` No. 22/05/72/Th.XVII, 02 Mei 2014
P
ERKEMBANGAN
I
NDEKS
H
ARGA
K
ONSUMEN
/I
NFLASI
Selama April 2014, Inflasi Sebesar 0,21 Persen
Mulai Januari 2014, penghitungan inflasi secara nasional telah menggunakan IHK tahun dasar baru (2012=100) berdasarkan hasil Survei Biaya Hidup (SBH) 2012. Dibandingkan tahun dasar lama (2007=100), terdapat perluasan cakupan kota yang diikuti oleh perubahan paket komoditas dan diagram timbang. Penggunaan tahun dasar baru dilakukan untuk menyesuaikan perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan periode sebelumnya. SBH 2012 dilaksanakan di 82 kota, yang terdiri dari 33 ibukota provinsi dan 49 kota besar terpilih lainnya. Dari seluruh kota pantauan, terdapat 66 kota yang merupakan cakupan kota SBH lama dan 16 lainnya merupakan cakupan kota baru. Paket komoditas Kota Palu hasil SBH 2012 mencapai 346 komoditas.
Secara nasional, terdapat beberapa kota yang mengalami inflasi selama April 2014 yakni Pangkal Pinang (1,57 persen), Maumere (0,99 persen), Ambon (0,92 persen), Gorontalo (0,89 persen), Balikpapan (0,79 persen), Tembilahan (0,77 persen), Bau-Bau (0,71 persen), Ternate (0,70 persen) dan kota lainnya di bawah 0,70 persen. Sedangkan beberapa kota yang mengalami deflasi adalah Jayapura (1,79 persen), Tanjung Pinang (0,87 persen), Metro (0,82 persen), Bekasi (0,80 persen), Pematang Siantar (0,66 persen), Tanjung Pandan (0,65 persen), Lubuk Linggau (0,59 persen), Sumenep (0,59 persen), Batam (0,53
Dari 82 kota pantauan secara nasional selama April 2014, terdapat 43 kota mengalami inflasi dan 39 kota mengalami deflasi. Kota Palu terjadi inflas sebesar 0,21 persen dengan indeks harga 111,68.
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Pangkal Pinang sebesar 1,57 persen, sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Jayapura sebesar 1,79 persen. Inflasi Kota Palu menduduki peringkat 24 secara nasional dan ke-12 di Kawasan Sulampua.
Kenaikan indeks harga terjadi pada tiga kelompok pengeluaran, sedangkan dua kelompok mengalami penurunan serta dua kelompok lainnya relatif tetap. Kenaikan berasal dari kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (1,38 persen), transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan (1,12 persen), serta perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,31 persen). Sebaliknya, penurunan berasal dari kelompok bahan makanan (1,72 persen) dan sandang (0,46 persen). Kelompok kesehatan serta pendidikan, rekreasi, dan olah raga relatif tetap.
Laju inflasi tahun kalender hingga April 2014 adalah 1,12 persen, sedangkan laju inflasi year on year (April 2014 terhadap April 2013) sebesar 9,42 persen.
Dari 18 kota di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), terdapat 15 kota mengalami inflasi dan tiga kota lainnya mengalami deflasi. Kota Ambon menduduki peringkat inflasi tertinggi yakni 0,92 persen diikuti Gorontalo (0,89 persen), Bau-Bau (0,71 persen), Ternate (0,70 persen), Bulukumba (0,59 persen), Watampone (0,58 persen), Palopo (0,54 persen), dan kota lainnya di bawah 0,50 persen. Sedangkan tiga kota yang mengalami deflasi adalah Jayapura (1,79 persen), Manokwari (0,09 persen), dan Merauke (0,05 persen).
I. Perkembangan Inflasi/Deflasi Menurut Kelompok Pengeluaran
Selama April 2014, terjadi inflasi sebesar 0,21 persen yang dipengaruhi oleh beberapa kelompok pengeluaran meliputi kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (1,38 persen), transportasi, komunikasi dan jasa keuangan (1,12 persen), serta perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,31 persen). Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah bahan makanan (1,72 persen) dan sandang (0,46 persen). Sementara itu, kelompok kesehatan serta pendidikan, rekreasi, dan olah raga relatif tetap.
Inflasi
Laju
Inflasi Inflasi
Apr 2013 Des 2013 Mar 2014 Apr 2014 Apr 2014 *
tahun Kalender Year on Year *** 2014 ** [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] U m u m 102,07 142,34 111,45 111,68 0,21 1,12 9,42 0,21 1 Bahan Makanan 99,95 165,50 112,11 110,18 -1,72 -1,91 10,24 -0,34
2 Makanan Jadi, minuman, Rokok, dan
Tembakau 104,99 169,54 119,30 120,95 1,38 3,62 15,20 0,30
3 Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan
Bahan bakar 103,23 137,98 107,77 108,10 0,31 2,25 4,72 0,07
4 Sandang 100,38 130,20 103,76 103,28 -0,46 0,39 2,89 -0,03
5 Kesehatan 102,77 128,08 103,98 103,98 0,00 -0,12 1,18 0,00
6 Pendidikan, Rekreasi, dan Olah raga 101,72 138,09 107,85 107,85 0,00 0,27 6,03 0,00
7 Transportasi, Komunikasi, dan Jasa
Keuangan 100,16 107,51 112,54 113,80 1,12 0,95 13,62 0,21
*) Perubahan IHK bulan April 2014 terhadap IHK bulan Maret 2014 **) Perubahan IHK bulan April 2014 terhadap IHK bulan Desember 2013 ***) Perubahan IHK bulan April 2014 terhadap IHK bulan April 2013
Andil Inflasi Kelompok Pengeluaran
[1]
Tabel 1
Perkembangan Inflasi/Deflasi Kota Palu Menurut Kelompok Pengeluaran (2012=100) April 2014
Perkembangan inflasi Kota Palu selama April 2014 menurut kelompok pengeluaran secara lebih rinci sebagai berikut:
1. Bahan Makanan
Kelompok bahan makanan selama April 2014 mengalami penurunan indeks harga sebesar 1,72 persen yakni dari 112,11 pada Maret 2014 menjadi 110,18 pada April 2014. Secara keseluruhan kelompok bahan makanan memberikan andil terhadap deflasi sebesar 0,34 persen. Penurunan indeks terjadi pada subkelompok sayur-sayuran (14,73 persen), daging dan hasil-hasilnya (6,45 persen), buah-buahan (5,58 persen), kacang-kacangan (3,12 persen), serta telur, susu, dan hasil-hasilnya (3,03 persen). Pada bulan yang sama, subkelompok bahan makanan lainnya relatif tetap.
Beberapa komoditas kelompok bahan makanan yang memiliki andil terhadap deflasi meliputi daging
ayam ras (0,12 persen), ikan selar/tude (0,10 persen), telur ayam ras (0,07 persen), jagung manis (0,07 persen), tomat buah (0,07 persen), ikan kembung (0,05 persen), ikan layang (0,03 persen), bandeng (0,03 persen), kangkung (0,03 persen), dan komoditas lainnya di bawah 0,03 persen.
2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau
Selama April 2014, kelompok ini mengalami kenaikan indeks harga sebesar 1,38 persen menjadi 120,95 dibandingkan bulan sebelumnya. Andil kelompok ini terhadap inflasi sebesar 0,30 persen. Kenaikan indeks harga terjadi pada subkelompok tembakau dan minuman beralkohol (2,70 persen), makanan jadi (1,16 persen), dan minuman yang tidak beralkohol (0,58 persen).
Beberapa komoditas pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau yang memberikan andil terhadap inflasi antara lain ikan bakar (0,15 persen), rokok putih (0,09 persen), rokok
kretek filter (0,02 persen), jus buah (0,02 persen), dan roti manis (0,02 persen). Sedangkan komoditas
lainnya memiliki andil di bawah 0,01 persen.
3. Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar
Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,31 persen, yakni dari 107,77 pada Maret 2014 menjadi 108,10 pada April 2014. Secara keseluruhan kelompok ini memberikan andil terhadap inflasi sebesar sebesar 0,07 persen. Dari empat subkelompok yang mengalami kenaikan indeks harga yakni subkelompok penyelenggaraan rumahtangga (0,57 persen) dan biaya tempat tinggal (0,41 persen). Sedangkan subkelompok bahan bakar, penerangan dan air serta perlengkapan rumahtangga relatif tetap.
Beberapa komoditas yang mempengaruhi inflasi dalam kelompok ini adalah kayu balokan (0,04
persen), seng (0,01 persen), sabun detergen bubuk (0,01 persen), papan (0,01 persen), dan komoditas
4. S a n d a n g
Kelompok sandang mengalami penurunan indeks harga sebesar 0,46 persen, yakni dari 103,76 pada Maret 2014 menjadi 103,28 pada April 2014. Secara keseluruhan, besarnya andil terhadap deflasi sebesar 0,03 persen. Dari keempat subkelompok dalam kelompok ini, hanya dua subkelompok yang mengalami penurunan indeks harga yakni barang pribadi dan sandang lain (1,51 persen) dan sandang wanita (0,49 persen). Sementara pada sandang laki-laki dan sandang anak-anak relatif tidak mengalami perubahan.
Komoditas pada kelompok sandang yang memiliki andil terhadap deflasi meliputi emas perhiasan
(0,02 persen), kemeja pendek wanita (0,004 persen), dan kemeja panjang sersin wanita (0,004 persen).
5. K e s e h a t a n
Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, kelompok kesehatan selama April 2014 relatif tidak mengalami perubahan indeks harga, yakni sebesar 103,98. Dengan demikian, kelompok kesehatan tidak memiliki andil terhadap inflasi/deflasi umum.
Dari keempat subkelompok dalam kelompok ini, seluruhnya relatif tidak mengalami perubahan harga. Adapun indeks harga masing-masing subkelompok meliputi jasa kesehatan (102,38), obat-obatan (100,40), jasa perawatan jasmani (117,89), dan perawatan jasmani dan kosmetika (104,96).
6. Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga
Kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga selama April 2014 secara umum juga tidak mengalami perubahan indeks harga dibandingkan bulan sebelumnya. Sehingga, kelompok ini tidak memiliki kontribusi terhadap inflasi/deflasi umum.
Dilihat dari subkelompoknya, indeks harga masing-masing subkelompok yakni pendidikan (110,17), kursus-kursus/pelatihan (104,25), perlengkapan/peralatan pendidikan (104,63), rekreasi (104,42), dan olahraga (100,05).
7. Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan
Kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami kenaikan indeks harga sebesar 1,12 persen yakni dari 112,54 pada Maret 2014 menjadi 113,80 pada April 2014. Secara keseluruhan kelompok ini memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,21 persen.
Dari empat subkelompok, pengeluaran untuk transportasi mengalami kenaikan indeks sebesar 1,61 persen. Sedangkan komunikasi dan pengiriman, sarana dan penunjang transportasi, serta jasa keuangan relatif tetap. Tarif angkutan udara mendominasi andil pada kelompok ini terhadap inflasi sebesar 0,21 persen.
II. Perkembangan Inflasi/Deflasi Selama Tiga Tahun Terakhir
Tingkat inflasi selama April 2014 sebesar 0,21 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan yang sama dalam tiga tahun terakhir. Laju inflasi tahun kalender menunjukkan pola yang searah sebagaimana inflasi bulanan pada periode yang sama. Sementara itu, laju inflasi year on year merangkak naik setiap tahun dan mengalami lonjakan di tahun 2014. Perkembangan laju inflasi selama tiga tahun terakhir masing-masing sebesar 4,19 persen (2012), sebesar 4,80 persen (2013), dan 9,42 persen (2014).
No. Inflasi 2012 2013 2014
1 Inflasi April 0,16 -0,95 0,21
2 Laju Inflasi (Tahun Kalender) 0,71 -0,30 1,12
3 Laju Inflasi (Year on Year ) 4,19 4,80 9,42
Tabel 2
Perbandingan Inflasi/Deflasi Bulanan dan Laju Inflasi Kota Palu Tahun 2012 - 2014 -3,00 -2,00 -1,00 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
Grafik 1
Inflasi/Deflasi Bulanan Kota Palu Tahun 2012 - 2014
III. Perbandingan Inflasi/Deflasi Nasional dan Kawasan Sulampua
Selama April 2014 secara nasional terjadi deflasi sebesar 0,02 persen, dengan laju inflasi tahun kalender sebesar 1,39 persen dan year on
year sebesar 7,25 persen. Dari 82 kota
pantauan, terdapat 43 kota mengalami inflasi sedangkan 39 kota lainnya mengalami deflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Pangkal Pinang sebesar 1,57 persen, sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Jayapura sebesar 1,79 persen. Inflasi Kota Palu menduduki peringkat ke-24 secara nasional dan ke-12 di Kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua).
-1,79 -0,09 -0,05 0,08 0,10 0,15 0,21 0,24 0,30 0,33 0,39 0,54 0,58 0,59 0,70 0,71 0,89 0,92 Gambar 2. Inflasi Kawasan Sulampua
Bulan April 2014
IHK Inflasi (%) Laju Inflasi
(%) Y o Y [2] [3] [4] [5] 1 Ambon 111,21 0,92 3,25 9,86 2 Gorontalo 109,20 0,89 0,56 6,13 3 Bau-Bau 110,62 0,71 1,07 6,99 4 Ternate 112,95 0,70 0,98 9,31 5 Bulukumba 117,90 0,59 2,74 14,42 6 Watampone 110,45 0,58 1,85 8,31 7 Palopo 109,43 0,54 2,30 7,11 8 Sorong 109,51 0,39 0,82 6,75 9 Makassar 109,30 0,33 1,81 5,74 10 Manado 109,72 0,30 1,45 6,12 11 Pare-Pare 108,55 0,24 0,86 5,72 12 Palu 111,68 0,21 1,12 9,42 13 Tual 112,70 0,15 0,24 8,40 14 Mamuju 109,03 0,10 0,66 6,29 15 Kendari 107,43 0,08 -0,67 5,01 16 Merauke 113,07 -0,05 2,49 11,36 17 Manokwari 106,28 -0,09 -0,22 3,04 18 Jayapura 111,64 -1,79 0,29 7,49 [1] Tabel 3
Perbandingan Indeks Harga dan Tingkat Inflasi/Deflasi Beberapa Kota di Kawasan Sulampua
April 2014