• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH KASUS PKL SATWA LIAR TENTANG PEN (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH KASUS PKL SATWA LIAR TENTANG PEN (1)"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

DEPARTEMEN KLINIK VETERINER

AIR SACCULITIS PADA ORANGUTAN

(

Pongo pygmaeus

)

Oleh : SUPENDI, S.KH NIM. 061613143096

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

(2)

ii

HALAMAN JUDUL ... DAFTAR ISI ...

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Latar Belakang ... 1

1.3 Rumusan Masalah ... 3

1.4 Tujuan ... 3

1.5 Manfaat ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 4

2.1 Orangutan (Pongo pygmaeus) ... 4

2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi ... 4

2.1.2 Ciri-Ciri Tubuh ... 5

2.1.3 Habitat dan Penyebaran ... 6

2.1.4 Tingkah Laku ... 7

2.1.5 Jenis Makanan ... 7

2.1.6 Reproduksi ... 7

2.2 Air Sac ... 8

2.2.1 Anatomi Air sac ... 8

2.2.2 Fungsi Air sac ... 9

2.2.3 Sistem Respirasi ... 9

2.3 Airsacculitis ... 11

2.2.1 Patogenesis ... 12

2.2.1 Diagnosa ... 13

BAB III PEMBAHASAN... 14

3.1 Pemeriksaan Orangutan ... 14

3.2 Gejala Klinis ... 15

3.3 Diagnosa ... 16

3.4 Diagnosa Banding ... 16

3.5 Pemeriksaan Darah dan X-Ray ... 17

3.6 Tindakan Operasi pada Orangutan ... 23

3.7 Pengobatan ... 26

3.7 Prognosa ... 28

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN... 29

4.1 Kesimpulan ... 29

4.2 Saran ... 29

(3)

1 1.1 Latar Belakang

Orangutan adalah satu-satunya kera besar yang ditemukan di wilayah Asia, tepatnya di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Habitat

orangutan sebagian besar berada di wilayah Indonesia (Sumatera dan Kalimantan), dan sebagian kecil di wilayah Malaysia (Sabah dan Serawak),

tetapi tidak ditemukan di Brunei (Singleton et al., 2008). Orangutan (Pongo pygmaeus) dalam bahasa lokal sering disebut sebagai kahiyu di Kalimantan atau mawas di Sumatera. Orangutan sumatera dan borneo

merupakan dua spesies yang berbeda. Orangutan sumatera disebut P. abelii (Singleton et al., 2008) sementara orangutan borneo disebut P. pygmaeus(Brandon-Joneset al., 2004).

Orangutan Borneo/Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi dan dijaga kelestariannya. Menurut

International Union Concervation of Nature (IUCN) (2007) sekitar 80% habitat orangutan telah hilang atau musnah, yang disebabkan karena

terganggu, rusak dan berkurangnya kawasan hutan sebagai habitatnya. Bila keadaan ini dibiarkan, maka dalam 10–20 tahun ke depan orangután akan punah. Sehingga IUCN mengkategorikan orangután sebagaicritically endangered speciesatau sebagai satwa yang terancam punah.

Salah satu permasalahan kesehatan yang sering didapati pada

(4)

dominan pada kasus penyakit respirasi (Iverson dan Cornelly, 1981; Shin

et al., 1995; Lawson et al., 2006; Zimmer-mann et al., 2011). Penyakit respirasi (respiratory disease) diangggap paling serius karena dapat menyebabkan kematian utama di orangutan antara usia 8-40 tahun,

diantaranya Airsac infection, penumonia, sinusitis, chronic bronchitis, alergies, dan lain-lain. Airsac infection dengan tingkat kejadian penyakit sangat tinggi sekitar 42% dibandingkan dengan penyakit infeksi respirasi yang lainnya.

Airsacculitis (airsac infection) merupakan salah satu penyakit

respirasi yang menyerang pada kantong udara yang disebabkan oleh bakteri E. coli, Mycoplasma gallisepticum (MG), Mycoplasma synoviae (MS) atau meleagridis Mycoplasma (MM). Biasanya penyakit ini terjadi pada puncak di akhir musim dingin dan awal musim gugur, sesuai dengan dingin atau panas-stress dan ventilasi yang buruk. Penyakit Aircacculitis dapat menyerang dalam berbagai species primata, termasuk monyet (Aotus

trivirgatus), babon (Papio anubis), kera (Macaca nemestrina), simpanse (Pan troglodytes), pygmy simpanse (P. paniscus) dan gorila gunung

(Gorilla gorilla beringei).

Makalah ini akan membahas kasus yang terjadi pada salah satu

(5)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan permasalahan yaitu :

1. Apa saja anamnesa, gejala klinis dan diagnosa penyakit airsacculitis pada orangutan (Pongo pygmaeus)?

2. Bagaimana gambaran X-ray dan pemeriksaan darah penyakit airsacculitis pada orangutan (Pongo pygmaeus)?

3. Bagaimana cara penanganan dan pengobatan penyakit airsacculitis pada orangutan (Pongo pygmaeus)?

1.3 Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah :

1. Mengetahui anamnesa, gejala klinis dan diagnosa penyakit airsacculitis pada orangutan (Pongo pygmaeus).

2. Mengetahui gambaran X-ray dan pemeriksaan darah penyakit airsacculitis pada orangutan (Pongo pygmaeus).

3. Mengetahui cara penanganan dan pengobatan penyakit airsacculitis pada orangutan (Pongo pygmaeus).

1.4 Manfaat

Makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi yang

(6)

4 2.1 Orangutan (Pongo pygmaeus)

Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) adalah salah satu spesies orangutan yang hidup di pulau Kalimantan dan merupakan spesies endemik pulau tersebut. Meskipun populasinya lebih banyak dibandingkan orangutan sumatera, namun bukan berarti orangutan kalimantan bebas dari ancaman kepunahan. Orangutan kalimantan termasuk salah satu satwa langka Indonesia dengan status konservasiendangered(terancam).

Orangutan kalimantan terdiri atas 3 subspesies yaitu Pongo pygmaeus morio, Pongo pygmaeus pygmaeus, dan Pongo pygmaeus

wurmbii.

2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi

Klasifikasi dan Morfollogi (Linnaeus, 1760) sebagai berikut : Kingdom : Animalia

Filum : Chordata Kelas : Mammalia Ordo : Primata Famili : Hominidae Subfamili : Pongidae Genus : Pongo

(7)

Nama lain : Red Ape, Borneo Orangutans Kelompok : Mamalia, Omnivora

Lokasi : Kalimantan

Habitat : Hutan dataran rendah dan hutan rawa gambut Warna : Merah, Orange, Brown, Grey, Black

Jenis Kulit : Berambut Ukuran : 1.25m - 1.5m Berat : 30kg - 90kg Kecepatan lari : 2.7 m/jam

Makanan : Buah-buahan dan Serangga Predator : Manusia dan Harimau. Gaya Hidup : Aboreal

Perilaku : Solitary Rentang hidup : 30 - 40 tahun

Umur kematangan seksual: 12 - 15 tahun

2.1.2 Ciri-Ciri Tubuh

(8)

perkawinan pertama. Sedangkan orangutan betina tidak memiliki benjolan lemak yang besar, dan rambutnya relatif jauh lebih pendek.

(a) (b)

Gambar 2.1 Orangutan (Pongo pygmaeus) (a.) betina (b.) jantan

2.1.3 Habitat dan Penyebaran

Sebagai hewan endemik kalimantan, orangutan ini hanya terdapat di Kalimantan (Indonesia dan Malaysia). Habitatnya adalah hutan di daerah dataran rendah hingga daerah pegunungan dengan ketinggian 1.500 mdpl.

Subspesies Pongo pygmaeus pygmaeus (Northwest Bornean Orangutan) dapat ditemukan di Serawak (Malaysia) dan Kalimantan bagian barat laut. Subspesies Pongo pygmaeus wurmbii (Central Bornean Orangutan) terdapat di Kalimantan Tengah dan bagian selatan kalimantan Barat. Sedangkan subspesies Pongo pygmaeus morio (Northeast Bornean Orangutan) dijumpai di Kalimantan Timur (Indonesia) dan Sabah (Malaysia).

(9)

lokasi yang menjadi habitat binatang endemik langka ini antara lain Taman Nasional Betung Kerihun (2000 ekor), TN Danau Sentarum (500 ekor), TN Bukit Baka Bukit Raya (175 ekor), TN Gunung Palung (2.500 ekor), dan Bukit Rongga serta Parai (1000 ekor).

2.1.4 Tingkah Laku

Orangutan Kalimantan sebagian besar bergaya hidup soliter (menyendiri), terkadang mereka sering hidup dalam satu keluarga. Hewan endemik kalimantan ini aktif pada siang hari (diurnal). Mereka berkomunikasi dengan suara. Orangutan juga termasuk arboreal yang

menghabiskan seluruh waktunya di atas pohon.

2.1.5 Jenis Makanan

Orangutan kalimantan merupakan binatang omnivora walaupun lebih menyukai tumbuhan. Makanannya adalah buah, dedaunan, kulit pohon, bunga, telur burung, serangga, dan vertebrata kecil lainnya.

2.1.6 Reproduksi

(10)

2.2 Air Sac

2.2.1 Gambaran anatomi Air Sac

Kantung udara merupakan selaput tipis berbentuk seperti balon yang berfungsi untuk membantu pernapasan. Kantung udara memiliki sel fagosit dalam jumlah sedikit, sedangkan proses pertukaran udara juga terjadi di kantung udara tersebut.

Gambar 2.2 Gambaran anatomi kantung udara pada orangutan

(11)

2.2.2 Fungsi Air Sac

Beberapa fungsi kantong udara, antara lain : 1) Membantu pernafasan.

2) Menyimpan cadangan udara (oksigen).

3) Memperbesar atau memperkecil berat jenis pada saat burung berenang. 4) Mencegah hilangnya panas tubuh yang terlalu banyak.

2.2.3 Sistem Respirasi

Orangutan memiliki sistem pernapasan yang sama dengan manusia, organ pernapasan yang terlibat dalam proses pernapsan pada orangutan adalah hidung, pangkal tenggorokan, batang tenggorokan, dan paru paru.

Hidung

Hidung merupakan alat pertama yang dilalui udara dari luar. Di dalam rongga hidung terdapat rambut dan selaput lendir. Rambut dan selaput lendir berguna untuk menyaring udara, mengatur suhu udara yang masuk agar sesuai dengan suhu tubuh, dan mengatur kelembapan udara.

Pangkal Tenggorokan (Laring)

(12)

Ketiak kita bernapas, epiglotis terbuka dan anak tekak melipat ke bawah bertemu epiglottis. Udara akan masuk melalui melalui pangkal tenggorokan. Ketika kita menelan , epiglottis menutup pangkaal tenggorokan dan makanan akan masuk ke kerongkongan (esofagus). Tetapi jika kita menelan dan epiglottis belum menutup, makanan dan minuman akan masuk ke tenggorokan. Saat itu kita tersedak. Pangkal tenggorokan (laring) terdiri atas keeping tulang rawan yang membentuk jakun. Jakun tersusun atas tulang lidah, katup tulang rawan, perisai tulang rawan, piala tulang rawan , gelang tulang rawan. Pada pangkal tenggorokan terdapat selaput suara. Selaput suara akan bergetar bila terhembus udara dari paru-paru.

Batang Tenggorokan (Trakea)

Batang tenggorokan terletak di daerah leher, di depan kerongkongan. Batang tenggorokan merupakan pipa yang terdiri dari gelang-gelang tulang rawan. Panjang batang tenggorokan sekitar 10 cm. Dinding dalamnya dilapisi selaput lendir yang sel-selnya berambut getar. Rambut-rambut getar berfungsi untuk menolak debu dan benda asing yang bersama udara. Akibat tolakan secara paksa tersebut kita akan batuk atau bersin.

 Cabang Batang Tenggorokan (Bronkus)

(13)

menjadi dua bronkiolus. Cabang-cabang yang paling kecil masuk ke dalam gelembung paru-paru atau alveolus. Dinding alveolus mengandung kapiler darah. Melalui kapiler-kapiler darah di alveolus inilah oksigen dari udara di ruang alveolus akan berdifusi ke dalam darah.

 Paru-paru

Paru-paru terletak di rongga dada di atas sekat diafragma. Diafragma adalah sekat rongga badan, yang membatasi rongga dada dan rongga perut. Pau-paru terdiri dari dua bagian, yaitu paru-paru kiri dan kanan. Paru-paru kanan memiliki tiga gelambir sedangkan paru-paru kiri memiliki dua gelambir.

Paru-paru dibungkus oleh selaput paru-paru yang disebut pleura. Selaput paru-paru terdiri dari dua lapis. Selaput paru-paru membungkus alveolus-alveolus. Jumlah alveolus kurang lebih 300 juta buah. Luas permukaan seluruh alveolus diperkirakan 100 kali dari luas permuklaan tubuh orangutan.

Volume udara di dalam paru-paru orangutan dewasa lebih kurang 5 liter. Kemampuan paru-paru menampung udara diebut dengan daya tampung paru-paru atau kapasitas paru-paru. Volume udara yang dipernapaskan oleh tubuh tergantung besar kecilnya paru-paru, kekuatan bernapas, dan cara bernapas.

2.3 Airsacculitis

(14)

asperigillosis atau granuloma melalui sanitasi dan ventilasi yang buruk serta air yang terkontaminasi. Pengaruh lingkungan, seperti suhu, kelembaban, dan konsentrasi tinggi serta debu yang tercemar di kandang-kandang, juga memberikan kontribusi pada stres pernafasan orangutan. Padahal setiap udara yang masuk mengandung berbagai bibit penyakit. Selain itu, kantung udara tersusun atas sel yang tipis dan sedikit pembuluh darah. Sehingga mudah dirusak oleh bibit penyakit. Hal inilah yang menjadi titik lemah pada sistem pernapasan orangutan.

2.3.1 Patogenesis

Radang kantung udara (airsacculitis) ditularkan melalui udara oleh kontak dekat dengan hewan yang terinfeksi yang berada di dekatnya dan batuk atau bersin ke hewan yang lain melepaskan kabut kecil kelembaban yang berisi debu-debu tercemar yang kemudian menginfeksi hewan terdekat. Air minum yang terkontaminasi merupakan sumber utama lain dari penularan Jumlah E. coli yang terdapat di lingkungan dapat terjadi melalui kontaminasi saluran pernafasan pada orangutan. Awal terjadinya patogen dari E. coli mungkin terjadi di kandang yang terinfeksi atau dari air yang tercemar. Kualitas udara buruk dan lingkungan juga dapat mempengaruhi infeksi E.coli.

(15)

2.3. Diagnosa

(16)

14 3.1 Pemeriksaan Orangutan

Signalment

Nama : Jacky

Species : Orangutan (Pongo pygmaeus)

Sex : Jantan

Umur : 15 tahun

Berat : 70 kg

Lokasi : Asia (K 09)

Keeper : Bpk. Oseas

Dokter : drh. M. Nanang Tejo Laksono

Anamnesa

Dari hasil anamnesa yang dilakukan kepada keeper (Bpk. Oseas),

didapatkan informasi, antara lain mengalami demam dan ada pembesaran

dibawah leher.

(17)

Pemeriksaan Fisik

Temperatur pada tubuh Jacky yaitu 37,4oC.

3.2 Gejala Klinis

Manifestasi gejala klinis yang tampak pada adalah :

1. Lethargy 5. Batuk

2. Pernafasan Tidak Normal 6. Bulu Kusam

3. Discharge Nasal 7. Depresi

4. Diare Intermitten 8. Penurunan Berat Badan

3.3 Diagnosa

Diagnosa secara pasti dilakukan di laboratorium dengan isolasi dan

identifikasi bakteri penyebab penyakit yang didukung oleh perubahan

jaringan yang menciri. Untuk keperluan pemeriksaan laboratoris, jaringan

yang mengalami perubahan terutama paru-paru dikirimkan dalam keadaan

segar dingin dan setengahnya dikirim dalam formalin 10%. Beberapa

serotipe dari basil Escherichia colidapat selalu bersifat patogen. Diagnosa

juga didasarkan pada gejala klinis yang tampak.

Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, gejala klinis yang

terlihat, maka Orangutan yang bernama Jacky didiagnosa menderita

Airsacculitis.

3.4 Diagnosa Banding

Differential Diagnosis dari penyakit radang kantong udara

(18)

Pneumonia

Pneumonia atau dikenal juga dengan istilah paru-paru basah adalah

infeksi yang memicu inflamasi pada kantong-kantong udara di salah satu

atau kedua paru-paru. Pada pneumonia, terlihat sekumpulan

kantong-kantong udara kecil di ujung saluran pernapasan dalam paru-paru akan

membengkak dan dipenuhi cairan.

Secara umum, pneumonia dapat ditandai dengan gejala-gejala yang

meliputi :

1. Demam.

2. Berkeringat dan menggigil.

3. Batuk kering atau batuk dengan dahak kental disertai darah.

4. Napas terengah-engah dan pendek.

5. Rasa sakit pada dada ketika menarik napas atau batuk.

6. Mual atau muntah.

7. Diare.

8. Kelelahan.

Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri yang paling umum

menyebabkan pneumonia.

Bronchitis

Bronkitis adalah infeksi pada saluran pernapasan utama dari

paru-paru atau bronkus yang menyebabkan terjadinya peradangan atau inflamasi

pada saluran tersebut.

Berikut ini adalah beberapa gejala yang diakibatkan oleh bronkitis:

(19)

2. Sakit pada tenggorokan.

3. Sesak napas.

4. Hidung beringus atau tersumbat.

5. Sakit atau rasa tidak nyaman pada dada.

6. Kelelahan.

7. Demam ringan.

Bronkitis terbagi menjadi dua macam. Pertama, bronkitis akut yang

bertahan selama dua hingga tiga minggu. Bronkitis akut adalah salah

satu infeksi sistem pernapasan yang paling umum terjadi dan paling

sering menyerang usia anak-anak. Kedua, bronkitis kronis adalah infeksi

bronkus yang bertahan setidaknya tiga bulan dalam satu tahun dan

berulang pada tahun berikutnya. Bronkitis kronis lebih sering terjadi

pada usia dewasa.

Bronkitis berasal dari infeksi paru-paru yang kebanyakan

disebabkan oleh virus. Iritasi dan peradangan menyebabkan bronkus

menghasilkan mukosa atau lendir lebih banyak. Dan tubuh berusaha

mengeluarkan lendir atau mukosa yang berlebihan dengan cara batuk.

3.5 Pemeriksaan Darah dan X-Ray

Dari hasil anamnesa, dilakukan pemeriksaan darah lengkap dengan

cara pengambilan sampel darah pada orangutan. Pemeriksaan Darah

Lengkap (Complete Blood Count / CBC) yaitu suatu jenis pemeriksaaan

penyaring untuk menunjang diagnosa suatu penyakit dan atau untuk

(20)

juga pemeriksaan ini sering dilakukan untuk melihat kemajuan atau respon

terapi pada pasien yang menderita suatu penyakit infeksi.

Pemeriksaan Darah Lengkap terdiri dari beberapa jenis parameter

pemeriksaan, yaitu

 Hemoglobin

 Hematokrit

Leukosit (White Blood Cell / WBC)

 Trombosit (platelet)

 Eritrosit (Red Blood Cell / RBC)

 Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC)

 Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR)

Hitung Jenis Leukosit (Diff Count)

 Platelet Disribution Width (PDW)

 Red Cell Distribution Width (RDW)

Lamanya waktu yang dibutuhkan suatu laboratorium untuk

melakukan pemeriksaan ini berkisar maksimal 1-2 jam.

Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Darah Lengkap Jacky (Orangutan)

Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Nilai Normal

Orangutan

Hematologi

WBC

(Sel Darah Putih) 10,7 10

3/µL 3,6 - 30

RBC

(Sel Darah Merah) 4,18L 10

6/µL 3,36 - 7,05

Hb

(Hemoglobin) 8,2 g/dL 7,5 - 20,5

HTC

(21)

MCV 70,3H fL 55,9 - 138,9

Berdasarkan pemeriksaan darah menunjukan bahwa :

1. Hemoglobin (Normal)

Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang

berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh

jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru

paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah

berwarna merah. Dalam menentukan normal atau tidaknya kadar

hemoglobin harus memperhatikan faktor umur.

Kadar hemoglobin dalam darah yang rendah dikenal dengan istilah

anemia. Ada banyak penyebab anemia diantaranya yang paling sering

adalah perdarahan, kurang gizi, gangguan sumsum tulang, pengobatan

kemoterapi dan penyakit sistemik (kanker, lupus,dll).

Sedangkan kadar hemoglobin yang tinggi dapat dijumpai pada

orang yang tinggal di daerah dataran tinggi dan perokok. Beberapa

penyakit seperti radang paru paru dan tumor.

2. Hematokrit (Normal)

Hematokrit merupakan ukuran yang menentukan banyaknya

jumlah sel darah merah dalam 100 ml darah yang dinyatakan dalam

(22)

Seperti telah ditulis di atas, bahwa kadar hemoglobin berbanding

lurus dengan kadar hematokrit, sehingga peningkatan dan penurunan

hematokrit terjadi pada penyakit-penyakit yang sama.

3. Leukosit (WBC Normal)

Leukosit merupakan komponen darah yang berperanan dalam

memerangi infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, ataupun proses

metabolik toksin, dll.

Nilai normal leukosit orangutan berkisar 3.600 - 30.000 sel/µL

darah.

Penurunan kadar leukosit bisa ditemukan pada kasus penyakit

akibat infeksi virus, penyakit sumsum tulang, dll, sedangkan

peningkatannya bisa ditemukan pada penyakit infeksi bakteri, penyakit

inflamasi kronis, perdarahan akut, leukemia, gagal ginjal, dll.

4. Trombosit (Normal)

Trombosit merupakan bagian dari sel darah yang berfungsi

membantu dalam proses pembekuan darah dan menjaga integritas vaskuler.

Beberapa kelainan dalam morfologi trombosit antara lain giant platelet

(trombosit besar) dan platelet clumping (trombosit bergerombol). Nilai

normal trombosit orangutan berkisar antara 1.000 - 912.000 sel/µL darah.

Trombosit yang tinggi disebut trombositosis dan sebagian orang

biasanya tidak ada keluhan. Trombosit yang rendah disebut

trombositopenia, ini bisa ditemukan pada kasus demam berdarah (DBD),

(23)

5. Eritrosit (RBC Normal)

Eritrosit atau sel darah merah merupakan komponen darah yang

paling banyak, dan berfungsi sebagai pengangkut / pembawa oksigen dari

paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh dan membawa kardondioksida

dari seluruh tubuh ke paru-paru. Nilai normal eritrosit pada orangutan

berkisar 3,36 juta - 7,05 juta sel/µL darah. Eritrosit yang tinggi bisa

ditemukan pada kasus hemokonsentrasi, PPOK (penyakit paru obstruksif

kronik), gagal jantung kongestif, perokok, preeklamsi, dll, sedangkan

eritrosit yang rendah bisa ditemukan pada anemia, leukemia, hipertiroid,

penyakit sistemik seperti kanker dan lupus, dll.

6. Indeks Eritrosit (MCV,MCH, MCHC Normal)

Biasanya digunakan untuk membantu mendiagnosis penyebab

anemia (Suatu kondisi di mana ada terlalu sedikit sel darah merah).

Indeks/nilai yang biasanya dipakai antara lain :

 MCV (Mean Corpuscular Volume) atau Volume Eritrosit Rata-rata

(VER), yaitu volume rata-rata sebuah eritrosit yang dinyatakan

dengan femtoliter (fl)

MCV = Hematokrit x 10 Eritrosit

Nilai normal = 55,9 - 138,9 fl

 MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) atau Hemoglobin Eritrosit

Rata-Rata (HER), yaitu banyaknya hemoglobin per eritrosit disebut

dengan pikogram (pg)

MCH = Hemoglobin x 10

(24)

 MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) atau

Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit Rata-rata (KHER), yaitu kadar

hemoglobin yang didapt per eritrosit, dinyatakan dengan persen (%)

(satuan yang lebih tepat adalah “gr/dl”)

MCHC = Hemoglobin x 100 Hematokrit

Nilai normal = 15,7 - 44,3 %

Selanjutnya dilakukan pengambilan gambar x-ray pada daerah

dada (tepat dibawah leher) yang dilaksanakan pada tanggal 13 April 2016

yang bertujuan untuk mengetahui penyebab terjadinya pembesaran

(bengkak). Sebelum dilakukan x-ray terlebih dahulu dilakukan anestesi

umum menggunakan Ketamin dan Xylazin dengan dosis masing-masing

350 mg dan 70 mg. Anestesi diperlukan untuk melakukan x-ray pada

satwa liar untuk mengurangi resiko stres. X-ray dilakukan pada posisi

ventro dorsal (VD) dengan arah cahaya dari bagian perut menuju

punggung.

(25)

Gambar diatas adalah Foto thorak posisi AP (anterior posterior).

Interpretasi Foto x-ray :

- Sinus costoprenicus kanan dan kiri Lancip

- Diaphragma kanan kiri normal

- Jantung bentuk dan ukuran normal

- Corakan bronkovaskuler kedua paru normal

- Tampak nodul opaque pada bagian airsac berupa infiltrasi disertai

kalsifikasi di sekitarnya

- Tulang-tulang costa kanan/kiri intact

3.6 Tindakan Operasi pada Orangutan

1. Persiapan Alat

 Persiapan Personalia

Satu orang Dokter Hewan sebagai operator dan dua orang selaku

Asisten I dan Asisten II, satu orang selaku Instrumen.

 Persiapan Pasien

- Stop makan/minum minimal 6 jam sebelum operasi

Bertujuan untuk mengosongkan isi lambung dan

pencernaan dari sisa makanan. Jika sistim pencernaan pasien yang

akan di operasi kosong dari sisa makanan, akan membuat pasien

aman dari masuknya sisa makanan ke paru-paru. Sebab, saat

operasi berlangsung, atau sedang proses pembiusan, bisa saja

terjadi reflek muntah, sehingga sisa makanan yang ada di lambung

(26)

kinerja paru bisa berhenti seketika dan terjadi henti nafas dan

beresiko terjadinya kematian jika paru tidak mampu bekerja

dengan baik.

- Bersihkan daerah operasi (dada tepat dibawah leher)

 Persiapan Operasi

a. Obat Anestesi

- Ketamin

Ketamin merupakan larutan larutan yang tidak berwarna,

stabil pada suhu kamar dan relatif aman. Ketamin mempunyai

sifat analgesic, anestetik dan kataleptik dengan kerja singkat.

Untuk induksi ketamin secara intravena dengan dosis 0,5 mg/kg

BB dalam waktu 60 detik, stadium operasi dicapai dalam 5-10

menit.

- Xylazin

Xylazine merupakan obat sedatif, analgesia dan perelaksasi

otot. Dosis 1 mg/Kg BB secara intramuskular.

b. Persiapan alat operasi (alat bedah minor).

- Gunting bedah

- Pisau Bedah / Scalpel

- Pinset

(27)

2. Cara Kerja sesuai Standar Operasional Prosedur

a. Lakukan anestesi oleh Dokter Hewan,

b. Dilakukan sterilisasi pada daerah pembedahan dengan Alkohol 70%,

kemudian dengan Betadine/Povidone Iodine.

c. Pasien ditutup dengan kain (drip) steril kecuali daerah operasi.

d. Dilakukan irisan lubang (drainage) pada daerah dada sekitar 1-2 cm,

kemudian irisan diperdalam secara hati-hati.

e. Setelah terbuka, keluarkan nanah (pus/eksudat) sampai habis

f. Setelah dikeluarkan, bersihkan sisa-sisa eksudat yang masih menempel.

3. Perawatan Pasca Operasi

1. Awasi luka setiap hari, jangan sampai terbuka (digaruk)

2. Perhatikan makan dan minum.

(28)

3.7 Pengobatan

Pengobatan airsacculitis disesuaikan dengan sifat penyakit primer

atau sekunder dari bentuk bakteri tersebut. Disamping itu juga perlu

dilakukan koreksi pada berbagai aspek managemen yang mungkin

merupakan faktor pendukung terjadinya airsacculitis.

A. Mefinter

Mefinter merupakan obat yang mengandung zat aktif asam

mefenamat. Asam mefenamat merupakan anti radang golongan

nonsteroid (nonsteroid anti-inflamatory drugs atau NSAID).

Mefinter digunakan secara umum untuk meredakan reaksi radang

dan penurun demam.

Dosis : 5-10 mg/kg BB secara per oral

Indikasi : (1). Untuk meredakan nyeri akibat peradangan

dengan intensistas ringan sampai menengah, seperti sakit

gigi, nyeri otot, sakit telinga, rematik, nyeri traumatik, luka

setelah operasi, dan nyeri menstruasi; (2). Meredakan

demam.

Kontraindikasi : 1). Pasien dengan tukak lambung atau usus;

2). Pasien dengan penyakit radang usus besar; 3). Pasien

dengan kegagalan fungsi ginjal dan hati; 4). Pasien dengan

(29)

Efek samping : 1). Reaksi alergi; 2). Gangguan pencernaan

seperti diare, sembelit, kembung; 3). Gangguan neurologis

seperti nyeri kepala, penurunan kesadaran, pusing,

gangguan penglihatan, gugup; 4). Gangguan fungsi ginjal

dan hati.

B. Intermoxil (Amoxicillin)

Intermoxil adalah obat antibiotik golongan beta laktam

yang termasuk keluarga penisillinum. Antibiotik ini mempunyai

spektrum sedang, aktif terhadap bakteri gram negatif maupun gram

positif. Amoksisilin (Amoxicillin) bersifat bakteriolitik yang

bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel bakteri

sehingga lintas hubungan antara rantai polimer peptidoglikan linier

yang membentuk komponen utama dari dinding sel bakteri menjadi

terganggu.

Dosis : 10-15 mg/kg BB secara per oral.

Indikasi : 1). Mengobati infeksi yang disebabkan oleh

kuman yang peka terhadap amoxicillin seperti otitis media

akut, faringitis yang disebabkan streptococcus, pneumonia,

infeksi kulit, infeksi saluran kemih, infeksi Salmonella,

Lyme disease, dan infeksi klamidia; 2). Mencegah

endokarditis yang disebabkan bakteri yang berisiko tinggi

saat perawatan gigi, untuk mencegah infeksi oleh

(30)

Sangat umum digunakan untuk infeksi saluran pernafasan

bagian atas dan bawah, infeksi saluran kemih, saluran

cerna, kulit dan jaringan lunak.

Kontra Indikasi : Intermoxil (Amoxicillin) harus dihindari

pada pasien hipersensitifitas pada amoxicillin dan

antibiotik betalaktam lainnya seperti penisillinum dan

cephalosporin.

Efek Samping : 1). Mual, muntah; 2). Kadang diare; 3).

Mengalami reaksi hipersensitivitas terhadap amoxicillin,

dapat mengalami shock anafilaktik yang bisa berakibat

fatal.

Pengobatan airsacculitis juga dapat diberikan antibiotika yang lain

seperti oksitetrasiklin, klortetrasiklin, khlorampenikol, fluoroquinolon.

Untuk mencegah airsacculitis, diutamakan mencegah penyakit yang

bersifat imunosupresif dan predisposisi lainnya seperti menjaga suhu dan

kadar amonia yang terlalu tinggi, serta memperbaiki sanitasi kandang.

Selain itu perlu juga diberikan suplemen yang mencukupkan kebutuhan

nutrisinya.

3.9 Prognosa

Prognosa airsacculitis secara umum baik dan bisa sembuh,

tergantung dari kuman penyebab dan penggunaan antibiotika yang tepat

serta adekuat. Perawatan yang baik serta intensif sangat mempengaruhi

(31)

29

4.1 Kesimpulan

Airsacculitis adalah gejala, bukan penyakit tertentu. Airsacculitis

mungkin hasil dari E.coli, Mycoplasma, aspergillosis. Bentuk ini

umumnya merupakan infeksi sekunder pada berbagai penyakit pernafasan.

Mukosa saluran pernafasan yang rusak akan sangat peka terhadap invasi

bakteri melalui rute pernafasan. Airsacculitis juga dapat merupakan infeksi

primer akibatE. colimisalnya pada koliseptikemia.

Jacky (Orangutan) didiagnosa menderita penyakit Airsacculitis

(radang kantong udara) berdasarkan pemeriksaan fisik, anamnesa, dan

gejala klinis yang terlihat. Infeksi berupa benjolan dilakukan tindakan

pembedahan untuk mengeluarkan eksudat. Selanjutnya diberikan terapi

antibiotik dan dilakukan tindakan pencegahan dengan memperbaiki

manajemen sanitasi dan pakan yang baik .

4.2 Saran

Sebaiknya juga dilakukan tes laboratorium untuk mengidentifikasi

bakteri apa yang menyebabkan airsacculitis pada orangutan dengan cara

isolasi dan identifikasi pada swab jaringan air sac agar diketahui bakteri

(32)

30

Aprianti, S., Arif M., Hardjoeno. 2006. Hematological reference values in healthy adults based on the Sysmex XT-1800i. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory,12 (3) :127-130.

Garriga RM, Andriansyah AW, Abidin, Harniningsih, Kusumawaty N, Haerullah: Annual Health Report. Orangutan Care Center and Quarantine, Pasir Panjang, Pangkalan Bun, Kalimatan Tengah, Indonesia. Orangutan Foundation International, 2003; 1–36.

Hewitt G, Maclarnon A, Jones KE: The functions of laryngeal air sacs in primates: a new hypothesis. Folia Primatol (Basel) 2002; 73:70–94.

Hill LR, Lee DR, Keeling ME: Surgical technique for ambulatory management of air sacculitis in a chimpanzee (Pan troglodytes). Comp Med 2001; 51:80– 84.

IUCN. 2009. IUCN Red list of threatened species, version 2009.2. Available at http://www.iucnredlist.org (Retrieved on 6 November 2016).

Wich, S.A., E. Meijaard, A.J. Mashall, S. Husson, M. Ancrenaz, R.C. Lacy, C.P. van Schaik, J. Sugardjito, T. Simorangkir, K. Traylor-Holzer, M. Doughty, J. Supriantna, R. Dennis, M. Gumal, C.D. Knott, and I. Singleton. 2008. Distribution and conservation status of the orang-utan (Pongo spp.) in Borneo and Sumatra : How many remain? Oryx, 42 : 329-339.

Gambar

Gambar 2.1 Orangutan (Pongo pygmaeus) (a.) betina (b.) jantan
Gambar 2.2 Gambaran anatomi kantung udara pada orangutan
Gambar 3.1 Contoh ambulatoir
Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Darah Lengkap Jacky (Orangutan)
+3

Referensi

Dokumen terkait