FORMULA ROMANCE DALAM PERFECT ROMANCE KARYA INDAH HANACO: KRITIK SASTRA FEMINIS*)
(Romance Formula in ‘Perfect Romance’ by Indah Hanaco:
Feminist Literature Analyse)
Tania Intan
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Jalan Raya Bandung-Sumedang Km. 21,7, Jatinangor, Indonesia
Telepon penulis (WhatsApp): 081285319071 Pos-el: [email protected]
*)Diterima: 19 Juni 2020, Disetujui: 25 Juli 2020
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi formula romance dalam Perfect Romance karya Indah Hanaco. Adapun, metode yang digunakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis struktural dan kritik sastra feminis. Data berupa kata, frasa, dan kalimat dikumpulkan dengan teknik studi pustaka dan dikaji dengan landasan teoritis yang relevan dari Cawelti, Radway, dan Modleski. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan, unsur-unsur konstruktif teks naratif, yaitu alur, tokoh, dan latar pada novel Perfect Romance memenuhi kriteria formula romance. Alur bersifat progresif, memenuhi ketiga belas sekuen romance, ada rintangan dalam percintaan, dan kisah yang berakhir bahagia. Dari penelitian ini terungkap adanya deviasi, yaitu cerita yang terpusat pada tokoh laki-laki dan status tokoh perempuan yang pernah menikah. Namun, penokohan dalam novel tersebut relatif sesuai dengan formula romance. Kehidupan masyarakat urban serta nilai-nilai tentang keluarga yang mapan dan normatif menjadi latar ‘sihir’ dari percintaan kedua protagonis. Novel ini dapat dianggap mengafirmasi otoritas laki-laki dan menempatkan perempuan sebagai subordinat.
Kata kunci: formula romance, perfect romance, sastra feminis
ABSTRACT
This study aims to verify the romance formula in Indah Hanaco's Perfect Romance. Meanwhile, the method used is descriptive qualitative with a structural analysis approach and feminist literary criticism. Data in the form of words, phrases, and sentences were collected using literature study techniques and reviewed with relevant theoretical foundations from Cawelti, Radway, and Modleski. The results showed that overall, the constructive elements of the narrative text, namely the plot, characters, and setting of the novel Perfect Romance meet the criteria of the romance formula. The chronology is progressive, fulfilling thirteen sequences of romance, there are problems in romance, and stories that end happily. This research reveals that there are deviations, namely stories that focus on male characters and the status of women who have been married. However, the characterizations in the novel are relatively following the formulation of romance. Urban community life and established and normative family values become the 'magic' background of the two protagonists' requests. This novel can affirm men and place women as subordinates.
ALAYASASTRA, Volume 16, No. 2, November 2020
302
PENDAHULUAN
Indah Hanaco adalah salah satu perempuan penulis Indonesia yang menerbitkan sejumlah karya populer terutama dengan genre romance dan
thriller. Sejak tahun 2010, ia telah
menulis setidaknya 23 novel. Beberapa karyanya yang terkenal, antara lain Black
Angel (2011), The Curse of Beauty
(2012), dan Love in Pompeii (2016). Pada artikel ini, dilakukan penelitian atas novel berjudul Perfect
Romance (2017) yang diterbitkan oleh
PT. Elex Media Komputindo. Buku setebal 316 halaman tersebut terdiri atas 22 bab. Perfect Romance mengisahkan percintaan di antara Taura, seorang
playboy, dengan Inggrid, perempuan
yang baru saja bercerai. Relasi percintaan di antara mereka terjalin berkat hadirnya Malena, anak mantan kekasih Taura.
Hampir seluruh novel Indah Hanaco memang bergenre romance atau bertema percintaan. Romance adalah genre novel dengan segmen pembaca terluas di dunia publikasi dan pasar buku (Roach, 2016, hal. 5). Novel bertema percintaan tersebut menjadi sangat populer terutama di kalangan perempuan sehingga sering diatribusikan sebagai bacaan feminin.
Selain perbedaan, banyak novel, termasuk romance, memiliki unsur-unsur serupa, mulai dari alur, tokoh, tema, hingga latar. Keserupaan itu diargumentasikan Cawelti (1972, hal. 384–385) dapat terjadi karena semua produk budaya merupakan gabungan dari dua jenis elemen, yaitu konvensi dan invensi. Konvensi adalah elemen-elemen yang dikenal oleh pencipta dan penikmat karya itu, mulai dari alur favorit, tokoh stereotipikal, ide yang berterima, metafora yang khas, serta
unsur linguistik lainnya. Adapun invensi merupakan elemen-elemen yang hanya dapat diimajinasikan oleh si pencipta sebagai unsur baru, baik pada tokoh, ide atau bentuk kebahasaan.
Cawelti (1972) menjelaskan bahwa konvensi dan invensi memiliki fungsi kultural yang berbeda. Bila konvensi mengajekkan stabilitas kultur, invensi cenderung merespons perubahan situasional dan menyampaikan informasi yang aktual tentang dunia.
Ada sejumlah besar karya populer yang ditandai memiliki derajat konvensionalisasi yang tinggi hingga dapat disebut sebagai ‘formula’. Formula didefinisikan sebagai sistem konvensional untuk memberi struktur pada produk budaya (Cawelti, 1972, hal. 385). Berbeda dengan genre, formula merepresentasikan cara kultur dalam merangkum arketip yang bersifat mitos dan mewujudkannya dalam bentuk naratif (Cawelti, 1972, hal. 387). Karena bersifat kultural itulah, formula bersifat dinamis bergantung pada perkembangan masa.
Tidak menutup kemungkinan bahwa pembahasan mengenai formula tersebut dapat melibatkan unsur-unsur lain, seperti ritual kolektif, permainan, dan mimpi (dalam perspektif Freudian). Namun, untuk menganalisis formula, pertama-tama peneliti harus mendefinisikan formula sebagai pola tertentu dari suatu struktur naratif (Cawelti, 1972, hal. 390).
Seperti dalam cerita koboi Amerika dan kisah agen rahasia, Cawelti (1972, hal. 387) membahas kajian Frye mengenai tokoh utama laki-laki pada
romance yang selalu menghadapi
tantangan yang berbahaya dan membutuhkan kekuatan fisik.
Dengan menyepakati gagasan tentang pola dan keserupaan dari Cawelti
Formula Romance dalam Perfect Romance … (Tania Intan) 303 tersebut, Michaels (2007, hal. 1)
menjelaskan bahwa sebuah romance selalu mengisahkan seorang perempuan “heroine” dan seorang laki-laki “héros” yang berusaha untuk hidup bersama walaupun ada masalah yang membuat mereka berpisah. Cinta yang dirasakan satu dengan yang lainnya merupakan jenis cinta yang hanya muncul sekali dalam seumur hidup. Kesadaran tentang hal itu pun mengarahkan keduanya pada komitmen dan harapan untuk hidup bahagia selamanya sampai akhir hayat mereka. Konsep tersebut melekat erat sebagai formula romance, sebagaimana dinyatakan Sabudu (2017, hal. 2).
Modleski (1996, hal. 36) menjelaskan bahwa dalam romance standar, struktur cerita selalu ditampilkan dengan adanya seorang perempuan muda, tidak berpengalaman, berpenampilan “biasa” yang bertemu dengan seorang laki-laki tampan, kaya, dan berumur lebih tua darinya. Karena sebab-sebab beragam, tokoh laki-laki akan mengolok-olok. Bahkan, ia bersikap brutal sehingga membuat tokoh perempuan bingung. Pada akhirnya, tokoh laki-laki mengungkapkan cinta pada tokoh perempuan dan permasalahan seberat apa pun terselesaikan.
Dalam romance, kisah seperti itu terjadi pada "ruang sihir" yang menjadi latar tempat bagi tokoh perempuan. Secara sosial, ia mengalami masalah hingga harus pergi jauh dari teman dan keluarga untuk pulih dari trauma atau terbangun dari koma. Cerita kemudian dibangun di sekitar serangkaian rintangan. Tokoh laki-laki dan tokoh perempuan saling jatuh cinta walaupun ada kelas, bangsa, atau ras yang berbeda, termasuk sifat keras kepala keduanya yang membuat mereka menjadi saling membenci (Gill dan Herdieckerhoff,
2006, hal. 490). Narasi romantis lalu berkembang melalui permusuhan, perpisahan, dan rekonsiliasi yang membawa serta perubahan pribadi seorang laki-laki tegar menjadi emosional dalam menyatakan cinta pada tokoh perempuan. Perjalanan ini berdampak pada pemulihan identitas sosial pada tokoh perempuan Pearce dan Stacey.
Tahap pengaluran tersebut dapat berkorelasi dengan skema naratif khas novel romance yang disusun Radway (2006, hal. 134) yakni (1) awalnya identitas sosial tokoh perempuan rusak; (2) kemudian tokoh perempuan itu bereaksi secara antagonis terhadap seorang laki-laki; (3) laki-laki menanggapi kemarahan tokoh perempuan dengan sikap ambigu; (4) yang ditafsirkan perempuan sebagai bukti minat seksual murni terhadap dirinya; (5) tokoh perempuan menanggapi perilaku tokoh laki-laki itu dengan marah atau dingin; (6) tokoh laki-laki membalas tokoh perempuan; sehingga (7) tokoh laki-laki dan tokoh perempuan secara fisik dan/ atau emosional dipisahkan; (8) tokoh laki-laki tersebut lalu memperlakukan tokoh perempuan dengan lembut; (9) tokoh perempuan menanggapi dengan hangat tindakan tokoh laki-laki; (10) tokoh perempuan itu menafsirkan kembali perilaku ambigu tokoh laki-laki sebagai dampak dari luka sebelumnya; (11) tokoh laki-laki secara terbuka menyatakan cinta dan menunjukkan kesungguhannya kepada tokoh perempuan dengan tindakan yang sangat lembut; (12) tokoh perempuan merespons secara seksual dan emosional; (13) dan akhirnya identitas tokoh perempuan dipulihkan.
Menurut Radway (2006, hal. 140), ada dua perspektif standar yang selalu
ALAYASASTRA, Volume 16, No. 2, November 2020
304
dihadirkan pada tokoh laki-laki dalam
romance. Pertama, harus memiliki
status teladan atau luar biasa untuk menjadi pahlawan. Kedua, laki-laki itu pada awalnya jahat dan kemudian bertobat karena mengalami pembelajaran. Hal itu membentuk pola harapan yang menyiratkan suatu kenyataan tentang pasangan perempuan pembaca.
Karena sebagian besar pembacanya adalah perempuan,
romance biasanya diceritakan dari sudut
pandang tokoh perempuan, baik sebagai pencerita orang pertama atau ketiga (Shepherd, 2007). Narator ikut berperan di dalam cerita sebagai tokoh sehingga ia tidak bersifat omniscient ‘maha tahu’ atau omnipresent ‘hadir di mana saja’, pengetahuannya pun terbatas hanya pada apa yang ia lihat, dengar, atau pelajari. Dengan demikian, sifat penceritaannya berkesan intim, subjektif, dan dapat bersifat konfesional layaknya sebuah buku harian atau otobiografi.
Paparan teoretis tentang formula
romance tersebut menjadi landasan
penelitian terhadap novel Perfect Romance karya Indah Hanaco. Tujuan
penelitian yang dirumuskan untuk membatasi wilayah kajian ini adalah untuk memverifikasi kesesuaian (dan/ atau ketidaksesuaian) formula romance di dalam teks tersebut. Dengan pendekatan kritik sastra feminis, hasil kajian tersebut selanjutnya diinterpretasikan dengan berfokus pada cara tokoh perempuan ditampilkan.
Penelitian terdahulu yang membahas formula romance telah dilakukan Intan dan Handayani (2019) terhadap novel Beauty Case karya Icha Rahmanti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alur cerita novel tersebut tidak mengikuti standar narasi normatif sebuah romance karena ada beberapa
sekuen standar yang mengalami perubahan. Namun, bagian akhir novel berakhir bahagia. Tokoh perempuan juga tidak benar-benar melakukan usaha pencarian cinta sejati, karena yang dilakukannya adalah pencarian identitas diri. Tokoh laki-laki juga tidak digambarkan memiliki karakter teladan sehingga menyimpang dari formula
romance.
Kajian Intan dan Hasanah (2020)
juga mengungkap adanya
ketidaksesuaian atau deviasi dari formula romance pada novel berbahasa Perancis yang ditulis Marc Levy, Elle et
Lui ‘Dia dan Dia’. Hasil penelitian
menunjukkan ada penyimpangan formulasi terutama pada komponen alur dan sudut pandang meskipun novel tersebut berakhir bahagia sesuai dengan pola romance. Bila romance umumnya berfokus pada protagonis perempuan sebagai penggerak cerita, novel tersebut cenderung berpusat pada protagonis laki-laki. Meskipun digambarkan memiliki kelemahan, laki-laki tetap berkarakter pahlawan dan teladan. Narator pada novel tersebut merupakan orang ketiga tunggal yang mahatahu dan dapat berada di beberapa tempat sekaligus sehingga tidak sesuai dengan formula romance standar. Deviasi yang terjadi dapat diargumentasikan sebagai strategi Marc Lévy untuk keluar dari formulasi standar sebuah novel romance yang pada umumnya ditulis oleh perempuan dan juga karakter penulisannya yang sinematografis dan maskulin.
Telaah mengenai formula romance dan struktur narasi juga dilakukan Muniroh (2015) terhadap novel
Dasamuka karya Junaedi Setiyono. Hasil
penelitian tersebut mengungkapkan bahwa dengan latar budaya Jawa yang kental dan bahasa yang santun, formulasi
Formula Romance dalam Perfect Romance … (Tania Intan) 305
romance disajikan dengan rapi di dalam
novel tersebut.
Dari penelaahan terhadap kajian-kajian tersebut, dapat dinyatakan adanya kesamaan fokus penelitian terhadap formulasi romance dan deviasinya melalui unsur-unsur konstruktif teks naratif, baik yang bersifat konvensi maupun invensi. Namun, berbeda dengan kajian-kajian terdahulu, penelitian ini melibatkan perspektif sastra feminis yang berpusat pada pembahasan wacana gender.
Unger dan Crawford yang dikutip Wijayanti (2003, hal. 15) menjelaskan stereotip gender sebagai pandangan masyarakat mengenai konsepsi peran laki-laki dan perempuan. Ada ketentuan bahwa maskulinitas merupakan gambaran ideal laki-laki dan femininitas untuk perempuan. Perspektif tersebut telah dikonstruksi secara sosial sehingga setiap individu diharuskan berperan sesuai dengan jenis kelaminnya. Hal itu berdampak bahwa laki-laki sering kali lebih diuntungkan daripada perempuan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data berupa kata, frasa, dan kalimat dikumpulkan dengan teknik studi pustaka. Data kemudian dikaji dengan pendekatan struktural, yaitu metode yang berlandaskan prinsip strukturalisme yang memandang karya sastra sebagai sebuah struktur (Wellek, 1990, hal. 159). Analisis struktural bertujuan untuk memaparkan fungsi dan keterkaitan antarberbagai unsur dalam karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah keseluruhan. Hal ini tidak hanya dilakukan dengan mendata unsur-unsur intrinsiknya seperti alur, tokoh, latar, dan sudut pandang, melainkan juga dicari hubungan keterkaitan di antara unsur-unsur tersebut (Nurgiyantoro, 2010, hal. 35).
Kritik sastra feminis digunakan dalam penelitian ini karena teks yang ditelaah merupakan karya yang ditulis oleh perempuan, (lebih banyak) dibaca oleh perempuan dan membincangkan tentang kehidupan perempuan. Ketimpangan relasi kuasa di antara laki-laki dan perempuan dengan paradigma feminis dapat digambarkan, dianalisis, dan disuarakan dengan lantang.
Menurut Ruthven yang dikutip Wiyatmi (2012, hal. 11), kritik sastra feminis dianggap bersifat revolusioner karena bertujuan menumbangkan wacana dominan yang dibentuk oleh suara tradisional yang patriarkis. Kritik sastra feminis dilakukan dengan menganalisis relasi gender, hubungan perempuan dengan laki-laki dalam kontruksi sosial, dan situasi perempuan dalam dominasi laki-laki.
Dalam perkembangannya, dengan mengutip Showalter, Wiyatmi (2012, hal. 30) memaparkan dua jenis kritik sastra feminis, yaitu kritik sastra yang melihat perempuan sebagai pembaca (the woman as reader/ feminist critique) dan kritik sastra yang melihat perempuan sebagai penulis (the woman as writer/
gynocritics).
Untuk mengkaji novel Perfect
Romance, digunakan kritik sastra yang
memandang perempuan sebagai pembaca karena fokus kajiannya adalah citra dan stereotip perempuan dalam sastra, pengabaian, dan kesalahpahaman tentang perempuan.
Sebagaimana dinyatakan Djajanegara (2003, hal. 7), kritik sastra feminis muncul karena di dalam karya sastra perempuan hampir selalu ditempatkan sebagai korban, bersifat sentimental, dan memiliki kepekaan spiritual di tengah kekuasaan laki-laki. Perkembangan kritik sastra feminis menunjukkan kesadaran perempuan
ALAYASASTRA, Volume 16, No. 2, November 2020
306
bahwa dalam karya sastra pun ada permasalahan gender (Sugihastuti, 2010, hal. 29).
HASIL DAN PEMBAHASAN Telaah Alur Romance dalam Rancangan Skema Radway
Alur yang digunakan dalam novel
Perfect Romance bersifat progresif
dengan narator orang ketiga yang berada di luar cerita. Gaya penceritaan dengan tipe narasi ini menjadi lebih hidup karena narator bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui masa lalu dan masa depan para tokoh. Ia juga memiliki pengetahuan tentang isi hati dan pikiran para tokoh.
Novel Perfect Romance diawali dengan prolog yang menyampaikan permasalahan awal yang menimbulkan konflik, yaitu kehadiran seorang bayi di depan rumah keluarga Ishmael. Bayi itu bernama Malena, anak Agnez, mantan kekasih Taura Ishmael. Tes DNA pun dilakukan dan terbukti bahwa bayi itu bukan anaknya. Konflik bertambah pelik karena Taura ingin merawat Malena sehingga melibatkan Inggrid. Epilog menampilkan akhir cerita yang membahagiakan, yaitu pernikahan Taura dan Inggrid, serta kembalinya Malena/ Aileen ke pangkuan mereka.
Berbeda dengan formula standar sebuah romance, penceritaan dalam novel Perfect Romance tidak berpusat pada tokoh perempuan, Inggrid, melainkan pada kehidupan Taura, protagonis laki-laki. Hal tersebut dibuktikan dengan konsistensi keberadaan tokoh tersebut sejak awal hingga akhir cerita. Berdasarkan narasi yang dibangun, diasumsikan bahwa keberpihakan narator lebih kepada tokoh
laki-laki dibandingkan tokoh perempuan.
Sebagaimana dijelaskan Hidayat (2015, hal. 1), melalui interaksi antarmanusia, hubungan pertemanan dapat terjalin yang selanjutnya berpotensi menimbulkan kedekatan dan ketertarikan antarpersonal. Perasaan tersebut dapat mengarah pada persahabatan, keintiman, dan hubungan romantis.
Guerrero dan Mongeau (2008) berargumentasi bahwa relasi percintaan dapat saja muncul dari beragam situasi, mulai dari perkenalan tiba-tiba atau dari pertemanan yang telah lama dijalin. Demikian pula halnya dengan yang terjadi di antara Taura dan Inggrid. Keduanya tidak membutuhkan banyak waktu untuk menyadari bahwa mereka saling menyukai.
Untuk membuktikan kesesuaian atau ketidaksesuaian aspek alur dalam novel Perfect Romance dengan skema yang telah dirancang Radway maka cerita akan direkonstruksi dan disusun kembali secara logis dengan berfokus pada tokoh Inggrid seperti pada tabel berikut.
Tabel Sekuensial Romance pada Novel Perfect Romance
No. Se-ku- en Sekuen dengan Formula Romance Skema Alur Romance Novel Perfect Romance 1. Identitas sosial tokoh perempuan rusak. Inggrid baru bercerai dengan suaminya. Untuk menenangkan diri, ia tinggal sementara di rumah Hugo dan Dominique.
Formula Romance dalam Perfect Romance … (Tania Intan) 307 2. Tokoh perempuan itu bereaksi secara antagonis terhadap seorang laki-laki. Di rumah itu, Inggrid bertemu dengan Taura yang sedang mengunjungi adiknya, Hugo. Taura hendak meminta bantuan Dominique untuk menemaninya berbelanja pakaian Malena. Inggrid terkejut saat melihat Taura yang sedang membuka kausnya yang basah. 3. Laki-laki itu menerima kemarahan tokoh perempuan dengan sikap ambigu. Taura tidak menanggapinya secara serius, dan baru tertarik pada Inggrid yang mau mendengarkan ceritanya tentang Malena. Inggrid pun bersedia mengantar Taura. Kesigapan Inggrid membuat Taura jatuh hati. Beberapa kali, ia mengajak Inggrid menikah. 4. Tokoh perempuan mengang-gap reaksi itu sebagai bukti minat seksual murni tokoh Inggrid menyadari bahwa Taura tidak serius melamarnya karena Taura adalah seorang playboy. laki-laki terhadap dirinya. Ajakannya untuk menikah dianggap Inggrid hanya untuk bermain-main saja. 5. Tokoh perempuan kemudian menangga-pi perilaku tokoh laki dengan marah atau dingin. Inggrid tidak menanggapi sikap Taura, dan memilih menjaga jarak. Ia fokus merawat dan memperhatikan kesehatan Malena. Inggrid merasa mereka seperti sebuah keluarga. Akan tetapi, ia tahu diri untuk tidak mengharapkan hubungan apa pun dengan Taura. 6. Tokoh laki-laki membalas dengan menghu-kum tokoh perempuan. Ketika Malena/ Aileen dijemput oleh Agnez, Taura dan Inggrid merasa terpukul. Untuk melupakan kesedihannya, Taura pun menjauhi Inggrid karena membuatnya ingat pada Aileen. 7. Tokoh laki-laki dan tokoh perempuan secara fisik dan atau emosional dipisahkan. Selama berbulan-bulan, Taura dan Inggrid tidak bertemu meskipun keduanya saling merindukan. 8. Tokoh laki-laki tersebut lalu Pada akhirnya, secara tidak sengaja mereka
ALAYASASTRA, Volume 16, No. 2, November 2020 308 memperla-kukan tokoh perempuan dengan lembut. bertemu saat Inggrid sedang membereskan apartemen Taura. Saat itu, Taura datang bersama Illana, untuk rapat kantor. Inggrid merasa terluka. Keesokan harinya, Taura mendatangi Inggrid dan menyadari sikapnya yang egois. Ia pun menyatakan cinta pada Inggrid. 9. Tokoh perempuan menangga-pi dengan hangat tindakan tokoh laki-laki. Inggrid menerima pernyataan cinta Taura yang menciumnya dengan sepenuh hati. Trauma Inggrid pada laki-laki pun hilang. Sejak saat itu, mereka berdua resmi berpacaran. 10. Tokoh perempuan itu menafsir-kan kembali perilaku ambigu tokoh laki-laki sebagai dampak dari luka sebelum-nya. Inggrid memaklumi bahwa kehidupan Taura menjadi berantakan karena ditinggalkan Aileen. Ia tidak menyalahkan laki-laki yang dicintainya itu. 11. Tokoh laki-laki secara terbuka menyata-kan cinta dan menunjuk-kan kesungguh-annya kepada tokoh perempuan dengan tindakan yang sangat lembut. Taura membawa Inggrid ke rumah orang tuanya. Ia telah bersiap untuk melindungi perempuan itu bila ibunya menyerang Inggrid yang seorang janda. Saat Dominique melahirkan, Inggrid mendonorkan darahnya. Salindri pun menerima Inggrid yang telah menyelamatkan menantu dan cucunya. 12. Tokoh perempuan merespons secara seksual dan emosional. Inggrid menghargai ketulusan Taura yang benar-benar mencintai dan ingin melindunginya. Ia kini merasa tenang karena telah diterima oleh keluarga besar Taura. 13. Identitas sosial tokoh perempuan dipulihkan. Taura dan Inggrid akhirnya menikah. Kebahagiaan itu bertambah besar saat Agnez menyerahkan Aileen kembali pada mereka.
ALAYASASTRA, Volume 16, No. 2, November 2020 309 Dari tiga belas sekuen yang harus
ada sebagai formula dari sebuah romance yang disyaratkan Radway, tabel tersebut menunjukkan tidak adanya penyimpangan pada aspek alur.
Situasi awal dan situasi akhir dari novel Perfect Romance memang telah memenuhi kriteria sekuensial romance, yang dimulai dari rusaknya identitas sosial tokoh perempuan itu karena perceraian (sekuen 1) dan berakhir pada pulihnya identitas sosial tokoh tersebut yang ditunjukkan dengan pernikahannya dengan tokoh laki-laki yang dicintainya (sekuen 13).
Sebagai bagian dari formula
romance, pengarang (diharuskan)
menutup tulisannya dengan akhir yang membahagiakan. Syarat ini dipenuhi oleh
Perfect Romance dengan sekuen penutup
pada epilog, berupa pernikahan sederhana yang indah dan datangnya kembali ‘anak’ Taura, Aileen.
Tiap kali Taura menarik napas,
kebahagiaan memenuhi dadanya.
Hidupnya sudah demikian lengkap. Jika dulu dia merasa bahagia, sungguh sangat naif. Sekarang dia baru tahu kalau semua itu tidak ada apa-apanya
dibanding apa yang dicicipinya
sekarang.
Memiliki Inggrid sebagai istrinya, perempuan penuh kasih sayang, menjadi keajaiban yang kadang tidak
benar-benar bisa dipercayainya.
(Hanaco, 2017, hal. 301-302)
Cerita yang diakhiri dengan pesta pernikahan selalu membahagiakan semua pihak, baik tokoh, pembaca, dan juga penulisnya. Momen pernikahan Taura dan Inggrid merupakan kado bagi ketangguhan keduanya yang berhasil melewati berbagai permasalahan dalam hubungan percintaan mereka.
Berdasarkan kajian terhadap alur dalam novel Perfect Romance, diketahui bahwa karya tersebut memenuhi formula
romance yang ditunjukkan melalui ke-13
sekuen khas novel percintaan yang telah dirumuskan oleh Radway. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa poin novel ini bernilai perfect ‘sempurna’ sebagai sebuah romance.
Representasi Tokoh Perempuan dan Laki-laki Khas Romance
Dibandingkan dengan tokoh perempuan, Taura Ishmael, sebagai protagonis laki-laki, ditampilkan pengarang secara lebih mendetail dan dominan. Penggambaran fisiknya cenderung ideal dan stereotipikal
romance, yaitu sesuai dengan yang
(mungkin) diharapkan para pembaca (perempuan). Tubuh yang maskulin dan wajah yang sempurna ditujukan untuk mendukung label playboy yang telah disematkan padanya. Meskipun demikian, Taura menyatakan dirinya masih perjaka (hal. 6).
Taura dan Vincent berkulit kecoklatan, sedangkan Hugo memiliki kulit terang. Di luar itu, ketiganya sama-sama jangkung, berdagu persegi, berbola mata hitam, berambut hitam dan tebal, serta berhidung lancip. Taura juga memiliki bibir tipis yang nyaris selalu
menyuguhkan senyum menarik.
Belahan dagunya yang cukup jelas menjadi salah satu pembeda dengan saudaranya yang lain. Juga rambutnya yang lebih panjang dan menyentuh kerah baju serta terkesan berantakan. (Hanaco, 2017, hal. 9)
Sebagai pembanding, narator juga memperkenalkan kedua saudara Taura, yaitu Hugo dan Vincent, yang ditampilkan tidak kalah menarik dan menawan. Mereka datang dari keluarga
ALAYASASTRA, Volume 16, No. 2, November 2020
310
yang mapan. Hugo sebagai anak bungsu dikisahkan telah menikah dengan Dominique, berbeda secara karakter dengan Taura yang pemilih dan Vincent yang peragu. Dari penampilannya, Taura terlihat berbeda dengan kedua saudaranya. Laki-laki itu berambut lebih panjang dan terkesan sedikit berantakan. Hal itu secara implisit mengindikasikan sifat pemberontakan dan tidak peduli pada sekitarnya. Secara sosial, Taura ditampilkan sebagai laki-laki metroseksual yang mapan, berprofesi sebagai pengusaha properti, dan lebih suka tinggal secara mandiri di apartemen daripada di rumah keluarganya.
Taura bukanlah pencinta anak-anak. Dia adalah pria matang yang merasa hidupnya akan baik-baik saja jika
dijauhkan dari segala bentuk
komitmen. Menikah dan memiliki anak adalah dua hal yang nyaris tidak pernah dipikirkannya. Bahkan, Taura pernah menyatakan hasrat untuk tidak pernah menikah selamanya yang memicu pertengkaran dengan ibunya. (Hanaco, 2017, hal. 7)
Menurut Radway dan Modleski, tokoh laki-laki dalam romance biasanya tampan, kaya, berumur lebih tua dari tokoh perempuan, dan berkarakter relatif buruk. Namun seiring waktu, melalui proses pembelajaran, ia pun berubah menjadi lebih baik dan lembut. Ia juga harus berkarakter pahlawan, yaitu rela berkorban dan selalu ingin berada dalam posisi melindungi.
Pada novel Perfect Romance, sifat keteladanan atau kepahlawanan tokoh laki-laki ditunjukkan melalui beberapa tindakan. Taura bersedia merawat anak Agnez, sekalipun bukan anaknya sendiri. Ia tidak tega untuk menyerahkannya pada keluarga Agnez yang diketahuinya tidak cukup siap dan bertanggung jawab untuk
merawat bayi. Sebagai bentuk transisional dari seorang playboy menjadi seorang “Papa”, Taura pun mendapat julukan khusus dari adiknya, Hugo, sebagai “Ayah Paling Seksi Sedunia”. Berdasarkan situasi tersebut tergambar tokoh laki-laki yang menunjukkan sisi emosional, yang sebenarnya dianggap tabu dalam narasi maskulin.
Tapi, bagaimana dia bisa menghalau perasaan hangat yang aneh itu? Juga sesuatu yang asing dan menggerogoti jiwanya yang terdalam hanya karena menatap sepasang mata jernih dan bulat milik Malena. Sesuatu yang dikenali Taura sebagai kasih sayang?
Belakangan Hugo bergurau dan
menyebutnya sebagai “Ayah Paling Seksi Sedunia”. (Hanaco, 2017, hal. 100)
Sikap kepahlawanan lain diperlihatkan tokoh Taura melalui bantuannya untuk ‘menampung’ Inggrid yang sedang kebingungan pascaperceraian dan tinggal di apartemen milik temannya, David.
Sebaliknya, tidak banyak diperoleh penjelasan mengenai penampilan fisik Inggrid Serafina, tokoh utama perempuan, kecuali bahwa dirinya bertubuh tinggi (hal. 64), canggung melihat laki-laki bertelanjang dada (hal. 65), pandai memasak (hal. 67). Inggrid juga sangat telaten mengurus Malena, anak Agnez, yang masih bayi. Meskipun dirinya sendiri belum memiliki anak, tetapi Inggrid telah terbiasa mengurus keponakan-keponakannya. Karena keahlian dan ketelatenannya itu, ia mendapat sebutan Ibu Peri (hal. 112).
“Kamu … sudah punya anak?” […]
Tawa Inggrid membelah udara,
renyah. “Tentu saja belum!” Tapi bukan berarti akut tidak tahu caranya mengasuh anak. Aku punya dua keponakan yang masih batita,”
Formula Romance dalam Perfect Romance … (Tania Intan) 311
beritahunya. “Aku suka dengan anak-anak, Taura. Kamu mau beli apa saja?” (Hanaco, 2017, hal. 80)
Karakter penyayang, selain ditunjukkan Inggrid kepada Malena atau Aileen, juga diperlihatkan ketika ia mengobati luka memar di kepala Taura saat mengalami kecelakaan. Sifat keibuan dan lemah lembut ini mendukung pada citra feminin seorang perempuan yang sesuai dengan kultur. Dasar ketertarikan Taura pada Inggrid pun adalah karena sifat keibuan yang sangat kentara pada perempuan itu, dan bukan karena kecerdasan, keaktifan, rasionalitas, atau kualitas maskulin lainnya.
Menurut Modleski, tokoh perempuan dalam romance memiliki ciri-ciri muda, tidak berpengalaman dalam bercinta, dan berpenampilan biasa. Kriteria tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan sosok Inggrid. Ia sudah tidak lagi muda, pernah menikah, dan cukup cantik.
Inggrid mungkin bukan perempuan tercantik yang pernah datang dalam hidupnya. Tapi sudah jelas kalau Inggrid adalah perempuan paling istimewa yang pernah ditemuinya. (Hanaco, 2017, hal. 302)
Yang membedakan Inggrid dari protagonis perempuan dalam novel-novel
romance pada umumnya, yaitu kenyataan
bahwa dia pernah menikah. Kekerasan seksual dalam pernikahan tersebut menjadi alasan bagi perceraian Inggrid. Kenyataan tersebut sempat membuatnya tidak memiliki kepercayaan diri dan selalu ragu dalam melangkah. Ketidaksesuaian kriteria ini dengan formula romance merupakan invensi, dalam istilah Cawelti, yang mengindikasikan upaya pengarang membedakan bukunya dengan romance lain.
“Aku bukan perempuan sempurna. Aku punya banyak kekurangan. Belum lagi fakta bahwa aku sudah menikah. Aku …” […]
Dengan latar belakangku yang
kompleks, mungkinkah mereka mau menerimaku? Di masyarakat kita, predikat sebagai janda itu … mengerikan …” Inggrid merasakan
genggaman tangan Taura
mengencang. (Hanaco, 2017, hal. 228)
Rasionalitas merupakan karakter maskulin yang terdapat pada diri Inggrid. Ia dapat mengendalikan diri untuk tidak berbelanja benda-benda yang tidak perlu, berbeda dengan Taura. Sebaliknya, laki-laki ini menunjukkan sisi femininnya dengan bersedia merawat anak, lalu menangis, dan menunjukkan kesedihan saat anak itu diambil kembali oleh ibu kandungnya. Adegan-adegan itu ditampilkan pengarang untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang salah dengan femininitas yang melekat pada laki-laki. Namun demikian, pertukaran sifat gender ini tidak dikembangkan lebih lanjut oleh Indah Hanaco. Pada sekuen-sekuen selanjutnya, Taura kembali menjadi the authority dan menggerakkan cerita melalui narasinya.
Hampir seluruh tokoh sekunder dalam novel Perfect Romance mengambil posisi sebagai pendukung (adjuvant) dalam relasi percintaan Taura dan Inggrid. Mereka adalah keluarga besar Taura: ayah (Julian) dan saudara-saudaranya (Vincent, Hugo), asisten rumah tangga (Aida), teman-teman Taura (David), teman-teman Inggrid (Kyoko, Dominique), dan “anak” Taura (Malena/ Aileen).
“Aku senang saat kamu dan Taura lebih dari sekadar teman. Menurutku, kalian cocok. Yah, meski aku tidak
ALAYASASTRA, Volume 16, No. 2, November 2020
312
benar-benar mengenal Taura, tapi
chemistry di antara kalian sangat kuat.
Semua bisa melihatnya saat kita merayakan ulang tahun Domi. Dan aku tidak mau kalian bubar sebelum
berjuang mati-matian.” (Hanaco,
2017, hal. 245)
Tokoh atau pihak yang berpotensi menjadi hambatan (opposant) dalam relasi percintaan adalah Salindri, ibu Taura, yang sangat pemilih dan berhati-hati dalam menentukan istri bagi putra-putranya. Situasi tidak menyenangkan bukan hanya dialami Inggrid. Karena sebelum menikah dengan Hugo, Dominique pun mendapat perlakuan serupa dari ibu Taura.
Sementara Vincent tertawa sambil
membisikkan sesuatu ke telinga
adiknya, Salindri menjadi satu-satunya orang yang berwajah beku. Dan itu
sudah cukup membuat Inggrid
dihunjam oleh hawa dingin yang menakutkan.
“Apa ini tidak terlalu … terburu-buru? Kenapa kalian tidak saling mengenal lebih jauh?” cetus Salindri tiba-tiba. (Hanaco, 2017, hal. 268)
Hal itu dijelaskan Taura (hal. 271), bahwa Ibunya memang sangat posesif terhadap anak-anaknya, dan siapa pun pasangan mereka akan selalu dinilai memiliki kekurangan. Penokohan dengan cara tersebut seperti mengukuhkan konstruksi masyarakat bahwa (calon) ibu mertua yang selalu nyinyir dan membenci (calon) menantu pilihan putranya, serta bahwa sesama perempuan tidak saling menyukai.
Hal lain yang juga sempat menjadi perintang adalah keberadaan perempuan-perempuan mantan kekasih Taura, yang sempat mengganggu relasinya dengan Inggrid, baik secara langsung atau tidak langsung. Mereka adalah Agnez (hal. 5),
Stella (hal. 42), dan Illiana (hal. 106). Para mantan pacar Taura ini digambarkan secara stereotip sebagai perempuan urban, yaitu muda, cantik, dan berpenampilan menarik.
Tokoh Agnez dimunculkan dalam cerita sebagai representasi ibu muda yang tidak bertanggung jawab karena menyerahkan putrinya pada orang lain. Tudingan tersebut kemudian ditambah dengan penggambaran narator tentang ketidakpastian identitas ayah Malena. Sementara itu, layaknya seorang pahlawan, Taura digambarkan bersedia mengurus dan mengadopsi anak Agnez tersebut. Ambiguitas peran ini, di satu sisi, membuka ruang interpretasi baru atas wacana relasi laki-laki dan perempuan. Namun di sisi lain, situasi seperti itu, membenarkan dugaan tentang keberpihakan pengarang pada tokoh laki-laki tersebut.
Bagaimanapun, sebagaimana dipaparkan Cawelti (1972), sebagai sebuah karya populer, setiap novel dapat memuat konvensi dan invensi. Bila konvensi mengajekkan stabilitas kultur, invensi cenderung merespon perubahan situasional dan menyampaikan informasi yang aktual tentang dunia.
Hal itulah yang terjadi di dalam penokohan novel Perfect Romance. Kriteria tokoh yang diharuskan ada menurut formula romance merupakan konvensi dan penyimpangannya menjadi invensi. Pemilihan tokoh utama perempuan yang berstatus janda, yang termarginalkan dalam masyarakat merupakan salah satu contoh invensi.
Situasi tersebut, di satu sisi, menunjukkan pandangan pengarang bahwa bukan hanya mereka yang belum pernah menikah yang berhak jatuh cinta. Kegagalan dalam pernikahan tidak seharusnya menghalangi seseorang untuk memulai hidup baru bersama orang yang
Formula Romance dalam Perfect Romance … (Tania Intan) 313 dicintainya. Namun, dalam pandangan
feminis, kondisi tersebut menunjukkan ketidaksetaraan gender. Inggrid yang merupakan perempuan berstatus janda dan korban kekerasan seksual dari mantan suaminya, seperti berterima kasih karena “diselamatkan’ oleh Taura yang bersedia menikahinya.
Dari kajian terhadap penokohan dalam novel Perfect Romance dengan berfokus pada protagonis Taura dan Inggrid, terungkap bahwa aspek penokohan sesuai dengan formula
romance. Namun demikian, ditemukan
adanya penyimpangan atau deviasi, berupa bobot penceritaan yang lebih besar pada tokoh utama laki-laki dan status tokoh perempuan yang seorang janda.
Latar “Sihir” yang Membingkai Cerita Cinta Kedua Protagonis
Latar sosial yang menjadi tempat hidup para tokoh dalam novel Perfect Romance adalah masyarakat kelas menengah ke atas, yang mapan secara finansial dan normatif dalam konteks keluarga. Situasi relatif ideal ditunjukkan oleh keluarga Ishmael, yang dibuktikan dengan sikap saling menyayangi dan mendukung di antara satu dengan yang lainnya. Atmosfer keterbukaan dan pola komunikasi yang relatif positif juga sangat terasa di dalam keluarga tersebut. Selain keberadaan Malena yang tiba-tiba di antara mereka, tidak ada masalah berarti yang pernah terjadi.
Namun, hal berbeda terjadi pada keluarga Inggrid. Mereka sempat berprasangka dan cenderung menyalahkan putrinya karena bercerai tidak lama setelah menikah. Inggrid sendiri cenderung bersikap tertutup dan menyimpan rahasia tentang perilaku seksual Jerry untuk dirinya sendiri.
Situasi ini menyiratkan adanya masalah komunikasi dan ketertutupan di antara anggota keluarga Inggrid sehingga permasalahan menjadi sulit dipecahkan. Hal tersebut dinyatakan secara eksplisit oleh Katryn, kakak Inggrid, sebagai berikut.
“Maksudku, kalian berpisah karena kamu yang bersalah. Itulah sebabnya Mama dan Papa tidak bisa menerima begitu saja perceraianmu. Ini bukan hal bagus untuk keluarga kita. Semua menilai kalau kamu terlalu kekanakan. Perselisihan biasa antara suami-istri dijadikan alasan untuk menggugat cerai. Itulah pendapat kami selama ini.” (Hanaco, 2017, hal. 232)
Konteks keluarga yang tidak harmonis juga ditunjukkan oleh keluarga Agnez yang menurut Taura, bukan merupakan lingkungan yang baik untuk tempat hidup seorang bayi. Pemikirannya itulah yang mendorong laki-laki tersebut mengambil alih pengasuhan atas diri Malena atau Aileen.
Latar tempat yang pertama kali mempertemukan Taura dan Inggrid adalah rumah Hugo dan Dominique. Namun, ruang yang menjadi tempat tumbuhnya cinta di antara protagonis adalah situasi kebersamaan di antara Taura, Inggrid, dan Malena. Seperti sepasang orang tua sungguhan, mereka berbelanja untuk keperluan anak itu, panik bersama saat Malena sakit, mengganti nama anak itu menjadi Aileen (hal. 118), mengasuh dan mengajaknya bermain, membawanya ke dokter untuk imunisasi, dan kemudian berduka bersama ketika Aileen secara tiba-tiba diambil kembali oleh ibu kandungnya, Agnez.
“Akhirnya, aku terpaksa membiarkan Agnez membawanya. Aku sedih
ALAYASASTRA, Volume 16, No. 2, November 2020
314
sekali, Ing! Seharusnya, aku tidak membiarkan mereka pergi begitu saja. Iya, kan?”
Suara Taura disesaki oleh rasa sakit yang menghunjam hingga ke tulang. Inggrid mencegah air matanya runtuh. Saat ini, Taura membutuhkannya sebagai Inggrid yang kuat. (Hanaco, 2017, hal. 240)
Masa-masa mengasuh anak itu adalah latar waktu “sihir” karena mampu mengubah pribadi Taura yang awalnya egosentris, menjadi bersifat kebapakan dan peduli pada orang lain, terutama “anaknya”. Sebagaimana disyaratkan oleh Radway, ada pembelajaran yang diterima tokoh utama laki-laki, kemudian yang mengubah karakter “jahat”-nya dan memperbaiki relasinya dengan protagonis perempuan.
Mendadak, jantung Taura seakan berhenti berdetak saat telunjuk kanan pria itu dipegang oleh sepasang tangan mungil Malena. Taura tidak pernah menyangka kalau genggaman tangan
bayi bisa demikian kencang.
Perasaannya pun menjadi tidak karuan. (Hanaco, 2017, hal. 57)
Sifat mengasuh dan mengasihi anak, dalam paradigma masyarakat, diatribusikan sebagai karakter feminin yang terdapat pada perempuan. Namun dalam novel Perfect Romance, yang ditampilkan secara justru adalah cinta Taura yang tercurah pada sang anak, Malena atau Aileen. Hal itu menyiratkan bahwa karakter maskulin tidak menghalanginya untuk menjadi seorang penyayang.
Taura berdecak pelan. “Kamu benar-benar membuatku kagum.”
Lelaki itu tidak tahu, Inggrid terpaksa berusaha keras meredakan jantungnya yang mendadak berdenyut nyeri.
Perempuan itu berpura-pura
menyibukkan diri dengan Aileen. (Hanaco, 2017, hal. 125)
Taura, yang awalnya memiliki predikat
playboy dan bersumpah akan melajang
selamanya itu, bertransformasi menjadi laki-laki “baik” yang memilih untuk merawat anak dan menikah. Dalam ruang dan waktu “sihir” tersebut, para protagonis hidup bersama selayaknya sebuah keluarga meskipun awalnya tidak ada ikatan apa pun di antara mereka.
Dari seluruh analisis ini, terungkap bahwa setiap unsur pembangun dalam novel
Perfect Romance sesuai dengan kriteria
yang dirumuskan para ahli romance dalam sebuah formula. Aspek alur, tokoh, dan latar yang telah dipelajari juga saling berkaitan dan mendukung tema percintaan yang diajukan oleh pengarang.
Dari perspektif sastra feminis, novel tersebut dapat dianggap melanggengkan ideologi patriarki karena mengukuhkan posisi laki-laki sebagai pihak yang dominan. Meskipun memiliki kelemahan dan “jahat”, protagonis laki-laki tetap ditampilkan sebagai sosok karakter “pahlawan” dan “teladan”. Sosok laki-laki dalam romance, yang direpresentasikan tokoh Taura, mampu menyelesaikan semua permasalahan, sigap “menyelamatkan” tokoh perempuan, dan dengan sikap ksatria mau mengakui kesalahan-kesalahannya. SIMPULAN
Penelitian ini bertujuan memverifikasi kesesuaian atau ketidaksesuaian novel
Perfect Romance dengan formula
romance yang telah eksis. Sebagai
temuan, dapat dinyatakan bahwa secara keseluruhan, novel tersebut dianggap memenuhi kaidah formula romance karena keberadaan konvensi yang dominan, sebagaimana dinyatakan
Formula Romance dalam Perfect Romance … (Tania Intan) 315 Cawelti (1972). Ketidaksesuaian atau
penyimpangan terhadap formula terjadi karena keberadaan invensi yang merupakan campur tangan pengarang untuk membedakan karyanya dengan buku-buku lain.
Bagian terpenting dari sebuah kisah cinta yang sempurna, selain permasalahan pelik yang harus diatasi bersama adalah akhir yang bahagia untuk pasangan itu selamanya (Happilly Ever
After). Hal itu ditunjukkan dalam novel Perfect Romance dengan momen khas romance yaitu pernikahan di antara kedua
protagonis.
Dalam perspektif kritik sastra feminis, terbukti bahwa novel Perfect
Romance mengafirmasi otoritas laki-laki
yang digambarkan kuat, maskulin, berkarakter pahlawan, dan teladan. Sebaliknya, perempuan ditampilkan sebagai sosok yang lemah lembut, keibuan, dan menjadi sosok korban. Hal itu menunjukkan bahwa nilai-nilai patriarkis dilegitimasi oleh Indah Hanaco dalam Perfect Romance, sebuah novel
romance yang ‘sempurna’.
DAFTAR PUSTAKA
Cawelti, J. G. (1972) “The Concept of Formula in the Study of Popular Literature,” Criticism and Culture, 5 (2), hal. 115–123.
Djajanegara, S. (2003) Kritik Sastra
Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Gill, R. dan Herdieckerhoff, E. (2006) “Rewriting The Romance,” Feminist
Media Studies, 6 (4), hal. 487–504.
doi: 10.1080/14680770600989947. Guerrero, L. K. dan Mongeau, P. A.
(2008) “On Becoming ‘More Than Friends’: The Transition from
Friendship to Romantic Relationship,” in In handbook of
Relationship Initiation. London: Psychology Press, hal. 176–194. Hanaco, I. (2017) Perfect Romance.
Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Hidayat, R. (2015) Pengendalian Kecemasan Dua Tokoh Utama dalam Novel Elle et Lui karya Marc Levy. Universitas Padjadjaran, Jatinangor.
Intan, T. dan Hasanah, F. (2020) “Deviasi Formulasi Romance dalam Novel
Elle et Lui karya Marc Levy: Kajian
Sastra Feminis,” Metahumaniora, 10 (1), hal. 27–40.
Intan, T. dan Tri Handayani, V. (2019) “Formulasi Romansa dalam Beauty
Case Karya Icha Rahmanti: Kajian
Sastra Feminis,” Madah: Jurnal
Bahasa dan Sastra, 10(2), hal. 205.
Michaels, L. (2007) On Writing Romance
How to Craft a Novel That Sells: The Essential Elements of Writing a Romance Novel. Ohio: Writer’s
Digest Books.
Modleski, T. (1996) Loving with a
Vengeance: Mass-Produced
Fantasies for Women. New York:
Routledge.
Muniroh, Z. (2015) “Romance Formula pada Novel Dasamuka Karya Junaedi Setiyono,” Bahtera: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Budaya, 2 (4), hal. 1–18.
Nurgiyantoro, B. (2010) Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Radway, J. A. (2006) Reading the
Romance: Women, Patriarchy, and Popular Literature; with a New Introduction by The Author. Chapel
Hill [u.a.]: Univ. of North Carolina Pr.
ALAYASASTRA, Volume 16, No. 2, November 2020
316
The Romance Story in Popular
Culture. Bloomington &
Indianapolis: Indiana University Press.
Sabudu, D. (2017) “The Formula of Romance (A Study on Erick Wilson’s Fire Proof),” Kompetisi, 15 (2), hal. 1–13.
Shepherd, L. (2007) How To Write a
Romance Novel: Romantic Fiction Writing Tips, Understand What’s Needed to Write a Romantic Love Story, How to do things.com.
Tersedia pada:
http://www.howtodothings.com/hob
bies/a4587-how-to-write-a-romance-novel.html.
Sugihastuti, S. (2010) Kritik Sastra
Feminisme. Celebehan Timur UH III. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wellek, R. A. W. (1990) Teori
Kesusasteraan. Cetakan II (M.
Budianta, Trans.). Jakarta:
Gramedia.
Wijayanti, I. (2003) “Agresivitas dalam Sudut Pandang Stereotip Gender,”
Tabularasa: Jurnal Psikologi, 1(2),
hal. 15–19.
Wiyatmi (2012) Kritik Sastra Feminis:
Teori dan Aplikasinya dalam Sastra.