• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan pendekatan Research and Development (R&D) atau penelitian dan pengembangan. Research and Develovment adalah Suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk atau menyempurnakan produk yang telah ada dan digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji produk tersebut . (Sugiyono, 2011 ;297).

Untuk dapat menghasilkan produk tertentu digunakan penelitian yang bersifat analisis kebutuhan dan untuk menguji keefektifan produk tersebut supaya dapat berfungsi di masyarakat luas, maka diperlukan penelitian

Penelitian ini berbentuk siklus yang diawali dengan adanya kebutuhan, permasalahan yang membutuhkan pemecahan dengan suatu produk tertentu. Adapun langkah-langkah penelitian dan pengembangan ini adalah sebagai berikut :

1. Potensi Masalah

Penelitian berangkat dari adanya masalah, yaitu penyimpangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, masalah ini dapat diatasi melului research and Development dengan cara meneliti sehingga dapat ditemukan suatu model baru yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut

2. Pengumpulan data

Setelah masalah dapat ditunjukan secara factual, maka selanjutnya perlu dikumpulkan berbagai informasi yang dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk tertentu, yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. 3. Desain Produk

Desain produk harus diwujudkan dalam bentuk nyata sehingga dapat digunakan sebagai pegangan untuk menilai.

(2)

4. Validasi desain

Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai rancangan produk, dengan cara menghadirkan beberapa pakar atau ahli yang sudah berpengalaman, untuk diminta menilai dan memberi masukan terhadap rancangan produk yang akan dikembangkan seingga terlihat kekuatan dan kelemahannya.

5. Perbaikan desain (Revisi)

Setelah desain produk divalidasi melalui diskusi dengan para ahli , maka akan diketahui kelemahannya. Kelemahan tersebut selanjutnya dikurangi dengan cara memperbaiki desain

6. Pembuatan produk jadi

Peembuatan produk jadi ini dilakukan perbaikan setelah adanya masukan dari para ahli yag dilakukan pada tahap validasi melalui kegianan diskusi .

Adapun alasan peneliti memilih metode ini adalah tepat untuk mengungkap kondisi obyektif raport yang digunakan untuk anak tunagrahita di SLB, serta mengembangkan model raport yang berbasis asesmen untuk anak tunagrahita yang bisa dijadikan pendoman bagi guru dalam proses pembelajar.

B. Lokasi dan Subyek Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di enam SLB di Kabupaten Bandung Barat yang ada di kota Bandung dan sekitarnya :

- SLB Purnama Asih Kab Bandung Barat - SLB YPALB Kab. Bandung.Bandung Barat - SLB Al-Hikmah Kab. Bandung Barat - SLB Sukagalih Kab. Bandung Barat - SLB Bina Anugrah Kab. Bandung Barat - SLB Hanjuang Jaya Kab Bandung Barat 2. Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini terdiri dari unsur guru yang sedang mengajar anak tunagrahita.

(3)

C. Teknik Pengumpulan Data

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk membuat model raport yang berbasis asesmen bagi anak tunagrahita di sekolah luar biasa, Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan maka peneliti akan menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Setelah menentukan teknik pengumpulan data tersebut kemudian peneliti merumuskan instumen pengumpulan data berdasarkan aspek-aspek yang terdapat pada pertanyaan penelitian. Berikut teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini:

1) Observasi

Observasi dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat langsung dengan menggunakan pedoman ovservasi untuk mencatat kondisi objektif tentang model raport yang digunakan saat itu, serta faktor -faktor lain yang dapat Mendukung penelitian ini.

2) Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab, dilakukan dengan sistematik dan berlandaskan pada tujuan penelitian. Nasution (1992) mengemukakan, dalam wawancara kita dihadapkan kepada dua hal. Pertama, kita harus mengadakan interaksi dengan responden. Kedua, kita menghadapi kenyataan, adanya pandangan orang lain yang mungkin berbeda dengan pandangan kita sendiri. Menurut Susan Stainback (Sugiyono, 2010) mengemukakan bahwa wawancara

‘... provide the researcher a means to gain a deeper understanding of how the participant interpret a situation or phenomenon than can be gained through observation alone.’

Jadi dengan wawancara, peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan (informan) dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, dimana hal ini tidak bisa ditemukan melalui observasi. Teknik wawancara yang dipergunakan dalam pengumpulan data ini terdiri dari wawancara semi terstruktur dan wawancara tak berstruktur.

(4)

Wawancara semi terstruktur digunakan dengan tujuan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya (Sugiyono, 2010). Wawancara dilakukan dalam suasana yang alami, kekeluargaan dan dalam waktu yang fleksibel. Dengan wawancara peneliti dapat mengungkapkan perspektif emik, yaitu pandangan, gagasan dan pikiran dari subyek penelitian. Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dicatat dan dapat disalin menjadi bentuk tulisan/laporan. Wawancara dilakukan terhadap guru yang mengajar siswa tunagrahita.

Wawancara digunakan oleh peneliti untuk mengetahui bagaimana kondisi obyektif buku raport yang digunakan untuk siswa Tunagrahita di SLB saat ini, serta untuk mengungkap kebutuhan terhadap model buku Raport yang akan dikembang bagi anak tunagrahita di SLB.

D. Prosedur Penelitian

Tujuan utama dari penelitian ini adalah tersusunnya desain raport yang berbasis asesmen bagi siswa tunagrahita. Prosedur dalam penelitian ini secara garis besar ditempuh melalui empat tahapan yaitu : (1) studi kondisi objektif raport (2) tahap analisis hasil studi kondisi objektif saat ini dan merumuskan draf model raport yang berbasis asesmen bagi siswa tunagrahita , 3) tahap validasi melalui focus group discussion, 4) finalisasi desain raport berbasis asesmen bagi siswa tunagrahita.

(5)

Tahapan penelitian dapat digambarkan dalam bagan dibawah ini :

BAGAN 3.1 Tahapan Penelitian

1. Tahap Studi Pendahuluan

Untuk memperoleh dasar pijakan penyusunan draf desain raport berbasis asesmen bagi siswa tunagrahita ini maka diperlukan studi atau kajian kondisi objektif raport serta kebutuhan dalam mendesain raport bagi siswa tunagrahita. Dalam kegiatan ini peneliti menghimpun data melalui teknik observasi, wawancara dan studi dokumen.

Adapun kondisi objektif yang ingin diungkap berkaitan dengan: a) Desain Raport atu kondisi fisik dalam pembuatan raport untuk siswa tunagrahita. b) Komponen-komponen yang ada dalam buku raport bagi anak tunagra hita. c) Substansi yang tergambarkan dalam raport untuk anak tunagrahita.

Studi Pendahuluan OBSERVASI, WAWANCARA

ANALISIS

HASIL STUDI KONDISI OBJEKTIF

MERUMUSKAN DESAIN AWAL

KEGIATAN FOCUS GROUP DISCUSSION

REVISI

(6)

1) Teknik Pengumpulan Data Studi Dokumentasi

Pada tahap ini peneliti melakukan observasi dengan cara melihat dan mencatat langsung perihal dokumen raport, bagaimana kondisi raport yang digunakan untuk anak tunagrahita di sekolah tempat obyek penelitian.

Wawancara

Wawancara dilakukan terhadap guru pengajar anak tunagrahita dengan cara semi terstruktur digunakan dengan tujuan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya (Sugiyono, 2010). Wawancara dilakukan dalam suasana yang alami, kekeluargaan dan dalam waktu yang fleksibel. Dengan wawancara peneliti dapat mengungkapkan kondisi obyektif raport yang digunakan untuk anak tunagrahita di sekolah tersebut, yang berkaitan dengan bentuk desain dan konten dari raport tersebut serta bagaimana pandangan, gagasan dan pikiran dari subyek penelitian. Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dicatat dan dapat disalin menjadi bentuk tulisan/laporan.

Wawancara digunakan oleh peneliti untuk mengetahui kondisi obyektif raport yang digunakan untuk anak tunagrahita. Dengan tujuan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangan model raport bagi anak tunagrahita

2) Pemeriksaan dan Keabsahan Data Penelitian

Untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dari lapangan soheh atau valid, maka perlu dilakukan pemeriksaan secara seksama dan teliti baik dilihat dari substansinya, sumber data maupun pengambilan data.

. Berkaitan dengan keabsahan data Moleong (2004) mengatakan bahwa : “Teknik Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan data sebagai perbandingan terhadap data itu.

Teknik Triangulasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah membandingkan data hasil observasi dengan data hasil wawancara dan berkaitan dengan dokemen-dokumen yang diperoleh sebagai bahan

(7)

pembuktian dari hasil wawancara dan observasi. Dengan demikian derajat kepercayaan informasi yang diperoleh dalam penelitian ini terjamin. Hal ini, menurut Moleong (2004) dapat dicapai dengan jalan:

1) Membandingkan data hasil observasi dengan data hasil wawancara. 2) Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa

yang dikatakan orang secara pribadi.

3) Membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.

4) Membandingkan keadaan prespektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang.

5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

Pada penelitian ini sendiri, data hasil pengamatan atau observasi dibandingkan dengan data hasil wawancara. Data hasil wawancara sendiri dibandingkan menurut sumber data wawancara tersebut. Maksudnya, data hasil wawancara dari setiap responden dibandingkan terlebih dahulu, baru kemudian di triangulasikan dengan sumber data lainnya, baik dari data hasil observasi maupun dengan data dari hasil studi dokumentasi.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka teknik triangulasi yang digunakan pada penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Bagan 3.2 Triangulasi data

2. Analisis Data

Pada tahap ini peneliti menghimpun data hasil wawancara, dan observasi, yang diperoleh dari tahap kondisi objektif di atas. Kemudian data tersebut dianalisis dengan cara : Data hasil observasi Data hasil wawancara Data Studi Dokumentasi

(8)

- Reduksi Data

Data yang diperoleh dari lapangan segera dilakukan analisis data melalui reduksi data.Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas yang berkaitan dengan tujuan penelitian yang pertama. - Data Display

Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data dalam bentuk uraian singkat dengan teks yang bersifat naratif. Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, serta merencanakan langkah kerja selanjutnya.

- Kesimpulan

Selanjutnya adalah menarik kesimpulan, kesimpulan dalam tahap ini diharapkan dapat menjawab dari pertanyaan penelitian yang pertama. 3. Merancang Model

Hasil dari analisis tersebut untuk dijadikan bahan merumuskan desain awal dalam mengembangkan raport untuk anak tunagrahita yang berbasis asesmen. 4. Tahap Validasi

Vaslidasi dilakukan melului Focused Group Discussion (FGD).

Draf desain yang telah dirumuskan sebelumnya (draf desain awal), selanjutnya dibawa kedalam focused group discussion (FGD). Hal ini dilakukan untuk memperoleh saran/masukan yang lebih luas dalam menyusun desain raport berbasis asesmen bagi siswa tunagrahita

Peserta/ahli yang dilibatkan dalam FGD terdiri dari: Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas . Pemilihan focused group discussion ini didasarkan pada pendapat Witkin (1984) yang menyatakan bahwa pemecahan masalah melalui diskusi kelompok dapat digunakan sebagai satu tahap dari need assessment, di mana tingkatan dari diskusi yang diselenggarakan dengan baik dapat dijadikan pedoman untuk need assessment, seleksi aktivitas dan evaluasi.

Dalam kegiatan FGD peserta/ahli diminta tanggapannya untuk dijadikan perbaikan terhadap desain raport. Dengan melibatkan tiga unsur tersebut diharapkan dapat memperkaya masukan sehingga raport dapat digunakan oleh

(9)

guru sebagai buku laporan kemajuan siswa. Selanjutnya peneliti menyusun desain rapor berdasarkan hasil FGD.

5. Tahap Revisi Raport

Desain raport berbasis asesmen untuk anak tunagrahita hasil FGD tersebut di atas selanjutnya di revisi. Hasil masukan dari para ahli ini dijadikan dasar dalam menyusun model raport berbasis asesmen bersifat hipotetik (desain final) tahap akhir.

E. Pengembangan Instrumen Penelitian

Dalam hal instrumen penelitian kualitatif Nasution dalam Sugiyono (2010) menyatakan :

“Dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain dari pada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan tidak jelas sebelumnya.” Dalam penelitian kualitatif instrument utama adalah peneliti sendiri, namun selanjutnya, setelah fokus penelitian menjadi jelas, maka kemungkinan akan dikembangkan instrument penelitian yang diharapkan dapat melengkapi data dan membandingkan dengan data yang telah ditemukan.

Berdasarkan fokus dan pertanyaan penelitian maka peneliti menyusun instrumen yaitu pedoman observasi dan wawancara, yang ditujukan kepada guru, dan kepada peserta FGD. Kisi-kisi instrumen penelitian yang disusun peneliti dapat dilihat pada tabel di berikut ini:

(10)

TABEL 3.1

KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN

PENGEMBANGAN MODEL LAPORAN HASIL BELAJAR (RAPORT) BERBASIS ASESMEN UNTUK SISWA TUNAGRAHITA DI SEKOLAH LUAR BIASA

No. Pertanyaan

Penelitian Aspek Indikator

Teknik Pengambilan Data Subyek/ Responden No item . . 1. Bagaimana kondisi objektif Raport yang digunakan bagi anak tunagrahita di sekolah Luar Biasa?

1.1. Model Raport 1.1.1. Mengetahui model raport yang biasa digunakan untuk anak tunagrahita di SLB

Wawancara Guru 1

1.1.2. Ukuran raport Wawancara Guru

2

1.1.3. Desin warna raport Wawancara Guru

3 1.1.4. Ukuran tulisan pada raport Wawancara Guru

4 1.2. 1.2 Konten Raport

1.3. Aspek yang diungkap dalam raport

1.2.1. Biodata Siswa Wawancara Guru

5

1.2.2. Petunjuk penggunaan Wawancara Guru

6

1.2.3. Keterangan diri siswa Wawancara Guru

7 1.2.4. 1.2.4. Format penilaian 1.2.5. Wawancara Guru 8 2.1.1. 1.2.5. sistem Penilaian 2.1.2. Wawancara Guru 9

(11)

1.2.6. Deskripsi penilaian Wawancara Guru

10

1.2.7. Penilaian pengembagan diri Wawancara Guru

11

1.2.8. Catatan untuk orang tua Wawancara Guru 12

1.2.9. Keterangan pindah sekolah Wawancara Guru

13

1.2.10. Catatan prestasi Wawancara Guru

14

1.2.11. Dasar penilaian Wawancara Guru

15 1.2.12. Gambaran kemampuan anak sesungguhnya Wawancara Guru 16 1.2.13. Aspek perkembangan

Kognititif Wawancara Guru 17

1.2.14. Aspek Perkembangan

Psikomotor Wawancara Guru 18

1.2.15. Aspek Pekembangan

Apektif Wawancara Guru 19

1.2.16. Penilaian dipahami oleh

orang tua siswa Wawancara Guru 20

1.2.17. Kebutuhan raport baru Wawancara Guru

(12)

2 1. 2. Bagaimana Model Raport yang bisa dijadikan pendoman dalam proses pembelajar dan gambaran pekembangan siswa secara riil. (Ekspert Judgment) Penyusunan desain raport berbasis asesmen untuk anak tunagrahita

2.1. Desain buku raport

FGD Pengawas, guru, kepsek 1,2,3,4 2.2. biodata siswa FGD Pengawas, guru, kepsek 5 2.3. Keterangan Peserta didik

FGD Pengawas,

guru, kepsek 6 2.4. pecantuman base line

dihalaman awal raport FGD

Pengawas, guru, kepsek 7 2.5. format penilaian FGD Pengawas, guru, kepsek 8 2.6. Sistem penilaian FGD Pengawas, guru, kepsek 9 2.7. Format Pengembangan diri

FGD Pengawas,

guru, kepsek 10 2.8. Petunjuk Pengisian raport

FGD Pengawas,

(13)

TABEL 3.2 PEDOMAN OBSERVASI Hari/tanggal : Waktu : Tempat : Obyek : Raport NO Observasi Keterangan

1. Raport di pakai untuk siswa tunagrahita

2 Ukuran buku raport yang sekarang dari ketebalan dan panjangnya

3 Warna raport

4 Ukuran tulisan

5 Pengisian biodata siswa di halaman awal

6 Petunjuk penggunaan yang ada di raport

7 Keterangan diri peserta didik

8 Format penilaian : Mata Pelajaran Muatan local Program khusus 9 system penilaian 10 Deskripsi nilai

(14)

11 Pengembangan diri:

a. Penilaian Kepribadian b. Ekstra kurikuler c. Pembiasaan

12 Catatan untuk orang tua

13 Keterangan pindah sekolah

(15)

TABEL 3.3 PEDOMAN WAWANCARA Hari/tanggal : Waktu : Tempat : Subjek : I Pertanyaan Jawaban

1 1 .Model raport yang bagimana yang di pakai untuk siswa tunagrahita ?

2 2. Bagaimana dengan ukuran buku raport yang sekarang dari ketebalan dan panjangnya ? 3 3. Bagaimana dengan warna raport

yang sekarang ?

4 4. Bagaimana dengan ukuran tulisannya ?

5 5. Bagaimana dengan pengisian biodata siswa di halaman awal ?

6 6. Bagaimana dengan petunjuk penggunaan yang ada di raport ? 7 7. Bagaimana dengan keterangan

diri peserta didik ?

8 8. Bagaimana dengan format penilaian :

a. Mata Pelajaran b. Muatan local c. Program khusus

9 9. Bagaimana sistem penilaian yang diharus dengan angka pada raport tersebut ?

10 10. Bagaimana dengan deskripsi nilai

(16)

pengembangan diri: a. Penilaian Kepribadian b. Ekstra kurikuler c. Pembiasaan

12 12. Bagaimana catatan untuk orang tua perlu dicantumkan dalam raport

13 13. Bagaimana dengan keterangan pindah sekolah yang tercantum dihalaman akhir diperlukan dalam raport

14 14. Bagaimana dengan catatan prestasi yang pernah dicapai yang tercantum di halaman akhir ? 15 15. Apa yang menjadi landasan

penilaian yang dicantumkan dalam raport ?

16 16. Apakah raport yang sekarang sudah menggambarkan kemampuan anak yang sebenarnya ?

17 17. Apakah perkembangan dari aspek kognitif sudah tergambarkan dari raport yang sekarang ?

18 18. Apakah perkembangan dari aspek psikomotor sudah tergambarkan dari raport yang sekarang ? 19 19. Apakah perkembangan dari aspek

apektif sudah tergambarkan dari raport yang sekarang ?

20 20. Apakah orang tua siswa dapatmemahami nilai yang dicantumkan dalam raport ? 21 21. Apakah raport untuk anak

tunagrahita perlu ada perubahan atau pengembangan kembali ?

(17)

TABEL 3.4

PEDOMAN FOCUS GROUP DISCUSSION

MODEL PENILAIAN HASIL BELAJAR (RAPORT) BERBASIS ASESMEN UNTUK ANAK TUNAGRAHITA

No Pertanyaan Uraian

1. Bagaimana dengan cover depan ?

2 Bagaimana dengan ukuran buku raport yang sekarang dari ketebalan dan panjangnya ?

3 Bagaimana dengan warna raport ?

4 Bagaimana dengan ukuran tulisannya ?

5 Bagaimana dengan pengisian biodata siswa di halaman awal ?

6 Bagaimana denganketerangan peserta didik yang disertai keterangan

“hambatan Special” ?

7 Bagaimana dengan pecantuman base line dihalaman awal raport ?

8 Bagaimana dengan format penilaian :

9 Bagaimana dengan sistem penilaian ?

10 BAgaimana dengan format pengembangan diri ?

11 Bagaimana dengan petunjuk pengisian raport ?

(18)

Kesimpulan dan Saran

Peserta Diskusi

Gambar

TABEL 3.2  PEDOMAN OBSERVASI  Hari/tanggal  :  Waktu   :  Tempat  :  Obyek    : Raport  NO  Observasi  Keterangan
TABEL 3.3  PEDOMAN  WAWANCARA  Hari/tanggal  :  Waktu   :  Tempat  :  Subjek   :  I  Pertanyaan  Jawaban

Referensi

Dokumen terkait

Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini ialah wawancara semi terstruktur, adapun tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara

Dengan demikian, Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan teknik wawancara tak terstruktur, tujuan dari wawancara ini adalah untuk menemukan permasalahan secara

Qur’an pada mata pelajaran Al - Qur’ an Hadits di MTs Raudlatul Ulum. Adapun jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur, yakni wawancara

Wawancara tidak terstruktur memiliki ciri-ciri, yaitu pertanyaan sangat terbuka, kecepatan wawancara sangat sulit diprediksi, sangat fleksibel, pedoman wawancara

Metode wawancara dalam penelitian ini adalah peneliti melakukan tanya jawab secara lisan kepada pemilik usaha kue cincin. Wawancara ini merupakan jenis wawancara semi terstruktur

Wawancara dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Perbedaan kedua jenis wawancara ini terdapat pada

Pengumpulan data primer dilakukan dengan kuesioner dan wawancara semi terstruktur terhadap informan-informan kunci, yaitu beberapa tokoh masyarakat Kota Tasikmalaya, PKL,

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan lembar wawancara terstruktur dan terbuka serta dilakukan dengan melalui rekaman suara agar memperkuat dari hasil wawancara yang akan disusun