Erham Budi Wiranto | 1
Globalisasi dan Pilihan Sikap Beragama:
Sebuah Tantangan untuk Pemuda
Erham Budi Wiranto, MA.*
Pendahuluan
Menjadi penebar damai atau pengumbar teror adalah pilihan, dan keduanya sama-sama dimudahkan oleh globalisasi. Bukan sebuah kebetulan jika Marshal
McLuhan meralat istilah “global village” yang dibuatnya dengan global theatre. Alih-alih menciptakan kebersamaan global, globalisasi justru menciptakan aneka adegan tak karuan di panggung sejarah modern. Globalisasi melahirkan kelompok pemenang, kelompok terkalahkan, dan kelompok resisten. ketiganya beradu gaya di atas panggung teater global.
Sebagaimana idealisme para punggawanya, globalisasi digadang-gadang mampu membawa dunia ke arah lebih baik. Para ekonom evolusionis mencitakan globalisasi sebagai jalan mengubah masyarakat sederhana menjadi masyarakat kompleks (modern) dengan ciri humanis dan berkemajuan.1 Untuk mempercepatnya, dicanangkanlah modernisasi (termasuk developmentalisme) sebagai gerakan yang menyeruak ke sudut bumi manapun, di bidang apapun. Modernisasi adalah gelombang tak terbendung. Namun ternyata, merangseknya modernitas bukan tanpa masalah sama sekali.
Sebagaimana telah dinasihatkan kalangan strukturalis-fungsionalis semacam Robert Merton dan Talcott Parson, masyarakat adalah sebuah sistem yang antar bagiannya saling berkaitan; dimana perubahan di salah satu bagian akan mempengaruhi bagian lainnya. Maka modernitas yang berhasil menyulap transportasi, komunikasi, serta peredaran modal dan barang sedemikian berbedanya, tentu mempengaruhi aspek budaya dan tata nilai, termasuk agama. Tidak dipungkiri, agama terkesan ‘kecolongan start’, atau setidaknya kurang terlibat dalam pertumbuhan modernitas, sehingga tidak sedikit kaum agamawan yang menjadi gamang bagaimana harus bersikap terhadap modernitas, dan pada saat yang bersamaan terhadap globalisasi.
1
Erham Budi Wiranto | 2
Sikap kontra, posisi konfliktual, atau setidaknya resistensi antara agama dengan globalisasi tampaknya meruncing dalam beberapa tahun terakhir. Sasaran kemarahan kalangan yang resisten biasanya tertuju pada: 1) negara-negara maju yang dianggap sebagai pemenang dalam globalisasi, 2) Lembaga moneter global seperti World Bank dan IMF, 3) forum-forum kesepakatan global dan regional seperti WTO, NAFTA, APEC, G-8, G-20, WEF, 4) Transnational Bank (TNB), dan 5). Transnational Corporation (TNC) yang dianggap praktisi utama kapitalisme.
Ketika posisi konflik diambil oleh agama, maka aspek doktriner akan dilibatkan sebagai amunisi gerakan. Penafsiran terhadap teks dipertegas guna mentasbihkan siapa lawan dan siapa pahlawan. Sekedar contoh, bagi sebagian Muslim adalah penting untuk menunjukkan kepada publik, siapakah yang
dimaksud ‘thaghut’ (pemerintahan zalim) dan siapa pula ‘dajjal’ (sang pembohong besar, konspirator nomor wahid). Dengan cara itu, akan dapat
dipetakan siapa saja “Pelawan Islam” dan kemudian disusun strategi bagaimana menjadi “Pahlawan (mendaku sebagai pembela) Islam”.
Sikap agama terhadap globalisasi pun tidak sesederhana sikap agama terhadap sains yang oleh Ian Barbour dapat dipetakan dalam relasi konflik, independen, dialog, dan integrasi (Barbour: 1991). Hampir tidak mungkin agama mengambil posisi konflik sempurna, misal bersikap anti-globalisasi; sebab gerakan seradikal apapun pada faktanya juga memanfaatkan buah-buah globalisasi terutama aspek teknologi-informasinya.
Sikap agama terhadap globalisasi justru mirip patronase, dalam arti bahwa pihak yang kontra (konflik) sekalipun, masih mungkin mengendarai globalisasi yang kemudian justru digunakan untuk menyerang aktor-aktor utama globalisasi. Hal tersebut sejatinya terjadi lantaran penolakan total terhadap globalisasi sangat tidak mudah, bahkan tidak mungkin. Ketika globalisasi benar-benar tak terelakkan oleh penduduk planet ini, maka ‘menjalani’ globalisasi sepertinya tinggal satu-satunya pilihan, jika tidak mau diposisikan sebagai fosil hidup peradaban.
Dua Model Sikap Agama Terhadap Globalisasi
Erham Budi Wiranto | 3
disebut cosmopolitan pattern.2 Pola pertama merujuk pada budaya dan gerakan keagamaan yang menjalin persamaan dan rasa saling memiliki secara lintas negara namun tetap memberlakukan batasan yang ketat antara pengikut dengan lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, mereka adalah kelompok yang monolitik dan eksklusif secara doktrin, namun heterogen secara etnis karena mewadahi pengikut dari ras manapun dan bangsa manapun. Global pattern sangat mengutamakan keutuhan doktrin, kekuatan ortodoksi, fanatisme golongan, dan apapun yang menjaga kemurnian ideologi gerakan. Sementara aspek luaran seperti ras atau etnis anggota, bahasa, peralatan teknologi dan informasi, media, dan sebagainya dibiarkan lentur mengikuti perkembangan modernitas global.
Adapun pola yang kedua merujuk pada kemampuan membawa suatu tradisi keagamaan ke dalam kelompok baru dengan seting sosial yang baru pula bahkan kemampuan untuk terlepas (disembed) dari asalnya. Dengan lain kata, pola cosmopolitan mampu mengejawantahkan agama dalam bentuk baru yang lebih kontekstual dengan tempat baru dimana ia berada. Pola ini tampak mensyaratkan kemampuan heterodoksi, akulturasi, dan bentuk-bentuk akomodasi lain. Sementara cara-cara konservatif, fundamentalis, dan purifikasi agak dikesampingkan.
Agama dengan Global Pattern: ISIS dan Hizbut Tahrir sebagai Contoh
“Menginternasional namun tetap fundamentalis”. Frasa tersebut tampaknya
tepat untuk sekedar mendeskripsikan secara sederhana apa yang dimaksud
global pattern. Letak ke-global-an kategori ini adalah pada kemampuan mereka
mengembangkan jaringan lintas negara sehingga mereka memiliki banyak pengikut dan simpatisan dari berbagai bangsa, dengan latar belakang ras dan budaya berbeda. Akan tetapi mereka tetap mempertahankan keaslian ortodoksi doktriner secara konsisten dimanapun mereka berada. Ada beberapa contoh dari pola ini: termasuk di dalamnya adalah gerakan radikalisme global seperti ISIS dan gerakan politik pan-islamisme transnasional seperti Hizbut Tahrir.
2
Erham Budi Wiranto | 4
a. ISIS
ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) atau the Islamic State of Iraq and Syria /
al-Dawlah al-Islāmīyah fī al ʻIrāq wa al-Shām, merupakan kelompok garis keras
yang berorientasi mendirikan negara Islam di Irak, Suriah dan wilayah Syam lainnya. Mereka bertujuan membangun kekhalifahan dengan semangat Islam yang dianggap lebih authentic sebagai upaya mengembalikan kekuatan Islam setelah tumbangnya kekhalifahan terakhir Turki Utsmaniyah (Ottoman Empire).
ISIS termasuk global pattern lantaran keberhasilannya menarik anggota dan simpatisan dari berbagai negara dan karena kemampuannya menjaga eksklusifitas doktrin mereka. Dari aspek keberhasilannya menarik simpatisan, ISIS terbukti memiliki anggota lintas negara. CNN melaporkan bahwa per Februari 2015 sudah lebih dari 20.000 orang asing bergabung untuk membela ISIS dan di antara mereka terdapat sekitar 3400 orang yang berasal dari negara-negara Barat, termasuk 180 orang dari Amerika Serikat.3 Belakangan, jumlahnya sekitar 30.000 orang dan berasal lebih dari 100 negara di dunia. Di Indonesia sendiri, diperkirakan lebih dari 800 orang bergabung dengan ISIS.4
Sulit membayangkan keberhasilan ISIS menggalang dukungan tanpa adanya media modern. Sejak awal kemunculannya, mereka sudah rajin memproduksi CD, DVD, poster, pamphlet dan aneka produk propaganda lain terutama setelah didirikannya Institut Produksi Media alFurqan pada 2006. Dengan dibentuknya Global Islamic Media Front (GIMF) pada tahun 2013 ISIS juga semakin gencar mendistribusikan propaganda mereka secara lebih mengglobal. Dan belakangan, yang menghenyakkan, mereka membentuk Al Hayat Media Center dengan tujuan merekrut target dari masyarakat Barat melalui materi-materi yang disampaikan dalam Bahsan Inggris, Jerman, Rusia dan Perancis. Ditambah lagi munculnya Ajnad Media Foundation yang khusus menyuburkan propaganda melalui lantunan lagu-lagu nasyid jihad.
ISIS juga piawai menggunakan sosial media. Pasalnya rekruitmen anggota ISIS sangat ditopang oleh aksi mereka di dunia cyber, terutama dengan memanfaatkan facebook, twitter, youtube dan email. Semua media tersebut
3 http://edition.cnn.com/2015/02/25/world/isis-western-recruits/
4 Said Aqil Siradj pada Bulan September 2015 pernah mengatakan: "Ada 800 lebih orang
Indonesia yang bergabung dengan ISIS. 30 orang di antaranya sudah tewas,
Erham Budi Wiranto | 5
selama ini lebih identik sebagai media penyebaran pop-culture – sebuah gelombang budaya bersama globalisasi, namun media-media itu pula yang akhirnya menyebarkan propaganda ISIS. Meskipun ada rekruitmen yang dimotori langsung oleh aktivis ISIS, misalnya seperti di Indonesia, ada Salim bin Mubarok At-Tamimi yang disinyalir sebagai tokoh dibalik rekruitmen ISIS; namun tetap saja sosial media menjadi alat penting bagi ISIS untuk mengglobal. Dengan kata lain, ISIS bukan kelompok anti-globalisasi, namun kelompok yang mengendarai globalisasi dan bekerja untuk kepentingan sekelompok orang.
b. Hizbut Tahrir
Hizbut Tahrir mengklaim diri sebagai gerakan Islam yang bertujuan mengembalikan kaum muslimin untuk taat kepada hukum Islam, memperbaiki sistem perundangan dan hukum negara yang dinilai tidak Islami (kufur) agar sesuai dengan tuntunan syariat Islam, serta membebaskan dari sistem hidup dan pengaruh negara Barat. Hizbut Tahrir juga bertujuan untuk membangun kembali pemerintahan Islam warisan Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin yakni Khilafah Islamiyah di dunia, sehingga hukum Islam dapat diberlakukan kembali.5
Hizbut Tahrir dapat digolongkan sebagai global pattern karena jaringannya yang lintas negara dan kemampuannya untuk menjaga distingsi ideologi mereka. Lebih dari satu dasawarsa lalu, Heritage Foundation (USA) mencatat bahwa Hizbut Tahrir ada di 40 negara, dengan pengikut setia berjumlah 5000 hingga 10.000 anggota dan simpatisan berjumlah puluhan ribu orang. Pada tahun 2007 ketika Konferensi Hizbut Tahrir digelar di Indonesia, diperkirakan dibanjiri sekitar 80.000 hingga 100.000 peserta dari berbagai penjuru dunia. Jumlah mereka saat ini diperkirakan terus meningkat. Mereka menerima anggota dari kalangan umat Islam, baik pria maupun wanita, tanpa memperhatikan lagi apakah mereka keturunan Arab atau bukan dan dari suku apapun.
Secara ideologis, Hizbut Tahrir adalah sebuah partai bersendikan penafsiran terhadap doktrin Islam. Partai ini menyerukan dakwah Islam serta mengambil dan menetapkan seluruh aturan-aturannya tanpa memandang lagi ras-ras kebangsaan, warna kulit, maupun mazhab-mazhab mereka sepanjang berkomitmen untuk mengadopsi ide-ide Hizbut Tahrir. Dengan kata lain, Hizbut Tahrir siap menjadi gerakan global dan menunggangi globalisasi meskipun dalam banyak propagandanya tampak anti-globalisasi.
5
Erham Budi Wiranto | 6
Dalam konteks Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) cukup rajin mencecar berbagai kebijakan pemerintah. Tudingan yang kerap muncul bercorak merendahkan demokrasi, anti kapitalisme, liberalism, pluralism bahkan nasionalisme karena semua itu dianggap ashabiyah (fanatisme, primordialisme). Propaganda yang digencarkan melalui media Buletin Jum’at Al-Islam, majalah Al-Wa’ie, tabligh, official website dan sebagainya jelas menampakkan posisi HTI sebagai gerakan global yang anti Barat dan Sistem Kafir, termasuk demokrasi tadi. Seolah mereka tidak sadar bahwa kebebasan berekspresi yang mereka nikmati, termasuk kebebasan mengedarkan gagasan propagandis, tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya sistem demokrasi di negeri ini.
Betapapun, Hizbut Tahrir terkesan memiliki pesona. Salah satu daya tarik dari Hizbut Tahrir adalah pendekatannya yang lebih lunak. Mereka bukan gerakan radikal berkekerasan, namun radikal dalam pemikiran. Lantas apakah gerakan pemikiran yang radikal ini tidak menyimpan bom waktu? Mengacu pada Teori
Conveyor Belt, potensi bahaya dari pemikiran radikal tetap merupakan
ancaman serius.6 Radikalisme pada tingkatan ekstrim biasanya akan beralih kepada kekerasan (violence), atau setidaknya - meminjam istilah Sidney Jones - vigilantisme.7 Vigilantisme diartikan sebagai sikap main hakim sendiri. hal ini sangat mungkin terjadi ketika seseorang atau sekelompok orang sudah cukup frustasi dan tidak percaya lagi dengan hukum yang tengah berlaku.
Menuju Cosmopolitan Pattern
Eksklusifitas gerakan-gerakan trans-nasional berpola global pattern, secara umum dipandang kurang menjanjikan jaminan rasa aman bagi kelompok-kelompok lain yang secara ideologis (dan termasuk agama) berbeda. Meskipun kelompok-kelompok tersebut berhasil menerima keragaman ras namun tampaknya mereka belum mampu mewadahi keragaman budaya dan pola pikir. Setidaknya terlihat dari kekukuhan mereka terhadap doktrin ideologi gerakan.
Kemampuan menerima keragaman budaya dan cara pandang, atau yang santer disebut sebagai multikulturalisme, mensyaratkan sikap yang lebih terbuka
6 Teori “religious conveyor belt” dimulai
dengan keluhan atau krisis personal kepada religiusitas, kemudian kepada penerimaan keyakinan radikal dan kemudian kepada terorisme, yang dalam setiap tahapan tersebut terdapat tanda-tanda yang bisa diidentifikasi oleh penegak hukum. Kesimpulannya, teori tersebut memandang bahwa kalau seseorang memiliki ideologi radikal secara otomatis dan mekanik mereka akan menjadi teroris.
7
Erham Budi Wiranto | 7
terhadap berbagai keragaman, bukan hanya keragaman yang tampak secara fisik, namun juga keragaman perspektif dan gagasan. Keragaman yang Tuhan ciptakan di dunia ini, ketika bertemu dalam zaman globalisasi, idealnya menyatu sebagai a bowl of salad dimana keragamaan tetap tampak dan mampu berpadu secara cantik; bukan bercampur lebur seperti bubur, sehingga tiap identitas menjadi hancur. Untuk itu, perlu serangkaian sikap akomodatif agar agama mampu mengada di era global sebagai ruh zaman secara positif.
a. Mainstreaming Tolerance
Semua jenis penerimaan selalu dimulai dari kemampuan bertoleransi. Maka mengarus-utamakan (mainstreaming) toleransi adalah prasyarat menuju sikap beragama yang kosmopolit. Sikap toleran diartikan sebagai sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb) yg berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.
Toleransi sulit dimiliki oleh siapapun yang bersikap “playing god”, merasa bertindak sebagai (wakil) tuhan dan berhak memonopoli kebenaran (truth claim). Sepanjang klaim kebenaran dimanfaatkan untuk memperkuat keimanan agama sendiri, mungkin tidak terlalu bermasalah, sepertinya sebagian besar agama atau kelompok keagamaan melakukan ini, namun akan menjadi masalah serius ketika truth-claim dijadikan landasan sikap kepada orang lain yang berbeda.
Sebaliknya, toleransi akan mudah dimiliki jika dengan rendah hati manusia menyadari keterbatasannya sebagai penafsir. Bahwa manusia hari ini bukan nabi, namun para penafsir risalah kenabian dan pengenyam ajaran para bijak bestari zaman sebelumnya. Termasuk ketika memandang kitab suci, manusia mestinya menyadari bahwa kitab adalah sumber yang memungkinkan munculnya multitafsir (dan itulah yang telah terjadi berabad-abad), maka cukup absurd manakala manusia bersikap fanatik pada satu corak penafsiran dan mengeliminasi bahkan melawan penafsiran lain.
Untuk itu, toleransi perlu diarusutamakan, sebab menghargai pandangan dan budaya lain, sejatinya adalah bentuk pengakuan keterbatasan diri sendiri dan bentuk penghormatan terhadap pencapaian penafsiran orang lain tentang makna kehidupan.
b. Agama Cinta
Erham Budi Wiranto | 8 menurutnya, antonim orang relijius bukanlah orang sekuler, namun ‘orang tanpa cinta’ dan atau ‘orang egois’.8
Dapatkah dikatakan sebagai ‘orang dengan cinta’ apabila seseorang menyingkirkan orang lain hanya karena tidak sepaham secara ideologis? (kasus ISIS misalnya). Tentu saja tidak. Orang semacam itu hanya makhluk egois yang membela kepentingan sendiri dengan mengorbankan orang lain. Maka dari itu, setiap insan beragama sebenarnya perlu berpikir reflektif tentang arti keimanannya. Agama harusnya mendatangkan maslahat (kebaikan) bagi
manusia, sebab, itulah ‘tujuan dari hukum Tuhan’ (maqashid al-shariah). Bahkan semua agama tampaknya seragam bahwa orang yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (khairu naas ‘anfauhum li al-naas). Oleh karenanya, menjadi orang beragama semestinya sadar bahwa ketika ia mencintai Tuhan berarti sekaligus ia mencintai kemanusiaan. Maka ironis ketika ada orang beragama yang menampilkan diri sebagai terror dan ancaman bagi kemanusiaan. Beragama di era global, mensyaratkan kemampuan memaknai agama yang seperti ini. Agama harus dilihat sebagai cinta.
c. Humanitarianisme
Satu konsep lain yang perlu dimiliki untuk bekal beragama di era global adalah humanitarianisme. Sepintas dari istilahnya, terkesan dekat dengan humanisme, tapi ini jauh berbeda. Humanisme lebih bersifat antroposentris dimana kebenaran ditentukan dan ditakar oleh takaran manusia saja; lantas Tuhan (dan firmannya) tidak diindahkan. Namun humanitarianisme, menurut Siswanto Masruri, dapat dilandasi oleh semangat keagamaan dan pengabdian kepada ketuhanan.9 Karena titik tekan humanitarianisme adalah pelayanan sosial bagi kemanusiaan. Bahkan secara sederhana Meriam-Webster mengartikan humanitarian sebagai a person who works to make other people's
lives better, orang yang bekerja demi kehidupan yang lebih baik bagi orang lain.
Orang itu bisa saja beragama maupun tidak beragama, namun orientasi kemanusiaannya sama.
Jika orang tidak beragama saja mampu menjadi humanitarian, maka semestinya orang beragama justru lebih leading dalam hal ini. Sebab seperti
8
John D. Caputo, Agama Cinta, Agama Masa Depan (Bandung: Mizan, 2003), hlm 1-4.
9
Erham Budi Wiranto | 9
diungkap di awal tadi, beragama berarti mengenggam cinta pada kemanusiaan sebagai bukti cintanya pada Tuhan.
d. Global Ethic
Jika setiap insan beragama sudah sepaham bahwa beragama berarti mencintai kemanusiaan, maka sebetulnya semua orang beragama dapat membangun etik (tata aturan) dan etika (budi pekerti) yang disepakati bersama. Yaitu semacam nilai-nilai fundamental dan universal yang disepakati setiap umat beragama. Gagasan semacam ini telah digerakkan cukup lama, setidaknya sejak paruh kedua abad 20. Sekedar menyebut satu tokoh, kita bisa menyebut Hans Kung yang terkenal dengan ungkapannya “tidak ada perdamaian dunia tanpa
perdamaian antaragama”.10 Oleh karena itu, Hans Kung mencanangkan Global Ethic sebagai upaya agar seluruh umat beragama bergerak sinergis dalam satu visi yaitu nilai-nilai kemaslahatan bagi kemanusiaan global.
Kembali kepada cosmopolitan pattern, empat konsep di atas memang mendukung untuk mengembangkan corak beragama di era global secara kosmopolit. Kekhawatiran sebagian orang, cosmopolitan pattern akan berakibat luntur dan lenyapnya identitas agama, karena tuntutan untuk bersikap toleran, menerima multikulturalisme, berorientasi kemanusiaan, dan meniscayakan satu etik global bersama. Namun sebenarnya tidak perlu sampai melenyapkan identitas, simbol, ritual, tradisi, institusi dan aneka dimensi keagaman lainnya. Keragaman agama tetap terwadahi dalam a bowl of salad; sedang yang perlu disatukan adalah visi dan orientasinya bagi kemaslahatan universal.
Pemuda dan Pilihan Peran
Jika pemuda (putra dan putri) bangsa ini pada tahun 1928 berhasil membangun kesepakatan yang menyatukan nusantara, maka pemuda di era ini sebenarnya memiliki tuntutan lebih tinggi, yaitu membangun kesepakatan etis yang mengglobal. Hal ini tidak lain karena dunia ini telah menjadi mungil; segala mudah dan cepat dijangkau sehingga masalah yang ada di tempat ini berpotensi menjadi masalah global hanya dalam hitungan detik, tentu akibat dari teknologi-informasi yang demikian pesat.
Terkait tuntutan global tersebut, dan karena mayoritas warga Indonesia beragama, maka pemuda dihadapkan pada pilihan global pattern atau
10
Erham Budi Wiranto | 10
cosmopolitan pattern. Mau mengglobal tapi eksklusif dalam beragama atau
mengglobal dan beragama dengan orientasi kemaslahatan universal? Itulah dua pilihannya, keduanya sangat mudah dilakukan dengan piranti-piranti globalisasi.
Setelah melihat panggung sandiwara global (global theatre) tentu kita bisa dengan bijak menilai, lalu memilih mau berada di sisi mana. Kejernihan nurani dan daya pikir kritis perlu dipertajam untuk memantapkan pilihan itu. Pemuda harus banyak membaca secara kritis, berani menganalisa dan berpikir bebas, tidak mudah menelan doktrin mentah-mentah, menyadari darah muda yang bergejolak sehingga tidak gegabah dan terburu dalam mengambil keputusan, tajam mendengar, pandai membandingkan aneka tawaran, bijak mengakses media, dan tidak lupa bahwa hakikat beragama adalah untuk manusia (bukan untuk Tuhan, tanpa disembah oleh manusiapun Tuhan sudah Digdaya Maha Kuasa dan tidak melemah sedikitpun).
Meskipun tulisan ini mengajak pemuda mengambil peran global, namun sebagai starting point - dan ini yang justru sangat penting - terlebih dahulu perlu fokus yang serius menyikapi permasalahan nasional. Konflik beragama tak berkesudahan, merebaknya terorisme atas nama agama (bahkan sebagian aktornya adalah pemuda) dan sederet permasalahan nasional lainnya perlu dicermati oleh pemuda, karena semua itu telah menggerogoti nasionalisme. Berorientasi global harus dimulai dari bertindak lokal (glokal). Pemuda perlu mengambil peran terhadap permasalahan di aras lokal/nasional, dan mau fokus pada isu yang terdekat dengan dirinya. Dengan begitu sebetulnya ia telah mulai berperan global. Jika tidak melakukan apapun, maka ia absent dari perannya bagi kemanusiaan di era global.
Penutup
Erham Budi Wiranto | 11
Pertanyaan ini pelik dan pantas menjadi refleksi akhir dari tulisan ini. Jika pendahulu kita rela bertaruh nyawa demi nasionalisme bernama Indonesia, dan jika kemerdekaan negara ini diakui sebagai rahmat Tuhan Yang Masa Esa, maka sesungguhnya menjaga kedaulatan negara (nasionalisme) adalah bentuk rasa syukur kita. Mengentaskan negara dari jurang keterpurukan tidak harus
dilakukan dengan membongkar paksa negara ini. “Jika padi di lumbung
dimakan tikus, jangan kau bakar lumbungnya bung! tapi tangkap tikusnya! – hormatilah jasa moyang kita yang sudah berpayah-payah membangun lumbung itu”
---
*Makalah ini disampaikan dalam Konferensi Pemuda Nusantara untuk Perdamaian Indonesia pada 26-28 Oktober 2015 di Kompleks Balaikota Surakarta.
**Penulis adalah Peneliti Center for the Study of Islam and Social Transformation (CISForm), Deputi Direktur Tolerance Institute, dan Tenaga Ahli Sekretariat Daerah DIY
untuk Pengembangan “Jogja City of Tolerance”. Ia juga mengajar mata kuliah “Agama dan