GEREJA St. Anselm’s Church 1 MacNaughton Rd. (Bayview & Millwood)
Toronto ON M4G 3H3 Ph: (416) 485-1792 Subway Stn: Davisville Redaksi: Angelina Hanapie Julian Wibowo Christine Budihardjo Randy Danurahardja Penasehat: Rm. J. Juliwan M. SCJ Alamat Redaksi: c/o Priests of the
Sacred Heart 58 High Park Blvd. Toronto ON M6R 1M8 Email: [email protected] F E B R U A R I 2 0 1 6 / N O . 2 8 4
BERITA U.K.I
M e w a r t a k a n I m a n d a n K a s i h
W W W . U K I . C A36
YEARS
TOGETHER
1980-2016
Pastor Pamong
Rm. Johanes Juliwan Maslim SCJ, (647) 532.1318 [email protected]
Deacon
Deacon Val Danukarjanto, (416) 497.2274 [email protected] DEWAN PENGURUS UMAT KATOLIK INDONESIA
Koordinator Damianus Indyarta, (416) 284.4707 [email protected] Sekretaris Christianita Kuswoyo, (647) 774.3801 [email protected] Bendahara Janto Solichin, (416) 587.2362 [email protected] WILAYAH TIMUR Ketua Wilayah
Adrianus Sofjan Suhadi, (416) 949.3900 [email protected]
Seksi Liturgi
Jeffrey Susilo, (416) 388.6169 [email protected]
Seksi Bina Iman
Esther Kurniadi, (416) 371-2593 [email protected]
Seksi Sosial
Lusia Lie
[email protected], (416) 903.9718
Seksi Rumah Tangga
Selvie Widjaja, (647) 896.6121 [email protected] Usher Harty Doyle, (647) 533.6246 [email protected] WILAYAH BARAT Ketua Wilayah Ben Dijong, (905) 997.5765 [email protected] Seksi Liturgi Raymond Wirahardja, (905) 812.9491 [email protected]
Seksi Bina Iman
Maya Adisuria, (905) 814.8475 [email protected]
Seksi Sosial
Lucas Noegroho, (416) 859.0222 [email protected]
Seksi Rumah Tangga
Ribkah Mesach, (905) 286.9081 [email protected] Usher Joyo Sudardi, (905) 785.6379 [email protected] BIDANG KHUSUS Mudika, Yoanitha [email protected] PELAKSANA KHUSUS Ketua Lektor Lilian Tjokro, (905) 887.9546 [email protected] Ketua Sakristi Hendry Wijaya, (416) 450.6536 [email protected]
Minggu, 27 Maret 2016:
Misa Paska UKI dengan tema
“Cinta yang Bersemi”
Pukul 14:00 di St. Anselm
Minggu, 20 Maret 2016: Minggu Palma. Tidak ada Misa UKI. Umat dimohon menghadiri Misa Minggu Palma di paroki masing-masing.
Kamis Putih, 24 Maret 2016. Jumat Agung, 25 Maret 2016, Sabtu Suci, 26 Maret 2016: Tidak ada Misa
H A L A M A N 3
Bersambung ke halaman 4,
iingatkan kembali...
Abu telah kita terima yang menandakan perjalanan kita dalam Masa Retret Agung Prapaskah ini dimulai. Abu menjadi tanda yang selanjutnya harus kita wujudkan dalam hidup kita setiap hari. Kita tidak ingin tanda itu hanya kelihatan di dahi saja, melainkan di seluruh kehidupan kita sebagai orang yang ingin bertobat karena sadar akan kelemahan kita.
Untuk membantu perjalanan kita dalam Masa Retret Agung ini, Sabda Tuhan melalui Kitab Suci sudah menggambarkannya. Bantuan itulah yang kita sebut sebagai 3 pilar dalam Masa Prapaskah. Ketiga pilar itu adalah: Amal kasih-sedekah (almsgiving), Doa (prayer) dan Puasa (fasting). Inilah 3 pokok yang membantu kita untuk semakin memperbaiki diri dan menyatukan diri kepada Tuhan agar kita semakin mampu menjadi pribadi Katolik sejati, sebagai anak Allah. Puasa menunjukkan bagaimana relasi kita dengan diri sendiri, mengatur diri dan tidak mengikuti begitu saja keinginan dan nafsu kedagingan. Doa merupakan relasi dengan Tuhan, yang semakin diakrabkan sehingga semakin menjadi pribadi yang terberkati. Amal kasih merupakan
relasi dengan sesama, yang merupakan wujud mengasihi sesama dengan memberikan perhatian kepada saudara kita. Perhatian juga dalam bentuk berbagi kasih dengan memberikan kebutuhan yang diperlukan.
Belaskasih yang melimpah...
Secara khusus dalam Tahun Suci Luar Biasa Belaskasih ini, kita semakin disadarkan akan begitu melimpahnya Belaskasih Tuhan kepada kita semua. Belaskasih itu tampak dalam pengampunan atas kedosaan kita. Jelaslah bahwa hanya Tuhan sendiri yang dapat mengampuni dosa dan kesalahan kita. Namun demikian Tuhan telah berkenan memberikan kuasa pengampunan itu kepada rasulNya dan terus diwariskan kepada para uskup dan imam. Dengan demikian pengampungan Tuhan itu diberikan secara melimpah kepada semua orang yang datang dan memohon pengampunan. Santo Paulus mengatakan bahwa ketika dosa bertambah banyak, maka rahmat Tuhan semakin melimpah. Ini menunjukkan kepada kita begitu Tuhan itu memperhatikan kehidupan. Kita. Namun terutama karena Tuhan menginginan keselamatan kita semua.
Memasuki Masa Prapaskah ini, Paus Fransiskus mengutus para imam (romo) yang disebut
‘Misionaris Belaskasih – Missionaries of Mercy’. Mereka
adalah para imam yang diberi kuasa khusus untuk melepaskan dosa-dosa berat yang biasanya hanya bisa dilepas oleh Uskup atau Paus. Inilah tanda nyata Belaskasih Tuhan yang secara lebar dibuka bagi kita semua yang masih berjuang di dunia ini agar kita selamat. Para ‘Misionaris Belaskasih’ itu diutus ke seluruh dunia dalam membawa warta keselamatan dan membawa kita semua kepada Bapa yang berbelaskasih.
Jika Pintu Belaskasih Tuhan sudah terbuka lebar, bagaimana sikap kita secara pribadi? Tuhan melalui Gereja sudah berusaha membawa kita semua ke dalam keselamatan dan persatuan dengan Tuhan yang mencintai kita. Menghadapi realita yang penuh berkat ini, akankah kita berdiam saja dan membiarkan Rahmat dan Pengampunan yang akan tercurah bagi kita. Maka janganlah kita berkeras hati untuk membuka pintu hati kita bagi Belaskasih Tuhan supaya kita diselamatkan.
Menjadi
Misionaris Belaskasih
Mengalami Belaskasih Tuhan dan Membagikannya
D
H A L A M A N 4
Mengalami Belaskasih Tuhan...
Kita hadir di tengah dunia ini karena kasih Tuhan, yang telah menciptakan, maka bersyukurlah. Memang setiap pribadi mempunyai kisahnya sendiri, yang tidak selalu menggembirakan. Namun biarlah mata kita melihat kasih dan keselamatan Tuhan sejak kita membuka mata di dunia ini. Awal yang baik tentu saja akan menjadi langkah yang menggembirakan. Bersyukur adalah ungkapan pengalaman akan kasih dan kebaikan Tuhan. Ketika kita menyambutnya dan membuka mata untuk melihat kehadiran Tuhan, maka kita akan menjadi tenang dan aman.
Jika kita jujur, ada banyak peristiwa dalam kehidupan kita yang menunjukkan begitu besarnya kasih Tuhan. Tidak ada satupun peristiwa atau kejadian dalam hidup kita yang lepas dari tuntunan tangan Tuhan. Mulailah melihat dari hal-hal kecil dan sederhana, Tuhan sudah ada menyertai kita. Terkadang kita menjadi terkenal dan sukses namun kita tidak selalu bahagia karena kita peroleh bukan atas kerjasama kita dengan rahmat Tuhan. Tuhan selalu ingin membahagiakan manusia, seperti yang tampak dalam Sabda
Bahagia, yang ditulis dalam Matius
5: 1-12. Kebahagiaan tentu saja berkaitan dengan Keselamatan yang berasal dari Tuhan. Semuanya itu hanya mungkin karena Belaskasih Tuhan bagi kita. Baiklah kita selalu menyadari, juga dalam permasalahan dan tantangan kehidupan yang kita alami, Belaskasih Tuhan selalu hadir.
Saatnya untuk berbagi Belaskasih...
Perjalanan Masa Prapaskah di Tahun Suci Belaskasih ini mengajak kita untuk meneruskan Belaskasih Tuhan itu kepada sesama kita. Tentu saja kita hanya dapat membagikan
Belaskasih Tuhan itu jika kita terlebih dahulu mengalaminya dan memilikinya. Kita semua sudah diangkat menjadi anak-anak Allah dan dengan demikian kita pun meneruskan karya Keselamatan yang sudah dilakukan oleh Yesus, Saudara kita. Kepada kita semua Yesus bersabda, “Pergilah ke seluruh dunia, wartakanlah Kabar Gembira ...” . Jelaslah bahwa kita juga diutus untuk menjadi ‘Misionaris Belaskasih’ di jaman sekarang ini. Kita diutus bukan karena kita orang hebat, pinter atau terkenal, namun karena kita adalah anak Allah dan Allah adalah Bapa kita. Kita ikut ambil bagian dalam mewujudkan Keselamatan bagi semua orang di dunia ini.
Baiklah kita secara pribadi dan bersama mengadakan gerakan
Belaskasih mulai saat ini yang
digerakkan oleh Tahun Suci Belaskasih ini. Seperti pesan Ibu Teresa dari Kalkuta, ‘cinta itu mulai dari rumah’, maka mulailah menghidupi dan membagikan Belaskasih itu dari rumah dan keluarga kita masing-masing.
Kita berusaha untuk semakin mengalami Belaskasih Tuhan di dalam diri kita sehingga kita pun akan semakin mampu untuk Berbelaskasih kepada keluarga kita. Jika hal ini dihidupi dengan serius, maka akan terhindarlah berbagai ketegangan dalam keluarga apalagi perceraian. Kita harus berani memutuskan tindakan yang menyedihkan dan menghancurkan kesucian perkawinan dengan kasih. Keluarga bahagia dengan pancaran kasih akan membawa kesaksian bagi orang lain, maka Belaskasih itu makin tampak ke luar.
Baru saja UKI Toronto merayakan Ultah ke
36, usia yang sudah tidak terlalu muda lagi. Perayaan ini menjadi saat syukur atas banyaknya Belaskasih Tuhan yang diterima melalui banyaknya pribadi yang terlibat aktif dalam mengembangkannya. Semua tentu saja terlibat dalam kehidupan UKI, apapun bentuknya. Inilah saatnya pula kita membagikan Belaskasih itu di dalam Keluarga UKI kita tercinta ini. Kita ingin terus membagikan Belaskasih Tuhan itu kepada semua saudara di UKI, walaupun tidak semua pribadi menyenangkan. Tuhan Yesus selalu mengasihi dan Berbelaskasih kepada para rasulNya dan semua orang, walau ada di antara mereka yang malah melukaiNya. Jika kita semua membuka hati dan mau berbagi Kasih, tentulah semakin indahlah hidup dalam kebersamaan sebagai anak-anak Allah, khususnya di dalam UKI ini.
Semoga Masa Retret Agung Prapaskah ini semakin menjadikan kita sebagai pribadi yang mempunyai
hati terbuka bagi sesama dengan
berbagi Belaskasih Tuhan. □
1 Tesalonika 4:14
“Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang
telah meninggal dalam Kristus akan dikumpulkan Allah bersama-sama
Dia”
Umat Katolik Indonesia di Toronto dan sekitarnya,
TURUT BERDUKA CITA,
atas berpulangnya:
Bpk. Matthew Muljadi Pramana (84 th)
Meninggal, 15 Februari 2016 di Toronto Suami dari Lestari Pramana Ayah dari Hendra Pramana (Coco) / Carol
Lesmana Pramana (Dede) / Vivi Bernie B. Pramana / Linn Linda Pramana Hancott / Daren Hancott
Grandpa dari Calvin, Edrick Pramana / Stephanie, Ellysia, Dyllan, Garrett
Great Grandpa dari Ethan
Semoga Tuhan Yang Maha Rahim memberi keselamatan kekal dan tempat peristirahatan yang indah di rumah Bapa di sorga. Dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberi rahmat, kekuatan, ketabahan serta penghiburan
H A L A M A N 5
audara-saudari Umat katolik Indonesia yang terkasih. Pintu Masa Prapaskah segera kita masuki melalui Perayaan Rabu Abu. Dengan abu, kita semua disa-darkan akan kerapuhan manusiawi kita dan kedosaan kita. Dengan demikian, kita diajak untuk membuka hati bagi Belaskasih Tuhan yang be-gitu besar. Pintu Belaskasih Tuhan yang tampak dalam diri Yesus Kristus, yang membuka hatiNya, su-dah terbuka lebar. Dari Hati itulah mengalir Belaskasih dan Pengam-punan bagi kita semua.
Secara khusus pada tahun ini, rahmat Belaskasih itu semakin melimpah diberikan kepada kita semua. Oleh sebab itu isilah Masa Prapaskah ini dengan pertobatan total hidup kita. Gereja menyediakan ban-yak sarana dan jalan untuk menerima pertobatan ini. Sepanjang ‘Year of Mercy’ ini, pengampunan terus dicu-rahkan. Namun dalam Masa
Prapaskah, secara khusus rahmat itu diberikan. Maka janganlah sia-siakan karunia Tuhan yang indah ini.
Kita tidak hanya sadar se-bagai ‘anak bungsu’ yang berdosa dan mau kembali. Sebaiknya, sadari pula sikap kita sebagai ‘anak sulung’ yang merasa diri benar, selalu melakukan yang baik, taat peraturan, namun tidak bisa menerima ‘adik’nya yang bersalah, yang berdosa dan kembali. Inilah realita hidup kita, yang perlu kita sadari. Terkadang kita tidak mudah menerima sesama dan saudara kita yang bersalah, yang ku-rang baik, yang menyakiti kita ... Jika Allah Bapa kita begitu berbelaskasih dan mau mengampuni kita, mengapa kita masih berkeras hati. Ingatlah te-ma ‘Year of Mercy’ ini: “Berbelaskasih seperti Bapa”.
Perjalanan kita sebagai pribadi, keluarga, komunitas dan UKI, sungguh memerlukan dimensi Kasih dan Belaskasih ini. Seperti kata
Paus Fransisikus, “Jadilah misonaris Belaskasih”. Jelas ini menjadi tugas perutusan kita semua, yakni memba-wa Belaskasih Allah kepada semua manusia. Oleh sebab itu, jika kita sendiri belum membuka hati dan mengalaminya, maka menjadi tidak mudah berbagi Belaskasih Tuhan itu. Maka baiklah mulai dari diri kita sendiri, menerima dan membagikann-ya.
Dengan menghayati dan menghidupi Belaskasih Allah ini, banyak rencana dan kegiatan kita se-bagai UKI dapat kita lakukan dengan ringan dan kerjasama. Marilah kita melangkah bersama dalam Keluarga UKI dengan mengalami dan mem-bagikan Belaskasih Allah sehingga Masa Prapaskah ini akan berbuah indah dalam Perayaan Paskah nanti. Berkat Tuhan menyertai kita semua. Rm. Johanes Juliwan Maslim, SCJ
S
Oleh Johanes Juliwan Maslim SCJ
Membuka Hati
untuk
Menyambut Belaskasih Tuhan
Keluarga besar UKI Toronto yang terkasih dalam Kristus,
Memasuki masa Prapaskah ini, kita bersiap-siap kembali untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan mengadakan pengumpulan dana Aksi Puasa (di Indonesia biasa disebut APP).
Adapun tahun 2016 ini, dewan pengurus telah
memutuskan untuk menyalurkan dana Aksi Puasa kita ke 2 tempat di Indonesia:
1. Bagi pembangunan Gereja St.Mikael Nunang, Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang - Manggarai Barat. Keuskupan Ruteng, Nusa Tenggara Timur.
2. Bagi Panti Asuhan Suster PPYK (Puteri-Puteri Yesus
Kristus) di Pakem, Yogyakarta, Jawa Tengah. Panti ini menerima anak-anak miskin terlantar, bahkan dari bayi. Aksi Puasa ini akan dikumpulkan dalam bentuk Kolekte Kedua di setiap Misa UKI di masa Prapaskah. Yaitu: 1. Minggu, 14 Februari 2016
2. Minggu, 28 Februari 2016 3. Minggu, 13 Maret 2016
4. Sabtu, 19 Maret 2016 (Misa Minggu Palma saat Rekoleksi Prapaskah di Loretto Abbey)
Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, tidak ada tax receipt untuk Aksi Puasa ini karena tujuan alokasi dana adalah ke Indonesia.
Sebelumnya, kami ucapkan banyak terima kasih atas segala bentuk cinta yang akan disumbangkan bagi Aksi Puasa UKI ini. Tuhan memberkati segala upaya dan niat baik kita semua.
Salam Dalam Kasih, Dewan Pengurus UKI
Aksi
2016
Apa itu Tahun suci Kerahiman Ilahi (What is the
Year of Mercy)?
Yesus Kristus adalah wajah kerahiman Bapa (Jesus Christ is the
face of the Father’s mercy). Dengan perkataan tersebut, Paus
Fransiskus secara resmi memulai Tahun Suci/Yubileum Luar Biasa Kerahiman Allah, yaitu suatu masa doa yang dimulai pada tanggal 8 Desember 2015 - Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda - dan berpuncak pada Hari Raya Kristus Raja Alam Semesta, tanggal 20 November 2016.
Misteri Kerahiman Ilahi adalah pusat dari iman kristiani, selama tahun suci ini kita diharapkan untuk menjadi orang yang lebih mengasihi, lebih fokus kepada pengampunan dosa dan rekonsiliasi. Kita dipanggil untuk bertumbuh dalam iman kasih, berdoa bersama, dan menerima Sakramen Tobat.
Paus Fransiskus lebih jauh mengajak kita semua untuk memperdalam pemahaman dan keyakinan kita bahwa Allah adalah Maharahim, mengalaminya secara pribadi, menjalankan pertobatan dan mewujudkan pertobatan itu dalam kehidupan yang nyata.
YUBILEUM – apa maksudnya?
Tradisi Yubileum Tahun Suci ini berasal dari tradisi Perjanjian Lama. Setiap 50 tahun, Tahun Suci dirayakan untuk mengembalikan keseimbangan hidup bersama sebagai umat Allah. Pada Tahun itu semua warga Umat Allah yang menjadi hamba harus dibebaskan, semua tanah yang dijual harus dikembalikan kepada pemiliknya, semua hutang dihapus. Gereja mengambil alih tradisi ini sejak tahun 1475, atas penetapan oleh Paus Paulus II, merayakannya setiap 25 tahun.
Tahun Suci “biasa” terakhir kita rayakan pada tahun 2000, ketika umat manusia memasuki millennium yang ketiga. Selain Tahun Suci “biasa”, Gereja juga merayakan Tahun Suci “Luar Biasa”. Tahun Suci “luar Biasa” terakhir kita rayakan pada tahun 1983, untuk mengenangkan 1550 tahun karya penebusan Kristus.
MOTO: MERCIFUL like the Father (Lukas 6:36)
– apa maksudnya?
Dengan moto “Hendaklah kamu murah hati seperti Bapamu” (Merciful like the Father) Paus Fransiskus mengajak umat untuk mengikuti contoh kerahiman Allah yang meminta kita untuk tidak menghakimi atau menyalahkan, tetapi memberikan kasih dan pengampunan.
Logo yang dirancang oleh Pastor Marko I Ripnik, memperlihatkan Jesus, perwujudan dari kerahiman, memanggul “seorang yang hilang” diatas bahunya, menekankan betapa
dalamnya perikemanusian sang Juruselamat; keduamatanya menyatu dengan kedua mata orang yang diusung itu. Latar logo tersebut berupa tiga oval konsentris, dengan warna2 yang semakin terang ke sisi luar, yang berarti Yesus membawa orang tersebut keluar dari kegelapan dosa.
INDULGENSI untuk Tahun Kerahiman – apa
maksudnya?
Seperti pada setiap perayaan Yubileum sebelumnya, setiap umat dapat menerima Indulgensi penuh di Tahun suci kerahiman ini. Indulgensi adalah penghapusan dari hukuman-hukuman sementara atas dosa untuk orang beriman Kristiani yang berdiposisi baik serta memenuhi syarat tertentu (kanon 992). Dalam Tahun kerahiman ini, syarat untuk memperoleh
indulgensi penuh adalah menerima sakramen tobat, berziarah
dan mengikuti Novena yang ditetapkan gereja. Sedangkan
Indulgensi sebagian diperoleh ketika salah satu dari syarat itu
tidak dapat dipenuhi.
Bagaimana kita bisa mendapatkan INDULGENSI?
1. Berziarah - mengunjungi tempat2 ziarah, terutama mengujungi PINTU SUCI (HOLY DOOR) yang sudah ditetapkan di setiap keusukupan setempat, atau mengunjungi salah satu Holy Door dari 4 Basilika utama di Roma.
2. Menerima Sakramen Tobat
3. Menerima Ekaristi dengan refleksi kerahiman Ilahi
4. Melakukan pengakuan Iman, merenungkan kehidupan doa, dan beribadah.
5. Berdoa untuk Paus dan semua intensi-nya
6. Melakukan Karya Spiritual dan Jasmasi pelayanan Kasih (Corporal and Spiritual works of Mercy)
7. Konsesi diberikan kepada semua IMAM diizinkan untuk memberikan absolusi bagi pelaku aborsi; yang mana selain di Amerika Utara, wewenang ini hanya dimiliki oleh para uskup dan imam2 tertentu yang diberikan mandat oleh uskup mereka. Untuk umat yang tidak sanggup melakukan hal-hal tersebut diatas, seperti misalnya orang-orang tua, yang sedang sakit, dan di penjara, Paus Fransisksus mengatakan bahwa untuk mendapatkan indulgensi, dapat dilakukan dengan menjalankan hidup yang sehati dengan kristus dan selalu tabah dalam setiap cobaan, mengikuti sakramen Ekaristi dan menerima komuni. Apabila ada keterbatan fisik, hal-hal tersebut dapat dilakukan juga melalui berbagai media komunikasi yang ada. Hal ini sudah cukup dalam mendapatkan Yubileum indulgensi.
Karya2 pelayanan belas kasih di bidang Jasmani dan Spiritual -
(Corporal and Spiritual Works of Mercy) – apa maksudnya?
Salah satu pokok perhatian dalam mendapatkan indulgensi penuh dalam Tahun Suci Luar biasa ini adalah membuka hati
Tahun Suci Luar Biasa
Kerahiman Ilahi
(Dikutip dari: Bull of Indiction Misericordiae Vultus, Panduan Umum Tahun Yubileum Kerahiman ALLAH – KAJ, OSV- 365 Days to Mercy, dan Year of Mercy – Dynamic Catholic)
dan hidup menyapa orang-orang yang terbuang atau berkesusahan, terutama kita diharapkan dapat melakukan “Karya spiritual dan Jasmani dalam pelayanan belas kasih”.
Karya-karya belas kasihan di bidang rohani/spritual antara lain adalah:
Mengajar (instruct the
ignorant), memberi nasihat (counsel the doubtful),
menghibur, membesarkan hati, Serta mengampuni dan menanggung dengan sabar hati. Mendoakan sesama dan orang yang sudah meninggal.
Karya-karya belas kasihan di bidang jasmani terutama adalah: memberi makan kepada yang lapar, memberi minum orang yang haus, memberi tumpangan kepada tunawisma, mengenakan pakaian kepada yang telanjang, mengunjungi orang miskin, orang sakit atau orang ditahanan dan menguburkan orang mati Bdk.
Mat 25:31-46.. Dari semua karya itu,
memberi derma kepada orang miskin Bdk. Tob 4:5-11; Sir 17:22. adalah
satu dari kesaksian utama cinta kasih kepada sesama; ia juga merupakan satu perbuatan keadilan yang berkenan kepada Allah Bdk. Mat 6:2-4.:
Pintu Kerahiman (The
Holy
Door)
–
apa
maksudnya?
Aku berkata kepadamu
sesungguhnya akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang
yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu, barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput (Yoh 10: 7-9).
Yubileum Luar Biasa Kerahiman secara resmi dideklarasikan melalui
Bulla Kepausan - Misericordiæ Vultus (wajah kerahiman) yang
dikeluarkan pada tanggal 11 April 2015, yang mana menekankan pentingnya kerahiman atau belas kasih dan kebutuhan untuk "menatap" pada-NYA; bulla tersebut juga mengingatkan perlunya Gereja bersikap lebih terbuka, dan tetap
menghidupi semangat Konsili
Vatikan II.
Pintu-pintu suci semua Basilika Utama di Roma (termasuk Pintu Suci Basilika SANTO PETRUS, Santo Paulus diluar tembok, SANTA MARIA MAGGIORE, dan Yohanes Lateran) telah dibuka, dan juga "Pintu-pintu Kerahiman" khusus dibuka di berbagai Katedral dan gereja utama lainnya di seluruh dunia.
Dengan berjalan melewati pintu-pintu suci tersebut, umat beriman
dapat memperoleh indulgensi
setelah memenuhi ketentuan seperti diatas, yaitu berdoa untuk intensi
Paus, menerima Sakramen
Rekonsiliasi, tidak terikat pada dosa apapun juga, dan menerima
EKARISTI, Sepanjang masa
PraPaskah pada tahun ini, secara
khusus diadakan pelayanan
PENITENSI selama 24 jam,
imam-imam yang secara khusus
memenuhi kualifikasi dan
berpengalaman (disebut "Para
Misionaris Kerahiman") akan
tersedia di setiap keuskupan di seluruh dunia untuk melayankan pengampunan atas, BAHKAN, dosa-dosa yang sangat berat, termasuk kasus-kasus khusus yang umumnya merupakan wewenang Lembaga Penintensial Apostolik dari Takhta Suci.
Dalam Bulla tersebut, Paus
Fransiskus Mengatakan: "Pintu Suci akan menjadi sebuah Pintu Kerahiman di mana siapa pun yang memasukinya akan mengalami kasih Allah yang menentramkan, mengampuni, dan menanamkan pengharapan".
Semoga kita semua mendapatkan kesempatan mengalami Rahmat Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Ilahi dengan PENUH. Dan semoga Tuhan membantu upaya kita untuk semakin dapat memahami pesan Kerahiman ALLAH yang membarui kehidupan kita dan keluarga. □ |Damianus Indyarta|
Galeri Foto Serba Serbi, Februari 2016
Choir Group West Misa Perayaan HUT UKI
H A L A M A N 8 F E B R U A R I 2 0 1 6 / N O . 2 8 4
uhu pagi ini sangat dingin. Enggan rasanya melepaskan selimut tebal dan berbegas bangun. Tapi, dorongan untuk meneguk segelas kopi hangat dipagi hari, sembari melanjutkan membaca buku "The Genesis Diary, report from a Trappist Monastery" karangan Henri J Nouwen, membuat keputusanku berbeda. Aku segera bangun. Melangkah ke kamar mandi, dan memutar kran merah untuk mendapatkan air hangat. Lalu mengalirkannya ke seluruh tubuh.
Kesegaran dan kehangatan segera kudapatkan. Sungguh, sebuah modal besar untuk mengawali hari ini.
Selesai mandi, aku turun ke ruang makan, yang terletak di lantai dasar. Sebuah ruangan besar dengan meja dan kursi tersusun rapi. Sebelah baratnya, terdapat dapur yang besar pula dengan beberapa kulkas ukuran jumbo. Maklumlah, dulunya biara ini adalah rumah pendidikan calon romo SCJ. Pada masa itu, ada banyak calon sehingga rumah yang besar dengan ruangan-ruangan yang memadai sangat diperlukan. Seiring perjalanan waktu, yang tersisa tinggal gedung besar dan beberapa romo dan bruder yang sudah lanjut usia dan purna karya. Rumah yang begitu besar itu, sekarang dihuni oleh lima romo dan dua bruder. Setiap bulan, aku pergi ke komunitas ini, untuk melayani perayaan Ekaristi bagi KKI, (Keluarga Katolik Indonesia). Sementara aku tinggal di kota Toronto, 4,5-5 jam naik kereta dari Toronto ke Montreal.
Sesampai di ruang makan, aku belok ke dapur. Kulihat kopi sudah
tersedia di tempat pemanas. Artinya, tinggal ambil gelas dan tuangkan kopi. Bila mau, tambah sedikit gula dan susu atau cream. Aku memilih segelas kopi, 2 sendok gula dan 2 cream. Orang-orang Kanada, yang terbiasa minum kopi di Tim Hortons menyebutnya double-double. Bila mau beli kopi di Tim Hortons dan menyebut; small
double-double please, pelayan di
counter dengan sangat cekatan
menyiapkannya. Dia akan mengambil cup kecil lalu menuangkan air kopi, kemudian menambalkannya dengan dua sendok gula dan dua sendok susu atau kream. jadilah Small double double. Bila sudah “kecanduan” maka pergi ke Tim Hortons sehari tiga atau empat kali adalah hal lumrah. Celakanya, efek dari kecanduan itu tidak berhenti di Tim Hortons. Di rumahpun, orang melanjutkan ngopi dengan ramuan sendiri, segelas kopi, dua sendok gula, dua sendok susu atau kream dan menyebutnya double-double. Padahal sebutan itu, khas untuk kopi yang ada di Tim Hortons. Dan itu sah sah saja, karna aku melakukannya. Selain double-double kuambil 2 dua keping roti untuk di panggang. Sangat praktis dan tidak ribet untuk sekedar mengganjal perut di pagi hari.
Di meja makan sudah ada romo Walter sedang sarapan. Jus jeruk
dengan sereal. Sarapan yang menurutku aneh, tapi dah biasa bagi orang Kanada atau orang bule pada umumnya. Sebenarnya dia bukan orang Kanada, dalam arti lahir dari keturunan orang Kanada. Dia orang Belanda, dan hampir seluruh kehidupan imamatnya ia abdikan di Montreal, Kanada. Dia sangat fasih berbahasa Belanda, Perancis dan Inggris. Tak heran jika saat ngobrol, tiga bahasa silih berganti ia ucapkan. Beberapa pertanyaan tidak kurespon, karena menggunakan bahasa Belanda yang tak sepatah katapun kumengerti. Sampai akhirnya dia menyadari siapa teman bicaranya, dan beralih
menggunakan bahasa Inggris. Lalu terjadilah obrolan pagi yang asyik. Karena asyik ngobrol, harapan saya sejak bangun untuk menikmati kopi dan baca buku tidak terwujud. Tapi, kini mendapat kesempatan untuk membaca diary hidup seorang romo bernama Walter.
“Mo, apakah romo masih memiliki SIM?” Tanyaku.
"Sudah beberapa tahun saya tidak membaharui SIM.” Jawabnya.
“Saya menyadari, jika saya memaksa diri untuk nyopir maka bukan hanya membahayakan diri saya, tapi juga orang-orang lain. Saya sudah tua. Cukup menyadari bahwa; waktu berubah, ada saat dimana saya masih kuat, ada saat dimana saya lemah seperti sekarang ini. Itulah dinamika hidup”. Jelasnya.
Obrolan berlanjut ke hal-hal lain. Namun bagiku, kalimat itulah yang membuatku hanya bisa diam dan
Sebuah Cerpen
(antonius purwono scj)
Meja
Makan
dan
Meja Ekaristi
S
merenungkan apa yang barusan dia katakan; cukup menyadari, bahwa waktu berubah, ada saat dimana saya masih kuat, ada saat dimana saya lemah seperti sekarang ini. itulah dinamika hidup. Segala sesuatu ada waktunya adalah ungkapan yang sangat tegas diungkapkan oleh kitab pengkotbah, untuk menyimpulkan bacaan "hidup" pagi ini. Pagi ini terasa padat bagiku. Bukan karena aneka kegiatan yang memenuhi hari ini, tapi ternyata, belajar memaknai setiap sisi hidup, menjadikannya lebih padat dari pada segudang kegiatan yang tak satupun dimaknai. Maka minimnya aktifitas, tak berarti tanpa makna. Bisa jadi jusrtu menjadi saat untuk mengumpulkan remah-remah pengalaman hidup yang begitu kaya dan berharga.
Orang seusia Romo Walter (89) adalah orang yang sudah banyak banyak garam kehidupan. Sebuah usia yang banyak bonusnya. Dalam Kitab Mazmur di katakan, usia manusia adalah tujuh puluh tahun, atau delapan puluh jika kuat. Dia, tidak hanya kuat, tapi sangat kuat. Banyak orang takut berumur panjang. tapi juga takut berumur pendek. Membingungkan bukan? Berumur panjang takut karena khawatir, meski umurnya panjang tapi raga manusiawi mulai lemah dan menjadi sangat tergantung kepada orang lain. Makan minum dibantu, apalagi urusan kamar mandi, selalu harus ditemani. Menginginkan sesuatu, selalu ragu. Takut keinginan-keinginannya menganggu. dan aneka keluhan lain. Intinya; tergantung pada orang lain, menjadi semacam momok yang menakutkan. Maka tidak heran, ketika usia beranjak tua, merasa bahwa hidup ini sia-sia. Tidak ada harganya.
Dalam diri Romo Walter ini, aku justru menemukan sebaliknya. Menjadi tua berarti saatnya menerima; bahwa pernah muda dan gagah perkasa. Pernah menjadi tempat orang -orang bergantung padanya. Pernah melanglang buana kemana hati suka. Pernah ragu akan iman, namun dalam pergulatan kembali menemukan. Kini, menjadi tua adalah saat menjadi saksi, bahwa tidak ada yang sia-sia. Bahwa tergantung pada orang lain, ternyata bagian dari percaya. Sulit kubayangkan bisa menggantungkan hidup pada Tuhan yang tak kelihatan, sementara menggantungkan diri pada sesama yang kelihatan saja tidak bisa. Dan ingat, tergantung disini bukan model orang yang selama hidup cuma menjadi parasit. Sebuah ketergantungan yang merugikan. Aku berani menyimpulkan begitu, karena obrolan meja makan dengannya, membuatku menemukan kata-kata hikmat keluar dari mulutnya. Kusebut kata-kata hikmat bukan karena menceritakan apa yang hebat-hebat, tetapi juga kesadarannya untuk mengakui kelemahannya. Inilah kebijaksanaan, yakni kemampuan mengolah dan mengemas sebuah kelemahan dan kesulitan hidup sebagai sebuah nasehat yang hidup, dan bukan sebagai litani keluh kesah. Karenanya, dia bahagia. Terlihat dari raut wajah dan senyumannya, yang menunjukkan perpaduan; syukur-bahagia-menerima diri apa adanya. Dan lihatlah, dia pergi meninggalkan kamar makan, tertatih dengan tongkatnya dan membiarkan orang lain membersihkan peralatan makannya. Dan dia tidak meninggalkan sampah, tapi meninggalkan kisah. Kisah itu, berawal dari meja makan dan akan berlanjut ke meja yang lain, meja Ekaristi. Dan aku lupa, membiarkan
double double tersisa. Kuteguk beberapa kali, meski dingin, namun tetap memberikana kesegaran bersama kisah meja makan.
———-000———
Pukul 9.30 Misa komunitas dimulai. Koor yang sangat indah dari tape menghantar kami berdelapan mengawali perayaan Ekaristi. Lagu tersebut diputar sebagai lagu pembukaan. sementara kami memegang teks lagu yang sudah disiapkan. Dari situ, kami bernyanyi mengikuti lagu yang sedang diputar ditape. Pertama-tama terkesan aneh; masa misa lagunya dari tape? Keanehan itu segera sirna, manakala menikmati musik dan suara koornya, tertatih mengikuti menyanyikan lagunya dengan khidmat. Lagu pembukaanpun selesai dan dengan sempurna. Menyanyikannya, tak perlu pusing siapa yang jadi anggota koornya. Mereka bisa baca not atau tidak. Tak perlu mencari orang yang menjadi dirigen juga organisnya. Dengan tape, dirigen, koor, pemusik dan urusan-urusan lain semudah pesan double-double di Tim Hortons.
Nyanyian misa yang adalah ungkapan khidmat hati untuk menganggungkan Tuhan, kadang menjadi ajang diskusi rumit berbelit atas penafsiran aturan liturgy yang berbeda. Lepas dari itu, kadang situasi diperparah dengan sekelompok oknum, bukan untuk mengajak seluruh umat berpartisipasi, melainkan justru mengajak umat untuk memberi apresiasi; bahwa suara mereka yang merdu seperti suara bidadari, yang tak mampu diikuti namun mesti dipuji. Apresiasi dan tepuk tangan meriah menjadi semacam air segar pelepas dahaga, karena untuk menyanyikannya, mesti latihan
puluhan kali. Pernah terjadi, seorang ibu datang kepadaku selesai misa. Dengan penuh kebijaksanaan sebagai orang yang memiliki etika dan sopan santun dalam menghargai, mengatakan;
“Romo, mengapa romo tidak mengucapkan terimakasih kepada anggota koor? Tahu tidak, mereka itu meski sibuk seharian bekerja, masih meluangkan waktu untuk latihan koor. Bukan hanya sekali dua kali, berkali-kali. Kadang mereka harus mengeluarkan uang daari sakunya untuk transport dan penggandaan teks. Dimana penghargaan romo terhadap mereka?” tanyanya dengan nada tinggi.
“Bu, sebelum berkat penutup tadi saya sudah mengucapkan terima kasih. Apakah ibu tidak mendengar?” “Tidak! Tidak ada sepatah katapun romo mengucapkan terima kasih kepada petugas koor” sanggahnya dengan nada makin tinggi.
“Memang saya tidak mengucapkan terima kasih secara khusus kepada petugas koor, tapi kepada semua petugas liturgi. Bukankah koor juga termasuk petugas liturgi? Sehingga ketika saya mengucapkan terima kasih kepada petugas liturgi, petugas koor juga masuk didalamnya? Jelasku, menyakinkan ibu tersebut.
“Tapi, lain kali, tolong disebut secara khusus, ya mo.” Pintanya dengan suara yang tidak sekeras tadi. Lalu dia pergi dengan muka masam. Dalam hati aku berkata, kalau setiap orang menginginkan untuk ucapan terimakasih satu per satu, waktu misa menjadi semakin panjang. Ekaristi, bagaimanapun adalah perayaan keselamatan. Umat
berkumpul untuk mengucap syukur atas keselamatan yang terjadi. Seluruh pikiran, ucapan, gerak-gerik selama Ekaristi adalah tindakan personal, namun juga komunal yang menanggapi undangan Tuhan untuk bersatu dalam Ekaristi. Maka, segala syukur puji pertama-tama diarahkan pada Sang Ilahi. Secara personal, Ekaristi menjadi sumber kekuatan dan makanan rohani, sedangkan secara komunal, karena menikmati perjamuan dari meja yang satu dan sama, membangun kesatuan yang saling meneguhkan dan menguatkan. Bukan sebaliknya, saling menggungguli dan merasa hebat sendiri.
Pengalaman Ekaristi yang demikian tentu, menyukakan. Dan kini semakin intens kurasakan. Setelah doa Bapa Kami dan Salam Damai, kami berdelapan maju mengelilingi altar. Kemudian Romo yang memimpin perayaan Ekaristi mengatakan:
"Inilah anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, berbahagialah kita yang diundang
ke perjamuanNya". Seruan ini sungguh menegaskan apa artinya membentuk dan menjadi sebuah komunitas. Komunitas dibentuk dan dijadikan, pertama tama untuk menyadari sebagai komunitas yang berbahagia secara pribadi dan bersama karena selalu diundang bersatu dengan Yesus. Berbagai perbedaan, situasi hidup masing-masing bukanlah penghalang untuk menjadi satu. Karena unsur yang menyatukan bukan diri masing-masing, tapi Yesus sendiri. Yesus yang menyatukan, Yesus yang menguatkan. Kini saatnya menerima Komuni.
“Tubuh Kristus” “Amin”
Amin? Ya! Amin merupakan sebuah persetujuan menerima DIA untuk bersatu dan menguasai hidup penerimanya. Kemana dan bagaimana hidup ini akan dibawa, membiarkan Dia menguasai nya, adalah bentuk dari percaya.
Selesai misa, aku menunggu jemputan untuk memimpin perayaan Ekaristi di St. Josep Oratory bersama umat KKI Montreal. Sebuah gereja besar yang dibangun di atas bukit Mount Royal. Gereja ini didedikasikan untuk seorang bruder yang menjadi santo. Terkenal dengan sebutan Bruder Andre. Seorang bruder yang bertugas sebagai penjaga pintu biara. Sosok yang sangat sederhana dan rendah hati. Tapi justru itulah keunggulan yang menunjukkan kualitas hidupnya. Status hidup apapun tidak jadi soal, asal dijalani dengan cinta dan kesetiaan. Gelar santopun dianugerahkan untuk bruder rendah hati ini. Keutamaan yang demikian itu pastilah mengalir dari daya Ekaristi yang dihayati.
Ekaristi yang demikian, bisa menjadi daya yang menguatkan berhadapan dengan dunia yang dirasakan amat kejam dan menakutkan. Aku yang baru saja menerima Komuni Suci bersama komunitas, mesti dan harus memberi kesaksian bahwa bersama Yesus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Maka dalam kotbah, tema “janganlah khawatir” mendominasi permenungan misa keduaku hari ini. Dengan yakin kutakatan bahwa kekhawatiran sudah menjadi bagian hidup kita yang tidak mudah untuk disingkirkan. Terlebih bila dikaitkan dengan kehidupan
H A L A M A N 1 0 F E B R U A R I 2 0 1 6 / N O . 2 8 4
nyata. Begitu mudah orang khawatir. Dari soal sepele sampai soal serius. Mudah sekali khawatir. Menerima Dia dari meja Ekaristi, berarti mengikutsertakan Dia dalam setiap langkah hidup yang dihadapi. BersamaNya, masih perlukah khawatir? Itu bukan hanya pertanyaan untuk umat, tapi juga untukku yang berkotbah, juga sering khawatir. Dan jawabannya kutemukan di dua meja. Meja makan dan meja Ekaristi.
————-000—————-
Sayup-sayup aku mendengar suara orang mendorong gerobak. Aku terkejut dan terbangun. Kulihat jam
menunjukkan pukul 7.30 malam. Sudah hampir 1 jam aku tertidur. Gerobak itu mendekat menjual aneka makanan dan minuman. Kupesan double double dan kunikmati bersama roti bagel. Kereta terus melaju. Kota Montreal kutinggalkan. Kota Torontopun menunggu. Di sela-selanya, kuambil apa yang tadi pagi tertunda: "The Genesis Diary, Report from a Trappist Monastery" karangan Henri J Nouwen pun ku baca.
Team Redaksi
BERITA UKI
Alamat Redaksi: c/o Priests of the Sacred
Heart 58 High Park Blvd. Toronto ON M6R 1M8 Email: [email protected] www.UKI.CA