• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA DIASTASIS MUSCULUS RECTUS ABDOMINIS DENGAN INVOLUSI UTERI POSTPARTUM PERVAGINAM.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA DIASTASIS MUSCULUS RECTUS ABDOMINIS DENGAN INVOLUSI UTERI POSTPARTUM PERVAGINAM."

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA DIASTASIS MUSCULUS

RECTUS ABDOMINIS DENGAN INVOLUSI UTERI

POSTPARTUM PERVAGINAM

SKRIPSI

Disusun Untuk Sebagian Persyaratan Dalam Meraih

Gelar Sarjana Sains Terapan Fisioterapi

Oleh

Hartono

NIM: J 110070085

PRODI D-IV FISIOTERAPI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

(2)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keluarga sehat merupakan harapan setiap individu dan masyarakat,

termasuk kesehatan ibu dan anak, yang ditandai dengan semakin rendahnya

angka kematian ibu dan angka kematian bayi baru lahir. Salah satu penyebab

kematian ibu melahirkan ialah karena faktor pendarahan; dan pendarahan

tersebut disebabkan oleh atonia uteri akibat distension saat akan melahirkan.

Distension uteri terjadi kemungkinan disebabkan kelemahan otot abdomen,

_yang tingkat kemampuannya sebagai penyangga (brace) tidak berfungsi

secara optimal karena terjadi diastasis.

Data Statistik Indonesia (2008) menyebutkan bahwa Angka Kematian

Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Ratio (MMR) di Indonesia menurut data

SDKI 2002-2003 ialah sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan

pada tahun 2007 Angka kematian Ibu (AKI) menjadi 228/100.000 kelahiran

hidup menurut laporan Menkes Fadhillah Soepari 2008.

Angka kematian ibu melahirkan banyak disebabkan oleh beberapa

faktor, diantaranya karena pendarahan. Menurut Zoelkifly dalam Farmacia

(Juli 2007:1), pendarahan menjadi penyebab utama kematian ibu di negeri ini,

sedangkan penyebab ke dua ialah eklamsia lalu infeksi. Semua hal ini

bertanggung jawab terhadap hampir 70 persen kematian ibu yang merupakan

(3)

2

merupakan penyebab utama kematian ibu, dan menduduki peringkat pertama

dengan 45 persen kejadian.

B. Identifikasi Masalah

Kecenderungan ibu yang telah melahirkan menunjukkan adanya

perubahan tubuh (terutama bagian perut) terlihat lebih besar bila

dibandingkan dengan keadaan sebelum kehamilan. Sedangkan pada ibu yang

sedang hamil, juga nampak pada pembesaran perut ke arah antero-caudal.

Ibu yang baru saja melahirkan kecenderungan merasakan nyeri (mules) pada

perut bagian bawah yang berlangsung beberapa saat dan berulang-ulang

dengan intensitas berbeda, yakni tinggi, sedang, atau rendah. Begitu pula

bahwa data Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Ratio

(MMR) di Indonesia menurut data SDKI 2002-2003 ialah sebesar 307 per

100.000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2007 Angka kematian Ibu (AKI)

menjadi 228/100.000 kelahiran hidup. Keadaan demikian memungkinan

terkait dengan pengaruh Diastasis Musculus Rectus Abdominis terhadap

Involusi Uteri. Diastasis musculus rectus abdominis akan berdampak pada

kelemahan otot-otot abdominalis, sehingga pada saat pengembangan

(pembesaran) uterus menjelang persalinan tidak tertahan dengan baik oleh

otot abdomen. Keadaan demikian akan menyebabkan terjadinya

overdistention uterus, yang akan berdampak terjadinya atonia uteri sehingga

akan terjadi pendarahan pascapersalinan (Varney, 1997). Pendarahan salah

satunya disebabkan disebabkan kontraksi otot uterus yang tidak adekuat

(4)

3

pelekatan plasenta. Kondisi demikian akan diperburuk dengan rendahnya

tekanan intra abdominal yang disebabkan oleh lemahnya otot-otot abdominis.

Terjadinya kelemahan otot-otot abdominis berkaitan erat dengan distensi

(penguluran) selama kehamilan yang kemungkinan diperberat pula dengan

disertai terjadinya diastasis musculus recus abdominisi.

Berkaitan dengan hal tersebut, peneliti ingin membuktikan melalui

penelitian dengan judul: ”HUBUNGAN ANTARA DIASTASIS

MUSCULUS RECTUS ABDOMINIS DENGAN INVOLUSI UTERI

POSTPARTUM PERVAGINAM”.

C. Pembatasan Masalah

Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada variabel Diastasis

Musculus Rectus Abdominis dan Involusi Uteri pada ibu nifas Postpartum

Pervaginam antara 2-24 jam pascapersalinan plasenta.

D. Perumusan Masalah

1. Apakah ada hubungan antara Diastasis Musculus Rectus Abdominis

dengan Involusi Uteri pada ibu nifas Postpartum Pervaginam 2-24 jam

pascapersalinan plasenta?

2. Apakah ada perbedaan rata-rata antara Diastasis Musculus Rectus

Abdominis Primipara dengan Multipara pada ibu nifas Postpartum

(5)

4

E. Tujuan Penelitian

1. Ingin mengetahui apakah ada hubungan antara Diastasis Musculus Rectus

Abdominis dengan Involusi Uteri Postpartum Pervaginam 2-24 jam

pascapersalinan plasenta.

2. Ingin mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata antara Diastasis

Musculus RectusAbdominis Primipara dengan Multipara pada ibu nifas

Postpartum Pervaginam 2-24 jam pascapersalinan plasenta.

F. Manfaat Penelitian

1. Pengetahuan Ilmiah Fisioterapi; Institusi Pelayanan Kesehatan pada

umumnya, khususnya Pelayanan Fisioterapi akan bermanfaat sebagai

landasan ilmiah untuk memberikan asuhan fisioterapi (dari assessment

sampai dengan tindakan berupa exercise) pada ibu yang akan hamil dan

ibu hamil dalam upaya preventive terhadap kejadian diastasis musculus

rectus abdominis sehingga core integrity (core stability) terjaga baik;

serta memberikan proses fisioterapi termasuk tindakan exercise untuk ibu

nifas guna mencegah keterlambatan proses involusi uteri, sehingga

mencegah terjadinya macam-macam penyakit organ reproduksi wanita.

2. Institusi Pendidikan Fisioterapi, untuk melakukan pengembangan ilmu

fisioterapi kesehatan wanita (kebidanan) melalui penelitian lanjut.

3. Masyarakat pada umumnya, khususnya ibu yang akan hamil, sedang

hamil, dan pascamelahirkan untuk aktif melakukan exercise sesuai dengan

(6)

5

fisioterapis _utamanya untuk mencegah terjadinya diastasis musculus

rectus abdominis sehingga core integrity terjaga dengan baik.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah ada perbedaan kualitas hidup antara ibu postpartum dangan operasi sesaria dan kelahiran pervaginam di RSUD

Hasil penelitian dari 34 ibu bersalin di RSUD Wonogiri didapatkan 11 ibu dengan anemia dalam kehamilan, 45,5% mengalami perdarahan postpartum karena atonia uteri dan

Kesimpulan : Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan tingkat depresi postpartum pada primipara di RSUD Banjarsari. Saran : Perlu ditekankan

hubungan antara menyusui dengan involusi uterus”.Dari hasil pembahasan diatas dapat diketahui bahwa dengan proses secara benar akan memberikan dampak yang positif pada

Hasil didapatkan bahwa sebagian besar responden melakukan pantang makanan sejumlah 12 responden (60%), kurang dari setengah responden mengalami proses involusi uteri yang tidak

Pada penelitian ini umur memiliki hubungan dengan involusi uteri karena pada ibu postpartum yang memiliki umur beresiko < 20 tahun maka organ reproduksinya belum siap

penelitian (Viviani &Tri, 2011), menjelaskan bahwa Tingkat pengetahuan ibu tentang tahapan mobilisasi dini yang berhubungan dengan terjadinya sub involusi uteri

Penelitian tentang hubungan anemia, retensio plasenta, dan atonia uteri dengan perdarahan postpartum di RS Bhayangkara Cianjur tahun