Morfologi, Siklus Hidup & Epidemiologi Lalat Sebagai Vektor Penyebab Penyakit Bartonellosis
NAMA MAHASISWA : DIAN EKA WATI
NIM : AK816017
SEMESTER : IV
KELAS : B
MATA KULIAH : PARASITOLOGI
PROGRAM STUDI : ANALIS KESEHATAN
DOSEN : Putri Kartika Sari M.Si.
YAYASAN BORNEO LESTARI
AKADEI ANALIS KESEHATAN BORNEO LESTARI BANJARBARU
2 1.1 Morfologi.
1.1.1 Taxonomi:
Kelas : insekta.
Ordo : Diptera.
Family : Psychodidae.
Spesies : P. papatasi & P. Sergenti.
Gambar 1. Lalat Pasir.
1.1.2 Tanda-tanda umum:
1. Ukurannya kecil: 1,3-1,5 mm, seluruh tubuh berambut.
2. Mata warna hitam, relatif besar & tiga pasang kaki relatif panjang , yang betina menghisap darah.
3. Tubuh : kepala, thorax dan abdomen.
4. Kepala: disamping mata facet yang besar terdapat sepasang antene yang berbulu lebat, palpa dan proboscis yang terdiri atas labium yang berdaging. Mandilble dan maxila yang seperti pedang dengan gigi-gigi, hypopharynx dengan salura ludah, sedangkan labrum epifaring berambut, mulut tipe menusuk dan menghisap.
3
6. Abdomen: ditumbuhi rambut, pada segmen terakhir lalat betina dan lalat jantan terdapat hypopigium, padanya ada proximal segmen dari clasper, distal segmen dari clasper, intermediate appendage dengan duri, intermitten organ, dan inferior clasper.
7. Jenis kelamin terpisah, betina mempunyai abdomen >, ujungnya membulat sedangkan yg jantan tdp clasper.
8. Banyak ditemukan di gurun pasir (savanah). 9. Badannya berwarna abu-abu pucat.
10. Kaki berwarna coklat tua kemerah-merahan.
1.2 Siklus Hidup.
Lalat pasir dewasa dapat terlihat dari April - September. Mereka hidup di tepi sungai berpasir dengan habitat terbuka yang bebas dari bayangan pohon. Lalat betina lebih menyukai meletakkan telur mereka di tanah basah atau dalam air. Larva dapat memakan waktu hingga 2 tahun untuk berkembang dan hidup di pasir lepas. Pada tahap pupa, larva menjadi lingkarang atau "u" berlangsung selama 1 atau 2 minggu. Lalat berkembangbiak dengan metamorfhosis sempurna yaitu mulai dari telur, larva, pupa dan dewasa. Lalat berkembang biak dengan bertelur.
Telur ; Ukuran kecil, ukuran lebih kurang 1 mm panjangnya. Setiap kali bertelur akan menghasilkan 120–130 telur dan menetas dalam waktu 8–16 jam .Pada suhu rendah telur ini tidak akan menetas (dibawah 12 –13 º C), bentuk oval, warna coklat hitam, tidak tahan kering, diletakkan terpisah pada batuan / lubang pada tanah yang lembab.
4
Lalat dewasa panjangnya lebih kurang ¼ inci, dan mempunyai 4 garis yang agak gelap hitam dipunggungnya, pemakan segala: bangkai, zat organik, sampah, kotoran hewan & berada ditempat yg lembab, mempunyai 4 stadium, bentuk silindris, memanjang, memiliki kepala warna hitam, abdomen bersegmen & mempunyai kaki palsu pada tiap segmen abdomen, bagian post abdomen terdapat dua pasang rambut panjang disebut caudal bristle / caudal setae.
Pupa; ujung abdomen terdapat dua pasang caudal bristle & sisa kulit yg tidak dilepas seluruhya. Dewasa; Jantan & betina menghisap cairan tumbuhan, kecuali yang betina kadang-kadang menghisap darah hewan vertebrata pada malam hari di luar rumah (exophagic) atau di dalam rumah (endophagic). Jarak terbang pendek sehingga penyebaran tidak luas, suka bersembunyi ditempat terlindung. pada kondisi normal lalat dewasa betina dapat bertelur sampai 5 (lima) kali. Umur lalat pada umumnya sekitar 2-3 minggu, tetapi pada kondisi yang lebih sejuk biasa sampai 3 (tiga) bulan Lalat tidak kuat terbang menantang arah angin, tetapi sebaliknya lalat akan terbang jauh mencapai 1 kilometer.
1.3 Epidemiologi.
Lalat pasir ialah vektor penyakit leishmaniasis, demam papataci dan bartonellosisi. Leishmania donovani, penyebab Kala azar; L. tropica, penyebab oriental sore; dan L. braziliensis, penyebab leishmaniasis Amerika, ditularkan oleh Phlebotomus. Penyebarannya di daerah China, India, Amerika, daerah tropis dan subtropis. Demam papataci atau demam phlebotomus, penyakit yang disebabkan oleh virus banyak terdapat di daerah Mediterania dan Asia Selatan, terutama ditularkan oleh P. papatsii, yang menjadi infektif setelah masa perkembangan virus selama 7-10 hari. Bartonellosis juga terdapat di Amerika Selatan bagian Barat Laut sebagai demam akut penyakit Carrion dan sebagai keadaan kronis berupa granulema verrucosa. Basil penyebab adalah Bartonella bacilliformis, ditularkan oleh lalat pasir yang hidup di daerah pegunungan Andes.
5
1. Demam Oroya : suatu anemia infeksiosa yang berat. Demam Oroya ditandai dengan demam yang tidak teratur, sakit kepala, nyeri otot, arthralgia, muka pucat, timbulnya anemia berat secara cepat akibat kerusakan darah, pembesaran limpa dan hati, serta pendarahan dalam kelenjar-kelenjar getah bening. Massa bartonella mengisi sitoplasma dari sel yang melapisi pembuluh darah, dan pembengkakan endotel dapat mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah dan trombosis. Angka kematian demam Oroya yang tidak diobati adalah sekitar 40-85%.
2. Verruga peruana : erupsi kulit yang tidak berbahaya. Verruga peruana memiliki masa pra erupsi yang ditandai dengan nyeri otot, tulang dan sendi; rasa nyeri tersebut kadang amat berat, berlangsung beberapa menit hingga beberapa hari pada satu tempat tertentu. Erupsi kulit juga ditandai dengan munculnya benjolan kecil seperti hemangioma. Benjolan yang muncul dekat sendi dapat berkembang seperti tumor dengan permukaan merah. Verruga peruana terdiri dari lesi kulit vaskuler granulomatosa yang muncul bergantian, berlangsung sekitar 1 tahun dan menimbulkan sedikir reaksi sistemik dan tidak menyebabkan kematian. Fase ini biasanya dimulai 2-8 minggu setelah fase demam Oroya. Verruga sering terjadi pada orang yang telah sembuh dari demam Oroya. Bartonella dapat dilihat dalam granuloma, biakan darah sering positif, tetapi tidak terdapat anemia. Verruga peruana dapat berlangsung lama tapi jarang menyebabkan kematian.
Bartonella bacilliformis menghasilkan protein yang menimbulkan deformitas (indentasi) selaput sel darah merah, dan flagel memungkinkan organisme ini memasuki sel darah merah dengan daya mekanismenya. Bartonella bacilliformis juga memasuki sel endotel dan sel manusia jenis lain secara in vitro.
6
Manusia menjadi sumber infeksi bagi “sand fly” untuk masa yang lama, agen penyebab dapat muncul dalam darah beberapa minggu hingga hitungan tahun setelah muncul gejala klinis. Lama dari masa infeksi “sand fly” tidak diketahui. Penularan terjadi melalui gigitan “sand fly” dari genus Lutzomyia. Spesies ini tidak ditemukan di semua wilayah; Lutzomyia verrucarum terdapat di Peru. Serangga ini hanya menggigit dari petang hingga pagi. Transfusi darah, terutama pada stadium demam Oroya, dapat menularkan infeksi. Biasanya 16 – 22 hari, tapi kadang kala sampai 3 – 4 bulan. Manusia berperan sebagai reservoir dengan agen penyebab yang ditemukan dalam darah. Di daerah endemis, carrier tanpa gejala dapat mencapai 5%. Tidak diketahui adanya hewan sebagai inang.
1.4 Porsi Lalat dalam Standar Kualitas Lingkungan (Kep. Men. LH. tentang Baku Mutu Kualitas Lingkungan).
Untuk menghindari terjadinya penularan penyakit oleh serangga bernama lalat diperlukan sebuah pengukuran sederhana. Dalam Tabel Standar Skala Kualitas Lingkungan Kep. Men. LH. terdapat pembagian lima kelas kualitas yang harus menjadi perhatian dalam hal kunjungan lalat ini. Pengukurannya menggunakan satuan landing rate per hour per square meters atau jumlah individu lalat yang berkunjung/mendarat dalam waktu satu jam dalam rentang luasan satu meter persegi. Satuan ini berlaku untuk semua tempat, mulai tempat sampah hingga tempat tidur keluarga.
7 1.5 Pemberantasan Lalat.
Pemberantasan lalat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Usaha pemberantasan lalat melalui tindakan penyehatan lingkungan.
· Menghilangkan tempat-tempat pembiakan lalat; · Melindungi makanan terhadap kontaminasi oleh lalat;
· Pengangkutan/pembuangan sampah yang dilakukan setiap hari dengan cara yang memenuhi syarat;
· Tempat penampungan sampah diberi alas yang kedap air, misalnya semen; · Adanya jamban/kakus yang tidak mudah dihinggapi lalat (tertutup).
b. Membasmi larva lalat. c. Pembasmian Lalat Dewasa
Untuk membasmi lalat dewasa bisa dilakukan penyemprotan udara:
· Dalam rumah : penyemprotan dengan 0,1% pyrethrum dengan synergizing agents; · Diluar rumah : fogging dengan suspensi atau larutan dari 5% DDT, 2% lindane
atau 5% malathion. Tetapi lalat bisa menjadi resisten terhadap insektisida. Disamping penyemprotan udara (space spraying) bisa juga dilakukan;
· Residual spraying dengan organo phosphorus insecticides seperti : Diazinon 1%, Dibrom 1%, Dimethoote, malathion 5%, ronnel 1%, DDVP dan bayer L 13/59. Pada residual spraying dicampur gula untuk menarik lalat;
· Khusus untuk perusahaan-perusahaan susu sapi dipakai untuk residual spraying diazinon, ronnel dan malathion menurut cara-cara yang sudah ditentukan. Harus diperhatikan supaya tidak terjadi kontaminasi makanan manusia, makanan sapi dan air minum untuk sapi, dan sapi-sapi tidak boleh disemprot;
· Tali yang diresapi dengan insektisida (Inpregnated Cords) : Ini merupakan variasi dari residual spraying. Tali-tali yang sudah diresapi dengan DDT digantung vertikal dari langit-langit rumah, cukup tinggi supaya tidak tersentuh oleh kepala orang. Lalat suka sekali hinggap pada tali-tali ini untuk mengaso, terutama pada malam hari. Untuk ini dipakai:
8
Karena parathion sangat rentan untuk manusia, hanya orang-orang yang berpengalaman dapat mengerjakannya dengan sangat hati-hati, dengan memakai sarung tangan dari kain atau karet. Jika kulit terkontaminasi dengan parathion maka bagian kulit yang terkena harus segara dibilas dengan air dan sabun.
9
DAFTAR PUSTAKA
Araz Meilin. 2016. Serangga dan Peranannya Dalam Bidang Pertanian Dan Kehidupan. Jurnal Media Pertanian. Vol. 1. No.1. Hal 18-28.
Budiman Chandra. 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
Budiman dan Suyono. 2010. Ilmu Kesehatan Masyarakat dalam Konteks Kesehatan Lingkungan. EGC: Jakarta
Chandra, Budiman. 2006. Ilmu Kedokteran Pencegahan dan Komunitas. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Djaenudin Natadisastra. 2005. Parasitologi Kedokteran:Ditinjau Dari Organ Tubuh Yang Diserang. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
Irianto, K. 2009. Panduan Praktikum Parasitologi Dasar. Yrama Widya : Bandung James Chin. 2000. Manual Pemberantasan Penyakit Menular Edisi 17.
Oksfriani Jufri Sumampouw. 2017. Pemberantasan Penyakit Menular. Penerbit CV Budi Utama : Yogyakarta.
Soeharsono. 2007. Penyakit Zoonotik Pada Kucing & Anjing. Penerbit Kanisius : Yogyakarta.