• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI ANGIN LAUT TERHADAP PENGARUH KONDISI CUACA DI WILAYAH POSO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI ANGIN LAUT TERHADAP PENGARUH KONDISI CUACA DI WILAYAH POSO"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

STUDI ANGIN LAUT TERHADAP PENGARUH KONDISI CUACA

DI WILAYAH POSO

Reslyna Abdullah1, Ana Oktavia Setiowati2

Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG), Tangerang Selatan E-mail: [email protected]

Abstrak

Wilayah Poso merupakan salah satu dari sekian wilayah dimana letak daratan berdampingan langsung dengan lautan. Kondisi ini dapat berpengaruh terhadap kondisi cuaca lokal. Angin laut dapat mempengaruhi kondisi cuaca di wilayah daratan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh angin laut terhadap pembentukan awan di wilayah Poso. Dalam penelitian ini menggunakan data observasi permukaan yaitu parameter angin permukaan, kelembaban udara serta suhu udara, serta menggunakan simulasi model WRF-ARW serta citra satelit MTSAT. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya pembentukan awan di atas daratan dimana pola awan sejajar garis pantai yang menunjukkan bahwa awan-awan yang terbentuk adalah dari interaksi sirkulasi angin laut yang masuk ke daratan. Angin laut di wilayah Poso mulai aktif masuk ke daratan sekitar jam 02.00 UTC-03.00 UTC dan melemah sekitar jam 09.00 UTC-10.00 UTC serta dapat berpenetrasi masuk kejauh 67 km dengan kecepatan angin maksimum 8 m/s.

Kata kunci : angin laut, pembentukan awan, WRF-ARW

Abstract

Poso region is one of the few areas where the land lies directly adjacent to the ocean. This condition can influence for the local weather conditions. The sea breeze can affect to weather conditions in the mainland. The purpose of this study was to determine the influence of the sea breeze on the formation of clouds in the Poso area. In this study using surface data observation that parameter surface wind, humidity and temperature, as well as using the WRF- ARW model for simulations and satellite images MTSAT. The results from the study indicated the formation of clouds over the land where the cloud patterns parallel to the coastline which shows that clouds are formed from the interaction of the circulation of sea breeze coming in to land . The sea breeze in Poso began to actively enter the mainland around 02.00 UTC - 03.00 UTC and get weak at 09.00 UTC and 10.00 UTC and then can it penetrate as far as 67 km with a maximum wind speed 8 m/s.

(2)

2

1. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki topografi berupa daratan, lautan serta pegunungan. Dengan adanya perbedaan topografi berupa daratan dan lautan di wilayah Indonesia maka variasi harian dari sirkulasi lokal sangatlah penting untuk diperhitungkan dalam prakiraan cuaca, observasi dan penelitian mengenai cuaca (Tjasyono dan Harijono, 2013).

Kondisi cuaca yang mempengaruhi wilayah Poso adalah terdiri dari kondisi skala global, regional dan lokal. Jika dilihat dari kondisi topogrfinya, wilayah Poso sangat dipengaruhi oleh sirkulasi angin laut terkait dengan keberadaan teluk Tomini.

Angin laut adalah angin lokal yang merupakan aliran angin yang mengalir kearah daratan pada siang hari, yang merupakan sirkulasi konvektif lokal yang terjadi akibat dari perbedaan panas antara daratan dan lautan (Simpson, 1994). Angin laut dapat mempengaruhi kondisi cuaca disuatu wilayah. Menurut (Dailey dan Fovell, 1999) sirkulasi angin darat dan angin laut berperan dalam pembentukan awan-awan rendah, khususnya awan-awan rendah yang menghasilkan presipitasi berupa hujan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bangaimana pengaruh angin laut terhadap pembentukan awan-awan di atas wilayah daratn Poso serta ingin mengetahui peterasi serta interuksi angin laut masuk ke dartaan untuk wilayah Poso.

2.

METODE PENELITIAN

2.1 Lokasi Penelitian

Daerah penelitian yaitu wilayah Poso dimana diwakili dengan letak lokasi Stasiun Meteorologi Kasiguncu Poso yang terletak pada lintang 01°23'08" LS dan 120°39'28" BT.

2.2 Data Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Data synop berasal dari Stasiun Meteorologi Klas III Kasiguncu Poso yaitu unsur arah angin (ddd) dan kecepatan angin (ff), kelembaban

udara (RH) dan suhu udara (T) pada tahun 2014 untuk bulan April tanggal 1 dan 19, tanggal di pilih masing-masing terdiri dari satu hari cuaca hujan dan satu hari cuaca cerah dalam bulan penelitian.

2. Data FNL (Final Analysis)

Data FNL yang digunakan sebagai data input model WRF-ARW adalah dengan resolusi 1°x1° (± 111 km) dengan format data WMO GRIB2. Data-data tersebut tersedia dalam 6 jam-an untuk waktu 00Z, 06Z, 12Z dan 18Z tiap hari.Data FNL dapat di download dari http://rda.ucar.edu

data yang digunakan adalah pada tahun 2014 untuk bulan April tanggal 1 dan 19. Unsur meteorologi yang diambil untuk analisis adalah unsur angin mencakup arah dan kecepatan angin, kelembaban relatif serta vertical velocity.

3. Data satelit MT-SAT dalam bentuk jpeg pada tahun 2014 untuk bulan April tanggal 1 dan 19. Data satelit digunakan untuk keperluan verifikasi dengan melihat ada tidaknya

pertumbuhan awan yang

menandakan adanya intruksi angin laut pada tanggal penelitian.

2.3 Metode Penelitian

Proses pengerjaan penelitian melalui beberapa tahapan yaitu :

1. Tahapan pertama yaitu melakukan pengolahan data pengamatan untuk identifikasi sirkulasi angin lokal dengan menggunakan data tiap jam pada bulan April dan September yaitu menggunakan parameter angin yang di ubah ke dalam komponen u (zonal) dan v (meridional) agar mudah dalam menganalisis arah angin dengan menggunakan persamaan:

u = ff x cos (270-ddd) 3.1 v= ff x sin 270-ddd) 3.2 dimana

u = komponen angin timur barat

v = komponen angin utara selatan

(3)

3 ff = kecepatan angin

ddd = arah angin dalam satuan derajat.

2. Pada tahapan kedua dilakukan proses running model WRF-ARW dengan pengaturan domain seperti tabel 2.1.

Tabel 2.1 Konfigurasi domain Konfigura si Domain 1 Domain 2 Domain 3 Jumlah Level Vertikal 30 30 30 Resolusi grid Horizontal 27 km 9 km 3 km Skema Mikrofisis WSM-3 WSM-3 WSM-3 Skema Cumulus GD GD GD Skema PBL

YSU YSU YSU

Pada tabel 2.1 merupakan pengaturan konfigurasi domain pada model WRF-ARW dimana pada menelitian ini dilakukan downscaling hingga didapatkan 3 domain dengan resolusi 27 km, 9 km dan 3 km. Pengaturan parameterisasi untuk penelitian ini merujuk pada penelitian sebelumnya oleh Wulandari (2014).

Gambar 2.1 Peta domain model WRF-ARW

Pada gambar 2.1 domain 1, 2 dan 3 diatur dengan center point yang sama yaitu pada koordinat 120°39’28’’BT dan 01°25’08 LS yang merupakan titik koordinat Stasiun Meteorologi Kasiguncu Poso.

3. Tahap ketiga adalah Setelah membuat domain, langkah selanjutnya adalah memulai proses running model WRF untuk kemudian menghasilkan data *.nc. File *.nc ini

kemudian akan diolah lebih lanjut melalui WPS (WRF Post-Processing) agar menghasilkan file berekstensi *.ctl dan *.dat yang akan ditampilkan melalui aplikasi GrADS. Domain yang dipilih sebagai output model untuk pengolahan selanjutnya adalah domain 3. Hal ini disebabkan oleh resolusi yang dihasilkan pada domain 3 lebih tinggi yaitu sebesar 3 km sehingga diharapkan mampu menggambarkan atmosfer pada wilayah yang sempit secara detail. Selanjutnya melakukan analisis hasil keluaran model WRF ARW untuk parameter arah dan kecepatan angin untuk melihat penetrasi angin laut dan pergerakannya serta kelembaban udara dan vertical velocity untuk melihat kondisi atmosfer pada studi kasus tanggal-tanggal yang telah dipilih dalam penelitian serta melihat pembentukan awan di atas daratan Poso menggunakan data citra satelit MTSAT.

3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil penelitian

Dari angin permukaan untuk melihat katrakterisitik angin di wilayah plot menggunakan WRPLOT.

Gambar 3.1 Bulan April

(4)

4 Bedasarkan hasil seperti gambar 3.1 dan gambar 3.2 terlihat bahwa angin di wilayah Poso di dominasi oleh dari arah utara samapi timur laut, atau dengan kata lain bahwa terbukti angin laut berpengaruh pada wilayah penelitian yaitu wilayah Poso.

3.1.1 Cuaca Hujan Tanggal 1 April 2014

Gambar 3.3 Parameter suhu dan kelembaban tanggal 01 april 2014

Pada gambar 3.3 merupakan grafik parameter RH dan parameter suhu yang merupakan data observasi pada tanggal 1 April 2014, dimana lingkaran kuning menunjukkan waktu intuksi angin laut masuk ke daratan. Abbs (1986) menyatakan bahwa angin laut biasanya di sertai dengan penurunan suhu dan peningkatan pada kelembaban udara. Gambar 3.3 menunjukkan adanya kenaikan kelembaban udara (RH) pada jam 04.00 UTC walaupun hal ini tidak di dukung dengan penurunan suhu, menurut Kondo dan Yoshikado (1989) secara rata-rata perubahan suhu udara atau kelembaban memang sulit untuk di deteksi karena tidak setiap kejadian angin laut disertai dengan front angin laut.

Gambar 3.4 Grafik komponen angin V pada 1 April 2014

Gambar 3.4 merupakan komponen angin Timur–Barat atau zonal (u) dan komponen angin Utara–Selatan atau meredional (v) pada tiap jam di tanggal 1 April 2014. Untuk melihat angin laut berhembus masuk kedaratan kita menggunkanan komponen angin v hal ini karena letak laut dari lokasi penelitian berada di utara, dimana komponen angin v adalah komponen angin meridional yaitu dari arah utara dan selatan, dimana jika bernilai positif (+) menunjukkan angin menuju ke utara (northward) atau angin southerly. Jika bernilai negarif (-) maka angin menuju selatan (southward) atau northerly. Pada gambar grafik 4.4 terlihat pada jam 04.00 UTC saat terjadi kenaikan RH, angin mendukung dimana berhembus dari arah utara yang bernilai negatif (-).

Gambar 3.5 Peta angin 10 meter dan kelembaban udara permukaan (a) jam 02.00 UTC (b) jam 05.00 UTC (c) jam

07.00 UTC (d) jam 10.00 UTC Dari hasil simulasi olahan model wrf yang di tampilkan dengan bantuan aplikasi grads seperti gambar 3.5, terlihat terjadi interaksi angin laut masuk ke daratan pada lokasi penelitian. Gambar 3.5 merupakan gambar arah dan kecepatan angin permukaan yang di overlay dengan kelembaban udara permukaan. Pada gambar a) terlihat pada jam 02.00 UTC atau jam 10.00 WITA angin laut mulai berintruksi masuk ke daratan, hal ini sesuai dengan teori intruksi angin laut ke daratan dapat terjadi pada siang hari sekitar jam 09.00 LT, namun dapat juga terjadi lebih cepat atau lebih lambat (Simpsons, 1994). Angin laut terjadi karena pada siang hari daratan memiliki tekanan yang lebih rendah dibandingkan dengan di atas laut yang memiliki tekanan yang lebih tinggi sehingga angin laut bertiup dari darat ke laut

15 20 25 30 65 75 85 95 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 S U HU ( C ) RH ( %) UTC RH -10-8 -6 -4 -2 0 2 4 6 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 Kec . A n g in ( Kn o t) Jam (UTC) komponen V d . b . a . c \.

(5)

5 (Tjasyono, 2004). Selain itu pada gambar 3.5 terlihat angin laut maksimum masuk kedaratan terjadi pada jam 07.00 UTC atau jam 15.00 WITA ditandai dengan arah angin yang tegak lurus dengan garis pantai dengan kecepatan maksimum sekitar 8 m/s. Terlihat juga dari gambar 4.5 bahwa angin laut yang bertiup menuju ke daratan mempengaruhi kondisi kelembapan udara diatas daratan dimana angin laut membawa uap-uap air menuju kedaratan sehingga menambah kelembaban di daratan.

Gambar 3.6 Plot vertikal irisan pada bujur 120°39'28" BT (a) jam 07.00

Pada gambar 3.6 merupakan plot vertikal pada irisan bujur 120°39'28" BT jam 07.00, dimana laut berada dibagian utara dan letak penelitian yang diwakili oleh stasiun meteorologi klas III Kasiguncu diwakili titik merah. Terlihat dari hasil irisan lintang ini angin bertiup dari utara menuju ke daratan. membawa uap air sehingga di daratan memiliki kelembaban yang cukup lembab sekitar lebih dari 90% dari permukaan sampai ketinggian 750 mb. Terbukti angin laut dapat di simulasikan oleh model WRF-ARW terlihat pada gambar 3.6 angin laut berhembus dari arah utara menuju ke daratan.

Gambar 3.7 Plot topografi dan overley arah dan kecepatan angin jam 07.00 UTC

Gambar 3.7 merupakan hasil keluaran model wrf dimana topografi di overlay dengan arah dan kecepatan angin untuk melihat bagaimana topografi di wilayah Poso, dan pengaruhnya terhadap penetrasi angin laut. Terlihat dari plot gambar 3.7 daerah penelitian terdapat pegunungan pada bagian kiri dan kanan yang cukup tinggi sekitar 2000 m. Pada jam 07.00 UTC atau 15.00 WITA dimana angin laut maksimum masuk kedaratan terlihat penetrasi angin laut masuk kedaratan sekitar 67 km masuk melalui celah lembah, namun penetrasi angin laut yang terhalang oleh pegunungan memiliki jarak penentrasi lebih pendek hal ini karena angin laut bertemu dengan topografi berupa pegunungan sehingga mengacaukan sirkulasi angin lokal yaitu angin laut.

Gambar 3.8 Plot vetikal kelembaban udara (a) pada titik 01°25'08"LS dan 120°39'28" BT

dan plot vertikal vertical velocity (b) pada titik01°25'08" LS dan 120°39'28" BT

a).

(6)

6 Gambar 3.8 bagian (a) merupakan gambar plot vertikal untuk parameter kelembaban udara pada titik yang mewakili koordinat stasiun meteorologi klas III Kasiguncu. Dari hasil keluaran model wrf terlihat bahwa adanya meningkatan kelembaban udara pada wilayah penelitian dimana terlihat dari gambar bagian (a) pada pagi hari jam 03.00 UTC kelembaban udara berkisar 70%-75% dari ketinggian 1000 mb sampai 750 mb dan pada lapisan 700 mb sampai 500 mb berkisar 80%-85%, namun pada sore hari kelembaban udara meningkat sekitar 90%-100% dari lapisan 1000 mb sampai 500 mb pada jam 09.00UTC sampai sekitar jam 15.00 UTC.

Sedangkan untuk gambar bagian (b) merupakan plot vertikal vertical velocity dengan titik yang sama selama 24 jam, terlihat bahwa antara jam 09.00 UTC sampai jam 12 UTC nilai vertikal velocity berkisar 0.3 m/s sampai 0.4 m/s dari ketinggian 1000 mb samapi 850 mb, dan berkisar 0.1 m/s sampai 0.3 m/s dari ketinggian 850 mb sampai 500 mb, untuk lapisan 500mb sampai 200 mb nilai vertical velocity berkisar antara 0.2 m/s sampai 0.3 m/s.

3.1.2 Cuaca Cerah Tanggal 19 April 2014

Gambar 3.9 Parameter suhu dan kelembaban tanggal 19 april 2014

Pada gambar 3.9 merupakan grafik parameter RH dan parameter suhu perjam yang merupakan data observasi pada tanggal 19 April 2014, dimana lingkaran kuning menunjukkan waktu interuksi angin laut masuk ke daratan. Gambar 4.9 menunjukkan adanya kenaikan RH pada jam 04.00 UTC walaupun tidak di dukung dengan penurunan suhu.

Gambar 3.10 Grafik angin komponen V data observasi.

Pada gambar 3.10 berdasarkan data angin perjam pada tanggal 19 April 2014 dari stasiun meteorologi klas III Kasiguncu terlihat pada jam 04.00 UTC terjadi angin dari arah utara yang bernilai negatif (-) hal ini selaras dengan jam saat terjadinya kenaikan kelembaban udara.

Gambar 3.11 Peta angin 10 meter dan overlay kelembaban udara permukaan (a) jam 03.00

UTC (b) jam 05.00 UTC (c) jam 07.00 UTC (d) jam 09.00 UTC

Dari gambar 3.11 terlihat hasil keluaran model WRF-ARW untuk parameter angin 10 meter yang di overlay dengan kelembaban udara permukaan, gradasi warna merupakan plot kelembaban. Angin laut mulai berpenetrasi masuk ke daratan dari arah utara pada jam 03.00 UTC dapat dilihat pada gambar bagian (a) atau 11.00 WITA, dan terus berpenetrasi sampai jam 09.00 UTC dan mulai melemah terlihat pada gambar bagian (d) atau 17.00 WITA menuju kedaratan. Angin laut permenetrasi maksimum masuk kedaratan pada jam 05.00 UTC ditandai dengan arah angin yang tegak lurus garis pantai dengan kecepatan maksimum sebesar 7 m/s. 20 22 24 26 28 30 32 34 60 65 70 75 80 85 90 95 100 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 S U HU ( C ) RH (% ) Jam (UTC) RH SUHU -8 -6 -4 -2 0 2 4 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 Kec . A n g in ( k n o t)

Jam (UTC) komponen

angin V a . c . b . d .

(7)

7 Gambar 3.12 Plot vertikal irisan lintang pada

bujur 120°39'28" BT (a) jam 05.00 UTC

Gambar 3.12 merupakan plot vertikal pada irisan lintang pada 120°39'28" BT pada jam 05.00 dimana laut berada dibagian utara dan letak penelitian yang diwakili oleh stasiun meteorologi klas III Kasiguncu diwakili titik merah. Terlihat dari hasil irisan lintang, angin laut bertiup dari utara menuju ke daratan. Kondisi di daratan pada jam 05.00 UTC dimana angin laut berpenetrasi maksimum ke daratan, kelembaban udara sekitar 70%-80% dari ketinggian 1000 mb sampai ketinggian 850 mb, sedangkan dari 850 mb smapi 650 mb kelembaban udara berkisar 70% sampai 80%. Kondisi kelembaban di daratan pada jam 05.00 UTC cenderung cukup kering, namun kelembaban udara mulai bertambah lembab.

Gambar 3.13 Plot topografi dan overlay arah dan kecepatan angin permukaan (am

05.00 UTC

Gambar 3.13 menunjukkan hasil keluaran model WRF-ARW untuk parameter kelembaban udara permukaan di overlay dengan topografi. Pada gambar 3.13 dimana pada jam 05.00 UTC interuksi angin laut masuk kedaratan maksimum terlihat hasil

simulasi keluara model WRF-ARW angin laut dapat masuk sekitar 67 km melewati celah lembah namun untuk sebelah kanan dan kiri dari celah lembah dikarenakan kondisi topografi berupa pegunungan sehingga interuksi angin laut masuk ke daratan untuk wilayah tersebut relatif lebih pendek jaraknya.

Gambar 3.14 Plot vetikal kelembaban udara (a) pada titik 01°25'08" LS dan 120°39'28" BT dan plot vertikal vertical

velocity (b) pada titik01°25'08"LS dan 120°39'28" BT

Gambar 3.14 bagian (a) merupakan gambar plot vertikal untuk parameter kelembaban udara pada titik yang mewakili koordinat stasiun meteorologi klas III Kasiguncu. Dari hasil model wrf terlihat bahwa adanya meningkatan kelembaban udara terlihat dari kontur gradasi warna pada wilayah penelitian dimana terlihat dari gambar 3.14 pada pagi hari jam 03.00 UTC

a).

(8)

8 kelembaban udara berkisar 70%-80% dari ketinggian 1000 mb sampai 700 mb sedangkan dari ketinggian 700 mb sampai 500 mb kelembapan udara berkisar 60% sampai 70 %. Pada sore hari menjelang malam kelembaban udara meningkat sekitar 80%-95% dari lapisan 1000 mb sampai 700 mb pada jam 09.00UTC sampai jam 12.00 UTC sedangkan pada lapisan 700 mb sampai 500 mb kelembaban udara berkisar 60% sampai 80 %. Untuk jam–jam selanjutnya yaitu jam 15.00 UTC sampai jam 21.00 UTC kelembaban udara relatif tinggi sekitar 85% sampai 95% dari lapisan 1000 mb sampai 500 mb.

Sedangkan untuk gambar 3.14 bagian (b) merupakan plot vertikal vertical velocity dengan titik yang sama selama 24 jam, terlihat bahwa kondisi vertical velocity pada jam 07.00 UTC sampai 08.00 UTC nilainya bekisar 0.1 m/s sampai 0.15 m/s dari ketinggian 1000mb samapi 500 mb dan untuk jam 10.00 UTC sampai jam 18.00 UTC nilai vertical velocity bernilai relatif negatif dari lapisan 1000 mb sampai 500 mb. Pada jam 19.00 UTC bernilai -0.05 m/s sampai 0.05 m/s dari ketinggian 1000 mb sampai 900 mb, dan berkisar antara 0.1 m/s sampi 0.15 m/s dari ketinggian 900 mb sampai 500 mb. 3.2 Pembahasan

Dari analisis pada dua kondisi cuaca yang ada, ditemukan tidak adanya perbedaan yang signifikan dalam hal interaksi angin laut kedaratan pada saat cuaca hujan dan cuaca cerah. Namun perbedaan yang cukup nyata terlihat pada kondisi kelembaban udara dimana pada saat kondisi cuaca cerah kelembaban udaranya lebih rendah dibandingkan pada kondisi cuaca ada hujan. Terlihat pada kondisi cuaca hujan kelembaban tinggi berkisar 80% sampai 100% dari ketinggian 1000 mb smapai 800 mb sedangkan pada kondisi cuaca cerah kelembaban udara berkisar lebih rendah yaitu sekitar 75% sampai 80 % dari ketinggian 1000 mb smapai 800 mb.

Hasil simulasi angin laut menggunakan model WRF-ARW ditwmukan bahwa angin laut pada kondisi cuaca hujan memiliki waktu aktif yang lebih cepat 02.00 UTC di bandingkan dengan pada kondisi cuaca cerah yaitu 03.00 UTC. Namun hal ini memiliki berbedaan yang tidak signifikan hanya

berkisar satu jam, sedangkan utnuk berahirnya angin laut berkisar antara 09.00 UTC-10.00 UTC.

Dari data observasi juga mendukung bahwa angin yang berhembus dari arah utara merupakan angin laut dengan dicirikan dengan kenaikan kelembaban udara. Angin laut berpenetrasi amsuk ke daratan dapat mencapai sejauh 67 km masuk ke celah lemabah, namun untuk wilayah yang memiliki topografi yang relatif tinggi, penetrasi angin laut jauh lebih pendek akibat terhalang oleh adanya topograf yang tinggi yaitu pegunungan.

Pengaruh terhadap kondisi cuaca dapa terlihat dari hasil citra satelit MTSAT pada tanggal 1 April 2014 pada gambar 4.15.

Gambar 3.15 Citra satelit MTSAT tanggal 1 April 2014 (a) jam 03.00 UTC (b) jam 06.00

UTC

a).

(9)

9 Dari hasil gambar citra satelit MTSAT tanggal 1 April 2014 seperti pada gambar 3.15 terlihat pada jam 03.00 UTC awan belum terbentuk di sepanjang pesisir pantai. Berdasarkan kenaikan kelembaban udara hasil olah data observasi dimana kelembaban udara meningkat pada jam 04.00 UTC yang menunjukkan angin laut masuk ke daratan terlihat awan belum terbentuk awan yang sejajar garis pantai. Pada jam pada jam 06.00 UTC sudah terlihat adanya pebentukan awan yang sejajar garis pantai dan awan terus berkembang menjadi lebih besar setelah jam 06.00 UTC.

pada tanggal 1 April 2014 kelembaban udara cukup tinggi dari lapisan 100 mb sampai 600 mb sehingga sangat mendukung dalam pembentukan awan dan didukung juga dengan nilai vertical velocity yang bernilai positif yang berarti adanya gerakan udara keatas. Dengan adanya gerakan udara bergerak ke atas dengan kelembaban udara yang cukup tinggi hal ini sangat berpotensi terjadi pembentukan awan-awan di sepanjang pesisir pantai, hal ini dapat di buktikan dengan melihat hasil citra satelit MTSAT pada gambar 3.15.

Pada tanggal 19 April 2014 dimana kondisi cuaca cerah, pembentukan awan di atas daratan dapat dilihat dari hasil citra satelit MTSAT pada gambar 3.16.

Gambar 3.16 Citra satelit MTSAT tanggal 19 April 2014 (a) jam 04.00 UTC (b) jam 06.00

UTC

Berdasarkan hasil citra satelit tanggal 19 April 2014 terlihat pada gambar 3.16, pada saat kelembaban udara meningkat yaitu jam 04.00 UTC yang menunjukkan bahwa adanya interuksi angin laut menuju ke daratan, hasil citra satelit menunjukkan adanya awan-awan yang terbentuk di atas daerah penelitian, namun tidak di temukan pola awan-awan yang terbentuk sebagai hasil dari sirkulasi angin laut yaitu dimana sejajar garis pantai. Awan-awan yang berada di atas wilayah penelitian terlihat merupakan awan yang bergerak dari arah timur menuju ke daerah penelitian ini terbukti dari pola awan yang bertambah semakin besar dari waktu ke waktu dan meluas pada daerah daerah penelitian. Berdasarkan hasil olahan dari keluaran model WRF-ARW untuk kelembaban udara serta nilai vertical velocity selama 24 jam pada tanggal 19 April 2014 menunjukkan nilai kelembaban udara yang cukup rendah berkisar antara 70 % sampai 85 % dari lapisan 1000mb sampai 600 mb pada siang sampai sore hari, dengan nilai vertical velocity bernilai positif antara jam 06.00 UTC sampai 09.00 UTC dan umumnya bernilai 0 m/s sampai 0.05 m/s untuk vertical velocity pada tanggal 19 April 2014. Dengan kondisi kelembaban udara yang cukup rendah walaupun di dukung dengan adanya gerakan massa udara naik ke atas, terlihat awan-awan hasil sirkulasi angin laut sulit terbentuk.

Awan-awan yang terbentuk di atas wilayah daratan umumnya terlihat merupakan awan-awan yang bergerak dari

b).

(10)

10 tempat lain menuju ke wilayah penelitiansehingga menuntupi untuk melihat pola awan-awan yang terbentuk akibat adanya sirkulasi angin laut masuk ke daratan, sehingga pada tanggal 19 April 2014, tidak megitu jelas terlihat adanya pembentukan awan-awan yang sejajar garis pantai yang mengindikasikan awan-awan hasil sirkulasi angin laut.

4.

KESIMPULAN

Berdasarkah hasil penelitian yang telah di lakukan, sehingga dapat disimpulkan bahwa

1. Angin laut di wilayah penelitian yaitu wilayah Poso berasal dari arah utara dimana mulai aktif sekitar jam 02.00 UTC-03.00 UTC dan berakhir sekitar jam 09.00 UTC-10.00 UTC.

2. Angin laut dapat berpenetrasi masuk ke daratan sejauh 67 Km dengan kecepatan 7 m/s atau setara dengan 14 knot.

3. Angin laut dapat mempengaruhi kondisi cuaca di wilayah Poso di mana ditemukan akibat adanya interaksi angin laut yang masuk ke daratan membawa uap air sehingga meningkatkan kelembaban udara dan di dukung dengan adanya nilai vertical velocity yang menanadakan adanya gerakan massa udara keatas, hal ini mendukung terjadinya pembentukan awan-awan di atas daratan dimana polanya adalah sejajar garis pantai.

DAFTAR PUSTAKA

Dailey, P. S., dan Fovell, R.G., 1999,

Numerical simulation of the interaction between the sea-breeze front and horizontal convective rolls, Part I :Offshore ambient flow. Monthly Weather Review, 127, 858-878.

Simpson, J.E., 1994, Sea Breeze and

ocal Wind, Cambridge University Press,Cambridge.

Tjasyono, HK. B., dan Harijono, .

W.B., 2013, Atmosfer Ekuatorial, Puslitbang, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Jakarta.

Wulandari, S., 2014, Kajian Angin

Lokal di Palu dengan menggunakan Model WeatherResearch And Forecasting- Advanced Research WRF (WRF ARW), Skripsi,

Meteorologi, Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Jakarta.

Gambar

Tabel 2.1 Konfigurasi domain
Gambar 3.3 Parameter suhu dan kelembaban  tanggal 01 april 2014
Gambar 3.7  Plot topografi dan overley  arah  dan kecepatan angin  jam 07.00 UTC
Gambar 3.9 Parameter suhu dan kelembaban  tanggal 19 april 2014
+4

Referensi

Dokumen terkait

Menu cetak nota digunakan untuk mencetak nota penjualan yang baru dibeli pelanggan, pertama-tama user harus memilih no pesanan, setelah itu tekan tombol cetak untuk mencetak

Pada profil cuaca bulan September ini dilakukan analisis kondisi cuaca sinoptik beberapa parameter cuaca yang terdiri dari arah dan kecepatan angin, temperatur udara dan

(5) Laporan realisasi PPN ditanggung Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berupa Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Penyusunan basis data berbasis SIG dalam penentuan zonasi rawan bencana longsor menggunakan data

Hhasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa seluruh hipotesa penelitian berpengaruh sesuai tujuan penelitian. Teknologi dan harga

Proses yang ada di dalam home industry pembuatan tas Asem Rowo ini dimulai ketika pemilik menerima pesanan untuk membuat tas dengan model yang sudah

Peranan p o lit ik h uku m d alam pengembangan ekonomi syariah harus dilihat secara inte- gral, karena masing-masing unsur bersifat komplementer dan berada dalam suatu

Batok kelapa dengan nilai kalor dan fire power yang lebih besar dibanding tongkol jagung dan limbah kayu, memberikan pasokan termal lebih besar dan akan