SKRIPSI
Oleh
MERSI LEPONG NIM 4514103007
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BOSOWA 2018
Nama : MERSI LEPONG
Judul : PENGARUH KELOMPOK TEMAN BERMAIN TERHADAP
PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SD KRISTEN ELIM KOTA MAKASSAR
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar merupakan hasil karya sendiri dan bukan pengambil alihan tulis dan pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran sendiri.
Apabila kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil jiblakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
Makassar 06 September 2018 Yang membuat pernyataan
Mersi Lepong
ii
Mersi lepong. NIM 45141030007 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bosowa, dengan judul “ Pengaruh Kelompok Teman Bermain Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas V SD Kristen Elim Kota Makassar : dibimbing oleh Sundari Hamid, S.Pd., M.Si selaku pembimbing 1 dan Jaja Jamaluddin , S.Pd.,M.Si Selaku Pembimbing II
Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Expoct Facto.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Kelompok Teman Bermain Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas V SD KRISTEN ELIM KOTA MAKASSAR sampel penelitian ini adalah siswa kelas VA sebanyak 30 orang .Waktu penelitian pada bulan juli 2018. Proses pengumpulan data dilakukan dengan angket dianalisis dengan statistika deskriptif data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji validasi , uji relibilitas dan uji hipotesis.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada Pengaruh Kelompok Teman Bermain Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VB SD Kristen Elim Kota Makassar hal ini dapat dilihat dari hasil uji reability angket dimana cronbach’s alfa 0,729 lebih besar dari 0,6, ini menunjukkan bahwa variable x dikatakan realiabel. Selain itu uji hipotesis juga menunjukkan bahwa kelompok teman bermain memiliki pengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar yang ditunjukkan tarif signifikannya <0,05 yaitu 0,001dibantu dengan SPSS V21.
Kata Kunci:Pengaruh Kelompok Teman Bermain Terhadp Prestasi Belajar Siswa
iii
A Title of “The Influence of Playing Group on the Learn Achievement of Students Class V of the Elementary School Kristen Elim of Makassar.
Supervised by Sundari Hamid, S.Pd.,M.Si as Supervisor I and Jaja Jamaluddin, S.Pd.,M.Si as Supervisor II
The type of research is Expoct Facto research. The research is aimed to find out the influence of playing group on the learn achievement of student class V of the Elementary School KRISTEN ELIM KOTA MAKASSAR. The sample of research was all students class VB as many 30 students. The research was conducted on July 2018. The collection of data was done through questionnaire and it is analysed by using data descriptive statistically and then it analysed by using validation, reliability and hypothesis tests.
The result of research indicated that there is an influence of playing group on the learn achievement of student class VB of the Elementary School Kristen Elim of Makassar, it can be seen on the result of reliability test in which Cronbach alpha 0.729 is larger than 0.6, it indicates that variable x is reliable.
Unless, the hypothesis test also indicates that playing group has significant influence on the learn achievement as a significance level of < 0.05 by 0.001 that assisted by using SPSS ver.21 program.
Keywords: Influence of playing group on the learn achievement of students
iv
Dengan penuh kerendahan hati, penulis naikkan puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, oleh karena berkat, pertolongan dan segala kebaikan dan Karunia dari pada.Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik.
Tugas akhir ini disusun dalam rangka menyelesaikan Program Studi Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Bosowa Makassar. Dalam menyusun tugas akhir ini yang berjudul ”Pengaruh Teman Kelompok Bermain Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas V SD Kristen Elim Kota Makassar”. penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini banyak kendala dan rintangan yang dialami, namun dengan usaha yang penuh kesabaran dan ketabahan, doa, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, sehingga tugas akhir ini, dapat mencapai bentuk seperti ini, kiranya Tuhan yang Maha Kuasa senantiasa memberkati dan menyertai semua pihak yang telah membantu dan mendorong penulis mulai dari proses penelitian, pengumpulan data, penyusunan, koreksi sampai pencetakan.
Atas selesainya penulisan tugas akhir ini, penulis menghaturkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof Muhammad Saleh Pallu, M.Eng., selaku Rektor Universitaas Bosowa Makassar.
2. Dr.Asdar,S.Pd.,M.Pd Selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bosowa
v
4. Dr. Sundari Hamid, S.Pd.,M.Si selaku Dosen Pembimbing 1 dan Jaja Jamaluddin,S.Pd.,M.Si selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun skripsi ini.
5. Bapak/ ibu dosen Universitas Bosowa khususnya Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang telah memberikan bimbingan- bimbingan selama perkuliahan.
6. Kepala Sekolah SD Kristen Elim Kota Makassar Ruth Palamba, S.Pd yang telah bersedia memberikan izin dan waktu kepada penulis untuk melaksanakan penelitian pada sekolah yang dipimpinnya .
7. Secara khusus kedua orang tua tercinta Lepong dan Ludia Langi dan yang telah dengan penuh keikhlasan dan ketulusan membesarkan dan mendidik penulis sehingga dapat menyelesaikan Studi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Bosowa.
8. Sahabat-Sahabatku Hendriyani Palangiran dan Yulianti Priskilia yang telah membantu dalam membuat skripsi
9. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Selama penulisan skripsi ini, penulis menghadapi berbagai rintangan dan hambatan yang harus dilalui, namun berkat dan doa, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak dalam bentuk moral dan material sehingga selesai walaupun masih
vi
yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan skripsi ini.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa, melindungi dan memberikan berkat dan kasihnya kepada kita semua terlebih khusus semua yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini. Harapan penulis semoga skripsi ini bisa menjadi wahana baru bagi pihak dan menjadikan suatu bahan kajian yang layak untuk di pelajari.
Amin.
Makassar, 06 September 2018
Penulis
vii
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 9
C. Tujuan Penelitian ... 9
D. Manfaat Penelitian ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 11
A. Belajar ... 11
1. Pengertian Belajar ... 11
2. Macam-Macam Teori Belajar ... 13
B. Teman Bermain ... 15
1. Pengertian Teman Bermain... 15
2. Hakekat kelompok teman bermain ... 18
3. Latar Belakang Timbulnya Teman bermain ... 19
4. Peran Teman Bermain... 21
5. Fungsi Kelompok Teman Bermain ... 22
6. Teman Bermain Sebagai Situasi Belajar... 23
7. Pengaruh Teman Bermain... 24
C. Prestasi Belajar ... 26
1. Pengertian Prestasi Belajar ... 26
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ... 28
3. Pengukuran Prestasi Belajar ... 32
D. Kerangka Pikir ... 34
E. Hipotesis Penelitian ... 35
BAB III METODE PENELITIAN ... 37
A. Jenis Penelitian ... 37
B. Lokasi Penelitia ... 37
C. Variabel Penelitian ... 37
D. Definisi operasional Variabel ... 38
E. Populasi dan Sampel ... 38
F. Teknik pengumpulan Data ... 40
viii
H. Tehnik Analisis Data ... 43
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN ... 46
1. Karakteristik Responden ... 46
2. Analisis ... 47
a. Analisis Deskriptif Angket ... 47
b. Analisis Prestasi Belajar ... 50
B. HASIL UJI PRASYARAT ANALISIS ... 52
1. Uji Validasi ... 52
2. Uji Reliabilitasi ... 54
3. Uji-t ... 54
C. PEMBAHASAN ... 56
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 57
A. KESIMPULAN ... 57
B. SARAN ... 57
DAFTAR PUSTAKA ... 60 LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
ix
Tabel 3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 39
Tabel 3.4 Skala Penilaian ... 40
Tabel 3.5 Skor Skala Likert ... 40
Tabel 4.1 Tingkat Pengembalian Kuesioner ... 44
Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 44
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Data Kelompok Teman Bermain ... 45
Tabel 4.4 Distribusi Kecenderungan Frekuensi Variabel Kelompok Teman Bermain ... 47
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Variabel Prestasi Belajar Matematika ... 48
Tabel 4.6 Distribusi Kecenderungan Frekuensi Variabel Prestasi Belajar ... 49
Tabel 4.7 Hasil Uji Validasi ... 51
x
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir ... 33 Gambar 4.1 Distribusi Frekuensi Teman Kelompok Bermain... 46 Gambar 4.2 Distribusi Kecenderungan Frekuensi Kelompok Teman Bermain 47 Gambar 4.3 Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar ... 49 Gambar 4.4 Distribusi Kecenderungan Frekuensi Prestasi Belajar ... 50
xi
4. Hasil Olah data ... 70
5. Tabel t... 82
6. Daftar Nilai Rapor Kelas V Semester II ... 83
7. Surat Keterangan Izin Meneliti ... 84
8. Foto Dokumentasi Penelitian ... 85
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Prestasi belajar bagi siswa sangat penting karena prestasi belajar merupakan salah satu gambaran tingkat keberhasilan dari kegiatan selama mengikuti pelajaran. Salah satu tujuan dalam proses pembelajaran adalah meraih suatu prestasi dalam belajar. Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang diperoleh oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Peranan orang tua sangatlah penting dalam membimbing bagi anaknya dalam memotivasinya untuk giat belajar. Supaya prestasi belajarnya baik, orangtua perlu mencurahkan seluruh bimbingan untuk anaknya. Prestasi belajar merupakan hal yang krusial dalam proses pendidikan, sebagai mana yang dijelaskan oleh Emeka, Ononga dan Owolabi (2012: 178) bahwa prestasi belajar merupakan parameter penting dalam mengukur keberhasilan siswa. Selain itu Berliner dalam Sardiman (2009: 82) menyebutkan bahwa prestasi belajar sebagai suatu hasil yang telah diperoleh siswa atau dipelajarinya yang mencerminkan sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada setiap jenjang studi.
Prestasi dapat diartikan hasil dari usaha atau ketekunan yang dilakukan dalam setiap kegiatan. Haryati (2008: 43), menyatakan bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang dilakukan dan menghasilkan perubahan yang dinyatakan dalam bentuk simbol untuk menunjukkan kemampuan pencapaian dalam hasil kerja dalam waktu tertentu. Ada tiga aspek prestasi belajar yaitu
kognitif, psikomotif dan afektif. Susilo (2006: 69) menyatakan prestasi belajar merupakan hasil dari proses belajar. Menurut Bloom dalam Abdurrahman (2003: 38), mengemukakan bahwa “Prestasi belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”.
Prestasi belajar merupakan hasil pengukuran terhadap peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran dalam periode tertentu yang dapat diukur menggunakan instrumen yang relevan. Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, ada yang dari dalam diri (internal) dan ada yang dari luar diri (eksternal). Prestasi belajar yang menunjukkan tingkat keberhasilan anak dalam belajar di sekolah dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Menurut Semiawan (2008: 200), peran keluarga lebih banyak bersifat memberikan dukungan baik dalam hal penyediaan fasilitas maupun penciptaan suasana belajar yang kondusif.
Ahmadi dan Supriyono (2004: 138), prestasi belajar yang dicapai seorang individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut yaitu faktor yang berasal dari diri sendiri (internal) dan faktor yang berasal dari luar diri (eksternal). Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa, meliputi faktor jasmaniah, psikologi, dan faktor kematangan fisik maupun psikis. Faktor jasmaniah antara lain panca indera yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, berfungsinya kelenjar tubuh yang membawa kelainan tingkah laku.
Sedangkan faktor psikologi antara lain kecerdasan, bakat, sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, dan motivasi. Faktor eksternal yang berasal dari luar diri
siswa berupa faktor lingkungan teman bermain, sosial, budaya, lingkungan fisik, dan lingkungan spiritual keagamaan. Faktor sosial meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Faktor budaya meliputi adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar. Fasilitas belajar meliputi ruang belajar, meja, kursi penerangan, alat tulis, dan buku-buku pelajaran. Faktor tersebut saling berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam mempengaruhi prestasi belajar.
Keberhasilan hasil belajar peserta didik tidak terlepas dari peran dari faktor minat, kedisiplinan, ketekunan belajar, dan motivasi berprestasi siswa terhadap pelajaran. Dari beberapa faktor tersebut, faktor dominan yang mempengaruhi hasil belajar siswa, faktor itu adalah minat belajar dan kecerdasan. Minat belajar merupakan salah satu faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Slameto (2003: 180) mengatakan bahwa
“minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh”. Dalam aktivitas pembelajaran minat merupakan motivasi siswa untuk melakukan aktivitas belajar tanpa menjadikan sebagai beban. Menurut Slameto (2003: 57), minat belajar besar pengaruhnya terhadap belajar karena jika bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik- baiknya. Siswa enggan untuk belajar dan tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari dan dimengerti karena minat akan menjadikan kegiatan belajar
menjadi menyenangkan. Kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik apabila anak memiliki minat belajar yang tinggi. Siswa yang tidak memiliki minat belajar akan merasa malas dan tidak semangat dalam mengikuti pembelajaran.
Salah satu faktor penentu prestasi belajar siswa adalah faktor kecerdasan, baik kecerdasan kognitif maupun kecerdasan emosi. Kecerdasan kognitif atau Intelligence Question adalah kecerdasan bawaan yang membuat siswa mampu memahami dan menangkap pelajaran dengan cepat. Sehingga hal itu akan mempermudahnya dalam proses belajar, kemudahan dalam proses belajar akan meningkatkan prestasi belajarnya. Sedangkan dengan adanya kecerdasan emosi siswa tersebut itu mampu memegang kendali emosi dan mampu mengelola perasaannya, maka ia akan jauh dari konflik yang ada dalam pribadinya, yang pada akhirnya dapat membawa siswa memaksimalkan kegiatan belajarnya karena ia mampu mengoptimalkan proses pengendalian emosi yang ada pada dirinya.
Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat (Yusuf, 2002). Apabila dalam keluarga tidak mampu menerapkan atau melaksanakan fungsi-fungsinya, berarti suatu keluarga mengalami stagnasi (kemandegan) atau disfungsi yang pada gilirannya akan merusak kekokohan,
konstelasi keluarga itu sendiri khususnya terhadap perkembangan kepribadian anak (Yusuf, 2002). Dalam hal ini dibutuhkan perhatian orang tua dalam rangka membimbing anak. Bimbingan orang tua selain pada bimbingan mengenai cara hidup juga termasuk bimbingan dalam belajar. Bimbingan orang tua dalam belajar sangatlah penting. Walaupun ada yang belajar tanpa orang tua, namun belajarnya tidak terarah. Bimbingan terarah dari orang tua juga akan mengarahkan kemana jalan belajar yang baik yang harus dijalani oleh anak, karena ilmu tersebut bermacam-macam jenis dan ragamnya, maka melalui bimbingan orang tua akan mengarahkan kemana anak harus belajar dan kapan anak juga harus belajar. Melalui bimbingan orang tua yang dipenuhi dengan kasih sayang maka akan terwujud dan tercipta anak yang berprestasi dan bakat yang dimiliki oleh anak dapat berkembang dengan baik.
Hal yang seharusnya dikembangkan oleh orang tua dalam membimbing anaknya adalah untuk meningkatkan prestasi belajarnya di sekolah. Karena dengan pendidikan yang memadai dan cukup akan mudah memenuhi cita-cita para peserta didik.
Selain mendapatkan bimbingan orang tua, prestasi belajar yang didapatkan oleh para peserta didik juga didapatkan dari dukungan guru di sekolah. Guru merupakan orang tua kedua bagi anak dan berposisi di sekolah untuk membimbing dan memberikan pengajaran. Guru yang memberikan pendidikan dan pelajaran di sekolah. Dalam pengajarannya guru memerlukan metode yang tepat agar dapat dimengerti oleh siswa. Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Indonesia, pemerintah terus berupaya
melakukan berbagai reformasi dalam bidang pendidikan, diantaranya adalah dengan diluncurkannya Peraturan Mendiknas No. 22 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Mendiknas No.
23 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Pelaksanaan peraturan tersebut dikeluarkan pula Peraturan Mendiknas No 24 tahun 2006 (Depdiknas, 2006).
Lingkungan kelompok teman bermain merupakan suatu kelompok yang baru diluar lingkungan keluarga, dimana kelompok tersebut terdiri dari teman bermain, teman di sekolah dan lain sebagainya. Dengan adanya pergaulan kelompok teman bermain dapat menimbulkan dampak positif dan dampak negatifnya. Adapun dampak dari pergaulan kelompok teman bermain yang positif adalah memberikan pengalaman yang baru dan dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya sedangkan dampak negatif dari pergaulan teman sebaya adalah dapat merubah sifat-sifat yang diajarkan di lingkungan keluarga dan bergaul dengan teman bermain yang salah dapat menurunkan prestasi belajar siswa.
Santrock (2007: 55) mengatakan bahwa pengaruh kelompok bermain dapat dilihat dari keseharian siswa yang banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Hal ini dapat menciptakan sikap dan persepsi yang sama diantara mereka dalam segala hal termasuk belajar dan sekolah. Siswa akan lebih percaya diri jika memperoleh motivasi sosial dari sesama anggota kelompoknya. Selain itu, teman juga menjadi sumber informasi yang tidak mereka dapatkan dari keluarganya dan informasi ini biasanya tentang peranan
sosialnya sebagai perempuan atau laki-laki, namun yang masih kurang adalah belajar bersama teman.
Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Hartup (Santrock, 2003: 219) salah satu fungsi kelompok teman bermain adalah menyediakan berbagai informasi mengenai dunia di luar keluarga. Dalam kelompok, siswa menerima umpan balik mengenai kemampuan yang mereka miliki dan belajar dalam membedakan yang benar dan yang salah. Kedekatan kelompok teman bermain yang intensif akan membentuk suatu kelompok yang terjalin erat dan tergantung satu sama lainnya, dengan demikian relasi yang baik antara teman bermain penting bagi perkembangan sosial remaja yang normal. Siswa dengan prestasi belajar yang baik menjadikan kelompok teman bermainnya sebagai tempat diskusi dan belajar kelompok. Kegiatan ini selain membuat siswa semakin dekat dengan teman bermainnya juga semakin menunjang prestasi belajarnya disekolah. Peran kelompok teman bermain dalam pergaulan menjadi sangat menonjol. Hal ini sejalan dengan meningkatnya minat individu dalam persahabatan serta keikutsertaan dalam kelompok.
Menurut Santrock (2003: 257) interaksi teman bermain juga menjadi suatu komunitas belajar dimana terjadi pembentukan peran dan standar sosial yang berhubungan dengan pekerjaan dan prestasi.
Dalam penelitian ini, pergaulan teman bermain merupakan salah satu faktor yang diduga memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar siswa.
Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi dan Supriyono (2001: 131) bahwa pergaulan teman bermain mampu memberikan andil dalam menentukan
prestasi belajar siswa. Lingkungan kelompok teman bermain merupakan suatu kelompok yang baru diluar lingkungan keluarga, dimana kelompok tersebut terdiri dari teman bermain, teman di sekolah dan lain sebagainya.
Dengan adanya pergaulan teman bermain dapat menimbulkan dampak positif dan dampak negatifnya. Adapun dampak dari pergaulan teman bermain yang positif adalah memberikan pengalaman yang baru dan dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya sedangkan dampak negatif dari pergaulan teman bermain adalah dapat merubah sifat-sifat yang diajarkan di lingkungan keluarga dan bergaul dengan teman bermain yang salah dapat menurunkan prestasi belajar siswa.
Peneliti memilih kelas V sekolah dasar yang pada umumnya berusia 10-11 tahun karena salah satu karakteristik anak pada umur tersebut adalah meningkatnya minat anak untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Yusuf (2004: 180) bahwa perkembangan sosial anak kelas V sekolah dasar ditandai dengan adanya perluasan hubungan yaitu membentuk ikatan baru dengan teman bermain, memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama), berminat terhadap kegiatan-kegiatan kelompok teman bermain dan bertambah kuat keinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “PENGARUH KELOMPOK TEMAN BERMAIN
TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SD KRISTEN ELIM KOTA MAKASSAR”.
B. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang, dirumuskan masalah penelitiannya, yaitu adakah pengaruh kelompok teman bermain terhadap prestasi belajar siswa kelas V SD Kristen Elim Kota Makassar?
C. Tujuan Penelitian
tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini meliputi tujuan umum dan tujuan khusus. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
untuk mengetahui adanya pengaruh kelompok teman bermain terhadap prestasi belajar siswa kelas V SD Kristen Elim Kota Makassar.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah serta memperkaya data penelitian yang sudah ada dan memberikan penjelasan mengenai pergaulan kelompok teman bermain, prestasi belajar, serta pengaruh pergaulan kelompok teman bermain terhadap prestasi belajar siswa kelas V.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan bagi siswa, guru, orang tua, dan peneliti selanjutnya dalam mendapatkan informasi mengenai pengaruh pergaulan kelompo teman bermain terhadap prestasi belajar siswa.
a. Manfaat bagi siswa, penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan siswa dalam memilih teman bergaul yang mampu
membawa pengaruh positif bagi dirinya sendiri maupun kepada kelompok teman bermain lainnya.
b. Manfaat bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam membuat program atau kegiatan yang dapat mendorong prestasi belajar.
c. Bagi orang tua, penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan orang tua untuk membatasi pergaulan anaknya sehingga anak tidak terjerumus kepada hal-hal yang tidak baik.
d. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dijadikan sumber inspirasi dalam melakukan penelitian selanjutnya yang lebih kreatif dan inovatif.
11
KAJIAN PUSTAKA
A. Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu aktifitas dimana terdapat sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal. Kelompok adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan, keinginan dan harapan yang sama. Belajar kelompok adalah suatu proses transfer ilmu yang melibatkan lebih dari satu orang, dimana antara orang yang satu dengan yang lain saling melengkapi. Belajar kelompok merupakan salah satu metode dalam belajar selain belajar secara individu dan juga belajar secara formal di sekolah. Dalam kegiatan belajar dan mengajar di sekolah terjadi sebuah proses yaitu interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa jika terjadi kegiatan belajar kelompok. Dalam interaksi tersebut akan terjadi sebuah proses pembelajaran, pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan kognitif, emosional, dan lingkungan pengaruh dan pengalaman untuk memperoleh, meningkatkan, atau membuat perubahan, pengetahuan satu, keterampilan, nilai, dan pandangan dunia (Illeris, 2000; Ormorod, 1995). Belajar sebagai suatu proses berfokus pada apa yang terjadi ketika belajar berlangsung.
Penjelasan tentang apa yang terjadi merupakan teori-teori belajar. Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks inheren pembelajaran.
Bertolak dari perubahan yang ditimbulkan oleh perbuatan belajar, para ahli teori belajar berusaha merumuskan pengertian belajar. Di bawah ini dikutip beberapa batasan belajar, agar dapat menjadi bahan pemikiran dan renungan mengenai pengertian belajar yang berlangsung di kelas. Belajar proses perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, di mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan, pemaksaan, atau kondisi sementara (seperti lelah, mabuk, perangsang dan sebagainya). Menurut Morgan (Gino, 1988: 5) menyatakan bahwa belajar adalah merupakan salah satu yang relatif tetap dari tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman. Dengan demikian dapat diketahui bahwa belajar adalah usaha sadar yang dilakukan manusia melalui pengalaman dan latihan untuk memperoleh kemampuan baru dan merupakan perubahan tingkah laku yang relatif tetap, sebagai akibat dari latihan. Menurut Hilgard (Suryabrata, 2001:232) menyatakan belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perbuatan yang ditimbulkan oleh lainnya. Selanjutnya menurut Gerow (1989:168) mengemukakan bahwa “Learning is demonstrated by a relatively permanent change in behavior that occurs as the result of practice or experience”. Belajar adalah ditunjukkan oleh perubahan yang relatif tetap dalam perilaku yang terjadi karena adanya latihan dan pengalaman-pengalaman.Kemudian menurut Bower (1987: 150) “Learning is a cognitive process”. Belajar adalah suatu proses kognitif. Dalam pengertian ini, tidak berarti semua perubahan berarti belajar,
tetapi dapat dimasukan dalam pengertian belajar yaitu, perubahan yang mengandung suatu usaha secara sadar, untuk mencapai tujuan tertentu.
Berdasarkan pengertian belajar yang dikemukakan di atas dapat diidentifikasi beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian belajar yaitu:
Belajar adalah merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang buruk. Perubahan itu tidak harus segera nampak setelah proses belajar tetapi dapat nampak di kesempatan yang akan datang. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru, yang berlaku dalam waktu yang relatif lama. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian baik fisik maupun phisikis.
2. Macam-macam Teori Belajar
Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar, yaitu: teori belajar behaviorisme, teori belajar kognitivisme, dan teori belajar konstruktivisme. Teori belajar behaviorisme hanya berfokus pada aspek objektif diamati pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan pembelajaran berbasis otak dan pandangan konstruktivisme belajar sebagai sebuah proses di mana pelajar aktif membangun ide-ide baru atau konsep.
a. Teori belajar Behaviorisme
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini
lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
b. Teori Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.
c. Teori Belajar Konstruktivisme.
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta- fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari ide dan membuat keputusan.
B. Teman Bermain
1. Pengertian Teman Bermain
Interaksi dengan teman bermain merupakan permulaan hubungan persahabatan yang di dalamnya terdapat hubungan timbal balik. Teman bermain dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 563) diartikan sebagai “Kawan, sahabat atau orang yang sama-sama bekerja dan berbuat.” Santoso (2004: 79) berpendapat “teman bermain adalah kelompok anak bermain yang sukses ketika anggotanya dapat berinteraksi. Hal-hal yang dialami oleh anak-anak tersebut adalah hal yang menyenangkan saja.” Menurut Santrock (2003: 268) teman bermain adalah anak-anak yang tingkat usia dan kematangannya kurag lebih sama. Hurlock (200: 288) mengartikan teman bermain sebagai anak yang memiliki usia dan taraf perkembangan yang sama.
Kelompok teman bermain sebagai tempat berinteraksi mempunyai peranan bagi kehidupan sosial maupun pendidikan anak-anak. Menurut Santoso (2004:
79), bahwa teman bermain atau peer group adalah kelompok bermain yang sukses ketika anggotanya dapat berinteraksi. Hal-hal yang dialami oleh anak-anak tersebut adalah hal-hal yang menyenangkan saja. Dengan bersama teman bermain siswa bisa melakukan hal-hal yang disukainya.
Definisi lain mengenai kelompok teman bermain menurut Tirtarahardja (2005) adalah suatu kelompok yang terdiri dari orang-orang yang bersamaan usianya, antara lain kelompok bermain pada masa kanak-kanak, kelompok monoseksual yang beranggotakan anak-anak sejenis kelamin, atau gang yaitu kelompok anak-anak nakal.
Kelompok teman bermain dalam kelompok bermain pada masa anak-anak, mereka lebih cenderung bermain dengan siapa saja tidak berdasarkan jenis kelamin. Sedangkan pada saat mereka beranjak anak-anak, mereka cenderung berkumpul dengan teman bermainnya yang memiliki jenis kelamin sama. Ada juga yang identik dengan kumpulan anak-anak nakal yang disebut dengan gang, padahal tidak semua gang adalah kumpulan anak-anak nakal. Namun, ada juga yang memanfaatkan nama gang untuk melakukan tindakan kejahatan.
Menurut Morrish (dalam Vembriarto, 2003: 54) “A peer is an equal, and a peer group is a group composed of individuals who are equals”. Jadi kelompok bermain adalah kelompok yang terdiri dari atas sejumlah individu yang sama.
Pengertian sama di sini berarti individu-individu anggota kelompok bermain itu mempunyai persamaan-persamaan dalam berbagai aspeknya. Persamaan yang
penting terutama terdiri atas persamaan usia dan status sosialnya. Hal itu tampak jelas dari batasan-batasan yang diungkapkan oleh Broom dan Selznick dalam Vembriarto (2003: 54) berikut “In the peer group the individual associates with others who are approximately his own age and social status”. Dalam kelompok bermain biasanya setiap individu memiliki usia dan status sosial yang sama.
Individu-individu yang berasal dari keluarga berada biasanya akan berkumpul dengan kelompok bermain yang berasal dari keluarga berada juga.
Sedangkan menurut Hurlock dalam Fatimah (2006: 145) kelompok teman bermain merupakan lingkungan sosial pertama tempat anak-anak belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang bukan anggota keluarganya. Bersama kelompok teman bermain siswa belajar untuk saling menghargai, bertoleransi, dan bertanggung jawab.
Beberapa pengertian teman bermain di atas dapat disimpulkan bahwa teman bermain merupakan lingkungan sosial tempat berinteraksi dimana anggotanya memiliki kesamaan usia, selain itu anggotanya juga memiliki persamaan sekolah, hobi, minat, status sosial, ekonomi, dan sebagainya. Teman bermain merupakan interaksi pada anak-anak dengan tingkat usia yang sama serta mempunyai tingkat keakraban yang relatif tinggi diantara kelompoknya. Pada teman bermain biasanya individu mendapat dukungan sosial. Dukungan tersebut dapat mengacu pada kesenangan yang dirasakan karena penghargaan atau kepedulian serta member bantuan agar hubungan dapat terjalin lebih akrab.
2. Hakekat Kelompok Teman Bermain
Anak-anak tumbuh dalam dua dunia sosial yaitu dunia orang dewasa dan dunia bermainnya. Menurut Havinghurst (dalam Santoso, 2009: 77)
a. Dunia orang dewasa
Misalnya: orang tuanya, gurunya, dan tetangganya.
b. Dunia peer group-nya (bermainnya)
Misalnya: kelompok permainan, kelompok teman di sekolah, dan teman temannya
Dalam dunia orang dewasa status anak-anak selalu berada di bawah.
Sedangkan dalam dunia bermainnya mereka memiliki status yang sama.
Sehingga pengaruh kelompok teman bermain menjadi semakin penting fungsinya dan pengaruh orang dewasa semakin kecil. Bagi anak, kelompok bermain ialah kelompok anak-anak tertentu yang saling berinteraksi. Setiap kelompok memiliki peraturan-peraturanya sendiri, tersurat maupun tersirat, memiliki tata sosialnya sendiri, mempunyai harapan-harapannya sendiri bagi para anggotanya. Setiap kelompok bermain juga mempunyai kebiasaan- kebiasaan, tradisi-tradisi, perilaku, bahkan bahasa sendiri. Kelompok bermain merupakan lembaga sosialisasi yang penting disamping keluarga, sebab kelompok bermain juga turut serta mengajarkan cara-cara hidup bermasyarakat.
Biasanya antara umur empat dan tujuh tahun dunia sosial anak mengalami perubahan secara radikal, dari dunia kecil yang berpusat di dalam keluarga ke dunia yang lebih luas yang berpusat pada kelompok bermain.
Anak cenderung merasa nyaman berada bersama teman-teman bermainnya dari pada berada bersama orang-orang dewasa, meskipun orang-orang dewasa tersebut bersikap menerima dan penuh pengertian.
3. Latar Belakang Timbulnya Kelompok Teman Bermain
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata teman mempunyai makna kawan, sahabat, orang yang bersama-sama bekerja (berbuat, berjalan), lawan (bercakap-cakap), yang menjadi pelengkap (pasangan). Karena setiap bangsa, setiap suku mempunyai watak yang berbeda-beda. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa dua orang cenderung menjadi di kenal jika faktor-faktor eksternal (misalnya, lokasi kamar asrama, tempat duduk di kelas, meja kerja, menyebabkan mereka menjadi sering mengadakan kontak. Kontak semacam ini adalah akibat dari proksinitas atau kedekatan (proximity) fisik. Semakin dekat jarak fisik, semakin besar kemungkinan bahwa dua orang mengalami kontak secara berulang dan dengan demikian mengalami paparan berulang terhadap suatu stimulus baru (wajah asing, lukisan abstrak, suatu produk, atau apapun) biasanya akan berakibat pada evaluasi yang semakin positif terhadap stimulus tersebut atau bisa juga di sebut repeated exposure (Zajonc, 2010). Menurut Lydon, Jamieson, dan Holmes dalam Nurhayati (2007) Hubungan awal pertemanan ini juga bisa timbul karena adanya rasa saling suka yang di dasarkan pada efek positif. Secara umum, memiliki teman adalah positif sebab teman dapat mendorong self-esteem dan menolong dalam mengatasi stress, tetapi teman juga bisa memiliki efek negatif jika mereka antisosial, menarik diri, tidak suportif, argumentatif, atau tidak stabil (Hartup dan Stevens: 2009).
Jadi dapat dikatakan sebuah komponen dasar dari sosialisasi adalah adanya proses pertemanan. Hal ini melibatkan interaksi antara dua orang atau lebih yang memiliki tujuan dan berbagai kesamaan dalam presepsinya. Dalam proses pertemanan, seseorang biasanya lebih memilih berteman dengan seseorang yang bermain dengan dirinya, karena biasanya teman yang bermain lebih membuat dirinya nyaman.
Sebagaimana pendapat Soekanto (2004: 124) bahwa: Sejak lahir manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain yang berbeda disekelilingnya (yaitu masyarakat), dan keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.
Jadi penulis dapat simpulkan bahwa atas dasar dua keinginan ini maka manusia dengan sadar membentuk kelompok-kelompok sosial sebagai himpunan atau kesatuan-kesatuan dalam hidup bersama, dimana di dalamnya terjadi hubungan interaksi atau timbal balik antara anggota kelompok, dan terjadi kerja sama dan tolong menolong diantara mereka. Soekanto (2004: 130) membagi kelompok atau organisasi (individu dalam hubungan dengan individu lainnya) yaitu:
a) katagori utama kesatuan wilayah misalnya community (masyarakat), suku, bangsa, daerah, kota, desa, rukun tetangga
b) Katagori utama kesatuan-kesatuan atas dasar kepentingan yang sama tanpa organisasi yang tetap misalnya kasta, kelompok etnis atau ras, dan kerukunan
c) Katagori utama kesatuan atas dasar kepentingan yang sama dengan organisasi yang tetap atau asosiasi, misalnya kelompok primer yaitu keluarga, kelompok permainan.
4. Peran Teman Bermain
Teman bermain mempunyai sejumlah peran dalam proses perkembangan sosial anak. Menurut Santrock (2011: 277) Peranan teman bermain dalam proses perkembangan sosial anak antara lain sebagai sahabat, stimulasi, sumber dukungan fisik, sumber dukungan ego, fungsi perbandingan sosial dan fungsi kasih sayang. Peran teman bermain juga dikemukakan oleh Yusuf (2010: 60) yaitu memberikan kesempatan berinteraksi dengan orang lain, mengontrol perilaku sosial, mengembangkan keterampilan dan minat sesuai dengan usianya, dan saling bertukar pikiran dan masalah.
Sedangkan menurut Yusuf (2010: 60) peranan kelompok teman bermain bagi anak-anak adalah memberikan kesempatan untuk belajar tentang:
a. Bagaimana berinteraksi dengan orang lain b. Mengontrol tingkah laku sosial
c. Mengembangkan keterampilan dan minat yang relevan dengan usianya d. Saling bertukar perasaan dan masalah
Dengan demikian, kelompok teman bermain memiliki peranan yang penting bagi anak. Karena teman bermain merupakan lingkungan sosial pertama setelah keluarga. Kelompok teman bermain merupakan tempat yang kondusif bagi perkembangan anak-anak. Kelompok teman bermain merupakan media bagi anak
untuk mewujudkan nilai-nilai sosial tersendiri dalam melakukan prinsip kerjasama, tanggung jawab dan kompetisi.
Penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kelompok teman bermain mempunyai peran bagi perkembangan perilaku sosial anak. Kelompok teman bermain memberi kesempatan untuk berinteraksi dengan orang di luar anggota keluarganya.
5. Fungsi Kelompok Teman Bermain
Menurut Santoso (2006: 79) fungsi kelompok bermain adalah sebagai berikut:
a. Membantu peranan sosial yang baru. Kelompok bermain memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk mengisi peranan sosial yang baru.
Misalnya, anak yang belajar bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan sebagainya.
b. Dalam kelompok bermain, individu mencapai ketergantungan satu sama lain. Karena dalam kelompok bermain ini mereka dapat merasakan kebersamaan dalam kelompok dan saling tergantung satu sama lain.
c. Dalam kelompok bermain, individu dapat mencapai kebebasan sendiri.
Kebebasan di sini diartikan sebagai kebebasan untuk berpendapat, bertindak, atau menemukan identitas diri. Karena dalam kelompok itu, anggota-anggotanya juga mempunyai tujuan dan keinginan yang sama.
Berbeda dengan kalau anak bergabung dengan orang dewasa, anak akan sulit mengutarakan pendapat atau bertindak karena status orang dewasa selalu berada di atas dunia anak bermain.
d. Di dalam kelompok bermain anak-anak mempunyai organisasi sosial yang baru.
Anak belajar tentang tingkah laku yang baru, yang tidak terdapat dalam keluarga. Dalam keluarga yang strukturnya lebih sempit, anak belajar bagaimana menjadi anak dan saudara. Sekarang dalam kelompok bermain mereka belajar tentang bagaimana menjadi teman, bagaimana mereka berorganisasi, bagaimana berhubungan dengan anggota kelompok yang lain, dan bagaimana menjadi seorang pemimpin dan pengikut.
Pada masa anak-anak kelompok teman bermain juga berfungsi memberikan rasa aman secara emosional. Rasa aman dan terlindungi dapat menimbulkan rasa persatuan yang kuat antar kelompok. Selain memberikan rasa aman, kelompok bermain juga berperan sebagai guru yang membentuk sikap dan perilaku sosial. Teman bermain juga berperan mengajarkan bagaimana bekerjasama dengan orang lain, bagaimana mendengarkan dan bertoleransi terhadap pandangan yang berbeda. Terutama dalam pelajaran PKn, dalam satu kelompok belajar biasanya terdapat perbedaan-perbedaan pendapat dalam menanggapi setiap permasalahan yang yang diberikan. Dari situlah anak-anak bisa belajar bertoleransi.
6. Kelompok Teman Bermain sebagai Situasi Belajar
Dalam dunia kelompok teman bermain, anak memiliki status yang sama, dan sederajat dengan anak lain. Dalam kelompok bermain, belajar biasanya berlangsung dalam situasi yang kurang terkait secara emosional, ini berlangsung pada umur permulaan, ketika anak kurang menyadari bahawa situasi belajar itu
adalah suatu situasi belajar. Pengaruh kelompok bermain terhadap anak yang umurnya semakin bertambah cenderung menjadi lebih penting jika dibandingkan dengan pengaruh keluarga, sebab anak itu semakin lama semakin sering berada di tengah-tengah kelompok bermainnya.
7. Pengaruh kelompok Teman Bermain
Pergaulan kelompok teman bermain dapat memepengaruhi perilaku.
Pengaruh tersebut dapat berupa pengaruh positif dan dapat pula berupa pengaruh negatif. Pengaruh positif yang dimaksud adalah ketika individu bersama teman- teman bermainnya melakukan aktifitas yang bermanfaat seperti membentuk kelompok belajar dan patuh pada norma-norma dalam masyarakat. Sedangkan pengaruh negatif yang dimaksudkan dapat berupa pelanggaran terhadap norma- norma sosial, dan pada lingkungan sekolah berupa pelanggaran terhadap aturan sekolah.
Hubungan kelompok teman bermain yang baik diperlukan untuk perkembangan sosio-emosional yang normal, anak-anak yang ditolak oleh teman bermain atau menjadi korban temannya maka dia akan merasa kesepian dan beresiko menjadi depresi. Anak-anak yang agresif terhadap teman bermainnya beresiko terlibat dengan sejumlah masalah termasuk penyimpangan dan putus sekolah. Menurut Coplan dan Arbeau (dalam Santrock, 2011: 122) menyatakan bahwa frekuensi interaksi teman bermain yang dilakukan selama bertahun-tahun baik positif maupun negatif terjadi cukup signifikan. Anak-anak banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi dengan teman bermain yaitu dengan
bercakap-cakap atau bermain seperti negosiasi peran dan aturan permainan, berdebat dan menyetujui.
Dampak positif dan negatif teman bermain dijabarkan oleh Desmita (2009:
220-221) yang dijabarkan sebagai berikut:
1) Dampak positif
Fungsi positif teman bermain menurut Kelly dan Hansen (Desmita, 2009:
220) yang diuraian kebagai berikut:
a) Mengontrol impuls-impuls agresif. Melalui interaksi dengan teman bermain, anak belajar bagaimana memecahkan berbagai pertentangan dengan cara lain selain dengan tindakan agresif.
b) Memperoleh dorongan emosional dan sosial dari teman bermain untuk menjadi lebih independen. Dorongan yang diperoleh dari teman bermain menyebabkan berkurangnya ketergantungan anak pada keluarga.
c) Meningkatkan keterampilan sosial, mengembangkan kemampuan penalaran, dan belajar mengekspresikan perasaan dengan cara yang baik.
d) Mengembangkan sikap terhadap seksualitas dan perilaku peran jenis kelamin. Anak belajar mengenai perilaku dan sikap yang mereka asosiasikan dengan menjadi laki-laki dan perempuan.
e) Meningkatkan harga diri, yaitu dengan menjadi orang yang disukai oleh teman-temannya membuat anak merasa senang tentang dirinya.
2) Dampak Negatif
Desmita (2009: 221) menjabarkan pengaruh negatif dari teman bermain terhadap perkembangan anak-anak, antara lain:
a) Anak yang ditolaknya atau diabaikan oleh teman bermainnya akan memunculkan perasaan kesepian atau permusuhan
b) Budaya dari teman bermain bisa jadi merupakan suatu bentuk kejahatan yang merusak nilai dan kontrol orang tua.
c) Teman bermain dapat mengenalkan anak kepada hal-hal yang menyimpang seperti merokok, alkohol, narkoba dan sebagainya.
C. Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi Belajar
Menurut Sumadi (2002: 297), “prestasi belajar sebagai nilai yang merupakan bentuk perumusan akhir yang diberikan oleh guru terkait dengan kemajuan atau Prestasi Belajar siswa selama waktu tertentu”. Bukti keberhasilan dari seseorang setelah memperoleh pengalaman belajar atau mempelajari sesuatu merupakan prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dalam waktu tertentu.
Menurut Sudjana (2009: 102) Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki oleh seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik.
Prestasi belajar adalah hasil dari pengukuran dan penilaian usaha belajar.
Dengan mengetahui prestasi belajar, dapat diketahui kedudukan anak di dalam kelas. Seperti yang dinyatakan oleh Sutratinah (2001: 43) bahwa “prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk simbol,
angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu”.
Menurut Djalal (2006: 4) bahwa “prestasi belajar siswa adalah gambaran kemampuan siswa yang diperoleh dari hasil penilaian proses belajar siswa dalam mencapai tujuan pengajaran”. Prestasi adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004: 22).
Sedangkan menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam prestasi belajar mengajar:
(1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan,
(3). Sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004: 22).
Prestasi belajar menurut Hamalik (2004: 45). adalah prestasi belajar yang berupa adanya perubahan sikap dan tingkah laku setelah menerima pelajaran atau setelah mempelajari sesuatu dari pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan tujuan pembelajaran adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk perilaku kompetensi spesifik, aktual, dan terukur sesuai yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Ada banyak pengertian tentang prestasi belajar. Berdasarkan pengertian di atas maka yang dimaksudkan dengan prestasi belajar adalah hasil belajar/ nilai pelajaran sekolah yang dicapai oleh siswa berdasarkan kemampuannya/usahanya dalam belajar.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi belajar mempunyai hubungan erat dengan kegiatan belajar, banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar baik yang berasal dari dalam individu itu sendiri mauupun faktor yang berasal dari luar individu. Menurut Purwanto (2010: 107), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah:
a. Faktor dari dalam diri individu Terdiri dari faktor fisiologis. Faktor fisiologis adalah kondisi jasmani dan kondisi panca indera. Sedangkan faktor psikologis yaitu bakat, minat, kecerdasan, motivasi berprestasi dan kemampuan kognitif.
b. Faktor dari luar individu terdiri dari faktor lingkungan dan faktor instrumental. Faktor lingkungan yaitu lingkungan sosial dan lingkungan alam. Sedangkan faktor instrumental yaitu kurikulum, bahan, guru, sarana, administrasi, dan manajemen.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Syah (2011: 145) membagi faktor- faktor yang mempengaruhi belajar menjadi 3 macam, yaitu:
1) faktor internal, yang meliputi keadaan jasmani dan rohani siswa, 2) faktor eksternal yang merupakan kondisi lingkungan di sekitar siswa,
dan
3) faktor pendekatan belajar yang merupakan jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi mata pelajaran.
Menurut Djamarah (2006: 68) faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya hasil belajar siswa adalah:
1. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa a) Faktor fisiologis terdiri dari:
(1) Kondisi Fisiologis (2) Kondisi Panca Indera b) Faktor psikologis
(1) Minat (2) Kecerdasan (3) Bakat (4) Motivasi
(5) Kemampuan Kognitif
2. Faktor yang berasal dari luar diri siswa a) Faktor lingkungan terdiri dari:
(1) Lingkungan alami
(2) Lingkungan sosial budaya b) Faktor instrumental
(1) Kurikulum (2) Program
(3) Sarana dan fasilitas (4) Guru
Secara umum menurut Baharuddin (2009: 19) faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar dibedakan menjadi dua kategori yaitu:
1) Faktor Internal merupakan faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi Prestasi Belajar individu. Faktor-faktor internal ini terdiri dari faktor fisiologis dan psikologis.
2) Faktor Eksternal, dibedakan menjadi dua yaitu lingkungan sosial seperti lingkungan sosial sekolah yang di dalamnya termasuk guru, administrasi dan Teman Bermain, lingkungan sosial masyarakat, dan lingkungan sosial keluarga seperti ketegangan keluarga, sifat-sifat orang tua, demografi keluarga, status sosial ekonomi. Sedangkan lingkungan nonsosial terdiri dari lingkungan alamiah, faktor instrumental, faktor materi pelajaran
Menurut Slameto (2010: 54), terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yang digolongkan menjadi dua golongan, yaitu:
1) Faktor internal yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, antara lain: faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh), faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan), dan faktor kelelahan.
2) Faktor eksternal yaitu faktor yang ada di luar individu, antara lain: faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan), faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, Disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah), dan faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat).
Menurut Ngalim (2006: 102) Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu:
1) Faktor Sosial meliputi: faktor keluarga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang dipergunakan dalam belajar-mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial
2) Faktor individual antara lain: kematangan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Prestasi Belajar dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
1) Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis. Faktor fisiologis ini menyangkut kondisi jasmani/kondisi fisik siswa selama belajar.
2) Sedangkan faktor psikologis meliputi aspek:
a) Minat belajar siswa. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi belajar yang rendah
b) Kecerdasan/intelegensi. Seseorang yang memilki intelegensi yang baik umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik c) Motivasi belajar
d) Bakat Siswa
e) Kemampuan Kognitif siswa
f) Sikap siswa terhadap mata pelajaran
3) Faktor eksternal yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa diantaranya lingkungan sosial seperti lingkungan sosial sekolah yang di dalamnya termasuk metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah. Lingkungan keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan) dan faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat).
3. Pengukuran Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan hasil dari proses belajar yang berupa pengetahuan dan keterampilan yang dapat diukur dengan tes. Menurut pendapat Sudjana (2005: 22) prestasi belajar terdiri dari 3 ranah yaitu:
a. Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap nilai yang terdiri dari lima aspek, yaitu penerimaan, jawaban dan reaksi, penilaian, organisasi, internalisasi. Pengukuran ranah efektif tidak dapat dilakukan setiap saat karena perubahan tingkah laku siswa dapat berubah sewaktu- waktu.
c. Ranah Psikomotorik, berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Pengukuran ranah psikomotorik dilakukan terhadap hasil-hasil belajar yang berupa penampilan
Azwar (2006: 18) merumuskan beberapa prinsip dasar dalam pengukuran prestasi yaitu sebagai berikut:
a. Tes prestasi harus mengukur hasil belajar yang telah dibatasi secara jelas sesuai dengan tujuan intruksional.
b. Tes prestasi harus mengukur suatu sampel yang representatif dari hasil belajar dan dari materi yang dicakup oleh program intruksional atau pengajaran
c. Tes prestasi harus berisi item-item dengan tipe yang paling cocok guna mengukur hasil belajar yang diinginkan.
d. Tes prestasi harus dirancang sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaan hasilnya.
e. Reliabilitas tes prestasi harus diusahakan setinggi mungkin dan hasil ukurnya ditafsirkan dengan hati-hati.
f. Tes prestasi harus dapat digunakan untuk meningkatkan belajar para anak didik.
Dengan demikian hasil belajar siswa dapat diukur dengan tiga ranah yaitu ranah kogitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga ranah tersebut menjadi objek penelitian hasil belajar. Dari ketiga ranah tersebut, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menguasai bahan pengajaran.
D. Kerangka Pikir
Prestasi belajar merupakan hasil atau pencapaian yang diperoleh siswa setelah menempuh proseskegiatan belajar di sekolah sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya yang kemudian disajikan dalam bentuk skor. Untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal, terdapat beberapa factor yang memengaruhinya, baik yang berasal dari diri siswa maupun dari luar yang terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah (guru, teman bermain, sarana dan prasarana), serta lingkungan masyarakat. Dalam penelitian ini, yang diduga mempunyai hubungan kuat dengan prestasi belajar adalah pergaulan teman bermain. Kualitas pengaruh pergaulan teman bermain dapat dilihat dari beberapa aspek, diantaranya:
Dengan siapa dia berteman
1. Apa saja yang dilakukan saat bermain, dan
2. Seberapa intens mereka melakukan pergaulan (surya, 2010: 21). Oleh sebab itu, perlu diketahui sampai sejauh mana hubungan teman bermain dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
Penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu teman bermain dan variabel terikat yaitu prestasi belajar.
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir
Berdasarkan pada gambar kerangka pikir tersebut terdapat dua variabel didalamnya, yaitu:
1. Variabel independen ( variabel bebas)
Yaitu variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbuinya variabel terikat. Variabel independen pada penelitian ini adalah teman bermain (X)
2. Variabel dependen ( variabel terikat)
Yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam hal ini yang menjadi variabel terikat adalah prestasi belajar
E. Hipotesis penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan
Pengaruh Teman Bermain Pengaruh Teman bermain terhadap Prestasi Belajar
Prestasi Belajar
Dilihat dari nilai akhir siswa yang tercantum dalam raport siswa semester genap tahun pelajaran 2017-2018
Ada Pengaruh Tidak Ada Pengaruh
(sugiyono, 2014; 99). Dalam penelitian ini hipotesis yang digunakan sebagai berikut.
Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan teman bermain terhadap prestasi belajar siswa kelas V SD Kristen Elim Kota Makassar.
37
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah ex-pos facto, karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keadaan yang dihadapi sekarang. Jenis penelitian ex-pos facto digunakan untuk berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang dihadapi pada situasi sekarang, maka dengan metode ini konsekuensi penulis harus mampu menganalisa data yang terhimpun sehingga pada kesimpulan yang logis dan realistis, disamping itu penggunaan metode ini pun diarahkan pada usaha menggambarkan atau menuliskan serta menjelaskan besar kecilnya korelasi kelompok teman bermain variabel (X) dengan prestasi belajar siswa variabel (Y)
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dikelas V-B SD Kristen Elim Kota Makassar.
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 11 No. 128, Tamalanrea, Kota Makassar
C. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek, atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi kemudian ditarik kesimpulannya.
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu:
1. Variabel Bebas dalam penelitian ini yaitu kelompok teman bermain (X).
2. Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu prestasi belajar (Y)
D. Definisi Operasional Variabel
Untuk menghindari pemahaman penafsiran yang berbeda maka penulis mendefinisikan beberapa variabel sebagai berikut:
a. Kelompok teman bermain
Interaksi dengan kelompok teman bermain merupakan permulaan hubungan persahabatan yang di dalamnya terdapat hubungan timbal balik. Teman bermain dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:563) diartikan sebagai
“kawan, sahabat atau orang yang sama-sama bekerja dan berbuat.” Santoso (2004:79) berpendapat “teman bermain adalah kelompok anak bermain yang sukses ketika anggotanya dapat berinteraksi. Hal-hal yang dialami oleh anak- anak tersebut adalah hal yang menyenangkan saja.” Menurut Santrock (2011:268) teman bermain adalah anak-anak yang tingkat usia dan kematangannya kurang lebih sama. Hurlock (2012:288) mengartikan teman bermain sebagai anak yang memiliki usia dan taraf perkembangan yang sama.
b. Prestasi belajar
Menurut Sumadi (2002:297), “Prestasi Belajar sebagai nilai yang merupakan bentuk perumusan akhir yang diberikan oleh guru terkait dengan kemajuan atau Prestasi Belajar siswa selama waktu tertentu”. Bukti keberhasilan dari seseorang setelah memperoleh pengalaman belajar atau mempelajari sesuatu merupakan Prestasi Belajar yang dicapai oleh siswa dalam waktu tertentu.
E. Populasi dan Sampel Penelitian
Setiap penelitian memerlukan data atau informasi dari sumber-sumber yang dapat dipercaya agar data dan informasi tersebut digunakan untuk menjawab
tujuan penelitian atau menjawab pertanyaan penelitian. Data diperoleh dari sejumlah lokasi, populasi dan sampel penelitian.
1. Populasi
Populasi (popilation) adalah keseluruhan subyek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V di SD Kristen Elim Kota Makassar berjumlah 60 orang. Berdasarkan jumlah populasi diatas. Adapun rincian populasi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut ini:
Tabel 3.1 Populasi Penelitian
Sumber: Admin SD Kristen Elim Kota Makassar 2017/2018
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling.
Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sampel yang digunakan adalah kelas V-B sebagai kelas eksperimen denngan pertimbangan dikelas tersebut rendah prestasi belajarnya. Adapun jumlah sampel dalam penelitian ini terdiri dari 30 siswa . untuk lebih jelas dapat dilihat table berikut.
No Kelas
Siswa
Jumlah Siswa
L P
1 V-A 12 18 30
2 V-B 15 15 30
Jumlah 60
Table 3.2 sampel penelitan
No kelas
Siswa
L P Jumlah
1 VB 15 15 30
Sumber: admin SD Kristen Elim Kota Makassar tahun 2017/2018
F. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data dalam penelitian ini menggunakan instrument dokumentasi dan lembar angket (kuesioner) adalah sebagai berikut:
1. Dokumentasi
Metode dokumentasi yang dimaksud adalah data prestasi nilai raport siswa di SD Kristen Elim Kota Makassar.
2. Metode angket kelompok teman bermain
Dalam penelitian ini digunakan angket untuk mengumpulkan data pemberian angket kelompok teman bermain terhadap prestasi belajar siswa.
Angket ini diberikan pada setiap siswa yang menjadi responden untuk diisi dengan kondisi yang sebenarnya. Oleh karena itu, sebelum guru menyampaikan bahwa pengisian angket tidak mempengaruhi nilai.
Untuk mempermudah pemahaman mengenai teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, maka disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
\
Tabel 3.3 Teknik Pengumpulan Data
No Data Teknik penumpulan data
1 Kelompok teman bermain Angket
2 Prestasi belajar siswa Nilai raport siswa
G. Instrumen Penelitian
Dalam membuat instrumen ini maka terlebih dahulu variabel yang akan diukur dijabarkan kedalam indikator yang secara menyeluruh dapat menjadi tolak ukur dari butir instrumen yang akan digunakan. Setelah indikator disusun maka perlu dikembangkan kedalam butir-butir instrument yang berbentuk pernyataan dan pertanyaan. Penjabaran instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Angket (kuesioner)
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya dengan harapan mereka akan memberi respon terhadap pertanyaan tersebut. Daftar pertanyaan dapat bersifat terbuka, apabila jawaban tidak ditentukan sebelumnya, sedangkan bersifat tertutup jika alternatif –alternatif jawaban telah disediakan.