• Tidak ada hasil yang ditemukan

DARI HERMENEUTIK KE SEMIOTIK POS STRUKTU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DARI HERMENEUTIK KE SEMIOTIK POS STRUKTU"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Menganalisis dan/atau memaknai karya sastra itu tergantung asumsi-asumsi awal (premis-premis dasar) teoretis yang dibangun atau dipilih sesuai dengan tujuan, niat, kepentingan, keperluan-keperluan strategis, atau mungkin tuntutan-tuntutan tekstual dalam memaknai karya sastra. Pilihan tersebut bersifat subjektif, walaupun atas nama kepentingan akademis, mungkin tergantung selera dan minat, dan setiap analisis bertangung jawab secara internal di dalam dirinya. Tujuan pemaknaan, misalnya, bisa bersifat semata-mata satu eksplorasi akademis terhadap hal-hal di balik yang tak terkatakan (yang tersembunyi) dalam sebuah karya sastra, tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa tujuan pemaknaan sebagai sesuatu yang “bertujuan lain”, sesuatu kesengajaan untuk “membongkar” sesuatu yang terselubung, sesuatu yang tak terbaca atau tak tampak. Dengan demikian, pada dasarnya analisis dan atau pemaknaan terhadap karya sastra memiliki tujuan-tujuan tertentu.

Persoalan muncul ketika seseorang secara khusus diminta mengetahui seluk-beluk atau asal muasal asumsi-asumi awal (premis-premis dasar) teoretis yang dipilih dalam memulai dan memaknai karya sastra. Pengetahuan ini dituntut agar seseorang tidak tumpang tindih atau mungkin berlawanan dalam pemahamannya tentang premis-premis tersebut sehingga operasi-operasi analisis dalam perspektif teoretis tertentu tidak memenuhi sasaran. Kemungkinan lain adalah bahwa seseorang mengetahui beberapa konsep dasar teoretis tertentu, tetapi tidak begitu lihai bagaimana mengoperasikannya, atau tidak begitu paham apa saja yang perlu diuraikan berkaitan dengan operasi teori tersebut.

Secara klasik, premis-premis tersebut ditentukan oleh pilihan terhadap orientasi analisis (pemaknaan), apakah memberikan perhatian pada orientasi ekspresif (kepengarangan), orientasi objektif, orientasi mimetis, dan orientasi pragmatis (Abrams, 1979). Dalam sejarah teori dan praktik analisis sastra Indonesia, keempat

(2)

praktik analisis tersebut cukup dominan, terutama praktik anasilis objektif (struktural). Bahkan hingga kini buku-buku teori analisis dengan orientasi analisis struktural objektif ini masih ditulis, dicetak ulang, dan dipelajari.2 Walaupun akhir-akhir ini sudah menunjukkan keragaman dan variasi, masih banyak mahasiswa menulis skripsi dalam orientasi pendekatan struktural objektif ini. Pilihan orientasi tersebut secara lebih khusus menentukan pilihan-pilihan teoretis yang relevan agar operasi analisis menjadi lebih maksimal. Akan tetapi, sangat mungkin untuk keperluan dan tujuan tertentu, seseorang dalam memaknai karya sastra melakukan kombinasi-kombinasi orientasi. Kombinasi tersebut juga bersifat strategis, sekali lagi tergantung derajat keperluan dan tujuan dalam memaknai karya sastra.

Kategori orientasi analisis (pendekatan) seperti telah disinggung di depan, walaupun dikonseptualisasikan lebih belakangan, secara inheren telah menggiring premis-premis dasar analisis dengan sejumlah teori dan cara pemaknaan. Dalam menganalisis dan memaknai dengan orientasi ekspresif, misalnya, salah satu asumsi awal yang perlu dikemukakan adalah seberapa jauh institusi dan struktur sosial pengarang berpengaruh terhadap karya sastra, atau seberapa jauh karya sastra merupakan media bagi pengarangnya untuk mengungkapkan gagasan, pikiran, atau opini. Berdasarkan pertanyaan itu, seseorang diminta secara luas memiliki pengetahuan yang bersifat sosiologis atau bahkan psikologis terhadap segala sesuatu berkaitan dengan pengarang. Terdapat semacam tuntutan agar interpretasi (pemaknaan) sesuai seperti yang dimaksukan pengarang, atau makna teks dapat diacukan dengan maksud pengarang. Orientasi dengan tekananan objektif, dengan derivasi teori-teori seperti semiotik dan postrukrutalisme, misalnya, berasumsi awal bahwa teks adalah sesuatu yang otonom. Jadi, tidak lagi perlu dikaitkan dengan makna yang dimaksudkan pengarang.

Saat ini, tampaknya orientasi yang cukup dominan adalah orientasi objektif (sebagai kajian tekstual) dan pragmatis (fungsi, peranan, pengaruh, dan implikasi-implikasi resepsi lainnya). Secara inheren orientasi ini berkolaborasi secara luas, dan melahirkan teori-teori sastra yang beragam, seperti struktural objektif, teori semiotik,

(3)

hemeneutik, sosiologi, psikologi (psikoanalisis), resepsi, dan sebagainya. Berkat munculnya para pemikir yang radikal, dan tentu karena perkembangan premis-premis yang dibangun dengan paradigma filosofi yang berbeda, teori ini juga melahirkan teori-teori seperti semiotik-postruktural, postrukturalisme, posmodern-isme, poskolonialisme, teori-teori wacana, dan sebagainya.

Tulisan ini hanya membicarakan salah satu dari perkembangan mutakhir teori sastra modern, yakni kesinambungan teori hermeneutik dan semiotik-postruktural. Pilihan terhadap konsep dasar teori ini dikarenakan teori ini memberikan ruang pemaknaan yang luas dan telah membuka “jalan buntu” bagi teori-teori pemaknaan sebelumnya.

* * *

Dalam pengertian sederhana hermeneutik dapat diartikan sebagai cara memahami dan mengerti karena sebelum terjadi mengerti ada proses interpretasi. Dalam proses interpretasi tersebut ada sejumlah masalah yang menuntut penjelasan, yakni siapa subjek yang berbicara, mediasinya, ataupun siapa pula yang menerima informasi tersebut. Palmer (1969) memberikan rincian hermeneutika sebagai cara meng-kata-kan, sebagai cara menerangkan, dan sebagai cara menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain sehingga informasi yang terkandung dalam satu bahasa dapat dimengerti oleh penerima/ pendengar/pembaca. Pada awalnya, keterangan itu dimaksudkan sebagai satu usaha mentransformasikan "bahasa langit" (pada umumnya seperti yang tertulis dalam “teks-teks suci”) ke "bahasa bumi”, dan biasanya batasan tradisional ini dianggap benar.

(4)

disampaikan secara terbuka maupun tersembunyi oleh teks, konteks tranformasi, bahkan implikasi-implikasi berkaitan dengan persoalan penafsiran.

Memang, pada awalnya, arti atau konsep hermeneutik disejajarkan dengan istilah penafsiran (interpretation). Akan tetapi, dalam sejarah perjalanannya, keduanya dibedakan dalam tataran teleologis. Penafsiran biasanya disejajarkan dengan praktik interpretasi itu sendiri, sedangkan hermeneutik mengacu pada tujuan, prinsip, dan kriteria dari praktik interpretasi. Dalam pengertian tersebut, hermeneutika dapat disebut sebagai teori interpretasi.

Secara umum, konsep hermeneutika dipahami dalam dua pengertian. Pertama, hermeneutika sebagai seperangkat prinsip metodologis penafsiran, dan kedua, hermeneutika dipahami sebagai suatu penggalian filosofis dari sifat dan kondisi yang tidak bisa dihindari dari kegiatan memahami. Ada satu pandangan yang mencoba mengakomodasi kedua pengertian tersebut, yakni suatu pandangan yang mendefinisikan hermeneutika sebagai ilmu yang merefleksikan bagaimana suatu kata, bahasa, atau peristiwa yang telah ditulis (tertulis) dapat dipahami dan menjadi bermakna pada saat teks tersebut dibaca kembali di waktu yang lebih kemudian, berdasarkan aturan-aturan atau asumsi-asumsi metodologis aktivitas pemahaman. Akan tetapi, pandangan yang mencoba mengakomodasi perbedaan peradigma hermeneutik tersebut masih terlalu berambisi untuk mengklarifikasi persoalan kebenaran sebuah penafsiran.

(5)

Asumsi ini berangkat berkat munculnya kesadaran baru dari para pemikir ilmu kemanusiaan, termasuk di dalamnya seni dan sastra, terutama penolakan dan pembongkaran terhadap kooptasi filsafat positivisme yang menekankan pada satu ukuran kebenaran mutlak, objektif/teruji, empirik, dan rasional. Pergeseran penting ini juga menandai keberpihakan dan rasa percaya diri ilmu-ilmu sosial dan humaniora kepada dirinya sendiri yang selama ini ditelikung oleh rezim ilmu-ilmu eksakta.

* * *

Sebagaimana dapat dipahami, pada umumnya teks (tertulis) merupakan fiksasi atau pelembanggaan sebuah wacana lisan ke dalam bentuk tulisan (Ricoeur, 1989: 145). Diperkirakan ada sebuah pembayangan bahwa sebuah wacana, sebelum diekspresikan ke dalam bahasa lisan, biasanya sudah "ada" dan "tersusun" dalam diri pembicara (katakanlah semacam langue dalam konsep Saussurian). Pada tataran ini, dapat dikatakan bahwa hubungan antara pikiran, bahasa, dan wacana tidak bisa dipisahkan sepenuhnya. Hubungan-hubungan itu merupakan salah satu agenda pokok hermeneutik, yaitu mengkaji pikiran dan perasaan yang dilembagakan dalam bahasa tulis, sementara pembicara tidak lagi berada di tempat.

(6)

Perlu ditegaskan bahwa teks dikatakan teks hanya ketika seorang penulis mencoba mengemukakan gagasannya “secara sadar” dan sengaja, bukannya transkripsi dari sebuah wacana. Istilah secara sadar tertulis dalam tanda petik karena konsep “sadar” atau “tidak sadar” memerlukan penjelasan tersendiri (Dengan ingatan pada konsep psikonalisis baik yang dikembangkan oleh Freud maupun Jung). Artinya, pada dasarnya, seseorang ketika menulis berdimensi ganda. Ada sisi-sisi sadar seperti maksud/tujuan dan kepentingan penulisan, tetapi ada sisi-sisi tak sadar seperti penguasaan sistem abstrak kebahasaan ala Saussure (atau ketaksadaran kolektif dalam perspektif Jungian, struktur tak sadar dalam perspektif Freudian, ketaksadaran bahasa dalam istilah Lacan),3 yakni dalam hal ini terutama parole.

Dalam teori bahasa, teks tidak lain merupakan himpunan huruf yang membentuk kata dan kalimat yang dirangkai dengan sistem tanda yang disepakati oleh masyarakat pemakai bahasa bersangkutan sehingga sebuah teks dapat mengungkapkan maksud dan arti tertentu (Bdk. Silverman, 1994: 73). Namun, sebuah teks tidak pernah dapat mengungkapkan sesuatu secara lengkap. Hal ini terjadi karena ketika teks itu ditulis, penulis disadari atau tidak mengeksekusi satu diksi/kata tertentu, maka secara langsung mengesampingkan diksi yang lain. Dalam proses seleksi dan eksekusi tersebut ada berbagai hal yang mengondisikan pilihan-pilihan (Foucault, 1977). Jika dikaitkan dengan proses-proses “tujuan” dan “kepentingan” pemaknaan penulis, maka situasi tersebut dapat disebut sebagai ruang permainan tersendiri antara penulis dengan pemaknaan teks yang ditulisnya.

Masalahnya adalah bahwa sebuah tulisan tentu tidak dimaksudkan dibaca oleh penulisnya sendiri. Ketika teks itu sampai ke pembaca, pembaca tidak harus berkesesuaian dengan makna yang dirancang oleh penulis. Itu pula sebabnya, banyak teks yang pada mulanya tidak dapat dipahami dan dimengerti, semakin ditafsirkan dengan cara-cara tertentu, semakin memperlihatkan keragamanan arti. Sebagai implikasinya, apa dan bagaimana pun upaya penafsiran dan atau pemaknaan terhadap

3 Hal tersebut disinggung untuk sekadar memperlihatkan titik-titik presentuhan antara satu teori dengan

(7)

sebuah teks, tidak akan pernah sepenuhnya lengkap, kecuali dalam perspektif bagaimana teks itu ditafsirkan. Tidak ada sebuah interpretasi, selengkap apa pun, dapat menafsirkan pemaknaan suatu teks secara benar dan utuh, dia terus berproses menemukan jalannya ke wilayah-wilayah baru, ke kemungkinan-kemungkinan lain.

Dalam teori hermeneutik, pada umumnya disepakati bahwa luas cakupan hermeneutik berkisar pada tiga hal, yaitu dunia teks (the world of the text), dunia pengarang (the world of the author), dan dunia pembaca (the world of the reader), atau biasa disebut triadik hermeneutik. Hermeneutik berbicara mengenai hampir semua hal yang berkaitan dengan tiga hal tersebut mencakup teks, pembacaan, pemahaman, tujuan penulisan, konteks, situasi historis, dan situasi atau kondisi paradigmatik pemaknaan pembaca ataupun pengarang.

Dalam cakupan itulah hermeneutik menjadi sangat berhubungan dengan semiotik. Semiotik membahas "satu wilayah" yang lebih spesifik dengan hanya memberikan fokus perhatian pada teori tentang peranan, fungsi, dan cara kerja tanda-tanda yang terdapat pada teks. Seperti diketahui, teori semiotik yang pada mulanya dikembangkan oleh Saussure, dan Peirce di sisi lain, bergerak dalam paradigma struktural. Tesis utama semiotik struktural adalah bahwa alam dunia dapat dipahami selama manusia mampu mengungkapkan adanya struktur yang menjamin keteraturan, atau pola sistematika benda, kejadian, kata-kata, dan fenomena. Konsep ini juga melegitimasi hubungan oposisi biner, seperti kemudian dikembangkan oleh Levi-Strauss, yang kemudian menjadi mapan, suatu pemahaman yang lebih menekankan pada aspek epistemologi.

Pendekatan strukturalis, dalam pengaruh positivisme, memang melahirkan banyak penafsiran, tetapi berujung pada satu tuntutan pada pemaknaan tunggal. Di sini terjadi satu hegemoni dan monopoli kebenaran. Alasannya adalah bahwa terdapat satu sistem struktur yang mapan di balik tanda-tanda (kebahasaan) dalam teks. Hubungan biner antara teks di dunia nyata dan maknanya di dunia ide adalah baku dan tidak dapat diganggu gugat.

(8)

arti dan makna kata salju, baik sebagai ikon maupun terutama sebagai simbol, bagi orang Eskimo dan bagi orang Indonesia. Ada belasan penyebutan (kata) yang berarti (bermakna) salju bagi orang Eskimo, tetapi bagi orang Indonesia tidak lebih salju, benda putih dingin-beku, yang barangkali sebagian besar orang Indonesia hanya melihatnya di film. Imajinasi dan makna salju di antara dua bangsa tersebut pasti berbeda. Apakah orang Eskimo lebih benar, dan orang Indonesia salah. Apakah orang Indonesia harus seperti orang Eskimo dalam memahami salju, atau sebaliknya, atau bahkan seperti yang didefinisikan dalam kamus paling standar sekalipun. Paradigma semiotik struktural tampaknya tidak lagi dapat menjawab pertanyaan dan masalah tersebut dengan meyakinkan.

Hermeneutika menjembatani jarak ruang waktu antara penulis dan pembaca. Penjembatanan itu tidak lantas menganggap dalam suatu dialog langsung penafsiran tidak diperlukan. Yang ingin ditekankan adalah bahwa hermeneutik menitikberatkan kajiannya pada penafsiran teks. Padahal, berdasarkan kenyataan, adalah hal yang sulit untuk mendapatkan asal-usul data teks yang lengkap, juga mengenai penulis/pengarangnya. Kemustahilan kelengkapan itu menyebabkan terpisahnya keberadaan teks dan pengarang. Dengan terpisahkan teks dan pengarangnya, dan dari situasi sosial yang melahirkannya, berimplikasi bahwa sangat mungkin sebuah teks tidak komunikatif lagi dengan realitas sosial yang melingkupi pembaca. Apalagi asumsi ini didukung bahwa sebuah teks ditulis ketika pengarangnya berada dalam satu situasi dan kondisi tertentu yang berbeda dengan situasi dan kondisi lainnya.

(9)

Pengantaran di atas diperlukan dalam rangka penekanan pada otonomi teks dan semakin pentingnya kedudukan pembaca. Suatu teks yang dipublikasikan, maka otomatis teks itu bersifat otonom, artinya dapat ditafsirkan dalam kerangka makna pembacanya. Seperti telah dibahas oleh Ricoeur, ada beberapa hal yang perlu ditekankan berkaitan dengan teks. Sebuah teks sekurang-kurangnya mengandung tiga dunia makna; (1) dunia "di belakang teks", yaitu latar belakang historis-kultural yang melahirkan teks, (2) dunia "di dalam teks", yaitu ide-idea atau kenyataan-kenyataan yang dicipta oleh teks itu sendiri, (3) dunia "di depan teks", yaitu kesadaran baru yang tercipta setelah pembaca, dengan latar belakang wawasan dan pemahamannya, membaca teks. Dalam proses ini biasanya terjadi peleburan wawasan antara wawasan yang dikandung oleh teks dengan wawasan pembaca, dalam istilah Gadamer disebut sebagai fusion of horizon.

Sementara itu, pada umumnya penafsir menghadapi teks menurut tahapan berikut. (1) Pre-understanding, yaitu pembaca/ penafsir menghadapi teks dengan prasangka (seperti juga diingatkan oleh Gadamer) atau hipotesis tertentu. Situasi ini menjelaskan mengapa sebuah penafsiran menjadi tidak pernah bersih. (2)

Explanation, yaitu terjadinya pengaitan-pengaitan secara vertikal antara teks dengan

latar belakangnya, juga relasi horisontal antara bagian yang satu dengan bagian-bagian yang lain dalam teks, (Pengertian ini mendapat penegasan bahwa setiap teks adalah interteks). (3) Understanding, yaitu mengaitkan semua itu dengan konteks baru pembaca, dengan wawasan pribadinya. Setelah proses ini, bisanya diikuti suatu kesadaran baru yang sangat mungkin akan mengubah pandangan penafsir terhadap kandungan teks.

(10)

realitas. Padahal alam tak sadar adalah suatu rekonstruksi dan strukturasi sosial, politik, budaya tertentu yang justru "lebih menentukan" dari alam kesadaran manusia. Dari Marx kita belajar untuk selalu mewaspadai determinasi faktor ekonomi dan politik kesadaran pengarang dan pembaca, bahwa setiap tafsiran tidak mustahil dimanipulasi oleh kepentingan ekonomi dan atau politik. Adapun dari Nietzsche adalah peringatan bahwa setiap orang itu pada dasarnya memiliki dorongan untuk menguasai orang lain. Dengan demikian, kita perlu waspada dalam memahami suatu teks dan jenis komunikasi apa pun, karena di dalamnya, sekecil apapun, pasti terbersit maksud untuk mempengaruhi dan menundukkan orang lain, dan pengarang atau penafsir ingin dikatakan dirinya hebat. Di samping itu, sadar atau tidak pada diri setiap orang ada keinginan untuk dianggap paling benar (Hidayat, 1996: 18-20).

Dikemudian hari, tampaknya Foucault (1977) mengembangkan secara lebih terprogram sikap berprasangka tersebut dengan teori wacananya, suatu analisis penafsiran yang mencoba membongkar relasi-relasi kuasa dan pengetahuan yang terlanjur menskenario pada kemungkinan-kemungkinan suatu wacana mendapat legitimasi pembenaran. Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa wacana-wacana non-diskursif tampaknya justru menjadi hal utama dalam teori-teori penafsiran mutakhir. Dalam hal ini dimaksudkan sebagai pengakuan terhadap suatu wilayah tak-sadar memainkan peranan penting bukan saja bagi lahirnya sebuah teks, tetapi juga proses penafsiran itu sendiri.

* * *

Berangkat dari tergugatnya semiotik struktural, para pos-strukturalis, yang dipelopori oleh Barthes (dalam bukunya yang lebih kemudian, 1970 dan 1975) dan Derrida (1978 dan 1981), mengembangkan apa yang disebut semiotik pos-struktural. Di sini perlu dikatakan bahwa teori-teori hermeneutik seperti yang telah dibicarakan sekilas di atas seolah berjalan beriringan (kalau tidak membuka jalan) bagi teori-teori yang dikembangkan oleh Barthes dan Derrida.

(11)

bergeser tak henti karena yang ada adalah strukturasi, suatu proses yang bergerak terus. Di samping itu, penekanan strukturalisme pada aspek-aspek sinkronik dianggap ahistoris (tidak menyejarah) karena justru menolak hakikat bahasa dan hakikat manusia yang menyejarah (berkebudayaan), dan di sini pula pentingnya diakronik. Itu pula sebabnya, tidak jarang pemahaman strukturalisme dianggap “anti-humanis”, “anti sejarah”.

Semiotik struktural lebih menekankan aspek langue. Suatu hal yang membedakan dengan semiotik pos-struktural yang justru lebih mementingkan parole, dan karenanya lebih bersifat individual daripada kolektif. Semiotik pos-struktural menganggap petanda yang merupakan pusat dari struktur selalu bergeser tak henti dan tak terkontrol. Dengan demikian, tak ada yang disebut pusat dan tak ada asal usul yang pasti. Semuanya akan menuju ke suatu permainan petanda yang tak terbatas karena penanda tidak mempunyai hubungan yang pasti dengan petanda. Hubungan penanda-petanda adalah arbitrer. Barthes bahkan menegaskan bahwa petanda selalu mempunyai banyak arti, tak ada hubungan intern antara konsep yang ditunjuk dengan bunyi yang menunjuknya sehingga tak ada petanda yang pasti bagi penanda. Penanda bersifat polisemi dan hubungan petanda dapat bergeser terus menerus dari penandanya. Petanda selalu berkembang biak (proliferasi) atau diseminasi.

(12)

menganggap karena teks itu mempunyai sesuatu yang berarti dalam kehidupan kita sekarang.

Permasalahan di atas akan menjadi lebih kompleks jika teks yang ditafsirkan dan dimaknai itu adalah teks sastra. Seperti telah disinggung, kompleksitas pertama dikarenakan teks sastra dalam banyak hal berdimensi parole. Ada “ekspresi-ekspresi individuali” yang membuat setiap teks sastra memberikan tanda-tanda non-diskursif. Walaupun sesuatu yang berdimensi parole, dalam banyak hal yang lain, teks sastra juga memiliki kedekatan sebagai langue atau sistem tanda yang memisahkan dirinya dengan parole. Paling tidak, dalam situasi tersebut, penulisan teks sastra tidak sepenuhnya mampu mempertahankan spontanitasnya, terutama berkat peranan fiksasi dan pelembagaan bahasa. Salah satu tugas penafsiran adalah menghidupkan atau merekonstruksi sebuah teks dalam jaringan interaksi antara pembicara/penulis, pendengar/pembaca, dan situasi batin teks agar sebuah tulisan tidak teralienasi. Di lain pihak, semiotika pos-struktural memiliki kegairahan semaksimal mungkin dalam galaksi jaringan kode-kode petanda yang saling berangkai antara satu dengan lainnya, seperti berpetualang menikmati satu wilayah baru dan bernafsu menikmati wilayah baru lainnya, dalam suatu teks.

Komplesitas kedua yang menambah problem pemaknaan adalah bahwa teks sastra pada umumnya sangat memanfaatkan bahasa konotatif dan metaforis, bahasa yang berdiri di antara kutup ikonik yang riil dan kutup simbolik yang abstrak. Kelebihan lain dari bahasa konotatif dan metaforis yang dimanfaatkan teks sastra karena bahasa konotatif dan atau metaforis mampu mengakomodasi pemahaman dan penfasiran baru sehingga aktualitas teks seolah selalu terjaga. Di samping itu, bahasa konotatif dan metaforis mampu menjembatani ikatan emosional dan pemahaman kognitif sehingga kata dapat berfungsi ganda (lihat juga Ricoeur, 1967 dan 1989).

(13)

situasi ini terjadi suatu permainan pembaca dan kemungkinan ke arah petanda-petanda yang “ada” ke mana dan di mana sejauh dapat dijelajahi. Sangat mungkin setiap permainan itu memang ada aturan mainnya, tetapi apa yang terjadi dalam setiap permainan, tidak ada yang bisa mengatur atau menentukan. Dia bergerak bebas dalam koridor aturan permainan itu.

Pada sisi lain, koridor ini pulalah yang dapat disebut sebagai kontekstualisasi

permainan. Satu konteks aturan main hanya berlaku untuk satu konteks aturan main tertentu, demikian seterusnya. Orang Indonesia akan membaca satu teks tertentu dalam koridor kontekstualisasi aturan main yang dimilikinya sesuai dengan nilai-nilai, norma-norma, tanda-tanda ikonik, indeksial, dan simbolik bahasa yang dialami dan menjadi dirinya, wawasan pengalaman sejarah kebudayaannya, dan pada tingkat tertentu tujuan dan kepentingan pemaknaan itu sendiri. Hal itu pun masih bermasalah, orang Indonesia yang mana, orang Jawa-Indonesia, orang Melayu-Indonesia, atau orang Dayak-Melayu-Indonesia, dan sebagainya. Belum lagi dipertanyakan kemungkinan apakah pembaca itu perempuan atau laki-laki, orang yang dibesarkan di pantai atau di pegunungan, dan seterusnya.

Situasi ini berujung pada satu konsep, seperti diingatkan Derrida, tidak ada makna di luar konteks. Konsep ini mengingatkan kita bahwa konsep kebenaran pemaknaan bukan karena adanya sandaran terhadap fakta empirik, tetapi yang lebih penting dari itu adalah respons kontekstual terhadap setiap teks itu sendiri, siapa pun ia. Dalam perspektif ini dapat dikatakan bahwa semiotik pos-struktural mengakomodasi keunikan keberadaan manusiawi dan memenangkan individualitas atas kolektivitas.

(14)

yang mementingkan bentuk-bentuk wacana diskursif. Salah satu tugas dekonstruksi adalah membebaskan pemaknaan teks, mengembangkan dan mengungkap ambiguitas teks, serta menunjukkan kontradiksi internal, dan menunjukkan kelemahannya. Hal inilah yang disebut sebagai kondisi yang selalu mungkin (condition of possibilities) yang terdapat dalam teks.

Hal di atas senada dengan yang dikatakan Eco (1990), ia menyarankan agar bahasa (teks) dipahami dan diperlakukan seperti ensiklopedia yang selalu dinamis, terbuka, dan memungkinkan masuknya entri-entri baru, tidak sepeti kamus yang relatif tertutup. Perbedaan pentingnya adalah bahwa tafisiran "konvensional" (struktural) cenderung menempatkan bahasa sebagai sistem yang tertutup dan statis. Model ini dianggap tidak mampu lagi menangani apa yang disebut sebagai "semiosis tak terbatas" (unlimited semiosis, dalam hal ini Eco mengadopsi gagasan Peirce), sebuah kenyataan bahwa tanda dalam bahasa terkait dengan tanda-tanda lain, dan suatu teks selalu menawarkan kesempatan penafsiran yang tak terhingga banyaknya. Model ensiklopedia akan sesuai dengan jaringan tanpa pusat karena akan selalu memberi kesempatan bagi hadirnya entri-entri baru, makna-makna baru.

Perlu digarisbawahi bahwa dalam proses interpretasi yang menuju pemaknaan, walaupun tidak pernah sampai, yang penting bukan apa yang tertulis dalam teks, tetapi perjuangan yang penting justru mengelaborasi makna-makna sebanyak mungkin dari yang tidak dikatakan/tidak tertulis oleh teks. Dalam bahasa semiotik pos-struktural, bukan memburu atau merebut makna, tetapi justru menunda makna, sampai entah kapan. * * *

Daftar Pustaka

Abrams, M.H. 1979. The Mirror and the Lamp. London-New York: Oxford University Press.

Barthes, Roland. 1975. The Pleasure of the Text. New York: Hill and Wang. Derrida, 1978. Writing and Difference. London: Routledge & Kegan Paul. Derrida, 1981. Posisition. London: Athlone Press.

(15)

Foucault, Michel. 1977. The Order of Things: An Archeology of the Human Sciences. London: Tavistock Publications Limited.

Hidayat, Komaruddin. 1996. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian

Hermeneutik. Jakarta: Paramadina.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Palmer, R. E. 1969. Hermeneutics: Interpretation Theory in Schielmacher, Dilthey,

Heidegger, and Gadamer. Evanston: Northwestern University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1988. Beberapa Gagasan dalam Bidang Kritik Sastra Indonesia Modern. Klaten: Dwi Dharma.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan

Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.

Ricoer, Paul, 1976. Interpretation Theory: Dicourse and the Surplus of Meaning. Fort Worth: Texas Christian University Press.

Ricoeur, Paul. 1989. Hermeneutics and The Human Science. (Tr. John B. Thomson). Cambridge: Cambridge University Press.

Sayuti, Suminto A.. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media. Silverman, Hugh J. 1994. Textualities, Between Hermeneutics and Deconstruction.

London: Routledge.

Valdes, Mario J. 1987. Phenomenological Hermeneutics and The Study of Literature.

Referensi

Dokumen terkait