Bermain merupakan cara dan jalan anak dalam berpikir dan menyelesaikan masalah. Di Kelompok Bermain (playgroup) terdapat alat permainan edukatif yang menyenangkan dan menggugah semangat belajar anak. Sehingga anak akan merasa senang dan ingin terus mengulanginya. Untuk itu peneliti mengambil judul skripsi “Aplikasi Metode Beyond Centers And Circles Time (BCCT) Dalam Pembelajaran Materi Iman Dan Takwa di Playgroup Masyithoh Kaliwungu Kabupaten Kendal”.
13
Isjoni, Op Cit., hlm 45.
14
B. Penegasan Istilah
Untuk membatasi luasnya pembahasan dalam penulisan skripsi ini, maka penulis akan menjelaskan istilah-istilah yang ada.
1. Aplikasi
Penggunaan; penerapan.15 2. Metode
Berasal dari kata “Method” yang berarti cara, menurut Kamus Ilmiah Popular Internasional, “Method” atau metode berarti cara yang disusun secara teratur, mapan, sistematis, sebagai landasan untuk suatu kegiatan tertentu atau pelaksanaan sesuatu. 16 Metode juga diartikan sebagai cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud.17
3. Beyond Centers and Circles Time (BCCT) atau sentra dan lingkaran
Beyond Centers and Circles Time (BCCT) adalah metode
penyelenggaraan PAUD yang berpusat pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat anak dalam lingkaran.18
Sentra main adalah zona atau area main anak yang dilengkapi seperangkat alat main yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak dalam tiga jenis permainan. Yakni main sensorimotor (fungsional), main peran, dan main pembangunan.19 Sedangkan saat lingkaran merupakan saat guru duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan kepada anak yang dilakukan sebelum dan sesudah main.20 Dunia anak merupakan dunia bermain maka seharusnya konsep pendidikan untuk anak usia dini
15
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Edisi Kedua, (Jakarta: balai Pustaka, 1990), Cet III., hlm.52.
16
Budiono, Kamus Ilmiah Popular Internasional, (Surabaya: Alumni, 2005), hlm.240.
17
Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), Cet. IV, hlm.232.
18
Dinas pendidikan kota Malang bekerjasama dengan tim BCCT (Sentra dan Lingkaran) PAUD unggulan nasional anak Malang dan HIMAPAUDI kota Malang, Pedoman Penerapan
Pendekatan BCCT untuk Pendidikan Anak Usia Dini (Malang: CV Narimo, 2008), hlm.3
19
Mursid, Op.Cit,. hlm.7.
20
Dinas pendidikan kota Malang bekerjasama dengan tim BCCT (Sentra dan Lingkaran) PAUD unggulan nasional anak Malang dan HIMAPAUDI kota Malang, Loc.Cit., hlm. 3.
dirancang dalam bentuk bermain dengan menggunakan alat permainan edukatif yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak.
4. Pembelajaran
Menurut Oemar Hamalik seperti yang dikutip dalam Ismail SM, pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, internal material fasilitas perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi.21
Pembelajaran adalah upaya menciptakan situasi belajar atau upaya membelajarkan terdidik.22
Menurut E. Mulyasa, pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku yang lebih baik.23
5. Materi Iman dan Takwa
Materi adalah sesuatu yang menjadi bahan untuk diujikan, dipikirkan, dibicarakan, dikarangkan, dan sebagainya.24
Iman adalah kepercayaan yang berkenaan dengan agama, yakin, percaya kepada Allah Yang Esa, Nabi, Kitab, dan sebagainya. Yang tidak bertentangan dengan ilmu, harus disertai ihsan, ketetapan hati, keteguhan hati, keteguhan batin dan keseimbangan batin.25
Takwa adalah terpeliharanya sifat diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.26
Batasan materi iman dan takwa dalam penelitian yang akan penulis laksanakan adalah materi-materi iman dan takwa yang diajarkan di
Playgroup Masyithoh.
21
Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis Paikem, (Semarang: Rasail Media Group), hlm. 9.
22
Umi Mahmudah dan Abdul Rosyidi, Aktive Learning Dalam Pembelajaran Bahasa
Arab (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm.5.
23
E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 2003), hlm.100.
24
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Op.Cit., hlm. 566
25
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Kamus Umum Bahasa Indonesia, Edisi ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 2006), Cet. III, hlm. 439.
26
6. Playgroup
Playgroup atau kelompok bermain merupakan tempat bermain dan
belajar bagi anak sebelum memasuki Taman Kanak-kanak. Playgroup menampung usia 3-4 tahun.27
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana Penerapan metode Beyond Centers and Circles Time (BCCT) dalam pembelajaran materi Imtak di Playgroup Masyithoh Kaliwungu Kendal?
2. Bagaimana proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik di
Playgroup Masyithoh Kaliwungu Kendal?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian a. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan uraian rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui bagaimana penerapan metode Beyond Centers and
Circles Time (BCCT) dalam pembelajaran materi Imtak di Playgroup
Masyithoh Kaliwungu Kendal.
2. Untuk mengetahui proses pembelajaran materi Imtak di Playgroup Masyithoh.
3. Untuk mengetahui prestasi hasil belajar peserta didik di Kelompok Bermain (KB) Masyithoh Kecamatan Kaliwungu Kendal?
b. Manfaat Penelitian
Sedangkan manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 1. Memberikan kontribusi wacana keilmuan dan khazanah intelektual
tentang metode pendidikan anak usia dini.
27
2. Penelitian ini bisa menjadi bahan masukan sumbangan pemikiran bagi dunia pendidikan dan sebagai pengembangan wawasan keilmuan dan pengembangan metode pendidikan anak usia dini.
3. Memberikan wacana baru pemikiran dunia pendidikan, khususnya bagi dunia pendidikan anak usia dini. Bagi pengasuh, pendidik dalam mengembangkan metode pembelajaran yang efektif bagi anak usia dini.
E. Kajian Pustaka
Berkaitan dengan tema skripsi yaitu Aplikasi Metode Beyond Centers and Circles Time (BCCT) dalam Pembelajaran Materi Imtak telah penulis temukan karya-karya yang berkaitan dengan tema tersebut. Sebagai bahan pertimbangan dan penggalian berbagai informasi dan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan berbagai literature, seperti buku-buku dan skripsi atau hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, diantaranya : pertama, Skripsi saudari Iffah Masyrikhah (3105382), Skripsi pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, Tahun 2010, yang berjudul “Upaya Pengembangan Kurikulum Di PAUD Mekar Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang”. Berdasarkan penelitian tersebut, menunjukkan bahwa dalam upaya pengembangan kurikulum di PAUD Mekar menggunakan metode Beyond Centers And Circle Time (BCCT) . Kegiatan Circle Time merupakan kegiatan untuk membangun jembatan dan memfasilitasi pertahapan antara anak dengan orang dewasa dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan rasa kebersamaan dalam kelompok. Kegiatan tersebut juga dirancang sesuai pada usia tingkat perkembangan anak, waktu yang disesuaikan dengan kemampuan anak untuk merumuskan perkataan, minat dan kebutuhan anak. Untuk mewujudkan keberhasilan PAUD dengan metode BCCT, pendidik PAUD Mekar dalam melaksanakan kegiatan Circle Time memperhatikan beberapa hal, diantaranya: Merancang kegiatan Circle Time sebaik mungkin, Menciptakan aturan kegiatan untuk disepakati dan dipatuhi
oleh semua peserta didik, Peran guru harus optimal dalam kegiatan Circle Time.28
Kedua, Skripsi saudari Inayatul Faizah (3103138) Skripsi pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, Tahun2009, yang berjudul “Manajemen Pembelajaran Anak Usia Dini Di Taman Kanak-kanak (TK) Alam Ar-Ridho Semarang”. Berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan dengan pendekatan pembelajaran terpadu (integrated learning) melalui tema dan menggunakan metode Contextual Teaching learning (CTL). Salah satu metode yang digunakan yaitu metode bermain. Karena bermain merupakan kegiatan yang dapat menimbulkan kesenangan bagi anak. Bermain merupakan kegiatan yang sangat penting bagi anak, bagi mereka bermain berarti belajar. Kegiatan. Di Taman Kanak-kanak (TK) Alam Ar-Ridho Semarang pendidik memberikan kesempatan yang luas pada anak untuk berekplorasi dan bekerjasama dengan temannya. Kegiatan tersebut memiliki tujuan agar anak mengenal dan mencintai makhluk hidup lain (Serangga) ciptaan Allah, mampu mengidentifikasi nama binatang yang di tangkap, melatih anak bekerja sama dengan temannya sehingga mampu berinteraksi dan bersosialisasi dengan temannya.29
Selain kedua hasil penelitian berupa skripsi di atas, ada beberapa hasil penelitian yang telah dibukukan yang memiliki kemiripan dengan kajian penelitian yang akan penulis laksanakan. Buku-buku tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, buku karya Jamal Ma’mur Asmani yang berjudul Buku
Pintar Playgroup. Materi-materi yang berkaitan dengan pengelolaan playgoup. Ruang lingkup pengelolaan playgroup yang dibahas dalam buku
tersebut mencakup pengelolaan pembelajaran dan pengelolaan manajemen
28
Iffah Masyrikhah (3105382), Skripsi pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, Tahun 2005, berjudul Upaya Pengembangan Kurikulum PAUD Mekar Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang.
29
Inayatul Faizah (3103138) Skripsi pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, Tahun2009, berjudul Manajemen Pembelajaran Anak Usia Dini Di Taman Kanak-kanak (TK) Alam Ar-Ridho Semarang.
playgroup. Pembahasan mengenai pengelolaan pembelajaran meliputi teori-teori pembelajaran dan prinsip-prinsip pembelajaran. Sedangkan pembahasan mengenai pengelolaan manajemen playgroup meliputi materi-materi yang meliputi manajemen kurikulum, manajemen guru yang mencakup kualifikasi dan peranan guru, serta manajemen pengembangan kualitas playgroup. Selain membahas mengenai manajemen pengelolaan pembelajaran dan manajemen organisasi playgroup, buku karya Jamal Ma’mur Asmani juga memaparkan mengenai peluang problematika dalam playgroup yang diimbangi dengan pemberian tips dalam meningkatkan kualitas playgroup.
Berdasarkan pemaparan kajian pustaka di atas, terdapat kesamaan hasil penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan penulis laksanakan, yakni pada aspek pembelajaran Kelompok Bermain atau playgroup. Meski demikian, ada perbedaan mendasar antara penelitian yang akan penulis laksanakan dengan penelitian-penelitian terdahulu. Perbedaan tersebut terletak pada aspek materi dan lokasi Kelompok Bermain. Pada penelitian yang akan penulis laksanakan yang menjadi obyek kajian penelitian adalah aplikasi metode BCCT dalam pembelajaran materi iman dan takwa di Playgroup Masyithoh Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal. Dengan demikian, penulis merasa yakin untuk tetap melaksanakan penelitian ini tanpa adanya kekhawatiran munculnya asumsi plagiat dalam proses penyusunan hasil penelitian ini.
F. Metode Penelitian
Dalam memecahkan suatu masalah harus menggunakan cara atau metode tertentu yang sesuai dengan pokok masalah yang akan dibahas. Disamping itu, metode-metode tersebut dipilih juga agar penelitian dapat menghasilkan. Dalam penelitian ini yang berkaitan dengan metode penelitian: 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan atau field research, karena yang diteliti adalah sesuai yang ada di lapangan secara langsung. Dalam hal ini yang dijadikan obyek penelitian adalah Kelompok Bermain
Masyithoh. Menurut S. Margono penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.30
2. Fokus Penelitian
Dalam hal ini penelitian difokuskan pada Aplikasi metode Beyond
Centers and Circles Time (BCCT) dalam pembelajaran materi Imtak di Playgroup Masyithoh. Penelitian ini melibatkan peserta didik sebagai
objek penelitian, pendidik, kepala sekolah dan peserta didik. 3. Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk memperoleh atau mengumpulkan data dalam metode ini diantaranya sebagai berikut:
a. Metode pengamatan (Observasi)
Pengamatan (observasi) adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu proses pengamatan, dengan disertai pencatatan terhadap keadaan atau perilaku sasaran.31 Dikatakan juga bahwa mengamati adalah menatap kejadian, gerak, atau proses. Mengamati bukanlah hal yang mudah karena manusia banyak dipengaruhi oleh minat dan kecenderungan-kecenderungan yang ada padanya. Padahal hasil pengamatan harus sama, walaupun dilakukan oleh beberapa orang. Dengan kata lain seorang pengamat harus objektif.32
Pengamatan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana Aplikasi Metode Beyond Centers and Circles Time (BCCT) yang dilakukan dan apa isi dalam pembelajaran materi Imtak serta bagaimana hasil belajar di Playgroup Masyithoh. Dalam hal ini pengamatan difokuskan pembelajaran menggunakan metode BCCT yang dilakukan oleh pendidik , serta bagaimana anak belajar materi
30
S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 36
31
Abdurrahmat Fathoni, metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 104.
32
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 230.
iman dan takwa yang diberikan oleh pendidik sehingga menjadikan anak dalam kehidupannya sebagai takwa kepada Allah.
b. Metode Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan yang berlangsung satu arah, artinya pertanyaan datang dari pihak yang mewancarai dan jawaban diberikan oleh yang diwawancara.33 Interview merupakan alat pengumpul informasi dengan mengajukan berbagai pertanyaan secara lisan dan dijawab secara lisan pula. Ciri utama dari interview adalah kontak langsung dengan tatap muka antara pencari informasi (interviewer) dan sumber informasi (interviewee). Untuk memperoleh informasi yang tepat dan objektif setiap interviewee atau responden atau mengadakan raport ialah suatu situasi psikologis yang menunjukkan bahwa responden bersedia bekerjasama, bersedia menjawab pertanyaan dan member informasi sesuai dengan pikiran dan keadaan yang sebenarnya.34
Wawancara dilakukan kepada kepala sekolah, dan guru yang mengajar di Playgroup Masyithoh Kaliwungu kabupaten Kendal. c. Metode dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan menggunakan dokumen-dokumen yang ada, misalnya berupa catatan, arsip, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dsb.35 Yang berhubungan dengan penelitian.
Dengan metode ini, peneliti mengumpulkan data dari dokumen yang sudah ada , sehingga penulis dapat memperoleh catatan-catatan yang berhubungan dengan penelitian seperti : gambaran umum sekolah, struktur organisasi dan personalia, keadaan guru dan peserta didik, catatan-catatan dan foto–foto documenter dan sebagainya. Metode dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan data-data yang belum didapatkan melalui metode observasi dan interview.
33
Abdurrahmat Fathoni, Op. Cit., hlm. 105.
34
S. Margono, OP. Cit., hlm.165.
35
4. Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis data secara kualitatif, yaitu upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan pada orang lain.36 Dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif yaitu data yang telah terkumpul diuraikan dan digambar secara lengkap dalam suatu bahasa, sehingga ada pemahaman antara kenyataan di lapangan dengan bahasa yang digunakan untuk menguraikan data-data yang ada.
Metode ini penulis gunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari lapangan dengan didasarkan konsep dan teori yang ada. Dalam analisis ini, penulis akan mendeskripsikan tentang Aplikasi metode
Beyond Centers and Circles Time (BCCT) dalam pembelajaran materi
Imtak di Playgroup Masyithoh Kaliwungu kabupaten Kendal.
36
Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 248.
15
A. Metode Beyond Centers And Circles Time (Lebih Jauh Tentang Sentra Dan Saat Lingkaran).
1. Sejarah singkat metode Beyond Centers and Circles Time (BCCT)
PAUD sebagai pendidikan yang diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.1 Penyelenggaraan PAUD harus memperhatikan dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Karena program PAUD dimaksudkan untuk memberikan fasilitasi pendidikan yang sesuai bagi anak, agar anak memiliki kesiapan baik secara fisik, mental, maupun sosial atau emosionalnya dalam rangka memasuki pendidikan lebih lanjut.
kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa Penyelenggaraan PAUD masih belum mengacu betul pada tahap-tahap perkembangan anak. Pada umumnya penyelenggaraannya difokuskan pada peningkatan kemampuan akademik, baik dalam hal hafalan-hafalan maupun kemampuan baca-tulis dan hitung, yang prosesnya seringkali mengabaikan tahapan perkembangan anak. Penggunaan pendekatan BCCT atau pendekatan sentra dan lingkaran yang diadopsi dari Creative Centers for
Childhood Research and Training (CCCRT) yang berkedudukan di
Florida, Amerika Serikat dimaksudkan untuk memperbaiki praktek penyelenggaraan PAUD yang masih banyak terjadi salah kaprah tersebut.2
Metode pembelajaran yang sinergis dengan strategi belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar telah dikembangkan oleh Creative
Center for Childhood Research and Training (CCCRT) di Florida, USA
dikenal dengan nama metode Beyond Center and Circle Time (BCCT).
1
Maksud dari fase sebelum jenjang pendidikan dasar adalah pendidikan pada masa anak usia 0-6 tahun sebagaimana di jelaskan dalam Undand-Undang Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
2 Dinas pendidikan kota Malang bekerjasama dengan tim BCCT (Sentra dan Lingkaran)
PAUD unggulan nasional anak Malang dan HIMAPAUDI kota Malang, Pedoman Penerapan
Metode ini telah diterapkan di Creative Pre School Florida USA selama lebih dari 25 tahun, baik untuk anak normal maupun anak dengan kebutuhan khusus. Metode BCCT ini merupakan pengembangan metode
Montessori, Highscope dan Reggio Emilio.3
Konsep belajar yang dipakai dalam metode BCCT difokuskan agar guru sebagai pendidik menghadirkan dunia nyata di dalam kelas dan mendorong anak didik membuat hubungan antara pengetahuan, pengalaman, dan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga otak anak dirangsang untuk terus berfikir secara aktif dalam menggali pengalamannya sendiri bukan sekedar mencontoh dan menghafal saja. Dalam metode BCCT proses pembelajaran diharapkan mampu berjalan secara alamiah dalam bentuk kegiatan yang ditujukan agar anak belajar dengan mengalami bukan hanya sekedar mengetahui ilmu yang ditransfer oleh guru.4 Metode ini juga memandang bermain sebagai media yang tepat dan satu-satunya media pembelajaran anak karena disamping menyenangkan, bermain dalam setting pendidikan dapat menjadi media untuk berfikir aktif dan kreatif.
2. Pengertian Metode Beyond Centers and Circles Time (BCCT)
Metode merupakan cara yang telah teratur dan telah terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud.5 Menurut pendapat Mahmud Yunus yang dikutip Armai Arief, metode adalah “Jalan yang hendak ditempuh oleh seseorang supaya seseorang sampai pada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan perusahaan, perniagaan, maupun dalam kupasan ilmu pengetahuan dan lainnya”.6
3
Dwi Nova Wardani C, Metode Beyond Center and Circle Time (BCCT) Untuk
Pendidikan PAUD, dalam
http://aluswahcenter.wordpress.com/2009/03/07/metode-beyond-center-and-circle-time-bcct-untuk-pendidikan-paud
4
http://free.wordsads.com/ads/pembelajaran-dengan-pendekatan-bcct-beyond-centers-and-circle-time.html
5
Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1999), hlm 232.
6
Armai Arief, Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002),hlm. 87.
Sepanjang penelusuran penulis, tidak banyak ditemukan mengenai penjelasan Beyond Centers and Circles Time (BCCT). sepanjang penelusuran penulis diperoleh pengertian sebagai berikut Beyond Centers
and Circles Time (BCCT) yaitu konsep belajar dimana guru-guru
menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.7 Metode Beyond Centers and Circles Time (BCCT) adalah metode penyelenggaraan PAUD yang berpusat pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat anak dalam lingkaran dengan menggunakan empat pijakan.8 empat pijakan tersebut akan penulis jelaskan pada pembahasan berikutnya. Di Indonesia metode ini lebih dikenal dengan Sentra dan lingkaran (Seling). metode pengajaran yang menempatkan siswa pada posisi yang proposional. Pendekatan sentra dan lingkaran berfokus pada anak,
Sentra main adalah zona atau area main anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat main yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak dalam 3 jenis main. yaitu: main sensorimotor, main peran dan main pembangunan.9 Saat lingkaran adalah saat dimana pendidik (guru/kader/pamong) duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan kepada anak yang dilakukan sebelum dan sesudah main.10 Pembelajaran yang berpusat pada anak dan peran guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan evaluator merupakan ciri dari metode BCCT ini, Sehingga otak anak
7
Albirueni education, dalam http://albiruni-education.blogspot.com/2009/04/beyond-centers-and-circle-time-bcct.html
8
Pijakan adalah dukungan yang berubah-ubah yang disesuaikan dengan perkembangan yang dicapai anak yang diberikan sebagai pijakan untuk mencapai perkembangan yang lebih tinggi Empat pijakan tersebut yakni (scaffolding) untuk mendukung perkembangan anak, yaitu (1) pijakan lingkungan main, (2) pijakan sebelum main, (3)pijakan selama main, (4) pijakan setelah main. Lihat selengkapnya pada: Dinas pendidikan kota Malang bekerjasama dengan tim BCCT (Sentra dan Lingkaran) PAUD unggulan nasional anak Malang dan HIMAPAUDI kota Malang,
Pedoman Penerapan Pendekatan BCCT untuk Pendidikan Anak Usia Dini (Malang: CV Narimo,
2008), hlm.3-4
9
Ibid., hlm. 3.
10
dirangsang untuk terus berfikir secara aktif dalam menggali pengalamannya sendiri bukan sekedar mencontoh dan menghafal saja. 3. Tujuan Metode Beyond Centers And Circles Time (BCCT).
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia, untuk menurunkan fungsi-fungsi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dapat dilakukan melalui metode Beyond Centers And Circles Time (BCCT). Adapun tujuan dari metode Beyond Centers And Circles Time (BCCT) antara lain sebagai berikut:
a. Dalam rangka melejitkan potensi kecerdasan anak.
Howard Gardner sebagaimana dikutip oleh Anita Yus menyatakan bahwa pada hakikatnya setiap anak ialah cerdas. Pandangan ini menentang bahwa kecerdasan hanya dilihat dari fakror IQ. Gardner melihat kecerdasan dari berbagai dimensi. Setiap kecerdasan yang dimiliki akan dapat mengantarkan anak mencapai kesuksesan. Pendidik/guru perlu memfasilitasi setiap kecerdasan yang dimiliki anak dalam pembelajaran dan kegiatan belajar. diantaranya:
Gardner mengemukakan kecerdasan dalam beberapa dimensi, yaitu11:
1) Kecerdasan bahasa (Linguistik) berkaitan dengan keterampilan dan persepsi mengelola kata dan bahasa.Yakni kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif
2) Kecerdasan Logika - matematika berkaitan dengan keterampilan dan persepsi dalam bidang angka (Numerik) dan alasan logis. 3) Kecerdasan music berkaitan dengan keterampilan dan persepsi
dalam bidang music dan suara
4) Kecerdasan gerak tubuh (kinestesis) berkaitan dengan ketrampilan dan persepsi dalam bidang mengolah dan mengendalikan gerak anggota tubuh.
11
5) Kecerdasan gambar dan ruang (Visual-spasial) berkaitan dengan keterampilan dan persepsi dalam bidang permainan, garis, warna, bentuk, dan ruang.
6) Kecerdasan diri (intrapersonal) berkaitan dengan keterampilan dan persepsi dalam bidang kesadaran dan pengenalan terhadap diri sendiri.
7) Kecerdasan berbaur (interpersonal) berkaitan dengan keterampilan dan persepsi dalam bidang membina hubungan dengan orang lain. 8) Kecerdasan alami (naturalis) berkaitan dengan keterampilan dan
persepsi dalam bidang yang berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitar.
9) Kecerdasan rohani (spiritual) berkaitan dengan keterampilan dan persepsi dalam bidang mengolah rohani.
Kita harus mengingat bahwa setiap orang memiliki sembilan kecerdasan ini dan setiap hari menggunakannya dengan kombinasi yang berlainan dan setiap orang juga mempunyai delapan kecerdasan ini dengan car merek masing-masing.
b. Penanaman Nilai-nilai Dasar
Anak-anak merupakan individu yang baru mengenal dunia dan belum mengetahui tata karma , sopan santun, aturan, norma, dan sebagainya. Anak perlu dibimbing agar mampu memahami berbagai hal. Usia dini merupakan saat yang sangat berharga untuk menanamkan nilai-nilai dasar dalam kehidupan yang meliputi: 1) Nilai-nilai nasionalisme. 2) Nilai-nilai agama. 3) Nilai-nilai etika. 4) Nilai-nilai moral. 5) Nilai-nilai sosial.12 12
Darul Athfal, kurikulum pendidikan anak usia dini berbasis kompetensi tahun 2004 departemen pendidikan nasional dan departemen agama, (http://www.darulathfal.com/kurikulum% 20pg.html.
Setiap orang mempunyai berbagai pengalaman yang memungkinkan dia berkembang dan belajar. Dari pengalaman itu orang akan mendapatkan patokan-patokan umum untuk bertingkah laku. Misalnya bagaimana cara berhadapan dengan orang yang lebih tua, bagaimana menghormati orang lain, bagaimana membuat keputusan yang efektif, dan sebagainya. Patokan-patokan yang berupa nilai itu, kemudian cenderung memberikan arah atau haluan dalam kehidupan. Nilai-nilai itu menunjukkan apa yang cenderung kita lakukan dalam waktu dan tempat tertentu atas dasar keyakinan dan penghargaan tertentu.13
Dengan pemeliharaan dan pengasuhan yang baik dan sedini mungkin, maka potensi yang telah ada itu dapat dikembangkan ke arah perwujudan anak yang cerdas dan dengan menanamkan nilai-nilai dasar sejak dini pada anak diharapkan akan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan mereka dimasa yang akan datang.
c. Pengembangan Kemampuan Dasar
Anak yang sedang berkembang adalah sebuah kesatuan psikososial dan biologi yang memerlukan gizi optimal bagi kerja optimal. Gizi jelas didapat dari banyak sumber termasuk penglihatan, pendengaran, sentuhan, gerakan, pendampingan, kasih sayang dan makanan.14
Pemenuhan kebutuhan tersebut akan menghasilkan anak usia dini yang sehat secara fisik, jasmani, tidak sakit, tidak cacat dan tidak lemah, semua organ tubuh dalam keadaan dan berfungsi normal, memiliki emosi dan mampu berinteraksi dengan lingkungannya sesuai dengan tahapan perkembangannya.
Untuk menghasilkan anak usia dini yang sehat dan cerdas dibutuhkan gizi seimbang yang sesuai dengan kebutuhan anak. Dengan pola makanan yang sesuai dengan usia anak diharapkan gizi
13
Mohamad surya, Bina Keluarga, (Semarang: Aneka Ilmu, 2001), hlm. 74.
14
dan tumbuh kembang anak dapat berjalan dengan normal, dan periode emas tidak akan terlewatkan.15
Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar untuk anak usia dini diharapkan dapat tercipta pembelajaran yang tidak membebani dan menyenangkan, sehingga anak aka semakin mudah menyerap apa yang mereka pelajari yakni sesuai dengan prinsip pendidikan anak usia dini yaitu belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Dengan demikian akan terbentuk aspek kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. Dan sesuai dengan ruang lingkup kurikulum untuk anak prasekolah yang tercantum dalam kurikulum 2004 yang meliputi enam aspek perkembangan yang dicapai yaitu:
1) Moral dan nilai-nilai agama.
2) Sosial, emosional dan kemandirian. 3) Kemampuan berbahasa.
4) Kognitif.
5) Fisik atau motorik. 6) Kreatifitas atau seni.16
4. Bentuk-Bentuk Sentra Dalam Beyond Centers And Circles Time (BCCT). Dalam metode Beyond Centers and Circles Time materi yang dikembangkan berupa sentra. Sentra dibuat berdasarkan kebutuhan anak dengan mengobservasi setiap perkembangan anak. Jadi kebutuhan sentra mungkin tidak sama di setiap lembaga pendidikan tergantung kesiapan perangkat dan tenaga pengajar yang ada. Sebagai contoh dibawah ini ada beberapa sentra:
a. Sentra Bahan Alam
Tempat bermain sambil belajar untuk mengembangkan pengalaman sensori motor dalam rangka menguatkan tiga jari untuk persiapan menulis, sekaligus pengenalan sains untuk anak. Efek yang
15
Mursid, Manajemen Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Teori dan Praktik, (Semarang: Akfi Media, 2010), hlm.8.
16
Hilbana S. Rahman, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Yogyakarta: PGTK Press, 2002), hlm. 54.
diharapkan adalah Anak dapat terstimulasi aspek motorik halus secara optimal, dan mengenal sains sejak dini.
b. Sentra Main Peran Mikro atau Makro
Tempat bermain sambil belajar, dimana anak dapat mengembangkan daya imajinasi dan mengekspresikan perasaan saat ini, kemarin, dan yang akan datang. Penekanan sentra ini terletak pada alur cerita sehingga anak terbiasa untuk berfikir secara istimatis. Efek yang diharapkan adalah anak dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman dan lingkungan sekitar dan mengembangkan kemampuan berbahasa secara optimal.
c. Sentra Balok
Tempat bermain sambil belajar untuk mempresentasikan ide ke dalam bentuk nyata (bangunan). Di sentra ini anak dapat memainkan balok dengan perbandingan 1 anak ± 100 balok plus assesoris. Penekanan sentra ini pada start and finish, di mana anak mengambil balok sesuai kebutuhan dan mengembalikan dengan mengklasifikasi berdasarkan bentuk balok. Efek yang diharapkan adalah anak dapat berfikir tipologi, mengenal ruang dan bentuk sehingga dapat mengembangkan kecerdasan visual spasial secara optimal.
d. Sentra Persiapan
Tempat bermain sambil belajar untuk mengembangkan pengalaman keaksaraan. Di sentra ini anak difasilitasi dengan permainan yang dapat mendukung pengalaman baca, tulis, hitung dengan cara yang menyenangkan dan anak dapat memilih kegiatan yang diminati. Efek yang diharapkan adalah Anak dapat berpikir teratur, senang membaca, menulis dan menghitung.
e. Sentra Iman & Taqwa (Religion Center).
Tempat bermain sambil belajar untuk mengembangkan kecerdasan jamak dimana kegiatan main lebih menitik beratkan pada kegiatan keagamaan. Di sentra ini anak difasilitasi dengan kegiatan bermain yang memfokuskan pada pembiasaan beribadah dan mengenal
huruf hijaiyyah dengan cara bermain sambil belajar. Efek yang diharapkan adalah tertanamnya perilaku akhlakul karimah, ikhlas, sabar dan senang menjalankan perintah agama.
f. Sentra Seni Dan Kreatifitas
Tempat bermain sambil belajar yang menitik beratkan pada kemampuan anak dalam berkreasi. Kegiatan di sentra ini dilaksanakan dalam bentuk proyek, dimana anak diajak untuk menciptakan kreasi tertentu yang akan menghasilkan sebuah karya. Efek yang diharapkan adalah anak dapat berfikir secara kreatif. 17
Penerapan metode BCCT tidak bersifat kaku. Bisa saja dilakukan secara bertahap, sesuai situasi dan kondisi setempat. Lingkungan bermain yang bermutu untuk anak usia dini setidaknya mampu mendukung tiga jenis main yang dikenal dalam penelitian anak usia dini. Tiga jenis main tersebut adalah:
a. Main sensorimotor (Main Fungsional)
Main sensorimotor adalah kegiatan dimana anak-anak bermain dengan menggunakan seluruh panca indera mereka. Pada tahap ini anak-anak mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan alat, orang maupun lingkungan sekitarnya. Kegiatan main sensorimotor, pada usia 3-6 tahun dapat dijumpai di semua kegiatan main yang ditata di sentra-sentra. Selama anak berhubungan dengan kegiatan yang melibatkan seluruh indera. Misalnya dengan main mengosongkan, mengisi, menendang. Maka anak sedang dalam tahap menguatkan panca indra. Bila seluruh indera bekerja secara maksimal maka anak akan mampu menyerap seluruh informasi yang berguna untuk mengoptimalkan potensi dalam dirinya.18
17
Kis rahayu, Modul Konsep pEndekatan BCCT, TAA-Playgroup-TK Aisyah Nur’aini Yogyakarta.
18
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Seri Panduan PAUD Main Sensorimotor, (Jakarta: 2009),
b. Main pembangunan
Main pembangunan adalah jenis kegiatan main yang memungkinkan anak membuat suatu karya nyata dari ide atau pemikirnya. Dalam kegiatan main ini, anak mungkin membuat, membentuk, atau mengubah sesuatu dari bahan atau alat yang ada seperti membentuk bangunan dari kumpulan balok unit dan dari menempel kertas membentuk kolase. Ada proses perubahan dari bahan atau alat dalam kegiatan main ini. Kegiatan main ini mendukung anak untuk mengembangkan dan mewujudkan hasil pemikiran atau idenya menjadi sebuah karya. 19 Dalam hal ini proses dalam pembuatan karya lebih penting daripada hasil karena anak akan mulai membangun apabila mereka mengerti cara menggunakan bahan dan alat yang dipegangnya.
c. Main Peran
Main peran disebut juga main pura-pura, main drama, main khayalan atau main fantasi. Main peran adalah saat dimana anak berpura-pura menjadi seseorang atau sesuatu yang berbeda dari dirinya. Misalnya anak memakai sepatu ibunya karena ia sedang berpura-pura menjadi seorang ibu, atau seorang anak laki-laki membawa tas ayahnya karena ia sedang berpura-pura menjadi seorang ayah. Dalam main peran, anak bisa berperan melewati batasan usia yang sebenarnya. Melalui bermain peran, anak belajar memahami dunia disekita. Dan belajar mempraktekkan kegiatan yang ada dalam kehidupan sebenarnya. 20
19
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Pengelolaan Main Pembangunan, (Jakarta: 2009), hlm.5-6.
20
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Seri Panduan PAUD MAIN PERAN, (Jakarta: 2009), hlm.
5. Langkah-Langkah Pelaksanaan Dalam Beyond Centers and Circle Times
(BCCT). a. Persiapan
1) Mempersiapkan pendidik dan pengelola melalui pelatihan dan pemagangan. Pelatihan dapat memberikan pembekalan konsep sedangkan magang memberikan pengalaman praktik.
2) Penyiapan tempat dan alat permainan Edukatif (APE) sesuai dengan jenis sentra yang akan dibuka dan tingkatan usia anak. Penyiapan administrasi kelompok dan pencatatan perkembangan anak.
3) Pengelolaan metode pembelajaran kepada para orang tua. Kegiatan ini penting agar orang tua mengenal metode ini sehingga tidak protes ketika kegiatan anaknya hanya bermain.
4) Mintalah orangtua untuk mencoba bermain di setiap sentra main yang disiapkan untuk anak agar merasakan sendiri nuansanya. Kegiatan ini hendaknya dilakukan setiap awal tahun ajaran baru sebelum anak mulai belajar.
b. Pelaksanaan:
1) Bukalah sentra secara bertahap sesuai dengan kesiapan pendidik dan sarana pendukung lainnya.
2) Gilirlah setiap kelompok anak untuk bermain di sentra sesuai dengan jadwal, setiap kelompok dalam satu hari hanya bermain di satu sentra saja.
3) Berikan variasi dan kesempatan main yang cukup kepada setiap anak agar tidak bosan dan tidak berebutan.
4) seiring dengan kesiapan pendidik dan sarana pendukung, tambahlah sentra baru apabila belum lengkap.
5) lengkapilah setiap sentra dengan berbagai jenis APE, baik yang buatan pabrik maupun dikembangkan sendiri dengan memanfaatkan bahan limbah dan lingkungan alam sekitar yang aman bagi anak. 21
Dalam hal ini proses pembelajaran pada anak usia dini berpusat pada anak yang dalam proses pembelajarannya menggunakan empat pijakan untuk mendukung perkembangan anak, empat pijakan tersebut adalah:
a. Pijakan lingkungan main
1) Main dengan bahan-bahan main yang cukup (3 main untuk tiap anak).
21
Lihat selengkapnya dalam Dinas Pendidikan Kota Malang Bekerjasama Dengan TIM BCCT (Sentra dan Lingkaran) PAUD Unggulan Nasional Anak Malang dan HIMAPAUDI kota Malang, Op. Cit., hlm. 9. Sebagaimana Terlampir.
2) Merencanakan untuk pengalaman densitas dan intensitas. 3) Memiliki berbagai bahan main yang mendukung pengalaman
kekasaran.
4) Menata kesempatan main untuk mendukung interaksi sosial yang positif
Sebelum mengelola bahan main yang tepat, seorang pendidik harus mengenali kecenderungan perilaku anak selama main. Dalam hal ini anak diklasifikasikan menjadi 3dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a) Ciri-ciri anak pasif • Terlihat cape • Ekspresi datar
• Jarang tertawa atau tersenyum
• Kurang dapat focus dan jarang berbicara
• Menolak main dengan bahan yang menuntut ekspresif • Tidak dapat bekerjasama
• Dapat berlaku merusak b) Ciri-ciri anak verbal Agresi
• Menyerang dengan kata-kata
• Sering menggunakan penolakan dengan kata • Menangis menjerit-jerit
c) Ciri-ciri anak agresi fisik • Banyak bergerak
• Cenderung melakukan gerakan yang membahayakan • Tidak menyukai kegiatan yang menuntut diam
• Berlari, jika diminta berjalan dengan gerakan seperti robot • Tertarik pada kegiatan secara ekspresif, namun cepat
berubah ke kegiatan baru
• Sering kehilangan control saat menggunakan alat dan bahan main
• Makan rakus
• Tidak mau menatap mata
• Gampang menyakiti orang lain (menendang, menjambak).22 b. Pijakan pengalaman sebelum main
1) Membaca buku yang berkaitan dengan pengalaman atau mengundang narasumber.
2) Menggabungkan kosa kata baru dan menunjukkan konsep-konsep yang mendukung milestone perkembangan.
3) Memberikan gagasan bagaimana menggunakan bahan-bahan main.
4) Mendiskusikan aturan dan harapan untuk pengalaman main. 5) Menjelaskan rangkaian waktu main.
6) Mengelola anak untuk keberhasilan hubungan social. 7) Merancang dan menerapkan aturan transisi untuk main. c. Pijakan pengalaman main setiap anak
1) Memberikan waktu untuk anak mengelola dan meneliti pengalaman main mereka.
2) Mencontoh komunikasi yang tepat.
3) Memperkuat dan mengembangkan bahasa anak.
4) Meningkatkan kesempatan sosialisasi melalui dukungan interaksi teman sebaya.
5) Mengamati dan mendokumentasikan perkembangan dan kemajuan main anak.
22
Lihat selengkapnya dalam, Mursid, Modul mengelola bahan main yang tepat, disampaikan pada mata kuliah pendidikan anak usia dini, hlm.1. Sebagaimana Terlampir.
d. Pijakan pengalaman setelah main
1) Gunakan waktu membereskan sebagai pengalaman positif untuk mempraktekkan klasifikasi, serasi, dan pengelolaan secara umum bahan-bahan main.
2) Mengingat dan mengulas kembali pengalaman main sehingga setiap anak memungkinkan berbagi kecakapannya.
Langkah-langkah pelaksanaan dalam proses pembelajaran dengan metode Beyond Centers and Circles Time (BCCT)
1. Penyambutan anak; sambut anak dengan ramah dan penuh semangat dengan mengucapkan salam dan “hai” serta sebutlah nama panggilannya dengan hormat.
2. Masa transisi; guru mempersilahkan anak bermain dalam bimbingan orangtuanya, dan atau sambil berkonsultasi dengan pendidik, konselor atau psikolog yang ada.
3. Main Pembukaan; guru memulai kegiatan dengan anak diawali berdo’a bersama. Lalu anak diajak bernyanyi lagu “selamat pagi” atau lainnya dengan menari, melompat dan tertawa.
4. Kegiatan awal bermain; guru mengajak anak menuju sentra atau pusat kegiatan bermain dengan cara bernyanyi bersama, guru menjelaskan dan membuat aturan permainannya atas kesepakatan anak-anak pada saat sebelum permainan dimulai.
5. Kegiatan inti bermain; guru mempersilahkan anak bermain sepuasnya hingga batas waktu yang telah disepakati. Guru mengamati, mengawasi, dan menjaga anak dari bahaya, agar proses penelitian, pemahaman dan pembelajaran anak berlangsung lancar sesuai tahapan perkembangan dirinya.
6. Kegiatan akhir bermain; guru meminta semua anak merapikan alat bermain. Lalu, guru meminta semua anak berkumpul dalam lingkaran sambil bernyanyi. Kemudian, guru mewawancarai semua anak untuk menceritakan pengalaman mereka setelah bermain. Fasilitasi mereka semua untuk berani curhat tentang pengalaman belajar mereka.
Berikan setiap anak waktu untuk mengungkapkan isi hatinya dengan adil.
7. Main pentupan; guru mengucapkan selamat kepada semua anak atas apa yang telah mereka alami hari ini, anak-anak berdo’a bersama dan dihantarkan untuk pulang bersama orangtuanya yang telah menunggu. 23
B. BCCT Sebagai Metode Pendidikan Anak Yang Sesuai Dengan Perkembangan (Developmentally Appropriate Practice)
1. Aspek Perkembangan Masa Anak Prasekolah a. Perkembangan fisik motorik
Perkembangan fisik merupakan dasar bagi kemajuan perkembangan berikutnya. Dengan meningkatnya pertumbuhan tubuh, baik menyangkut ukuran berat dan tinggi, maupun kekuatannya memungkinkan anak untuk dapat lebih mengembangkan ketrampilan fisiknya, dan eksplorasi terhadap lingkungannya.24
Perkembangan fisik anak ditandai juga dengan berkembangnya kemampuan atau ketrampilan motorik, baik yang kasar maupun yang lembut.25 Saat anak mencapai tahapan prasekolah (3-6 tahun) ketrampilan motorik kasar dan halus sangat pesat kemajuannya. Pada waktu anak berusia 3 tahun umumnya mereka sudah mampu berjalan mundur, berjalan di atas jari kaki (jinjit) dan lari. Pada usia 4 tahun anak telah memiliki ketrampilan yang lebih baik, anak mampu melambungkan bola, melompat dengan satu kaki, dan mampu menaiki tangga dengan kaki yang berganti-ganti.26 Setelah anak mampu mengendalikan gerakan tubuh secara kasar maka anak akan siap untuk mempelajari ketrampilan yang didasarkan atas kematangan sehingga
23
http://defathya.multiply.com/journal/item/1010/Beyond_Centers_and_Circle_Time_BCCT
24
Syamsul Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 163.
25
Ibid., hlm. 164.
26
Soemarti Padmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003), Cet. II,, hlm. 26-27.
gerakan anak pada waktu baru lahir yang tidak berarti dan tampak acak menjadi lebih terkoordinasi.27
b. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif menunjukkan perkembangan dari cara anak berpikir untuk menyelesaikan berbagai masalah, hal ini dapat digunakan sebagai tolok ukur pertumbuhan kecerdasan. Perkembangan kognitif berkaitan erat dengan pertumbuhan otak,28 menurut Teyler sebagaimana dikutip oleh Jamal Ma’mur Asmani bahwa pada saat lahir otak manusia berisi sekitar 100 miliar hingga 200 miliar sel saraf, tiap sel saraf siap berkembang sampai taraf tertinggi dari kapasitas manusia jika mendapat stimulasi yang sesuai dari lingkungan.29
Tahap pra-operasional merupakan tahap perkembangan kognitif anak usia prasekolah, yang berciri adanya penguasaan bahasa, kemampuan menggunakan simbol, meniru, sekalipun cara berpikirnya sangat egosentris, memusat dan tidak bisa dibalik.30 Dalam hal ini seharusnya anak mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri, orang dewasa dapat membimbing dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, namun yang terpenting adalah bagaimana anak dapat memahami sesuatu, anak harus membangun pengertian itu sendiri dan menemukannya sendiri.
c. Perkembangan Bahasa
Sejalan dengan kemunculan pemikiran simbolis pada tahap pra-operasional anak, anak juga mengalami perkembangan bahasa yang pesat. Perkembangan bahasa yang cepat ini dianggap sebagai hasil perkembangan simbolisasi. Pada usia 3 tahun, anak seharusnya memiliki kosa kata aktif sebanyak 300 kata atau lebih. Pada usia 3
27
Siti Aisyah, dkk., Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), Cet. VI, hlm. 4. 15.
28
Jamal Ma’mur Asmani, Buku Pintar Playgroup, (Yogyakarta: Buku Biru, 2010), hlm. 25.
29
Jamal Ma’mur Asmani, Manajemen strategis pendidikan anak usia dini,(Yogyakara: Diva Press, 2009), hlm. 69-70.
30
Zainal Aqib, Belajar dan pembelajaran di Taman kanak-kanak., (Bandung: Yrama Widya, 2009), hlm. 37.