P P A T K
AML
NEWS
Clipping Service
Anti Money Laundering
23
Agustus
2011
Indeks
1. Korupsi Alat Kesehatan
Mantan sekretaris menkokesra era Ical dihukum 3 tahun bui
2. Kasus Korupsi Mesin jahit, PK Periksa Mantan Pejabat Depsos
3. Dugaan Korupsi
Mantan dirjen perkeretaapian diancam 20 tahun penjara
4. Korupsi
Berkas kasus Jatirunggo ke Pengadilan Tipikor
5. Robertus Terbukti Suap Gayus Tambunan
Roberto terbukti memberikan Rp 925 juta kepada Gayus
Tambunan
6. Angelina Sempat Minta Uang ke Nazaruddin
Detik.com
Selasa, 23 Agustus 2011 Korupsi Alat Kesehatan
Mantan Sekretaris Menkokesra era Ical Dihukum 3 Tahun Bui
Jakarta - Mantan Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Sutedjo Yuwono, terbukti melakukan korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes)
penanggulangan flu burung di Kemenko Kesra pada 2006. Pengadilan Tipikor menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara kepada Sutedjo.
"Mengadili, menyatakan, terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan tindak pidana korupsi," kata ketua majelis, Tjokorda Rae Suamba, saat membacakan putusannya di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (23/8/2011).
Selain hukuman badan, majelis juga menjatuhkan denda kepada Sutedjo. Mantan bawahan Aburizal Bakrie saat menjabat sebagai Menko Kesra ini juga diwajibkan membayar uang denda Rp 150 juta subsidair tiga bulan kurungan.
Sutedjo juga seharusnya diwajibkan membayar uang pengganti. Namun dari jumlah yang diwajibkan sebesar Rp 3,1 miliar, Sutedjo ternyata sudah menitipkan uang Rp 5 miliar kepada KPK.
"Sehingga kelebihan Rp 1,8 miliar. Kelebihan itu harus dikembalikan kepada terdakwa dan tidak diharuskan membayar uang pengganti," kata hakim anggota, Hugo.
Majelis menilai, seluruh unsur tindak pidana korupsi, telah terpenuhi pada diri terdakwa. Mulai dari menguntungkan diri sendir dan orang lain, penyalahgunaan wewenang hingga perbuatan merugikan negara. Berdasarkan penghitungan BPK, kerugian negara dalam perkara ini Rp 36,2 miliar.
"Unsur merugikan keuangan negara terpenuhi," ujar hakim anggota lainnya, Anwar. Sutedjo terbukti telah melanggar pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sutedjo meminta waktu kepada majelis untuk berpikir apakah akan mengajukan banding atau tidak. Hal yang sama juga dilakukan jaksa.
"Ada beberapa hal yang menurut saya tidak saya lakukan, maka saya akan pikir-pikir," tegasnya.
(mok/mad) Detik.com
Selasa, 23 Agustus 2011
Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengusut kasus pengadaan mesin jahit yang telah menyeret Mantan Mensos, Bachtiar Chamsyah. Hari ini KPK memeriksa mantan Kasubdit Kemitraan Usaha Departemen Sosial, Yusrizal, yang telah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.
"Ya, diperiksa sebagai tersangka dalam kasus korupsi pengadaan mesin jahit di Departemen Sosial," tutur Kabag Pemberitaan KPK Priharsa Nugraha ketika dihubungi, Senin (23/8/2011).
Yusrizal telah datang di kantor KPK sejak pukul 10.15 WIB. Dia diantar menggunakan mobil tahanan yang membawanya dari rutan Cipinang.
Yusrizal sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka dalam dua kasus dugaan korupsi di Depsos, yaitu pengadaan mesin jahit dan sapi impor. Dia dijerat dengan pasal 2 ayat 1 danb atau pasal 3 dan atau pasal 11 Undang-undang 31 tahun 1999 tentang Tindan Pindana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 KUHP.
Di dalam kasus tersebut, selain Yurizal, KPK juga telah menetapkan politisi PD bernama Amrun Daulay sebagai tersangka dalam kasus ini. Amrun dulunya
merupakan Dirjen Bantuan dan Jaminan Sosial, pada saat pengadaan mesin jahit ini terjadi yakni di tahun 2004-2006. Amrun telah ditahan oleh KPK.
Ada pun Amrun diduga secara bersama-sama atau turut serta terkait perbuatan Bachtiar melakukan tindak pidana korupsi pengadaan sapi impor dan mesin jahit tahun 2004 di Depsos. Sementara Yusrizal diduga secara bersama-sama dengan Bachtiar melakukan tindak pidana korupsi pengadaan sapi impor 2004, serta pengadaan mesin jahit 2004 dan 2006.
Berdasarkan hasil penyidikan, ditemukan bahwa Amrun dan Yusrizal diduga bersama-sama Bachtiar menyalahgunakan wewenangnya dan menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau korporasi. Total kerugian negara dari pengadaan sapi impor pada 2004 adalah Rp 1,9 miliar. Sementara itu, total kerugian negara pada
pengadaan mesin jahit 2004 dan 2006 sekitar Rp 20 miliar. Dalam kasus ini,
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi telah memvonis Bachtiar dengan hukuman penjara 1 tahun 8 bulan.
(fjr/mad)
Suarakarya-online.com Selasa, 23 Agustus 2011 DUGAAN KORUPSI
JAKARTA (Suara Karya): Mantan Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian
Perhubungan Soemino Eko Saputro terancam pidana selama 20 tahun penjara karena didakwa melakukan tindak pidana korupsi pada proyek pengangkutan 60 unit kereta rel listrik (KRL) bekas hibah dari Pemerintah Jepang, Pada 2006-2007.
Jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa Soemino bersama Direktur Keselamatan dan Teknik Sarana pada Ditjen Perkereta-apian Kementerian Perhubungan, Asriel Syafei serta tiga pengusaha asal Jepang yaitu Hiroshi Karashima, Hideyuki Nishio dan Daiki Ohkubo telah melakukan perbuatan melawan hukum dalam proses pengangkutan KRL hibah tersebut.
"Perbuatan terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur pasal 2 ayat 1 juncto Pasal 18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi," kata JPU Agus Salim saat membacakan surat dakwaan itu di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), kemarin (22/8).
Perbuatan melawan hukum dimaksud JPU KPK itu adalah penunjukan langsung perusahaan pada pengangkutan KRL hibah Jepang itu oleh Soemino. Perusahaan yang ditunjuk itu adalah Sumitomo Corporation. Perintah penunjukkan langsung itu dilakukan Soemino melalui surat nomor PL.102/a.214/DJKA/10/06 tertanggal 6 Oktober 2006.
Dikatakan Jaksa, atas surat tertanggal 10 Oktober 2006, Kasi Fasilitas Sarana Wilayah I, Muttaqin meminta panitia pengadaan untuk memulai proses pengadaan KRL hibah dengan metode penunjukan langsung kepada Sumitomo Corporation, namun panitia tidak pernah menerima dokumen tentang hibah. Akibatnya, negara telah dirugikan sebesar JPY 195,086 juta, atau setara Rp 20,5 miliar, yang diakibatkan adanya mark up harga dalam pembayaran biaya angkut KRL senilai Rp 48,7 miliar.
KPK menduga tindakan Soemino tersebut merugikan keuangan negara sekira 200 juta yen atau setara dengan Rp 20 miliar.
Kasus tersebut berawal ketika pemerintah Indonesia mendapatkan hibah berupa 60 unit KRL bekas dari Pemerintah Jepang. Kereta bekas yang dihibahkan itu terdiri dari 30 unit tipe 5000 milik Tokyo Metro dan 30 unit tipe 1000 dari Toyo Rapid Railway. Namun, dalam perjanjian hibah antara pemerintah Indonesia dengan Jepang, pihak penerima harus menanggung ongkos kirimnya. Tanpa melalui proses tender, perusahaan asal Jepang, Sumitomo, mendapatkan proyek untuk pengiriman 60 unit KRL bekas tersebut ke Indonesia.
Sumino ditetapkan KPK sebagai tersangka dalam kasus itu karena diduga
menggelembungkan (mark up) ongkos pengiriman KRL dari Jepang ke Indonesia. Nilai proyek pengiriman itu mencapai Rp 48 miliar. Sementara dari hitungan KPK,
kerugian keuangan negaranya mencapai Rp 11 miliar. Sumino pun ditetapkan menjadi tersangka medio tahun 2009.
Dalam melakukan penyidikan KPK juga menggeledah kantor perwakilan Sumitomo Corporation di Jakarta.
Menurut Soemino, pada tahun 2006, dia diperintah menteri perhubungan untuk melakukan survei hibah KRL dari Jepang. Namun, saat dia berada di Jepang, tidak ada lagi program hibah murni KRL bekas.
Karena tidak ada hibah murni, maka pihak penerima atau pemerintah Indonesia harus menanggung biaya angkut dan administrasi. Selanjutnya, hasil survei Sumino itu ditindaklanjuti oleh satuan kerja di Kementerian Perhubungan yang melakukan pengadaan KRL hibah.
Menurut Soemino, pelaksanaan proyek hibah tersebut dilakukan oleh panitia
pengadaan. Saat itu, dikabarkan, Japan Railway meyarankan panitia itu ke Sumitomo untuk mengangkut KRL bekas tersebut.
Sementara itu Pengadilan Tipikor Bandung, Senin, memvonis bebas Bupati Subang nonaktif Eep Hidayat, terdakwa korupsi upah pungut Pememrintah Kabupaten Subang. Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Eep dengan hukuman 8 tahun penjara dan denda sebesar Rp 500 juta serta membayar uang pengganti sebesar Rp 2,8 miliar.
Ketua Majelis Hakim Tipikor Bandung I Gusti Lanang, menyatakan terdakwa Eef Hidayat tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana dalam dakwaan primer maupun subsider. Putusan tersebut disambut sorak riuh rendah dari hadirin pendukung Eef Hidayat yang memenuhi ruang siding. Berbalut baju batik merah Eep Hidayat tampil dengan mimik tanpa dosa dan merasa bersalah. (Nefan Kristiono/Agus Dinar)
Suarakarya-online.com Selasa, 23 Agustus 2011 KORUPSI
Berkas Kasus Jatirunggo ke Pengadilan Tipikor
SEMARANG (Suara Karya): Berkas kasus pemindahbukuan uang ganti rugi pengadaan tanah yang terkena proyek pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo milik puluhan warga Desa Jatirunggo dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Kota Semarang.
"Berkas pemeriksaan tersebut dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor pada hari ini oleh Kejaksaan Negeri Ambarawa sesuai dengan tempat kejadian," kata Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, Setia Untung Arimuladi, di Semarang, Senin.
Ia mengatakan, dengan dilimpahkannya berkas pemeriksaan tersebut maka kasus Jatirunggo dengan kerugian keuangan negara sebesar Rp 12 miliar dapat segera disidangkan.
"Mengenai waktu dan majelis hakim yang akan menyidangkan kasus Jatirunggo, silakan ditanyakan ke Pengadilan Tipikor," ujarnya.
Dalam penanganan kasus Jatirunggo, Kejati Jateng telah menahan tiga tersangka di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kedungpane Semarang.
Mereka adalah Hamid dan Agus Soekmaniharto yang berperan sebagai perantara dan seorang ketua tim pembebasan tanah (TPT) pengadaan tanah pengganti yang
terkena proyek pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo di Desa Jatirunggo yang bernama Suyoto.
Terkait perkembangan penyidikan kasus Jatirunggo, jaksa penyidik telah
menemukan bukti awal penyimpangan terkait raibnya uang ganti rugi proyek Jalan Tol Semarang-Solo yang merugikan keuangan negara.
Bukti awal itu antara lain puluhan pemilik tanah tidak pernah melakukan
musyawarah terkait pembebasan lahan dan ditemukannya dokumen jual beli yang telah dipalsukan sehingga menguatkan dugaan rekayasa oleh pihak tertentu. Rekayasa itu untuk menyiasati aturan formal yakni Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 dan PP Nomor 65 Tahun 2006 tentang Pengadaan Tanah untuk
Kepentingan Umum.
Puluhan warga Desa Jatirunggo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang yang lahannya tergusur proyek Jalan Tol Semarang-Solo mengadu ke Kantor Komisi Informasi Publik Jawa Tengah, pada 2 Agustus 2010, menyusul raibnya uang ganti rugi yang dibayarkan melalui rekening Bank Mandiri.
Sebanyak 99 bidang lahan seluas 27,8 hektare yang terkena proyek Tol Semarang-Solo telah dibayar ganti ruginya oleh tim pembebasan tanah proyek itu sebesar Rp 13,2 miliar.
Kejati Jateng telah memeriksa puluhan saksi terdiri atas warga dan pihak terkait lainnya seperti tim pengadaan tanah (TPT), Dinas Kehutanan Jateng, PT Trans Marga Jateng, dan Bank Mandiri. (Lerman S/Ant)
Vivanews.com
Selasa, 23 Agustus 2011
Roberto terbukti memberikan Rp925 juta kepada Gayus Tambunan
VIVAnews - Terdakwa suap, Robertus Santonius, divonis bersalah melakukan penyuapan kepada pegawai pajak Gayus Tambunan. Robertus pun diganjar dengan hukuman dua tahun penjara dan denda Rp100 juta subsider dua bulan kurungan. "Mengadili, menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi," kata Ketua Majelis Hakim Tjokorda Ray Suamba, saat membacakan putusan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa 23 Agustus 2011. Majelis hakim menjelaskan hal yang memberatkan terdakwa adalah perbuatan terdakwa yang memberikan Rp925 juta kepada Gayus Tambunan merupakan perbuatan yang tidak profesional.
"Sedangkan hal yang meringankan adalah terdakwa sopan selama di persidangan, masih memiliki tanggungan keluarga, dan belum
pernah dihukum sebelumnya," ujarnya.
Vonis hakim jauh lebih ringan dibanding tuntutan jaksa penuntut umum.
Sebelumnya JPU menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama empat tahun dan denda Rp200 juta subsider enam bulan penjara.
Terhadap putusan hakim, jaksa penuntut umum tidak langsung menyatakan
banding, dan masih menggunakan waktu tujuh hari untuk pikir-pikir. Demikian pula Robertus, belum menyatakan banding dalam persidangan hari ini. "Yang Mulia, saya masih merasa bingung," kata Robertus.
Sebagaimana diketahui Roberto didakwa berusaha memengaruhi pengurusan keberatan dan banding atas Pajak Penghasilan (PPh) PT Metropolitan Retailmart tahun 2004 dengan memberikan imbalan kepada Gayus. Pada perkara keberatan pajak di Pengadilan Pajak, Gayus bertindak sebagai kuasa hukum dari Ditjen Pajak. Atas pemenangan keberatan pajak PT Metropolitan Retailment, negara
mengembalikan kelebihan pajak yang telah dibayar senilai Rp537,599 juta,
kelebihan PPh sebesar Rp12,626 miliar serta pengembalian bunga sebanyak Rp2,62 miliar.
Uang suap untuk Gayus diberikan Roberto dalam dua tahap. Uang tahap pertama senilai Rp900 juta disetorkan kepada Gayus melalui transfer lewat rekening BCA cabang Suryopranoto Jakarta Pusat pada 28 Maret 2008. Selanjutnya pada 29 Agustus 2008, Roberto kembali mentransfer uang senilai Rp25 juta ke rekening Gayus melalui BCA cabang Harmoni. (umi)
Mediaindonesia.com Senin, 22 Agustus 2011
Angelina Sempat Minta Uang ke Nazaruddin
JAKARTA--MICOM: Anggota Komisi XI DPR RI Angelina Sondakh sempat meminta sejumlah uang kepada pemilik PT Permai Grup Muhammad Nazaruddin.
Itu terungkap dari kesaksian Marketing PT Anak Negeri Mindo Rosalina Manulang dalam persidangan yang beragendakan pemeriksaan terdakwa kasus dugaan suap proyek pembangunan wisma atlet, Jakabaring, Palembang, Sumatra Selatan. Rosa yang mengenakan terusan bermotif polkadot hitam putih itu membantah pernah mengajukan permintaan sejumlah uang melalui Wakil Direktur Keuangan PT Permai Grup Yulianis untuk Seskemenpora Wafid Muharram maupun pihak DPR. Ia justru mengatakan bahwa ia pernah diperintahkan oleh atasannya, M. Nazaruddin, untuk menanyakan apakah politikus Demokrat Angelina Sondakh membutuhkan uang.
"Pak Nazar pernah bilang, 'Ros coba kau kontak si artis. Kayanya dia butuh uang'," ujar Rosa menirukan ucapan Nazar di Pengadilan Tipikor, Senin (22/8).
Meski sempat enggan untuk menyebut nama artis yang dimaksud oleh Nazar, Rosa akhirnya mengakui yang dimaksudnya itu adalah Angelina Sondakh.
Ia pun kemudian menanyakan perintah atasannya kepada Angie. Sayangnya saat jaksa Hendarbeni Sayekti menanyakan permintaan tersebut terkait hal apa, Rosa tidak menjelaskannya.
"Saya sampaikan, 'Iya katanya dia minta uang'. Yang minta uang Angelina," imbuhnya.
Dalam persidangan tersebut Rosa juga mengakui menggunakan istilah apel malang dan apel washington ketika melakukan pembicaraan dengan Angie melalui layanan BlackBerry messenger.
Sebelumnya saat bersaksi di persidangan Rosa, Yulianis sempat mengungkapkan dua politisi Senayan, Angelina Sondakh dan I Wayan Koster adalah orang-orang kerap berhubungan dengan Rosa.
untuk diberikan kepada dua politisi Senayan tersebut terkait pembelian proyek wisma atlet di DPR. (*/OL-5)