• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi dan Pengukuran Distribusi G

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Identifikasi dan Pengukuran Distribusi G"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTIFIKASI DAN PENGUKURAN DISTRIBUSI

GASTROPODA

DI AREA RESTORASI SEGARA ANAKAN CILACAP

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

DINI ASTRIANIS MIFTAHULJANNAH

B1J011110

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

(2)
(3)

IDENTIFIKASI DAN PENGUKURAN DISTRIBUSI

GASTROPODA

DI AREA RESTORASI SEGARA ANAKAN CILACAP

DINI ASTRIANIS MIFTAHULJANNAH

B1J011110

Diajukan sebagai pedoman untuk melaksanakan praktik kerja

lapangan

pada Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Purwokerto

Disetuji dan disahkan

Pada tanggal

Mengetahui :

Pembantu Dekan I Fakultas Biologi

Pembimbing

Universitas Jenderal Soedirman

Drs. Agus Hery Susanto, M.S.

Dr.rer.nat. Erwin

Riyanto Ardli, M.Sc.

(4)

PRAKATA

Laporan praktik kerja lapangan ini ditulis guna memenuhi persyaratan praktik kerja lapangan. Penulis mengambil topik tentang identifikasi dan pengukuran distribusi gastropoda di area restorasi Segara Anakan Cilacap. Penulis mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang teah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga laporan praktik kerja lapangan ini dapat diselesaikan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dr.rer.nat. Erwin Riyanto Ardli M. Sc. selaku Dosen Pembimbing Praktik Kerja Lapangan yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penulisan laporan kerja praktik kerja Lapangan ini, Drs. Agus Hery Susanto, M.S. selaku Pembantu Dekan I Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman yang telah memberikan izin untuk pelaksanaan praktik kerja lapangan, Eko Setio Wibowo S.Si, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah mengarahkan dalam pelaksanaan praktik kerja lapangan, serta semua pihak yang telah membantu secara langsung maupun secara tidak langsung dalam penulisan Laporan Kerja Praktik Kerja Lapang ini.

Penulis berharap semoga penyusunan Laporan Kerja Praktek Lapangan ini dapat memberi manfaat yang berarti bagi semua pihak sebagai rujukan informasi di bidang ilmu pengetahuan terutama ilmu biologi.

Purwokerto, Juli 2014

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ...i

LEMBAR PENGESAHAN ...ii

PRAKATA ...iii

DAFTAR ISI ...iv

DAFTAR TABEL ...v

DAFTAR GAMBAR ...vi

DAFTAR LAMPIRAN ...vii

I. PENDAHULUAN ...1

II. MATERI DAN METODE ...4

A. Materi Praktik Kerja Lapangan ...4

B. Metode Praktik Kerja Lapangan ...4

III.EVALUASI HASIL KERJA...5

DAFTAR REFERENSI ...21

LAMPIRAN ...22

DAFTAR TABEL

(6)

Tabel 3.2. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada stasiun 2 5

Tabel 3.3. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada stasiun 3 6

Tabel 3.4. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada stasiun 4 6

Tabel 3.5. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada stasiun 5 7

Tabel 3.6. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada stasiun 6 7

Tabel 3.7. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada stasiun 7 8

Tabel 3.8. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada stasiun 8 9

Tabel 3.9. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada stasiun 9 9

Tabel 3.10. Nilai rata-rata, indeks varians, dan pola distribusi spesies gastropoda

...9

DAFTAR GAMBAR

(7)

Gambar 3.2. Cerithidea sp. ...10

Gambar 3.3. Cerithidea obtusa ...11

Gambar 3.4. Cerithidea djadjarensis ...11

Gambar 3.5.Cerithidea quadrata ...12

Gambar 3.6. Cerithidea alata ...12

Gambar 3.7. Cassidula aurisfelis ...13

Gambar 3.8. Cassidula nucelus ...13

Gambar 3.9. Neritina violacea ...14

Gambar 3.10. Neritina turrita ...14

Gambar 3.11. Neritina lineata ...15

Gambar 3.12. Nerita planospira ...15

Gambar 3.13. Nerita picea ...16

Gambar 3.14. Assimenia brevicula ...16

Gambar 3.15. Telescopium telescopium...17

Gambar 3.16. Littoraria sp. ...17

Gambar 3.17. Littoraria carinifera ...18

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

(9)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah pesisir luas dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, memiliki hutan mangrove terluas di dunia dengan luas yaitu 4,25 juta Ha atau sekitar 27% dari luas hutan mangrove dunia (Kehutanan, 1997). Tidak dipungkiri hutan mangrove pun mempunyai berbagai fungsi yaitu fungsi fisik, ekologis dan sosial ekonomi yang berguna bagi ekosistem pesisir maupun laut dan masyrakat sekitarnya.

Secara fisik, hutan mangrove berguna sebagai greenbelt

(pelindung) bagi daerah pesisir dari abrasi akibat terjangan ombak, tsunami dan badai. Fungsi ekologis sebagai tempat hidup bagi biota perairan seperti ikan, udang dan kepiting. Fungsi sosial-ekonomi ini ditujukan sebagai mata pencaharian, misalnya kayu mangrove digunakan sebagai bahan baku arang yang mempunayai nilai ekonomi tinggi. Aktifitas masyarakat dalam pemanfaatan hutan mangrove ini tidak jarang menyebabkan kerusakan pada hutan mangrove. Tingkat kerusakan ekosistem mangrove dapat dibagi dalam tiga kondisi yaitu rusak berat, rusak sedang dan tidak rusak. Rusak berat ditandai dengan habisnya hutan mangrove dalam satu wilayah, rusaknya kesimbangan ekologi, intrusi air laut yang tinggi dan menurunnya kualitas tanah. Rusak sedang ditandai dengan, masih tersisa sedikit hutan mangrove dalam suatu wilayah, intrusi yang terjadi tidak terlalu parah. Ekosistem mangrove yang tidak rusak, kondisi mangrove masih terjaga dengan baik dan lestari, biasanya merupakan wilayah konservasi yang dijaga kondisi oleh masyarakat sekitar (Bangen, 2003)

Total luas hutan di Kabupaten Cilacap (hutan negara dan hutan rakyat) adalah 77.412,88 Ha. (Cilacap, 1998). Satu diantaranya adalah hutan mangrove yang terdapat di segara anakan. Segara anakan adalah sebuah laguna yang terletak di Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah. Laguna tersebut merupakan suatu ekosistem yang unik yang terdiri dari badan air (laguna) bersifat payau, hutan mangrove dan lahan rendah yang dipengaruhi pasang surut (Erftemeijer et al., 1988).

(10)

bagi para nelayan yang tinggal di kampung ini. Pelabuhan Sleko adalah gerbang utama, untuk memasuki kawasan wisata Segara Anakan. Segara Anakan yang berada dibagian belakang Pulau Nusa Kambangan dan untuk mencapainya bisa menggunakan perahu nelayan kecil atau compreng, perjalanan sekitar 3 jam dari hulu hingga ke hilir. Hutan bakau mulai terlihat ketika memasuki sungai kecil. Saat ini Segara Anakan dikelola ke dalam 11 zona peruntukan, antara lain: zona perlindungan, cagar alam, hutan, pembangunan, agrikultur, pemukiman, akuatik, dan departemen kehakiman (berhubungan dengan LP Nusa Kambangan), dan zona laut (Erftemeijer et al., 1988).

Area mangrove Segara Anakan sebenarnya merupakan yang terluas di Jawa (13.500 ha). Jumlahnnya kini semakin menyusut seiring dengan banyaknya terjadi reklamasi lahan ilegal dan pencurian kayu bakau. Padahal, hutan mangrove ini menjadi tempat berlindung 85 spesies burung, termasuk spesies yang endemik hanya ada di Segara Anakan: Centropus nigrorufus Bahkan hutan bakau Segara Anakan sering menjadi ajang berkumpulnya kawanan burung yang bermigrasi dari selatan saat di wilayah Australia musim dingin (Pribadi et al., 2009).

Supriharyono (2000) menyatakan bahwa moluska adalah merupakan organisme yang banyak ditemukan di daerah hutan mangrove. Salah satu kelompok organisme molusca penyusun fauna ekosistem mangrove dengan tingkat keanekaragaman jenis yang tinggi adalah gastropoda. Gastropoda adalah yang paling banyak jenisnya, dimana sekitar 35.000 spesies yang telah diketahui dan kurang dari 15.000 spesies dalam bentuk fosil (Barnes, 1974). Di Indonesia terdapat sekitar 1500 jenis yang menempati berbagai jenis habitat sehinga di anggap sebagai kelompok yang paling sukses (Nybakken, 1988). Selain sebagai tempat berlindung dan mencari makanan, mangrove juga merupakan tempat berkembang biak bagi burung air. Bagi berbagai jenis ikan dan kepiting , perairan mangrove merupakan tempat ideal sebagai daerah asuhan, tempat mencari makanan dan tempat pembesaran anak.

(11)

Anakan terdapat 29 spesies gastropoda dari 10 familia. Sedimentasi yang lebih tinggi di daerah Klaces menyebabkan jumlah spesies dan kelimpahan individu gastropoda lebih banyak, yaitu sebanyak 24 jenis dan 58,2 individu.m-2. Kelimpahan gastropoda semakin tinggi disebabkan semakin jauhnya lokasi dari pantai karena adanya tekanan linguangan berupa sampah organi maupun anorganik di sebagian besar pantai (Pribadi et al., 2009).

B. Tujuan

1. Mengidentifikasi spesies gastropoda yang hidup di area restorasi Segara Anakan Cilacap

(12)

II. MATERI DAN CARA KERJA

A. Materi, Lokasi dan Waktu Penelitian

1.1. Materi Penelitian

Materi yang digunakan dalam praktik kerja lapang ini adalah tali transek, toples plastik sebagai wadah penampung gastropoda, kamera digital untuk dokumentasi, buku pedoman identifikasi gastropoda dan gastropoda sebagai objek penelitian.

1.2. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

Kegiatan praktik kerja lapangan ini dilakukan di area restorasi Segara Anakan Cilacap. Praktik kerja lapangan dilakasanakan sekitar 4 bulan pada Maret-Juli meliputi penyusunan proposal, praktik lapangan dan penyusunan laporan kegiatan praktik kerja lapangan. Praktik lapangan di Segara Anakan Cilacap dilaksanakan sebanyak 3 kali turun ke lapangan setiap bulan, selama 3 bulan dari Maret-Mei 2014.

B. Cara Kerja

Pengambilan sampel organisme dilakukan pada saat air surut pada tiga stasiun dengan melakukan tiga kali pengulangan pada setiap stasiun. Seluruh organisme yang berada pada akar, batang, ranting,daun dikumpulkan. Pengumpulan organisme yang berada pada pohon mangrove dibatasi pada ketinggian 0-1 m. Sampel yang telah diperoleh kemudian dimasukan kedalam kantong plastik atau wadah yang sudah di beri label, dan diawetkan dengan larutan formalin 10% atau alkohol 70%, selanjutnya diidentifikasi, dihitung jumlah individu setiap spesies.

(13)

III.

EVALUASI HASIL KERJA

Berdasarkan hasil praktik kerja lapangan yang dilakukakan di area restorasi Segara Anakan Cilacap, jumlah gastropoda terbanyak didapatkan saat minggu pertama turun ke lapangan, yaitu sebanyak 244 ekor. Pada stasiun pertama sebanyak tiga kali ulangan, didapatkan kelimpahan total gastropoda 90 ekor dari 7 spesies. Hasil identifikasi gastropoda yang diperoleh dari Segara Anakan adalah sebagai berikut: Tabel 3.1. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada

1 Cerithidea obtusa 11 0 2 13

2. Cerithidea sp 7 0 0 7

3. Cerithidea

djadjarensis 0 10 0 10

4. Cassidula aurisfelis 5 17 19 41

5. Cassidula nucleus 0 3 4 7

6. Neritina violacea 0 9 2 11

7. Neritina turita 0 1 0 1

Total 23 40 27 90

Individu gastropoda terbanyak stasiun pertama, terdapat pada ulangan kedua, yaitu berlokasi di tengah wilayah mangrove, sebanyak 40 ekor. Sedangkan jumlah gastropoda terbanyak dari tiga kali ulangan yaitu spesies Cassidula aurisfelis sebanyak 41 ekor. Data faktor lingkungan yang telah berhasil diukur berdasarkan rata-rata dari tiga kali ulangan yaitu suhu air sebesar 29⁰C, suhu udara 31,6⁰C, salinitas sebesar 3 ppm, pH sebesar 6,3, kelembaban tanah 43,3, berat basah tanah 18,83 gr dan berat kering tanah 6,6 gr.

Pada stasiun 2 didapatkan kelimpahan total gastropoda sebanyak 108 ekor dari 8 spesies, merupakan kelimpahan terbanyak dibandingkan stasiun 1 dan stasiun 3. Hasil identifikasi gastropoda yang diperoleh, yaitu:

Tabel 3.2. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada stasiun 2

(14)

Ulangan 1 Ulangan 2

Ulangan 3

1 Cerithidea obtusa 17 4 2 23

2. Cerithidea sp 18 1 2 21

3. Cerithidea

djadjarensis 1 4 0 18

4. Cassidula aurisfelis 2 13 5 20

5. Cassidula nucleus 0 7 1 8

6. Neritina violacea 4 7 4 15

7. Neritina turita 0 0 1 1

8. Assimenia brevicula 2 0 0 2

Total 57 36 15 108

Individu gastropoda terbanyak stasiun 2, terdapat pada ulangan kesatu, yaitu berlokasi di pinggir wilayah daratan mangrove, sebanyak 57 ekor. Jumlah gastropoda terbanyak dari tiga kali ulangan yaitu spesies

Cerithidea obtusa sebanyak 23 ekor. Data faktor lingkungan yang telah berhasil diukur berdasarkan rata-rata dari tiga kali ulangan yaitu suhu air sebesar 33,3⁰C, suhu udara 31,3⁰C, salinitas sebesar 2,6 ppm, pH sebesar 6,6, kelembaban tanah 33,3, berat basah tanah 18,8 gr dan berat kering tanah 6,4 gr.

Pada stasiun 3 didapatkan kelimpahan total gastropoda sebanyak 46 ekor dari 4 spesies. Hasil identifikasi gastropoda yang diperoleh, yaitu: Tabel 3.3. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada

1 Cerithidea obtusa 5 4 10 19

2. Cerithidea sp 6 3 2 11

3. Cerithidea

djadjarensis 3 7 5 15

4. Neritina planospira 1 0 0 1

Total 15 14 17 46

(15)

sebesar 6,6, kelembaban tanah 13,3, berat basah tanah 20,76 gr dan berat kering tanah 9,65 gr.

Minggu kedua turun ke lapangan, didapatkan kelimpahan total dari 3 stasiun yaitu 143 ekor gastropoda dari 15 spesies. Pada stasiun 4 total kelimpahan gastropoda sebanyak 32 ekor dari 6 spesies. Hasil identifikasi gastropoda yang diperoleh, yaitu:

1 Cerithidea obtusa 0 9 0 9

2. Cerithidea sp 1 5 1 7

3. Cerithidea

djadjarensis 0 1 2 3

4. Cassidula aurisfelis 2 0 1 3

5. Neritina violacea 3 2 3 8

6. Nerita picea 2 0 0 2

Total 8 17 7 32

Individu gastropoda terbanyak stasiun 1, terdapat pada ulangan kedua, yaitu berlokasi di tengah wilayah mangrove, sebanyak 17 ekor. Jumlah gastropoda terbanyak dari tiga kali ulangan yaitu spesies

Cerithidea obtusa sebanyak 9 ekor. Data faktor lingkungan yang telah berhasil diukur berdasarkan rata-rata dari tiga kali ulangan yaitu suhu air sebesar 27,6⁰C, suhu udara 32,3⁰C, salinitas sebesar 4 ppm, pH sebesar 6,5, kelembaban udara 57, berat basah tanah 21,5 gr dan berat kering tanah 8,37 gr.

Pada stasiun 5 didapatkan kelimpahan total gastropoda sebanyak 62 ekor dari 10 spesies, merupakan kelimpahan terbanyak dibandingkan

1. Cerithidea obtusa 0 1 8 9

2. Cerithidea sp 0 0 15 15

3. Cerithidea

(16)

4. Cerithidea alata 6 0 3 9 5. Cassidula aurisfelis 0 1 0 1

6. Cassidula nucleus 0 2 0 2

7. Neritina violacea 8 5 2 15

8. Neritina turrita 1 0 0 1

9. Neritina lineata 0 3 0 3

10. Assimenia brevicula 0 4 0 4

Total 15 16 31 62

Individu gastropoda terbanyak stasiun 2, terdapat pada ulangan ketiga, yaitu berlokasi jauh di dalam wilayah daratan mangrove, sebanyak 31 ekor. Jumlah gastropoda terbanyak dari tiga kali ulangan yaitu spesies Cerithidea sp sebanyak 15 ekor dan Neritina violacea 15 ekor. Data faktor lingkungan yang telah berhasil diukur berdasarkan rata-rata dari tiga kali ulangan yaitu suhu air sebesar 30,6⁰C, suhu udara 32,6⁰C, salinitas sebesar 3,3 ppm, pH sebesar 5,8, kelembaban udara 54,3, berat basah tanah 25,2 gr dan berat kering tanah 10,14 gr.

Pada stasiun 6 didapatkan kelimpahan total gastropoda sebanyak 49 ekor dari 12 spesies. Hasil identifikasi gastropoda yang diperoleh, yaitu: Tabel 3.6. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada

1 Cerithidea obtusa 0 11 2 13

2. Cerithidea sp 0 0 3 3

3. Cerithidea

djadjarensis 0 0 2 2

Tabel 3.6. (lanjutan)

4. Cassidula aurisfelis 1 1 0 2

5. Cassidula nucleus 0 2 1 3

6. Neritina violacea 0 6 5 11

7. Neritina lineata 1 0 0 1

8. Nerita planospira 0 0 1 1

(17)

Total 12 22 15 49

Individu gastropoda terbanyak stasiun 3, terdapat pada ulangan kedua, yaitu berlokasi jauh di tengah wilayah daratan mangrove, sebanyak 22 ekor. Jumlah gastropoda terbanyak dari tiga kali ulangan yaitu spesies Cerithidea obtusa sebanyak 13 ekor. Data faktor lingkungan yang telah berhasil diukur berdasarkan rata-rata dari tiga kali ulangan yaitu suhu air sebesar 31⁰C, suhu udara 32,6⁰C, salinitas sebesar 4,5 ppm, pH sebesar 6,2, kelembaban udara 52,6, berat basah tanah 22,94 gr dan berat kering tanah 9,38 gr.

Minggu ketiga turun ke lapangan, didapatkan kelimpahan total dari 3 stasiun yaitu 161 ekor gastropoda dari 13 spesies. Pada stasiun 7 total kelimpahan gastropoda sebanyak 50 ekor dari 10 spesies. Hasil identifikasi gastropoda yang diperoleh, yaitu:

Tabel 3.7. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada

1. Cerithidea obtusa 0 0 9 9

2. Cerithidea sp 0 0 4 4

3. Cerithidea

djadjarensis 0 1 4 5

4. Cerithidea quadrata 7 4 1 12 5. Cassidula aurisfelis 0 1 0 1

6. Cassidula nucleus 0 0 1 1

7. Neritina violacea 0 10 2 12

8. Neritina lineata 1 1 0 2 kedua, yaitu berlokasi di tengah wilayah mangrove, sebanyak 17 ekor. Jumlah gastropoda terbanyak dari tiga kali ulangan yaitu spesies

(18)

Pada stasiun 8 didapatkan kelimpahan total gastropoda sebanyak 73 ekor dari 4 spesies, merupakan kelimpahan terbanyak dibandingkan stasiun 7 dan stasiun 9.

Tabel 3.8. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada

1. Cerithidea obtusa 15 0 4 19

2. Cerithidea sp 5 2 3 10

3. Cerithidea

djadjarensis 5 0 0 5

4. Neritina violacea 6 20 13 39

Total 31 22 20 73

Individu gastropoda terbanyak stasiun 2, terdapat pada ulangan pertama, yaitu berlokasi jauh di pinggir wilayah daratan mangrove, sebanyak 31 ekor. Jumlah gastropoda terbanyak dari tiga kali ulangan yaitu spesies Neritina violacea 39 ekor. Data faktor lingkungan yang telah berhasil diukur berdasarkan rata-rata dari tiga kali ulangan yaitu suhu air sebesar 29,3⁰C, suhu udara 30,3⁰C, salinitas sebesar 2,3 ppm, pH sebesar 4,6, kelembaban udara 66,6, berat basah tanah 30,7 gr dan berat kering tanah 11,1 gr.

Pada stasiun 9 didapatkan kelimpahan total gastropoda sebanyak 38 ekor dari 7 spesies. Hasil identifikasi gastropoda yang diperoleh, yaitu: Tabel 3.9. Jumlah spesies gastropoda yang ditemukan pada

1. Cerithidea obtusa 0 2 12 14

2. Cerithidea sp 0 1 2 3

3. Cerithidea

djadjarensis 7 0 1 8

4. Neritina violacea 2 4 3 9

5. Nerita planospira 1 0 0 1

6. Assimenia brevicula 0 0 1 1

7. Littorinopsis

intermedia 0 0 2 2

Total 10 7 21 38

(19)

sebanyak 21 ekor. Jumlah gastropoda terbanyak dari tiga kali ulangan yaitu spesies Cerithidea obtusa sebanyak 14 ekor. Data faktor lingkungan yang telah berhasil diukur berdasarkan rata-rata dari tiga kali ulangan yaitu suhu air sebesar 28,6⁰C, suhu udara 29,3⁰C, salinitas sebesar 4,6 ppm, pH sebesar 4,3, kelembaban udara 66,6, berat basah tanah 30,33 gr dan berat kering tanah 10,9 gr.

Gambar 3.1. Peta lokasi stasiun pengambilan sampel. Sumber: Google Maps.

Berikut hasil klasifikasi dari beberapa gastropoda yang ditemukan: 1. Cerithidea sp

Gambar 3.2. Cerithidea sp.

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Cerithioidea Famili : Potamididae Genus : Cerithidea

Spesies: Cerithidea sp.

(20)

Gambar 3.3. Cerithidea obtusa

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Neotaenioglossa Famili : Potamididae

Genus :

Cerithidea

Spesies

:

Cerithidea obtusa

3.

Cerithidea djadjarensis

Gambar 3.4. Cerithidea djadjarensis

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Neotaenioglossa Famili : Potamididae Genus : Cerithidea

Spesies: Cerithidea djadjarensis

(21)

Gambar 3.5. Cerithidea quadrata

Klasifikasi Cerithidea obtusa menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Neotaenioglossa Famili : Potamididae Genus : Cerithidea

Spesies: Cerithidea quadrata

5.

Cerithidea alata

Gambar 3.6. Cerithidea alata

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Neotaenioglossa Famili : Potamididae Genus : Cerithidea

Spesies: Cerithidea alata

(22)

Gambar 3.7. Cassidula aurisfelis

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Pulmonata Famili : Ellobiidae Genus : Cassidula

Spesies: Cassidula aurisfelis

7. Cassidula nucleus

Gambar 3.8. Cassidula nucleus

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Pulmonata Famili : Ellobiidae Genus : Cassidula

Spesies: Cassidula nucleus

(23)

Gambar 3.9. Neritina violacea

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda

Ordo : Archaeogastropoda Famili : Neritidae

Genus : Neritina

Spesies: Neritina violacea

9. Neritina turrita

Gambar 3.10. Neritina turrita

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda

Ordo :Archaeogastropoda Famili : Neritidae

Genus : Neritina

Spesies: Neritina turrita

(24)

Gambar 3.11. Neritina lineata

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda

Ordo : Archaeogastropoda Famili : Neritidae

Genus : Neritina

Spesies: Neritina lineata

11. Nerita planospira

Gambar 3.12. Nerita planospira

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Neritopsina Famili : Neritidae Genus : Nerita

Spesies: Nerita planospira

(25)

Gambar 3.13. Nerita picea

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda

Ordo : Archaeogastropoda Famili : Neritidae

Genus : Nerita

Spesies: Nerita picea

13. Assimenia brevicula

Gambar 3.14. Assiminea brevicula

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gatsropoda Ordo : Littorinimorpha Famili : Assimeneidae Genus : Assimenia

Spesies: Assimenia brevicula

(26)

Gambar 3.15. Telecospium telecospium

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Mesogastropoda Famili : Potamididae Genus : Telecospium

Spesies: Telecospium telecospium

15. Littoraria sp.

Gambar 3.16. Littoraria sp.

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Mesogastropoda Famili : Littorinidae Genus : Littoraria

(27)

Gambar 3.17. Littoraria carinifera

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Neotaenioglossa Famili : Littorinidae Genus : Littoraria

Spesies: Littoraria carinifera

17. Littorinopsis intemedia

Gambar 3.18. Littorinopsis intermedia

Klasifikasi menurut (Dharma, 1992) yaitu: Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Littorinoidea Famili : Littorinidae Genus : Littorinopsis

Spesies: Littorinopsis intermedia

(28)

ID =

(3-1)

Keterangan:

ID : Indeks Dispersal S2: Varians sampel µ : Rata-rata Kriteria Pengujian:

Jika µ = S2 atau ID = 1 maka struktur penyebaran populasi acak

Jika µ > S2 atau ID > 1 maka struktur penyebaran populasi mengelompok. Jika µ < S2 atau ID < 1 maka struktur penyebaran populasi menyebar.

Berdasarkan hasil perhitungan, didapatkan nilai rata-rata, indeks

Cerithidea obtusa 128 4,74074 27,2764 Menyebar 2. Cerithidea sp 81 3 19,3846 Menyebar

3. Cerithidea djadjarensis 69 2,5556 12,641 Menyebar

4. Cerithidea alata 9 0,3 1,61538 Menyebar 5. Cerithidea quadrata 12 0,4 2,3 Menyebar 6. Telecospium telecospium 1 0,03704 0,03704 Acak

7.

Neritidae

Neritina violacea 120 4,4

21,02

56 Menyebar 8. Neritina turrita 3 0,11111 0,10256 Mengelompok

9. Neritina lineata 6 0,2 0,41026 Menyebar 10

. Nerita planospira 3 0,1111 0,10256 Mengelompok 11

(29)

12

. Ellobiidae Cassidula aurisfelis 68

2,518 52

27,33

62 Menyebar 13

. Cassidula nucleus 21 0,77778 2,64103 Menyebar 14

. Assimeneidae Assimenia brevicula 17 0,62963 3,0114 Menyebar 15

.

Littorinida e

Littoraria sp. 4 0,14815 0,20798 Menyebar 16

. Littoraria carinifera 1 0,03704 0,03704 Acak 17

.

Littorinopsis

intermedia 3

0,111 11

0,179

(30)

DAFTAR REFERENSI

Bangen, D.G., 2003. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Barnes, R.S.K., 1974. Estuarine Biology. London: Edward Arnold Ltd.

Cilacap, P.T.I., 1998. Rancangan Sistin Pengelolaan Hutan Bakau di Kawasan Segara Anakan Kabupaten Dati II Cilacap Jawa Tengah. Jakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mangrove.

Dharma, B., 1992. Siput dan Kerang Indonesia I (Indonesian Shells). Jakarta: PT. Sarana Graha.

Erftemeijer, P., Balen, B.V. & Djuharsa, E., 1988. The Importance of Segara Anakan for Nature Conservation with Special Reference to Its Avivauna. PHPA-AWB/Interwader Report No.6. Bogor.

Kehutanan, D., 1997. Startegi Pengelolaan Mangrove di Indonesia.

Jakarta.

Nybakken, J.W., 1988. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologi. Jakarta: Gramedia.

Odum, E.P., 1996. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Pribadi, R., Retno, H. & Chrisna, A.S., 2009. Komposisi Jenis dan Distribusi Gastropoda di Kawasan Hutan Mangrove Segara Anakan Cilacap. Ilmu Kelautan, 14, pp.102-11.

Suprihayono, 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

(31)

Gambar

Tabel  3.3.  Jumlah  spesies  gastropoda  yang  ditemukan  pada
Tabel  3.6.  Jumlah  spesies  gastropoda  yang  ditemukan  pada
Tabel  3.7.  Jumlah  spesies  gastropoda  yang  ditemukan  pada
Tabel  3.8.  Jumlah  spesies  gastropoda  yang  ditemukan  padastasiun 8
+7

Referensi

Dokumen terkait