Identifikasi Perayapan Tanah (Soil Creeping) Penyebab Longsor Di Distrik Ilaga Kabupaten Puncak, Papua
ABSTRAK
Tanah longsor merupakan contoh dari proses geologi yang disebut dengan mass wasting, sering juga disebut gerakan massa (mass movement), hal tersebut merupakan perpindahan massa batuan, regolith, dan tanah dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah karena gaya gravitasi. Setelah batuan lapuk, gaya gravitasi akan menarik material hasil pelapukan ke tempat yang lebih rendah. Mengingat dampak yang dapat ditimbulkan oleh bencana tanah longsor, maka identifikasi daerah kejadian tanah longsor penting untuk dilakukan agar dapat diketahui penyebab utama longsor dan karakteristik dari tiap kejadian longsor sehingga dapat menjadi rujukan dalam mitigasi bencana longsor berikutnya. Identifikasi daerah kejadian longsor juga penting untuk mengetahui hubungan antara lokasi kejadian longsor dengan faktor persebaran geologi (batuan, patahan, lipatan) dan penggunaan lahan di daerah terjadinya longsor, sehingga dapat diketahui penggunaan lahan seperti apa yang sesuai pada setiap karakteristik lahan dan geologinya. Karakteristik longsor (landslide) yang terjadi di Distrik Ilaga ada 2 macam yaitu rayapan tanah (soil creeping) lalu yang terdapat pada beberapa lokasi dan penurunan muka tanah yakni amblesan (subsidence) yang terjadi pada 3 lokasi berbeda yakni Kp Kimak, Kp Tagaloa, dan Kp Kago. Gerakan perayapan tanah (Soil Creeping) merupakan suatu proses perpindahan masa batuan atau tanah akibat gaya berat (gravitasi). Longsoran tanah telah lama menjadi perhatian ahli geologi karena dampaknya banyak menimbulkan korban jiwa maupun kerugian harta benda. Tidak jarang pemukiman yang dibangun di sekitar perbukitan kurang memperhatikan masalah kestabilan lereng, struktur batuan, dan proses-proses geologi yang terjadi di kawasan tersebut sehingga secara tidak sadar potensi bahaya longsoran tanah setiap saat mengancam jiwanya.
Kata kunci : mass wasting, landslide, soil creeping, geologi
I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
minimnya kesadaran masyarakat akan bahaya gerakan tanah dengan melakukan tindakan yang memicu terjadinya kelongsoran tanah.
Bencana alam merupakan peristiwa alam yang dapat terjadi setiap saat dimana saja dan kapan saja, yang menimbulkan kerugian material dan imaterial bagi kehidupan masyarakat. Tanah longsor merupakan salah satu bencana alam yang umumnya terjadi di wilayah pegunungan (mountainous area), terutama di musim hujan yang dapat mengakibatkan kerugian harta benda maupun korban jiwa dan menimbulkan kerusakan sarana dan prasarana lainnya seperti perumahan, industri, dan lahan pertanian yang berdampak pada kondisi sosial masyarakatnya dan menurunnya perekonomian di suatu daerah.
Gerakan perayapan tanah (Soil Creeping) merupakan suatu proses perpindahan masa batuan atau tanah akibat gaya berat (gravitasi). Longsoran tanah telah lama menjadi perhatian ahli geologi karena dampaknya banyak menimbulkan korban jiwa maupun kerugian harta benda. Tidak jarang pemukiman yang dibangun di sekitar perbukitan kurang memperhatikan masalah kestabilan lereng, struktur batuan, dan proses-proses geologi yang terjadi di kawasan tersebut sehingga secara tidak sadar potensi bahaya longsoran tanah setiap saat mengancam jiwanya. Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus, jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.
Faktor internal yang menjadi penyebab terjadinya longsoran tanah adalah daya ikat (kohesi) tanah atau batuan yang lemah sehingga butiran-butiran tanah atau batuan dapat terlepas dari ikatannya dan bergerak ke bawah dengan menyeret butiran lainnya yang ada disekitarnya membentuk massa yang lebih besar. Lemahnya daya ikat tanah atau batuan dapat disebabkan oleh sifat kesarangan (porositas) dan kelolosan air (permeabilitas) tanah atau batuan maupun rekahan yang intensif dari masa tanah atau batuan tersebut. Sedangkan faktor eksternal yang dapat mempercepat dan menjadi pemicu longsoran tanah dapat terdiri dari berbagai faktor yang kompleks seperti kemiringan lereng, perubahan kelembaban tanah atau batuan karena masuknya air hujan, tutupan lahan serta pola pengolahan lahan, pengikisan oleh air yang mengalir (air permukaan), ulah manusia seperti penggalian dan lain sebagainya.
bersama-sama dengan pembentukan 5 kabupaten lainnya di Papua. Ditrik Ilaga merupakan salah satu dari 8 distrik lainnya yang ada di Kabupaten Puncak Papua. Luas wilayah Kabupaten Puncak sebesar 8.055 km2, total kepadatan penduduk kabupaten puncak mencapai 60.294 jiwa
dan terletak pada ketinggian 2700 mdpl. Curah hujan Distrik Ilaga Kabupaten puncak mencapai 4000-4500mm dengan kelembapan 80%. Distrik Ilaga menjadi daerah dengan potensi bencana longsor, dikarenakan pada daerah tersebut terletak pada dataran tinggi dan banyaknya topografi curam berpotensi longsor dalam skala kecil bahkan besar pada daerah-daerah tertentu.
Mengingat dampak yang dapat ditimbulkan oleh bencana tanah longsor tersebut, maka identifikasi daerah kejadian tanah longsor penting untuk dilakukan agar dapat diketahui penyebab utama longsor dan karakteristik dari tiap kejadian longsor pada daerah-daerah di Indonesia serta sebagai langkah awal pencegahan kejadian longsor nantinya dan merupakan langkah pertama dalam upaya meminimalkan kerugian akibat bencana tanah longsor. Identifikasi daerah kejadian longsor juga penting untuk mengetahui hubungan antara lokasi kejadian longsor dengan faktor persebaran geologi (batuan, patahan, lipatan) dan penggunaan lahan di daerah terjadinya longsor, sehingga dapat diketahui penggunaan lahan apa yang sesuai pada setiap karakteristik lahan dan geologinya.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui karakter dan pola longsor yang terjadi di daerah Distrik Ilaga.
2. Mengidentifikasi pergerakan tanah (soil creeping) dan mengevaluasi penyebab-penyebab terjadinya longsor di Distrik Ilaga.
3. Menentukan fakfor-faktor penyebab utama terjadinya longsor di Ilaga, Puncak. 1.3 Manfaat
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Tanah Longsor
Menurut Suripin (2002) tanah longsor merupakan bentuk erosi dimana pengangkutan atau gerakan masa tanah terjadi pada suatu saat dalam volume yang relatif besar. Peristiwa tanah longsor dikenal sebagai gerakan massa tanah, batuan atau kombinasinya, sering terjadi pada lereng-lereng alam atau buatan dan sebenarnya merupakan fenomena alam yaitu alam mencari keseimbangan baru akibat adanya gangguan atau faktor yang mempengaruhinya dan menyebabkan terjadinya pengurangan kuat geser serta peningkatan tegangan geser tanah. Berdasarkan Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (2005) menyatakan bahwa tanah longsor boleh disebut juga dengan gerakan tanah. Didefinisikan sebagai massa tanah atau material campuran lempung, kerikil, pasir, dan kerakal serta bongkah dan lumpur, yang bergerak sepanjang lereng atau keluar lereng karena faktor gravitasi bumi.
Menurut Sitorus (2006), longsor (landslide) merupakan suatu bentuk erosi yang pengangkutan atau pemindahan tanahnya terjadi pada suatu saat yang relatif pendek dalam volume (jumlah) yang sangat besar. Berbeda halnya dengan bentuk-bentuk erosi lainnya (erosi lembar, erosi alur, erosi parit) pada longsor pengangkutan tanah terjadi sekaligus dalam periode yang sangat pendek. Sedangkan menurut Dwiyanto (2002), tanah longsor adalah suatu jenis gerakan tanah, umumnya gerakan tanah yang terjadi adalah longsor bahan rombakan (debris avalanches) dan nendatan (slumps/rotational slides). Gaya-gaya gravitasi dan rembesan (seepage) merupakan penyebab utama ketidakstabilan (instability) pada lereng alami maupun lereng yang di bentuk dengan cara penggalian atau penimbunan.
itu air juga akan menambah berat massa material, sehingga kemungkinan cukup untuk menyebabkan material untuk meluncur ke bawah.
2.2 Tipe longsor
Penurunan tanah (subsidence) dapat terjadi akibat adanya konsolidasi, yaitu penurunan permukaan tanah sehubungan dengan proses pemadatan atau perubahan volume suatu lapisan tanah. Proses ini dapat berlangsung lebih cepat bila terjadi pembebanan yang melebihi faktor daya dukung tanahnya ataupun pengambilan air tanah yang berlebihan dan berlangsung relatif cepat. Pengambilan air tanah yang berlebihan dapat mengakibatkan penurunan muka air tanah (pada sistem akuifer air tanah dalam) dan turunnya tekanan hidrolik, sedangkan tekanan antar batu bertambah. Akibat beban di atasnya menurun. Penurunan tanah pada umumnya terjadi pada daerah dataran yang dibangun oleh batuan atau tanah yang bersifat lunak (Sangadji, 2003).
2.3 Macam tipe longsoran aliran lambat (slow flowage)
Slow flowage adalah jenis mass wasting yang gerakannya sangat lambat dan tidak dapat dilihat oleh mata, meskipun dapat diketahui gejala-gejalanya. Menurut (John Wiley & Sons,2004) Gejala-gejala mass wasting antara lain daerahnya miring dan terdapat pepohonan yang batangnya bengkok ke atas. Peristiwa mass wasting jenis ini dikenal dengan istilah rayapan massa (creep), jika material yang merayap hanya berwujud tanah maka rayapan tersebut dinamakan rayapan tanah (soil creep).
1. Rayapan (Creep): perpindahan material batuan dan tanah ke arah kaki lereng dengan pergerakan yang sangat lambat.
2. Rayapan tanah (Soil creep): perpindahan material tanah ke arah kaki lereng
3. Rayapan talus (Talus creep): perpindahan ke arah kaki lereng dari material talus/scree.
4. Rayapan batuan (Rock creep): perpindahan ke arah kaki lereng dari blok-blok batuan.
5. Rayapan batuan glacier (Rock-glacier creep): perpindahan ke arah kaki lereng dari limbah batuan.
6. Soil fluction/Liquefaction: aliran yang sangat berlahan ke arah kaki lereng dari material debris batuan yang jenuh air.
1. Jenis jatuhan
Material batu atau tanah dalam longsor jenis ini jatuh bebas dari atas tebing. Material yang jatuh umumnya tidak banyak dan terjadi pada lereng terjal.
2. Longsoran
Longsoran yaitu massa tanah yang bergerak sepanjang lereng dengan bidang longsoran melengkung (memutar) dan mendatar. Longsoran dengan bidang longsoran melengkung, biasanya gerakannya cepat dan mematikan karena tertimbun material longsoran. Sedangkan longsoran dengan bidang longsoran mendatar gerakannya perlahan-lahan, merayap tetapi dapat merusakkan dan meruntuhkan bangunan di atasnya. 3. Jenis aliran
Jenis aliran yaitu massa tanah bergerak yang didorong oleh air. Kecepatan aliran bergantung pada sudut lereng, tekanan air, dan jenis materialnya. Umumnya gerakannya di sepanjang lembah dan biasanya panjang gerakannya sampai ratusan meter, di beberapa tempat bahkan sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai daerah gunung api. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.
4. Gerakan tanah gabungan
Gerakan tanah gabungan yaitu gerakan tanah gabungan antara longsoran dengan aliran atau jatuhan dengan aliran. Gerakan tanah jenis gabungan ini yang banyak terjadi di beberapa tempat akhir-akhir ini dengan menelan korban cukup tinggi.
2.4 Penyebab Longsor
Faktor penyebab terjadinya gerakan pada lereng juga tergantung pada kondisi batuan dan tanah penyusun lereng, struktur geologi, curah hujan, vegetasi penutup dan penggunaan lahan pada lereng tersebut, namun secara garis besar dapat dibedakan sebagai faktor alami dan manusia. Menurut Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (2005), tanah longsor dapat terjadi karena faktor alam dan faktor manusia sebagai pemicu terjadinya tanah longsor, yaitu :
A. Faktor alam
Kondisi alam yang menjadi faktor utama terjadinya longsor antara lain:
berfungsi sebagai bidang longsoran, adanya retakan karena proses alam (gempa bumi, tektonik).
b. Keadaan tanah : erosi dan pengikisan, adanya daerah longsoran lama, ketebalan tanah pelapukan bersifat lembek, butiran halus, tanah jenuh karena air hujan.
c. Iklim: curah hujan yang tinggi, air (hujan di atas normal) d. Keadaan topografi: lereng yang curam.
e. Keadaan tata air: kondisi drainase yang tersumbat, akumulasi massa air, erosi dalam, pelarutan dan tekanan hidrostatika, susut air cepat, banjir, aliran bawah tanah pada sungai f. Tutupan lahan yang mengurangi tahan geser, misal lahan kosong, semak belukar di
tanah kritis. B. Faktor manusia
Ulah manusia yang tidak bersahabat dengan alam antara lain : a. Pemotongan tebing pada penambangan batu di lereng yang terjal. b. Penimbunan tanah urugan di daerah lereng.
c. Kegagalan struktur dinding penahan tanah.
d. Perubahan tata lahan seperti penggundulan hutan menjadi lahan basah yang menyebabkan terjadinya pengikisan oleh air permukaan dan menyebabkan tanah menjadi lembek
e. Adanya budidaya kolam ikan dan genangan air di atas lereng. f. Sistem pertanian yang tidak memperhatikan irigasi yang aman.
g. Pengembangan wilayah yang tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat, sehingga RUTR tidak ditaati yang akhirnya merugikan sendiri.
h. Sistem drainase daerah lereng yang tidak baik yang menyebabkan lereng semakin terjal akibat penggerusan oleh air saluran di tebing.
i. Adanya retakan akibat getaran mesin, ledakan, beban massa yang bertambah dipicu beban kendaraan, bangunan dekat tebing, tanah kurang padat karena material urugan atau material longsoran lama pada tebing.
j. Terjadinya bocoran air saluran dan luapan air saluran.
tanah di atas suatu lapisan agak kedap air yang jenuh air. Lapisan yang terdiri dari tanah liat atau mengandung kadar tanah liat tinggi setelah jenuh air akan bertindak sebagai peluncur. Longsoran akan terjadi jika terpenuhi tiga keadaan sebagai berikut :
a. Adanya lereng yang cukup curam sehingga massa tanah dapat bergerak atau meluncur ke bawah,
b. Adanya lapisan di bawah permukaan massa tanah yang agak kedap air dan lunak, yang akan menjadi bidang luncur.
c. Adanya cukup air dalam tanah sehingga lapisan massa tanah yang tepat di atas lapisan kedap air tersebut menjadi jenuh. Lapisan kedap air dapat berupa tanah liat atau mengandung kadar tanah liat tinggi, atau dapat juga berupa
lapisan batuan.
Penyebab terjadinya tanah longsor dapat bersifat statis dan dinamis. Statis merupakan kondisi alam seperti sifat batuan (geologi) dan lereng dengan kemiringan sedang hingga terjal, sedangkan dinamis adalah ulah manusia. Ulah manusia banyak sekali jenisnya dari perubahan tata guna lahan hingga pembentukan gawir yang terjal tanpa memperhatikan stabilitas lereng (Surono, 2003). Sedangkan menurut Sutikno (1997), faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gerakan tanah antara lain : tingkat kelerengan, karakteristik tanah, keadaan geologi, keadaan vegetasi, curah hujan atau hidrologi, dan aktivitas manusia di wilayah tersebut.
Berdasarkan Direktorat Geologi Tata Lingkungan (1981), faktor-faktor penyebab terjadinya tanah longsor antara lain adalah sebagai berikut :
a. Topografi atau lereng, b. Keadaan tanah atau batuan, c. Curah hujan atau keairan, d. Gempa atau gempa bumi,
e. Keadaan vegetasi atau hutan dan penggunaan lahan.
miring berpotensi untuk longsor. Menurut Anwar et al (2001), dari berbagai kejadian longsor, dapat didentifikasi 3 tipologi lereng yang rentan untuk bergerak yaitu:
a. Lereng timbunan tanah residual yang dialasi oleh batuan kompak. b. Lereng batuan yang berlapis searah lereng topografi.
c. Lereng yang tersusun oleh blok-blok batuan.
III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Juli 2014 sampai dengan bulan Agustus 2014, pada periode KKN antar semester 2014 dengan lokasi penelitian dan pengambilan data di daerah kejadian longsor Distrik Ilaga Kabupaten Puncak.
3.2 Peralatan dan Data yang Digunakan
Peralatan yang digunakan adalah Perangkat Keras (hardware) terdiri dari personal computer dan printer. Perangkat lunak (software) terdiri dari ArcView 3.2, Mapsource, dan Ms-Office, selain itu dalam pengambilan data bio-fisik lapangan juga digunakan suunto clinometer, meteran, GPS (Global Positioning System) Garmin 12 XL, kamera digital, kalkulator, dan alat tulis.
Sedangkan bahan-bahan yang diperlukan diantaranya adalah peta digital Kabupaten Puncak hasil Interpretasi Citra satelit (landsat SPOT 5) tahun 2012 berbagai layer dan Peta Geologi Lembar Papua Skala 1: 100.000
3.3 Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan berupa data spatial dan data atribut (data curah hujan) yang diperoleh dari beberapa instansi terkait. Pengamatan dilakukan di lokasi longsor, adapun data peta yang dikumpulkan adalah sebagai berikut :
a. Peta Rupa Wilayah Administratif Kabupaten Puncak Tahun 2012 skala 1:25.000 diperoleh dari Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Puncak.
c. Peta Rupa Geologi Kabupaten Puncak Tahun 2005 Skala 1: 25000 yang diperoleh dari Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Puncak.
d. Data Atribut Kejadian Longsor di Kawasan Puncak, Papua diperoleh dari KPH Papua e. Peta Titik Lokasi Kejadian Longsor Hasil Pengolahan Data Pemetaan di Lapangan
dengan Menggunakan GPS.
3.4 Pengumpulan Data Bio-Fisik Lapangan
Pengumpulan data di lapangan dilakukan secara langsung melalui kegiatan survey dan pengamatan langsung (observasi), wawancara, dan dokumentasi yang bertujuan mencatat sifat-sifat fisik di lapangan. Pengamatan dan pengumpulan data lapangan dilakukan setelah faktor-faktor penyebab terjadinya tanah longsor dapat teridentifikasi. Proses identifikasi dan pemilihan parameter yang diamati berdasarkan atas kondisi wilayah penelitian dan hasil kajian pustaka. Dalam hal ini pertimbangan teoritis (hasil studi pustaka) dan faktor kondisi fisik wilayah penelitian menjadi acuan dalam menetapkan berbagai faktor penyebab tanah longsor. Kondisi wilayah yang menjadi pertimbangan untuk menetapkan suatu parameter antara lain :
1) Kondisi Longsor (landslide), yaitu : tipe longsor, kondisi zona (wilayah) di sekitar lokasi atau titik longsor, dan luasan area kejadian longsor.
2) Keadaan vegetasi yaitu : jenis vegetasi tutupan lahan (land cover) dan jenis tanaman. 3) Karakteristik fisik tanah, yaitu : ketebalan tanah (solum), tekstur tanah, dan struktur tanah
pada lokasi kejadian longsor
4) Kelerengan yaitu slope (kemiringan lereng)
5) Bentang Lahan (landform), yaitu : material longsor, bentang lahan (bentuk lahan)
6) Penggunaan lahan (landuse), yaitu : kebun campuran, tegakan campuran, semak belukar, dan lading atau tegalan.
7) Usaha Konservasi, yaitu : upaya yang dilakukan dalam rangka mencegah terjadinya bahaya longsor : pembuatan teras, pembuatan saluran air, dan pembangunan.
3.5 Pengolahan Data
klasifikasi maupun peruntukan penggunaannya. Data yang diperoleh dikelompokkan menurut jenisnya. Data yang diperoleh terdiri dari :
1. Data atribut hasil analisis data spatial.
2. Data bio-fisik hasil pengukuran, pengamatan, dan pengujian di lapangan (tekstur tanah, struktur tanah, kemiringan lereng, ketebalan tanah)
3. Data sosial, ekonomi dan budaya, jumlah penduduk, produktivitas pertanian, mata pencaharian, budaya dan agama, dan sebagainya
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran umum lokasi
a. Letak dan Luas
Kabupaten Puncak adalah sebuah kabupaten di Provinsi Papua, Indonesia. Kabupaten ini dibentuk pada tanggal 4 Januari 2008 berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2008, bersama-sama dengan pembentukan 5 kabupaten lainnya di Papua. Ditrik Ilaga merupakan salah satu dari 8 distrik lainnya yang ada di Kabupaten Puncak Papua. Luas wilayah Kabupaten Puncak sebesar 8.055 km2 , total kepadatan penduduk kabupaten puncak mencapai 60.294 jiwa
dan terletak pada ketinggian 2700 mdpl. Curah hujan Distrik Ilaga Kabupaten puncak mencapai 4000-4500 mm dengan kelembapan 80%. Distrik Ilaga menjadi daerah dengan potensi bencana longsor, dikarenakan pada daerah tersebut terletak pada dataran tinggi dan banyaknya topografi curam berpotensi longsor dalam skala kecil bahkan besar pada daerah-daerah tertentu. Lokasi pengamatan dilakukan di Distrik Ilaga Kabupaten Puncak, Papua. Wilayah distrik tersebut terletak disebelah utara kabupaten Puncak.
b. Karakteristik tanah
c. Batuan dan Geologi
Secara geologis sebagian besar lahan Kabupaten Puncak tersusun dari batuan gunung api berupa produk gunung api muda dan gunung api tua (lempung lanaunan, lanau lempungan, lempung pasiran dan bongkah pasiran) yang meliputi 36 % wilayah, batuan sedimen (47 % wilayah), serta sedikit gamping, endapan permukaan, dan batuan intrusi.
Berdasarkan Peta Digital Sebaran Geologi Kabupaten Puncak, jenis batuan induk dan jenis tanah di Distrik Ilaga ialah :
No Jenis Tanah ketinggian (m) Presentase (%)
1. Lempung Lanaunan 2640 25,5
2. Lanau lempungan 2508 23,5
3. Lempung pasiran 2256 34,5
4. Bongkah pasiran 2316 16,5
Total 100
Kejadian longsor di Distrik Ilaga terjadi di 3 Desa yaitu Kampung Kago, Kampung Kimak, Kampung Tagaloa. Kejadian beberapa kasus terjadi pada bukit dengan dataran cukup curam, terutama dengan tingkat kemiringan 60-70 %.
4.3 Karakteristik Longsor Pada Distrik Ilaga
Berdasarkan hasil pengamatan ketika survey lokasi, terdapat 2 karakteristik longsor yang ditemukan, yaitu 1) Rayapan Tanah (Soil Creeping) dan 2) penurunan tanah atau amblesan (subsidence). Tipe longsor rayapan tanah (soil creeping) merupakan tipe gerakan tanah luncuran ke bawah berupa perpindahan massa batuan atau material lepas dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah melalui suatu bidang luncur yang umumnya berbentuk lengkung (rotasional). Rayapan Tanah juga dapat diartikan sebagai jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus, jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.
Contoh gambar terjadinya longsoran akibat rayapan tanah (Soil Creeping)
memiliki kerapatan tinggi seperti pada kasus longsor di Kp.Tagaloa. Pepohonan yang terdapat pada lokasi longsor tersebut diantaranya adalah pohon Jeruk, pohon beringin, serta pohon-pohon penghasil kayu dan rumpun bambu. Keadaan penutupan vegetasi berupa tegakan campuran yang memiliki profil yang besar dan rapat tersebut ternyata malah menambah beban lereng terutama ketika tanah jenuh air akibat hujan lebat. Ini dikarenakan pohon-pohon besar bila akarnya tidak menancap pada batuan dasar akan justru membebani lereng, terutama bila lereng tersebut ditimpa hujan yang diikuti oleh angin. Beban pohon besar yang telah miring dan tertiup angin kencang merupakan beban dinamis yang menambah resiko longsornya tanah. Hal inilah yang menjadikan lahan rawan terhadap gerakan tanah dan akhirnya menyebabkan longsor.
Gambar : Kelerengan distrik Ilaga
4.4 Kemiringan Lereng dan Topografi
Namun, tidak semua lahan dengan kondisi miring mempunyai potensi untuk longsor, hal ini tergantung pada karakter lereng terhadap respon tenaga pemicu terutama respon lereng terhadap curah hujan. Pola penggunaan lahan untuk pemukiman, dan perkantoran maupun semak belukar terutama pada daerah-daerah yang mempunyai kemiringan lereng terjal dapat mengakibatkan tanah menjadi gembur yang lambat laun akan mengakibatkan terjadinya gerakan tanah atau rayapan tanah (soil creeping). Kondisi litologi atau bahan induk yang berupa batuan dan tanah merupakan faktor penting yang dapat memicu terjadinya proses gerakan tanah. Serta kandungan air permukaan juga merupakan faktor penting yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah atau kelongsoran (kecepatannya tergantung dari tekstur dan struktur tanah).
4.5 Karakteristik Tanah
Berdasarkan hasil tumpangsusun (overlay) antara peta lokasi kejadian longsor dan peta tanah tinjau, terdapat 3 jenis tanah yang ditemukan pada lokasi kejadian longsor yaitu jenis tanah gabungan latosol coklat dan latosol kemerahan, dan jenis tanah kompleks latosol merah kekuningan latosol coklat kemerahan dan litosol serta Inceptisol keabuan. Jenis tanah yang paling luas ditemukan di distrik Ilaga adalah jenis gabungan antara latosol coklat dan latosol kemerahan. Tanah latosol merupakan jenis yang memiliki tekstur tanah liat, konsistensi yang gembur dan tetap dari atas sampai bawah, serta struktur lemah sampai gumpal lemah. Tanah ini mempunyai tingkat permeabilitas yang tinggi, sifat tersebut menyebabkannya mempunyai tingkat kepekaan terhadap erosi yang kecil. Menurut Arsyad (1971), beberapa sifat-sifat tanah lainnya yang mempengaruhi bencana longsor adalah tekstur, struktur, kandungan bahan organik, sifat lapisan bawah, kedalaman tanah, dan tingkat kesuburan tanah. Tekstur, struktur tanah, dan kedalaman tanah menentukan besar kecilnya air limpasan permukaan dan laju penjenuhan tanah oleh air.
hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.
Sedangkan pada kondisi dengan tanah liat, tanah-tanah yang mengandung liat dalam jumlah yang tinggi dapat tersuspensi oleh butir-butir hujan yang jatuh menimpanya dan pori-pori lapisan permukaan akan tersumbat oleh butir-butir liat. Hal ini menyebabkan terjadinya aliran permukaan dan erosi yang hebat atau sering disebut sebagai longsor.
Longsor bisa disebabkan karena rapuhnya struktur tanah dan terlalu berlebihannya kandungan air tanah tanpa adanya penyerap yang berfungsi sebagai penahan, seperti pepohonan. Tanah yang memiliki tingkat kerapatan tinggi (tidak sarang) akan memiliki tingkat kestabilan yang tinggi pula. Tanah di lokasi kejadian longsor memiliki struktur berupa butiran halus sampai dengan butiran kasar berbentuk granular atau prisma. Tanah-tanah yang berstruktur kersai atau granular ini lebih terbuka dan lebih sarang sehingga akan menyerap air lebih cepat daripada yang berstruktur dengan susunan butir-butir primernya lebih rapat. Hal ini menyebabkan struktur tanah lebih rapuh akibat tanah yang cepat jenuh air saat terjadi hujan lebat dalam waktu lama yang akhirnya berdampak pada terjadinya longsor.
4.6 Pergerakan Tanah
Akibat dari peristiwa gerakan tanah terjadi banyak sekali kerusakan pada bangunan pemukiman penduduk karena terjadinya pergeseran pondasi bangunan berupa retakan-retakan atau patahan yang terlihat jelas pada beberapa kejadian longsor seperti di Kp. Kimak, Kp. Tagaloa, Kp. Kago. Umumnya kasus longsor dengan patahan akibat gerakan tanah ini berkarakteristik longsor berupa rayapan tanah (Soil creeping). Adapun terjadinya amblesan pada kejadian longsor tersebut telah membentuk suatu gawir dengan tanah turun sedalam 0,5-4 m. kejadian pergerakan tanah terjadi cukup lama seiring cuaca pada kondisi sekitar. Amblesan atau rayapan tanah ini dapat terjadi akibat adanya konsolidasi, yaitu penurunan permukaan tanah sehubungan dengan proses pemadatan atau perubahan volume suatu lapisan tanah. Penurunan lapisan tanah ini biasa terjadi secara alami dalam waktu yang lama (lambat). Akan tetapi, proses ini dapat berjalan lebih cepat bila terjadi pembebanan yang melebihi faktor daya dukung tanahnya. Akibat beban di atasnya, lapisan tanah ini akan termampatkan dan permukaan tanah di atasnya akan menurun. Pada kasus kejadian longsor di Distrik Ilaga, terjadinya dengan karakteristik amblesan atau penurunan tanah ini selain dipicu adanya gerakan tanah juga dikarenakan padatnya pemukiman di sekitar lokasi kejadian longsor yang membebani lereng misalnya yang terjadi di Kp. Kimak dan Kp Tagaloa.
4.7 Geologi atau Batuan Induk
Kondisi geologi yang perlu diperhatikan meliputi sifat fisik tanah atau batuan, susunan dan kedudukan batuan, serta struktur geologi. Struktur geologi atau batuan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya longsor. Menurut Wilopo dan Agus (2005), batuan formasi andesit dan breksi merupakan faktor pemicu terjadinya longsor karena sifatnya yang kedap air. Sehingga batuan yang bersifat andesit dan breksi tersebut dapat dijadikan sebagai bidang gelincir untuk terjadinya longsor. Dalam keadaan jenuh air pada musim hujan, ditambah dengan tekstur tanah lempung pasiran maka pada daerah yang memiliki batuan induk bersifat andesit menjadi rawan longsor.
Lereng-lereng di lokasi kejadian longsor pada permukaannya juga tertutup tanah lempung pasiran hasil pelapukan lapisan batu andesit dan breksi andesit. Adapun sifat tanah lempung pasiran ini bersifat plastis dalam kondisi basah atau dapat mengembang. Namun, dalam kondisi kering lapisan tanah ini menjadi pecah-pecah. Oleh karena itu, ketika musim hujan tiba, air hujan cenderung mengalir melalui lereng-lereng curam yang ada di Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak ini. Namun, selama melalui lereng ini air hujan ini tak dapat meresap lebih dalam karena terhalang oleh batuan andesit. Akibatnya, air hujan akan terakumulasi di sekitar lereng dan akan terus mendorong lapisan tanah lempung yang ada di atasnya hingga terjadilah peristiwa longsor.
batuan induk bersifat andesit, basalt, atau breksi, serta dengan kemiringan yang curam, maka akan menjadikan daerah tersebut rawan longsor. Tanah bertekstur pasir berperan dalam meningkatkan infiltrasi tanah. Jika tanah dalam keadaan jenuh air, massa tanah akan menjadi lebih berat.
Selain itu, tanah hasil pelapukan batuan merupakan salah satu parameter yang menentukan terjadinya longsor. Batuan dan tanah pelapukan di daerah penelitian tersusun dari breksi vulkanik, tufa breksi, dan lava serta adanya sisipan batupasir serta lempung hitam yang bagian permukaannya telah mengalami pelapukan berupa lempung pasiran dan lempung lanauan yang cukup tebal. Jenis tanah yang bersifat lempung, lanau, pasir, merupakan jenis tanah yang mudah meloloskan air. Sifat tersebut menjadikan tanah bertambah berat bobotnya jika tertimpa hujan. Apabila tanah tersebut berada di atas batuan kedap air pada kemiringan tertentu maka air yang masuk akan tertahan dan tanah pada kemiringan tertentu akan berpotensi menggelincir menjadi longsor.
V. KESIMPULAN DAN SARAN a. Kesimpulan
1. Karakteristik longsor (landslide) yang terjadi di Distrik Ilaga ada 2 macam yaitu rayapan tanah (soil creeping) lalu yang terdapat pada beberapa lokasi dan penurunan muka tanah yakni amblesan (subsidence), yang terjadi pada 3 lokasi berbeda yakni Kp Kimak, Kp Tagaloa, dan Kp Kago.
2. Slow flowage adalah jenis mass wasting yang gerakannya sangat lambat dan tidak dapat dilihat oleh mata, meskipun dapat diketahui gejala-gejalanya. Gejala-gejala mass wasting antara lain daerahnya miring dan terdapat pepohonan yang batangnya bengkok ke atas. Peristiwa mass wasting jenis ini dikenal dengan istilah rayapan massa tanah (creep), jika material yang merayap hanya berwujud tanah maka rayapan tersebut dinamakan rayapan tanah (soil creep).
b. Saran
1. Perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut mengenai identifikasi penyebab longsor dan upaya konservasi dalam mencegah terjadinya longsor di Ditrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua.
2. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat setempat dalam mitigasi pencegahan longsor perlu terus dibina dan ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Setyawan, Wahyu Wilopo, Supriyanto Suparno. 2006. Mengenal Bencana Alam Tanah Longsor dan Mitigasinya. http://www.io.ppi- jepang.org/article.php?1d=196 [1 oktober 2014].
Anonim. 2007. Pencegahan Gerakan Tanah Dengan Identifikasi Zona Rentan.
http://www.d-infokom-jatim.go.id/news.php?id=11029 [30 september 2014]
Anwar,H.Z., Suwiyanto, E. Subowo, Karnawati, D., Sudaryanto, Ruslan, M. 2001. Aplikasi Citra Satelit Dalam Penentuan Dareah Rawan Bencana Longsor. Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Bandung.
Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor.
Direktorat Geologi Tata Lingkungan. 1981. Gerakan Tanah di Indonesia. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum. Departemen Pertambangan dan Energi. Jakarta.
[DVMBG] Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2005. Manajemen Bencana Tanah Longsor. http://www.pikiran- rakyat.com/cetak/2005/0305/22/0802.htm [30 oktober 2014].
[DVMBG] Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2007. Pengenalan Gerakan Tanah. http://www.merapi.vsi.esdm.go.id/?static/gerakantanah/pengenalan.htm [30 september 2014].
Dwiyanto, JS. 2002. Penanggulangan Tanah Longsor dengan Grouting. Pusdi Kebumian LEMLIT UNDIP, Semarang.
Hardjowigeno, Sarwono. 2003. Ilmu Tanah. Jakarta : Akademika Pressindo.
Hermawan dan Tri Endah Utami. 2003. Proses Soil Softening pada Bidang Diskontinuitas: Faktor Utama Longsoran Besar. Buletin Geologi Tata Lingkungan Vol. 13 No. 1 Mei 2003. Hal 44-51.
Naryanto, N.S. 2002. Evaluasi dan Mitigasi Bencana Tanah Longsor di Pulau Jawa Tahun 2001. BPPT. Jakarta.
Noor, Djauhari. 2006. Geologi Lingkungan. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Purwowidodo. 2003. Panduan Praktikum Ilmu Tanah Hutan : Mengenal Tanah. Laboratorium Pengaruh Hutan. Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. 2004. Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta.
Sitorus, Santun R. P. 2006. Pengembangan Lahan Berpenutupan Tetap Sebagai Kontrol
Terhadap Faktor Resiko Erosi dan Bencana Longsor. Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta.
Suripin. 2002. Pelestarian Sumberdaya Tanah dan Air. Yogyakarta : Andi.
Surono. 2003. Potensi Bencana Geologi di Kabupaten Garut. Prosiding Semiloka Mitigasi Bencana Longsor di Kabupaten Garut. Pemerintah Kabupaten Garut.
Sutikno. 1997. Penanggulangan Tanah Longsor. Bahan Penyuluhan Bencana Alam Gerakan Tanah. Jakarta.
_______. 2001. Tanah Longsor Goyang Pulau Jawa. Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Bandung.
Wahyono.2003. Evaluasi Geologi Teknik Atas kejadian Gerakan Tanah di Kompleks Perumahan Lereng Bukit Gombel-Semarang. Kasus Longsoran Gombel, 8 Februari 2002. Buletin Geologi Tata Lingkungan Vol. 13 No. 1 Mei 2003. Hal 32-43
Wahyu Wilopo, Priyono Suryanto. 2005. Agroforestri Alternatif Model Rekayasa Vegetasi Pada Kawasan Rawan Longsor. J Hutan Rakyat 7 (1) : 1-15.