PENGEMBANGAN POLA PIKIR SISTEM BAGI APARATUR PEMERINTAH
oleh : ASPITA DYAH F. 12/339316/PTK/08320
PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK SISTEM FAKULTAS TEKNIK PROGRAM PASCA SARJANA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas ijinNya-lah sehingga penyusunan Buku Saku ini dapat selesai sesuai dengan waktunya. Penyusunan Buku Saku ini merupakan tugas Mata Kuliah Asas dan Penerapan Teknik Sistem.
Tujuan penyusunan Buku Saku Pengembangan Pola Pikir Sistem bagi Aparatur Pemerintah adalah agar pembaca dapat memahami pola pikir sistem terutama bagi Aparatur Pemerintah.
Kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan untuk kesempurnaan Buku Saku ini di masa yang akan datang.
Harapan kami, semoga Buku Saku yang telah disusun ini bermanfaat dalam upaya meningkatkan pengetahuan para pembaca.
Demikian pengantar kami, atas segala perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
Pola Pikir Sistem ... 1
Bagaimana Berfikir Sistem? ... 6
Pola Pikir bagi Aparatur Pemerintah ... 9
Pola Pikir Sistem
Pola pikir sistem. Apa itu pola pikir sistem? Berikut penjelesan.
Pola pikir sistem bukanlah hal baru, namun belum semua orang, keluarga, organisasi atau institusi menerapkan pola pikir tersebut secara menyeluruh. Hal ini sudah terlihat sejak jaman prasejarah dimana peradaban masih sangat primitif yaitu sifat tolong-menolong dan gotong royong yang sudah ada.
Sistem dapat diartikan sebagai kesatuan elemen-elemen yang berinteraksi secara dinamik dengan tujuan tertentu. Dalam definisi ini dijelaskan bahwa sebuah sistem terintegrasi pasti memiliki komponen (sub-sistem). Ini berarti semua sistem yang memproduksi atau meningkatkan nilai tambah baik berupa barang maupun jasa adalah obyek yang dikelola. Terintegrasi menunjukkan bahwa interaksi yang terjadi dari unsur tersebut bermuara kepada sebuah perilaku sistem yang lebih dari hanya penggabungan sederhana unsur tersebut. Contohnya adalah seorang manusia, merupakan sebuah sistem terintegrasi yang menjadi manusia karena semua sub-sistemnya berinteraksi sedemikian rupa.
diri dalam situasi apapun sehingga dalam mengambil keputusan dari suatu permasalahan akan dipandang menguntungkan dari segala sudut pandang.
Jadi, pola pikir sistem bisa memberi manfaat dan menjadikan manfaat serta menambah manfaat bagi masyarakat. Ketika seseorang hanya berpikir untuk kemakmuran beberapa orang, atau beberapa institusi atau sebagian masyarakat maka itu bukan pola pikir sistemik. Output dari pola pikir sistemik harus bisa dinikmati oleh masyarakat luas untuk kesejahteraan rakyat, dan juga kesejahteraan lingkungan alam ini.
jadi, bahan jadi menjadi produk jadi, produk jadi dengan kualitas tinggi yang mampu bersaing sehingga mendatangkan keuntungan. Di sisi lain kita juga harus mampu mengolah limbah industri menjadi produk yang tidak mencemari lingkungan, seperti membuat kawasan industri dengan pohon-pohon yang dapat berfungsi memperindah pemandangan sekeliling kawasan industri serta mengurangi polusi udara dikawasan tersebut.
Bagaimana Berfikir Sistem?
dapat mengembangkan solusi yang lebih baik yang akan mengubah sistem secara efektif.
mendukung dengan attitude yang baik (Maryono, 2011).
Komponen utama sebuah sistem adalah dimulai dengan masukan (input) yang selanjutnya akan di proses sehingga menghasilkan keluaran (output).
Pola Pikir bagi Aparatur Pemerintah
Pembentukan pola pikir bagi Aparatur
Pemerintah bertujuan supaya Aparatur
Pemerintah dapat berpikir dan bersikap menjadi
lebih positif, dapat membangun kesadaran pola
pikir yang positif, mampu menerapkan disiplin
kerja aparatur, berperilaku positif dalam
memberikan pelayanan serta bertanggung jawab
di dalam melaksanakan tugas dan fungsinya
serta mampu melakukan perubahan pola pikir
yang positif. Sehingga diharapkan akan menjadi
sosok aparatur yang bijak dalam mengemban
amanah untuk melaksanakan tugas dan
positif dan memiliki persepsi-persepsi yang sadar. Maka ketika mengahadapi suatu masalah akan mampu menyikapinya secara sadar, berhati-hati dan dapat berpikir jernih, sehingga tidak merugikan diri kita maupun diri orang lain. Dengan persepsi yang sadar maka akan membuahkan pola pikir yang positif.
keluarga, masyarakat, sekolah, teman, media masa dan tentu saja diri sendiri.
Berbicara pola pikir negatif, sesungguhnya berpikir negatif itu sangat merugikan diri sendiri, tetapi mengapa sebagian manusia lebih cenderung kearah berpikir negatif. Padahal dengan hidup berpikiran negatif ini akan merusak diri sendiri, karena akan mengakibatkan penderitaan dan kesulitan. Memang hidup itu adalah pilihan, oleh karena itu jangan salah memilih.
Berkaitan dengan berpikir negatif ada kata bijak dari Confucius:
Secara konseptual, dampak perubahan pola pikir Aparatur Pemerintah adalah meningkatnya kesadaran aparatur bahwa dirinya haruslah kuat dan amanah. Kuat dalam pengertian mampu atau kompeten dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Aparatur Pemerintah. Dan amanah dalam pengertian mampu menempatkan dirinya sebagai aparatur yang mempunyai komitmen terhadap visi dan misi lembaga, dan tidak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah dan rakyat kepadanya.
selalu berorientasi kepada pencapaian target-target kinerja; dan berani bersikap transparan dan akuntabel.
Wujud lain dari sikap yang kompeten dan amanah adalah menciptakan suasana bekerja yang kondusif bagi semua anggota organisasi dimana akan selalu berupaya untuk berbagi, memberdayakan, dan saling melengkapi satu sama lain, tidak akan membiarkan organisasi tumbuh menjadi kumpulan orang-orang yang pola pikirnya tidak sehat, saling curiga, saling mengedepankan kepentingan sendiri, dan saling melempar tanggungjawab.
sikapnya yang baru? Sikap sebagai seorang Aparatur Pemerintah yang efektif, memiliki komitmen terhadap tugas pokok dan fungsinya, serta membebaskan diri dari belenggu KKN?
Berkaitan dengan hal tersebut, Indonesia sebagai sebuah negara besar yang sedang membangun, tentunya komitmen aparatur pemerintah sangat dibutuhkan, dalam rangka mewujudkan pelayanan publik yang baik dan berkualitas serta akuntabel. Hal ini diperlukan dalam rangka mendorong percepatan pembangunan bangsa dan negara Indonesia menuju pencapaian cita-cita nasional yakni mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
peningkatan produktivitas disemua tingkatan. Untuk mencapai ini diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh aparatur.
Pelayanan yang terbaik kepada masyarakat tidak akan dapat dicapai tanpa dedikasi dan komitmen yang tinggi dari aparatur.
Dengan kata lain, Aparatur Pemerintah yang ada saat ini belum optimal bekerja secara profesional, belum dapat meningkatkan kompetensi sumber daya manusia yang ada dalam birokrasi tersebut, belum dapat bekerja berdasarkan aturan yang berlaku, dan belum sepenuhnya berorientasi kepada perubahan, serta belum sepenuhnya terbuka.
Aparatur Pemerintah sekarang harus netral dan profesional, serta mengembangkan diri agar mampu mewujudkan visi dan misi organisasi serta loyalitas pada profesinya menjadikan aparat dituntut profesional dalam melayani rakyat (Kurniawan, 2007).
Pola Pikir Sistem bagi Aparatur Pemerintah
dan memecahkan masing-masing masalah kecil tersebut, tetapi menemukan dan memanfaatkan pengungkit masalah besar.
Berpijak pada cara berpikir tersebut, maka area perubahan dalam reformasi birokrasi adalah upaya yang tidak efisien. Meskipun tidak sia-sia, tetapi mungkin saja demikian apabila pengungkit dari masalah birokrasi tidak segera ditemukan dan diperlakukan secara khusus.
Pengungkit dari masalah dalam birokrasi pemerintahan kita ada pada 3 (tiga) hal, yaitu sistem anggaran dan perbendaharaan, sistem remunerasi pegawai, dan sistem manajemen kinerja aparatur. Dua dari tiga sistem tersebut sebenarnya telah disinggung dalam Road Map
pegawai yang merupakan bagian dari penataan sistem manajemen SDM aparatur dan sistem manajemen kinerja aparatur yang merupakan bagian dari penguatan akuntabilitas kinerja aparatur. Akan tetapi, penetapan tujuan dan rencana implementasi dari perubahan kedua sistem tersebut tidak terdefinisikan dengan baik. Sementara itu, untuk sistem anggaran dan perbendaharaan bahkan tidak tersentuh.
Pola pikir sistem dapat diperkenalkan melalui pendidikan dan pelatihan (diklat). Sehingga penyelenggaraan Diklat tidak sekedar merupakan transfer of knowledge tetapi diharapkan juga merupakan transfer of attitude
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2010, Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta.
Kurniawan, A., 2010, Transformasi Birokrasi, Universitas Atma Jaya , Yogyakarta.