63
URGENSI PRINSIP DAN FAKTOR KURIKULUM DALAM MENCAPAI KEBERHASILAN PENDIDIKAN
( Studi Analisis Implementasi Kurikulum 2013)
Ardiyan Firdausiyah1, Dr. Rifa’i, S.Ag.M.Pd.I2, Dr. H. Akhmadi, M.Pd.I3
1Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Utsmani Bondowoso
2,3Dosen STAI At-Taqwa Bondowoso [email protected]
Naskah diterima: 20 Juni 2021, direvisi: 15 Juli 2021, diterbitkan: 22 Agustus 2021 ABSTRACT
The study aims to determine and analyze the principles and factor of the curriculum on the succes in implementing curriculum in educational development. Conducted to describe how the implementation process of learning by using curriculum 2013 and to find out any difficulties experienced by teachers in the implementation. This research is a qualitative descriptive. Data collection techniques using the method of observation, interviews and documentation. Data validation was done by triangulation method by comparing the data of observation, interviews, and documentation. Data analysis techniques performed by stage data reduction, data presentation, verification and conclusion. The result showed that principles and factor of the curriculum on the succes in implementing curriculum in education development. curriculum in 2013 consisted of planning, implementation, assessment processes and learning outcomes have been quite good, constraints experienced math teachers in curriculum implementation in 2013 among other things difficult to change the mindset of teachers and students, the ability students who are not evenly distributed, time, 2 and complex judgments. This is due to a lack of mental readiness of teachers and learners in the face of the new curriculum (Curriculum 2013).
Keywords: principles, curriculum factors, implementation. ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis prinsip dan faktor kurikulum terhadap keberhasilan penerapan kurikulum dalam pembangunan pendidikan. Dilakukan untuk mendeskripsikan bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013 dan untuk mengetahui kesulitan yang dialami guru dalam pelaksanaannya.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Validasi data dilakukan dengan metode triangulasi dengan membandingkan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan tahapan reduksi data, penyajian data, verifikasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip dan faktor kurikulum terhadap keberhasilan penerapan kurikulum dalam pembangunan pendidikan.
kurikulum 2013 terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, proses penilaian dan hasil belajar sudah cukup baik, kendala yang dialami guru matematika dalam implementasi kurikulum 2013 antara lain sulitnya mengubah pola pikir guru dan siswa, kemampuan siswa yang tidak merata, waktu, 2 dan penilaian kompleks. Hal ini disebabkan kurangnya kesiapan mental guru dan peserta didik dalam menghadapi kurikulum baru (Kurikulum 2013).
Kata Kunci: prinsip, faktor kurikulum, implementasi
64 PENDAHULUAN
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus menentukan prinsip dan faktor kurikulum, karena Keberhasilan pendidikan dipengaruhi dengan pemahaman seluruh personal dalam suatu lembaga. Silih bergantinya Kurikulum pendidikan berkembang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang mana seluruh komponen bangsa ikut memberikan dorongan bagi penyelenggara pendidikan untuk selalu melakukan perbaikan modifikasi dan evaluasi pada kurikulum yang digunakan. Jika kita amati lebih jauh tentang realita kompetensi guru saat ini masih beragam (Sudarwan Danim, 2002).
kinerja guru belum sepenuhnya ditopang oleh penguasaan kompetensi yang memadai seperti Kurikulum 2013 lebih-lebih kurikulum berbasis literasi dan nomerasi yang sudah diluncurkan di semua jenjang pendidikan. Oleh karena itu perlu adanya upaya yang komprehensif dalam mempelajari prinsip dan faktor yang mempengaruhi implementasi Kurikulum tersebut. kurikulum yang sangat strategis memiliki fungsi holistik dalam dunia pendididkan yang memiliki peran dan fungsi sebagai wahana dan media konservasi, internalisasi, kristalisasi dan transformasi ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan nilai–nilai. Sebagai wahana dan media konservasi, kurikulum memiliki kontribusi besar dan strategis terhadap ilmu pengetahuan yang diajarkan Allah SWT melalui para nabi dan rasul, para filosof, para cendekiawan, ulama, akademisi dan para guru, secara turun temurun, inter dan antar generasi melalui pengembangan potensi kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik. Sehingga ilmu pengetahuan dan nilai–nilai kehidupan dalam rangka menciptakan situasi kondusif, dinamis dan konstruktif tatanan dunia yang berlangsung secara kontinum (Muhammad Zaini, 2010).
Pelaksana dan pengembang kurikulum harus memperhatikan dan mempertimbangkan faktor-faktor ketika hendak mengembangkan atau merencanakan suatu kurikulum lembaga pendidikan, yang merupakan landasan kurikulum secara umum pada hakikatnya yaitu, yaitu : landasan filosofis, psikologis, sosial budaya, serta perkembangan ilmu dan teknologi.
Landasan implementasi dan pengembangan kurikulum juga diperlukan
oleh para pelaksana kurikulum yaitu pengawas pendidikan dan pendidik serta pihak lain yang terkait dengan tugas pengelolaan pendidikan, sebagai instrumen untuk melakukan pembinaan terhadap implementasi kurikulum di setiap jenjang pendidikan yang membutuhkan berbagai landasan yang kuat agar mampu dijadikan dasar pijakan dalam melakukan proses penyelenggaraan pendidikan, sehingga dapat memfasilitasi tercapainya sasaran pendidikan dan pembelajaran secara lebih efektif dan efisien.
METODE PENELITIAN
Penelitian kebijakan ini menggunakan pendekatan analisis kualitatif dan reflektif thinking terhadap data-data pustaka berupa kebijakan kurikulum yang menjadi dasar dalam perumusan kurikulum 2013. Analisis data adalah suatu proses pengklasifikasian, pengkategorian, penyusunan, dan elaborasi, sehingga data yang telah terkumpul dapat diberikan makna untuk menjawab masalah penelitian yang telah dirumuskan atau untuk mencapai tujuan penelitian. Metode penelitian kebijakan tidak berbeda dengan analisis kebijakan, (Riant Nugroho; 2012), adapun jenis metode dapat di klasifikasi sebagaimana skema berikut ini;
65 Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian analisis konsep terhadap kurikulum 2013 dalam mengembangkan kurikulum 2013 melalui pendekatan prinsip- prinsip dan faktor yang dapat menentukan keberhasilan pendidikan. Dalam analisis konsep, peneliti tidak melakukan observasi lapangan, tidak melakukan interaksi dengan subyek yang di teliti, tetapi melakukan kajian dan analisis terhadap terhadap konsep yang sudah jadi untuk dikaji implikasi terhadap pengembangan pendidikan, yakni implikasi positif dan negatif serta problem dalam implementasinya.
Sebagaimana skema berikut ini:
Metode penelitian kebijakan menggunakan metoda analisis terhadap kebijakan berupa data regulasi dan konsep yang telah menjadi ketetapan pemerintah, maka
66
PENELITIAN
• KUALITATIF
ANALISIS
• KONSEP
PRINSIP- PRINSIP
FAKTOR- FAKTOR
dalam hal ini peneliti menggunakan metode analisis terhadap konsep kurikulum 2013 melalui prinsip-prinsip dan faktor yang menunjang keberhasilan dalam pendidikan.
Alur dalam analisis kebijakan sebagaimana dibawah ini :
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan kajian mendalam terhadap konsep kebijakan kurikulum 2013 melalui prinsip-prinsip dan faktor yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan, adapun prinsip-prinsipnya sebagaimana berikut ini:
1)Tujuan filsafat dan pendidikan nasional Sosial budaya dan agama, 2) Perkembangan peserta didik yang menunjukkan pada karakteristik perkembangan peserta didik, 3) Keadaan lingkungan yang dalam arti luas meliputi lingkungan manusiawi (interpersonal), lingkungan kebudayaan IPTEK (kultural), lingkungan hidup (biologi) serta lingkungan alam (geo ekologis), 4) Kebutuhan pembangunan yang mencakup kebutuhan pembangunan di bidang ekonomi, kesejahteraan rakyat, hukum, hankam dan sebagainya, 5) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun faktor- faktornya berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. (Ella Yulaelawati dan Sudrajat, 2008). antara lain; 1) Psikologis (Sukmadinata, 2007, E. Mulyasa, Sudrajat, 2008), 2) Sosial Budaya (Israel Scheffer, Sukmadinata, 2007). 3) Politik (Wiles Bondi, Sudrajat, 2008), 4) Pembangunan Negara dan Perkembangan Dunia, 5) Ilmu dan Teknologi (IPTEK) (Susilo, 2007, Mulyasa, 2007 ) dan 6) Kesiapan Sumber Daya Manusia Non Materiil Sekolah (Permadi, 2009, Mulyasa, 2007, Hamalik, 2008)
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kurikulum
Kurikulum merupakan sebuah wadah yang akan menentukan arah pendidikan.
Berhasil dan tidaknya sebuah pendidikan sangat bergantung dengan kurikulum yang di gunakan. Kurikulum adalah ujung tombak bagi terlaksananya kegiatan pendidikan.tanpa adanya kurikulum mustahil pendidikan akan dapat berjalan dengan baik, efektif, dan efisien sesuai yang di harapakan. Karena itu, kurikulum sangat di perlu untuk di perhatikan di masing-masing satuan pendidikan.
Definisi kurikulum yang terdapat dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional. Dalam UU tersebut di nyatakan bahwa kurikulum ialah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang di gunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan
ANALISIS
• KEBIJAKAN
• HISTORIS
67 pertimbangan, pemerintah melalui Kemendikbud berusaha sekuat tenaga untuk menyusun, mengembangkan dan menetapkan sebuah kurikulum yang berlaku pada tahun pelajaran 2013/2014. Kurikulum baru ini di perkenalkan oleh pemerintah dengan sebutan kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru yang mulai di terapkan pada tahun pelajaran 2013/2014, kurikulum ini adalah pengembangan dari kurikulum yang ada sebelumnya. Kurikulum 2013 adalah sebuah kurikulum yang di kembangkan untuk meningkatkan dan menyeimbangkan kemampuan yang berupa sikap, keterampilan, dan pengetahuan (Fadlillah;2014:14-16). Kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi dan karakter merupakan kurikulum yang menekankan pada pembentukan sikap spiritual dalam hal ini adalah Ibadah siswa (KI-1), dan sikap sosial dalam hal ini Akhlak siswa(KI-2) diharapkan dapat menyiapkan serta membekali peserta didik dengan berbagaikemampuan sesuai dengan tuntutan zaman, serta perkembangan teknologi dan seni, guna menjawab tantangan arus globalisasi, berkontribusi pada pembangunan masyarakat dan kesejahteraan sosial, lentur, dan adaptif terhadap berbagai perubahan. Kurikulum 2013 ini juga di persiapkan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang produktif, kreatif, inovatif, dan berkarakter, sehingga pada hari ulang tahun (Mulyasa;2014:103)
Al-Tabany (2014;11) Menyebutkan bahwa Kurikulum 2013 sebagai hasil pembaharuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tersebut, juga menghendaki, bahwa suatu pembelajaran pada dasarnya tidak hanya mempelajari tentang konsep, teori, dan fakta, tapi juga aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, materi pembelajaran tidak hanya tersusun atas hal-hal sederhana yang bersifat hafalan dan pemahaman, tetapi juga tersusun atas materi yang kompleks yang memerlukan analisis, aplikasi, dan sintesis. Untuk itu, pengajar harus bijaksana dalam menentukan suatu model yang sesuai yang dapat menciptakan situasi dan kondisi kelas yang kondusif agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai dengan tujuan yang di harapkan.
Dalam pandangan klasik, kurikulum dipandang sebagai rencana dan materi pelajaran di sekolah yang harus ditempuh (George A. Beauchamp, Sudrajat, 2008).
Kurikulum to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers (Caswel dan Campbell, Sudrajat, 2008). menurut Hamid dan Sudrajat, konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi yaitu : (1) sebagai suatu ide, (2) sebagai suatu rencana tertulis, (3) sebagai suatu kegiatan,dan (4) sebagai suatu hasil ( 2008).
Kurikulum adalah segala kegiatan dan pengalaman belajar yang direncanakan dan diorganisir untuk dilakukan dan dialami oleh peserta didik agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan (Muhammad Zen 2011, UUSPN No. 20, 2003 dan Saylor, Alexander, Lewis dan Hamalik, 2008 dan Johnson, Posner, Hamalik, 2008). Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan. Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa.
(Hamalik, 2008).
Pengertian kurikulum diatas, menunjukkan bahwa kegiatan kurikulum tidak terbatas dalam ruang kelas saja, melainkan mencakup kegiatan di luar kelas, tidak ada pemisahan yang tegas antara intra dan ekstra kurikulum, semua kegiatan yang memberikan pengalaman belajar atau pendidikan bagi siswa pada hakikatnya adalah kurikulum. Kurikulum merupakan alat untuk mengorganisasikan mata pelajaran dan pengalaman belajar, (Roinine dan Hamalik, 2008). menurut Susilo (2007) ―cakupan
68 tujuan isi dan metode kurikulum lebih luas atau lebih umum, dan tugas pengajaran lebih spesifik‖, kurikulum terletak pada ujung tujuan umum atau tujuan jangka panjang, sedangkan pengajaran pada ujung lainnya, yaitu yang lebih khusus atau tujuan jangka pendek. Batas antara keduanya sangat relatif tergantung pada tafsiran guru.
Kurikulum 2013 ini sebagai Kurikulum di terapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah berlaku selama kurang lebih 7 tahun. Kurikulum 2013 di harapakan peserta didik dapat memiliki kopetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan motorik sesuai dengan jenjang pendidikan yang telah di tempuh sehingga akan dapat berpengaruh dan menentukan kesuksesan dalam kehidupan selanjutnya. (Fadlillah;2014:16)
Perubahan yang terdapat pada kurikulum 2013 salah satunya adalah penggabungan mata pelajaran, selain itu pemerintah juga berencana menambah jam pelajaran agar pembelajaran lebih mengedepankan karakter siswa serta nilai-nilai spiritualnya. Adanya model pembelajaan di kurikulum 2013 menuntut persiapan guru untuk menerapkannya secara konsisten dalam pembelajaran. Kurikulum baru ini di harapkan dapat membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan sesuai dengan tuntutan zaman serta menjadi generasi muda yang unggul di masa mendatang, unggul baik dalam bidang keilmuan atau iptek, dan agama, serta dapat berkarakter, berakhlakul karimah, karena dalam pendidikan tidak hanya bertujuan untuk sekedar mencerdaskan anak bangsa saja, namun juga bertujuan untuk membentuk moral yang baik pada diri siswa, sehingga ketika siswa lulus dari sekolah sudah mempunyai bekal menjadi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas, akan tetapi juga dapat bertanggung jawab, yang diharapkan bisa memperbaiki bangsa dan agamanya, dapat mengabdi pada masyarakat serta mampu bersosialisasi dan beradaptasi dengan baik di lingkungan sekitarnya. (Mulyasa;2014)
Secara konseptual kurikulum 2013 di cita-citakan untuk melahirkan generasi masa depan yang cerdas komprehensif yakni tidak hanya cerdas intelektualnya, tetapi juga cerdas emosi, sosial dan spiritualnya. Di perlukan model pembelajaran yang dapat menunjang tercapainya visi kurikulum 2013. Model pembelajaran kurikulum 2013 di katakan berhasil dan terwujud jika peserta didik dapat mengaplikasikan serta dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan dan nilai- nilai spiritual keagamaan dengan mode-model yang telah di terapkan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21:
٢١ ۗ اًرْيِثَك َٰۗاللّ َۗرَكَذ َو َۗر ِخٰ ْلْا َۗم ْوَيْلا َو َٰۗاللّ اوُج ْرَي َۗناَك ْۗنَمِ ل ۗ ةَنَسَح ۗ ة َوْسُا ِٰۗاللّ ِۗل ْوُس َر ْۗيِف ْۗمُكَل َۗناَك ْۗدَقَل
Artinya: Sungguh telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah SWT”(QS. Al-Ahsab (33) : 21).
Ayat di atas memberikat motivasi kepada umat manusia bahwa kita belajar tidak hanya mengembangkan potensi kita, melainkan kepribadian yang baik, akhlak mulia, jujur dan nilai-nilai spiritual juga perlu di tanamkan kepada generasi masa depan.
Nilai-nilai spiritual yang di maksudkan dalam kurikulum 2013 lebih menekankan pada pembentukan sikap spiritual (KI-1), dan sikap sosial (KI-2) ini, di persiapakan terutama dalam rangka mengantisipasi era globalisasi dan pasar bebas.
(Mulyasa;2014:iii) B. Tujuan Kurikulum
Secara umum tujuan kurikulum adalah untuk :
69 1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan misiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan, memberdayakan sumber daya yang tersedia.
2. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.
Sekolah dengan kurikulumnya tidak lagi hanya berfungsi sebagai peaksna kurikulum yang telah diatur pusat dan sebagai pengambil keputusan tentang pengembangan dan implemeritasi kurikulum. Melalui kurikulum diharapkan setiap sekolah atau satuan pendidikan berlomba menyusun program kurikulum sekaligus dalam mengimplementasikannya. akan tercipta persaingan antar sekolah menuju pencapaian kualitas pendidikan.
C. Landasan Kurikulum 1. Landasan Filosofis
Filsafat adalah cara berpikir yang sedalam-dalamnya, sampai akarnya tentang hakikat sesuatu. Filsafat itu antara lain menentukan kepercayaan kita tentang : hakikat manusia, khususnya hakikat anak dan sifat–sifatnya, sumber kebenaran dan nilai–nilai yang hendak menjadi pegangan hidup kita, kebaikan, hidup yang baik, Arti filsafat adalah cinta akan kebenaran, rangkaian dari dua pengertian, philein (cinta) dan shopia (kebajikan). Dalam batasan modern, filsafat diartikan sebagai ilmu yang berusaha memahami semua hal yang muncul di dalam keseluruhan lingkup pengalaman manusia, yang berharap agar manusia dapat mengerti dan mempunyai pandangan menyeluruh dan sistematis mengenai alam semesta dan tempat manusia di dalamnya. Intinya manusia merupakan bagian dari dunia.
Filsafat dipandang sebagai induk segala ilmu karena filsafat mencakup keseluruhan pengetahuan manusia yaitu meliputi :
a) Metafisika, yakni studi tentang hakikat kenyataan atau realitas.
b) Epistimologi, yakni studi tentang hakikat pengetahuan c) Aksiologi yakni studi tentang nilai
d) Etika yakni studi tentang hakikat kebaikan e) Estetika yakni studi tentang hakikak keindahan f) Logika yakni studi tentang hakikat penalaran 2. Landasan Sosiologis
Suatu kurikulum pada prinsipnya mencerminkan keinginan, cita–cita tertentu dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, sudah sewajarnya pendidikan memperhatikan aspirasi masyarakat dan pendidikan mesti memberi jawaban atas tekanan–tekanan yang datang dari sosio-politik- ekonomi yang dominan.
Dalam mengambil keputusan tentang kurikulum pengetahuan tentang psikologi anak dan bagaimana anak belajar, sangat diperlukan antara lain : a. Seleksi dan organisasi bahan pelajaran, b. Menentukan kegiatan belajar yang paling serasi, c.
Merencanakan kondisi belajar yang optimal agar tujuan belajar tercapai.
Bentuk filosofis dan sosiologis lebih mengarah kepada penentuan tujuan akhir, yang diharapkan bagi anak didik dalam kurikulum itu. Pengetahuan psikologi itu akan membantu para pengembang kurikulum untuk lebih realistik dalam memilih tujuan tetapi tidak akan menentukan tujuan apa yang seharusnya. psikolog secara umum sangat membantu menemukan teori yang akurat. teori belajar, teori kognitif, pengembangan emosional, dinamika group, perbedaan individu, kepribadian, model formasi sikap dan perubahan dan
70 mengetahui pengetahuan motivasi, semuanya sangat relevan dalam merencanakan pengalaman pendidikan (educational experinces).
D. Komponen Kurikulum
Sebagai sebuah pedoman, Kurikulum terdiri atas empat komponen, yakni : Tujuan pendidikan secara umum; Tujuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu pada tujuan umum pendidikan (UU, 2005).
Struktur Program dan Muatan Kurikulum; Struktur dan muatan Kurikulum 2013 jenjang pendidikan dasar dan menengah tertuang dalam standar isi meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut :
1. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia
2. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian 3. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi 4. Kelompok mata pelajaran estetika
5. Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan (PP. 19, 6. 2005).
7. Kenaikan Kelas, Penjurusan, dan Kelulusan 8. Pendidikan Kecakapan,
9. Pendidikan Kecakapan Hidup,
10. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global 11. Kalender Pendidikan
12. Silabus dan Rencana Pendidikan.
E. Karakteristik Kurikulum
1. Berbasis kompetensi dasar (curriculum based competencies), bukan materi pelajaran.
2. Bertumpu pada pembentukan kemampuan yang dibutuhkan oleh siswa (developmentally-appropriatepractice), bukan penerusan materi pelajaran.
3. Berpendekatan terpadu atau berpusat pembelajaran (learner centered curriculum), bukan pengajaran.
Berpendakatan terpadu atau integratif (integrative curriculum atau learning accross curriculum), bukan diskrit. Bersifat diversifikatif, pluralistik, dan multikultural.
Bermuatan empat pilar pendidikan kesehangatan, yaitu belajar memahami (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be oneself), dan belajar hidup bersama (learning to live together). Berwawasan dan bermuatan manajemen berbasis sekolah (Dirjen Dikdasmen, 2007).
Berdasarkan pemahaman tersebut, Kurikulum dikembangkan berdasarkan pada beberapa karakteristik atau ciri utama, yaitu : (1) Berpusat pada siswa (focus on learners), (2) Memberikan mata pelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual (provide relevant and contextucilized subject isialter), (3) Mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada siswa (develop rich and robust mental models) (Dirjen Dikdasmen, 2007) .
F. Organisasi Kurikulum
Organisasi kurikulum yaitu pola atau bentuk bahan pelajaran disusun dan di sampaikan kepada murid-murid, merupakan suatu dasar yang penting sekali dalam pembinaan kurikulum dan bertalian erat dengan tujuan program pendidikan yang hendak dicapai, karena bentuk kurikulum turut menentukan bahan pelajaran, urutannya dan cara menyajikannya kepada murid-murid.
71 G. Bentuk Organisasi Kurikulum
1. Separate Subject Curriculum (Kurikulum Mata Pelajaran) kurikulum tradisional, ini diterapkan sejak lama sampai munculnya kurikulum tahun 1968 dan kurikulum tahun 1975.
2. Brodfield Curriculum (Kurikulum Bidang Studi) 3. ini termasuk ke dalam jenis kurikulum berkolerasi 4. Core Curriculum (Kurikulum Inti)
5. Correlated Curriculum (Kurikulum dengan mata pelajaran berkorelasi)
6. Correlated berasal dari kata correlation berarti korelasi yaitu adanya hubungan antara satu dengan yang lainnya.
H. Prinsip–prinsip Kurikulum 1. Prisip–prinsip umum
Ada beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum antara lain:
a. Prinsip Relevansi
b. Prinsip Fleksibilitas, artinya kurikulum hendaknya memilih sifat lentur atau fleksibel.
c. Prinsip Kontinuitas, yaitu kesinambungan.
d. Prinsip Praktis, artinya mudah dilaksanakan, menggunakan alat – alat sederhana dan biayanya juga murah. Prinsip ini disebut juga efisinsi.
e. Prinsip Efektifitas. Walaupun kurikulum tersebut harus murah, sederhana dan murah
2. Prinsip khusus
a. berkenaan dengan tujuan pendidikan
b. Prinsip berkenaan dengan pemilihan pendidikan
c. Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
d. Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran (Nana Syaodih Sukmadinata, 2007)
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa prinsip–prinsip kurikulum yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah–kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum atau dengan kata lain prinsip kurikulum dapat juga dikatakan sebagai aturan yang menjiwai pengembangan kurikulum (Nana Syaodih Sukmadinata, 2007).
Faktor – faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum a. Tujuan filsafat dan pendidikan nasional Sosial budaya dan agama.
b. Perkembangan peserta didik yang menunjukkan pada karakteristik perkembangan peserta didik.
c. Keadaan lingkungan yang dalam arti luas meliputi lingkungan manusiawi (interpersonal), lingkungan kebudayaan IPTEK (kultural), lingkungan hidup (biologi) serta lingkungan alam (geo ekologis).
d. Kebutuhan pembangunan yang mencakup kebutuhan pembangunan di bidang ekonomi, kesejahteraan rakyat, hukum, hankam dan sebagainya.
I. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi pengembangan kurikulum, diantaranya:
1. Filosofis
Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. (Ella Yulaelawati dan Sudrajat, 2008)
2. Psikologis (Sukmadinata, 2007, E. Mulyasa, Sudrajat, 2008) 3. Sosial Budaya (Israel Scheffer, Sukmadinata, 2007).
72 4. Politik (Wiles Bondi, Sudrajat, 2008).
5. Pembangunan Negara dan Perkembangan Dunia
6. Ilmu dan Teknologi (IPTEK) (Susilo, 2007, Mulyasa, 2007 ).
7. Kesiapan Sumber Daya Manusia Non Materiil Sekolah (Permadi, 2009, Mulyasa, 2007, Hamalik, 2008).
J. Strategi dan Rasionalitas Pengembangan Pendidikan
Dalam Strategi Pengembangan Pendidikan, dijelaskan bahwa pada pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi Efektivitas Pembelajaran Kurikulum, Guru, Siswa untuk jenjang pendidikan dasar (SD), jenjang pendidikan menengah (SMP) harus melaksanakan Program Wajar Dikdas 9 tahun Periode 1994 – 2012, sedangkan untuk jenjang menengah ke atas (SMA) akan dibahas mulai tahun 2013.
Lama tinggal di sekolah harus 2 – 6 jam/minggu.
Di tahun 2013, proses penyusunan dan implementasi pengembangan Kurikulum 2013 terfokus juga pada istilah Penambahan Jam Pelajaran ‖. Rasionalitas dari penambahan jam pelajaran dapat dipaparkan sebagai berikut :
1. Perubahan proses pembelajaran
2. akhir-akhir ini banyak negara menambah jam pelajaran (KIPP di AS, Korea Selatan).
3. jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat.
4. di Finlandia relatif singkat, tetapi didukung dengan pembelajaran tutorial.
Perkembangan Kurikulum di Indonesia yaitu :
1. Tahun 1947 berbentuk Rencana Pelajaran → Dirinci dalam Rencana Pelajaran Terurai
2. Tahun 1964 Rencana Pendidikan Sekolah Dasar 3. Tahun 1968 Kurikulum Sekolah Dasar
4. Tahun 1973 Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) 5. Tahun 1975 Kurikulum Sekolah Dasar
6. Tahun 1984 Kurikulum 1984 7. Tahun 1994 Kurikulum 1994
8. Tahun 1997 Revisi Kurikulum 1994
9. Tahun 2004 Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 10. Tahun 2006 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 11. Tahun 2013 Kurikulum 2013
Dalam Basic Principle of Curriculum and Instruction yang ditulis Tyler (1949) menyatakan bahwa mendisain kurikulum perlu mengidentifikasi empat pertanyaan mendasar yaitu 1) what educational purposes should the school seek to attain? 2) what educational experiences can be provided that are likely to attain these purposes? 3) how can these experiences be effectively organized? dan 4) how can we determine whether these purposes are being attained? Sebagaimana dalam skema dibawah ini : Dalam disain Tylor diatas menggambarkan kurikulum adalah memberikan pengalaman nyata kepada peserta untuk menjadi inspirasi bagi pengembangan diri dalam kehidupan masyarakat. Karena itu kurikulum tidak lepas dari prinsip dan faktor sebagai penentu utama dalam mencapai keberhasilan dalam pendidikan.
73 KESIMPULAN
Rumusan prinsip-prinsip kurikulum berimplikasi signifikan terhadap implementasi pengembangan kurikulum 2013, dengan demikian prinsip – prinsip kurikulum makin dianggap baik oleh kepala sekolah dan pendidik dalam pengembangan dan keberhasilan pendidikan. Demikian pula, faktor – factor kurikulum dapat di implementasikan dengan baik dalam pengembangan kurikulum 2013, dalam konteks ini jika factor-faktor kurikulum makin dianggap baik oleh kepala sekolah dan guru-guru, maka tingkat keberhasilan implementasi pengembangan kurikulum 2013 sekolah yang bersangkutan juga akan dipersepsikan berhasil membawa kemajuan pendidikan.
Secara simultan, prinsip dan faktor kurikulum sangat urgen dalam pengembangan kurikulum 2013. Prinsip dan faktor kurikulum memiliki implikasi positif terhadap keberhasilan dalam pengembangan pendidikan.
BIBLIOGRAPHY
Alsa, (2003). Metodologi Penelitian Kualitatif Bandung: Remaja Rosdakarya.
Al Rasyid. (2004). Supervisi. Jakarta : Rian Putra Nata, Abudin. (2001) Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta : PT. Gramedia.
Arikunto, S. (2005). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
74 Taufik Nasution. S. (2013). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Dosen STAIS
(dalam KOMPAS;25 Maret 2013) Bandung : Tarsito.
Cieunurani Waring. (2008). Curriculum Theory. Wilmette. Illionis, The Kagg Press.
Depdiknas. (2002). Sistem Evaluasi Pembelajaran. Jakarta : Permendiknas No.
24 Tahun 2002.
Depdiknas. (2007). Standar Pengelolaan Pendidikan. Jakarta : Permendiknas No. 27 Tahun 2007.
Guba. E.G and Lincoln. Y.S .(2008). Effective Evaluation: Improving the usefulnes of Evaluation Results Throught Responsive and Naturalistic Approaches. San Francisco:
Jossey-Base Publisher.
Hamalik, O. (2008). Manajemen Pengembangan Kurikulum : Bandung, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia dengan Remaja Rosdakarya.
http://www.google.co.id/search?hl==id&q=Pendekatan+Kurikulum&meta=
http://kampus.okezone.com/read/2013/01/07/373/742518/kurikulum-2013 Iskandar.(2008). Penelitian Kualitatif Dasar-dasar dan Aplikasi. Malang: YA.
Lucko,Spriduso dan Silverman. (2003). Collaboration as dialogue: Teachers and researchers engaged in conversation and proffesional development. American Education Research Journal, 33 (1).
Moleong. J.L. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. (2007). Implementasi Kurikulum Tingakt Satuan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nasution, Taufik. A. (2008). Penyusunan , Pengembangan dan Implementasi Kurikulum.
Purbalingga : Remaja Rosdakarya.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan , Jakarta : Sinar Grafika
Permadi, D. (2009). Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dan Komite Sekolah.
Bandung: Sarana Panca Karya Nusa.
Singarimbun. M dan Efendi. (1995). Pengujian Reliabilitas Penelitian.Bandung:Angkasa.
Sugiono. (2000).Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sudijana. (2002). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran : Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Sudarwan. (2002). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa.
Sukmadinata. N. S. (2006). Pengembangan Kurikulum (Teori dan Praktek . Bandung : Remaja Rosdakarya
Susilo. (2007). Implementasi Kurikulum. Bandung:Pustaka Setia.
Sumadinata, Nana Syaodah.(2007). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek.
Bandung : PT. Rosdakarya.
75 Sudrajat, Akhmad. 2008. Pengembangan Kurikulum (http://istpi).
Supriadi,D. (2008). Satuan Biaya Pendidikan dasar dan menengah. Bandung: PT . Remaja Rosda Karya.
Straung Corbin. (2010). Qualitative Research for Education: An introduction to Theory and Method.Boston : Allyn and Bacon. Inc.
Usman. (2000). Ilmu Pendidikan, Teoritis dan Praktis. Bandung : Rosda
Undang-Undang RI. No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional : Jakarta, Sinar Grafika.
Wordpress. com/2008/10/27/ pengembangan-kurikulum/diakses pada tanggal 20 Nopember (2008).
Zaini, M. (2010). Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Konsep dan Inovasi.
(Yogyakarta: Teras, 2011), hlm 45. Lihat syaiful Sagala, Konsep dan makna Pembelajaran. (Bandung: Alfabeta, 2010)
Zen Muhammad, (2010). Asas dan Pengembangan Kurikulum. (Yogyakarta:
Sumbangsih, Offset, 2011).