• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PROGRAM MUSRENBANG DI KECAMATAN BONTONOMPO KABUPATEN GOWA TESIS. Oleh : MUHAMMAD ZAKIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IMPLEMENTASI PROGRAM MUSRENBANG DI KECAMATAN BONTONOMPO KABUPATEN GOWA TESIS. Oleh : MUHAMMAD ZAKIR"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PROGRAM MUSRENBANG DI KECAMATAN BONTONOMPO KABUPATEN GOWA

TESIS Oleh :

MUHAMMAD ZAKIR

105.03.14.009.18

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER ILMU ADMINISTRASI PUBLIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR

2020

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

IMPLEMENTASI PROGRAM MUSRENBANG DI KECAMATAN BONTONOMPO KABUPATEN GOWA

Yang disusun dan diajukan Oleh

MUHAMMAD ZAKIR

Nomor Induk Mahasiswa : 105.03.14.009.18

Menyetujui Komisi Pembimbing

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. H. Lukman Hakim, M.Si Dr. H. Anwar Parawangi, M.Si

Mengetahui :

Direktur Program Pascasarjana Ketua Program Studi

Unismuh Makassar Magister Administrasi Publik

Dr. H. Darwis Muhdina.M.Ag Dr. Hj. Fatmawati, M.Si

NBM.483523 NBM. 1076424

(3)

LEMBAR PERBAIKAN TESIS

Yang bertanda tangan dibawah ini menerangkan bahwa mahasiswa : Nama Mahasiswa : Muhammad Zakir

NIM : 105.03.14.009.18

Program Studi : Magister IlmuAdministrasi Publik

Judul Tesis : Implementasi Program Musrenbang di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa

Setelah diperiksa dan diteliti, maka TESIS ini telah memenuhi syarat untuk diujikan pada ujian tutup.

Demikian persetujuan ini diberikan untuk digunakan dalam proses administrasi selanjutnya.

Makassar, 7 Oktober 2020 Disetujui oleh

Komisi Penguji :

Dr. H. Lukman Hakim, M.Si. ...

(Ketua Pembimbing/Penguji)

Dr. H. Anwar Parawangi,M.Si ...

(Sekretaris Pembimbing/Penguji)

Dr. Hj. Fatmawati,M.Si ...

(Penguji)

Dr. Hafiz Elfiansyah Parawu, ST.,M.Si. ...

(Penguji)

(4)

ABSTRAK

Muhammad Zakir, 2020. Implementasi Program Musrenbang Dikecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa, dibimbing oleh H.Lukman Hakim dan H.

Anwar Parawangi., M.Si

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Implementasi Program Musrenbang Di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa aspek Pembangunan Kehidupan sosial masyarakat.

Jenis Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam dengan pejabat pada kantor Kecamatan Bontonomp Kabupaten Gowa, para kepala Desa,tokoh masyarakat , pengamatan dan dokumentasi, sementara tehnik analisis data yaitu melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi Program Musrenbang di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa dinilai efektif, Alasannya, Program musrenbang yang telah diimplementasikan sesuai dengan hasil usulan musyawarah masyarakat adapun program musrenbang yang tidak terealisasi dapat dimaknai sebagai program yang tidak tersingkronisasi dengan program di dinas instansi terkait.selanjutnya juga masalah ketersediaan anggaran menjadi sala satu faktor. Adapun program musrenbang dikecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa dinilai efektif karena disesuaikan dengan usulan didesa berdasarkan dengan skala prioritas.

Kata Kunci: Implementasi, Program, Musrenbang

(5)

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr Wb.

Dengan memanjatkan Puji dan Syukur Kehadirat Allah SWT atas segala Rahmat dan Karunianya pada penulis, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis yang berjudul “ IMPLEMENTASI PROGRAM MUSRENBANG DI KECAMATAN BONTONOMPO KABUPATEN GOWA “.

Tesis ditulis dalam rangka memenuhi sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Magister (S.2) di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa tesis dapat diselesaikan berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis berterima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan kontribusi dalam menyelesaikan Tesis ini.

Selanjutnya ucapan terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Dr. H. Darwis Muhdina, M.Ag sebagai Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah memberikan izin dan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di Program Pascasarjana di UNISMUH MAKASSAR.

(6)

2. Ibu Dr. Hj. FATMAWATI, M.Si, sebagai ketua Program Studi Magister Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan arahan awal sebelum seminar hasil.

3. Teristimewa untuk Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah memberikan doa, motivasi, sehingga saya bisa menyelesaikan studi ini hingga selesai.

4. Bapak Dr. H. LUKMAN HAKIM, M.Si. Sebagai pembimbing 1, yang telah mengarahkan dan membimbing penulis selama penulisan tesis.

5. Bapak Dr. H. ANWAR PARAWANGI, M.Si. Sebagai Pembimbing 2, yang telah mengarahkan dan membimbing penulis selama penulisan tesis.

6. Seluruh dosen dan staf administrasi serta petugas perpustakaan pada program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar, yang secara langsung atau tidak langsung telah memberi bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis.

7. Istri tercinta dan Anak-anak tersayang yang telah memberikan dorongan setulus hati dalam menyelesaikan studi program Pascasarjana, semoga ilmu yang penulis dapatkan bermanfaat bagi keluarga, dan

8. Seluruh rekan-rekan M.AP yang telah saling mendukung untuk melalui perjuangan bersama-sama, yang telah memberikan sumbangan pemikiran dan motivasi sehingga penulisan tesis dapat diselesaikan.

Semoga tesis ini dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang Ilmu Administrasi Publik di sekolah maupun

(7)

di Perguruan Tinggi serta bermanfaat bagi para pembaca. Amin yaa rabbal alamin.

Makassar, 7 Oktober 2020 Penulis

Muhammad Zakir NIM. 105.03.14.009.18

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERBAIKAN TESIS ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Penelitian Yang Relevan ... 8

B. Konsep Implementasi ... 10

C. Pembangunan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Desa ... 17

D. Kerangka Pikir ... 20

BAB III METODE PENELITIAN ... 23

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 23

B. Lokasi Penelitian ... 23

(9)

C. Jenis dan Sumber Data ... 23

D. Teknik Pengumpulan Data ... 24

E. Teknik Analisis Data ... 24

F. Tahapan-Tahapan Penelitian dan Jadwalnya ... 26

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 27

A. Deskripsi Karakteristik Obyek Penelitian ... 27

1. Deskripsi Geografis ... 27

2. Deskripsi Kelembagaan ... 27

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 32

1. Pelaksanaan Musrenbang di Kecamatan ... 32

C. Implementasi Program Musrenbang di Kecamatan Bontonompo. . 45

D. Program Kegiatan Yang telah di Musrenbangkan ... 46

1. Program dan Kegiatan yang telah disepakati pada musrenbang di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa ... 47

2. Program kegiatan yang telah di Implementasikan ... 47

3. Faktor penyebab program musrenbang belum terimplementasi ... 47

BAB IV PENUTUP ... 71

A. SIMPULAN ... 71

B. SARAN... 72

(10)

DAFTAR PUSTAKA ... 74

UNDANG – UNDANG DAN PERATURAN PERUNDANG – UNDANGAN ... 77

RIWAYAT HIDUP

LAMPIRAN – LAMPIRAN

1. INSTRUMEN PENELITIAN

2. IZIN PENELITIAN

(11)

ABSTRAK

Muhammad Zakir, 2020. Implementasi Program Musrenbang di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa. Dibimbing oleh H. Lukman Hakim dan H. Anwar Parawangi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi program Musrenbang di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa dilihat dari aspek komunikasi, struktur, sumber daya dan disposisi.

Jenis Penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan menggunakan teknik pengumpulan data wawancara mendalam dengan pejabat pada kantor Kecamatan Bontonomp Kabupaten Gowa, para kepala Desa,tokoh masyarakat ,dan dokumentasi, tehnik analisis data melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

Informan penelitian sebanyak 6 orang yang dikutip secara purposive.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi Program Musrenbang di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa dari aspek komunikasi sangat efektif, hal ini dilihat dari adanya komunikasi program dari Satuan kerja perangkat daerah. dari segi struktur juga sudah efektif, hal ini dilhat dari struktur birokrasi yang saling mendukung dalam Program musrenbang, dari segi sumber daya yang masih kurang, hal tersebut karena para anggota DPRD adalah orang yang masih baru dan belum berpengalaman. Dan secara keseluruhan implementasikan program musrenbang sudah sesuai dengan hasil usulan musyawarah masyarakat adapun program musrenbang yang tidak terealisasi dapat dimaknai sebagai program yang tidak tersingkronisasi dengan program di dinas instansi terkait.selanjutnya juga masalah ketersediaan anggaran menjadi sala satu faktor.

Adapun program musrenbang dikecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa sudah efektif karena disesuaikan dengan usulan didesa berdasarkan dengan skala prioritas.

Kata Kunci: Implementasi, Program, Musrenbang

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perencanaan pembangunan dapat diartikan sebagai Suatu proses perumusan alternatif-alternatif atau keputusan-keputusan yang didasarkan pada data-data dan fakta-fakta yang akan digunakan sebagai bahan untuk melaksanakan suatu rangkaian kegiatan/aktivitas kemasyarakatan, baik yang bersifat fisik (material) maupun nonfisik (mental dan spiritual) dalam rangka mencapai tujuan yang lebih baik”.

Sistem Perencanaan Pembangunan adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana – rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat baik ditingkat pusat maupun didaerah.

Dalam kaitan dengan sistem perencanaan pembangunan sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang – Undang nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. bahwa tugas pokok bangsa selanjutnya adalah menyempurnakan dan menjaga kemerdekaan itu serta mengisinya dengan pembangunan yang berkeadilan dan demokratis yang dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan, untuk menjamin agar kegiatan pembangunan berjalan efektif, efisien, dan bersasaran maka diperlukan perencanaan pembangunan Nasional, dengan disusunnya perencanaan pembangunan Nasional diharapkan dapat menjamin tercapainya tujuan negara yakni mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

(13)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah ( RPJMD) Kabupaten Gowa tahun 2016-2021 yang merupakan penjabaran dari Visi, misi dan program Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan , SH., MH dan wakil Bupati Gowa, H. Abdul Rauf Malagani, S.Sos., M.Si.

Dokumen RPJMD Kabupaten Gowa merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah yang dibuat setiap 5 ( Lima ) tahun sebagai bagian dari proses penyelenggaraan pemerintahan daerah yang tidak terpisahkan dari sistem perencanaan pembangunan nasional. Penyusunan RPJMD merupakan implementasi dari amanah Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang – Undang nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan undang – undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang perubahan kedua Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014.

Proses dan tahapan penyusunan dokumen RPJMD Kabupaten Gowa diawali dengan penyusunan Rancangan Teknokratis yang difasilitasi oleh P3Km Unhas dan didukung oleh Bappenas, Fasilitasi dimaksud dilakukan dalam bentuk workshop dengan melibatkan beberapa perwakilan dari berbagai satuan kerja perangkat daerah ( SKPD ) lingkup Pemerintah Kabupaten Gowa.

Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia, Pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan bernegara.

(14)

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah.

Isu sentral yang marak berkembang dalam beberapa dekade terakhir ini terutama sejak berlakunya orde reformasi dan otonomi daerah di Indonesia adalah inplementasi Musyawarah Perencanaan Pembangunan ( Musrenbang ) yang dikaitkan dengan isu partisipasi dan pembangunan kesejahteraan sosial dalam konteks community development. Sejumlah program-program yang ditujukan untuk pembangunan kesejahteraan sosial masyarakat dengan model pendekatan partisipatif

Di Kabupaten Gowa, terdapat 18 kecamatan dan salah satunya adalah Kecamatan Bontonompo dengan jumlah penduduk 42.646 Jiwa, 12.508 KK.

Sejumlah penduduk tersebut, tersebar pada 3 kelurahan dan 11 desa dengan struktur pelapisan masyarakat yaitu adanya golongan yang memimpin dan golongan yang dipimpin.

Musyawarah Perencanaan Pembangunan yang selanjutnya disingkat Musrenbang adalah forum antar pelaku dalam rangka menyusun rencana pembangunan Nasional dan rencana pembangunan Daerah. Musyawarah perencanaan dimulai dari Musyawarah dusun ( Musdus ) yang menyerap seluruh usulan dari tokoh yang ada didusun untuk duduk bersama membicarakan terkait apa yang akan dilakukan untuk pembangunan didusun tersebut, kemudian dilanjutkan dengan Musyawarah tingkat desa ( Musrenbang desa ) dan membahas terkait apa yang

(15)

menjadi skala prioritas di desa tersebut yang akan diajukan pada Musyawarah pembangunan tingkat kecamatan. Musrenbang tingkat kecamatan dilaksanakan dengan melibatkan seluruh unsur yakni, Anggota DPRD, Tripika, Dinas Instansi, Desa/Kelurahan, Ketua BPD/LKMD, Tokoh Agama, Tokoh Pendidik, Tokoh masyarakat,Tokoh Perempuan, dan Tokoh Pemuda. Musrenbang diselenggarakan dalam rangka menyusun Rencana Pembangunan Jangka panjang ( RPJP ) dan diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dengan mengikutsertakan masyarakat.

Usaha untuk mengatasi permasalahan sosial dan ekonomi yang dihadapi penduduk di Kecamatan Bontonompo tersebut, mutlak memerlukan peningkatan kesejahteraan sosial melalui pendekatan pembangunan partisipatif dari masyarakat.

Hal ini menuntut peran yang lebih besar dari camat untuk memainkan fungsi kepemimpinannya di dalam mendorong partisipasi masyarakat untuk memacu pembangunan kesejahteraan sosialnya.

Partisipasi diartikan sebagai keikutsertaan seseorang secara sukarela tanpa dipaksa dengan kata lain partisipasi adalah keterlibatan secara spontan dengan kesadaran disertai tanggung jawab terhadap kepentingan kelompok untuk mencapai tujuan, dalam kegiatan musyawarah penyusunan perencanaan pembangunan.

Tuntutan akan peranan kepemimpinan camat tersebut perlu dan sangat penting untuk dioptimalkan sesuai dengan dimensi-dimensi peranan yang dibutuhkan dalam upaya meningkatkan partisipasi masyarakat tersebut. Realitas perkembangan yang terjadi, dimana hasil pelaksanaan Musrenbang tidak sesuai dengan harapan masyarakat yang telah mengikuti tahapan pelaksanaan musrenbang untuk

(16)

meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai program-program pemerintah yang ditujukan untuk peningkatan pembangunan kesejahteraan sosial.

Sejumlah perilaku camat dengan power dan otoritas yang dimiliki cenderung hanya menggunakan partisipasi masyarakat bukan didasarkan pada komitmen untuk pembangunan kesejahteraan sosial masyarakat melainkan untuk kepentingan tertentu misalnya pilkada dan pilkades.

Hal ini pada akhirnya akan mengurangi partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan musrenbang yang sebenarnya menjadi harapan dalam peningkatan pembangunan kesejahteraan sosial, hal itu perlu dilakukan Untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial ekonomi, sehingga diharapkan mereka dapat meningkatkan pendapatan dan taraf hidupnya, namun kenyataannya hal ini berjalan kurang optimal dan tidak sesuai yang diharapkan.

Kondisi pembangunan kesejahteraan sosial masyarakat di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa yang dinilai relatif masih terbelakang, dimana hal ini menuntut peran pemerintah kecamatan sebagai aktor pembangunan atau sebagai agen pembaharu untuk mengaktualisasikan kepemimpinannya di dalam mempengaruhi sikap dan perilaku serta opini masyarakat setempat agar mau meningkatkan taraf hidupnya dengan berpartisipasi terhadap program-program pemerintah yang berkaitan dengan hal ini.

Pelaksanaan Program Musrenbang di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa seharusnya mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dikecamatan Bontonompo dalam menciptakan masyarakat yang partisipatif sehingga arah dan

(17)

tujuan serta kebijakan program pembangunan nasional dapat terwujud sesuai dengan yang digariskan dalam UUD 1945, Pancasila dan GBHN, yaitu terwujudnya masyarakat adil makmur dan sejahtera. Jadi masyarakat disini diharapkan selain objek dari hasil pembangunan, tapi sekaligus sebagai subjek dalam perencanaan pembangunan.

Musrenbang adalah perencanaan untuk pelaksanaan pembangunan tahun anggaran berikutnya di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa. Sedangkan Peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah suatu tujuan yang mau dicapai.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diformulasikan rumusan masalah sebagai berikut:

“ Bagaimana Implementasi Program Musrenbang di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa? “

Penelitian ini difokuskan pada pemerintah kecamatan setempat yaitu Camat dan Kepala Desa dalam melakukan Implementasi Program Musrenbang di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menggambarkan Implementasi Program Musrenbang dalam mendorong partisipasi masyarakat melalui program-program yang ditujukan untuk

(18)

peningkatan pembangunan kesejahteraan sosial di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.

2. Menggambarkan program Musrenbang yang terealisasi dan tidak terealisasi yang ditujukan untuk peningkatan pembangunan kesejahteraan sosial di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat atau kegunaan baik teoritis maupun praktikal sebagai berikut.

1. Manfaat Teoritis :

a. Menambah khazanah pengembangan ilmu-ilmu administrasi khususnya pada Konsentrasi Kebijakan Publik Program Administrasi Publik Program Pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.

b. Sebagai bahan informasi bagi calon peneliti yang akan melakukan penelitian yang sama dengan fokus permasalahan pada analisis tentang Inplementasi Program Musrenbang meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap pembangunan kesejahteraan sosial di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.

2. Manfaat Praktikal:

a. Sebagai bahan masukan bagi Pemerintah khususnya di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa untuk mengoptimalkan Inplementasi

(19)

Musrenbang dalam mendorong tingkat partisipasi dan kesejahteraan sosial masyarakat.

b. Sebagai bahan informasi bagi masyarakat sehubungan dengan Inplementasi Porgram Musrenbang dalam mendorong partisipasi masyarakat terhadap pembangunan kesejahteraan sosial di Kecamatan Bontonompo.

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Yang Relevan

Supadmi Utin Sri Ayu 1, AB. Tangdililing 2, Mahyudin Syafei 3, Judul Pelaksanaan hasil musyawarah perencanaan Pembangunan (musrenbang) di kecamatan Kapuas kabupaten sanggau (Jurnal Tesis PMIS-UNTAN-PSIAN-2013 )

Tujuan Penelitian untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan pelaksanaan hasil Musrenbang di Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau belum sesuai dengan usulan kegiatan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua Kelurahan dan Desa di Kecamatan Kapuas mengusulkan kegiatan yang kurang lebih sama, yang membedakan hanya lokasi kegiatannya saja. Adapun jenis kegiatan tersebut terdiri dari bidang ekonomi, fisik dan sosial budaya. Berdasarkan daftar usulan yang diajukan oleh masyarakat disetiap desa/kelurahan terlihat fenomena usulan dalam Musrenbang di tingkat Kecamatan didominasi kegiatan fisik. Meskipun demikian prioritas kegiatan yang diusulkan untuk masing-masing desa/kelurahan berbeda.

Lebih jauh dari keterangan dari para informan menunjukkan berbagai aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat dalam pelaksanaan Musrenbang merupakan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, disini terlihat bahwa masyarakat sudah mengetahui apa yang harus mereka usulkan kepada pemerintah melalui

(21)

Musrenbang. Dan lebih dari itu dapat diketahui juga bahwasannya berbagai aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat lebih menitik beratkan pada hal-hal yang sifatnya urgen yaitu menyangkut kebutuhan hidup sehari-hari.

Bedanya dengan Penelitian ini adalah pokus penelitian pada Usulan – usulan pemerintah desa dan kelurahan tampa melibatkan partisipasi masyarakat sedangkan penelitian saya kepada Inplementasi Musrenbang dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dikecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa

Farid Moh. dan Noora Fithriana Judul Implementasi Kebijakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Sumenep (JISIP : Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ISSN. 2442-6962 Vol.5, No. 2 (2016) ) Tujuan Untuk Mengetahui sejauh mana partisipasi masyarakat dalam perencanaan Pembangungan, Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, Hasil Penelitian Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di Kabupaten Sumenep bisa dikategorikan sudah baik.

Dan sudah sesuai dengan teori yang dipakai dalam penelitian ini. Karena yang pertama hasil proses pelaksanaan Musrenbang Kabupaten Sumenep sudah sesuai dengan Visi-Misi Kabupaten Sumenep yang difokuskan pada sektor Pembangunan Kabupaten Sumenep

Stagmen di penelitian ini berfokus usulan usulan dari desa dan kelurahan di Kab. Sumenep sedangkan penelitian saya kepada seluruh aspek Inplementasi Program Musrenbang dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dikecamatan Bontonompo Kab. Gowa.

(22)

Padang Wendi Suprapto 1 Heri Kusmanto 2 ( JAP Vol.6 No.2 ) Judul : Perencanaan Partisipatif Dalam Proses Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Dairi Tahun 2014-2019.

Tujuan Penelitian ini untuk Mengetahui sejauh mana partisipasi masyarakat dalam proses penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah kabupaten Dairi metode penelitian yang digunakan bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, Penentuan subjek penelitian atau informan ini berdasarkan pendekatan purposive sampling. teknik pengumpulan data yang dipergunakan, Wawancara, Observasi dan Dokumentasi. Untuk menjawab pertanyaaan dalam penelitian ini digunakan teknik analisis dengan pendekatan kualitatif

Hasil Penelitian Partisipasi masyarakat dalam Proses Penyusunan RPJMD Kabupaten Dairi Tahun 2014-2019 masih cenderung bersifat elitis, tidak transparan serta belum mencerminkan keterwakilan unsur secara proporsional. Dimana dalam hal penentuan stakeholders masih didominasi oleh unsur pemerintah dan tidak terdapat transparansi dan kriteria yang jelas dari pihak pemerintah Kabupaten Dairi dalam hal kriteria-kriteria stakeholders yang mengikuti Musrenbang tersebut.

Dalam Penelitian ini partisipasi masyarakat tidak mendapatkan arahan dari pemerintah kecamatan di Kab. Dairi sedangkan dalam penelitian saya lebih fokus pada Inplementasi Program Musrenbang dalam meningkatkan partisipasi masyarakat di Kecamatan Bontonompo Kab. Gowa

(23)

B. Konsep Implementasi

Implementasi merupakan sebuah tindakan yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta, baik secara individu maupun kelompok dengan maksud untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Sementara implementasi menurut Nugroho, (2004:158) pada prinsipnya adalah cara yang dilakukan agar dapat mencapai tujuan yang dinginkan Implementasi merupakan prinsip dalam sebuah tindakan atau cara yang dilakukan oleh individu atau kelompok orang untuk pencapaian tujuan yang telah dirumuskan.

Implementasi menurut Meter Van dan Van Horn (1975:447), menjelaskan bahwa implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu individu/ pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan.

Berdasarkan pengertian di atas maka implementasi mempunyai unsur yaitu program, target dan pelaksanaan dalam mewujudkan tujuan yang diinginkan.

Sehingga dalam pelaksanaannya kecil kemungkinan terjadi kesalahan, kalaupun ada kesalahan maka akan dapat disadari dengan cepat. Meter Van dan Van Horn (1975:471) mengetengahkan beberapa unsur yang mungkin berpengaruh terhadap suatu organisasi dalam mengimplementasikan kebijakan :

1. Kompetisi dan ukuran staf suatu badan;

2. Tingkat pengawasan hierarkis terhadap keputusan-keputusan sub-unit dan proses- proses dalam badan-badan pelaksana;

(24)

3. Sumber-sumber politik suatu organisasi (misalnya dukungan diantara anggota anggota legislative dan eksekutif);

4. Vitalitas suatu organisasi;

5. Tingkat komunikasi-komunikasi “terbuka”, yang didefinisikan sebagai jaringan kerja komunikasi horizontal dan vertical secara bebas serta tingkat kebebasan yang secara relatif tinggi dalam komunikasi dengan individu individu diluar organisasi;

6. Kaitan formal dan informal suatu badan dengan badan “pembuat keputusan” atau

“pelaksanan keputusan”.

Pendapat yang diungkapkan Meter Van dan Van Horn ini adalah hal yang sangat penting, karena kinerja implementasi sangat dipengaruhi oleh sifat ataupun ciri-ciri dari pelaksana tersebut. Apabila implementor memiliki sifat atau karakteristik yang baik, maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan dalam menilai kinerja keberhasilan implementasi kebijakan. Jadi, implementasi itu merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan dalam suatu keputusan kebijakan.

Pemerintah dalam membuat kebijakan juga harus mengkaji terlebih dahulu apakah kebijakan tersebut dapat memberikan dampak yang buruk atau tidak bagi masyarakat. Hal tersebut bertujuan agar suatu kebijakan tidak bertentangan dengan masyarakat apalagi sampai merugikan masyarakat. Meter Van dan Van Horn (dalam Subarsono, 2006:95-100) mengemukakan model implementasi kebijakan yang menghadirkan bahwa implementasi kebijakan publik, implementor dan kinerja

(25)

kebijakan publik. Terdapat lima variabel yang mempengaruhi kinerja implementasi kebijakan publik yaitu standar dan sasaran kebijakan; sumber daya; komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas; karakteristik agen pelaksana; kondisi ekonomi sosial dan politik.

Model Implementasi kebijakan Meter Van dan Van Horn dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar II.1 Model Implementasi kebijakan Van meter dan Van Horn Selain model implementasi yang dikemukakan oleh Van Metter, terdapat model implementasi lainnya yaitu implementasi yang dikembangkan oleh Edward III.

Dalam pendekatan yang diteorikan oleh Edward III, terdapat empat variabel yang sangat menentukan efektivitas suatu kebijakan, yaitu: Komunikasi, Sumber Daya, Disposisi; dan Struktur Birokrasi. Model ini mengumpamakan implementasi kebijakan berjalan secara linier dari komunikasi, sumber daya politik yang tersedia dan pelaksanaan implementasi kebijakan. Pertama, yang mempengaruhi efektivitas implementasi dari suatu kebijakan, adalah komunikasi. Menurut Edward III

Komunikasi antar Organisasi dan Pelasana

Kegiatan

Standar dan Sasaran

Sumber daya

Karakteristik badan pelaksana

Sikap Pelaksana

Kinerja Kebijakan

Lingkungan Sosial, Ekonomi

dan Politik

(26)

komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik.

Model Kebijakan Implementasi menurut Edward III dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar II.2 Implementasi Edward III

Implementasi yang akan terjadi apabila para pembuat keputusan (decision maker) sudah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan. Pengetahuan atas apa yang

akan mereka kerjakan baru dapat berjalan manakala komunikasi berjalan dengan baik, sehingga setiap keputusan kebijakan dan peraturan implementasi harus ditransmisikan (atau dikomunikasikan) kepada bagian personalia yang tepat.

Selain itu, kebijakan yang dikomunikasikan pun harus tepat, akurat dan konsisten. Komunikasi (atau pentransmisian informasi) diperlukan agar para pembuat keputusan dan para implementor semakin konsisten dalam melaksanakan setiap kebijakan yang akan diterapkan dalam masyarakat. Kedua, menurut Edward III yang mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan adalah sumber daya.

Sumber daya merupakan hal penting lainnya dalam mengimplementasikan kebijakan dengan baik. Indikator indikator yang digunakan untuk melihat sejauhmana sumberdaya dapat berjalan dengan baik dan rapi, yaitu staf, informasi, wewenang dan

KOMUNIKASI

STRUKTUR

SUMBER DAYA

DISPOSISI

IMPLEMENTASI IIII

(27)

fasilitas. Ketiga, variabel yang mempengaruhi tingkat keberhasilan suatu kebijakan adalah disposisi.

Disposisi atau sikap dari pelaksana kebijakan adalah faktor penting ketiga dalam pendekatan mengenai implementasi suatu kebijakan. Jika implementasi suatu kebijakan ingin efektif, maka para pelaksana kebijakan tidak hanya harus mengetahui apa yang akan dilakukan tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, sehingga dalam praktiknya tidak menjadi bias. Hal-hal penting yang perlu dicermati pada variabel disposisi adalah pengangkatan birokrat dan insentif

Insentif merupakan salah-satu teknik yang disarankan untuk mengatasi masalah sikap para pelaksana kebijakan dengan memanipulasi insentif. Pada dasarnya orang bergerak berdasarkan kepentingan dirinya sendiri, maka memanipulasi insentif oleh para pembuat kebijakan mempengaruhi tindakan para pelaksana kebijakan.

Dengan cara menambah keuntungan atau biaya tertentu mungkin akan menjadi faktor pendorong yang membuat para pelaksana menjalankan perintah dengan baik. Hal ini dilakukan sebagai upaya memenuhi kepentingan pribadi atau organisasi.

Keempat, menurut Edward III yang mempengaruhi keberhasilan implementasi

suatu kebijakan adalah struktur birokrasi. Walaupun sumber-sumber untuk melaksanakan suatu kebijakan tersedia, atau para pelaksana kebijakan mengetahui apa yang harusnya dilakukan dan mempunyai keinginan untuk melaksanakan suatu kebijakan, tetapi kemungkinan kebijakan tersebut tidak dapat terlaksana atau terealisasi masih tetap ada karena terdapatnya kelemahan dalam struktur birokrasi.

(28)

Kebijakan yang begitu kompleks menuntut adanya kerjasama banyak orang, ketika struktur birokrasi tidak kondusif pada kebijakan yang tersedia, maka hal ini akan menyebabkan sumber-sumbernya.

Sementara itu, keberhasilan implementasi menurut Grindle (dalam Subarsono, 2005:94) dipengaruhi oleh dua variabel utama yaitu isi kebijakan (content of policy) dan lingkungan implementasi (context of implementation). Isi kebijakan mencakup:

(1) Kepentingan yang terpengaruhi oleh kebijakan; (2) jenis manfaat yang akan dihasilkan; (3) derajat perubahan yang diinginkan; (4) kedudukan pembuat kebijakan;

(5) siapa pelaksana program; (6) sumber daya yang dikerahkan. Variabel lingkungan kebijakan mencakup: (1) seberapa besar kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang dimiliki oleh para aktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan; (2) karakteristik institusi dan rezim yang sedang berkuasa; (3) tingkat kepatuhan dan responsivitas kelompok sasaran.

Gambar II.3 Model implementasi menurut Grindle

TujuanKebijakan

Tujuan yang ingin dicapai ?

Melaksanakan dipengaruhi oleh : a. Isi Kebijakan

1. Kepentingan Yang dipengaruhi 2. Tipe Manfaat

3. Derajat Perubahan yang diharapkan 4. Letak Pengambilan Keputusan 5. Pelaksanaan Program 6. Sumber daya yang dilibatkan b. Konteks Implementasi

1. Kekuasaan,Kepentingan dan strategi yang terlibat.

2. Karakteristik Lembaga dan Penguasa 3. Kepatuhan dan daya tanggap

Hasil Kebijakan a. Dampak pada

masyarakat, individu,dan Kelompok

b. Perubahan dan Penerimaan oleh masyarakat Program Aksi dan

Proyek Individu yang didesain dan dibiayai

Program yang dijalankan seperti yang direncanakan

Mengukur Keberhasilan

(29)

Menurut Mazmanian dan Sabatier dalam Subarsono (2005: 94) dan Tilaar dan Nugroho (2008: 215), ada tiga kelompok variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi :

a. Mudah tidaknya masalah dikendalikan (tractability of the problem).

Kategori tractability of the problem mencakup variabel-variabel yang disebutkan oleh Subarsono (2005: 95-96): (1) Tingkat kesulitan teknis dari masalah yang bersangkutan (2) Tingkat kemajemukan kelompok sasaran (3) Proporsi kelompok sasaran terhadap total populasi (4) Cakupan perubahan perilaku yang diharapkan”.

b. Kemampuan kebijakan untuk menstrukturisasikan proses implementasi (ability of statute to structure implementation)

Kategori ability of statute to structure implementation mencakup variabel- variabel yang disebutkan oleh Subarsono (2005: 97-98). (1) Kejelasan isi kebijakan (2) Seberapa jauh kebijakan tersebut memiliki dukungan teoretis (3) Besarnya alokasi sumberdaya finansial terhadap kebijakan tersebut (4) Seberapa besar adanya keterpautan dan dukungan antar instansi pelaksana (5) Kejelasan dan konsistensi aturan yang ada pada badan pelaksana (6) Tingkat komitmen aparat terhadap tujuan kebijakan (7) Seberapa luas akses kelompok-kelompok luar untuk berpartisipasi dalam implementasi kebijakan.

c. Variabel di luar kebijakan / variabel lingkungan (nonstatutory variables affecting implementation)

(30)

Kategori nonstatutory variables affecting implementation mencakup variabel- variabel yang disebutkan oleh Subarsono (2005: 98-99).”(1) Kondisi sosial ekonomi masyarakat dan tingkat kemajuan teknologi (2) Dukungan publik terhadap kebijakan (3) Sikap dari kelompok pemilih (constituent groups) (4) Tingkat komitmen ( 5 ) Dukungan dari penguasa dan keterampilan dari aparat dan implementor.

Gambar II.4. Implementasi Kebijakan Menurut Mazmanian dan Sabatier

Winter dalam Riant Nugroho (2007), mengidentifikasi empat variable kunci yang mempengaruhi keberhasilan implementasi, yaitu :

1. Proses formasi kebijakan

2. Perilaku Organisasi implementasi

Mudah tidaknya masalah dikendalikan

1. Tingkat kesulitan teknis dari masalah yang bersangkutan

2. Tingkat kemajemukan kelompok sasaran

3 Proporsi kelompok sasaran terhadap total populasi 4. Cakupan perubahan perilaku yang diharapkan

Variabel di luar kebijakan / variabel lingkungan 1. Kondisi dan teknologi sosial ekonomi 2. Media memperhatikan masalah tersebut 3. Dukungan publik

4. Sikap dan sumber daya kelompok pemilih 5. Dukungan dari penguasa

6. Keterampilan komitmen dan kepemimpinan dalam mengimplementasikan

7. Pejabat Kemampuan kebijakan untuk menstrukturisasikan proses

implementasi 1. Kejelasan isi kebijakan

2. Seberapa jauh kebijakan tersebut memiliki dukungan teoretis

3. Besarnya alokasi sumberdaya finansial terhadap kebijakan tersebut

4. Seberapa besar adanya keterpautan dan dukungan antar instansi pelaksana

5. Kejelasan dan konsistensi aturan yang ada pada badan pelaksana

6. Tingkat komitmen aparat terhadap tujuan kebijakan 7. Seberapa luas akses kelompok-kelompok luar untuk

berpartisipasi dalam implementasi kebijakan

Tahapan (variabel dependen) dalam proses implementasi

Keluaran kebijakan lembaga pelaksana

Kepatuhan terhadap keluaran

kebijakan oleh kelompok sasaran

Dampak aktual dari keluaran

kebijakan

Dampak yang dirasakan dari keluaran kebijakan

Revisi besar dalam undang-undang

(31)

3. Prilaku birokrat pelaksana ditingkat bawah (street-level bureaucrats).

4. Respon kelompok target kebijakan dan perubahan dalam masyarakat.

C. Konsep Partisipasi Masyarakat

Salah satu unsur penting yang diperlukan dalam menunjang keberhasilan pembangunan desa adalah partisipasi dari masyarakat itu sendiri dalam upaya memperbaiki taraf hidup mereka. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa mutlak diperlukan karena masyarakat yang memegang kendali pelaksanaan pembangunan baik sebagai objek maupun subjek dari pembangunan itu sendiri.

Partisipasi sepadan dengan arti peran serta, ikut serta, keterlibatan, atau proses belajar bersama saling memahami, menganalisis, merencanakan dan melakukan tindakan oleh sejumlah anggota masyarakat. Menurut Slamet ( 2003:8 ) Ada tiga tradisi konsep partisipasi terutama bila dikaitkan dengan pembangunan masyarakat yang demokratis yaitu: 1) partisipasi politik (Political Participation), 2) partisipasi sosial (Social Participation) dan 3) partisipasi warga (Citizen Participation/Citizenship), ke tiga hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Partisipasi Politik, political participation lebih berorientasi pada”mempengaruhi”

dan ”mendudukan wakil-wakil rakyat” dalam lembaga pemerintahan ketimbang partisipasi aktif dalam proses-proses kepemerintahan itu sendiri.

2. Partisipasi Sosial, social Participation partisipasi ditempatkan sebagai keterlibatan masyarakat terutama yang dipandang sebagai beneficiary atau pihak di luar proses pembangunan dalam konsultasi atau pengambilan keputusan dalam semua tahapan

(32)

siklus proyek pembangunan dari evaluasi kebutuhan sampai penilaian, implementasi, pemantauan dan evaluasi.

3. Partisipasi Warga, citizen participation/citizenship menekankan pada partisipasi langsung warga dalam pengambilan keputusan pada lembaga dan proses kepemerintahan.

Menurut Davis dalam Kusnaedi (1995), partisipasi adalah : Keterlibatan mental dan emosional dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan kontribusi kepada tujuan kelompok dan berbagai tanggung jawab pencapaian tujuan.

Dengan demikian yang dimaksud partisipasi adalah ikut secara bersama-sama dalam sebuah kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Selanjutnya Korten (1986:23) mengemukakan bahwa : Partisipasi adalah suatu tindakan yang mendasar untuk bekerja sama. Dimana kerjasama tersebut memerlukan waktu dan usaha agar menjadi mantap dan hanya bisa berhasil baik dan terus menerus bila ada kepercayaan bersama. Kepercayaan tidak datang dengan gampang , karena erat hubungannya dengan latar belakang daripada individu masing-masing.

Adapun partisipasi menurut Ndraha (1987:103-104),pada hakekatnya dapat dikategorikan menjadi 6 (enam) tahap, yaitu :

1. Partisipasi dalam atau kontak dengan pihak lain.

2. Partisipasi dalam memperhatikan atau menyerap dan member! tanggapan terhadap informasi.

3. Partisipasi dalam perencanaan pembangunan termasuk dalam pengambilan keputusan(penetapan)suatu rencana

(33)

4. Partisipasi dalam pelaksanaan operasional pembangunan

5. Partisipasi dalam menerima, memelihara dari mengembangkan hasil pembangunan.

6. Partisipasi dalam menilai hasil pembangunan.

Partisipasi memuat dua arah, yaitu partisipasi vertikal dan partisipasi horizontal.

Dalam konteks partisipasi vertikal, biasanya terjadi dalam kondisi tertentu dimana masyarakat terlibat atau mengambil bagian dalam suatu program pihak lain dalam hubungan mana masyarakat berada pada posisi sebagai bawahan atau pengikut atau klien. Sedangkan dalam konteks partisipasi horizontal, terjadi pada saat dimana setiap anggota/ kelompok masyarakat berpartisipasi antara satu dengan yang lain ( Raharjo, 1983).

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut partisipasi dalam pembangunan desa merupakan fungsionalisasi dari semua potensi yang ada, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia pada siluasi yang kondusif yang ditujukan kepada peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat desa.

Sementara itu menurut Tjokroaminoto (1995:208) pentingnya partisipasi dalam pembangunan karena alasan-alasan :

1. Rakyat adalah fokus sentral dan tujuan akhir pembangunan, partisipasi adalah merupakan akibat logis dari dalil-dalil tersebut.

2. Partisipasi menciptakan suatu lingkungan umpan balik arus informasi tentang aspirasi kebutuhan dan kondisi daerah yang tanpa keberadaannya tidak akan terungkap.

(34)

3. Partisipasi menimbulkan rasa harga diri dan kemampuan pribadi untuk turut serta dalam menentukan keputusan yang menyangkut masyarakat.

4. Memperluas wawasan penerimaan proyek pembangunan.

5. Partisipasi merupakan cara efektif membangun kemampuan masyarakat untuk pengelolaan program pembangunan guna memenuhi kebutuhan khas daerah.

6. Partisipasi dipandang sebagai pencerminan hak-hak demokrasi individual.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam setiap proses pembangunan mutlak diperlukan sebagai salah satu kunci keberhasilan dalam pelaksanaan pembangunan. Berhasil tidaknya pembangunan sangat tergantung kepada rasa kesadaran dan tanggung jawab dari masyarakat itu sendiri untuk berperan serta terhadap pembangunan yang dilaksanakan. Jadi partisipasi bukanlah keikutsertaan secara terpaksa melainkan karena adanya kesadaran akan rasa tanggung jawab sebagai anggota masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan pembangunan.

Dalam hal ini partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan pada Sebelas desa dan tiga kelurahan di Kecamatan Bontonompo, khususnya pembangunan kesejahteraan sosial, dilaksanakan dalam ;

1. Partisipasi dalam perencanaan pembangunan 2. Partisipasi dalam pelaksanaan pembangunan

3. Partisipasi dalam menilai (mengawasi) pembangunan

(35)

D. Pembangunan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Desa

Sebagai landasan dalam menjelaskan pembangunan kesejahteraan sosial masyarakat desa, terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian masyarakat maupun pembangunan desa.

Pengertian masyarakat menunjuk pada bagian masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah (dalam arti geografis) dengan batas-batas tertentu dimana faktor utama yang menjadi dasar adalah interaksi yang lebih besar diantara anggotanya dibanding dengan penduduk di luar batas wilayahnya (Soemardjan, 1982).

Sedangkan pembangunan menurut Todaro dalam Mubyarto Kartodirjo (1988:7) mengemukakan bahwa ;

Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang menyangkut reorganisasi dan reorientasi sistem ekonomi dan sistem sosial sebagai keseluruhan. Disamping peningkatan pendapatan dan output, pembangunan menyangkut pula perubahan radikal struktur kelembagaan, struktur sosial serta struktur adminstratif serta perubahan sikap, adat kebiasaan serta kepercayaan.

Adapun pengertian pembangunan desa itu sendiri menurut lnayatullah (Hagul, 1985) adalah :

Proses yang membawa peningkatan kemampuan penduduk pedesaan menguasai lingkungan sosial yang disertai meningkatnya taraf hidup mereka sebagai akibat dari penguasaan tersebut.

(36)

Definisi ini mempunyai beberapa implikasi penting, yaitu Pertama, adanya penekanan pada kemampuan menyeluruh dari penduduk pedesaan dalam mempengaruhi lingkungan mereka, dan hal ini hanya dapat dicapai kalau pengembangan pedesaan merupakan proses pengembangan kemandirian mereka.

Kedua, peningkatan pendapatan sebagai akibat peningkatan kemampuan menguasai

lingkungan tidak terbatas pada kelompok kuat di pedesaan melainkan harus merata di antara penduduk. Ketiga pembangunan berorientasi pada perubahan perekonomian masyarakat ke arah yang lebih baik.

Pembangunan tidaklah mutlak hanya berbentuk fisik, tetapi dapat juga berbentuk perubahan terhadap sumber daya manusianya dalam hal ini masyarakat desa itu sendiri. Adapun pengertian pembangunan masyarakat desa menurut Moeljarto Tjokrowinoto (1977: 36) adalah ;

Pembangunan masyarakat desa merupakan suatu bentuk tindakan kolektif suatu masyarakat desa yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat tersebut dalam arti material dan spiritual.

Berdasarkan pendapat di atas, arti terpenting dalam pembangunan masyarakat desa bukan sekedar membantu mereka dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, tetapi juga merupakan usaha untuk membentuk kemandirian dalam diri mereka, yang pada tahap selanjutnya diharapkan segala permasalahan yang ada disekitar mereka dapat diselesaikan dan diatasi oleh mereka sendiri.

(37)

Tujuan pembangunan masyarakat desa, tidak terlepas dari tujuan pembangunan nasional secara keseluruhan. Kondisi pedesaan mempunyai spesifikasi tertentu, baik dalam bidang sosial maupun bidang ekonomi, sehingga dalam hal ini tujuan pembangunan di pedesaan lebih ditekankan pada bidang ekonomi, sebab kondisi ekonomi inilah yang umumnya sangat memprihatinkan.

Diharapkan dengan adanya upaya pembangunan ekonomi ini akan dapat meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat desa secara keseluruhan. Seperti yang dikemukakan oleh (Friedman, 1992) bahwa :

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep dan kerangka yang ditujukan untuk mengikis fenomena kemiskinan dan mempromosikan keadilan serta keberlanjutan dalam perkembangan masyarakat, diasumsikan bahwa kemiskinan terjadi karena berlangsungnya perampasan daya mampu (disempowerment) terhadap golongan miskin .

Dari beberapa penjelasan di atas dapat diasumsikan bahwa pembangunan kesejahteraan sosial khususnya di pedesaan, merupakan pembangunan yang ditujukan untuk perbaikan ekonomi atau taraf hidup warga melalui upaya pemberdayaan dari masyarakat desa itu sendiri.

Kondisi desa dan masyarakat yang relatif masih jauh tertinggal dan terbelakang, memerlukan sentuhan sejumlah upaya pengembangan dan pembangunan agar mampu mandiri melalui pelaksanaan dari berbagai program-program pemberdayaan masyarakat yang secara konsisten diarahkan pada pengembangan kapasitas masyarakat itu sendiri.

(38)

Indikator keberhasilan yang dipakai untuk mengukur program-program pemberdayaan masyarakat, bila dapat menimbulkan manfaat yaitu :

1) Berkurangnya jumlah penduduk miskin.

2) Berkembangnya usaha peningkatan pendapatan yang dilakukan oleh penduduk miskin dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

3) Meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya peningkatan kesejahteraan keluarga miskin di lingkungannya.

4) Meningkatkan kemandirian kelompok yang ditandai dengan makin berkembangnya usaha produktif anggota dan kelompok, makin kuatnya permodalan kelompok serta makin luasnya interaksi kelompok dengan kelompok lain di dalam masyarakat, serta

5) Meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerataan pendapatan yang ditandai oleh peningkatan pendapatan keluarga miskin yang mampu memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan sosial dasarnya. Sumodiningrat (1999),

Berdasarkan uraian-uraian pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat di Kecamatan Bontonompo adalah keterlibatan sejumlah komponen masyarakat untuk mengambil bagian dalam berbagai program yang ditujukan untuk peningkatan pembangunan kesejahteraan sosial sebagai akibat Implementasi Program Musrenbang dalam meningkatkan partisipasi masyarakat di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.

(39)

E. Kerangka Pikir

Isu tentang kesejahteraan sosial sudah melanda hampir semua daerah seiring dengan meningkatnya tuntutan masyarakat untuk meningkatkan kualitas dan taraf hidupnya. Hal itu cukup beralasan mengingat berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang terus membelenggu sebagian masyarakat, utamanya masyarakat yang tinggal di pedesaan.

Berbagai persoalan ekonomi ini berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat, menurunnya tingkat pendapatan, sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan yang berakibat pada meningkatnya angka kemiskinan, pengangguran dan lainnya. Kondisi ini semakin memperburuk penghidupan dari masyarakat desa yang umumnya masih terbelakang.Untuk mengatasi hal itu dibutuhkan peran yang lebih besar dari para pemimpin khususnya pemimpin di tingkat lokal dalam hal ini pemerintah kecamatan untuk memainkan perannya dalam mengatasi berbagai permasalahan sosial maupun ekonomi yang dihadapi masyarakat di daerahnya melalui pelaksanaan berbagai program yang bisa meningkatkan kesejahteraan sosial warga.

Eksistensi camat sebagai aktor dengan aneka ragam atribut, status, kedudukan dan fungsi, pada dasarnya memainkan peranan sebagai pemimpin di daerah. Dalam mengimplementasikan program Musrenbang dalam meningkatkan partisipasi masyarakatnya di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.

Implementasi Program Musrenbang dalam upayanya mendorong partisipasi masyarakat dalam memacu pembangunan sosial ekonomi dalam meningkatkan

(40)

kesejahteraan sosial masyarakat dilakukan terhadap usulan – usulan yang diajukan oleh pemerintah melalui partisipasi masyarakat.

Sebaliknya masyarakat desa diharapkan dapat berpartisipasi dalam seluruh kegiatan sosial ekonomi yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan sosial, yang diselenggarakan oleh pemerintah kecamatan di wilayahnya. Partisipasi masyarakat sebagai subjek maupun objek dari pembangunan secara keseluruhan sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan program tersebut.

Adapun keterlibatan masyarakat tersebut diwujudkan dalam berpartisipasi pada tahap perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan terhadap berbagai program yang ditujukan untuk peningkatan pembangunan kesejahteraan sosial yang dilaksanakan oleh pemerintah kecamatan. Kedua variabel tersebut akan dikaji dalam penelitian ini berdasarkan Model implementasi Grindle skema sebagai berikut :

Gambar II.5 Kerangka Pikir.

Program Program Pemerintah Kabupaten Gowa

Implementasi Program 1. Program Pembangunan Infrastruktur

2. Program Pembangunan Sarana dan Prasarana 3. Program Pemberdayaan Masyarakat

4. Program Pengembangan UMKM

Terwujudnya Implementasi Program Musrenbang di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa

(41)

F. Definisi Operasional

Untuk menyamakan persepsi, maka diuraikan definisi Operasional beberapa variabel penelitian sebagai berikut:

1. Implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu individu / pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan, Implementasi berarti keterlibatan atau keikutsertaan secara aktif dalam suatu proses pencapaian tujuan yang dilakukan oleh pribadi atau kelompok yang diorganisir serta berlandaskan Kemampuan dan kemauan yang memadai, turut serta memutuskan tujuan dengan rasa tanggung jawab yang dijiwai oleh rasa turut memiliki atau kesadaran dalam melaksanakan kegiatan program pembangunan kesejahteraan sosial.

2. Musrenbang adalah kepanjangan dari musyawarah perencanaan pembangunan yang merupakan forum antar pelaku dalam menyusun rencana pembangunan Nasional dan Rencana Pembangunan daerah yang diatur dalam undang – undang no. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

3. Pemerintah Kecamatan adalah pemimpin di tingkat pemerintahan kecamatan, yang memiliki peranan untuk mempengaruhi dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam rangka pembangunan kesejahteraan sosial di Kecamatan Bontonompo.

4. Sejahtera adalah tingkat pencapaian taraf hidup seseorang atau rumah tangga di Kecamatan Bontonompo sesuai standar atau kategori tingkat kesejahteraan yang

(42)

telah ditetapkan. Yaitu pra sejahtera, sejahtera I, sejahtera II, sejahtera III dan sejahtera III plus.

5. Masyarakat miskin adalah seseorang atau sekelompok keluarga atau rumah tangga di Kecamatan Bontonompo yang hidupnya berada pada kategori pra sejahtera dan sejahtera

Hal ini dilakukan dengan melaksanakan dimensi peranan kepemimpinan yang menjadi indikator yaitu ;

a. Terlibat aktif berperan dalam pelaksanaan suatu kebijakan sesuai kebutuhan program kesejahteraan sosial

b. Terlibat aktif berperan dalam melakukan strategi/upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam program kesejahteraan sosial

c. Terlibat aktif berperan melakukan hubungan komunikasi untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam program kesejahteraan sosial

d. Terlibat aktif berperan menyelesaikan permasalahan sosial kemasyarakatan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam program kesejahteraan sosial e. Terlibat aktif berperan dalam melakukan terapi berupa penyadaran sosial

untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam program kesejahteraan sosial 6. Partisipasi masyarakat adalah keterlibatan aktif warga masyarakat terhadap

program pembangunan kesejahteraan sosial di Kecamatan Bontonompo .Indikator ukuran yang digunakan :

1) Partisipasi dalam perencanaan pembangunan , yang diukur dari a. Frekuensi dalam menghadiri rapat

(43)

b. Frekuensi dalam memberikan saran/pendapat pada rapat-rapat perencanaan.

2) Partisipasi dalam pelaksanaan pembangunan, yang diukur dari a. Partisipasi dalam pelaksanaan penyuluhan / sosialisasi b. Partisipasi dalam pelaksanaan pembinaan

c. Partisipasi dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan keterampilan usaha

d. Partisipasi dalam pelaksanaan bantuan sosial

e. Partisipasi dalam pelaksanaan penyediaan sarana dan prasarana usaha f. Partisipasi dalam pelaksanaan penguatan ketahanan pangan bagi

masyarakat rawan pangan

3) Partisipasi dalam menilai (mengawasi) pembangunan yang diukur dari

a. Partisipasi dalam ikut mengawasi pelaksanaan maupun hasil pembangunan.

b. Partisipasi dalam memberikan saran/kritik atas hasil pembangunan

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif, yaitu bersifat mendeskripsikan atau menggambarkan hasil temuan di lapangan secara kualitatif dengan menggunakan dasar-dasar teori yang ada.

Peneliti menggunakan metode kualitatif karena lebih mendekatkan peneliti dengan informan dalam menggali informasi terkait dengan obyek penelitian.

Keunikan dan kekhasan obyek penelitian menjadi pertimbangan utama menggunakan jenis pendekatan ini. Unit analisis penelitian yakni Implementasi Program Musrenbang di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa, dengan mengambil sampel pada Kelurahan Bontonompo sebagai kelurahan yang kurang program kegiatan musrenbang dan Desa Bontolangkasa Selatan sebagai Desa yang banyak mendapatkan program kegiatan

C. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data

(45)

Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer adalah dalam yang diperoleh langsung di lapangan, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber-sumber yang ada.

2. Sumber Data

a. Data primer, diperoleh dari hasil kuesioner dan wawancara langsung dengan responden maupun informan. Adapun informan dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut:

1. Camat

2. Kepala Desa/ Lurah

3. Kasi Pembinaan Desa dan Kelurahan 4. Kasi Pemberdayaan Masyarakat

5. Kasubag Perencanaan, Keuangan dan Pelaporan

6. Tokoh Masyarakat ( BPD, LKMD, Karang Taruna, PKK )

b. Data sekunder. diperoleh dari kantor desa, kantor camat, instansi terkait yakni melalui, dokumen-dokumen, laporan-laporan dan buku-buku serta hasil penelitian ilmiah yang dianggap relevan dengan masalah dan tujuan penelitian 2 ( dua ) Tahun terakhir.

D. Teknik Pengumpulan Data

Upaya untuk memperoleh data yang representatif, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

(46)

1. Observasi, yaitu melalui pengamatan langsung di lapangan atas kondisi ril yang terjadi.

2. Kuesioner, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mendistribusikan atau menyebarkan daftar isian penelitian (kuesioner) kepada responden yang telah ditentukan.

3. Wawancara, .yang dilakukan langsung, berstruktur dan mendalam dengan informan.

4. Dokumentasi, yaitu melalui kajian literatur/kepustakaan, dokumen peraturan perundang-undangan, surat-surat keputusan, dan sumber tertulis lainnya yang ada kaitannya dengan kebutuhan data dan informasi dalam penelitian ini.

E. Teknik Analisis Data

Untuk memecahkan permasalahan di dalam penelitian ini. dipergunakan analisis data yang menggunakan model John W.Creswell ( 2014 ). Tahapan – tahapannya meliputi :

1. Tahap Pertama adalah mengorganisasi dan menyiapkan data untuk analisis 2. Tahap Kedua adalah membaca atau melihat pada semua data.

3. Tahap Ketiga adalah menkode semua data.

4. Tahap Keempat adalah mengunakan proses pengkodean untuk menghasilkan sebuah deskripsi pengaturan atau orang maupun kategori – kategori atau tema untuk analisis.

(47)

5. Tahap kelima memajukan bagaimana deskripsi dan tema – tema akan direpresentasi dalam narasi kualitatif.

6. Tahap keenam adalah membuat interpretasi hasil – hasil dan penemuan – penemuan penelitian kualitatif.

Keenam tahapan tersebut dilakukan secara sistematis selama proses penelitian. Lebih lanjut dapat digambarkan dalam bagan berikut :

Gambar III.1 Alur Analisis Data Menginterpretasi Makna

Tema / Deskripsi

Menghubungkan Tema / Deskripsi

Tema Deskripsi

Mengkode Data

Membaca Semua Data

Mengorganisasi Data untuk Analisis

Data Mentah ( transkrip, catatan lapangan, gambar )

Mengesahkan Akurasi Informasi

(48)

F. Tahapan-Tahapan Penelitian dan Jadwalnya

Pelaksanaan penelitian dilakukan selama 2 ( dua ) bulan dengan mengambil data pada Kantor Camat, dan Desa di Kecamatan Bontonompo serta instansi terkait, buku-buku maupun dokumen yang relevan dengan penelitian melalui tahapan :

1. Pengumpulan data, yaitu menghimpun berbagai macam data baik yang diperoleh dari data primer maupun data sekunder.

2. penafsiran data, yaitu membaca, mempelajari dan telaah seluruh data yang tersedia.

3. reduksi data, data yang diperoleh di lapangan, ditulis dalam bentuk uraian atau laporan yang terperinci.

4. Penyusunan Data, yaitu penyusun data-data dalam satuan-satuan yang kemudian satuan-satuan itu dikategorikan pada langkah selanjutnya.

5. Kategorisasi dan tabulasi data, yaitu memberikan kode-kode pada setiap data yang diperoleh, selanjutnya tabulasi data, yaitu membuat table-table yang dapat memudahkan peneliti menganalisanya.

6. Pemeriksaan keabsahan dalam, yaitu mengecek apakah data-data yang diperoleh sudah benar atau masih harus diperbaiki.

7. Mengambil kesimpulan atau verifikasi, data yang telah terkumpul diambil intinya menjadi kesimpulan awal yang bersifat rekaan dan akan menjadi lebih jelas sejalan dengan dilakukannya penelitian.

(49)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Karakteristik Obyek Penelitian

1. Deskripsi Geografis

Kabupaten Gowa terdiri dari 2 ( dua ) Kawasan, yakni dataran rendah dan dataran tinggi. Di Kabupaten Gowa terdapat 18 Kecamatan dan salah satunya adalah Kecamatan Bontonompo. dimana disebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Bajeng, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Takalar, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Bontonompo Selatan, sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Takalar dengan luas wilayah 30,39 Km2 dengan jumlah penduduk 42.646 Jiwa atau 12.508 KK. Penduduk tersebut, tersebar pada 3 kelurahan dan 11 desa, dengan jarak dari ibukota Kabupaten ke Ibukota Kecamatan sejauh 16 Kilometer.

2. Deskripsi Kelembagaan

Kecamatan Bontonompo meliputi camat dan kepala desa/lurah yang sering dinamakan sebagai elit formal, demikian pula kehadiran sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuka adat, tokoh pemuda, para ketua organisasi sosial, pengusaha, ketua-ketua kelompok tani dan nelayan, dan lainnya (selanjutnya disebut elit non formal).

Tugas pokok dan fungsi Kecamatan di Kabupaten Gowa telah diatur dalam Peraturan Bupati Kab. Gowa Nomor 74e Tahun 2016. Selain mengatur

(50)

tugas pokok dan fungsi kecamatan, peraturang Bupati tersebut juga mengatur susunan organisasi, dan rincian tugas jabatan struktural pada kantor kecamatan.

Untuk lebih jelasnya, penulis menyajikan kutipan peraturan bupati Gowa tersebut, sebagai berikut:

Untuk pelaksanaan tugas dan fungsinya, susunan organisasi Kantor Kecamatan terdiri dari:

a. Camat;

b. Sekretariat :

1. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian

2. Sub Bagian Perencanaan, Keuangan dan Pelaporan c. Seksi Pemerintahan

d. Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum e. Seksi Pemberdayaan Masyarakat

f. Seksi Pembinaan Desa dan Kelurahan g. Seksi Pelayanan Umum

h. Kelompok Jabatan Fungsional

Selanjutnya, nama-nama pejabat Kecamatan Bontonompo dapat dilihat pada table berikut ini:

Table 4. 1

Nama-Nama Pejabat Kecamatan Bontonompo

(51)

NO NAMA JABATAN PENDIDIKAN

1 Wahyudin MP,SH.,M.AP Camat S.2

2 H. Muhammad Syahrir, S.Ag.,M.Si Sekretaris S.2 3 Rahmi Ramli., S.Sos Kasubag Umum &

Kepegawaian

S.1

4 Hendra Syam, S.Kom Kasubag Perencanaan, Keuangan & Pelaporan

S.1

5 Muhammad Zakir, S.Sos Kasi Pemerintahan S.1

6 H. Faharuddin, S.Sos Kasi Ketentraman dan Ketertiban Umum

S.1

7 Syarifuddin, S.Sos Kasi Pembinaan Desa dan Kelurahan

S.1

8 Muhammad Abidin Kasi Pemberdayaan

Masyarakat

SMA

9 Dra. Junaisah Kasi Pelayanan Umum S.1

Sumber : Kantor Kecamatan Bontonompo

Tugas camat menurut Peraturan Bupati Nomor 74e Tahun 2016 pasal 4 adalah :

(1) Camat mempunyai tugas membantu Bupati dalam rangka meningkatkan koordinasi penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan publik, dan pemberdayaan masyarakat desa atau sebutan lain dan kelurahan.

(2) Camat dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyelenggarakan fungsi :

a. penyelenggaraan urusan pemerintahan umum;

b. pengoordinasian kegiatan pemberdayaan masyarakat;

(52)

c. pengkoordinasian upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum;

d. pengoordinasian penerapan dan penegakan Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati;

e. pengoordinasian pemeliharaan prasarana dan sarana pelayanan umum;

f. pengoordinasian penyelenggaraan kegiatan pemerintahan yang dilakukan oleh Perangkat Daerah di tingkat kecamatan;

g. pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan kegiatan desa dan/atau kelurahan;

h. pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah yang tidak dilaksanakan oleh unit kerja pemerintahan daerah yang ada di kecamatan; dan

i. pelaksanaan fungsi lain yang diperintahkan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

(3) Rincian Tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2) sebagai berikut :

a. memvalidasi perumusan kebijakan strategis kecamatan berdasarkan dokumen perencanaan daerah yang berlaku sebagai pedoman dalam penyusunan program dan kegiatan;

b. mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat berdasarkan usulan program dan kegiatan dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat;

(53)

c. mendistribusikan dan membagi tugas kepada Sekretaris Kecamatan dan Kepala Seksi sesuai dengan bidang tugasnya masing – masing agar pelaksanaan tugas menjadi lancar;

d. memberikan petunjuk dan arahan kepada bawahan sesuai dengan ketentuan agar pelaksanaan tugas menjadi lancar;

e. menyelenggarakan urusan pemerintahan umum berdasarkan peraturan yang berlaku agar pelaksanaan sesuai dengan ketentuan;

f. mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum berdasarkan peraturan yang berlaku agar tercipta kenyamanan lingkungan masyarakat;

g. mengkoordinasikan penerapan dan penegakan Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati berdasarkan standar operasional prosedur agar meningkatkan ketertiban umum;

h. mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan sarana pelayanan umum berdasarkan peraturan yang berlaku agar meningkatkan pelayanan lebih berkualitas;

i. mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan yang dilakukan sekretaris kecamatan dan kepala seksi di tingkat kecamatan berdasarkan pedoman yang berlaku sebagai dasar penyusunan program dan kegiatan;

Gambar

Gambar II.1 Model Implementasi kebijakan Van meter dan Van Horn  Selain  model  implementasi  yang  dikemukakan  oleh  Van  Metter,  terdapat  model implementasi lainnya yaitu implementasi yang dikembangkan oleh Edward III
Gambar II.2 Implementasi Edward III
Gambar II.3 Model implementasi menurut Grindle
Gambar II.4. Implementasi Kebijakan Menurut Mazmanian dan Sabatier
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dalam anime sendiri, pengaruh Shinto dapat dilihat mulai dari hal-hal kecil yang sudah membudaya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang, seperti keberadaan seorang

The data above that the English teacher do code switching and code mixing because the English teachers convince the students about this subject and to make

Tujuan dari program ini tidak lain ialah untk membantu masyarakat di kawasan daerah aliran sungai siak yaitu RW02 dan sekitarnya dalam memenuhi kebutuhan air bersih

Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa responden dengan jabatan/posisi AD memiliki pemahaman yang lebih baik daripada responden yang berada pada posisi

Karena rute yang dihasilkan dari metode (llarke-Wright "Savings" dianggap belum cukup memuaskan, maka dilakukan kombinasi dari rute-rute yang dihasilkan oleh

Selain itu juga, berdasarkan penelitian yang telah dikakukan diperoleh hasil bahwa Berdasarkan uji simultan, penelitian ini berhasil membuktikan bahwa kesejahteraan karyawan

hingga dekorasi showroom (dealer) pun sesuai dengan ketentuan Yamaha. Dalam perkembangannya penjualan di CV. Lancar Makmur mengalami fluktuasi. Sebagai perusahaan

[r]