• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM RESPIRASI PADA BABI docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SISTEM RESPIRASI PADA BABI docx"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Praktikum ke 1 Hari, tanggal : Kamis, 22 Februari 2018 Teknik Dasar Nekropsi Hewan Dosen Praktikum : drh. Vetnizah Juniantito, Ph.D

drh. Evy

(2)

fosforilasi oksidasi di mitokondria. Pada hewan berkaki empat, sistem pernapasan umumnya termasuk saluran yang digunakan untuk membawa udara ke dalam paru-paru di mana terjadi pertukaran gas. Diafragma menarik udara masuk dan juga mengeluarkannya. Berbagai variasi sistem pernapasan ditemukan pada berbagai jenis makhluk hidup.

Secara makro anatomi, sistem respirasi dapat dibedakan menjadi 2 (dua) bagian yaitu: pars konduktoria (saluran respirasi) dan pars respiratorius (alveolus). Pars

konduktoria tersusun atas: hidung → rongga hidung → pharynx → larynx → trachea → bronchus → bronchiolus. Pars konduktoria berfungsi sebagai saluran udara respirasi dari atmosfer ke dalam alveoli. Epitel respirasi tersusun atas epitel kolumner (toraks)

bertingkat bersilia, dan diantaranya banyak terdapat sel goblet.

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui anatomi sistem respirasi pada babi serta mengetahui kelainan-kelainan pada sistem respirasi babi.

2. METODOLOGI 2.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Hari, tanggal : Kamis, 22 Februari 2018 Waktu : 08.00 – 12.00 WIB

Tempat: Klinik Hewan Pendidikan Diploma IPB 2.2 Metode

Metode yang digunakan pada praktikum ini yaitu studi literatur dengan internet dan jurnal.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Sistem pernapasan pada babi umunya sama pada sistem pernapasan manusia,bahkan sistem pernapasan pada babi tidak sebanyak pada manusia. Pada fetus, paru-paru pada babi berukuran lebih kecil dan padat. Saluran pernapasan pada babi yaitu yaitu mulai dari hidungfaring (pangkal tenggorokan) trakea (batang tenggorokan) -bronkus - pulmo.

(3)

masuk bersamaan dengan udara, selaput lendir berguna untuk mengatur kelembapan udara, saraf-saraf (sel olfaktori), dan terdapat kapiler darah yang akan menyesuaikan suhu udara dengan tubuh.

Faring Udara dari rongga hidung masuk ke faring. Faring merupakan percabangan 2 saluran, yaitu saluran pernapasan (nasofarings) pada bagian depan dan saluran pencernaan (orofarings) pada bagian belakang. Pada bagian depan saluran pernapasan dan begian belakang saluran pencernaan. Bagian ini berhubungan dengan hidung dan rongga mulut dan terdiri dari nasofaring, orofaring, dan hypofaring. Pada hypoofaring, sistem pernapasan terpisah dari sistem pencernaan, udara akan memasuki laring, sedangkan makanan akan memasuki esophagus melalui gotis. Di bagian belakang faring terdapat laring yang tersusun dari tulang rawan.

Trakea Setelah melewati faring, udara akan masuk ke batang trakea yang terletak di depan esofagus yang tersusun atas cicin kartilago. Trakea dilengkapi dengan silia dan selaput lendir yang akan mencegah udara kotor yang lolos dari saringan atau proses pembersihan udara di hidung masuk ke paru-paru.

Bronkus Bronkus merupakan percabangan dari trakea yang terletak di depan dada dan bronkus masih tersusun oleh tulang rawan namun jumlahnya lebih sedikit dibandingan dengan faring. Bronkus bercabang menjadi dua yaitu bronkus kanan dan kiri paru-paru dn masing- masing cabang bronkus bercabang lagi menjadi bronkiolus.

Pulmo (paru-paru) Paru-paru dibungkus oleh selaput (pleura) dan paru-paru terletak diatas diafragma. Di dalam paru-paru, percabangan masing-masing bronkus akan bercabang lagi menjadi bronkiolus dan selanjutnya akan bercabang lagi menjadi saluran yang lebih halus yang terhubung dengan alveolus (gelembung paru-paru).

(4)

respiratorik yang disusun oleh dinding alveolar dan dinding kapiler yang saling bergabung. Pengeluaran karbon dioksida (ekspirasi) terjadi karena rongga dada mengecil akibat otot diafragma berelaksasi sehingga posisi diafragma mengembang dan juga akibat dari otot antartulang rusuk bereleksasi sehingga tulang rusuk turun kembali. Rongga dada yang mengecil menyebabkan tekanan udara di dalam paru-paru lebih besar dari pada di luar tubuh sehingga udara yang kaya karbondioksida terdorong keluar tubuh.

Pada babi terdapat banyak sekali penyakit yang menyerang saruran pernapasan. Diantaranya mycoplasma pneumonia dan athropic rhinitis. Pada awalnya pneumonia pada babi dikenal sebagai enzootic pneumonia diduga disebabkan oleh virus. Tetapi pada tahun 1965 kuman penyebab enzootic pneumonia tersebut diidentiikasi sebagai Mycoplarma hyopneumoniae. Dengan mikroskopelektron mikoplasmatersebut tampak berada di dalam epitel bronkhiolus dan bronkhus. Kerusakan pada epitel akan mempermudah infektor sekunder seperti Pasteurella multocida, Actinobacillus (Haemophilus) pneumoniae don Bordetella bronchiseptica masuk ke jaringan paru-paru yang lebih dalam.

Kelainan mycoplasma pneumonia pada babi (porcine enzootic pneumonia) merupakan infeksi akut atau peradangan pada sitem respirasi. Mycoplasma berasal dari bahasa latin ‘mollis’ yang berarti lembut dan ‘cutis’ yang beraarti kulit. Mycoplasma merupakan bakteri gram negatif yang bersifat fakultatif anaerob, kelas mollicutes, ordo mycoplasmatales dan genus mycoplasma. Terdiri dari tiga family antara lain mycoplasma, ureaplasma, dan acholeplasma Organisme ini merupakan pleomorfik terkecil dengan ukuran 0.2 mm sampai 0.3 mm yang tidak memiliki dinding sel tetapi dikelilingi oleh membran plasma, hal ini menyebabkan mycoplasma sangat sensitif terhadap perubahan tekanan osmotic. Membrane plasmanya tersusun atas lipid (phospolipid, glycolipid, lipoglycan, sterol) dan protein. Mikroorganisme ini bereplikasi dengan cara pembelahan sel. Menurut Bailao et al (2007) meskipun mikroorganisme ini memiliki genom yang sederhana akan tetapi penyakit yang ditimbulkannya sangat kompleks dan belum banyak diketahui. Selain itu, mycoplasmosis biasanya berjalan kronis dikarenakan mycoplasma mampu bertahan dari antibody inang serta mudah disertai infeksi sekunder dari mikroorganisme lain. Ada beberapa spesies mycoplasma dengan host yang berbeda-beda, salah satunya yaitu mycoplasma yang menyerang babi.

(5)

akan tetapi hewan muda akan lebih peka. Menurut Melintira et all (2003), pada hewan yang sebelumnya belum pernah terpapar akan mengalami infeksi saluran pernapasan akut berupa kesulitan beernapas yang akut dan kematian. Jika penyakit ini telah berjalan kronis maka gejala klinis hanya akan terlihat jika hewan penurunan daya tahan tubuh.

Mikroorganisme masuk ke dalam jaringan paru-paru melalui saluran pernapasan atas dengan cara membentuk koloni di silia saluran pernapasan, melekat di epitel trachea dan menuju lobus bagian cranial paru-paru untuk selanjutnya menuju alveolus sekitarnya. Perlekatan pada epitel saluran pernapasan dapat menyebabkan masuknya neutrofil ke dalam mukosa trcheobronchial, berkurangnya silia epitel, menstimulasi hiperplasia limfosit Broncho Assosiated Limfoid Tissue (BALT), dan mengganti komposisi kimia mukus di saluran pernapasan. Mycoplasma hyopneumoniae umumnya menyerang babi yang berumur enam minggu. Masa inkubasi tergantung banyaknya agen yang masuk ke dalam tubuh. Jika agen yang masuk tubuh jumlahnya sangat tinggi maka masa inkubasinya akan berlangsung selama 11 hari sedangkan jika jumlahnya masih dalam batas ambang toleransi maka masa inkubasinya akan berlangsung selama 4-6 minggu (Melintira et all 2003). Selain itu jika Mycoplasma hyopneumoniae yang masuk ke dalam tubuh jumlahnya sangat sedikit maka kemungkinan akan infeksi kronis yang bersifat subklinis.

Mycoplasma pneumoniae merupakan mikroorganisme ekstraselular tetapi umumnya dapat menyebabkan kerusakan silia dan sel mukosa saluran pernapasan babi, antara lain di silia epitel paru-paru (Bailao et al 2007). Silia epitel saluran pernapasan kehilangan kemampuan memproduksi mucous, terjadi ciliostasis, nekrosa epitel paru-paru, dan muncul lesio-lesio di paru-paru. Membran selaput lendir juga rusak karena reduksi mikroorganisme ini, akibatnya organ-organ saluran pernapasan mudah mengalami infeksi sekunder berupa infeksi virus (seperti PCV2) dan infeksi bakteri (seperti pasteurella multocida S. suis, H. Parasuis, A. pyogenes). Mycoplasma pneumoniae juga memiliki kemampuan untuk mengatur respon kekebalan dari inangnya sehingga menyebabkan kondisi immunosupresive dan stimulasi pembentukan sel radang (Lopes 1995).

(6)

dan neutrofil di alveolar dan jaringan peribronchial, mengaktivasi sel mast, hilangnya silia sel epitel, desquamasi epitel paru-paru dan oedema di alveoli. (Kwon et all 2002).

Severe pneumonia in SEW pigs that were coinfected with PCV2 and M. hyo. Photo credit: Iowa State University (Alex Ramirez).

http://www.pigprogress.net/Health/Health-Tool/diseases/Enzootic-Pneumonia-EP/

Selain mycoplasma pneumonia, penyakit yang menyerang sistem respirasi pada babi adalah atropic rhinitis. Atropic rhinitis adalah penyakit menular pada babi ditandai dengan adanya sekresi hidung yang bersifat purulen, disertai perubahan bentuk hidung berupa moncong hidung membengkok, atrofi tulang turbinatum dan penurunan produktifi tas. Atropic rhinitis kemungkinan telah tersebar diseluruh dunia. Pada bentuk parah dan progresif, penyebab penyakit ini adalah Pasteurella multocida yang toksigenetik disertai atau tidak disertai oleh Bordetella bronchoseptica. Bentuk ringan sampai sedang, disebabkan oleh Bordetella bronchoseptica saja, atau disertai oleh fl ora normal pada hidung. Bordetella bronchoseptica adalah bakteri berbentuk batang atau coccobacillus, Gram negatif. Bakteri ini motil, tidak membentuk spora dan bersifat aerob. Secara eksperimental telah dibuktikan bahwa B.bronchoseptica sendiri dapat menimbulkan atrofi turbinatum bila ditularkan secara intra nasal pada anak babi Specifi c Pathogenic Free (SPF) umur di bawah tiga minggu. Pasteurella multocida adalah bakteri yang pada awalnya dianggap sebagai bakteri penyebab kedua pada atropic rhinitis, tetapi belakangan diketahui P.multocida merupakan penyebab utama atropic rhinitis pada babi.

(7)

bentuk normal. Penyakit serius menyebabkan rhinitis atrofi progresif (PAR) di mana bakteri P.multocidia akan memproduksi racun, menyebabkan peradangan yang terus-menerus dan progresif sehingga menyebabkan terjadinya atrofi jaringan dan distorsi hidung. PAR dapat menyerang baik pada babi yang sedang menyusui atau pada babi yang sedang tumbuh. Bila kelompok babi telah terinfeksi, semua ternak akan menunjukkan beberapa derajat non-progresif rhinitis atrofi .

Apabila dari luar batang hidung sudah terlihat membengkok, maka kelainan tulang turbinatum mudah diduga. Dalam hal kelainan bentuk batang hidung tidak terlihat, maka perlu dilakukan pemotongan memanjang (cross section) rongga hidung setinggi gigi premoral kedua. Patologi yang mencolok adalah hipoplasia turbinatum nasalis. Dalam mukosa lubang hidung ditemukan eksudat mukopurulen.

Gambar : Atropic Rhinitis pada babi.

Babi ini mengalami destruksi total pada tulang turbinatum hidung setelah infeksi alami oleh kuman tipe D toksigenik P.multocida (Sumber : Departemen Patologi, Universitas Guelph) (Sumber : http://www.merckvetmanual.com/mvm/htm/bc/resrp 01.htm)

Bailao AM, Parente JA, Pereira M & Maria C. 2007. Kinases of two strains of mycoplasma hyopneumoniae and strain of mycoplasma synoviae. Copyright by the Brazilian Society of Genetics : Brazil. Jurnal Genetic and Molecular Biology. 30(1).

Hal. 219-224.

(8)

Cermin Dunia kedokteran No 141. Kwon D, Choi C & Chae C. 2002. Chronologic Localization of Mycoplasma hyopneumoniae in Experimentally Infected Pigs. Seoul National University :

Republic of Korea. Vet Pathol 39 : 584-587.

Lopes A, 1995. Respiratory System di dalam Thomson Special Veterinary Pathatology

2nd Ed. USA: Mosby Year Book Inc.

Gambar

Gambar : Atropic Rhinitis pada babi.

Referensi

Dokumen terkait