• Tidak ada hasil yang ditemukan

Spider Construction Readiness Assessment: Studi Kesiapan Proyek Pembangunan Gedung Asrama MTsN 6 Sleman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Spider Construction Readiness Assessment: Studi Kesiapan Proyek Pembangunan Gedung Asrama MTsN 6 Sleman"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

p-ISSN: 2338-1825; e-ISSN: 2579-4159 http://jurnal.ustjogja.ac.id/index.php/tamanvokasi

Hal

Spider Construction Readiness Assessment: Studi Kesiapan

Proyek Pembangunan Gedung Asrama MTsN 6 Sleman

Muhammad Atana Nur Fauzi 1, Agus Priyanto 2

1,2Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa,

Yogyakarta

E-mail: 2[email protected]

Abstracts. Delays in construction projects are caused by incorrectly estimating the time needed to complete the project in the planning stage, inaccurate management, problems with materials, labor, equipment, finance, and an unfavorable environment that hinders project implementation. Project delays for the contractor will incur time and cost losses. For the Owner, delays in completing project work will cause losses to the operational time of the project results. The case study reviewed was the construction of the MTsN 6 dormitory building located in Rogoyudan, Sinduadi, Mlati District, Sleman Regency, Yogyakarta. The idea to minimize delays in development projects is to create a readiness assessment system in the form of a spider construction readiness assessment, namely an assessment of aspects of administrative documents, site location, funds and materials, implementation methods, quality and quantity of human resources, project design, and external factors. The preparation of an assessment is based on 45 factors that can hinder the development of a project. The results of the assessment show that the total score obtained from all aspects is 52 out of 70. This means that construction project readiness has a figure of 74.29%. Aspects that need to be improved in performance are aspects of design readiness, aspects of method readiness, and aspects of external studies. The final results of the study indicate that the Spider construction readiness assessment can be used as a way to improve work efficiency at the pre-construction stage

.

Keywords: project delays, project readiness, spider construction readiness assessment

Latar Belakang

Proyek pembangunan kosntruksi di segala bidang sedang giat dilaksanakan baik oleh

pelaku usaha maupun sektor

pemerintahan.Pembangunan adalah usaha untuk memperbaiki, merenovasi, dan memperbarui desain rancangan yang diinginkan.Oleh karena itu, hasil pembangunan konstruksi dapat meningkatkan fungsi dan meningkatkan kenyamanan bagi pemilik/pengguna di dalamnya.

Pelaksanaan proyek yang tidak sesuai dengan rencana, dapat mengakibatkan keterlambatan proyek. Pada pelaksanaan proyek konstruksi, keterlambatan proyek seringkali terjadi, yang dapat menyebabkan berbagai bentuk kerugian bagi penyedia jasa dan pengguna jasa. Bagi kontraktor, keterlambatan selain dapat menyebabkan pembekakan biaya proyekakibat bertambahnya waktu pelaksanaan proyek, dapat pula mengakibatkan menurunnya kredibilitas kontraktor untuk waktu yang akan

datang. Sedangkan bagi pemilik, keterlambatan penggunaan atau pengoperasian hasil proyek konstruksi dan seringkali berpotensi menyebabkan timbulnya perselisihan dan klaim antara pemilik dan kontraktor (Soeharto, 1997). Keuntungan jika proyek konstruksi berjalan tepat waktu adalah sangat diinginkan baik oleh kontraktor, owner, maupun pihak-pihak lain yang terkait, terutama jika dengan instansi pemerintahan.Untuk meminimalisir terjadinya pemberhentian proyek di pertengahan waktu, maupun tidak berjalannya proyek pembangunan sesuai dengan jadwal, maka akan dibuat sebuah manajemen awal melalui konsep assessment sebagai langkah penilaian awal yang ditinjau dari sisi dokumen administrasi, site lokasi, dana dan material, metode pelaksanaan, kualitas dan kuantitas SDM, desain project, dan faktor eksternal.

Studi kasus yang ditinjau adalah pembangunan gedung asrama MTsN 6 Sleman yang berlokasi di Rogoyudan, Sinduadi,

(2)

Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Proyek tersebut merupakan proyek gedung lantai 2 untuk hunian siswi MTsN. Dilihat dari urgensinya, proyek ini harus segera diselesaikan oleh pihak Kontraktor mengingat merupakan sebuah tempat tinggal di asrama. Tentunya keterlambatan pembangunan harus dhidari.Ide untuk meminimalisir keterlambatan proyek pembangunan adalah dengan membuat sebuah sistempenilaian kesiapan berupa spider construction readiness assessment berupa penilaian dari segala aspek yang dapat menghambat proyek pembangunan.Kesiapan sebuah proyek akan divisualisasikan dalam bentuk diagram laba-laba yang bersifat komprehensif.

. Metode

. Gambar 1. Diagram Alir Penelitian

Data primer hasil wawancara dan pengamatan langsung dilapangan dsajikan dalam tabel berikut:

Tabel 1. Hasil Pengamatan Kesiapan Pembangunan Gedung Asrama MTsN 6 Sleman

Yoagyakarta

Aspek I : Kesiapan Dokumen

Data Ket.

1) Dokumen penandatangan kontrak Lengkap

2) Kelengkapan dokumen tender Lengkap

3) Surat perjanjian kerja dan kesepakatan dalam pengerjaan kepada pemilik

Lengkap

4) Dokumen perencanaan Lengkap

Aspek II : Kesiapan Site Lokasi

Data Ket.

1) Survey lokasi proyek dan pelaporan hasil survey

Sudah Terlaksana 2) Kajian penggunaan lahan untuk

penyimpanan material di sekitar area proyek

Sudah Terlaksana 3) Penyerahaan lahan untuk

konstruksi

Sudah Terlaksana

4) Pematokan lahan untuk konstruksi Sudah

Terlaksana

Aspek III : Kesiapan Dana dan Material

Data Ket.

1) Evaluasi keuangaan perusahaan Terlaksana

2) Dokumen dan berkas berkas pencairan dana proyek

Terlaksana 3) Survey harga material dan

ketersediannya di pasaran

Terlaksana 4) Dana cadangan perusahaan untuk

antisipasi keterlambatan pembayaran

Tidak Ada 5) Audit dan Pengecekan ulang RAB Terlaksana

6) Dokumen perjanjian pembayaran Terlaksana

Aspek IV : Kesiapan Metode Pelaksanaan

Data Ket.

1) Sosialisasi dan pemahaman metode pekerjaan

Terlaksana 2) Dokumen pengawasan pekerjaan

harian, mingguan, dan bulanan

Lengkap 3) Dokumen pengawasan material

harian, mingguan, dan bulanan

Lengkap 4) Dokumen pengecekan material

dan PIC material agar sesuai dengan spek

Tidak Ada Berkas 5) Sosialisasi sistem komunikasi dan

PIC dalam proyek pembangunan

Tidak Terlaksana 6) Inventarisasi APD, peralatan

berat, dan penggantian peralatan yang rusak

Terlaksana

7) Dokumen Notulensi

perkembangan pembangunan proyek sekaligus evaluasi mingguan

Lengkap

8) Penanda Timeline Kerja Proyek di area lokasi

Tidak Terlaksana

Aspek V : Kesiapan Kualitas dan Kuantitas SDM

Data Ket.

1) Pelatihan penggunaan APD dan Keselamatan Kerja di lingkungan Proyek

Terlaksana

2) Cadangan pekerja dan pengawas untuk antisipasi kekurangan tenaga kerja

(3)

3) Pelatihan penggunaan alat-alat konstruksi dan skill pekerjaan-pekerjaan dalam proyek konstruksi

Tidak Terlaksana

4) Sosialisasi timeline kerja proyek untuk antisipasi keterlambatan pengerjaan

Terlaksana

Aspek VI : Kesiapan Desain Proyek

Data Ket.

1) Skema pengerjaan jika terjadi perubahan desain

Tersedia

2) Audit dan cross check DED Terlaksana

3) Sistem komunikasi yang jelas dan bertanggungjawab antara kontraktor dengan pemilik proyek terkait desain dan gambar kerja

Tidak ada system yang jelas 4) Timeline cadangan untuk

antisipasi terjadinya perubahan desain

Tidak ada timeline cadangan

Aspek VII : Kajian Faktor Eksternal

Data Ket.

1) Dokumen kajian perkiraan cuaca dan antisipasi bencana alam

Tidak Ada

2) Dokumen kajian situasi politik Tidak Ada

3) Dokumen kajian lingkungan sekitar proyek dan respons masyarakat

Lengkap

4) Dokumen kajian harga material di pasaran

Lengkap

Pembahasan akan disajikan dalam bentuk diagram radar. Diagram radar merupakan metode grafis berbentuk grafik dua dimensi

yang menggambarkan data multivarian, dimana

tiga atau lebih variabel kuantitatif digambarkan dalam bentuk sumbu yang dimulai dari titik yang sama. Grafik radar terdiri dari jari-jari yang mewakili nilai satu variabel. Panjang dari jari-jari tersebut menggambarkan besarnya nilai variabel. Jari-jari tersebut kemudian dihubungkan dengan garis, sehingga membentuk plot yang berbentuk radar. Diagram radar dikenal juga dengan sebutan diagram sarang laba-laba (Spider Graph). Menurut Lestari (2008), diagam radar ini digunakan untuk memudahkan dalam mengamati suatu pemisahan logis antara variabel-variabel yang akan dibandingkan.

Gambar 2. Spider Diagram

Aplikasi dari diagram radar adalah sebagai kontrol dalam peningkatan kualitas untuk menampilkan metrik kinerja dari setiap program yang sedang berlangsung.

Hasil dan Pembahasan

a. Penyusunan Form Kesiapan Proyek sebagai Readiness Assessment

Penyusunan form di dasarkan pada teori-teori dalam manajemen konstruksi. Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, bahwa terdapat 45 faktor yang dapat menghambat pembangunan suatu proyek.Oleh karena itu, readiness assessment disusun sebagai langkah untuk meminimalisir terjadinya faktor-faktor tersebut. Adapun di dalam form dibagi menjadi 7 aspek penilaian yaitu :

1) Aspek kesiapan dokumen 2) Aspek kesiapan site lokasi

3) Aspek kesiapan dana dan material 4) Aspek kesiapan metode pelaksanaan 5) Aspek kualitas dan kuantitas SDM 6) Aspek kesiapan desain proyek 7) Aspek kajian faktor eksternal b. Skoring Data Hasil Penelitian

Kelengkapan dokumen dan hal-hal teknis yang dilakukan dalam tahap pra konstruksi diberikan skor penilaian sesuai dengan porsi masing-masing. Semakin tinggi nilai skor yang diberikan, maka dapat dikatakan bahwa semakin siap proyek konstruksi untuk dijalankan. Skor minimal yang digunakan adalah 0 jika tidak ada kesiapan dalam aspek penilaian dan skor maksimal adalah 10 jika lengkap dan telah melaksanakan kategori-kategori dalam sistem penilaian per aspek.Rangkuman hasil skoring dalam tiap aspek terlampir dalam tabel di bawah ini. Tabel 2. Skoring Nilai Assessment Kesiapan Proyek Pembangunan Gedung Asrama MTsN 6 Sleman Yogyakarta

Aspek I : Kesiapan Dokumen

Skor Skor Total Data Ket. 1) Dokumen penandatangan kontrak Lengkap 2/2 10/10 2) Kelengkapan dokumen tender Lengkap 3/3

(4)

3) Surat perjanjian kerja dan kesepakatan dalam pengerjaan kepada pemilik Lengkap 2/2 4) Dokumen perencanaan Lengkap 3/3

Aspek II : Kesiapan Site

Lokasi Skor Skor

Total Data Ket. 1) Survey lokasi proyek dan pelaporan hasil survey Sudah Terlaksa na 3/3 10/10 2) Kajian penggunaan lahan untuk penyimpanan material di sekitar area proyek Sudah Terlaksa na 2/2 3) Penyerahaan lahan untuk konstruksi Sudah Terlaksa na 3/3 4) Pematokan lahan untuk konstruksi Sudah Terlaksa na 2/2

Aspek III : Kesiapan Dana dan

Material Skor Skor

Total Data Ket. 1) Evaluasi keuangaan perusahaan Terlaksa na 1/1 8/10 2) Dokumen dan berkas berkas pencairan dana proyek Terlaksa na 2/2 3) Survey harga material dan ketersediannya di pasaran Terlaksa na 2/2 4) Dana cadangan perusahaan untuk antisipasi keterlambatan pembayaran Tidak Ada 0/2 5) Audit dan Pengecekan ulang RAB Terlaksa na 2/2 6) Dokumen perjanjian pembayaran Terlaksa na 1/1

Aspek IV : Kesiapan Metode

Pelaksanaan Skor Skor Total Data Ket. 1) Sosialisasi dan pemahaman metode pekerjaan Tidak Terlaksa na 0/1 6/10 2) Dokumen pengawasan pekerjaan harian, Lengkap 2/2 mingguan, dan bulanan 3) Dokumen pengawasan material harian, mingguan, dan bulanan Lengkap 1/1 4) Dokumen pengecekan material dan PIC material agar sesuai dengan spek Tidak Ada Berkas 0/1 5) Sosialisasi sistem komunikasi dan PIC dalam proyek pembangunan Tidak Terlaksa na 0/1 6) Inventarisasi APD, peralatan berat, dan penggantian

peralatan yang rusak

Terlaksa na 2/2 7) Dokumen Notulensi perkembangan pembangunan proyek sekaligus evaluasi mingguan Lengkap 1/1 8) Penanda Timeline Kerja Proyek di area lokasi

Tidak Terlaksa

na

0/1

Aspek V : Kesiapan Kualitas

dan Kuantitas SDM Skor Skor Total Data Ket. 1) Pelatihan penggunaan APD dan Keselamatan Kerja di lingkungan Proyek Terlaksa na 3/3 7/10 2) Cadangan pekerja

dan pengawas untuk antisipasi kekurangan tenaga kerja Tersedia 2/2 3) Pelatihan penggunaan alat-alat konstruksi dan skill pekerjaan-pekerjaan dalam proyek konstruksi Tidak Terlaksa na 0/3 4) Sosialisasi timeline kerja proyek untuk antisipasi keterlambatan pengerjaan Terlaksa na 2/2

Aspek VI : Kesiapan Desain

Proyek Skor Skor

Total

(5)

1) Skema pengerjaan jika terjadi

perubahan desain

Tersedia 2/2

5/10 2) Audit dan cross

check DED Terlaksa na 3/3 3) Sistem komunikasi yang jelas dan bertanggung jawab antara kontraktor dengan pemilik proyek terkait desain dan gambar kerja

Tidak ada system yang jelas 0/2 4) Timeline cadangan untuk antisipasi terjadinya perubahan desain Tidak ada timeline cadangan 0/3

Aspek VII : Kajian Faktor

Eksternal Skor Skor Total

Data Ket.

1) Dokumen kajian perkiraan cuaca dan antisipasi bencana alam Tidak Ada 0/2 6/10 2) Dokumen kajian situasi politik Tidak Ada 0/2 3) Dokumen kajian lingkungan sekitar proyek dan respons masyarakat Lengkap 3/3 4) Dokumen kajian harga material di pasaran Lengkap 3/3

c. Spider Construction Readiness Asssessment

Berdasarkan hasil skoring yang dlakukan pada Tabel 2, maka segi kesiapan yang dinilai lengkap adalah aspek kesiapan dokumen dan aspek kesiapan site lokasi dengan skor 10. Aspek dengan total skor rata-rata adalah aspek kesiapan dana-material dan aspek kesiapan kualitas dan kuantitas SDM. Aspek dengan nilai 7-8 membutuhkan sedikit improvement

(Perbaikan kecil), sehingga kesiapan lebih matang. Adapun aspek yang perlu diberikan upaya lebih untuk menaikan kesiapan proyek pembangunan adalah aspek kesiapan metode pelaksanaan, kesiapan desain proyek, dan aspek kajian faktor eksternal.Secara ringkas dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 3. Rangkuman Skor Penilaian Per Aspek

Aspek Skor

Aspek Kesiapan Dokumen 10

Aspek Kesiapan Site Lokasi 10

Aspek Dana dan Material 8

Aspek Kesiapan Metode Pelaksanaan 6

Aspek Kualitas dan Kuantitas SDM 7

Aspek Kesiapan Desain Proyek 5

Aspek Kajian Faktor Eksternal 6

Total skor yang diperoleh dari keseluruhan aspek adalah 52 dari total skor 70. Artinya kesiapan proyek konstruksi memiliki angka 74,29%. Berdasarkan tabel di atas, dapat dibuat diagram spider atau diagram web yang dapat digunakan sebagai penilaian terhadap kesiapan pembangunan proyek Gedung Asrama MTsN 6 Sleman Yogyakarta. Diagram yang disajikan terdapat dalam Gambar di bawah ini:

10 10 8 6 7 5 6 0 2 4 6 8 10 Aspek Kesiapan Dokumen Aspek Kesiapan Site Lokasi Aspek Dana dan

Material Aspek Kesiapan Metode… Aspek Kualitas dan Kuantitas… Aspek Kesiapan Desain Proyek Aspek Kajian Faktor Eksternal

Gambar 3. Diagram hasil penilaian dari proyek pembangunan gedung asrama MTsN 6 Yogyakarta

Aspek dengan skor rendah menunjukkan bahwa perlu langkah tindak lanjut untuk antisipasi terjadinya faktor penyebab keterlambatan pembangunan proyek. Hasil kajian menunjukkan bahwa tidak adanya kajian terkait bencana alam, situasi politik, dan perkiraan cuaca.

Kajian untuk aspek kesiapan desain memiliki skor terendah. Tidak adanya komunikasi yang jelas dapat membuat proyek konstruksi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Di lapangan menunjukkan bahwa pemilik proyek (daam hal ini pihak MTsN 6 Sleman Yogyakarta) tidak begitu memhami gambar kerja. Pihak sekolah lebih paham jika gambar kerja sudah dibuat aslinya. Setelah pembangunan telah terjadi perubahan desain karena client tidak menginginkan desain yang telah disepakati, seperti contohnya posisi anak tangga dan kondisi basement. Hal ini membuat kontraktor dan tim pengawas melakukan perhitungan ulang dan redesain secara menyeluruh sebagai langkah kalkulasi detail. Oleh karena itu, perlu dibangun sebuah komunikasi yang jelas dan bertanggung jawab terutama pada aspek pemahaman terhadap gambar kerja, bagaimana menyampaikan dengan jelas kepada orang awam. Mungkin

perlu adanya gambar 3D untuk

(6)

Terdapat celah pada aspek kualitas SDM. Celah tersebut adalah tidak adanya pelatihan penggunaan alat-alat berat kepada pekerja. Proyek pembangunan gedung asrama melibatkan alat-alat berat dalam konstruksi. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa hanya beberapa orang yang menguasi alat-alat tersebut. Hal ini dinilai kurang efektif karena jika pekerja yang bersangkutan tidak masuk kerja, maka akan kewalahan dalam mengoperasikan. Selain itu, pekerja juga perlu diberikan pemahaman terkait dengan metode yang akan digunakan selama proyek pembangunan. Ketika setiap pekerja mengetahui metode yang digunakan, maka pekerjaan akan lebih cepat. Oleh karena itu, masukan yang dapat diberikan kepada kontraktor adalah memberikan pelatihan kepada pekerja supaya lebih terampil sekaligus memberikan pemahaman terkait metode.

Hal-hal kecil yang dapat ditingkatkan kualitasnya adalah pemasangan timeline kerja di sekitar area proyek. Penanda ini dapat dijadikan sebagai acuan dan pengingat bagi pekerja. Selain itu, dokumen untuk pengecekan kualitas perlu disiapkan sebagai antisipasi jika terjadi perbedaan kualitas yang telah dibeli/disepakati.

Simpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

a. Spider construction readiness assessment dapat dijadikan salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi kerja pada tahap pra-konstruksi karena menghasilkan persentase kesiapan proyek dari 7 aspek penilaian.

a. b. Skema penilaian dilakukan dengan meninjau 7 aspek yaitu, aspek kesiapan dokumen, aspek kesiapan site lokasi, aspek dana dan material, aspek kesiapan metode, aspek kualitas dan kuantitas, aspek kesiapan desain, dan aspek kajian faktor lain.

c. Persentase kesiapan proyek

pembangunan gedung asrama MTsN 6 Sleman Yogyakarta adalah 74,29% dan dapat dikatakan layak.

Daftar Rujukan

Alexandra and Partner Consultant.2007. Jenis-Jenis Dokumen Lelang Pengadaan.

Armani, K. A. 2012. Pengantar Manajemen Proyek. Jakarta. Universitas Guna Dharma

Ervianto, I.W. 2005. Manajemen Proyek Konstruksi Edisi Revisi. Yogyakarta. Dipohusodo, I. 1996. Manajemen Proyek dan

Konstruksi 2, Kanisius, Yogyakarta Geller, E, Scott. 2001. The Psychology of

Safety Handbook. CRC Press LLC:USA Hafnidar A. R., 2016. Manajemen Proyek

Konstruksi. Edisi 1. CV Budi Utama, Yogyakarta.

Jerome Arcaro. 2007. Pendidikan Berbasis Mutu; Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Kaming, P.F.,dkk; 2000.Analisa Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan pada Proyek proyek Konstruksi, Yogyakarta

Lestari, Sri, 2008, Kajian Efektivitas Model Penumbuhan Klaster Bisnis UKM Berbasis Agribisnis, Jakarta

Proboyo, B; 1998.Keterlambatan Waktu Pelaksanaan Proyek; Klasifiasi dan Peringkat dari Penyebab-penyebabnya, Universitas Kristen Petra, Surabaya Simarga, I., Surv. Sc.1997.Pengukuran dan

Pemetaan Pekerjaan Konstruksi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta

Soeharto, I., 1995. Manajemen Proyek Dari

Konseptual Sampai

Operasional.Erlangga, Jakarta.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Manajemen. Bandung. Penerbit Alfabeta Wahyudi, R dan Indra Yono, C. 2006.Pengaruh

Keterlambatan Proyek

terhadapPembekakan Biaya Proyek. Universitas Kristen Petra, Surabaya. Wijayanthi, S. 2008. Faktor-faktor Penyebab

Keterlambatan Waktu Pembangunan Proyek Gedung Negara di Lingkungan Pemerintah Kota Kediri, ITS

Zainal, A. 2012.Evaluasi Pembelajaran. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Kementerian Agama.Jakarta

Gambar

Tabel 1. Hasil Pengamatan Kesiapan  Pembangunan Gedung Asrama MTsN 6 Sleman
Tabel  2.  Skoring  Nilai  Assessment  Kesiapan  Proyek Pembangunan Gedung Asrama MTsN 6  Sleman Yogyakarta
Gambar 3. Diagram hasil penilaian dari proyek  pembangunan  gedung  asrama  MTsN  6  Yogyakarta

Referensi

Dokumen terkait