• Tidak ada hasil yang ditemukan

229919029 Pemilihan proses ETBE docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "229919029 Pemilihan proses ETBE docx"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MATA KULIAH REKAYASA DAN PERANCANGAN PROSES

REKAYASA PROSES DALAM PEMBUATAN ETBE

Kelompok 5:

Ida Bagus Dharma Yoga S

F351130251

Hety Handayani Hidayat

F351130281

Felga Zulfia Rasdiana

F351130341

SEKOLAH PASCASARJANA

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

I.

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Kelangkaan BBM merupakan pemandangan yang dijumpai di berbagai daerah

di tanah air. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil setidaknya memiliki tiga

ancaman serius, yaitu : (1) menipisnya cadangan minyak bumi (bila tanpa temuan

sumur baru), (2). Kenaikan/ kestabilan harga akibat laju permintaan yang lebih besar

dari produksi minyak, (3). Polusi gas rumah kaca (terutama CO2) akibat pembakaran

bahan bakar fosil (Yuli Setyo Indartono. 2005).

Semakin banyaknya pengguna bahan bakar gasoline (bensin), maka kualitas

bahan bakar tersebut perlu ditingkatkan kualitas salah satunya adalah dengan

menyesuaikan nilai angka oktan bensin. Angka oktan menunjukkan ketahanan

terhadap ketukan (knocking). Pada umumnya, tiap tipe mesin mempunyai kebutuhan

angka oktan yang berbeda-beda, yang tergantung pada perbandingan kompresi mesin

dan faktor-faktor lainnya. Apabila angka oktan bahan bakar mempunyai nilai yang

lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan mesin, maka akan terjadi ketukan pada

mesin yang berakibat mesin cepat panas, bahan bakar menjadi boros serta

mengurangi umur mesin.

Menurut Sasongko dan Anggoro (2011) permasalahannya pada umumnya

terletak pada nilai angka oktan bensin lebih rendah dibandingkan dengan keadaan

yang diperlukan dari mesin. Hal ini dilakukan dengan menambahkan bahan (aditif)

pada bahan bakar berupa organo-metalik berupa TEL (tetra ethyl lead). Akan tetapi

bahan aditif ini sudah harus ditinggalkan karena bersifat mencemari lingkungan,

yang diikuti kometmen nasional berupa penerapan bensin tanpa timbal (Pb).

Salah satu bahan aditif pengganti TEL adalah methyl tert-butyl ether (MTBE)

yang kemudian disebut dengan bensin jenis premix. Hanya saja bahan aditif tersebut

didapat dari bahan berbasis fosil yaitu metanol yang bersifat non renewable (tidak

terbarukan), selain itu bahan aditif MTBE merusak kualitas tanah sekitar. Untuk

mengatasi hal tersebut dikembangkan bahan aditif ETBE (ethyl tert-buthyl ether)

yang disintesis berdasarkan reaksi dengan etanol sebagai bahan yang bersifat

renewable (terbarukan) karena etanol disintesis dari bahan nabati dan ETBE bersifat

(3)

Tabel 1. Perbandingan karakteristik kinerja ETBE dan alternatif lainnya

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa ETBE memiliki karakteristik nilai RVP

(vapor pressure) terendah, dan nilai oktan tertinggi. Hal ini menjadikan ETBE ideal

menjadi campuran bahan bakar minyak (bensin). Adapun keuntungan dari ETBE

sebagai bahan tambahan untuk bahan bakar minyak ialah sebagai berikut (Yuan.

2006):

1. ETBE memiliki nilai oktan yang tinggi sehingga dapat membuat proses

pembakaran menjadi lebih efisien

2. ETBE memiliki nilai boiling yang tinggi dan nilai RVP yang rendah sehingga

menjadi baik untuk campuran bensin.

3. Kadar oksigennya yang tinggi membuat ETBE dapat menyediakan tambahan

oksigen untuk membantu terjadinya pembakaran yang sempurna sehingga

dapat menurunkan olusi lingkungan.

4. ETBE lebih ramah lingkungan disbanding MTBE

5. ETBE dapat diproduksi dari bahan baku terbaharukan sehingga dapat

memberikan maanfaat pada lingkungan dan berkontribusi pada pembangunan

berkelanjutan.

6. Walaupun ETBE dapat memberikan banyak keuntungan, tetapi dari segi harga,

ETBE masih lebih mahal dibandingkan dengan MTBE.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memilih alternatif proses terbaik dari

(4)

yang optimal, dan menganalisis kelayakan finansial dari proses sintesis ETBE yang

akan digunakan.

B.

Tujuan

1. memilih alternatif proses terbaik dari proses sintesis ETBE

2. merekayasa proses sintesis ETBE untuk memperoleh hasil yang optimal

3. Menganalisis kelayakan finansial dari alternative produk dan proses yang

(5)

II.

ALTERNATIF PEMILIHAN PROSES

Alternatif Teknologi Proses Produksi ETBE

Proses produksi ETBE dapat dilakukan menggunakan 3 teknologi proses

yang berbeda. Penggunaan teknologi produksi ETBE berdasarkan paten yang

dilakukan (Kochar & Marcell, 1981; Pucci et al., 1992; Bakshi et al., 1992; Weber de

Menezes & Cataluna, 2008). Proses produksi ETBE menggunakan dua prinsip proses

yaitu reaksi dan pemisahan. Reaksi terjadi pada semua teknologi proses sebagai

akibat isothermal fixed bed dari katalis yang ditambahkan ke dalam reaktor. Reaksi

yang terjadi pada produksi ETBE dari 2-metilpropen dan etanol dapat dilihat sebagai

berikut :

(CH3)2C=CH2 + C2H5OH (CH3)3COC2H5

Sedangkan proses pemisahan berbeda pada setiap teknologi proses,

pemisahan dapat dilakukan dengan cara destilasi, ekstraksi atau reaksi dan separasi

yang dikombinasikan pada sistem destilasi reaktif. Adapun teknologi proses yang

digunakan adalah :

1. Produksi ETBE dalam reaktor isotermal dengan melakukan pemisahan

secara destilasi

Proses produksi ETBE pada teknologi proses ini dilakukan dengan

menambahkan fraksi C4 bersama dengan larutan etanol (kemurnian >95%) ke dalam

reaktor. Kemudian akan terjadi reaksi antara C4 dan etanol yang membentuk ETBE

dan pada reaktor juga terdapat TBA, etanol, dan 2-metilpropen yang tidak bereaksi

serta komponen inert dari fraksi C4. ETBE akan dipisahkan dari komponen lainnya

dengan proses pemisahan yang berlangsung pada dua destilasi kolom. Pada kolom

pertama akan terjadi pemisahan antara ETBE dan TBA dengan sisa-sisa fraksi C4

(2-metilpropen, butana, dan 1-butena) yang tidak bereaksi yang terpisah dalam bentuk

destilat. ETBE dan TBA yang terdapat pada bagian bawah dari destilasi kolom

pertama selanjutnya akan masuk menuju destilasi kolom kedua (Kochar & Marcell,

1981). Skema teknologi untuk produksi ETBE pada reactor isothermal dimana

(6)

Selanjutnya untuk aliran bahan dan kebutuhan investasi produksi ETBE dengan

pemisahan secara distilasi dapat dilihat pada tabel 2.

Gambar 1. Skema teknologi untuk produksi ETBE pada reactor isothermal dimana pemisahan produknya menggunakan metode distilasi (Mikus et al 2013)

Tabel 2. Aliran bahan dan kebutuhan investasi produksi ETBE dengan pemisahan secara distilasi (Mikus et al 2013)

Reaktor (REACTOR) 0,25 m3 57900 Cooling

water 30,8 m

Equipment cost 144881 Material and power media

costs 1487089

(7)

2. Produksi ETBE dalam reaktor isotermal dengan melakukan pemisahan

secara ekstraksi

Proses produksi ETBE berlangsung pada reaktor fix bed yang mana etanol

akan bereaksi dengan 2-metilpropen dari fraksi C4. Proses reaksi ini akan

membentuk ETBE, selain itu juga akan terdapat etanol yang tidak bereaksi serta

butana dan 1-butena (inert). Komponen inert akan dipisahkan pada kolom destilasi,

sedangkan pada bagian bawah terdapat ETBE yang masih mengandung 10-30%

etanol. Selanjutnya etanol akan dipisahkan dari ETBE melalui proses ekstraksi.

Proses ekstraksi berlangsung dalam ekstraktor yang dioperasikan pada suhu 50o-70o

C dengan tekanan 0,1-0,2 Mpa dan menggunakan air sebagai pelarut. Raffinate dari

ekstraktor terdiri dari sebagian besar ETBE yang mengandung sedikit air, kemudian

etanol dan air diektraksi dan diperoleh ETBE murni (Pucci et al., 1992). Skema

produksi ETBE pada reactor isothermal dengan pemisahan produknya menggunakan

metode ekstraksi dapat dilihat pada Gambar 2 dan Aliran bahan dan investasi

produksinya dapat dilihat pada tabel 3.

(8)

Tabel 3. Aliran bahan dan investasi produksi ETBE dengan pemisahan secara

Equipment cost 159088 Material and power media

costs 1343377

Total investment capital - Income (ETBE) -

3. Produksi ETBE dalam reaktor pass straight yang dikombinasikan dengan

reaktor kolom destilasi katalitik

Proses produksi ETBE dilakukan dengan mereaksikan 2-metilpropen dan

etanol dalam reaktor pass straight. Proses reaksi ini akan menghasilkan ETBE,

2-metilpropen dan etanol yang tidak bereaksi, serta inert yang selanjutnya akan dikirim

menuju reaktor kolom destilasi katalitik untuk penyempurnaan reaksi. Pada jenis

(9)

yang berupa zona reaktif kolom destilasi melibatkan katalis heterogen yang

ditambahkan dalam sebuah fixed bed. Campuran hidrokarbon C4 dicampurkan

dengan fase cair dari zona reaktif kolom destilasi kemudian dimasukkan ke dalam

reaktor straight pass, dimana sekitar 85% 2-metilpropen diubah menjadi ETBE.

Reaksi pencampuran dari reaktor fed ke destilasi kolom dilakukan pada zona reaktif.

Komponen volatil dari reaksi pencampuran termasuk 2-metilpropen dimasukkan ke

dalam zona reaktif destilasi kolom. Pada zona reaktif, sisa 2-metilpropen bereaksi

dengan etanol. Aliran etanol mengandung sedikit air dari fed menuju kolom dibawah

zona reaktif. Air bersama dengan inert (butana dan 1-butena) dikeluarkan dari

destilasi kolom sebagai destilat. Suhu pada kolom dipertahankan pada titik didih

(10-100o C), kondisi ini tergantung pada komposisi campuran dan tekanan pada

kolom (0,3-1,14 Mpa). Keseimbangan reaksi eterifikasi 2-metilpropen dipindahkan

menuju formasi produk karena produk yang selanjutnya dihapuskan dibiarkan untuk

mendapatkan konversi 2-metilpropen yang mencapai 100% (Bakshi et al., 1992;

Pucci et al., 1992). Skema produksi ETBE pada reaktor straight pass yang

dikombinasikan dengan catalytic distillation column reactor dapat dilihat pada

Gambar 3 dan untuk simulasi aliran bahan dan investasi produksi dapat dilihat pada

tabel 4.

(10)

Tabel 4. Aliran bahan dan investasi produksi ETBE pada reaktor pass straight yang dikombinasikan dengan reaktor destilasi kolom reaktif (Mikus et al 2013)

Stream 3 Waste ETBE

Reaktor (REACTOR) 0,25 m3 57900 Cooling

water 7,8 m

3

h-1 63561

Reactive distillation 28 stage 106975 Ethanol 5,7 kmol h-1 542935

(RK1) (D=0,42 m) C4 fraction 12 kmol h-1 628661

Catalyst 500 kg 2996

Equipment cost 182057 Material and power media

costs 1298315

Total investment capital 956798 Income (ETBE) 3470209

Pemilihan Teknologi Proses

Dalam pemilihan teknologi proses masing-masing teknologi proses

dibandingkan dengan parameter perbandingan yang digunakan yaitu: kemurnian

produk, produk yang dihasilkan, biaya peralatan, biaya bahan baku media, total

investasi modal, dan pemasukan dari proses produksi ETBE tersebut. Adapun

data-data kriteria yang digunakan untuk pemilihan proses ETBE dapat dilihat pada

(11)

Tabel 5. Kriteria pemilihan teknologi produksi ETBE (Mikus et al 2013)

Pada tabel 5 dapat dilihat perbandingan kriteria yang digunakan untuk

masing-masing teknologi proses. Pada kriteria yang pertama, yaitu tingkat

kemurnian, proses produksi ETBE yang dapat menghasilkan produk dengan tingkat

kemurnian tertinggi diperoleh dengan mengkombinasikan reactor straight pass

dengan distilasi kolom reaktif, yaitu sebesar 99.1%. selanjutnya diikuti oleh proses

produksi ETBE dengan pemisahan secara distilasi dimana teknologi ini dapat

menghasilkan kemurnian sebesar 96.2%. Yang terakhir, adalah proses produksi

ETBE dengan pemisahan secara ekstraksi dimana dengan teknologi ini hanya

menghasilkan ETBE dengan tingkat kemurnian 90.4%. Berdasarkan hasil tersebut

dapat dilihat bahwa proses produksi ETBE dengan pemisahan secara ekstraksi

menghasilkan tingkat kemurnian produk yang tidak memenuhi standar (90.4%)

dimana standar kemurnian ETBE yang dapat digunakan sebagai campuran bahan

bakar adalah minimal sebesar 96% (Mikus et al 2013).

Selanjutnya dibandingkan antara proses produksi ETBE dengan pemisahan

secara distilasi dengan proses produksi ETBE dengan kombinasi reaktor dengan

(12)

kemurnian dan produk yang dihasilkan maka proses produksi ETBE dengan

kombinasi reactor dengan distilasi kolom reaktif memberikan hasil yang lebih

unggul. Tetapi apabila ditinjau dari segi biaya peralatanya yang dikeluarkan dan total

modal investasi yang harus disiapkan oleh investor maka proses produksi ETBE

dengan pemisahan secara distilasilah yang lebih unggul karena menghabiskan biaya

yang lebih rendah.

Teknologi proses produksi ETBE dengan kombinasi reactor dengan distilasi

kolom reaktif mungkin memiliki biaya investasi peralan dan modal investasi yang

lebih besar, tetapi dari segi biaya annual yang dikeluarkan per tahunnya, teknologi

ini dapat menghabiskan biaya annual yang lebih rendah. Selain itu bila dilihat dari

produk yang dihasilkan maka melalui teknologi kombinasi reactor straight pass

dengan reactor destilasi kolom eaktif dapat diperoleh keuntungan yang lebih tinggi

pertahunnya dibandingkan proses produksi ETBE dengan pemisahan secara distilasi.

Melalui berbagai perbandingan yang telah dilakukan berdasarkan

parameter-parmeter yang telah ditentukan maka dapat dipilih teknologi yang terbaik untuk

memproduksi ETBE adalah Teknologi proses produksi ETBE dengan kombinasi

reactor dengan distilasi kolom reaktif. Hal ini dilihat dari segi tingkat kemurnian,

kuantitas produk yang dihasilkan, biaya annual yang dikeluarkan, serta pemasukan

(13)

III.

PEMILIHAN MESIN

1. Mixer

Fungsi : Tempat pencampuran etanol (ETOH) dengan C4.

Ukuran : 1.5 m3h–1 (Mikus et al 2013)

Harga : 14897 € (Mikus et al 2013)

2. Pompa

Fungsi : Mengalirkan bahan baku dari mixer ke reaktor.

Ukuran : 1.5 m3h–1 (Mikus et al 2013)

Harga : 2284 € (Mikus et al 2013)

Tipe pompa yang digunakan adalah pompa sentrifugal dengan pertimbangan :

 Viskositas fluida yang dialirkan relatif tidak besar

 Konstruksinya sederhana sehingga harga lebih murah

 Dapat digabung langsung dengan putaran motor. Umumnya semakin cepat

putaran maka semakin kecil beban pompa dan motor.

 Mudah dalam pengoperasiannya

 Aliran pada discharge pompa dapat di shut-off atau ditutup tanpa merusak

pompa.

 Tidak memerlukan valve dalam operasi pompa

 Biaya pemeliharaan lebih rendah dibanding jenis pompa yang lainnya.

3. Reaktor

Fungsi : Tempat berlangsungnya reaksi pembentukan ETBE

Jenis : Reaktor fixed bed multi tubular

Bahan konstruksi : carbon steel SA-285 grade A

Jumlah : 1 unit

Ukuran : 0.25 m3(Mikus et al 2013)

Harga : 57900 € (Mikus et al 2013)

(14)

 Reaksi dalam fasa gas dengan katalis padat.

 Reaksi eksotermis sehingga diperlukan luas perpindahan panas yang

besar agar kontak dengan pendingin berlangsung optimal.

 Pressure drop lebih kecil daripada fluidized bed.

 Abrasi pada dinding tube dapat diabaikan.

 Tidak diperlukan pemisahan katalis dari gas keluaran reactor.

 Pengendalian suhu relatif mudah karena menggunakan tipe shell and tube

Kontruksi reaktor lebih sederhana dibandingkan dengan reaktor fluidized

bed, dengan demikian maka biaya pembuatan, operasional dan perawatannya

relatif lebih murah.

4. Reaktif Distilasi

Reaktif distilasi merupakan proses kombinasi antara reaksi kimia dan separasi

(distilasi ) yang terjadi secara simultan dalam suatu kolom distilasi tunggal. Dimana

produk yang terbentuk langsung dipisahkan secara distilasi. Misalnya suatu reaksi

reversible mengikuti persamaan : A + B ↔ C + D (eksotermis).

Kolom reaktif distilasi terdiri dari reactive section yang berada di tengah

kolom dengan non reactive section rectifying. Stripping section pada bagian atas dan

bawah. Non reactive section rectifying berfungsi sebagai tempat untuk recovery

reaktan yang tidak bereaksi dari aliran produk. Pada reaktive section selain terjadi

reaksi, pemisahan produk juga terjadi secara simultan. Berdasarkan prinsip

keseimbangan, maka kesetimbangan akan bergeser ke pembentukan produk sehingga

konversi meningkat. Selain itu hal ini mencegah terjadinya reaksi samping antara

produk dengan reaktan. Dengan menggunakan proses reaktif distilasi ini konversi

yang dicapai mendekati 100%.

Spesifikasi peralatan

1. Fungsi : memisahkan produk utama ETBE dengan produk

samping

2. Jenis : reaktif distilasi

3. Bahan konstruksi : carbon steel SA-285 grade A

4. Jumlah : 1 unit

(15)

6. Diameter : 0.42 m (Mikus et al 2013)

7. Harga : 106975 € (Mikus et al 2013)

Kelebihan reaktif distilasi:

1. Meningkatkan kecepatan overall dan efisiensi.

2. Produk yang dihasilkan mempunyai harga konversi yang tinggi.

3. Produk yang dihasilkan mempunyai harga kemurnian yang tinggi.

4. Produk yang dihasilkan mempunyai selektivitas yang tinggi ;mengurangi

penggunaan

5. bahan baku dan produk samping.

6. Mengurangi biaya produksi; mengurangi penggunaan peralatan, penggunaan

energi dan penanganan.

7. Lebih sedikit limbah dan produk samping.

8. Meningkatkan kualitas produk - bahan kimia karena lebih sedikit terkena

panas,

9. mengurangi kesempatan terjadinya degradasi.

Syarat dilakukannya RD:

1. T reaksi ≈ T distilasi

2. produk merupakan lowest boiling point atau highest boiling point

3. katalis stabil

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Arfaj MA, Luyben, WL (2002) Industrial & Engineering Chemistry Research 41: 3784—3796. DOI: 10.1021/ie010432y.

Bakshi A, Jones EM Jr, Strain BA. 1992. US Paten No. 5,248,836. U.S. Petent and Trademark Office, Washington, DC, USA. dalam Mikus V, Ridzonova M, Steltenpohl P. 2013. Fuel Additive Production: ethyl – t – buthyl ether, a case study. Journal Acta Chimica Slovaca. Vol 6(2): 211-226.

Kochar NK, Marcell RL.1981. US Paten No. 4,334,890. U.S. Petent and Trademark Office, Washington, DC, USA. dalam Mikus V, Ridzonova M, Steltenpohl P. 2013. Fuel Additive Production: ethyl – t – buthyl ether, a case study. Journal Acta Chimica Slovaca. Vol 6(2): 211-226.

Mierka O (2012) Energetický audit, Lecture notes. Slovak University of Technology in Bratislava, Bratislava, Slovak Republic.

Mikus V, Ridzonova M, Steltenpohl P. 2013. Fuel Additive Production: ethyl – t – buthyl ether, a case study. Journal Acta Chimica Slovaca. Vol 6(2): 211-226

Pucci A, Mikitenko P, Zuliani M. 1992. U.S. Patent No. 5,348,624. U.S. Petent and Trademark Office, Washington, DC, USA. dalam Mikus V, Ridzonova M, Steltenpohl P. 2013. Fuel Additive Production: ethyl – t – buthyl ether, a case study. Journal Acta Chimica Slovaca. Vol 6(2): 211-226.

Sasongko S B, Anggoro D D. 2011. Pembuatan Ethyl Tert-Buthyl Ether (Etbe) Sebagai Bahan Bakar Additif Ramah Lingkungan. Simposium nasional penelitian perubahan iklim: Semarang

Weber de Menezes E, Cataluna R. 2008. Fuel Processing Technology 89 : 1148-1152. dalam Mikus V, Ridzonova M, Steltenpohl P. 2013. Fuel Additive Production: ethyl – t – buthyl ether, a case study. Journal Acta Chimica Slovaca. Vol 6(2): 211-226.

Yuan H. 2006. ETBE as an additive in gasoline: advantages and disadvantages. Linköpings universitet: Sweden

Gambar

Tabel 1. Perbandingan karakteristik kinerja ETBE dan alternatif lainnya
Gambar 1. Skema teknologi untuk produksi ETBE pada reactor isothermal dimana pemisahan produknya menggunakan metode distilasi (Mikus et al 2013)
Gambar 2. Skema produksi ETBE pada reactor isothermal dengan pemisahan produknya menggunakan metode ekstraksi (Mikus et al 2013)
Tabel 3. Aliran bahan dan investasi produksi ETBE dengan pemisahan secara ekstraksi (Mikus et al 2013)
+4

Referensi

Dokumen terkait