• Tidak ada hasil yang ditemukan

Salam Redaksi Surat Pembaca Sinergitas Utama Pendidikan Ekonomi Kesehatan Lingkungan Hidup Wanita Hukum Parlementaria Pemko News Agama Olah Raga Polemik Budaya Sosial Opini History Tepian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Salam Redaksi Surat Pembaca Sinergitas Utama Pendidikan Ekonomi Kesehatan Lingkungan Hidup Wanita Hukum Parlementaria Pemko News Agama Olah Raga Polemik Budaya Sosial Opini History Tepian"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

REFERENSI TEBING TINGGI DELI

TERBIT SEJAK 16 JULI 2002

Redaksi Menerima Tulisan, Foto, juga surat berisi saran penyempurnaan dari pembaca dengan melampirkan Tanda Pengenal (KTP, SIM, Paspor) dan Redaksi berhak mengubah tulisan sepanjang tidak mengubah isi dan maknanya

Tulisan dikirimkan ke alamat Redaksi Majalah Sinergi :

Bagian Administrasi Humasy Pimpinan dan Protokol Sekretariat Daerah Kota Tebing Tinggi Jl. DR. Sutomo No. 14 Tebing Tinggi

Email : [email protected]

KETUA PENGARAH :

Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM (Walikota Tebing Tinggi)

WAKIL KETUA PENGARAH : H. Irham Taufik, SH. MAP (Wakil Walikota Tebing Tinggi)

PENGENDALI : Drs. H. Hadi Winarno (Plt. Sekdako Tebing Tinggi)

PENANGGUNG JAWAB : Drs. H. Agussalim

(Assisten Administrasi Umum)

PIMPINAN REDAKSI :

Ahdi Sucipto, SH (Kabag Adm. Humas PP)

WAKIL PIMPINAN REDAKSI : Nursinta Pasaribu, S. Sos (Kasubbag Pemberitaan)

REDAKSI :

Rizal Syam, Khairul Hakim, S. Sos, Juanda, Sapta Nugraha

KOORDINATOR LIPUTAN : Drs. Abdul Khalik, MAP

LIPUTAN & REPORTER : Wartawan Unit Pemko Tebing Tinggi

DESAIN & LAYOUT : M. Rahmadsyah

SEKRETARIS REDAKSI : Dian Astuti

BENDAHARA : Jaffet Candra Saragih

FOTOGRAFER : Zaini Purba, S.Sos. I

DISTRIBUTOR :

Riduwan, Sri Astuty Rahmayani, SE

DITERBITKAN OLEH :

BAGIAN ADMINISTRASI HUMAS PIMPINAN DAN PROTOKOL Sekretariat Daerah Kota Tebing Tinggi Alamat : Jl. DR. Sutomo No. 14 Tebing Tinggi Telp. 0621 - 329139

PRACETAK :Bege’s Medan, Senpro78

(Isi di luar tanggungjawab percetakan)

Tekad jajaran redaksi menjawab tantangan itu, telah menghasilkan moti-vasi luar biasa, sehingga banyak di antara crew Kami yang harus menghabiskan banyak waktunya dalam mengcover tu-lisan-tulisan yang layak disajikan kepada pembaca sekalian.

Untuk SINERGI edisi April 2012 ini, Kami akan menyajikan sejumlah rubrik yang diharapkan bisa menambah ref-erensi Anda terhadap kota tercinta ini. Laporan utama kali ini, adalah menyoroti persoalan air. Ada kekhawatiran, ke de-pan kita akan mengalami krisis air, sep-erti yang dialami jamaknya kota-kota di negeri ini. Dengan pendekatan ecological history, Kami coba memotret sejarah air di kota ini, sejak zaman penjajahan Be-landa.

Selain laporan utama itu, ada se-jumlah rubrik yang disajikan dengan pendekatan reportase langsung dari lapangan. Misalnya, pada rubrik Agama,

reporter tamu Kami Humala Siagian, Kami ‘paksa’ bekerja keras mengumpul-kan data soal sejarah masuknya agam Kristen di Tebingtinggi. Potret perkem-bangan salah satu agama samawi itu, Kami harap bisa menjadi referensi paling baru soal agama-agama di kota tercinta ini.

Edisi kali ini, juga menampilkan sejumlah kajian, misalnya nasib sawah kita yang sedikit, tapi terus menga-lami alih fungsi. Juga gambaran lem-baga pemasyarakatan (Lapas) kelas II b Tebingtinggi dalam rubrik hukum. Se-dangkan dalam rubrik budaya/sastra reporter tamu Zikri Sikumbang men-coba mengulitinya dari sudut keunikan budaya itu. Tulisan sejarah kantor wali kota Tebingtinggi dari masa ke masa juga menjadi sajian kami berikutnya.

Sedangkan di rubrik olah raga, ada sebuah klub voli di Kel. Deblot Sundoro yang telah berkiprah selama 13 tahun dalam pembinaan remaja yang pantas dijadikan contoh kesungguhan dalam membina olah raga. Demikian pula den-gan sebuah analisis dari halaman opini, mengetengahkan topik air dalam pers-pektif Islam.

Pembaca budiman. Ada bebera-pa peristiwa penting yang tak sembebera-pat Kami perhatikan sepanjang April di Kota Tebingtinggi, misalnya rapat paripurna LKPJ Wali Kota TA 2011, juga pelaksan-aan MTQN ke 44 di lapangan Merdeka, serta pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA/MA/SMK dilanjutkan tingkat SMP/ MTS dan SD/MI. Kami berharap peristiwa penting itu akan menjadi salah situasi yang membuat kota tercinta ini tetap se-marak. Dari meja redaksi, Kami sampai-kan tahniah selamat menikmati sajian kami demi menambah referensi Anda tentang kota kita. Salam Hangat.

SALAM REDAKSI

(3)

Kepada Redaksi :

Bagaimana

dengan

persiapan

Redaksi untuk acara Hari Ulang Tahun

(HUT) Kota Tebing Tinggi Ke 95 tahun

2012 ini?rubrik apa yang hendak

disaji-kan? Terima kasih.

Melda

Warga Jl. P.Irian LK IV Kelurahan

Persiakan

Jawab :

Terima Kasih Melda. Kita telah

mem-bahas rubrik untuk HUT Tebing Tinggi. Di

Bulan Juli itu kita akan menyajikan Edisi

Khusus tentang Tebing Tinggi dari masa

ke masa. Tunggu ya Mel.. terima kasih

atas smsnya.

Kepada Redaksi :

Saya Syaiful salah satu remaja

masjid di Kelurahan Berohol Kecamatan

Bajenis. Harapan saya Majalah Sinergi

dapat dikirimkan di setiap Musholla atau

masjid yang ada di Kota Tebing Tinggi.

Terima Kasih. Sukses buat Majalah

Si-nergi.

Syaiful Hamdan

Warga Jl. Setia Budi Kelurahan

Berohol

Kecamatan Bajenis

Jawab :

Memang kami mengakui

keter-batasan oplah majalah kita ,namun

bu-kan berarti hal itu menjadi hambatan

bagi masyarakat untuk membaca

ma-jalah Sinergi. Kami redaksi Insya Allah

akan mendistribusikan majalah SINERGI

sampai ke seluruh Masjid dan Mushola

dan kerumah peribadatan seluruh Umat

beragama yang ada di Kota Tebing Tinggi.

Amin.

Surat

Pembaca

Daftar Isi

02

03

04

05-11

12

13

14

15

16

17

20-21

24-25

26

27

28-29

30

31

32

33

34

22-23

18-19

Salam Redaksi

Surat Pembaca

Sinergitas

Utama

Pendidikan

Ekonomi

Kesehatan

Lingkungan Hidup

Wanita

Hukum

Parlementaria

Pemko News

Agama

Olah Raga

Polemik

Budaya

Sosial

Opini

History

Tepian

Lensa Srikandi

Bidik Pemko

Air, Oh Air

Potensi Air, Mengolah Atau Membuangnya

Masalah Lingkungan Dan Manajemen Air

Nasib Sungai Kita Kini…

SDLB 167713, Satu-satunya di Tebing Tinggi

Pedagang Emas Kota Tebing Tinggi cermati krisis global

Enclave Narkoba dan Potensi Penyakitnya

Lahan Persawahan Beralih Fungsi

Semangat Kartini Referensi Bagi Guru Wanita

Sesaknya Lapas Kelas II B Tebing Tinggi

Tentang Peran Politik Perempuan .

2014 Suara Perempuan Kepada Perempuan

Lapas Bukan Tempat Buangan

Sat- Linmas Garda Terdepan Pemerintah Daerah

RPJMD 2011-2016 Jadi Perda

Apara Pemerintah Harus Paham Standart Pelayanan Kepada

Masyarakat

Walikota Dialog Dengan Putra Perakit LCD dan Laptop Asal

(4)

SINERGITAS

Oh, Air

Dari sejak zaman purba hingga kini, air tetap

menjadi sumber kehidupan bagi umat manusia. Tapi

dari waktu ke waktu, di samping banyak manfaatnya,

air juga bisa menjadi sumber masalah bagi kehidupan.

Begini, bila terlalu berlebihan dan tak mampu

men-gelolanya, maka air akan mengakibatkan bencana dan

malapetaka. Begitu juga sebaliknya, bila kekurangan

air, bencana kekeringan menjadi dampak tak

terhindar-kan. Konon, semua ini dapat terjadi akibat munculnya

perubahan iklim.

Penelitian terakhir menyebutkan bahwa

penggu-naan air tanah juga mengubah iklim lokal dan

memper-cepat pemanasan global. Penggunaan air tanah yang

begitu besar berkontribusi terhadap kenaikan

permu-kaan laut sebanyak 25 persen.

Hal ini disebabkan lemahnya proteksi sumber air

baku, kepadatan penduduk yang tak terkendali,

parah-nya kerusakan lingkungan dan adaparah-nya perubahan tata

ruang wilayah yang tidak sepadan dengan kemampuan

ekosistem dalam memperkuat keseimbangan alam.

Di sinilah dibutuhkan kemampuan tingkat tinggi

untuk melakukan manajemen air. Pengelolaan air

harus dilakukan secara konfrehensif dan menyeluruh.

Dengan demikian akan terlihat potensi air itu, dapat

dimanfaatkan atau malah terbuang sia-sia. Atas dasar

ini, maka tak salah kalau ada prediksi 20 tahun ke

depan di Indonesia akan terjadi krisis air.

Pada tahun 1998 sekitar 208 negara mengalami

krisis air. Menjelang tahun 2005 diperkirakan 2,7

mil-yar manusia mengalami kekurangan air. Makanya tak

salah kalau gerakan hemat air harus segera

digalak-kan. Pemegang tampuk kuasa mesti secepat mungkin

bertindak. Tak sepantasnya mengambil kebijakan soal

air melulu berkaitan dengan moralitas politik ekonomi.

Air sepatutnya diperlakukan sebagai sumber daya

milik umum. Ini dikarenakan air bersifat sosial dan

bukan komoditas ekonomi yang diserahkan kepada

pemilik modal.

Penguasaan air sebagai hak fundamental korporat

justru kian menyengsarakan warga dunia. Air menjadi

hak tiap warga, bukan kepunyaan institusi. Air

meru-pakan anugrah bagi kehidupan. Pendistribusiannya

harus efektif, terpadu dan intensif demi menjangkau

siapa saja.

(khairul hakim)

Air mesti menjadi bahasa universal. Artinya, siapa saja, dari kalangan atas maupun bawah, senantiasa

merasakan sentuhan air. Rasanya, tak ada yang bisa hidup tanpa air walau hanya setetes saja. Dalam

kehidupan manusia unsur alam yang bernama air jelas merupakan kebutuhan utama dan penting bagi

kegiatan hidup sehari-hari.

(5)

UTAMA

SEBUAH MATA AIR tidak berfungsi lagi sebagai sumber air bagi ratu-san warga di Jln.Tanah Merah kelurahan Bagelen Kecamatan Padang Hilir. Puluhan tahun lalu, saluran yang ditumbuhi rimbunan tanaman talas dan rerumputan merupakan mata air aktif. Kini mata sumber mata air itu hanya tinggal kenangan. Foto SINERGI / Rahmadsyah

POtENSI AIR, MENGOlAH

AtAu MEMbuANGNyA

SALAH SATU

dampak terburuk dari

peruba-han iklim adalah terjadinya kenaikan

tempera-tur serta pergeseran musim. Akibat dari kedua

dampak ekstrem itu, adalah banjir, kekeringan

dan kenaikan gelombang pasang. Kota-kota

di pesisir atau yang berdekatan dengan pantai

seperti Kota Tebing Tinggi akan menghadapi

dampak paling parah dari kenaikan temperatur

dan pergeseran musim. Di seluruh Indonesia,

terdapat 60 kota rawan banjir dan 30 kota

raw-an tsunami.(Joessair Lubis, 2011). Dipastikraw-an,

salah satu kota rawan banjir itu, adalah Tebing

Tinggi.

Diprediksi, 20 tahun ke depan jika tidak

ada langkah pengendalian akibat perubahan

iklim, krisis air bersih akan terjadi. Hal itu,

kar-ena kian menipisnya ketersediaan air bersih,

sementara populasi manusia semakin

men-ingkat. Banyak pakar lingkungan hidup sudah

memprediksi, nantinya krisis kemanusiaan

da-lam bentuk peperangan dan pergolakan sosial,

tidak lagi memperebutkan minyak, tapi beralih

ke isu memperebutkan air. Sinyal itu sudah

dis-ampaikan UNDP PBB dalam penelitiannya di

tiga daerah, yakni DKI, DIY dan Jatim. Ketiga

daerah itu diakui sudah memasuki ambang

ba-tas krisis air.

DKI Jaya misalnya, saat ini sudah

menga-lami krisis air. Tahun 2010 saja, ibu kota RI itu

sudah mengalami devisit air bersih 6.857 lt/

detik. Lalu, pada 2015 akan membesar menjadi

13.045 liter/detik dan 2020 krisis akan

menca-pai 28.370 liter/detik. Akibat tingkat kebutuhan

yang terus meningkat, diperkirakan pada 2025,

warga DKI Jaya akan benar-benar mengalami

kesulitan memperoleh air bersih.

Kondisi demikian, kian diperparah dengan

lemahnya proteksi sumber air baku, kepadatan

penduduk yang tak terkendali, kerusakan

ling-kungan akibat rendahnya kepedulian penduduk,

serta terjadinya perubahan demikian cepat

ter-hadap tata ruang wilayah yang tidak sebanding

dengan kemampuan ekosistem untuk recovery

keseimbangan alam.

Sikap antisipatif, justru dilakukan

Singapu-ra. Negara kota itu, sejak lama telah

mem-bangun sistem pengelolaan air bersih visioner.

Saat ini, negeri Lee Kuan Yeow itu mengimpor

(6)

UTAMA

air bersih mencapai 40 persen dari

total kebutuhan mereka. Namun,

selain mengimpor mereka

menyiap-kan reservoir dari daerah tangkapan

air mencapai 20 persen., ditambah

penyulingan air laut menjadi air

ta-war sebesar 10 persen. Bahkan,

kini Singapura tengah membangun

bendungan raksasa penampung air

bernama Marina Barrage.

Bendun-gan itu, menjadi arena wisata publik

yang mampu menarik minat

pen-mampu memanfaatkannya secara

maksimal. Air sungai itu

dibiar-kan mengalir ke laut lepas, bahdibiar-kan

menjadi tong sampah terbesar di

dunia. Sementara cadangan air

ta-nah disedot habis untuk keperluan

industri, hingga terjadi proses

in-trusi air laut ke daratan. Air hujan

yang seharusnya jadi berkah malah

berubah menjadi petaka banjir yang

menimbulkan

kerugian.(www.per-pustakaanpu.go.id)

Dua kondisi saling bertolak

be-lakang itu, terjadi dalam keadaan

perubahan iklim secara global

yang kian mengkhawatirkan. Lalu,

bagaimana dengan kota Tebing

Tinggi, apakah ada imbasnya?

Ten-tu saja ada!

Data historis mencatat,

Kolo-nial Belanda membangun dataran

tinggi Kerajaan Padang yang

kemu-dian menjadi Tebing Tinggi, karena

potensi airnya yang melimpah. Di

daerah Tebing Tinggi, pengusaha

Kolonial tidak harus bersusah payah

untuk mendapatkan air dingin serta

air hangat (artesis) bagi

kebutu-han mereka, karena keduanya ada

di kandungan bumi Tebing Tinggi.

Saat itu, terdapat sekira 14 sungai,

anak sungai dan alur serta ratusan

hektar rawa-rawa yang berfungsi

sebagai areal tampungan air.

Bah-kan, aliran sungai menjadi urat nadi

transportasi perdagangan dengan

dunia luar.

Penduduk usia lanjut di kota itu,

masih mengingat adanya bangunan

water ledding yang didirikan pada

1927 di Jalan Thamrin dan terus

be-raktifitas hingga 1998. Water ledding

itu, kabarnya memproduksi air dingin

dan hangat serta

mendistribusikan-nya ke perumahan warga di inti kota.

Bahkan hingga ke pinggiran kota,

seperti di Kel. Bagelen dan Badak

Be-juang. Etnis Tionghoa yang sejak lama

mendiami inti kota, menggandrungi

air panas produksi water ledding itu.

Dikabarkan, air artesis itu, memiliki

kadar belerang yang baik untuk

me-nyembuhkan sakit kulit, juga untuk

menghilangkan sejumlah penyakit,

seperti encok/asam urat.

Beberapa titik mata air artesis,

dibangun Kolonial Belanda untuk

dimanfaatkan masyarakat. Seperti

di komplek perumahan PT Kereta

Api di Jalan Cemara dan Jalan

De-lima, Kel. Rambung, di Jalan Pelita

di Kel. Pasar Baru dan di Jalan Rao,

Kel. Mandailing. Hingga kini

sejum-lah bangunan air artesis itu masih

ada yang dimanfaatkan masyarakat.

Akan halnya water ledding, nasibnya

mengenaskan, karena ketidak

paha-man dan kerakusan para

pengam-bil kebijakan kala itu, bangunan

monumental itu diruntuhkan dan

diruislagh, hanya demi keuntungan

segelintir orang, tanpa pernah

ber-niat mengadopsi teknologinya.

Bahkan, dari sejumlah

informa-si yang diterima, Kolonial Belanda

juga mengatur pola pengairan kota

guna menjaga agar daerah itu aman

dari kemungkinan banjir di musim

hujan. Beberapa situs drainase

bua-tan Belanda hingga kini masih bisa

ditemukan dan terus dimanfaatkan,

misalnya di Simpang Rambung, Kel.

Rambung, Kec. T.Tinggi Kota.

Kon-disi alam perkotaan yang segar dan

indah itu, diperkirakan sebagai salah

satu syarat menggerakkan Kolonial

Belanda menjadikan Tebing Tinggi

sebagai daerah otonom (Gementee)

dan terlepas dari Kerajaan Padang.

Selain itu, iklim Kota Tebing

Tinggi kala itu, cukup bersahabat,

karena tidak terlalu dingin seperti

di Pematang Siantar dan tidak

ter-lalu panas seperti Medan. Sehingga

iklimnya cocok untuk semua orang.

Beberapa sesepuh kota yang pernah

hidup di era 1940-1950, mengakui

iklim kota Tebing Tinggi pada musim

hujan bisa mencapai 18-20 derajat

Celsius. Sedangkan di musim

ke-marau, tertinggi sekira 23-24 derajat

Celicius saja. Dengan cuaca tetap,

yakni musim kemarau Januari-Juli

dan musim hujan Juli-Desember.

“Kalau waktu itu, malam hari orang

masih pakai selimut tebal, karena

cuaca di Kota Tebing Tinggi, masih

berkisar 20-28 derajat Celcius.

Se-dangkan curah hujan relatif masih

tinggi, sekira 30 persen per

ta-hun. Meski demikian, tanda-tanda

terjadinya degradasi alam mulai

muncul dengan kian seringnya

ter-jadi banjir dalam kurun waktu lima

tahunan, yang terekam kuat dalam

memori warga sekitar sungai.

Mis-alnya, banjir besar yang

meneng-gelamkan sepertiga kota Tebing

Tinggi pada 1982, 1987 dan 1991.

Lalu banjir besar juga pernah

ter-jadi pada 2001.

(7)

UTAMA

Tahun

Curah

Hujan

Jumlah Hari

Hujan

2004

1.518 mm

92

2005

1.911 mm

90

2006

1.396 mm

100

2007

2.482 mm

111

2008

1.689 mm

90

2009

1.642 mm

94

SUMBER : Kota Tebing Tinggi Dalam Angka 2007/2010

Berdasarkan data di atas,

ra-ta-rata curah hujan di Kota Tebing

Tinggi dalam lima tahun terakhir

berkisar 19-22 persen per tahun,

dengan curah hujan 28-377 mm.

Sedangkan curah hujan tertinggi,

hanya terjadi pada 2007 mencapai

2.482 mm dan hari hujan sebanyak

111. Selebihnya, curah hujan hanya

berkisar antara 1.396 mm-1.911 mm

dengan jumlah hari hujan antara

90-100 hari dalam satu tahun.

Dari data di atas, terjadinya

penurunan curah hujan dan hari

hujan yang signifikan, telah mem

-pengaruhi debit air yang terserap ke

tanah. berupa penurunan kuantitas

air. Hal itu, bisa dirasakan

belakan-gan ini, jika di musim kemarau,

ban-yak sumber air warga di sejumlah

kelurahan, semisal sumur bor dan

sumur konvensional mengalami

kekeringan. Kelurahan Bagelen,

Deblot Sundoro, Tualang, Padang

Merbau dan Durian, misalnya mulai

terdengar kekeringan di saat musim

kemarau antara Maret-Juli.

Namun, pada musim

penghu-jan antara Agustus-November,

ter-jadi banjir, khususnya pada daerah

lintasan sungai, seperi Kel. Bulian,

Bandar Utama, Badak Bejuang,

Pasar Baru, Mandailing, Bandar

Sono dan Persiakan. Kondisi itu

menunjukkan kian menguatnya

indikasi terjadinya kenaikan

tem-peratur dan perubahan cuaca yang

membawa dampak ikutan.

Tidak cuma kenaikan

tem-peratur dan perubahan cuaca yang

mengkhawatirkan. Kondisi itu

diper-buruk pula oleh perilaku masyarakat

yang mengabaikan lingkungan

da-lam dinamika kehidupan mereka.

Misalnya pembangunan pemukiman

yang mengabaikan aspek

pelestar-ian air dan lingkungan. Diperkirakan

sebagian besar pola pembangunan

fasilitas publik, rumah dan

pemu-kiman warga di Kota Tebing Tinggi,

bersifat tidak ramah air dan

ling-kungan hidup.

Hal itu bisa dirasakan

ban-yaknya permukaan tanah yang

ditu-tup, sehingga air hujan tidak

terser-ap maksimal ke dalam tanah, tterser-api

berubah menjadi air kotor dan

lim-bah yang mengalir di saluran busuk,

sesaat setelah tercurah dari langit.

Padahal, potensi air hujan sebagai

berkah Ilahi, meskinya

dimanfaat-kan bagi sebesar-besarnya

keper-luan manusia.

Dampaknya pun terjadi, dari

penelitian sample yang sedang

ber-langsung kerjasama PDAM Tirta

Bu-lian dengan sebuah lembaga

peneli-tian, menyebutkan data sementara

dari 10 lokasi penelitian kualitas air

layak konsumsi, ternyata hanya 2

lokasi di kota Tebing Tinggi, airnya

yang layak, selebihnya tidak layak.

Demikian pula dengan

pen-ebangan pohon yang sembarangan.

Sehingga banyak anak sungai dan

alur yang mengering dan tertutup.

Kini diperkirakan, sekira 60 persen

lahan di kota Tebing Tinggi

tertu-tup dan rusak serta alur dan mata

air menghilang, karena kebutuhan

akan lahan pemukiman. Padahal,

syarat lingkungan perkotaan yang

memenuhi standar lingkungan,

yak-ni adanya 30 persen ruang terbuka

hijau dari total areal perkotaan.

Dengan minimnya curah hujan

di Kota Tebing Tinggi, diperparah

lagi areal tanah/lahan tertutup yang

terus meluas, sehingga tak mampu

menampung, menyimpan dan

men-galirkan air hujan secara

propor-sional, maka krisis air di masa

de-pan bisa saja terjadi. Belum lagi

diperhitungkan, kian menyusutnya

debit air sejumlah sungai yang

me-lintasi wilayah itu, akibat berbagai

faktor lingkungan. Saat ini, sebagian

besar warga Kota Tebing Tinggi,

mulai membeli air minum kemasan

yang berharga mahal.

Untuk air hexagonal misalnya,

warga sudah harus

mengeluar-kan dana ekstra Rp5.000-8.000 per

galon/hari bagi satu keluarga

ber-jumlah lima orang. Biaya itu,

mi-nus untuk pengadaan air mandi dan

kebutuhan lain yang masih

meng-gunakan air tidak layak secara

me-dis. Artinya, jika tidak ada upaya

melakukan perbaikan atas iklim

yang ada, atau adanya perubahan

perilaku masyarakat, estimasi akan

terjadinya perebutan air bersih di

masa mendatang, bukan tak

mung-kin bakal jadi kenyataan. Pantas jika

kita khawatir.

Namun, untuk saat ini,

kekha-watiran itu disimpan saja dulu.

Setidaknya pengakuan itu muncul

dari Direktur PDAM Tirta Bulian Ir.

Oki Doni Siregar. “Sumber air

per-mukaan kita saja sudah cukup

un-tuk memenuhi kebutuhan seluruh

warga kota,” tegas dia, dalam suatu

perbincangan. Dengan catatan,

pe-menuhan yang dimaksud adalah

un-tuk konsumsi air minum warga dan

bukan air kebutuhan lain.

(8)

UTAMA

Bahkan, selain sejumlah

sum-ber air itu, kota Tebing Tinggi masih

menyimpan potensi air artesis yang

tidak dimiliki daerah lain. Kekayaan

air artesis itu, diakui Oki Doni,

be-lum dikelola sama sekali, meski

up-aya ke arah sana sedang dilakukan.

Diakui, air artesis, sejujurnya tidak

layak sebagai air untuk konsumsi,

namun air itu bisa dikembangkan

sebagai salah satu potensi

pariwisa-ta. “Harus ada pengusaha yang

mu-lai berpikir memanfaatkan air panas

itu secara ekonomis,” tegas dia.

Sedangkan, langkah - langkah

pengembangan penyediaan air

mi-num kemasan, mengikuti model

yang trend belakangan, sedang

da-lam pemikiran pihaknya. Dikatakan,

PDAM Tirta Bulian tengah

melaku-kan kajian untuk membuat air

ke-masan yang layak dipasarkan

se-cara komersial.

Ditambahkan, pembelian air

minum kemasan yang belakangan

ini marak, tidak bisa dijadikan

in-dikator mulai terjadinya kelangkaan

air bersih di Kota Tebing Tinggi.

Menurut Oki, fenomena itu hanya

dampak dari terjadinya perubahan

perilaku warga yang cenderung

konsumtif. “Sekarang ini orang kan

maunya yang ringkas dan cepat. Air

kemasan memberikan peluang itu,”

ujar dia. Artinya, ibu rumah tangga

tak lagi harus repot-repot

mema-sak air untuk keperluan, tapi cukup

membeli air kemasan dan

meng-gunakan teknologi sederhana untuk

penyediaan air panas maupun air

dingin.

Namun, banyak hal yang

diabai-kan otoritas penyedia air minum di

Kota Tebing Tinggi itu. Prinsip

men-jaga lebih baik dari memperbaiki,

adalah salah satu hal yang

diabai-kan dalam perkara penyediaan air

minum dan air bersih bagi warga.

Membandingkan kondisi

penye-diaan air bersih di masa lalu dengan

kondisi yang ada saat ini, mungkin

dipandang tidak relevan. Khususnya,

pada terjadinya berbagai

peruba-han atas sejumlah variabel yang

mempengaruhinya. Misalnya,

per-tumbuhan populasi penduduk yang

bermukim di kota itu. Sehingga,

be-rakibat pada terjadinya perubahan

drastis pada tata lingkungan dan

pemanfaatannya. Namun,

menyon-toh langkah antisipatif yang

dilaku-kan Singapura dalam penyediaan

air bagi warga di masa depan, perlu

menjadi pemikiran.

Beberapa lembaga,

dikabar-kan memang mulai melirik potensi

air dan pemanfaatannya di masa

depan, khususnya di areal daerah

aliran sungai (DAS) Padang yang

didalam areal itu termasuk Kota

Tebing Tinggi. Balai Wilayah Sungai

(BWS) Sumtera II, misalnya telah

merencanakan untuk membangun

bendungan di hulu sungai Padang.

Pembangunan bendungan itu,

mer-upakan solusi dalam memecahkan

persoalan banjir yang melanda kota

itu.

Demikian pula dengan Badan

Pengelola Daerah Aliran Sungai

(BPDAS) Wampu-Ular, memiliki

sejumlah program untuk kembali

menghijaukan DAS Padang dalam

kerangka menjaga ketersediaan air

yang langgeng di masa depan.

Bahkan, Kementerian

Peker-jaan Umum RI telah pula

menetap-kan wilayah sungai

Belawan-Ular-Padang sebagai wilayah sungai

strategis nasional melalui SK

Men-teri Pekerjaan Umum No.11A/PRT/

M/2006 tanggal 26 Juni 2006.

Terlepas dari berbagai upaya

yang dilakukan pemerintah pusat

dan provinsi terhadap potensi

air yang dimiliki sungai Padang,

khususnya Kota Tebing Tinggi. Ke

depan sudah harus ada pemikiran

untuk mengelola potensi air yang

melimpah, demi kesejahteraan

ber-sama. Karena justru yang kita lihat

sekarang ini adalah, air yang

ter-buang percuma dan menimbulkan

bencana.

(abdul khalik)

(9)

UTAMA

1. Penggunaan Lahan Yang

Tidak Terkontrol

Berdasarkan kajian kondisi

kemiringan lereng, sebagian besar

DAS Padang di Kota Tebing Tinggi,

merupakan dataran rendah

den-gan tingkat kemirinden-gan lereng 0-8

persen. Dengan kondisi

demikian-potensi intervensi manusia untuk

menggunakan lahan sekitarnya,

sangat tinggi.

Hal itu dapat dilihat dari

maraknya bangunan rumah

pen-duduk dan tempat usaha di

ban-taran sungai pada DAS Padang di

wilayah kota Tebing Tinggi. Padahal,

kawasan itu memiliki fungsi lindung

terhadap terhadap sungai dan

ketersediaan air. Maraknya

pem-bangunan pemukiman di bantaran

sungai, dipastikan karena terjadinya

ledakan penduduk dan

perkemban-gan ekonomi sosial.

Sayangnya ledakan penduduk

dan perkembangan ekonomi tak

diimbangi dengan penegakan

hukum, disamping aparat birokrasi

dan keamanan yang korup dan tak

profesional. Meski ada Perda No.15

Tahun 2003 tentang Izin Mendirikan

Bangunan (IMB) yang melarang

pendirian bangunan 15 meter dari

bibir sungai serta sejumlah payung

hukum yang lebih tinggi.

2. Kekumuhan

Kekumuhan rumah

pen-duduk di kawasan sungai, diduga

erat kaitannya dengan pola hidup

warga di bantaran sungai. Seperti,

membuang sampah sembarangan

dan buruknya kualitas

lingkun-gan pemukiman. Kekumuhan itu,

terkait dengan potensi banjir dan

menurunnya kualitas air. Sehingga

masyarakat menjadi enggan

mem-perbaiki lingkungannya serta mulai

mengalami kesulitan air bersih.

Kondisi itu, diperparah

den-gan munculnya kesan keengden-ganan

pemerintah kota mengalokasikan

anggaran membangun kawasan itu,

MASALAH

LINGKUNGAN

DAN

MANAJEMEN AIR

MASALAH

LINGKUNGAN

DAN

MANAJEMEN AIR

ILL

(10)

UTAMA

karena persoalan tanah Negara (jalur hijau) yang sudah ‘dikuasai’

warga. Jika hal itu dilakukan ada ada permasalahan hukum

nanti-nya.

Bahkan, pemerintah juga secara sadar mempertahankan

bangunan-bangunan di bantaran sungai dengan merehabilitasinya

kembali untuk alasan memenuhi permintaan masyarakat demi

tujuan politis.

3. Rendahnya Koordinasi Antar Pemerintah Dan Instansi

Merupakan hal klasik koordinasi selalu menjadi hal prinsipil

dalam pemerintahan yang lemah penerapannya. Sebagai daerah

hilir, meski Pemko Tebing Tinggi berperan aktif berkoordinasi

dengan Pemkab Simalungun dan Sergai dalam kaitannya dengan

pemeliharaan air. Namun, sejak lama hal itu belum terwujud, meski

belakangan ada suara-suara untuk mengintensifkan koordinasi

antar pemerintah daerah dan instansi terkait, dalam penanganan

masalah banjir.

4. Pembuangan Limbah Industri

Sebagian besar kalau tak seluruh industri yang ada di Kota

Tebing Tinggi memilih bantaran sungai sebagai lokasi usaha

mer-eka. Maka yang terjadi sejak lama, adalah pembuangan limbah

industri yang tidak terkontrol lagi. Hal itu, berakibat pada terus

menurunnya kulitas air sungai, bahkan air bawah tanah.

Sementara Pemko Tebing Tinggi sendiri belum memiliki

regulasi untuk mengatur apalagi mengurangi tingkat pencemaran

air oleh limbah industri itu, misalnya Perda RTRW. Sedangkan

dampaknya sudah kian parah, berupa punahnya habitat sungai dan

rusaknya kualitas air.

Manajemen Air

Dalam kondisi demikian, sudah harus dipikirkan manajemen

pengelolaan air, demi kebutuhan masyarakat, guna menghindari

tekanan ekonomis air di masa depan, akibat terus turunya kualitas

air. Jika pengelolaan air sejak dini tidak dipikirkan, besar

kemung-kinan, meski ketersediaan air cukup, tapi harganya bakal

menju-lang tinggi dan menyulitkan masyarakat nantinya.

Harus disadari, saat ini tipe air di Kota Tebing Tinggi,

diperkira-kan hanya ada tipe B, C dan D. Sedangdiperkira-kan tipe A sudah lama tidak

ada lagi, karena factor perubahan lingkungan. Berdasarkan

tipe-nya, tipe A, adalah air yang langsung bisa diminum, tipe B yakni air

yang bisa diminum, tapi harus dioleh terlebih dahulu. Tipe C adalah

ait yang layak untuk pertanian dan peternakan, sedangkan tipe D air

yang hanya digunakan untuk pemutar kincir.

Atas dasar itu, harus ada manajemen air yang dilakukan sejak

sekarang untuk mempertahankan air tipe B bisa terus langgeng.

Karena dengan air tipe B lah, biaya untuk mendapatkan air bersih

bisa dilakukan murah. Tapi jika kualitas air terus menurun hingga

degradasi ke tipe C, dapat dipastikan recovery air jenis itu untuk

layak konsumsi akan semakin besar. Upaya itu, harus dilakukan

dari sekarang oleh para pihak di semua segmen sosial yang ada.

(Data diolah dari berbagai sumber). (abdul khalik )

Kita masih beranggapan bahwa

Global Warming (Pemanasan

Global) dan Climate Change

(Perubahan Iklim) masih jauh dari

kita. bahkan, kita masih

sang-gup menyangkal bahwa kita tidak

berkontribusi terhadap masalah

besar ini dan menduga hal itu

hanya terjadi dan disebabkan oleh

orang luar negeri.

Hingga kini, kita juga tidak

menya-dari, ada perubahan besar yang tenah

terjadi dengan iklim di sekitar kita,

khususnya di Kota Tebingtinggi. Bahwa

dalam satu Abad terakhir, telah terjadi

peningkatan iklim di Kota Tebingtinggi

mencapai 2 derajat C.

Agakanya, data tersebut masih

terlalu sederhana untuk menyatakan

bahwa kita di Tebing Tinggi telah

men-galami perubahan iklim yang

(11)

UTAMA

tis. Namun dalam paparan ini saya

ungkapkan bahwa ada

perubahan-pe-rubahan yang lain yang sangat penting

kita perhatikan, dan itu telah kita alami

bersama, yaitu:

1. Banjir di sungai Padang dan

Bahilang. Bila hujan di hulu sungai

pada musim hujan ataupun kemarau,

sewajarnya permukaan air sungai

hanya meningkat saja, bukan

mengak-ibatkan banjir. Namun sekarang, hujan

turun di hulu sungai, seringkali banjir

melanda Tebing Tinggi.

2. Debit air sungai Padang dan

Bahilang yang menurun drastis di saat

musim kemarau. Hal ini membuktikan

bahwa mata-mata air di hulu sungai

telah berkurang jumlah dan debit air

yang dihasilkannya. Ini berdampak

pada kualitas dan kuantitas air sungai

yang akan kita gunakan, misalnya

mengakibatkan biaya tinggi untuk

proses pengolahan air dan

tergang-gunya sistem irigasi pertanian serta

menurunnya permukan air tanah pada

sumur-sumur masyarakat sekitar

sungai.

3. Pendangkalan sungai karena

sampah yang kita buang dan pasir,

lumpur sisa banjir.

4. Perubahan suhu udara yang

se-makin panas. Panasnya udara sekitar

kita mengakibatkan ketidaknyamanan

beraktifitas dan beristirahat kita. Hal

ini sepintas masih bisa kita atasi

den-gan pemasanden-gan pendingin ruanden-gan/

AC. Namun usaha kita inipun turut

mengakibatkan percepatan

pemana-san lingkungan sekitar kita.

Dalam uraian diatas, yang

menja-di faktor utamanya adalah tidak

seim-bangnya neraca air dalam ekosistem

kita ini atau dengan kata lain sisklus

air telah terganggu. Air sedang

me-nyeimbangkan dirinya sendiri antara

musim hujan dan kemarau. Seperti

yang kita alami sekarang, hujan turun

terus menerus di saat musim kemarau

dengan intensitas yang sedang sampai

dengan intensitas yang tinggi. Hujan

yang turun diikuti petir dan terjadi saat

udara masih terasa panas karena terik

matahari.

Ketidakseimbangan neraca air ini

diantaranya disebabkan oleh:

1. Kawasan hutan di Daerah

Aliran Sungai (DAS) dan hulu sungai

Padang dan Bahilang telah berubah

menjadi perkebunan. Replanting/

penanaman tanaman perkebunan

di-lakukan secara serentak pada daerah

yang luas disaat musim hujan,

se-mentara penyiapan/pembersihan

la-han dilakukan pada musim kemarau.

Hal ini menyebabkan luasnya area

la-han yang menjadi daerah terbuka dan

dengan daya resap air yang rendah

karena tanpa tumbuhan diatasnya.

Hal ini berakibat, bila hujan turun

pada daerah terbuka tersebut, maka

air akan langsung mengalir pada

anak-anak sungai yang ada, dan tidak

lagi meresap masuk ke dalam tanah,

menyebabkan banjir di hilir sungai.

2. Curah hujan yang menurun

pada daerah hilir sungai/daerah

perko-taan. Hal ini disebabkan oleh udara

pada inti kota yang semakin panas

sehingga “mengusir” awan/uap-uap

air yang akan turun dan memaksanya

kembali ke daerah hulu sungai.

Den-gan demikian maka curah hujan pada

hulu sungai semakin meningkat. Udara

panas pada perkotaan disebabkan

oleh aktifitas manusianya. Penggu

-naan pendingin udara yang berlebihan,

tidak adanya Hutan Kota, kurangnya

penanaman pohon, lampu yang terus

menerus menyala, serta tidak adanya

pemanfaatan air hujan merupakan

faktor penyebab udara di perkotaan

semakin meningkat.

Untuk itu, ada beberapa hal yang

dapat kita perbuat untuk membantu

menyeimbangkan neraca air tersebut,

yaitu:

1. Mendukung dan mendorong

Pemerintah Kota Tebing Tinggi untuk

turut lebih memperhatikan masalah

sungai Padang dan Bahilang,

khusus-nya hulu sungai dan daerah aliran

sungainya. Hal ini harus menjadi

per-hatian karena air banjir yang melintasi

kota Tebing Tinggi merupakan air yang

seharusnya meresap masuk ke dalam

tanah dan keluar melalui mata-mata

air pada anak sungai Padang dan

Bahilang.

2. Air hujan yang turun di sekitar

kita harus kita manfaatkan, tidak lagi

terbuang percuma ke parit-parit yang

menyebabkan genangan di jalanan.

Air hujan harus dialirkan ke dalam

sumur-sumur resapan yang ada di

sekitar rumah/bangunan kita. Untuk

itu, dalam mendirikan bangunan harus

diperhitungkan unit sumur resapan.

Sumur resapan ini sangat berguna

untuk menyeimbangkan siklus air dan

dalam hubungannya dengan

ketersedi-aan air tanah.

3. Penghematan energi harus

dilaksanakan segera. Pemadaman

lampu yang tidak perlu, mengganti

lampu penerangan rumah dan jalan

dengan lampu yang hemat energi,

mendesign ulang bangunan dengan

Konsep Bangunan Ramah Lingkungan

sehingga menghemat penggunaan

pendingin ruangan dan penerangan.

4. Tidak membuang sampah ke

parit atau ke sungai sehingga tidak

mengganggu aliran air dan tidak

men-gakibatkan pendangkalan parit atau

sungai.

5. Menanam pohon di sekitar kita.

Untuk itu, marilah kita lebih

memperhatikan air sehingga air tidak

menjadi masalah bagi kita. Mulai dari

diri sendiri, saat ini, dan disini.

(Lambas P Silalahi).

NASIB

(12)

PENDIDIKAN

BISA jadi masih banyak warga Kota Tebing Tinggi yang belum tahu di mana lokasi sekolah dasar luar biasa (SDLB) 167713 itu. Padahal, sekolah khusus untuk anak yang mengalami kecacatan itu, telah berdiri sejak 1982 lalu. Telah banyak pula alumni SDLB itu, meski hingga kini sekolah yang berada di Link.V, Kel. Tualang, Kec. Padang Hulu masih menyimpan sejumlah masalah.

Saat ini keadaan peserta didik terdiri dari Tunarungu (B) / bisu dan tuli sebanyak 57 orang, Tunagrahita ringan (C)/ IQ rendah sebanyak 78 orang dan Tunagrahita sedang (C1) sebanyak 8 orang, dan Autis seban-yak 16 orang, seluruhnya 159 orang yang berasal dari Dalam Kota 107 orang (67,30 %), dan Luar Kota 52 orang (32,70 %). Sedangkan jumlah guru PNS 13 orang dan Non PNS 4 orang, kesemuanya berlatar

belakang pendidikan guru luar biasa dan telah berkualifikasi Sarjana

Pendidikan (S1/A4). ”Waktu saya tugas kemari, siswanya belum ada,” ujar Kasek yang mulai bertugas pada 1984 itu.

Sarana dan prasarana terdiri dari Ruang Kelas Belajar 10 unit untuk 16 Rombongan Belajar, Ruang Keterampilan (Salon dan Men-jahit) 1 unit, Rumah Dinas 2 unit. Ruang yang belum ada dan sangat dibutuhkan adalah Ruang Speak Teraphy, Ruang Latihan Mendengar dan Ruang Perpustakaan. Kegiatan yang dilaksanakan disekolah ini adalah sama dengan sekolah pada umumnya yaitu kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan Ekstrakurikuler yaitu Salon, Menjahit, Takekwondo dan Pramuka. Tahun ini yang mengikuti Ujian Nasional Tunarungu 1(satu) orang, dan Tunagrahita 2 (dua) orang; demikian Lulu Kurniasih, S.Pd menguraikan proses belajar mengajar di SDLB ini.

Lebih lanjut, menjelaskan anak berkebutuhan khusus (ABK) ada-lah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidak mampuan mental,

emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK, yakni tunanetra, tunar -ungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan.

Masalah utama yang dihadapi peserta didik, tambah Lulu, tidak adanya alat transportasi umum yang melintasi sekolah. Walaupun tingkat kepadatan penduduk di kelurahan Tualang cukup padat. De-mikian juga dengan jenjang pendidikan lebih lanjut ( SMPLB ) harus ke luar daerah. ”Saya menyarankan agar dibangun SMPLB, atau paling tidak SDLB/ SMPLB satu atap,” ujar dia.

Diakui, SDLB yang ada di Kota Tebing Tinggi ini, merupakan sekolah dengan anak berkebutuhan khusus yang melayani sejumlah daerah di sekitar Kota Tebing Tinggi, misalnya Kab. Sergai, Batubara bahkan Simalungun. Artinya, perhatian

yang serius terhadap keberadaan SDLB harus ditingkatkan, karena menyangkut wibawa pemerintah daerah.

Selama ini, SDLB 167713 Kota Tebing Tinggi, telah menunjukkan se-jumlah prestasi dalam dunia pendidikan. Beberapa piala terlihat berderetan di lemari hias ruang kepala sekolah. Tabel dibawah ini bisa menunjukkan daftar prestasi itu :

TA-HUN JUARA JENIS PRESTASI DAN TINGKAT

1990 I Gerak Jalan Napak Tilas Tingkat Kota Tebing Tinggi

1995 I Lomba Sepeda Hias Tingkat Kota Tebing Tinggi pada kegiatan HAN

1996 I Lomba Sepeda Hias Tingkat SD Kota Tebing Tinggi pada kegiatan HAN

III Lomba Melukis Tingkat Nasional SDLB/SLB seluruh Indonesia

1998 III Lomba Melukis SD/MI Tingkat Kecamatan Padang Hulu

1999 II Lomba Melukis SD/MI Tingkat Kecamatan Padang Hulu

2000 III Lomba Melukis SD/MI Tingkat Kecamatan Padang Hulu

2001 III Lomba Melukis Tingkat Prov.Sumatera Utara SDLB/SLB

II Bulu Tangkis Tunggal Putra Tingkat Prov. Sumatera Utara

III Lari 100 Mtr Atletik Tingkat Prov. Sumatera Utara

II Bulu Tangkis Ganda Putri POPCADA Tingkat Prov. Sumatera Utara

2004 III Bulu Tangkis Putri POPCADA Tingkat Prov. Sumatera Utara

III Bulu Tangkis Ganda Putra POPCADA Tingkat Prov. Sumatera Utara

III Tenis Meja POPCADA Tingkat Prov. Sumatera Utara

2005 I Lari 100 Mtr Atletik SOINA Tingkat Prov. Sumatera Utara

I Bulu Tangkis SOINA Tingkat Prov. Sumatera Utara

I Lempar Bola Putri SOINA Tingkat Prov. Sumatera Utara

I Lempar Bola Putra SOINA Tingkat Prov. Sumatera Utara

I Lari 50 Mtr Atletik SOINA Tingkat Prov. Sumatera Utara

I Bulu Tangkis Ganda Putra SOINA Tingkat Prov. Sumatera Utara

III Lari 50 Mtr SOINA Tingkat Prov. Sumatera Utara

III Melukis Perpustakaan Tingkat Kota Tebing Tinggi

2006 I Bulu Tangkis Ganda Putra Tingkat Prov. Sumatera Utara

I Bulu Tangkis Tunggal Putra Tingkat Prov. Sumatera Utara

II Lari 100 Mtr Atletik Tingkat Prov. Sumatera Utara

III Bulu Tangkis Tunggal Putra Tingkat Prov. Sumatera Utara

2007 III Lari 100 Mtr Atletik Putra Tingkat Nasional

II Melukis Tingkat kecamatan Padang Hulu

2008 III Tolak Peluru Atletik Tingkat Prov. Sumatera Utara

2010 I Lomba Hantaran Pengatin Tingkat Prov. Sumatera Utara

III Lari 100 Mtr Atletik Tingkat Prov. Sumatera Utara

II Lempar Cakram Atletik Putri Tingkat Prov. Sumatera Utara

2011 II Takekwondo Walikota Cup Pematang Siantar di Pematang Siantar

I Takekwondo Putri Open Zein Cup Pra Junior dan Junior Kota Tebing Tinggi

II Takekwondo Putra Open Zein Cup Pra Junior dan Junior Kota Tebing Tinggi

SDLB 167713,

SATU-SATUNYA DI TEBING TINGGI

TEKUN – Terlihat seorang anak perempuan pe-serta didik cacat mental sedang membaca buku pelajaran.

KASEK SDLB Lulu Kurniasih, S.Pd

Jika demikian keadaannya, sduah sepatutnya perhatian terh-adap sekolah anak cacat itu mendapat perhatian lebih baik di masa depan. (Kasinun/Khalik)

SINERGI / RAHMADSy

(13)

EKONOMI

Kondisi ini membuat para pedagang emas di kawasan Jalan Haryono MT Tebing Tinggi enggan berkomentar tentang kisaran harga seputar logam mulia itu. Kepada SIN-ERGI Kamis (19/4) lalu,seorang karyawan sebuah toko mas di Jl.Haryono mengatakan, harga emas akan ditentukan oleh berat ser-ta kadar emas yang terkandung pada logam mulia itu, “Tidak bisa sebutkan harga, bawa saja emasnya ke sini, kita akan timbang dan ukur berapa kadarnya, baru kami tentukan harganya.”katanya

Kendati pemilik emas yang hendak menjual logam mulia itu telah menyebut-kan jumlah berat (gram) serta maksimum kadar (persen), tetap karyawan toko emas tersebut enggan berkomentar banyak.

Seputar harga emas, Ahok, salah se-orang pedagang emas di Tebing Tinggi me-nyebutkan, harga logam mulia seperti emas dengan kadar 87,5 persen atau biasa den-gan sebutan emas 23 harden-ganya berkisar Rp. 480 ribu sampai Rp. 500 ribu/gram. Namun harga emas setiap hari kerap mengalami perubahan, ”Sebelum bulan Januari, harg-anya di bawah Rp.480 ribu, atau sekitar Rp. 475 sampai Rp.477 ribu/gram. Beda dengan mas batangan, harganya Rp. 481 ribu per gram,” kata Ahok

Masih Ahok, terjadinya peningkatan

spekulasi harga beberapa waktu terakhir, mengakibatkan merosotnya nilai beli para pedagang emas. Dinilai kondisi ini san-gat mengkhawatirkan bagi para pedagang logam mulia itu, “Tidak ada toko emas yang terang-terangan menyebut harga kisaran emas. Kita akan berupaya mengerem pem-belian karena harga pasar yang mengkha-watirkan,” jelasnya.

Namun harga jual emas dari kon-sumen ke toko mas belum dipahami keban-yakan konsumen. Sistem ketetapan harga beli yang ditetapkan tidak memiliki aturan. Seperti pengalaman salah seorang pembeli logam mulia itu.Adalah Fitri, dirinya men-gaku kesulitan menemukan toko yang in-gin membeli kalung emasnya berdasarkan harga yang diinginkannya, “Saya mau jual emas saya seharga Rp.130 ribu/gram, tetapi kebanyakan toko mas hanya menawar pal-ing tpal-inggi Rp.115 ribu, padahal emas milik saya mengandung kadar 887,5 persen den-gan berat 17gram” ungkapnya kesal.

Investasi Jangka Pendek, Emas Muda Lebih Diminati

Maraknya strategi investasi dilakukan masyarakat dengan berbagai cara. Khusus investasi untuk logam mulia itu, kebanyakan masyarakat Kota Tebing Tinggi cenderung lebih memilih jenis emas muda sebagai in-vestasi jangka pendek karena harganya lebih terjangkau dibandingkan emas tua.

Hal tersebut diungkapkan oleh salah seorang pemilik toko emas di Jln. Haryono MT. Menurutnya emas muda dengan kadar 42 persen semakin populer dengan jang-kauan harga hanya Rp.250/gram . Berbeda dengan kondisi sebelumnya, kepopuleran emas tua (Itali) dengan kadar 70 persen harganya berkisar Rp.370/gram dianggap kurang diminati oleh masyarakat sebagai langkah investasi, “Masyarakat sekarang cenderung memilih emas muda karena har-ganya lebih terjangkau, kebanyakan itu dibeli sebagai investasi jangka pendek,sebaliknya, emas tua akan dibeli untuk investasi jangka panjang”katanya.

Namun grafik harga emas murni pada

awal bulan Desember tahun 2011 lalu men-galami kenaikan hingga mampu berteng-ger diatas harga Rp.500ribu/gram. Posisi itu tidak bertahan lama, karena persis akhir tahun, harga logam murni itu justru kembali merosot menjadi Rp.466ribu/gram. Kem-bali di awal tahun 2012, harga itu beranjak naik diharga Rp.483 ribu/gram, ”Sam-pai hari ini harga itu masih Rp.483 ribu/ gram,”paparnya

Hal senada diutarakan Fauzal, salah seorang agen emas di kawasan Jln. Hary-ono MT berpendapat, kecenderungan masyarakat dalam memilih emas dipen-garuhi oleh kebutuhan investasi. Disparitas harga emas muda dan tua menjadi faktor populernya emas muda sehingga potensi kecendrungan membeli jenis emas muda semakin tinggi, “Jika untuk jangka panjang, mereka akan memilih emas tua,” katanya .

Diperkirakan awal bulan Mei 2012, kilau emas kembali meredup karena men-guatnya dolar Amerika Serikat (AS) akibat kekhawatiran yang mendalam atas keka-cauan politik di Yunani serta masa depan-nya di Uni Eropa. Situasi itu memangkas daya tarik emas sebagai investasi alternatif, sekaligus menekan harga logam mulia lain seperti perak, hingga membuat harga emas sama dengan harga akhir tahun lalu.

Kenaikan harga emas yang terjadi pada bulan Febuari 2012 lalu telah mendong-krak inflasi di Kota Tebing Tinggi hingga 0,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 127.811. Sedangkan untuk emasnya sendiri mengalami perubahan IHK sebesar 5,08 persen, dan dengan hasil IHK 186.511.

Menyikapi persoalan itu, Kabag Per-ekonomian KotaTebing Tinggi, Ir Joko Susilo MM, bahwa kelompok sandang yang ter-diri dari sandang laki-laki, sandang wanita, sandang anak, dan barang pribadi seperti

emas memilki andil terhadap inflasi .Na -mun pihaknya tidak melihat dampak berarti

terhadap aktifitas perekonomian di Kota

Tebing Tinggi,’’ terangnya.

Selain kelompok sandang,

kelom-pok lainnya yang mendorong inflasi cukup

tinggi adalah kelompok makanan jadi dan minuman. . Perubahan ini dipengaruhi oleh kenaikan harga makanan yang dijual di pasaran. Kelompok lainnya yang turut

me-nyumbang inflasi adalah kelompok pendidi -kan dan rekreasi.

Turunnya harga emas tak lantas dii-kuti dengan bergairahnya transaksi emas atau perhiasan lainnya ditingkat konsumen. Perdagangan emas tetap lesu seperti sebe-lumnya, terbukti banyaknya konsumen yang datang ke toko mas sekedar bertanya atau menjual emas milik mereka . (juanda)

Pedagang Emas Kota Tebing

Tinggi cermati krisis global

Merosotnya harga logam mulia seperti emas, perak dan jenis lainnya di

tingkat dunia terjadi akibat tingginya demand (permintaan) kebutuhan

hingga mencapai level tertinggi. Krisis yang terjadi di negara China dan

Eropa berdampak terhadap transaksi jual beli logam mulia sehingga

menjurus terjadinya spekulasi harga.

TANPA BOSAN - seorang agen perhiasan / Emas dan berlian selalu mangkal di deretan toko mas di Jl Haryono MT. Keseharian mereka harus jeli melihat kedatangan konsumen yang melintas dikawasan itu. Krisis dunia tidak mempengaruhi mereka untuk tetap mengais rezeki.

SINERGI / RAHMADSy

(14)

KESEHATAN

Ciri ciri pengguna Narkoba jenis Heroin/putauw serbuk putih persis sep-erti bedak (powder) merupakan turunan kelima/keenam dari heroin dari bunga opium. Pengguna jenis ini akan menderita kurangnya semangat kegairahan seh-ingga mengakibatkan hidung gatal, mata sayu sering mual dan mengantuk. Secara emosional pemakai sering menujukkan sikap marah secara berlebihan dan men-gakibatkan pusing dan sakit kepala. Jika mencapai titik sakau tak jarang pemakai merasa mual, berkeringat dan menggigil kedinginan.

Berbeda dengan pengguna shabu-shabu, pemakai akan memiliki rasa se-mangat tinggi, sikap paranoid dan susah tidur merupakan dampak negatif yang dit-imbulkan . Dampak lainnya, pemakai akan

sulit untuk berfikir dengan baik. Hal seru -pa akan didera oleh pengguna pil ecstasi.

Disamping berkeringat, pil setan ini akan membuat pemakai tidak bisa diam dan susah tidur. “Pil ini akan mengaki-batkan kerusakan saraf otak, dehidrasi,

ENCLAVE NARKOBA DAN

POTENSI PENYAKITNYA

Penyalahgunaan Narkotika jenis Psikotropika seperti Heroin/Putauw

(serbuk putih halus), Shabu-shabu (serbuk krital halus seperti gula pasir)

Ecstacy (jenis pil ), Canabis (ganja), kokain dan zat adiktif lainnya berupa

alkohol, inhalansia(lem,thinner) dan tembakau merupakan masalah besar

bagi kesehatan. Khusus pemakai narkoba aktif dikalangan remaja dan

de-wasa hal ini berdampak terganggunya Susunan Saraf Pusat ( SSP)

seh-ingga mampu mempengaruhi otak untuk mengkontrol daya pikir sehseh-ingga

menimbulkan Komordibitas sosial ( gangguan ) dimasyarakat.

gangguan lever, tulang, gigi akan keropos, denyut jantung tak teratur, anemia, mal-trunisi dan akan mengalami kerusakan saraf mata, sangat berbahaya untuk dikon-sumsi” Demikian Ungkap Kepala Seksi Kefarmasian Dinas Kesehatan pemko

Tebing Tinggi Shofian Syarifuddin.S.Si,Apt

kepada SINERGI.

Dikatakan Shofian, pengguna narkoba

mengalami perubahan secara kompleks. Perubahan sikap dan tingkah laku serta melemahnya sistem pertahanan daya tah-an tubuh ditah-anggap sebagai dampak ter-buruk. “Seperti Cannabis atau daun ganja, efek teler akan dialami oleh pengisap narkoba jenis daun ini, akibatnya kekebal-an tubuh akkekebal-an menurun,”paparnya.

Kerusakan lainya akan terjadi pada mukosa mulut sehingga akan menjadi hi-tam dan kotor, mata sembab, kantung mata terlihat merah bengkak dan berair. Rasa bengong dan agak pekak menjadi kerugian yang dapat didera, kesulitan

ber-fikir, terlalu gembira dan sering tertawa

merupakan sisi negatif lainnya.

Kerusakan aritmia jantung ,ulkusus pada lambung, perforasi septum nasi, kerusakan paru dan anemia dan mal-trunisi merupakan dampak buruk yang dialami masyarakat jika mempergunakan narkoba jenis kokain. Sementara zat adik-tif lainnya seperti Alhohol juga membawa dampak buruk bagi pemakainya. “Dampak bagi peminum alkohol terjadi pada tukak lambung, pendarahan usus ,kanker usus, sedangkan pada hati akan terjadi sirosis hepatitis dan kanker hati,”jelasnya.

Dikatakan Shofian, zat adiktif lainnya,

seperti inhalasi berupa lem atau thin-ner mengakibatkan perubahan keadaan toksis pada hepar, otak, paru, jantung, ginjal. Pengguna akan cepat mengalami kelelahan dengan kondisi kulit membiru.” Zat adiktif lainnya seperti tembakau juga

dapat menimbulkaniritasi paru paru dan kanker dan berpotensi terhadap penya-kit jantung, terlebih terhadap perokok pasif,”tambahnya

Masih Shofian, ketergantungan NAP -ZA akan mengalami perubahan secara

signifikan pada kondisi tubuh dan perilaku

kehidupan bermasyarakat. Perubahan

fisik dengan terjangkitnya penyakit Hepa -titis, endokarditis, pneumonia dan HIV/ AIDS merupakan kerugian akibat peny-alahgunaan narkoba. Perubahan sikap ini akan menambah ruang terjangkitnya ting-kat kriminalitas di masyarating-kat.

Menjamurnya praktek prostitusi, dan tingginya tingkat kenakalan remaja ber-dampak terhadap disharmoni keluarga.

Gangguan Psikis seperti sikap depre-si dan paranoid kerap menjadi dampak buruk bagi sipemakai narkoba.” Penyakit menular Seksual dan HIV AIDS ditularkan melalui seksual dan jarum suntik, mereka hanya melakukan hubungan seks hanya untuk mendapatkan zat atau membeli

zat,”tandas Shofian.

Pengguna narkoba stimulansia jenis amfetamin, esktasi, shabu-shabu, dan kokain juga menimbulkan paranoid, psiko-sis sehingga akan mengalami depresi berat dengan denyut jantung tak beraturan seh-ingga menimbulkan resiko bunuh diri. Sikap mania (berlebihan) akan mencapai titik agi-tasi sehingga menimbulkan rasa cemas dan kepanikan secara berlebihan.

Mengantisipasi hal tersebut,

Sho-fian mengaku memiliki beberapa kebi -jakan untuk penaggulangan Napza di Kota Tebing Tinggi .Salah satu kebijakan itu adalah program sosialisasi bahaya mer-okok melalui brosur. Program lainnya, adalah penerapan pengembangan ilmu pengetahuan (neo roscience) berupa riset terhadap bahaya penggunaan narkoba. Program tersebut diharapkan mampu menghasilkan kebijakan global secara nasional maupun lokal.

Terobosan sistem therapi dan re-habilitasi Napza dihendaki mampu menurunkan angka gejala Napza se-cara komprehensif sebagai upaya untuk menghentikan pemakaian dan merubah perilaku berupa intervensi psiko sosial.” Prioritas pertama kita adalah anak anak dan remaja yang belum pemakai, ke-luarga dan pendidik, tokoh masyarakat dan agama, lintas sektor media dan me-dia serta pengambil kebijakan publik dan petugas kesehatan. Jika yang sudah ter-jangkit kita akan lakukan rehabilitasi dan

aftercare kepada mereka”jelas Shofian.

(rahmadsyah). BAHAYA ASAP ROKOK mengancam kesehatan

orang disekitar. Tanpa disadari asap rokok orang lain lebih berbahaya tiga kali lipat dibandingkan merokok sendiri. Konsentrasi zat berbahaya dalam tubuh perokok pasif lebih besar karena racun yang terhisap tanpa filter.

SINERGI / RAHMADSy

(15)

Menyikapi permasalahan peralihan lahan persawahan yang terjadi beberapa ta-hun belakangan menuai persoalan tersend-iri bagi Kepala Dinas Pertanian Pemko Tebing Tinggi, Ir.Leo Lopulisa,H,M.Si Melalui Kabid pertanian Ir.Ida Agustina berpenda-pat, bahwa pemilik lahan berhak menjual lahan kepada siapapun, namun pihaknya menyayangkan sikap pembeli yang telah merubah fungsi lahan menjadi aktivitas bis-nis atau properti.

Namun Ida tidak menyangkal akibat peralihan tersebut telah mengurangi ham-paran sawah seluas 520Ha berkurang men-jadi 350Ha. Hal itu termen-jadi akibat lemahnya pengawasan terhadap peruntukan lahan yang telah terjual, sehingga pembeli men-gubah lahan tersebut menjadi lahan ber-manfaat bagi kepentingan pribadi. ”Seputar pembangunan itu tidak domainnya dinas pertanian, ada dinas terkait yang mengatur itu,”kilahnya.

Ketidakmampuan produksi padi untuk memenuhi kebutuhan pangan beras bagi 166.722 ribu jiwa masyarakat kota Tebing Tinggi juga tidak ditepisnya. Tetapi dirinya yakin mampu mengatasi hal itu. Melalui penerapan konsep peningkatan

produkti-fitas melalui strategi Indeks Pertanaman

(IP) dengan tekhnik pemanfaatan tehnologi merupakan langkah untuk merangsang peningkatan produksi padi/gabah kering.

Namun Ida yakin, peralihan fungsi sawah itu dapat dicegah, ”Pembangunan irigasi menjadi sarana untuk meningkat-kan produksi padi, pemanfaatan bibit padi unggul diharapkan mampu mendongrak volume sekaligus menambah masa panen/ tahun bagi para petani.”jelas Ida.

Menurut Ida, metode pengemasan sebuah payung hukum dan produk Perda ( Peraturan Daerah ) yang mengatur tentang fungsi lahan yang perlu dibahas secara kom-prehensip antara stageholder terkait, meru-pakan salah satu cara untuk membatasi meluasnya peralihan fungsi lahan persawa-han di berbagai kawasan. Peraturan itu akan melahirkan aturan peruntukan lahan sawah sesuai fungsinya. ”Pentingnya rumusan tersebut menjadi penentu keberlangsungan

LINGKUNGAN HIDUP

lahan persawahan kita.”jelas Ida

Petani padi Hinterland Topang Kebu-tuhan Beras Warga Kota

Nada prihatin juga diungkapkan Kepala Kantor Ketahanan Pangan Abdul Rohim Dalimunthe Sp. Menurutnya, kondisi persawahan seyoigyanya tidak diperuntuk-kan untuk kepentingan lain. Hal itu adiperuntuk-kan berdampak terpuruknya produksi padi se-cara massal. Rohim menilai, keberadaan petani padi di daerah hinterland dianggap sebagai penopang terhadap kebutuhan be-ras bagi masyarakat.

Tingginya volume dropping padi/gabah kering milik petani hinterland di lokasi penggilingan padi yang ada di beberapa ti-tik di sekitar Kota Tebing Tinggi merupakan bukti minimnya produksi padi petani di kota lemang. “Produksi padi kita hanya mampu memenuhi sekitar 12-17 persen dari jumlah penduduk kita, kondisi itu sudah terjadi se-jak tahun 2008 lalu, sampai kini kondisi itu belum mengalami perubahan.”jelas Rohim kepada SINERGI.

Sebuah terobosan, program ”one day no rice” bakal diterapkan di beberapa seko-lah dan fasilitas umum lainnya dengan jad-wal yang akan ditentukan. Diharapkan ren-cana ini mampu menekan angka konsumsi beras ditingkat masyarakat kota. Diperkira-kan setiap orang mampu mengkonsumsi beras sebanyak 10 Kg/bulan, kebutuhan itu dikali dengan jumlah masyarakat sebanyak 166,722 ribu hasilnya 1.167 ton, dibagi

den-gan 28 hari kerja, angka itu akan menghe-mat beras sebanyak 59 Ton/hari, “Setidaknya untuk hari tertentu kita telah menghemat beras.”tambahnya.

lAHAN PERSAWAHAN bERAlIH FuNGSI

Strategisnya lahan persawahan di Kota Tebing Tinggi menjadi daya tarik tersend-iri bagi para investor lokal. Pembangunan fasilitas bisnis di beberapa kawasan ex persawahan membuktikan bahwa lahan persawahan telah beralih fungsi. Akibat-nya luas lahan mengalami penurunan hingga 10 persen/tahun. Rumusan lahirAkibat-nya Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) menjadi solusi terbaik .

PENTINGNYA PERDA TENTANG RTRW

Kepala Seksi Tata Ruang Dinas Peker-jaan Umum Reza Agistha,ST M.Si menga-takan, Ketentuan fungsi lahan tanah terkait peruntukan lahan persawahan maupun pe-mukiman di Kelurahan Bulian dan lainnya masih diatur secara makro dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan peraturan Donasi. Peruntukan fungsi lahan itu da-pat dirumuskan dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), hanya saja untuk mewujud-kan RDTR perlu didukung oleh Peraturan Daerah (Perda) tentang RTRW, sehingga menguatkan keberadaan Undang Undang Lahan Pertanian yang mengatur tentang fungsi lahan pertanian.

Reza mengaku, dalam RTRW fungsi lahan di Kelurahan Bulian dan sekitarnya masuk dalam kategori campuran,artinya dapat digunakan dengan berbagai bentuk kegiatan. Terkait penerbitan Izin Mendirikan Bangunan ( IMB), dinas PU telah menerap-kana berbagai ketentuan. “Kita tidak semba-rangan menerbitkan izin itu, aturannya, kita mengacu kepada norma norma penyesuain sempadan yang mengacu kepada pondasi dasar bangunan.”paparnya.

Pentingnya penetapan fungsi lahan dan lainnya dapat diwujudkan melalui langkah pe-nyelesaian percepatan RTRW, sehingga pen-etapan RDTR dapat terwujud. Tanpa itu, RTRW belum dapat dijadikan sebagai pedoman terhadap percepatan pengendalian ruang, termasuk melakukan penetapan fungsi lahan yang ada di Kota Tebing Tinggi. (rahmadsyah) LAHAN PERSAWAHAN di kawasan Jl. AMD Kelurahan Bulian Kecamatan Bajenis terlihat mulai beralih fungsi. Keberadaan persawahan perlu dilestarikan agar padi dapat terus diproduksi.

SINERGI / RAHMADSy

(16)

WANITA

Para perempuan-perempuan tenaga pendidik masa kini sebagai calon-calon

pengganti Kartini mulai berfikir untuk

memajukan dunia pendidikan khususnya Di Kota Tebing Tinggi. Sehingga apa yang diperjuangkan Kartini dahulu tidak sia-sia. “Bagai mana menerapkan semangat Kartini di kalangan guru khususnya dalam bidang pendidikan. Sehingga mampu membawa penyegaran kualitas pendidikan di Kota Tebing Tinggi “.

Menurut Kepala Sekolah SDN. 166325 Kecamatan Padang Hilir, Nur’aini,S.Pdi mengatakan, Saatnya perempuan-perem-puan tenaga pengajar meniru RA Kartini yang berjuang dengan ikhlas tanpa pamprih, yang didasari pada cita-cita suci bagi Indo-nesia, dengan tidak melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Menjadi tena-ga pendidik yang cerdas dan mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan cita-cita RA Kartini, yang di masa sekarang ini perlu dia-dopsi oleh guru wanita.

Menanamkan akan pentingnya pen-didikan bagi pelajar khususnya pelajar wani-ta sangat dibutuhkan, mengingat banyaknya pelajar wanita yang enggan untuk melanjut-kan pendidimelanjut-kannya ketingkat selanjutnya. ‘ Untuk apa belajar tinggi-tinggi toh akhirnya didapur, mengurus keluarga dan sebagainya ‘. Ungkapan ini sudah layak dihapus, sudah saatnya kaum hawa mensetarakan

gen-SEMANGAT KARTINI REFERENSI

BAGI GURU WANITA

Pemikiran akan pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan sudah

se-layaknya dijadikan referensi untuk pengembangan dunia pendidikan saat ini.

Sehingga tokoh pendidikan saat ini tidak hanya dihiasi oleh kaum adam saja.

Sudah sepantasnya perempuan Indonesia atau tenaga pendidik kaum hawa

Kota Tebing Tinggi masa kini mencontoh perjuangan RA Kartini. Sehingga

mampu menjadi Kartini-Kartini masa kini.

dernya dengan kaum adam, kata Nur’aini. Menurut dia, semangat perjuangan sosok Kartini harus menjadi panutan bagi semua guru perempuan untuk meningkatkan kual-itasnya dalam menghadapi era pendidikan modern.

Perjuangan Kartini tentunya harus menjadi teladan bagi perempuan pendidik untuk meningkatkan kualitas dan kapa-bilitasnya dalam menyongsong masa depan pendidikan di era globalisasi ini. Peringatan Kartini bukan hanya berakhir dengan kegia-tan-kegiatan yang bersifat serimoni belaka. Namun bagaimana menerapkan semangat juang Kartini dalam memajukan dan men-ingkatkan kualitas pendidikan.

Menanamkan semangat Kartini da-lam proses mengajar menurut Asni Tanjung salah seorang guru menuturkan, ketulusan dan keikhlasan serta memahami tugas dan profesi guru harus dimiliki para guru guna melanjutkan cita-cita Kartini. Pendekatan dengan siswa serta menciptakan suasana yang harmonis disaat proses belajar men-gajar dapat meningkatkan penyerapan ilmu pendidikan.

Guru bukan hanya sekedar melepas-kan tugasnya mengajar disaat jam pela-jaran semata. Akan tetapi yang terpenting adalah guru dituntut kesabarannya tentang bagaimana cara termudah untuk menyalur-kan ilmu agar tingkat penyerapannya dapat lebih muda dikuasai oleh siswa, katanya.

Menurut Ira Amita Nasution. S.Pdi, salah seorang pengajar wanita yang peduli akan pendidikan menawarkan beberapa ide kegiatan penting yang diperlukan oleh guru untuk bisa meningkatkan kualitasnya yak-ni, para guru harus memperbanyak tukar pikiran tentang hal-hal yang berkaitan den-gan pengalaman mengembangkan materi pelajaran dan berinteraksi dengan peserta didik. Tukar pikiran tersebut bisa dilaksana-kan dalam perternuan guru sejenis di sang-gar kerja guru, ataupun dalam seminar-seminar yang berkaitan dengan hal itu.

Masih terlalu banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan proses belajar men-gajar di kelas yang sampai saat ini belum

ter-pecahkan dan perlu untuk diter-pecahkan. Misal-nya, langkah-langkah apa harus dilaksanakan untuk menghadapi murid yang malas atau mempunyai jati diri yang rendah atau pemalu di kelas. Bagaimana mendorong peserta didik agar mempunyai motivasi untuk membaca. Bagaimana cara menanggulangi peserta didik yang senantiasa mengganggu teman-nya. Masalah-masalah di atas jarang diteliti, kalaupun pernah diteliti maka pendekatannya terlalu teoritis akademis sehingga tidak da-pat diterapkan dalam praktek proses belajar mengajar sesungguhnya, katanya.

Kartini merupakan sosok wanita pe-juang yang pantang menyerah dalam mem-perjuangkan hak-hak wanita pribumi agar memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan layaknya laki-laki pada masa itu. Terobosan-terobosan yang dilakukan Kartini pada masa itu dapat di implementasi kan pada peningkatan pendidikan saat ini.

Sudah banyak usaha atau trobosan yang dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya kualitas guru dan pendidikan guru yang dilaksanakan oleh pemerintah. Namun patut disayangkan usa-ha-usaha untuk meningkatkan kualitas guru dan pendidikan guru tersebut dilaksanakan berdasarkan pandangan dari “luar kalangan guru ataupun luar pendidikan guru”. Terlalu banyak kebijaksanaan di bidang pendidikan yang bersifat teknis diambil dengan sama sekali tidak mendengarkan suara guru.

Sebagai contoh yang masih hangat adalah diintroduksirnya pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif dalam proses belajar mengajar. Keyakinan para pengambil kebi-jaksanaan atas kehebatan CBSA telah men-dorong dikeluarkannya penetapan keharu-san guru untuk menggunakan pendekatan tersebut dalam proses belajar mengajar. Barangkali keyakinan ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga berdasarkan hasil-hasil penelitian. Namun sayangnya penetitian-penelitian yang menyangkut proses belajar mengajar di kelas selama ini lebih banyak bersifat informatif sehingga jauh dari madai dikarenakan penelitian tersebut me-lihat pengajaran pandangan “luar guru”.

Semangat Kartini yang begitu besar inilah yang semestinya dimaknai secara te-pat oleh para guru wanita Kota Tebing Ting-gi. Di era yang serba canggih, harusnya ada sosok yang melebihi kapasitas dan kapabili-tas Kartini. Artinya, bagaimana guru wanita sekarang mau bertindak spektakuler, tidak populis dan bergerak untuk kepentingan yang lebih besar. Tindakan sederhana, tapi

mampu menyentak. Tidak secara fisik, tapi

lebih kepada keteladanan sikap dan keule-tan.Selamat Hari Kartini. (ismail batubara) MENGAJAR bagi guru wanita kepada anak didik

diberbagai fasilitas pendidikan sikap komitmen un-tuk membangun kualitas pendidikan di Kota Tebing Tinggi.

SINERGI / RAHMADSy

Referensi

Dokumen terkait