• Tidak ada hasil yang ditemukan

ENAM JENIS POHON BERKHASIAT OBAT DAN KEBERADAANNYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ENAM JENIS POHON BERKHASIAT OBAT DAN KEBERADAANNYA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh : Andianto*

ENAM JENIS POHON

BERKHASIAT OBAT

DAN

KEBERADAANNYA

ENAM JENIS POHON

BERKHASIAT OBAT

DAN

KEBERADAANNYA

Artikel

Artikel

B

u d a y a p e n g o b a t a n t r a d i s i o n a l dengan memanfaat-kan bagian-bagian tanaman sudah lama teruji dan tumbuh b e r k e m b a n g d i Indonesia. Dalam per-kembangannya, di-kenal istilah jamu, kemudian didi-kenal dengan adanya obat herbal terstandar (OHT), dan terakhir yang kita kenal dengan istilah fitofarmaka. Ketiganya merupakan tingkatan produk obat- obatan yang berasal dari tumbuhan. Jamu dapat dibedakan dengan obat tradisional lainnya karena jamu belum mengalami proses standardisasi bahan baku. Menurut Poerwadarminta (1976) jamu adalah obat yang dibuat dari akar-akaran, daun-daunan, kulit dan sebagainya atau bahan obat-obatan dari tumbuhan. Standardisasi bahan baku sangat diperlukan dalam uji praklinik maupun uji klinik sebagai persyaratan untuk mendapatkan status fitofarmaka yang setara dengan obat konvensional yang dapat diresepkan oleh dokter.

Slogan “kembali ke alam” mendasari pengguna-an bahpengguna-an tumbuhpengguna-an sebagai pengobatpengguna-an tradisional saat ini. Kesadaran adanya efek samping bila mengkonsumsi obat konvensional (modern) dalam waktu yang lama, bahan alam yang relatif murah dan kemudahan memperolehnya, serta kenyataan adanya penyakit tertentu yang belum dapat diobati dengan obat modern menjadi sekian alasan mengapa obat bahan alami mulai kembali digunakan.

Pemanfaatan hasil hutan di Indonesia belumlah mampu menggali potensi sumber daya alam secara optimal. Hal ini dibuktikan dengan lebih dominannya konsumsi hasil hutan berupa kayu

dibandingkan hasil hutan non kayu atau hasil hutan ikutan lainnya. Salah satu hasil hutan ikutan diantaranya berupa bahan kimia alami yang berasal dari jenis-jenis tanaman hutan yang dapat digunakan sebagai bahan baku obat. Sebagai wilayah mega biodeversity, tidak dipungkiri bahwa hutan di Indonesia sangat kaya akan berbagai jenis tumbuhan. Dari sekitar 30.000 jenis tumbuhan di Indonesia, tidak kurang dari 1.000 jenis diantaranya diketahui dapat digunakan sebagai bahan baku obat (Hamid , 1990 dalam Zuhud, 1991). Tumbuhan obat adalah jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai bahan baku obat bahan alam maupun modern (Dalimartha, 2008). Diantara tumbuhan yang berkhasiat obat tersebut diketahui 87 jenis adalah pohon hutan (Jafarsidik, 1986).

Komponen kimia tumbuhan terbagi ke dalam beberapa golongan senyawa yang sebagian besar merupakan bahan ekstraktif tumbuhan. Zat ekstraktif merupakan produk akhir proses metabolisme yang terbagi ke dalam dua kategori, yaitu metabolisme primer dan metabolisme sekunder. Metabolisme primer merupakan susunan kimia sederhana (gula, asam amino, lemak sederhana) dan terdapat pada semua tanaman serta jumlahnya bergantung pada jenis, gen, unsur

(2)

hara, iklim dan taksonominya tidak berbeda. Pada metabolisme sekunder penyebaran senyawanya terbatas (hanya ada pada jenis tertentu) dan campuran senyawanya lebih kompleks (seperti tanin, lignin, lemak, terpen), serta taksonominya berbeda. Golongan senyawa ekstraktif tersebut dikenal dalam beberapa kelompok senyawa, yaitu : 1. kelompok terpens dan terpenoids seperti resin, minyak atsiri; 2. gabungan senyawa phenolik seperti tanin; 3. lemak seperti minyak lemak; dan 4. lilin (wax) seperti karet, gum. Terpens merupakan zat ekstraktif kayu yang mengandung semua kelas terpen (dari monoterpenes hingga tetraterpenes, kecuali sesterpena yang merupakan kelas yang sangat jarang). Terpen merupakan hidrokarbon murni. Gabungan senyawa phenolik meliputi tanin, lignin, flavonoids, stilbene dan quinon. Minyak lemak yang dihasilkan oleh tumbuhan dikelompokkan dalam senyawa lemak. Lemak merupakan ester asam karbonat tinggi (asam lemak) dengan gliserol. Sedangkan lilin adalah ester asam lemak dengan alkohol tinggi (Syafii, 2009).

Kelompok senyawa-senyawa yang berasal dari tumbuhan selain merupakan sumber dari banyak bahan farmasi dan obat-obatan juga digunakan sebagai bahan baku industri cat, pewarna, plastik dan korek api. Kelompok senyawa terpens seperti resin sebagian dihasilkan dari Famili

Dipterocar-paceae yaitu , , . Jenis

tumbuhan ini menghasilkan produk yang dikenal dengan damar mata kucing. Produk ini memiliki komposisi asam damar, damar resin yang berguna sebagai bahan baku pembuatan korek api, kembang api, plastik, plester, vernis dan lak. Kopal juga merupakan produk dari kelompok resin yang dihasilkan dari pohon yang memiliki komposisi seperti pinena yang berguna dalam pembuatan cat, vernis, lak merah dan tinta. Produk lain dari kelompok resin ini adalah gondorukem, yang berasal dari suku . Gondorukem memiliki komposisi kimia anhidrida asam abietat dan abietat anhidrida yang berguna dalam pembuatan sabun, campuran cat, tinta, pelitur. Produk lainnya adalah jernang yang diperoleh dari jenis yang memiliki komposisi kimia berupa resin drako yang diperlukan dalam pembuatan bahan pewarna keramik, marmer, cat dan keperluan farmasi. Kemenyan juga salah satu produk yang berasal dari jenis yang memiliki komposisi k imia berupa ester benzoat, benzeldehida, vanilin, asam sinamat dan sterol yang digunakan untuk obat batuk, obat luka, kosmetik

Shorea Vatica Dryobalanops

Agathis

Pinaceae

Daemanorops

Styrax

dan industri vernis (Syafii, 2009).

Akar wangi, cendana, nilam, kayu putih, eukaliptus, gandapura, dan kamper menghasilkan produk minyak atsiri yang berguna untuk bahan kosmetik, farmasi, aroma pewangi dan insektisida. Pohon jarak, kemiri, tengkawang dan wijen juga menghasilkan senyawa lemak yang dimanfaatkan untuk farmasi, energi, pangan dan kosmetik. Sedangkan bahan sebagai penyamak dapat diambil dari berbagai jenis pohon seperti akasia dan jenis-jenis pohon mangrove. Sebagai bahan karet dapat diambil dari pohon perca, jelutung, jenis dan jenis-jenis dari suku Sapotaceae. Bahan ini dimanfaatkan dalam produk insulator kabel, pembuatan gigi, perekat, cat dan permen karet. Gom dihasilkan dari pohon

yang dimanfaatkan dalam pembuatan perekat, korek api, dan tinta (Syafii, 2009).

Potensi pemanfaatan jenis-jenis pohon sebagai sumber bahan kimia terutama yang diketahui berkhasiat obat sudah banyak dikenal, namun kondisi keberadaan jenis-jenis tersebut di lapangan dewasa ini belum banyak diketahui. Daerah-daerah di Indonesia yang menginformasikan data keberadaan jenis pohon tertentu yang dikenal berkhasiat obat belum semuanya benar, hal ini bisa saja karena berbagai perubahan dan kondisi di lapangan akibat berbagai faktor yang terjadi. Gencarnya exploitasi menyebabkan tidak sedikit jenis-jenis tertentu mulai langka atau bahkan tidak lagi diketahui keberadaannya.

Tulisan ini menyajikan informasi sekilas me-ngenai keberadaan 6 (enam) jenis pohon ber-khasiat obat baik yang tumbuh di hutan alam maupun di areal kebun masyarakat hasil survey tahun 2005 hingga tahun 2009, serta manfaat kandungan kimia alami-nya yang disadur dari beberapa sumber literatur

.

Jenis pohon spp. termasuk dalam suku Lauraceae. Menurut Rismunandar (1989) suku Lauraceae memiliki ciri pohon mulai kulit batang hingga ranting yang mengandung minyak atsiri, daunnya tunggal, berseling dan berwarna hijau. Pucuk daun ada yang berwarna kemerah-merahan. Bunga kecil berkelamin dua berwarna hijau atau kuning. Bentuk buah buni, berbiji satu, berdaging bulat memanjang. Kostermans (1957) me-ngelompokkan 2.000 hingga 2.500 jenis anggota Palaqium Acasia, Sterculia dan, Swietenia Cinnamomum A. P a k a n a n g i / K i s e r e h ( ) C i n n a m o m u m parthenoxylon/C. porrectum

(3)

famili ke dalam 31 marga (genus)

diantaranya adalah genus , ,

, , dan .

Terdapat sekitar 600 jenis pohon di Indonesia yang dikenal dan biasa disebut dengan nama daerah “medang” yang di dalamnya termasuk genus . Dalam Prosea No. 5 (2) tahun 1995 disebutkan bahwa marga (genus) Cinnamomum beranggotakan sekitar 250 jenis. Heyne (1987), menyinggung beberapa anggota marga Cinnamomum diantaranya seperti Bl.,

Nees & Eberm., Bl.,

Bl., Bl., Meissn.,

Bl., dan Breyn. Pakanangi/Kisereh (

dapat ditemukan di lahan perkebunan coklat milik rakyat di Desa Namo, dusun Sada Unta, Gunung Panto Lumba Kec. Kulawi, Kabupaten Donggala propinsi Sulawesi Tengah. Pohon ini tumbuh pada lahan dataran tinggi dan pegunungan dengan ketinggian sekitar 800 mdpl. Pohon yang ditemui berdiameter kecil dan merupakan trubusan dari tunggak pohon tebangan yang sudah mati.

Pada peninjauan ke lokasi pabrik pengolahan minyak pakanangi (PT. Artha) tahun 2008 di Desa Batu Suya, Kecamatan Sindue Kabupaten

Lauraceae

Cinnamomum Sassafras Litsea Eusideroxylon Cryptocarya Cassytha

Cinnamomum

C. burmanii C.

camphora C. Cassia C. culilawan

C. javanicum C. Parthenoxylon C. Sintok C. zeylanicum

C. par thenox ylon/C. porrectum)

Pohon dan batang kayu pakanangi/kisereh (C. parthenoxylon/C. porrectum)

Donggala, bahan baku yang digunakan umumnya berupa tunggak-tunggak dan akar pohon pakanangi yang berasal dari daerah Kabupaten Poso, dan sekitar Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Penyelamatan/pelestarian jenis pohon pakanangi perlu segera dilakukan karena saat ini keberadaannya sudah sangat sulit ditemukan. Penghentian pengolahan minyak pakanangi perlu dipertimbangkan apabila tidak ada upaya budidayanya. Apabila hal ini dibiarkan berlangsung, dikhawatirkan jenis pohon pakanangi nasibnya akan serupa dengan jenis pohon eboni yang sudah masuk dalam jenis yang dilindungi. B. Kulilawang/Kulilawan (C. halmaherae)

Pohon berkhasiat obat dengan nama setempat kulilawan ditemukan pada areal hutan adat di Desa Telutih Baru, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah. Hutan adat ini berada di bawah lereng yang berbatasan dengan daerah luar kawasan Taman Nasional Manusela. Saat ditemukan terdapat sekitar 10-15 pohon dan kurang lebih 20-25 anakan kulilawan (sapling) dengan kondisi tapak hutan berupa batu-batu berkarang. Berdasarkan hasil identifikasi pada herbarium Puslitbanghut Hutan dan Konservasi (Puskonser) Bogor, nama botanis pohon ini adalah

Kosterm.

Berdasarkan informasi masyarakat setempat, pemungutan kulit kulilawan dilakukan dengan cara menebang pohon hingga roboh. Hal tersebut mengakibatkan keberadaan pohon kulilawan di Desa Telutih Baru, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah semakin berkurang dan sulit ditemukan. Sepuluh tahun silam, di sekitar daerah ini pernah terdapat usaha penyulingan minyak kulilawan yang dikelola oleh masyarakat setempat. Karena bahan baku semakin berkurang, usaha ini akhirnya gulung tikar dan saat ini usaha demikian sudah tidak ditemukan lagi. Selain kulilawan, di daerah ini juga terdapat jenis pohon lain dengan nama daerah kanini, kole, linghua, kenari, kayu besi dan meranti. Masyarakat memanfaatkannya untuk bahan pembuatan rumah, kayu bakar dan pembuatan perabot rumah tangga. Pada lahan areal hutan adat ini sudah banyak ditanami jenis-jenis pohon perkebunan seperti cengkeh, coklat dan jati super.

Hasil peninjauan di Desa Negeri Lima, Kecamatan Leihitu di kabupaten yang sama ditemukan sejenis pohon dengan ciri kulit batang mengeluarkan bau harum balsam. Namun Cinnamomum halmaherae

(4)

Daun dan kayu Kulilawan (C. halmaheirae Kosterm) demikian jenis pohon ini belum diketahui nama setempatnya dan belum dimanfaatkan sebagai tanaman obat oleh masyarakat. Hasil identifikasi contoh herbarium, pohon ini memiliki nama

botanis A.Gray suku

. Kurangnya pengetahuan masyarakat setempat mengenai jenis-jenis pohon yang memiliki khasiat obat menyebabkan ketidak pedulian terhadap jenis ini, sehingga pemanfaatan pohonnya hanya sebatas untuk pembuatan rumah.

Produk dari beberapa jenis pohon

umumnya berasal dari bagian kulitnya yang berasa manis, sehingga kebanyakan masyarakat menyebut jenis ini dengan pohon kayu manis. Kulit kayu manis padang adalah kulit batang dalam perdagangan dikenal dengan nama

dengan bau khas aromatik, rasa agak manis, agak pedas dan kelat. Jenis dalam dunia

perdagangan dikenal dengan .

Jenis yang asli Indonesia dalam perdagangan diberi nama padang kaneel atau eks. padang. Jenis Blume banyak ditemukan di Jawa Barat dan Tengah. Sedangkan

Blume asli dari Ambon (Rismunandar, 1989).

Menurut Anonim (2007), penyebaran di Indonesia banyak terdapat di daerah Sumatera, khususnya di daerah Provinsi Sumatera Barat dan Kabupaten Kerinci. Pohon kayu manis di Sumatera disebut dengan holim, holim manis, modang siak-siak (Batak), kanigar, kayu manis (Melayu), madang kulit manih (Minangkabau). Di Jawa dikenal dengan huru mentek, di kalangan masyarakat suku Sunda dikenal dengan kiamis, kanyengar (Kangean), dan di daerah lain seperti kesingar (Nusa Tenggara), kecingar, cingar (Bali), onte (Sasak), kaninggu (Sumba), Puundinga (Flores). Selanjutnya dijelaskan bahwa tanaman ini juga terdapat di daerah Srilanka, namun kulit

Alphitonia zizyphoides Rhamnaceae Cinnamomum C. burmannii, Cassia vera C. zeylanicum ceylon cinnamon C. burmanni

cassia vera C. sintok

C. culilawan

C. burmannii

C. Kayu Manis (Cinnamomumsp.)

batangnya lebih tipis dari kulit batang

yang ada di Indonesia. Dikenal 2 varietas , varietas pertama yang berdaun muda berwarna merah pekat dan varietas kedua berdaun hijau ungu. Varietas pertama terdiri dari 2 tipe, yaitu tipe pucuk merah tua dan tipe pucuk merah muda. Varietas yang banyak ditanam di daerah pusat produksi di Sumatera Barat dan Kerinci adalah varietas pertama. Varietas kedua hanya didapat dalam jumlah populasi yang kecil. Kayu manis pucuk merah mempunyai kualitas yang lebih baik, tetapi produksinya lebih rendah daripada kayu manis yang berpucuk hijau.

Meskipun keberadaan pohon kayu manis awalnya banyak tumbuh di hutan, dewasa ini sudah banyak dibudidayakan pada lahan perkebunan, dan pekarangan penduduk. Kegunaan dan manfaat jenis kayu ., seperti kayu manis sangat luas dan kandungan kimianya telah banyak diinformasikan. Bahan aktif pada kayu manis adalah eugenol dan safrol yang ditemukan pada kayu atau kulit (Putra, 2005) dalam Triantoro dan Susanti (2006). Menurut Sastrohamidjojo (

2005) dalam Triantoro dan Susanti (2006) disebutkan bahwa komponen senyawa kimia yang diperoleh dari kayu kulilawan ( .) hampir sama dengan senyawa kimia yang berasal dari kulitnya, yaitu eugenol (69,0%) dan safrol (21,0%). Eugenol dan safrol tidak hanya terdapat pada tanaman kulilawang dan masoi tetapi juga

pada pala ( ), kayu manis

( , cengkeh ( ), dan

sirih ( . Di Indonesia banyak pohon penghasil minyak atsiri yang mengandung komponen safrole (Sumadiwangsa, 2006). Hasil penelitian Triantoro dan Susanti (2006) pada Kulilawan menunjukkan bahwa eugenol kayu teras di bagian pangkal (66,23%) lebih tinggi dibandingkan dengan bagian ujung (34,36%), dan sebaliknya safrol berkadar lebih tinggi pada bagian ujung (12,10%) dibandingkan dengan bagian pangkal (9,56%). digunakan sebagai bahan baku farmasi, yaitu sebagai obat analgesik lokal dan antiseptik. Selain itu disebutkan pula bahwa eugenol dapat dikonversi menjadi senyawa turunan amfetamin maupun L-DOPA (dihidroksi fenil alanin) yang dikenal sebagai obat parkinson. Safrole dapat digunakan sebagai bahan baku pada pembuatan tropical antiseptik dan ekstasi (Triantoro dan Susanti, 2006). Beragamnya kegunaan senyawa safrole mengindikasikan perlunya kehati-hatian dalam penggunaan jenis

kayu . C. burmannii C. burmannii Cinnamomum spp Personal comm., C.culilawane Bl Myristica fragrans

C.burmanii) Sizygium aromatica Piper betle)

Cinnamomum

Cinnamommum Eugenol

(5)

Masyarakat Kabupaten Solok di Sumatera Barat sebagian besar memanfaatkan pohon kayu manis untuk diambil kulitnya. Pemanfaatan batang pohon kayu manis umumnya digunakan untuk kayu bakar dikarenakan kayunya yang cepat mengalami retakan, sehingga sebagian kecil masyarakat memanfaatkannya sebagai kayu pertukangan.

Pohon kayu manis ( Camm dan

Blume) banyak tumbuh di Desa/Jorong Bukit Gompong, Petak Tinggi, Koto Gadang Talang, Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat. Pohon ini ditemukan di areal lahan perkebunan swasta, hutan alam serta hutan rakyat. Tumbuh pada lahan yang datar hingga dataran tinggi dan pegunungan, dengan ketinggian sekitar 900 mdpl. Tinggi pohon berkisar antara 4 - 15 m dengan diameter pangkal batang antara 7-50 cm. Potensi pohon kayu manis cukup tersedia di daerah setempat, terlihat pada pekarangan dan kebun masyarakat dan merupakan usaha sampingan selain menanam tanaman kebun/ladang.

Selain di Kabupaten Solok, pohon kayu manis juga tumbuh di Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan pada areal lahan pekarangan rumah dan kebun warga. Jenis yang ditemui adalah

Miq., Blume dan

Miq. Jenis-jenis ini tumbuh pada lahan yang datar hingga dataran tinggi dan pegunungan dengan ketinggian sekitar 800 mdpl. Tinggi pohon berkisar antara 3 - 15 m dengan diameter pangkal batang antara 8 - 25 cm. Potensi pohon kayu manis cukup tersedia di daerah setempat (desa Cindranae dan sekitarnya).

C. coriaceum C.burmanii

C.subavenium C.inners Reinw ex. C.celebicum

Di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah juga ditemukan pohon kayu manis ( ). Pohon ini ditemukan di areal lahan hutan yang sudah dibuka menjadi lahan perkebunan coklat milik rakyat.Tumbuh pada lahan dataran tinggi dan pegunungan dengan ketinggian sekitar 800 mdpl. Jenis kayu manis yang ada di daerah ini merupakan hasil penanaman masyarakat pada tahun 1972 yang merupakan jenis tanaman dalam program reboisasi saat itu. Namun saat ini pohon kayu manis digantikan dengan jenis tanaman perkebunan (coklat), sehingga pohon kayu manis yang terdapat di daerah ini hanya merupakan sisa hasil penanaman tahun 1972 yang belum di tebang.

Di Kecamatan Kedungbanteng, Desa Windujaya, Dusun Peninis yang terletak di lereng Gunung Slamet-Jawa Tengah, pohon kayu manis didominasi

oleh yang dikenal dengan nama

setempat Keningar dan yang dikenal dengan manis atau ki teja. Tinggi pohon tercatat antara 10 - 15 m dan diameter pangkal batang antara 25 - 30 cm. Umur pohon diperkirakan 15-30 tahun. Daerah ini memiliki curah hujan tercatat rata-rata 3000-4000mm/tahun (type B). Pohon kayu manis tumbuh pada lahan dataran tinggi dengan ketinggian 500-1000 mdpl, dimana suhu udara berkisar antara 24,4 - 30,9 C. Kondisi lahan setempat memiliki kemiringan lereng sekitar 25-40% yang merupakan zona pegunungan Serayu utara yang sebagaian besar tertutup oleh endapan Gunung Slamet dengan jenis tanah latosol coklat. Daerah setempat merupakan daerah aliran sungai (DAS) Serayu, Sub Das Logawa.

Salah satu jenis tumbuhan yang juga diketahui berkhasiat obat adalah Pulai ( sp.). Jenis ini termasuk ke dalam suku . Secara hirarki taksonomi jenis ini berturut-turut termasuk ke dalam Kingdom Plantae, Divisi Magnoliophyta, Klas Magnoliopsida, Ordo Gentianales, Suku/famili dan Genus (Anonim, 2008). Dari sekitar 40 hingga 60 jenis pohon spp. yang dikenal dengan nama Pulai diantaranya adalah

dan yang terkenal adalah (L.) R.Br. (Anonim, 2008). Salah satu jenisnya, yaitu (pulai rawa) dapat mencapai diameter 100 cm dengan tinggi 40-50 m, mempunyai banir dan batang

C.burmanii C.burmanii C.iners Alstonia Apocynaceae Apocynaceae Alstonia Alstonia A. macrophylla, A. angustiloba, A. angustifolia, A. spatulata, A. elliptica, A. oblongifolia, A. pneumatophora, A. scholaris, A. costaca

A.scholaris

A.pneumatophora

0

D. Pulai (Alstoniasp.)

Pohon, daun dan batang kayu manis

(Cinnamomumsp.) di Kabupaten Banyumas - Jawa Tengah

Pohon dan batang kayu manis ( sp.) di Kabupaten Solok - Sumatera BaratCinnamomum

(6)

bergalur berwarna abu-abu hingga putih. Jenis kayu ini cocok untuk ukiran, peti dan kayu lapis. Jenis ini memiliki akar nafas yang besar dan panjang, sehingga dikenal dengan pulai rawa. Bagian kulit mengandung alkaloid sebagai bahan obat. Kayunya banyak digunakan untuk papan tulis sekolah, sehingga dinamakan scholaris. Pohon dapat mencapai tinggi lebih dari 40 m, batang pohon tua beralur sangat jelas, sayatan berwarna krem dan banyak mengeluarkan getah berwarna putih (Anonim, 2001) Jenis umumnya disebut dengan pulai gading (Pulai putih) dan tersebar luas terutama di Sumatera, Kalimantan dan Jawa Barat (Anonim, 2008). Genus terdiri dari sekitar 40 jenis, dimana dua jenis merupakan tumbuhan asli di daerah tropis Afrika, empat jenis di Australia, sekitar 15 jenis di daerah Pasifik, 12 jenis di daerah Malesiana dan sisanya di benua Asia. (Rudjiman

., 1994). Selanjutnya diinformasikan bahwa kulit jenis ini mengandung latex yang penting dan sering digunakan sebagai obat tradisional, di daerah Fiji digunakan untuk mata yang bermasalah, kulitnya digunakan untuk melawan malaria dan bahan obat penenang di Pilipina dan jenis ini begitu populer di India dan Jawa untuk penyakit diare dan disentri. Heyne (1987) mencatat bahwa di Indonesia terdapat 11 jenis , yaitu

Miq, Wall,

M i q , M i q , M i q ,

Backer, Miq,

R. BR., BL., dan

Miq).

Provinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu wilayah dimana dapat ditemui keberadaan pohon jenis pulai. Tiga jenis pulai yang dapat ditemui di daerah ini adalah pulai putih ( ), pulai hitam ( ) dan pulai rawa

( ). Selain di kawasan hutan

KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) Balai Penelitian Kehutanan Palembang, tegakan pulai rawa ( ) terlihat tumbuh di sudut pinggiran jalan arah ke luar kota.

Pohon Pulai diinformasikan banyak digunakan sebagai bahan obat-obatan. Menurut Heyne (1987)

getah dimanfaatkan untuk

penyembuhan luka bernanah, dan kulit

dapat digunakan untuk membersihkan lambung dari lendir, mengobati perut kembung dan pembengkakan limpa. Jenis

mengandung tiga senyawa alkaloid yaitu ditamine, echitamine (ditaine), Echitenines, beberapa senyawa lemak dan resin, sedangkan dalam

A.scholaris A.scholaris A.scholaris Alstonia et al Alstonia A.acuminata A.angustifolia A. angustiloba

A . e x i m i a A . g r a n d i f o l i a

A.pneumatophora A.polyphylla

A.scholaris A.spathulata A.villosa (Blaberopus villosus A. scholaris A. angustiloba A. pneumatophora A. pneumatophora A.pneumatophora A.scholaris A . s c h o l a r i s

penggunaan sebagai obat kulitnya dimanfaatkan untuk obat tradisional sebagai obat diare dan disentri (Grieve, 2009). Menurut Anonim (2008), kulit mengandung alkaloida ditanin, ekitamin (ditamin), ekitanin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin dan triterpen, sedangkan daunnya mengandung pikrinin, dan bunga pulai mengandung asam ursolat dan lupeol yang dapat mengatasi borok, bisul, rasa sakit setelah melahirkan (nifas), beri-beri dan payudara bengkak karena bendungan ASI. Kulitnya diberitakan dapat mengatasi demam, malaria, limpa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, kurang nafsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, kencing manis, tekanan darah tinggi, wasir, anemia, gangguan haid, rematik akut.

Famili dari beberapa jenis penghasil gaharu

adalah genus ,

dan . tercatat

memiliki 12 jenis. Jenis dari diantaranya adalah

Manfaat gaharu dikelompokkan ke dalam penggunaan obat-obatan, parfum dan kosmetika (Anonim, 2002). Menurut Sidiyasa dan Suharti (1987) dalam Anonim (2002), selain jenis tumbuhan spp. dan spp., gaharu dapat diperoleh dari jenis-jenis tumbuhan seperti

spp; spp; spp;

spp; dan spp. Dalam buku (1960) tercatat bahwa famili

terdiri dari beberapa genus, yaitu ,

dan

Di sekitar daerah Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara ditemukan beberapa jenis pohon penghasil gaharu genus . Batang pohon ini memiliki diameter berkisar 20 cm - 65 cm dengan tinggi berkisar 10 m - 25 m. Masyarakat setempat mengenal 4 jenis pohon penghasil

A.scholaris

Thymelaeaceae Aetoxylon, Aquilaria Gyrinops Gonystylus Genus Aquilaria

Thymelaeaceae Amyxa pluricornis Domke, Gyrinopsis cumingiana, Phaleria Sp., Gyrinops versteegii (Gilg) DOMKE, Aquilaria malaccensis LAMK., A.beccariana VAN TIEGH., dan A.microcarpa BAILL.

Aquilaria Gonystilus

Weikstromia Enkleia Actoxylon

Gyrinops Dalbergia Flora

M a l e s i a n a Thymelaeaceae

Aquilaria Enkleia, Linostoma, Wikstroemia, Daphne, Gyrinops, Drapetes, Pimelea Amyxa.

Aquilaria E. Gaharu (Aquilariasp.,Gyrinopssp ).

(7)

(Aquilaria sp.) Pohon dan kayu gaharu

F. Pasak Bumi (Eurycoma longifoliaJack)

Jenis pohon pasak bumi ( Jack) termasuk anggota dari suku . Suku Dayak Kenyah menggunakannya untuk obat sakit

E.longifolia Simaroubaceae

perut dan demam, suku Banjar menggunakannya untuk (penunjang stamina) sedangkan di Thailand digunakan untuk anti malaria. Pasak bumi sudah merupakan komoditi ekspor (Mandang dan Andianto, 2005).

aphrodisiac ,

gaharu yang dicirikan dengan penampakan kulit batang pohon dan bentuk daun, yaitu gaharu buaya, gaharu tanduk, gaharu air, dan gaharu beringin. Dari beberapa sumber Herbarium Wanariset Samboja, diperoleh informasi bahwa di sekitar daerah Samboja hanya dapat ditemukan 2 jenis pohon penghasil gaharu, yaitu , dan . Diinformasikan juga bahwa belum pernah ditemukan di daerah Kaltim bagian selatan (Kutai Kertanegara).

Adanya sejumlah masyarakat yang masih menebang pohon penghasil gaharu yang belum tentu kayunya mengandung gaharu, dikhawatirkan akan semakin langkanya jenis-jenis pohon penghasil gaharu. Dikahawatirkan apabila penebangan pohon ini terus berlanjut akan menimbulkan kelangkaan di daerah Samboja. Kegiatan pembudidayaan anakan pohon penghasil gaharu, serta penyuntikan pohon guna mendapat-kan mendapat-kandungan gaharu sudah diupayamendapat-kan saat ini.

Pohon gaharu ( ) juga

ditemukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur di wilayah kerja RPH Anfoang selatan pada tanah yang berbatu kapur keras yang minus air. Tinggi pohon sekitar 4 - 6 m dan diameter antara 15 - 20 cm. Pohon ini banyak tumbuh di hutan alam kawasan lindung yang mutlak tidak boleh ada kegiatan produksi. Umumnya tumbuh pada daerah tanah berbatu, miskin hara dan air.

A.beccariana A.microcarpa

A. Malaccensis

G.versteghii, G.cumingiana

Pohon pasak bumi dapat ditemukan di desa-desa Kecamatan Bangkinang Barat -Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Ditemukan di kebun karet rakyat yang berumur kurang lebih 15 tahun. Pohon ini memiliki ketinggian sekitar 0,5 - 9 m dengan diameter pangkal batang 1-12 cm, adapun ukuran diameter pangkal akar berkisar 1-15 cm dan panjang akar 45 - 245 cm.

Lokasi ditemukannya pasak bumi ini awalnya merupakan wilayah hutan adat (ulayat). Menurut informasi salah satu warga setempat, hutan adat dapat dijadikan areal perkebunan dengan biaya sangat murah. Untuk lahan seluas 1-2 Ha masyarakat cukup membayar seharga 300 - 400 ribu kepada orang yang dituakan, yaitu Nini Mama (Datuk). Bila keadaan ini berlangsung terus, dikhawatirkan hutan adat semakin berkurang dan berubah menjadi perkebunan.

Pohon pasak bumi di daerah ini umumnya masih berbentuk anakan tingkat tiang (sapling) dan junmlahnya agak jarang, namun demikian ditemukan juga pohon dengan akar berdiameter sebesar ukuran paha orang dewasa dengan panjang kurang lebih dua meter. Masyarakat sekitar masih menganggap pohon pasak bumi sebagai tanaman penggangu (gulma), sehingga pada saat pembersihan lahan untuk perkebunan maka pohon pasak bumi banyak yang ditebas. Dikarenakan sifat pohon yang mudah bertunas diduga akar pasak bumi berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan. Hal ini terlihat pada ukuran akar yang umumnya hampir sama atau lebih besar dari ukuran batang pohon. Pohon pasak bumi berbuah pada bulan Juni, namun belum diketahui kapan mulai dan berakhir menghasilkan buah.

Pohon dan akar pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) Penutup

Sejalan dengan perkembangan industri obat maupun farmasi yang berbahan baku tumbuhan (herbal), maka seiring itu pula eksploitasi terhadap tumbuhan berkhasiat obat gencar dilakukan yang notabene hingga saat ini masih banyak yang

(8)

berasal dari hutan alam. Usaha secara bijaksana melalui pengkayaan atau penanaman jenis-jenis pohon berkhasiat obat secara intensive perlu segera dilakukan guna mencegah dan mengurangi langkanya jenis-jenis pohon tersebut terutama jenis-jenis tertentu yang sangat bernilai ekonomis. Sudah saatnya program pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) juga diarahkan kepada upaya pemenuhan bahan baku industri obat dan farmasi.

Sumber Bacaan

Anonim, 2001. Informasi singkat benih. No.2.Alstonia scholaris (L) R.Br. Indonesia Forest Seed Project. T.H.R. Ir.H. Juanda. Bandung. http://www. dephut.go.id/ INFORMASI/RRL/IFSP/ Alstonia_scholaris.pdf . diakses tgl. 27-10-2009. jam 11.58.

_____. 2002. Rekomendasi Strategi Generik Pengembangan Industri Gaharu. Biro Kerja-sama Luar Negeri dan Investasi. Sekretariat Jenderal. Departemen Kehutanan.

_____. 2007a. Kayu Manis, http : //www. wikipedia.org., diakses 26 April 2007.

_____. 2007b. (

http : //www.usda.com., diakses 27 April 2007. _____. 2008a. Jenis poh Pulai.http:// pule3.

wordpress.com/ diakses tgl 27-10-2009 jam 12.10

_____. 2008b. Kenalilah Pulai (Alstonia sp.)... (Bagian III). Teknik silvikultur.http:// ozonsilampari.wordpress.com/2008/02/01/ diakses tgl. 27-10-2009. jam 12.05

_____. 1995. PROSEA. Plant Resources of South-East Asia No 5 (2). Timber trees: Minor commercial timbers. Bogor Indonesia.

_____. 1960. Flora M alesiana. S eries I. Spermatophyta Flowering Plants. Vol 6, part 6. Wolters-Noordhoff Publishing. Groningen, The Netherlands.

Dalimartha, S. 2008. Jamu, Dahulu, Sekarang, Dan Masa Depan. Makalah Semiloka: Jamu, Brand Indonesia. Kementrian koordinator Bidang Perekenomian. Jakarta.

Cinnamomum burmannii Nees &Th.Nees) Nees ex Blume Padang cassia,

Heyne, K. 1987.Tumbuhan berguna Indonesia. Jilid II. Terjemahan. Badan Litbang Kehutanan, Jakarta.

Jafarsidik, Y.1986. Potensi tumbuhan hutan (pohon) penghasil obat tradisional. Prosiding diskusi pemanfaatan kayu kurang dikenal. 13-14 Januari, 1987. Cisarua, Bogor. Badan Litbang Kehutanan, Bogor.

Kostermans, A.J.G.H. 1957. PENGUMUMAN. Communication. Balai Besar Penjelidikan Kehutanan Indonesia. Nr 57. Lauraceae. Balai Besar Penjelidikan Kehutanan Indonesia. Bogor.

Mandang, Y.I. dan Andianto. 2005. Identifikasi jenis kayu berkhasiat obat. Laporan Hasil Peneliti-an. Pusat Penelitian dan pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Belum dipublikasikan. Poerwadarminta, J.W.J.S. 1976. Kamus umum

bahasa Indonesia. PN. Balai Pustaka. Jakarta. Rudjiman, Gintings, N., Martawijaya, A., Ilic, J. 1994.

Plant Resources of South-East Asia 5. (1) Timber trees: Major commercial timbers. P.82-90. PROSEA. Bogor.

Rismunandar, 1989. Kayu Manis. Penebar Swadaya. Jakarta.

Syafii,W. 2009. Kontak personal dan Bahan kuliah Pemanfaatan Komponen Kimia Hasil Hutan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sumadiwangsa S, E . 2006. Laporan Mengikuti Second Regional Survey Meeting on Safrole-Rich Essential Oils. 28-30 September 2006. Kuala Lumpur, Malaysia.Tidak diterbitkan. Triantoro, R.G.N. dan Susanti, C.M.E. 2006.

Kandungan bahan aktif kayu kulilawang

( .) dan Masoi

( ). Makalah pada

pelatihan fungsional peneliti tingkat pertama angkatan XXXV-LIPI, Cibinong. Tidak diterbitkan.

Zuhud, E.A.M. 1991. Pelestarian pemanfaatan tumbuhan obat hutan tropis Indonesia. Kerjasama Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB Bogor dan Yayasan Pembinaan Suaka Alam dan Margasatwa Indonesia, Bogor.

Cinnamomum culilawane Bl Cryptocaria massoia

Referensi

Dokumen terkait

Pohon penghasil buah-buahan di Zona Panoghan dan Zona Sialang Layang Hutan Larangan Adat Kenegerian Rumbio memiliki karakteristik batang berwarna cokelat dan