• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fashion dan Kelas Sosial dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Fashion dan Kelas Sosial dalam "

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Fashion dan Kelas Sosial

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Fashion, Selera, dan Kelas Sosial

Pakaian membedakan diri seseorang secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal

pakaian memperlihatkan pada kelas sosial mana seseorang berada, sementara secara

horizontal pakaian mengatur perilaku dan cara pandang seseorang tentang hubungan

sosialnya dengan sesama. Sebagai contoh, di Cina pada era Kekaisaran, warna yang

mencolok, corak yang beragam, dan bahan pakaian yang halus serta tebal membedakan

masyarakat kelas tinggi dengan rendah yang biasanya hanya mengenakan baju satu warna

tanpa corak dan berbahan tipis. Sementara itu, bentuk pakaian antara laki-laki dan perempuan

menunjukkan relasi sosial di antara keduanya. Pakaian perempuan yang kaku menyebabkan

mobilitas penggunanya terhambat. Ini dimaksudkan agar perempuan tidak banyak melakukan

perjalanan dan pekerjaan berat di luar rumah. Berbeda dengan pakaian laki-laki yang lebih

ringan, mudah dikenakan, dan fleksibel sehingga membuat mereka cocok untuk kegiatan luar

ruangan. Fungsi serupa juga berlaku di masyarakat belahan bumi lainnya. Hal ini

memperlihatkan bahwa pakaian tidak hanya berfungsi sebagai media untuk menunjukkan

kelas sosial seseorang kepada masyarakat melainkan juga mendidik seseorang untuk

berperilaku sesuai dengan ekspektasi masyarakat atas gendernya. Hal ini berlanjut hingga era

posmodern saat ini, sebagaimana yang dinyatakan Arvanitidou (2010) dalam jurnalnya:

fashion is part of the concrete, tangible, profound, complicated and symbolic process of

forming of the modern and postmodern Self, identity, body and social relations.

Higgins dan Eicher (1992) membedakan beberapa istilah yang biasa digunakan dalam

studi tentang fashion, antara lain dress, appearence, ornament, clothing, apparel, costume,

dan fashion. Kedua peneliti tersebut memilih menggunakan istilah dress dalam jurnalnya

yang berjudul Dress and Identitiy karena dianggap paling mewakili proses modifikasi dan

penambahan pada tubuh yang termasuk dalam istilah dress. Sementara itu, menurut kedua

peneliti tersebut, istilah fashion hanya memiliki sedikit kesamaan dengan istilah dress karena

istilah fashion lebih merujuk pada berbagai jenis produk kultural, baik material maupun

non-material seperti musik, teori ilmiah, filosofi, hiburan, dan sebagainya. Dalam tulisan ini,

penulis menggunakan istilah fashion untuk merujuk pada tren dalam berpakaian. Namun,

tidak semua pakaian dapat digolongkan sebagai fashion. Contohnya, beberapa pakaian

(3)

saat misa, dan sebagainya) yang tidak terpengaruh oleh perubahan fashion. Perubahan

tersebut adalah hal utama yang membedakan istilah fashion dan dress. Fashion adalah segala

sesuatu yang dianggap happening, in, atau sesuai dengan jaman. Sifat utamanya ini

ditentukan oleh taste maker. Ia adalah orang yang dengan kapitalnya dapat menentukan apa

yang layak atau tidak layak dikenakan, dikonsumsi, dimiliki, dan digandrungi saat ini.

Konsumsi (terutama yang berkaitan dengan fashion) dipengaruhi oleh selera. Dalam

tulisannya yang berjudul Critique of Judgement (1790), Immanuel Kant menyangkal bahwa

kelompok mayoritas atau kelompok sosial tertentu menentukan standar mengenai selera mana

yang dianggap baik dan tidak. Baginya, kecantikan atau keindahan bukanlah sebuah properti,

melainkan penilaian estetis yang didasarkan pada subjektifitas. Selera yang baik, tidak dapat

ditemukan dalam standarisasi atau generalisasi manapun. Ia lahir dari perasaan personal

seseorang dan melampaui hal-hal yang memiliki alasan-alasan logis. Gagasan Kant mendapat

kritikan dari Bourdieu yang berpendapat bahwa selera yang diakui dalam masyarakat adalah

selera milik kelas yang berkuasa (rulling class). Pernyataan ini secara otomatis juga menolak

ide Kant mengenai adanya kesejatian selera yang baik (genuine good taste). Simmel juga

menyatakan bahwa setelah fashion tertentu ditinggalkan oleh kelas atas, masyarakat kelas

bawah akan mengadopsinya. Karena itu, orang yang dapat secara konsisten mengikuti

perubahan trend yang ditentukan oleh selera masyarakat kelas atas dapat digolongkan sebagai

bagian dari masyarakat tersebut. Veblen menyatakan, mereka yang mampu membayar untuk

kemewahan (dalam hal apapun termasuk tren pakaian terbaru yang harganya sudah pasti tak murah) akan “melompat” ke situasi sosial yang lebih baik dari pada orang lain karena perolehan atas kemewahan akan selalu dianggap merefleksikan kondisi sosial yang baik.

Pada akhirnya, hal itu menciptakan kebutuhan akan barang mewah yang tidak esensial untuk

dimiliki, namun karena tuntutan dari selera kelas atas, barang-barang tersebut menjadi

komoditas yang paling dicari.

(4)

origin). Modal kultural terdiri atas akumulasi dari pengetahuan dan kemampuan untuk membuat perbedaan kultural.

Dengan menilai hubungan antara pola konsumsi, distribusi modal ekonomi, dan modal kultural, Bourdieu mengidentifikasi perbedaan selera di dalam masyarakat Perancis tahun 1960an. “Upper-class taste is characterized by refined and subtle distinctions, and it

places intrinsic value on aesthetic experience”. Sebagai konsekuensinya, anggota masyarakat

kelas menengah selalu mempraktekan “cultural goodwill” untuk menunjukkan tingkah laku

dan gaya hidup kelas atas. Sebaliknya, selera kelas pekerja ditegaskan melalui prinsip:

“gunakan apa yang penting”. Tidak ada perhatian khusus pada estetika. Hal ini dikarenakan

(5)

BAB II

tersebut mendaulat aktor yang berperan

dalam salah satu sekuel film James Bond,

yang diperankan Daniel Craig, ditambah dengan tulisan “James Bond’s Choice” di

sekuel 007: kaya, mandiri, dengan kehidupan yang flamboyan. Gerak sosialnya tidak pernah

terhambat oleh ketidakpunyaan modal ekonomi. Dan karenanya pula, ia mendapatkan

keuntungan/privilege dalam hal kemudahan akses memasuki kelompok sosial manapun, pergi

ke tempat manapun, dan berinteraksi dengan siapapun meski itu adalah pemimpin negara,

tokoh masyarakat, atau pemimpin organisasi yang biasanya sulit ditemui. Penampilannya ini

juga menjadi media untuk menebar pesona sensual yang hampir selalu berhasil menaklukan

hati wanita cantik nan seksi untuk berbaring bersama walau hanya semalam. James Bond

adalah simbol kesempurnaan laki-laki dari segi modal ekonomi, sosial, dan kultural.

Karenanya, ia adalah sosok yang diimpikan oleh hampir semua laki-laki dan segala cara

dilakukan oleh mereka agar dapat menjadi sepertinya. Iklan ini memberikan solusi untuk

mengangkat status sosial para lelaki agar minimal terlihat seperti James Bond meski hanya

(6)

Pakaian yang dikenakan oleh Daniel Craig dalam iklan tersebut juga menciptakan

distinction antara kelas sosial tinggi tempatnya berada dengan kelas sosial di bawahnya.

Seperti yang dianut oleh kultur Barat, tuxedo hanya dikenakan di acara-acara resmi yang

formal hingga semi-formal seperti acara kenegaraan, pesta dansa, penampilan “seni kelas

atas” (seperti opera, musik klasik, balet), dan acara-acara yang tidak mengharuskan

hadirinnya untuk melakukan mobilitas tinggi. Acara-acara semacam ini tentunya hanya bisa

dimasuki oleh orang yang berasal dari kelas sosial atau golongan tertentu. Selain jenis acara,

setting tempat dan waktu untuk mengenakan pakaian tuxedo juga khusus. Kita tidak pernah

melihat adegan di mana James Bond mengenakan pakaian tersebut untuk berjalan-jalan di

supermarket, kolam renang, pantai, atau tempat umum lainnya yang dapat diakses siapa saja.

Ia biasanya mengenakan setelan ini saat berada di dalam ruangan mewah lengkap dengan

gelas-gelas champagne, lampu kristal, dan bersama kalangan terbatas.

Pemilihan warna yang ditampilkan dalam iklan tersebut juga sangat minim karena

hanya terdiri dari hitam dan putih. Pemilihan warna monokrom ini, dipadukan dengan

identitas kelas yang ditunjukkan melalui sosok Daniel Craig a.k.a James Bond, membuat

warna hitam dan putih menjadi selera kalangan atas. Pria yang dipandang memiliki selera

yang baik dalam berbusana adalah ia yang tidak menampilkan banyak warna, cukup hitam

dan putih saja. Iklan ini juga menampilkan tampilan produk jam tangan seperti apa yang

menggambarkan selera kelas atas: berbahan stainless steel dan hanya memiliki satu pilihan

warna. Maka jika seorang laki-laki mengenakan jam tangan dengan warna selain silver, ia

bukan dan tidak akan diterima sebagai bagian dari masyarakat kelas atas. Tidak banyaknya

tulisan mengenai deskripsi atau iming-iming promosi juga menciptakan distinction antara

iklan produk ini yang ditujukan oleh masyarakat kelas atas dan iklan lainnya yang ditujukan

untuk masyarakat kelas atas. Sasaran produk ini diandaikan memiliki pengetahuan dan

kecerdasan yang tinggi sehingga mampu menginterpretasi iklan yang didominasi oleh gambar

semata. Keputusan untuk membeli tidak dipengaruhi oleh iming-iming harga murah,

promosi, penjelasan mengenai keunggulan produk, dan lainnya melainkan hanya satu hal:

estetika.

Mimpi yang dijual dalam iklan ini pada akhirnya menimbulkan kebutuhan masyarakat

untuk membeli item yang secara fungsi tidak terlalu mereka butuhkan (apalagi dengan harga

ratusan dolar seperti jam tangan Omega) untuk menaikkan prestise dan status sosialnya.

(7)

Iklan 2 –Brand “American Apparel”

menarik untuk diteliti karena ciri

khasnya yang sangat menonjol.

sebagian besar iklannya mengandung unsur seksisme, pornografi, dan provokatif, American

Apparel banyak pula menuai pujian atas keberhasilannya menampilkan sisi

ketidaksempurnaan pada setiap orang, jujur, ekspresif, dan minim sentuhan editing.

Penulis menyimpulkan bahwa sasaran dari produk American Apparel adalah kalangan

masyarakat menengah ke bawah. Hal tersebut didasarkan atas beberapa poin analisis berikut

ini. Iklan di atas mempromosikan produk celana ketat yang menjadi produk andalan brand

ini. Warna celana yang digunakan oleh sang model adalah coklat yang cukup mencolok.

Sementara background foto terlihat bersih tanpa banyak menampilkan barang-barang dan

kondisi kamar secara keseluruhan. Background yang bersih tersebut dapat diasosiasikan

dengan minimnya kepemilikan akan barang-barang. Namun, sang model terlihat bangga dan

percaya diri. Ia menjadi dirinya sendiri dan merasa bebas dari opini orang lain mengenai apa

yang pantas dan tidak pantas ditampilkan. Hal ini juga mengindikasikan sikap masyarakat

(8)

memiliki benda-benda yang diasosiasikan dengan kemewahan. Harga dirinya adalah

satu-satunya kemewahan yang ia miliki.

Di sisi lain, ekspresi kebebasan yang ditampilkan dalam iklan tersebut merupakan sikap

yang membedakan masyarakat kelas bawah dengan kelas atas. Sebagaimana dijelaskan oleh

Bourdieu, estetika selalu ditampilkan secara tersirat dalam masyarakat kelas atas Perancis

melalui “cultural goodwill” yang terwujud dalam bentuk tingkah laku yang cenderung teratur,

menyembunyikan ekspresi sesungguhnya, dan taat pada aturan kepantasan (mana yang boleh

dan tidak boleh diperlihatkan). Ini bertentangan dengan sikap dan perilaku yang ditunjukkan

dalam iklan tersebut di mana sang model terlihat melepaskan diri dari segala aturan dan

norma bahkan kultur yang berlaku. Hal ini terlihat dari tanda bekas bra yang melekat pada

bagian dadanya. Ini berarti ia selalu mengenakan bra dalam beraktifitas sehari-hari, namun

dalam iklan tersebut sang model melepaskan bra yang biasa digunakannya. Terlepas dari

alasan pribadinya, penggunaan bra dapat diartikan sebagai sikap patuh kepada kultur yang

mengharuskan perempuan untuk menutupi (terutama) putingnya. Sikap melepaskan diri ini

barangkali menjadi kritik atas kekakuan manner yang selalu diterapkan oleh masyarakat kelas

atas. Ketika sikap semacam ini berungkali diartikulasikan oleh American Apparel dalam

bentuk iklan visual, ia telah berkontribusi dalam produksi kebudayaan masyarakat Amerika

(9)

Iklan 3 –Brand “Dior”

Iklan selanjutnya berasal dari brand Dior. Iklan ini menampilkan Marion Cotillard,

seorang aktris Hollywood, sebagai modelnya. Dalam Vanity Fair May 2013 issue ini, Dior

meluncurkan berbagai koleksi tas terbarunya yang berwarna terang untuk merepresentasikan

tema Old Hollywood (vintage style).

Dalam iklan ini, Cotillard terlihat tengah berbaring di sebuah papan (yang mungkin

adalah meja) dengan posisi setengah berbaring sambil membelakangi jendela yang

memperlihatkan pemandangan gedung Saint Basil's Cathedral. Salah satu katedral tertua dan paling terkenal di Moskow, Rusia ini kini telah berubah fungsi menjadi museum. Dilihat dari

pemandangan yang nampak di luar jendela, ruangan tempat sang model berada pastilah

(10)

kelas atas yaitu mengutamakan estetika dibandingkan fungsi. Selain itu, furniture berupa meja berpelitur halus ditambah dengan ukiran di sisinya serta gorden berwarna krem yang menggantung di samping jendela, menyokong asumsi penulis bahwa ruangan tersebut pastilah berharga mahal karena perabotan yang terpajang bukanlah barang yang biasa hadir atau dimiliki oleh masyarakat kelas bawah.

Selain itu, iklan ini juga memperlihatkan perempuan yang banyak memiliki waktu luang dalam kehidupannya sehari-hari. Ia hanya terlihat berbaring di atas meja pada waktu siang hari dan bukan bekerja atau melakukan aktifitas produktif lainnya seperti halnya para perempuan kelas pekerja. Ini juga mengkonstruksi identitas wanita kelas atas yang tidak perlu bersusah payah bekerja untuk mendapatkan hal-hal yang ia inginkan. Wanita kelas atas adalah mereka yang selalu merawat penampilan tubuh agar senantiasa terlihat segar dan langsing serta pandai merias wajah. Hanya bermodalkan kedua hal tersebut, perempuan kelas atas dapat memiliki kemewahan dan menikmati me-time yang panjang dalam hidupnya. Maka untuk dapat diakui sebagai wanita kelas atas, seorang wanita memenuhi syarat berupa: memiliki postur tubuh yang langsing dan segar, pandai merias wajah, mampu memadu-padankan model dan warna pakaian, memiliki waktu luang yang banyak, serta tidak bekerja. Telah memiliki modal kultural tersebut, akan dianggap sebagai wanita kelas atas sementara mereka yang ingin naik kelas harus berusaha untuk memiliki modal tersebut.

(11)

Iklan 4 –Brand “Fruits”

Harajuku merupakan salah satu distrik

di kota Shibua, Jepang. Di dunia fashion,

Harajuku Style dikenal dengan ciri khasnya

yang kreatif dan bebas dalam memadukan

berbagai warna serta berbagai jenis fashion

item seperti kacamata, topi, aksesoris, hingga

payung. Ia menciptakan standar estetikanya

sendiri yang cenderung bertolak belakang

dengan standar estetika fashion di Barat.

Dari iklan salah satu brand asal

Jepang ini, kita dapat melihat kultur seperti

apa yang ingin diproduksi. Dari potongan

pakaiannya, brand ini menjual pakaian

dengan potongan yang lebar sehingga tidak

memperlihatkan bentuk tubuh yang

sesungguhnya. Hal ini berkebalikan dengan fashion tren di Barat saat ini yang justru

menggandrungi pakaian ketat sehingga menonjolkan setiap lekuk tubuh. Gaya tersebut dibuat

agar si pemakai mendapatkan perhatian dari orang lain karena bentuk tubuhnya yang bagus.

Sehingga menimbulkan kebutuhan dari para konsumen untuk memiliki bentuk tubuh ramping

sebagaimana kebanyakan brand ambassador merek-merek terkemuka di Barat agar pakaian

yang mereka beli nampak menempel secara sempurna. Tubuh yang ramping adalah modal

kultural yang paling penting bagi wanita kelas atas di masyarakat Barat dan kini menyebar

pula ke seluruh penjuru dunia, sehingga mereka yang memiliki tubuh “idea” tersebut akan

selalu berusaha menonjolkannya dengan menggunakan pakaian ketat. Namun pada iklan

tersebut, gaya berpakaian dan ideologi yang ditampilkan sangat berbeda. Pakaian yang

dikenakan para model sangat besar sehingga tidak ada yang tau persis bentuk tubuh mereka

seperti apa. Hal ini menyiratkan bahwa pakaian yang dikenakan dan gaya yang dipilih

merupakan upaya untuk memuaskan diri sendiri, bukan orang lain yang melihat. Mereka

mengenakan apa yang ingin mereka kenakan.

Tulisan “Harajuku Street Fashion” yang terletak di kiri bawah pun menegaskan

bahwa gaya yang dijual oleh brand Fruits merupakan gaya yang antimainstream karena

(12)

struktur dan standar yang telah mapan. Iklan ini ingin memproduksi kultur baru dalam

fashion remaja yaitu gaya yang bebas, apa adanya, subjektif, dan terlepas dari tuntutan untuk

terlihat sesuai dengan ekspektasi publik. Selain itu, latar belakang berupa jalan dan toko-toko

kecil juga menegaskan bahwa produk yang dijual dapat terjangkau serta dimiliki oleh siapa

saja. Fashion adalah milik semua orang, begitu juga dengan standar estetikanya. Karenanya,

siapapun dapat terlihat baik karena penilaian berada pada diri mereka sendiri dan bukan

orang lain. Ini menepiskan gagasan bahwa masyarakat kelas ataslah yang menentukan “good

(13)

Iklan 5 – Brand “Candie’s”

Candie’s merupakan brand terkemuka yang

menjual berbagai fashion item mulai dari pakaian,

sepatu, perhiasan, hingga parfum. Brand yang berdiri

sejak tahun 1981 ini berpusat di New York, Amerika

Serikat.

Salah satu iklan Candie’s ini terlihat mencolok

karena menggambarkan identitas kelas yang berbeda.

Di dalam gambar, kita dapat melihat seorang

perempuan yang tengah menyikat water closet (WC)

sambil melirik ke belakang dan menatap kamera.

Kegiatan tersebut adalah hal yang biasa dilakukan oleh

wanita sebagai pengurus rumah tangga. Yang istimewa

adalah penampilan yang ditonjolkan oleh wanita tersebut. Ia mengenakan dress berwarna

pink muda lengkap dengan high heels dan sanggul yang tertata rapi. Outfit seperti ini tentu

tidak akan dikenakan oleh ibu rumah tangga kelas bawah karena tidak ada gunanya sekaligus

berbahaya mengenakan high heels di dalam kamar mandi yang basah dan akan sangat

disayangkan jika dress bagus terkotori oleh sabun pembersih keramik. Tidak bermanfaat juga

menata rambut sedemikian rupa (yang pastinya juga memakan waktu lama) hanya untuk

bergumul dengan peralatan pembersih kamar mandi. Meski benda-benda yang berada di

kamar mandi tersebut terlihat umum dan mungkin dimiliki semua orang, penampilan rapi dan

harmonis yang ditunjukkan oleh sang model menunjukkan ia merupakan anggota masyarakat

kelas atas.

]Bagi wanita kelas atas, kegiatan yang mereka lakukan boleh saja sama dengan wanita

kelas bawah, tapi penampilan harus berbeda. Tidak peduli di mana pun mereka berada,

mereka akan selalu siap untuk “dilihat” sehingga dibutuhkan pula usaha lebih untuk selalu

terlihat baik agar label sebagai wanita kelas atas yang memiliki “good taste” tetap tersemat di

bahunya. Menyikat WC tetap harus dilakukan dengan stylish agar sesuai dengan ekspektasi

kelas. Pilihan warna pastel pada dress dan high heels yang digunakan oleh model tersebut

(14)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam pandangan Bourdieu mengenai selera, ia percaya bahwa selera yang dianggap

baik dalam masyarakat adalah selera masyarakat kelas atas. Sejak dulu hingga kini,

masyarakat kelas atas selalu menciptakan desain pakaian yang tidak dapat dijangkau oleh

masyarakat kelas bawah untuk menciptakan perbedaan antara masyarakat kedua kelas

tersebut. Desain yang dimaksud dapat berupa warna, corak, potongan, maupun bahan pakaian

yang khusus serta umumnya langka sehingga menciptakan prestige di kalangan

pemakaiannya. Penilaian mengenai mana selera berpakaian yang baik dan tidak kemudian

dilakukan oleh mereka. Penilaian tersebut didasarkan pada standar estetika yang juga mereka

ciptakan sendiri. Pada akhirnya, penampilan menjadi penanda kelas yang paling menonjol

dan penting dalam masyarakat sehingga setiap usaha untuk melakukan social climbing akan

dimulai melalui perbaikan penampilan. Sementara itu, masyarakat kelas bawah sebagai kelas

pekerja cenderung mementingkan fungsi ketimbang estetika dalam berpakaian.

Iklan cetak sebagai salah satu media yang dapat menyebarkan ideologi-ideologi kelas,

memainkan peran yang signifikan dalam produksi dan reproduksi budaya pada masyarakat

modern saat ini. Sosok yang ditampilkan dalam iklan, menghadirkan visualisasi kehidupan

masyarakat kelas atas yang bertabur kemewahan yang sekaligus juga menjadi mimpi dan

hasrat terdalam masyarakat kelas bawah. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk

mengadopsi ideologi yang terkandung dalam iklan dan mewujudkan mimpi tersebut. Proses

ini terus terjadi dan pada akhirnya mengkonstruk segala tindakan sosial yang dilakukan oleh

masyarakat untuk menaikkan kelas sosialnya.

3.2 Saran

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa terdapat ketidaksempurnaan penjelasan

mengenai theoritical framework dalam tulisan. Hal ini dapat disempurnakan dengan

mengulas pandangan Bourdieu mengenai cultural production yang dilakukan oleh iklan cetak

secara lebih mendalam dan menambahkan berbagai sudut pandang dari ilmuwan lain

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Arvanitidou, Zoi. 2010. Fashion, Gender, and Social Identity. Online article. Diakses pada 3

Juli 2016 melalui http://process.arts.ac.uk/sites/default/files/zoi-arvanitidou.pdf

Bourdieu, Pierre. 1984. Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Ebook.

https://en.wikipedia.org/wiki/Pierre_Bourdieu#Bourdieu.27s_theory_about_media_and_cultu

ral_production

Referensi

Dokumen terkait

mengumpulkan peraturan perundang-undangan, kebijakan teknis, pedoman dan petunjuk teknis serta bahan-bahan lain yang berhubungan dengan identifikasi, penerapan,

Memperkuat sarana yang bisa menambah keimanan, dengan menganjurkan untuk selalu dekat dengan ketaatan kepada Allah Ta'ala serta membenci perbuatan maksiat, sambil di

Hasil dari penelitian adalah dengan melihat pola sebaran pengunjung sehingga dapat dilihat bagaimana fasilitas pendukung dapat menjadi salah satu obyek pasif ataupun

tanaman ini akan tumbuh lebih baik pada solum tanah yang dalam..

Mekanika Lagrange W.S. Mekanika Lagrange W.S. Fisika Koloid Dasar Suparno, Ph.D. Fisika Koloid Dasar Suparno, Ph.D. Media Audio Visual *) Nur Kadarisman, M.Si. Mikroprosesor *)

Berapa besar pengaruh karakteristik perusahaan yang diukur oleh ukuran perusahaan, solvabilitas, laba/rugi, tingkat kompleksitas operasi, dan umur perusahaan terhadap audit

Sesuai dengan judul dalam penelitian ini, maka yang menjadi sampel penelitian adalah : Wajib Pajak Badan yang melakukan restitusi PPN LB dan Fiskus.. Berdasarkan pada

Nilai rata-rata organoleptik daging ikan Tuna (Thunnus albacares) segar pada waktu pengambilan sampel, pedagang yang berbeda dan 3 kali ulangan.. Nilai rata-rata