• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen sistem Pendidik an Nasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Manajemen sistem Pendidik an Nasional"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL: Perubahan Paradigma Pusat-Daerah

(Cepi S. Abd. Jabar)*

ABSTRAK

Perubahan paradigma sistem ketatanegaraan dari sistem sentralisasi menjadi desentralisasi (dengan diberlakukannya undang-undang nomor 22 tahun 1999/32 tahun 2004) menghendaki pula perubahan-perubahan di semua sektor dan lini pemerintahan. Selain itu, pola pikir dan cara bertindakpun harus berubah. Desentralisasi menghendaki pemerintah daerah mandiri, jeli melihat peluang dan memanfaatkannya.

Pendidikan sebagai salah satu bidang yang juga terkena dampaknya dari kebijakan ini sebenarnya mengalami dilema. Sebelum diberlakukannya kebijakan otonomi daerah, kabupaten memiliki andil yang tidak seimbang terhadap pendidikan. Sekarang, hampir 100% pendidikan menjadi tanggung jawabnya. ini tentu merupakan beban yang sangat berat, apalagi ditambah dengan bidang-bidang lainnya.

Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang sudah mengantisipasi perubahan paradigma sistem ketatanegaraan ini diharapkan dijadikan salah satu pertimbangan pemerintah daerah dalam mengelola bidang yang satu ini baik dalam hal kebijakan maupun operasionlnya. Selain mendukung undang-undang yang terkait, uu 32 tahun 2004, juga memberikan panduan yang cukup jelas bagi pemerintah daerah dan juga masyarakat dalam mengelola pendidikan.

Perubahan kebijakan sistem ketatanegaraan sudah seyogyanya disikapi oleh kalangan yang terkait dengan pendidikan, baik pemerintah maupun sekolah juga masyarakat, dengan melakukan perubahan-perubahan strategis yang mendukung efektivitas pencapaian tujuan pendidikan di era kemandirian tersebut.

Kesenjangan Pusat-Daerah

(2)

Tabel Serapan Uang yang ditanam di Daerah pendapatan total masyarakat di Jawa lebih tinggi 25% daripada pendapatan pulau-pulau besar lainnya (hal. 210).

Hewing (dalam Nining I. Soesilo, 1996: 210) meramalkan bahwa untuk mengejar ketinggalan daerah yang satu dengan yang lain itu diperlukan setidaknya waktu 60 tahun! Bisa dibayangkan, pulau Irian akan sejajar dengan rekannya yang lebih maju, Jawa sekarang, pada tahun 2065.

Pulau Jawa sebagai rumahnya pemerintahan pusat mendapatkan imbas yang sangat berarti dalam menikmati kue pembangunan. Dengan tersedianya sarana/pra sarana serta infrastruktur lainnya, para penanam modal lebih tertarik menanamkan modalnya di Jawa daripada di luar Jawa. Akibatnya, segala pendanaan dukungan dan fasilitas lainnya lebih terkonsentrasi di pulau ini. Akibatnya, segala keputusan nasional yang dibuat banyak yang memakai pola pikir Jawa. Mulai dari pengelompokan struktur wilayah sampai dengan

pelaksanaan pelayanan masyarakat menggunakan cara-cara “Jawa” –juga bisa disebabkan pula karena kebanyakan penjabat berasal dari pulau itu. Kekhasan

tiap-tiap daerah seolah diabaikan.

(3)

menikmati apa-apa yang dihasilkan oleh mereka, ibarat penarik becak, yang punya malah kehujanan di luar becak miliknya sendiri.

Selain itu, mental aparat juga menjadi permasalahan dalam distribusi kekayaan negara ini. Oknum aparat tidak hanya tak adil menghitung pemerataan, mereka juga “menggunting dalam lipatan” dana masyarakat yang seharusnya sampai kepada mereka. Seperti yang dilansir oleh Transparancy

International, suatu lembaga penelitian pada universitas Göetingen yang

berkedudukan di Berlin (Siswono Yudohusodo, 37) Indonesia dikatagorikan negara terkorup di dunia.

Dengan penghimpunan dana masyarakat di daerah dan kemudian dibagikan kembali kedaerah telah menempatkan pemerintah sebagai sosok Robinhood. Akibatnya, banyak daerah yang sangat tergantung sekali pada

uluran tangan sang pencoleng budiman itu. Dan nampaknya, pemerintah ingin julukan sang budiman ini terus melekat pada dirinya. Masyarakat belum sepenuhnya didewasakan untuk mengupayakan dirinya sendiri tanpa bantuan siapapun. Akibatnya, terpolalah suatu tabiat masyarakat peminta-minta—dan itu yang diinginkan pemerintah pusat.

Dari anggapan menjadi sapi perahan pusat, banyak teriakan-teriakan sebagai tanda ungkapan rasa ketidakadilan dari daerah. Ancaman disintegrasi dari daerah yang “terdzalimi” banyak bermunculan. Misalnya Irian Jaya, Aceh, dan Riau Kepulauan. Dari fenomena tersebutlah ide tentang desentralisasi bergulir.

(4)

pemerintah dan pelaksanaan pembangunan lebih efektif dan efisien (Ginandjar Kartasasmita, 1996:342).

Dalam implementasinya, desentralisasi kekuasaan dari pusat kedaerah ini dikenal dengan otonomi. Konsep otonomi tidak seratus persen murni lahir karena tuntutan “sapi perah” republik ini, ia lahir dari beberapa pertimbangan pula. Pertimbangan ini bermuara pada ketidak mampuan pemerintah pusat menjalankan roda penyelenggaraan negara secara menyeluruh. Ketidakmampuan ini penulis identifikasi dari dua penyebab, yakni:

1. Rentang birokrasi dan pengawasan yang sangat panjang 2. Krisis ekonomi

Banyak kreativitas dan inisiatif pembangunan yang berasal dari bawah (pemerintah daerah) terhambat karena rentang birokrasi dan pengawasan yang panjang. Akibatnya, motivasi daerah dalam membangun setidaknya terganggu. Selain itu, standar nasional yang dibakukan oleh birokrat pusat kadang bisa menjadi tidak pas ketika dihadapkan dengan karakteristik fisik wilayah dan budaya masyarakat setempat.

Dengan terhantamnya badai krisis ekonomi, kemampuan pemerintah pusat membiayai pembangunan semua wilayah secara merata menjadi berkurang. Seperti ungkapan, habis sepah dibuang, daerah diminta ikut lebih banyak memikirkan pembangunan dirinya. Pemerintah hanya sebagai motivator

dan pendukung saja.

Otonomi Daerah dan Kesenjangan antar Daerah

(5)

Ketidaksiapan daerah dalam menerapkan kebijakan pemerintah pusat ini cukup memberikan ganjalan yang sangat berarti dalam memberikan pelayanan

pada masyarakat. Ketidaksiapan ini menyebabkan rendahkan kualitas kinerja dari pemerintah kabupaten dalam menjalankan fungsinya sebagai pelayanan

masyarakat. Seperti ditemukan dalam beberapa penelitian, Usman dkk.(2001) meneliti tentang pelaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah dengan mengambil Kasus di Tiga Kabupaten di Sumatera Utara menemukan kinerja aparat tidak menandakan adanya perbaikan walaupun pungutan-pungutan kepada masyarakat semakin besar dan variatif. Penelitian yang dilakukan di Sumba Timur dan Nusa Tenggara Timur, Usman menemukan bahwa kinerja aparat pemerintah kabupaten juga menurun. Beberapa indikasinya adalah 1) permintaan laporan oleh pejabat propinsi tidak selalu dipenuhi oleh pejabat kabupaten dan kota; 2) banyak undangan rapat di tingkat propinsi hanya dihadiri oleh bawahan pejabat kabupaten dan kota; 3) pejabat kabupaten dan kota berpendapat bahwa, propinsi boleh membuat peraturan, tetapi keputusan ada di tangan kabupaten dan kota; 4) kepala dinas/biro propinsi tidak dapat mengirim surat langsung kepada kepala dinas/bagian yang sejenis di kabupaten dan kota karena yang terakhir ini merasa tidak lagi menjadi bawahan propinsi, surat-surat harus ditujukan kepada bupati dan walikota. Persoalan menjadi lebih rumit karena surat kepada bupati dan walikota harus ditandatangani oleh gubernur

atau paling tidak sekretaris daerah propinsi; dan 5) Inspektorat Wilayah Propinsi tidak dapat lagi dengan mudah melakukan pemeriksaan ke kabupaten dan kota,

karena tugas tersebut dianggap sudah menjadi wewenang bupati dan walikota. Berkaitan dengan struktur kelembagaan, beberapa posisi terpaksa diisi oleh pejabat yang tidak memenuhi persyaratan secara kepangkatan.

(6)

hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Usman dkk. (2001) menemukan bahwa pelaksanaan pelayanan publik oleh aparat pemda di

beberapa sektor yang diamati dinilai masih rendah. Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Sukabumi Propinsi Jawa Barat menemukan bahwa kinerja aparat

menurun. Menurunya kinerja ini akibat dari konflik internal yang terjadi di jajaran aparat “berpangkat tinggi” yang tidak kebagian posisi. Selain itu pula, pelayanan publik tidak semakin lancar, transparan, dan pungutan liar tetap ada; ketidakberesan dalam pelaksanaan proyek, dan pajak serta retrubusi lainnya semakin memberatkan masyarakat. Selain itu pula, pemerintah daerah mendapat kesulitan dalam melakukan restrukturisasi dan penataan kelembagaan secara menyeluruh.

Penelitian yang dilakukan di Lombok menemukan bahwa Pemerintah Propinsi (Pemprop) NTB merencanakan pembangunan daerah dalam bentuk Program Pembangunan Daerah (Propeda) berdasarkan petunjuk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan tidak merujuk pada Program Pembangunan Nasional (Propenas). Sementara pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lobar merencanakan pembangunannya melalui Rencana Strategis (Renstra) yang disusun berdasarkan petunjuk Departemen Dalam Negeri (Depdagri) dan tidak merujuk pada Propenas maupun Propeda Propinsi NTB. Situasi itu memberi kesan bahwa berbagai kegiatan pembangunan nasional,

propinsi, dan kabupaten sekarang ini berjalan sendiri-sendiri, tanpa koordinasi. Selain itu, karena kegiatan pembenahan internal yang terlalu menyita banyak

waktu dan sumber daya lainnya, masyarakat menilai pelayanan pemerintah daerah pada masyarakat menjadi menurun. Khusus untuk bidang pendidikan, kinerja pemerintah daerah dalam bidang ini masih sangat rendah (Mawardi, 2002).

(7)

Desentralisasi dan Otonomi Daerah SMERU, 2000). Dalam penelitian yang lainnya, SMERU mengidentifikasi bahwa penerapan otonomi daerah, daerah

belum sepenuhnya mampu mewujudkan semangat transparansi, good governance, dan demokrasi. Lebihlanjut, penelitian menemukan hal ini akibat

dari kelompok-kelompok masyarakat, termasuk partai politik, lemah dan tidak terorganisir dengan baik (SMERU, 2001).

Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Sangau, Kalimatan Barat, ditemukan bahwa konflik yang terjadi di jajaran aparat berpengaruh serius terhadap kinerja pemerintah daerah dalam melayani masyarakat. Proses penyusunan dan perencanaan manajemen kepegawaian berjalan sangat lambat. (Usman dkk., 2000). Penelitian yang dilakukan di tiga kabupaten di Sulawesi Utara dan Gorontalo menyimpulkan bahwa secara umum masyarakat berpendapat bahwa dalam merumuskan berbagai kebijakan publiknya, pemda dihadapkan pada berbagai kelemahan, antara lain: 1) kesulitan dalam menjabarkan kebijakan otonomi daerah terutama menyangkut kewenangannya, hubungan kerja dengan DPRD, jumlah pegawai yang berlebih, DPRD yang arogan, serta praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang terus berlangsung; 2) kebijakan pemda terfokus pada upaya meningkatkan sumber PAD; 3) perumusan kebijakan publik tidak transparan dan tidak disosialisasikan; 4) belum didukung oleh pelaku ekonomi lokal yang mapan, malahan pengusaha daerah

cenderung minta diproteksi.

Secara umum penilaian berbagai kalangan terhadap pelaksanaan

(8)

Di sektor pendidikan, ada usaha untuk terus meningkatkan kualitas pelayanannya, misalnya di Gorontalo, diselenggarakan siswa binaan khusus dan

penyelenggaraan sekolah terbuka. Namun demikian pelayanan di sektor ini secara umum masih dihadapkan pada permasalahan klasik menyangkut

minimnya dana, tidak lengkapnya fasilitas sekolah, kekurangan guru (kuantitas dan kualitasnya), serta minimnya partisipasi dari orang tua murid. Persoalan yang paling dikhawatirkan adalah turunnya apresiasi masyarakat terhadap tujuan pendidikan karena tidak ada jaminan untuk segera memperoleh pekerjaan dan makin menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat. (Usman dkk., 2001).

Penelitian yang dilakukan di Kota Bandar Lampung ditemukan adanya ketumpangtindihan kewenangan tiap unit/dinas yang ada di lingkungan pemerintahan Kota. Selain itu, kualitas kinerja aparat juga masih dinilai rendah. Peneliti menumukan masalah ini bermuara dari tidak berkualitasnya SDM dan kuantitasnya yang tidak memadai. Banyak kegiatan yang direncanakan dalam TPPK belum terealisir. Secara umum, setelah pelaksanaan otda pelayanan di sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur belum berubah, namun kondisi sarana dan prasarana pendukung pelayanan cenderung memburuk. Jika dalam waktu dekat tidak diperbaiki maka kondisi ini akan menghambat dan berdampak negatif pada proses pelayanan. Persoalan mendasar yang dihadapi sub sektor pendidikan di Propinsi Lampung adalah rusaknya sekitar 50% gedung SD,

rendahnya daya tampung sekolah lanjutan, tidak meratanya distribusi guru, serta masalah mutasi dan insentif guru. Sementara itu di sektor kesehatan, masalah

yang mengemuka adalah masalah yang menyangkut status tenaga kesehatan dan jumlahnya yang belum mencukupi. Kesimpulannya, selama dua tahun pelaksanaan desentralisasi dan otda belum ada tanda-tanda kecenderungan pelayanan pemerintah kepada masyarakat akan menjadi lebih baik (SMERU, 2002).

(9)

tidak sesuai lagi,out of date, atau tidak dipahamai oleh semua manajer menengah ke bawah. Selain itu, desentralisasi telah membingungkan supervisi,

mengurangi kapasitas teknis supervisi, dan mengurangi kunjungan supervisional. Motivasi staf dipengaruhi melalui perubahan yang sangat cepat, dan persepsi

para pekerja kesehatan mengenai tingkat kompensasi dan kondisi kerja dipengaruhi negatif oleh desentralisasi (Riitta-Liisa Kolehmainen-Aitken, 2004).

Dalam perjalanannya, sampai sekarang ini kemajuan daerah sangat signifikan terlihat. Di sisin lain juga masih banyak daerah yang khawatir. Ada perkembangan yang patut kita cermati sehubungan dengan implementasi kebijakan otonomi daerah ini. Tiap daerah berlomba mendongkrak pendapatan asli daerahnya (PAD). Banyak jalan yang ditempuh untuk meningkatkan PAD ini, mulai dari yang sangat tidak populer sampai dengan yang sangat canggih. Misalnya, bagi daerah yang memiliki sedikit atau hampir tidak ada sumber daya alam, menggenjot sektor pajak merupakan sumber pendapatan utama—dan cara ini merupakan cara yang sangat tidak populer. Banyak pengamat menyatakan bahwa jalan seperti itu adalah upaya bunuh diri. Dengan menarik banyak pajak, apalagi tidak dilakukannya deregulasi ekonomi, akan menghindarkan daerah dari penanaman modal. Para penanam modal cenderung menyimpan uangnya (yang kadang juga masih kena pajak) di bank, atau menanamnya di daerah yang lebih akomodatif bagi kegiatan usaha. Siapa yang

rugi?

Bagi daerah yang memiliki banyak sumber daya alam, upaya

(10)

Ternyata, melepas sebagian besar kewenangan ke pemerintah kabupaten bukanlah langkah yang sangat bijak. Peran Propinsi, seperti yang diamanatkan

oleh undang-undang nomor 20 tahun 1999 sebagai koordinator pembangunan, banyak diabaikan dan dilangkahi oleh para bupati. Seperti kasus di Jawa

Tengah, gubernur akan sangat kesulitan bila ingin mengumpulkan para bupatinya. Dengan mudah dan singkatnya mekanisme komunikasi daerah-pusat, propinsi seolah dipandang telah dilikuidasi. Di sisi lain, pertentangan antara pemerintah kabupaten dengan kabupaten lainnya, dengan propinsi bahkan dengan pemerintah pusat bisa terjadi. Hal ini terutama sering terjadi diakibatkan oleh hal-hal yang berbau uang. Ingat kasus rebutan hak pengelolaan Stadion Senayan? BHMD? Pengelolaan sampah?

Hal di atas merupakan terjadinya perbedaan penafsiran tentang otonomi itu sendiri. Seperti yang dilaporkan oleh Tim Kerja Pusat Implementasi Otonomi Daerah (Fasli Jalal dan Dedi Supriadi e.d., 2001:xxxvii) bahwa 1) terdapat persepsi daerah yang kurang tepat dalam menyikapi kewenangan; 2) pembentukan lembaga daerah tidak proporsional dengan kegiatan dan kewenangannya; 3) penempatan personel yang cenderung primordial; 4) tidak tercerminnya prioritas pembangunan SDM dalam alokasi APBD; dan 5) timbul kerancuan kewenangan antara pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten.

Dengan diterapkannya undang-undang nomor 32 tahun 2004 diharapkan

kedudukan unit-unit pemerintahan mulai dari pemerintahan daerah, propinsi, sampai dengan pusat memiliki sinergi yang akan saling menguntungkan,

terutama kepada pelayanan masyarakat. Masing-masing akan memiliki tugas dan fungsinya sendiri, saling mendukung, dan saling menghormati didalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.

Otonomi dalam Pendidikan: Pemberdayaan Lokal dalam Konteks Manajemen Berbasis Sekolah

(11)

semua kewenangan dilimpahkan seluruhnya ke daerah, seperti bidang agama, pertahanan dan keamanan, hubungan luar negeri, kabupanten diminta untuk

mengelola semua hal yang berkaitan dengan masyarakat di daerahnya.

Dalam bidang pendidikan, pemerintah kabupaten diminta untuk

mengadministrasi penyelenggaraan pendidikan yang ada di daerahnya. Pendidikan formal dan informal merupakan tanggung jawab dari pemerintah kabupaten. Kebijakan otonomi ini seiring dan diejawantahkan dalam konteks manajemen berbasis sekolah (MBS). Pokja Manajemen Berbasis Sekolah (Fasli Jalal dan Dedi Supriadi e.d., 2001: 152) memandang bahwa MBS diterapkan dalam rangka pelonggaran pengawasan pusat agar sekolah bisa leluasa bergerak dalam mengelola sumber dayanya, sehingga mutu bisa bisa lebih ditingkatkan lagi.

Dari konteks di atas, peran pemerintah pusat menjadi sangat berkurang dalam intervensi pembelajaran di sekolah. Sebagian besar kewenangan dalam pengelolaan pendidikan diserahkan kepada pemerintah kabupaten. Daerah diminta untuk mengatur pendanaan, tenaga dan pra sarana pendidikan secara mandiri. Wujud intervensi pendanaan pemerintah pusat hanya dalam bentuk yang sangat tidak pasti, Dana Alokasi Umum. Dalam hal standar, pendidikan masih tetap diatur oleh pemerintah pusat dengan pertimbangan strategis.

Dengan berubahnya paradigma pengelolaan pendidikan yang “terpusat” di Jakarta menjadi “mendaerah” di kabupaten, masyarakat di daerah serta unit satuan terkecil pendidikan dan stake holder pendidikan lainnya dituntut untuk

terlibat secara aktif dalam penyelenggaraan pendidikan di daerahnya masing-masing. Pemerintah kabupaten yang nota bene kemampuan keuangannya

berbeda-beda, harus mampu memberdayakan masyarakat sekitar dunia pendidikan di daerahnya untuk membantu pembangunan SDM di daerah itu.

(12)

lembaga itu sendiri. Dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki lembaga, serta memanfaatkan lingkungan strategis, sekolah/lembaga pendidikan

harus mampu mencapai tujuan pendidikannya secara efektif dan efisien.

Mengubah pola pikir kemandirian tidak semudah membalikan tangan.

Seperti kasus di Propinsi Daerah Istimewa Jogjakarta di awal pelaksanaan implementasi otonomi daaerah khususnya di bidang pendidikan, aparat pelaksana MBS di cabang-cabang dinas pendidikan kabupaten dan pemerintah kota (propinsi) ternyata secara umum belum siap (Tatang M. Amirin dkk, 2001). Konsep pemberdayaan masyarakat sekitar serta stake holder sekolah juga masih menggunakan paradigma lama, eksploitasi sumber finansial. Walaupun ada, hanya sekitar pemanfaatan sumber belajar yang tersedia di masyarakat (B. Suryosubroto dkk).

Tanggung jawab lembaga pendidikan dan tentunya pemerintah daerah kabupaten semakin berat. Selain memiliki pertanggunggugatan yang secara langsung berdekatan dengan stakeholder dan masyarakat, lembaga memiliki tugas yang baru, yaitu:

1. Merubah perilaku dilayani oleh masyarakat menjadi pelayan bagi masyarakat 2. Merubah anggapan masyarakat dan stakeholder sebagai rekan dalam

mencapai tujuan pendidikan

3. Menyadarkan masyarakat dan stakeholder pendidikan akan arti penting

pengembangan SDM bagi pembangunan kolektif maupun individual.

4. Menumbuh-kembangkan kemandirian baik secara personal individual

maupun kelompok.

(13)

Daftar Pustaka:

B. Suryosubroto, Cepi S. Abd. Jabar, Sutiman (2002) “Pemberdayaan Masyarakat sebagai Sumber Daya Pendidikan dalam Program Ekstrakurikuler di Kabupaten Bantul”. Jogjakarta: Jurusan Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Yogyakarta.

Fasli Jalal & Dedi Supriadi (editor) (2001) “Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah”. Jogjakarta: Kerjasama Bappenas – Depdiknas – Adicita karya Nusa.

Ginandjar Kartasasmita (1996) “Pembangunan untuk Rakyat, Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan”. Jakarta: PT. Pustaka CIDESINDO.

Kolehmainen-Aitken R-L (2004) “Decentralization's impact on the health workforce: Perspectives of managers, workers and national leaders”. http://www.human-resources-health.com/content/2/1/5. 9 November 2004.

Nining I. Soesiol (1996) “Rusaknya Jawa, Kurusnya IBT. Bunga Rampai: Pembaharuan dan Pemberdayaan, Permasalahan, Kritik, dan Gagasan Menuju Indonesia Masa Depan”. Jakarta: IA ITB.

Siswono Yudohusodo (1996) “Pembangunan Manusia Indonesia sebagai Masyarakat Global (Suatu Renungan). Bunga Rampai: Pembaharuan dan Pemberdayaan, Permasalahan, Kritik, dan Gagasan Menuju Indonesia Masa Depan”. Jakarta: IA ITB

Syaikhu Usman, et.al. (2000) “Persiapan Desentralisasi dan Otonomi Daerah: Kasus Kota Sukabumi, Jawa Barat”. Draft laporan lapangan. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU.

_____________ (2001) “Pelaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah: Kasus Tiga Kabupaten di Sumatera Utara”. Field Report 2001. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU.

___________ (2000) “Persiapan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Kasus Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat”. Field Report 2001. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU.

___________ (2002) “Pelaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah: Kasus Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur”. Field Report 2002. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU.

___________ (2001) “Persiapan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Kasus: Kabupaten Magetan, Jawa Timur”. Field Report 2001. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU.

(14)

___________ (2000) “Persiapan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Kasus Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat”. Field Report 2000. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU.

___________ (2001) “Pelaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Kasus: Tiga Kabupaten di Sulawesi Utara dan Gorontalo”. Field Report 2001. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU.

___________ (2001) “Indonesia’s Decentralization Policy: Initial Experiences and

Emerging Problems”. Working Paper, a paper prepared for the Third UEROSEAS Confrence Panel on Decentralization and Democratiozation on Southeast Asia. London, 21 September 2001.

Tatang M. Amirin, Sudiyono, M.M. Wahyuningrum (2001) “Kesiapan Aparat Pendidikan dalam Implementasi MBS di Propinsi Daerah Istimewa Jogjakarta”. Jogjakarta: Jurusan Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Yogyakarta.

Tilaar, H.A.R. (1994) “Manajemen Pendidikan Nasional, Kajian Pendidikan Masa Depan”. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Tim Studi Desentralisasi dan Otonomi Daerah (2000) “Persiapan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Kasus: Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan”. Field Report 2002. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU.

____________ (2002) “Dampak Desentralisasi dan Otonomi Daerah Atas Kinerja Pelayanan Publik: Kasus Kota Bandar Lampung, Propinsi Lampung”. Field Report 2002. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU.

Undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah

Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tengan sistem pendidikan nasional.

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tetang Pemerintahan Daerah.

Usman Abu Bakar (2004) “Pendidikan Nasional Memasuki Era Otonomi Daerah”. Dalam “Memperkokoh Otonomi Daerah, Kebijakan, Evaluasi, dan Saran”. Edy Suandi H., & Sobirin Malian (editor). Jogjakarta: UII Press.

* Penulis adalah dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri

Gambar

Tabel       Serapan Uang yang ditanam di Daerah

Referensi

Dokumen terkait

Dalam teori empirisme bahwa lingkungan memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan dari perilaku individu bahkan individu menjadi “ditiadakan” dengan kehadiran lingkungan

Pada akhirnya penulis sampaikan permintan maaf yang setulus-tulusnya dan kepada Allah SWT penulis memohon ampun, bila terdapat kata-kata yang kurang berkenan baik

Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan sangat penting untuk diperhatikan manajemen. Meskipun lingkungan kerja tidak melaksnakan proses produksi dalam suatu

Ketika aplikasi dijalankan, maka IP Webcam akan memberikan alamat IP dan port dari android kamera dalam bentuk URL yang dapat dilihat pada perangkat apapun yang terhubung

Berdasarkan hasil analisis, dapat disim- pulkan bahwa kawasan Rawa Pening yang di- wakili oleh 12 desa yang mengelilingi Danau Rawa Pening memiliki potensi yang

Diyah maftuhah (UIN Sunan Kalijaga: 2009) dalam sekripsinya yang berjudul Pelaksanaan Kurikulum Terpadu di Madrasah Tsanawiyah Sunan Pandanaran Sleman Yogyakarta. Hasil

Ada tiga jenis makanan yang mempengaruhi perilaku manusia yaitu boga Tamas, Rajas dan Satwam; (2) kesadaran masyarakat akan kebutuhan mengkonsumsi makanan

Lampiran 4 Grafik