• Tidak ada hasil yang ditemukan

EMPAT PILAR UTAMA DALAM menanamkan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EMPAT PILAR UTAMA DALAM menanamkan "

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

EMPAT PILAR UTAMA DALAM

PERTUMBUHAN DAN KEDEWASAAN

IMAN

Updated : Selasa, 29 Januari 2013 | 16:10

Setiap orang percaya pasti pernah mendengar ayat ini, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17). Ayat ini menegaskan bahwa hanya melalui pendengaran akan firman Allah, seorang berdosa bisa memiliki iman kepada Yesus Kristus. Mandat ayat ini mengharuskan firman Kristus diberitakan agar manusia berdosa mendengarkan Injil dan percaya. Analisa penting lainnya dari ayat diatas bahwa mendengarkan firman Kristus bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan sekali saja tetapi suatu tuntutan untuk terus mendengarkan firman Allah agar iman seorang percaya semakin bertumbuh dan meningkat.

Memang harus diakui banyak orang percaya pada Yesus Kristus ketika mendengarkan Injil untuk pertama kalinya. Roh Kudus menuntunnya untuk percaya dan mengaku dengan mulutnya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Namun sebaliknya ada banyak orang juga yang telah sering mendengarkan firman Allah namun tidak pernah berubah dan tetap menolak Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Namun harus diakui juga bahwa ada banyak orang Kristen yang sungguh-sungguh percaya namun memiliki iman dan kerohanian yang tidak bertumbuh. Bertahun-tahun kehidupan kekristenan dijalani namun imannya tidak mengalami pertumbuhan.

(2)

pertumbuhan kerohanian dan iman seorang Kristen, namun pilar-pilar ini juga sekaligus menjadi penentu untuk mengetahui apa seseorang itu sungguh-sungguh percaya pada Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

PILAR #1: MEMBACA ALKITAB DAN SAAT TEDUH

Seorang yang benar-benar percaya pada Yesus akan memiliki suatu kesukaan baru yang tidak dimiliki sebelumnya. Kesukaan ini merupakan suatu bukti perubahan dalam dirinya bahwa ia ingin mendekatkan diri kepada Allah dan mendengarkan suara Allah, dan hal ini memberikan kebahagiaan dan kedamaian dalam hatinya. Apa kesukaan baru tersebut? Membaca Alkitab dan Bersaat Teduh (Merenungkan Firman Allah). Ia tidak tahu kenapa itu bisa terjadi tetapi yang jelas membaca Alkitab memberikan suatu penyegaran dan gairah baru dalam menjalani hidupnya. Inilah perubahan yang dikerjakan oleh Allah dalam diri seorang percaya.

Pertimbangkan apa yang Allah katakan dalam Mazmur 1:1-2 berikut ini, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannyaialah ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam” (Maz 1:1-2). Dalam kesempatan lain pemazmur berkata, “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari” (Maz 119:97). “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Maz 119:105). Berdasarkan ayat-ayat ini, ada dua hal penting yang perlu diketahui setiap orang percaya. Pertama, seorang Kristen memiliki kesukaan akan Taurat TUHAN yaitu membaca firman Allah. Kedua, seorang Kristen akan merenungkan firman Allah siang dan malam yang bisa diartikan sebagai SAAT TEDUH pribadi. Kedua hal ini memiliki perbedaan-perbedaan dalam prakteknya tetapi bertujuan untuk mencapai kedewasaan kerohanian dan iman.

(3)

Seorang percaya harus menyisihkan dan menyediakan waktu untuk membaca firman Allah setiap hari. Biasanya orang Kristen yang sadar akan perintah Allah dan ingin bertumbuh semakin dewasa dalam kerohanian dan imannya akan mengikuti program pembacaan Alkitab per tahun. Artinya ia berkomitmen ingin menyelesaikan pembacaan Alkitab mulai dari Kitab Kejadian hingga Wahyu dalam kurun waktu 365 hari (satu tahun). Dengan demkian ia akan mengikuti jadwal yang telah disusun sedemikian rupa sehingga bisa menyelesaikannya dengan sukses. Biasanya pembacaan Alkitab untuk tujuan ini hanya membutuhkan sekitar 20-30 menit per hari atau sekitar 3-4 pasal per hari. Jadwal pembacaan seperti ini biasanya bisa didapatkan dari buku panduan saat teduh yang dijual bebas di toko buku Kristen. Jika dirasa tidak perlu mengikuti jadwal yang disusun orang lain, dan ingin membuat jadwal sendiri, itu boleh dilakukan asal bisa konsisten dan berkomitmen mengikutinya.

Apa tujuan pembacaan Alkitab sepert ini? Disamping pembacaan itu merupakan suatu kesukaan seorang percaya, pembacaan ini juga bermanfaat untuk menambah pengetahuan sehingga ia bisa memiliki pengertian yang luas dan mengetahui bagaimana Allah berhubungan dengan manusia berdosa dalam Alkitab, dan dengan sendirinya terbentuk suatu pengetahuan Alktiab atau memiliki pengertian teologis.

(4)

Merenungkan Firman Allah (Saat Teduh)

Pembacaan Alkitab berbeda dengan SAAT TEDUH (istilah yang dipakai untuk merenungkan firman Allah). Saat teduh merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dimana seorang percaya merenungkan satu bagian firman Allah. Berdasarkan Mazmur 1:2 ada suatu perbedaan antara kesukaan Taurat TUHAN dan merenungkan Taurat itu siang dan malam. Membaca Alkitab itu bisa dilakukan seperti membaca sebuah buku dimana ia mencoba mengerti apa isi dan alur cerita yang dibaca tetapi dengan rasa hormat karena buku yang dibaca bukan buku manusia tetapi buku Tuhan.

Sedangkan merenungkan firman Allah lebih dari pada membaca Alkitab. Dalam renungan seperti ini bisa saja hanya memakai satu ayat saja atau mungkin hanya satu anak kalimat atau memakai dua atau tiga ayat atau lebih tergantung pada topik yang direnungkan. Namun demikian akan lebih disarankan membaca bagian firman Allah tersebut dalam konteks atau paragrafnya atau bahkan lebih dari itu, agar lebih mengerti apa yang dibaca karena pembacaan sepotong firman Allah tidak memberikan gambaran lengkap akan apa yang dibicarakan dan dibahas dalam perikop tersebut. Dalam prakteknya seseorang itu bisa saja membaca bagian firman Allah itu berkali-kali hingga benar-benar mengerti apa yang dibaca. Dan setelah mengerti apa yang dibaca, kemudian langkah selanjutnya, merenungkan bagian firman Allah itu dan menghubungkannya pada kehidupan sehari-hari.

(5)

sesudahnya. Miminta hikmat dari Tuhan untuk mengerti firman Allah adalah mutlak bagi seorang percaya.

Dengan melaksanakan Saat Teduh yang teratur tiap-tiap hari akan menolong pertumbuhan iman dan kerohanian seorang Kristen serta memiliki perspektif yang benar akan hidup. Kegiatan ini merupakan kunci utama dalam kehidupan kerohanian. Jika gagal dalam Saat Teduh akan berdampak pada kehidupan sehari-hari. Biasanya mereka yang gagal melakukan kegiatan rohani ini akan mudah tergoda untuk tidak setia kepada Tuhan dan mudah melakukan dosa di tempat kerja, usaha dan kehidupan.

Namun yang paling dirasakan orang tersebut adalah ia akan kehilangan kesensitifan rohani sebagai orang Kristen. Kegagalan saat teduh juga akan berdampak pada kegagalan pada pembacaan Alkitab, doa, dan ibadah. Jika seandainya kegiatan gereja seperti persekutuan dan ibadah masih diikuti, besar kemungkinan hal itu telah menjadi suatu rutinitas, dengan tanpa adanya sentuhan rohani atau faedah yang bisa dirasakan. Sebagai akibatnya, seandainya tidak beribadah atau tidak berdoa sekalipun, ia tidak merasakan suatu perbedaan yang berarti. Inilah gejala kemurtadan. Biasanya orang Kristen seperti ini harus digoncang suatu malapetaka, kesulitan dan berbagai pergumulan hidup, baru kemudian akan kembali merenungkan kasih dan kemurahan Allah.

PILAR #2: BERDOA SETIAP HARI

(6)

penting yaitu “dia bukan seorang percaya.” Dengan alasan ini, siapapun bisa untuk tidak berdoa.

Ada yang berpikir, ia sangat sibuk dan stres sehingga tidak sempat berdoa serta tidak bergairah untuk berdoa. Orang seperti ini beranggapan doa itu merupakan suatu beban atau salah satu kegiatan tambahan yang melelahkan. Ia tidak bisa merasakan manfaat doa (Mat 11:28-30). Martin Luther ketika memulai reformasi mengalami suatu kesulitan dan tekanan yang begitu besar serta penuh kesibukan dan permasalahan, namun ia berkata semakin besar masalah yang ia hadapi semakin ia berdoa. Ia bahkan berdoa 5 jam setiap harinya. Orang yang tidak merasakan manfaat doa tidak akan berdoa dan tidak merasa perlu berdoa. Mereka yang beralasan tidak sempat berdoa adalah mereka yang tidak mengerti apa itu doa. Nabi Daniel dengan segala tuduhan yang diberikan kepadanya, justru ia terus berdoa. Tidak ada yang bisa menghalangi orang percaya berdoa. Jika berhenti berdoa sebagai orang Kristen maka sesungguhnya ia sudah menjadi orang Kristen yang tidak memiliki nafas rohani (I Tes 5:17).

Jika kehidupan doa seorang Kristen berlajan dengan lancar dan bukan suatu rutinitas, akan tercipta suatu hubungan intim dengan Tuhan dimana ia merasakan suatu kehangatan ketika berdoa atau manfaat doa itu begitu luar biasa dalam kehidupannya. Ia akan merasa tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak doa. Ia merasakan sesuatu yang hilang dan kosong dalam dirinya ketika tidak berdoa. Jika hal seperti ini terjadi, maka tetaplah berdoa dan menjalinlah hubungan dengan Yesus dalam doa. Namun sebaliknya, ada banyak orang Kristen berdoa dan berdoa tetapi kehilangan rasa keintiman dengan Tuhan, mereka tidak merasakan apa-apa dalam hidup mereka sehingga doa menjadi suatu formalitas atau ritual agama yang harus dilakukan.

Ingatlah, ketika orang percaya berdoa kepada Kristus Yesus, ada suatu ekspresi perasaan, keinginan, hasrat, kerinduan, kehausan dan emosi ketika menyampaikan doa. Jika doa tidak mengandung hal-hal ini, maka doa itu tidak jauh berbeda dengan suatu ucapan-ucapan ritual yang telah dihafalkan hingga selesai, dan sesudahnya orang itu tidak merasakan kehangatan, gugahan atau keyakinan yang mendalam akan apa yang didoakan. Orang Kristen seperti ini sering tertidur ketika berdoa.

(7)

Bagi orang Israel di zaman dulu, mereka memiliki waktu tertentu yang ditetapkan untuk berdoa dalam sehari. Namun dalam Perjanjian Baru, berdoa itu tidak dibatasi waktu. Memang ada saat-saat tertentu dimana ditentukan saat berdoa khususnya ketika dalam suatu kebaktian dan persekutuan. Urutan dalam suatu ibadah dan persekutuan itu penting untuk menciptakan suatu keteraturan. Bayangkan jika tidak ada aturan, saat sebagian bernyanyi, ada yang tiba-tiba berdoa dengan suara keras, atau saat mendengarkan khotbah, ada yang tiba-tiba bernyanyi, maka yang timbul adalah kekacauan (1 Kor 12:31). Di luar dari suatu program yang tersusun rapi, doa pribadi bisa dilakukan kapan saja sesuai dengan gerakan Roh Kudus dalam diri setiap seorang percaya. Ketika seseorang ingin pergi ke suatu tempat, ia bisa berdoa sebelum berangkat, ia bisa berdoa disaat dalam perjalanan dan bisa berdoa ketika sudah tiba di tempat tujuan. Kapan pun itu, ia bisa berdoa.

Doa dalam hal ini tidak harus menutup mata dan melipat tangan serta mencari tempat yang tenang, jauh dari keributan dan sebagainya. Ia cukup menenangkan hati, memfokuskan diri pada Tuhan dan berdoa dalam hati. Semakin tinggi kerohanian seseorang maka semakin tinggi keinginan dan dedikasinya untuk berdoa. Berdoa tidak ada hubungannya dengan pendidikan teologia seseorang atau jabatan yang dipangku dalam gereja. Jika anda ingin melihat tingkat kerohanian seseorang, maka lihatlah dari kehidupan doa dan dedikasinya untuk berdoa dan bukan keterlibatan seseorang dalam kegiatan-kegiatan gereja, meskipun sesungguhnya keduanya akan saling berkaitan. Orang yang memiliki kehidupan doa yang sehat akan mau terlibat dalam berbagai kegiatan gereja.

Dimana harus berdoa?

(8)

membalasnya kepadamu” (Mat 6:6). Perlu diketahui bahwa ayat ini tidak mengajarkan bahwa doa yang berkenan kepada Tuhan adalah doa yang disampaikan dari kamar yang tertutup. Coba pertimbangkan! Kanapa Yesus harus mengatakan ayat 6 tersebut? Karena orang-orang Farisi suka berdoa di tempat-tempat terbuka agar orang lain melihat mereka sebagai orang rohani (Mat 6:5). Tuhan Yesus ingin menghapus kesalahan ini dengan mengatakan, jika berdoa jangan pamer tapi berdoalah kepada Tuhan di tempat tersembunyi, di kamar tertutup. Harus diakui bahwa setiap orang percaya memerlukan waktu khusus untuk berdoa. Khususnya para hamba-hamba Tuhan harus mengkhususkan waktu untuk berdoa, berada di ruang doa atau di kamar khusus untuk berdoa, atau di kamar sendiri.

Orang Kristen terkadang harus menyendiri, menjauhkan diri dari kebisingan termasuk dari keributan anak-anak mereka agar bisa berdoa. Menutup kamar untuk berdoa merupakan salah satu yang bisa dilakukan dan memberitahukan kepada anggota keluarga serta anak-anak mereka agar tidak ribut karena ada yang sedang berdoa di kamar. Seorang ayah dan ibu yang ingin berdoa di kamar dan meminta anak-anaknya untuk diam dan tenang, bukanlah suatu sikap pamer kerohanian, justru hal itu akan mendidik anak-anaknya untuk menghargai mereka yang berdoa dan mengerti bahwa ketika berdoa tidak bisa membuat keributan. Saat-saat menyepi untuk berdoa sangat dibutuhkan khususnya ketika sedang berpuasa. Mereka yang mengemban tugas rohani di gereja sebagai pendeta, guru injil, majelis gereja dan lain-lain, waktu menyepi di kamar untuk berdoa merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan.

(9)

PILAR #3: IBADAH DAN PERSEKUTUAN

Keberhasilan seorang atau keluarga Kristen dalam kehidupan doa akan membawa pengaruh yang luar biasa dalam kehidupannya. Satu hal yang pasti adalah IA AKAN MENGIKUTI IBADAH DAN PERSEKUTUAN di rumah Tuhan (Ibr 10:24-25). Mereka yang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan akan menyadari tanggungjawabnya untuk menyembah Tuhan di rumah Tuhan pada hari Tuhan. Kebaktian Minggu akan menjadi suatu hari yang ditunggu-tunggu orang yang suka berdoa. Ia akan senang datang ke gereja untuk beribadah dan menyembah Allah. Ia memiliki suatu kehausan untuk beribadah. Ia merasa damai dan tenang ketika menyembah Allah karena ia tahu telah melakukan apa yang dikehendaki Allah. Orang percaya sedemikian tidak akan pernah meninggalkan KEBAKTIAN Minggu.

Apapun yang terjadi dalam hidupnya, selagi ia bisa berjalan dan berdiri menuju rumah Tuhan, ia akan bangkit untuk beribadah. Hujan dan guntur yang menyambar sekalipun tidak akan pernah menghalanginya untuk mencari wajah Tuhan di rumah Tuhan. Namun sebaliknya, mereka yang gagal dalam kehidupan doa akan sering meninggalkan Kebaktian Minggu. Orang-orang seperti ini hanya akan mencari Tuhan ketika mereka dalam keadaan sakit, bahaya, malapetaka, berduka dan lain-lain. Orang-orang seperti inilah yang dikatakan sebagai orang-orang yang tidak bertumbuh meskipun sudah lama menjadi orang Kristen tetapi hanya bisa memakan susu firman Allah dan bukan daging keras firman Allah. Melihat lamanya menjadi orang Kristen, sudah sepatutnya menjadi pengajar dalam perkumpulan orang-orang Kristen tetapi itu tidak pernah terjadi karena mereka tidak bertumbuh (Ibr 6:11-14).

(10)

Ada juga orang yang rajin mengikuti berbagai persekutuan dan program gereja bukan karena merasakan manfaatnya tetapi karena sebagai anggota majelis gereja atau pengurus dalam persekutuan sehingga harus menjaga reputasinya sebagai salah satu pemimpin, tetapi jauh dalam hatinya yang paling dalam, jika ada pilihan ia akan mimilih tidak menghadiri program tersebut. Di pihak lain, ada juga orang yang begitu giat dalam berbagai program gereja, hampir menghadiri semua program gereja setiap minggunya, namun ia melakukannya karena ingin menghindar dari permasalahan dan pergumulan yang ia miliki di rumahnya seperti masalah keluarga, suami isteri, perusahaan, pribadi dan lain-lain. Ia menemukan gereja itu bisa menjadi tempatnya untuk melupakan sejenak semua permasalahannya. Dari semua permasalahan diatas, dasar kegagalan seperti ini terletak pada kegagalan dalam kehidupan doa orang tersebut. Jadi yang harus diperbaiki bukanlah menghadiri berbagai persekutuan tetapi kehidupan doanya sehari-hari.

Kebaktian Keluarga

Keluarga Kristen yang mencintai Tuhan dan berkomitmen untuk bertumbuh biasanya bukan hanya membaca firman Allah, melakukan renungan saat teduh, menghadiri kebaktian minggu, dan mengikuti persekutuan-persekutuan di gereja, tetapi juga berkeinginan lebih dekat kepada Tuhan sebagai satu keluarga dan melakukan yang dinamakan dengan “kebaktian keluarga setiap hari.” Kebaktian keluarga ini sangat populer di masa Puritan dan hasilnya, masa itulah puncak keberjayaan kekristenan dalam hal pembinaan keluarga Kristen. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum anak-anak pergi sekolah, dan ada juga yang melakukannya di malam hari sebelum mereka tidur. Mereka bernyanyi, berdoa bersama, membaca Alkitab dan merenungkan firman Allah.

(11)

si ayah akan menuntun anak-anaknya untuk hidup dengan benar sebagai orang Kristen yang percaya pada Yesus. Suami dan isteri bukan hanya memperhatikan pendidikan formal anak-anaknya tetapi juga kerohanian mereka melalui kebakdwtian seperti ini. Kesempatan seperti ini juga menjadi masa yang baik untuk mengamati apakah anak-anak mereka sudah sungguh-sungguh percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Jika suami dan isteri di sini menjadi pemimpin untuk anak-anak mereka, sudah seharusnya mereka memiliki kerohanian dan pengetahuan firman Allah yang lebih tinggi dari anak-anak mereka.

Dalam hal ini, suami juga berperan sebagai pemimpin rohani bagi isterinya dimana ia harus memperhatikan kerohanian isterinya agar tetap bertumbuh dalam Tuhan. Bagi para isteri yang memiliki suami yang belum percaya pada Kristus akan memiliki pergumulan dan permasalahan untuk melakukan kegiatan ini karena belum tentu bisa melakukan kebaktian keluarga seperti ini, bahkan sekalipun suaminya mengizinkannya, sang isteri akan berperan sebagai pemimpin rohani untuk anak-anaknya. Kebaktian keluarga merupakan waktu yang khusus bagi setiap keluarga untuk bersama-sama bertumbuh dalam Tuhan dan saat yang baik untuk memantau pertumbuhan iman dan kerohanian anggota keluarga. Sangat disayangkan kegiatan ini sudah jarang ditemukan dalam keluarga Kristen sekarang ini bahkan dalam keluarga pendeta, guru injil dan majelis gereja.

PILAR #4: PEMAHAMAN ALKITAB SECARA PRIBADI

Setelah seseorang berkomitmen dan berdedikasi untuk membaca Alkitab dan saat teduh (Maz 1:2) dan teruji paling sedikitnya telah berlangsung satu tahun penuh, baru kemudian ia akan berdedikasi untuk melaksanakan pemahaman Alkitab (PA) pribadi. Jika pada pilar pertama diatas saja ia masih gagal, ia tidak akan mungkin bisa melakukan pilar keempat ini.

(12)

umumnya dilakukan oleh mereka yang berkomitmen sebagai satu keluarga dimana suami, isteri dan anak-anak mereka ikut berdiskusi dalam merenungkan dan mendiskusikan bagian firman Allah. Biasanya kegiatan ini bisa dilakukan pada malam hari atau setelah kebaktian keluarga. Pelaksanaan kegiatan ini biasanya mengikuti buku panduan jika masih pemula dalam hal kekeristenan atau dalam melaksanakan kegiatan ini. Tetapi jika sudah semakin dewasa, mereka bisa memilih bagian firman Allah tertentu untuk dipelajari bersama-sama. Dalam hal ini suami sebagai pemimpin keluarga dan sekaligus pemimpin rohani dalam rumah tangga akan bertanggungjawab dalam pelaksanaannya. Kegiatan ini tidak harus dilakukan setiap hari tetapi bisa memilih hari-hari tertentu sebagai hari pendalaman Alkitab pribadi. Jika hal ini terlaksana dengan baik maka kegiatan ini juga akan sangat bermanfaat dalam pembinaan kerohanian setiap anggota keluarga.

Membaca buku rohani

Hal yang tidak kalah pentingnya dalam membangun iman dan kerohanian seseorang adalah membaca buku rohani. Namun tidak semua buku-buku rohani Kristen itu baik. Ada buku-buku-buku-buku yang bisa merusak iman dan kerohanian karena isi buku-buku itu bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab. Untuk itu dibutuhkan petunjuk dan panduan buku-buku apa saja yang boleh dibaca. Membeli buku-buku rohani di toko buku memang sangat mudah tetapi mendapatkan buku yang berbobot dan bagus tidak semudah yang dibayangkan. Judul dan sampul yang menarik belum tentu mencerminkan ajaran Alkitabiah yang benar. Oleh karena itu barangsiapa yang ingin membaca buku-buku rohani harus berhati-hati dan memiliki prasupposisi bahwa hanya ALKITAB yang benar dan setiap buku yang tidak sejalan dan harmonis dengan ajaran Alkitab harus ditolak (ref. Rom 3:4).

(13)

yang sudah semakin kuat melalui pembacaan Alkitab dan saat teduh yang teratur, ia bisa membaca buku-buku rohani yang lebih bersifat isu-isu gerejawi sehingga ia tahu apa yang sedang terjadi dalam kekristenan sekarang ini. Tetapi jika ada keraguan akan buku apa saja yang bisa/perlu dibaca, akan lebih berhikmat jika meminta petunjuk dari hamba Tuhan atau pendetanya demi tercapainya kerohanian yang dewasa. Seorang yang telah memiliki fondasi teologis yang kuat, bisa membaca buku rohani apa saja dengan pendekatan kritis dimana Alkitab adalah satu-satunya kebenaran mutlak dan segala sesuatu yang bertentangan dan kontradiksi dengan Alkitab harus tolak. Ajaran yang merendahkan dan meremehkan Alkitab harus dibuang dan ditolak.

KESIMPULAN

Referensi

Dokumen terkait