PERAN INDIAN OCEAN RIM ASSOCIATION (IORA) TERHADAP PENINGKATAN DIPLOMASI MARITIM
INDONESIA PERIODE 2015-2017
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
oleh:
Lutfiatul Insiah 11151130000032
PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020
ii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
Skripsi yang berjudul:
PERAN INDIAN OCEAN RIM ASSOCIATION (IORA)
TERHADAP PENINGKATAN DIPLOMASI MARITIM INDONESIA PERIODE 2015-2017
1. Merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 10 Maret 2020
Lutfiatul Insiah
iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI
Dengan ini, Pembimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswa:
Nama : Lutfiatul Insiah NIM : 11151130000032
Program Studi : Ilmu Hubungan Internasional
Telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul:
PERAN INDIAN OCEAN RIM ASSOCIATION (IORA)
TERHADAP PENINGKATAN DIPLOMASI MARITIM INDONESIA PERIODE 2015-2017
Dan telah memenuhi persyaratan untuk diuji.
Jakarta, 10 Maret 2020
Mengetahui, Menyetujui,
Ketua Program Studi Pembimbing,
M. Adian Firnas, S. IP, M. Si Dr. Rahmi Fitriyanti, S. Sos, M. Si
NIP. NIP. 197709142011012004
iv
PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI
SKRIPSI
PERAN INDIAN OCEAN RIM ASSOCIATION (IORA) TERHADAP PENINGKATAN DIPLOMASI MARITIM PERIODE 2015-2017
Oleh Lutfiatul Insiah 11151130000032
Telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 15 Juni 2020. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional.
Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,
M. Adian Firnas, S. IP, M. Si Irfan Hutagalung, SH, LLM
NIP. NIP.
Penguji I Penguji II
Ahmad Alfajri, M.A Khoirun Nisa, MA.Pol NIP. 198507022019031005 NIP. 198503112018012001 Diterima dan dinyatakan memenuhi syarat kelulusan pada tanggal 15 Juni 2020 Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UIN JAKARTA
M. Adian Firnas, S. IP, M. Si NIP.
v
ABSTRAK
Skripsi ini mengkaji tentang organisasi regional dalam Kawasan Samudera Hindia yaitu Indian Ocean Rim Association (IORA), dan perannya terhadap diplomasi maritim Indonesia periode 2015-2017. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa bagaimana peran Indian Ocean Rim Association (IORA) terhadap peningkatan diplomasi maritim Indonesia. Mengingat Indonesia memiliki visi untuk menjadi negara Poros Maritim Dunia (PMD), membuat tema Indian Ocean Rim Association (IORA) ini perlu untuk dikaji.
Penelitian ini menggunakan kerangka pemikiran Perspektif Neoliberal Institusionalisme, Teori Diplomasi, Konsep Organisasi Internasional, Regionalisme, dan Diplomasi Maritim. Kemudian pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara dan literature review dari berbagai sumber seperti; jurnal dan buku-buku terkait Indian Ocean Rim Association (IORA).
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa periode 2015-2017 merupakan masa kepemimpinan Indonesia dalam organisasi Indian Ocean Rim Association (IORA). Selama kepemimpinannya, Indonesia berupaya meningkatkan kerjasama terutama dalam sektor maritim. Berdasarkan Perspektif Neoliberal Institusionalisme yang mengatakan bahwa institusi dapat meningkatkan kerjasama antarnegara, dalam hal ini melalui forum IORA, Indonesia dapat meningkatkan hubungan kerjasama khususnya dalam bidang maritim dengan negara-negara mitra di kawasan.
Kata kunci: Indonesia, Samudera Hindia, Indian Ocean Rim Association (IORA), Diplomasi Maritim.
vi
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, dan atas rahmat serta karunianya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Sholawat dan Salam senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah mengantarkan manusia dari zaman kegelapan hingga ke zaman yang terang benderang ini.
Penyususnan skripsi yang berjudul Peran Indian Ocean Rim Association (IORA) Terhadap Peningkatan Diplomasi Maritim Indonesia Periode 2015-2017 diajukan untuk memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Stara I pada Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayataullah Jakarta.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga penulis membutuhkan masukan dan dukungan dari berbagai pihak terkait dalam menyelesaikan penelitian ini.
Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini terutama kepada:
1. Bapak M. Adian Firnas, S. IP, M. Si selaku Ketua Prodi Ilmu Hubungan Internasional.
vii
2. Irfan Hutagalung, SH, LLM selaku Wakil Ketua Prodi Ilmu Hubungan Internasional.
3. Dr. Rahmi Fitriyanti, S. Sos, M. Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah bersedia membimbing dan mengarahkan penulis selama menyusun skripsi ini.
4. Seluruh Bapak/Ibu Dosen beserta para staff Prodi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan memberikan pelayanan terbaik selama penulis mengikuti proses pendidikan.
5. Bapak Indra Noer selaku Staff Bidang Kajian Kawasan Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang telah bersedia memberikan informasi untuk penulis menyelesaikan skripsi ini.
6. Kedua orang tua tercinta, Abih Firdaus HM dan Ummi Sarwati yang senantiasa memberikan dukungan baik moril maupun materil serta do’a- do’a yang tiada hentinya kepada penulis.
7. Kepada saudara-saudara penulis, kedua kakakku; Riri dan Fitry, kedua kakak iparku; Teguh dan Hery, adikku Fajri Aslam serta kedua keponakan tersayangku Alfin dan Kahfi, terimakasih sudah menyemangati dan menghibur selama penulis jatuh bangun dalam menyusun skripsi ini.
8. Kepada Fachrurrozy S.Pd, terimakasih sudah selalu setia mendampingi dan mendengarkan keluh kesah penulis, serta senantiasa memberikan motivasi selama penulis mengerjakan skripsi ini.
viii
9. Sahabat tercinta seperkostan abu-abu tingkat, Rahma Aulia Vinanda dan Wilasinee Ma terimakasih atas cerita indahnya selama tinggal bersama di Ciputat.
10. Sahabat terkasih Utami Rizkiyah, Tyas Aneswari, Suci Setyadewi, dan Verenia Paramitha terimakasih sudah menjadi keluarga kedua selama penulis hidup di tanah Ciputat.
11. Teman-teman HI UIN Jakarta angkatan 2015 khususnya The Dank A Team, KKN 146 Merpati Gunung, dan Magang DPR RI terimakasih atas bantuan, canda tawa, serta suka dukanya selama masa perkuliahan semoga tetap terjalin indah sebagai kenangan abadi selamanya.
Penulis berharap semoga semua dukungan dan kebaikan dari seluruh pihak yang terlibat mendapatkan balasan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saran yang kontrukstif sangat di butuhkan dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan Ilmu Hubungan Internasional.
Jakarta, 10 Maret 2020.
Lutfiatul Insiah
ix
DAFTAR ISI
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... iii
PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
DAFTAR SINGKATAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Pertanyaan Penelitian ... 4
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
1.4. Tinjauan Pustaka ... 5
1.5. Kerangka Pemikiran ... 7
1.5.1. Perspektif Neoliberal Institusionalisme ... 8
1.5.2. Teori Diplomasi ... 10
1.5.3. Organisasi Internasional ... 12
1.5.4. Regionalisme ... 14
1.5.5. Diplomasi Maritim ... 15
1.6. Metode Penelitian... 17
1.7. Sistematika Penulisan ... 21
BAB II INDIAN OCEAN RIM ASSOCIATION (IORA) ... 24
2.1. Pembentukan Indian Ocean Rim Association (IORA) ... 24
x
2.2. Charter of the Indian Ocean Rim Association ... 32
2.3. Mekanisme Kerjasama dalam Indian Ocean Rim Association (IORA) ... 35
BAB III DIPLOMASI INDONESIA DALAM BIDANG MARITIM ... 37
3.1. Upaya Pemerintah dalam Menjaga Wilayah Maritim Indonesia ... 37
3.2. Realisasi Poros Maritim Dunia melalui Diplomasi Maritim ... 48
BAB IV PERAN INDIAN OCEAN RIM ASSSOCIATION (IORA) TERHADAP PENINGKATAN DIPLOMASI MARITIM INDONESIA ... 55
4.1. Peran IORA sebagai Forum dalam Meningkatkan Diplomasi Maritim Indonesia di Samudera Hindia ... 55
4.1.1. The 3rd Indian Ocean Dialogue ... 58
4.1.2. International Symposium “IORA 20th Anniversary” ... 59
4.2.3 International Maritime Security Symposium (IMSS) ... 61
4.2. Peran IORA sebagai Instrumen dalam Meningkatkan Diplomasi Maritim Indonesia di Kawasan Samudera Hindia ... 62
4.2.1. Kerjasama Keamanan Maritim Indonesia dan India ... 67
4.2.2. Kerjasama Maritim Indonesia – China ... 68
4.2.3. Kerjasama Maritim Indonesia - Inggris ... 69
4.2.4. Kerjasama Maritim Indonesia – Amerika Serikat ... 69
4.2.5. Kerjasama Maritim Indonesia - Australia ... 70
4.2.6. Kerjasama Pengembangan Keamanan Maritim dan Industri Pertahanan Maritim Antarnegara Anggota IORA... 70
4.3. Peran IORA sebagai Media dalam Meningkatkan Diplomasi Maritim Indonesia di Samudera Hindia ... 71
4.3.1. Pembangunan Armada Angkatan Laut ... 76
4.3.2. Treaty Amity and Cooperation (TAC) ... 77
4.3.3. Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) ... 78
4.3.4. Program Pelatihan Keamanan Laut oleh Badan Keamanan Laut (BAKAMLA) ... 79
4.3.5. IORA Blue Economy Ministerial Conference (BEC II) ... 81
BAB V PENUTUP ... 86 DAFTAR PUSTAKA ... lxxxviii LAMPIRAN-LAMPIRAN
xi
DAFTAR TABEL
Tabel II.1.1 Tabel Negara Anggota
Indian Ocean Rim Association (IORA) ……….……...…. 29
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1.1. Lambang Organisasi
Indian Ocean Rim Association (IORA) ……… 24
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Teks Wawancara ………... 98 Lampiran 2 Dokumen Charter of Indian Ocean Rim Association (IORA).. 102
xiv
DAFTAR SINGKATAN
IOR-ARC Indian Ocean Rim Association Regional Cooperation IORA Indian Ocean Rim Association
IMF International Monetary Fund GDP Gross Domestic Product IORG Indian Ocean Research Group IOTO Indian Ocean Tourism Organization NGOs Non-Governmental Organizations IGOs Intergovernmental Organizations MNCs Multinational Corporations
WGTI Working Group Trade and Investment COM Council of Ministers
MTC Maritime Transport Council
UMIOR University Mobility for Indian Ocean Region
FSU Fisheries Suport Unit
IORAG Indian Ocean Rim Academic Group IORBF Indian Ocean Rim Business Forum CSO Committee of Senior Officials PBB Perserikatan Bangsa-Bangsa TOC Transnational Organized Crime
IUUF Illegal Unreported Unregulated Fishing KKP Kementerian Kelautan dan Perikanan KTT Konferensi Tingkat Tinggi
xv
WPP-NRI Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia MPR Majelis Permusyawaratan rakyat
NKRI Negara Kedaulatan Republik Indonesia ASEAN Association of Southeast Asian Nations KTT Konferensi Tingkat Tinggi
UNCLOS United Nations Convention on the Law of the Sea
PMD Poros Maritim Dunia
MCF Maritime Cooperation Fund MCC Maritime Cooperation Committee MoU Memorandum of Understanding
OBOR One Belt One Road
IOD Indian Ocean Dialogue
IMSS International Maritime Security Symposium MNEK Multilateral Naval Exercise Komodo
BAKAMLA Badan Keamanan Laut
WPNS Western Pacifik Naval Symposium MSG Melanesian Spearhead Group
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Skripsi ini mengkaji tentang peran Indian Ocean Rim Association (IORA) terhadap peningkatan diplomasi maritim Indonesia pada periode 2015-2017.
Indian Ocean Rim Association (IORA) ialah bentuk kerjasama regional yang berada di kawasan Samudera Hindia. Perairan Samudera Hindia merupakan jalur perdagangan internasional dari Asia ke Eropa dan sebaliknya. IORA terdiri dari 21 anggota negara yang berbatasan langsung dengan Kawasan Samudera Hindia, termasuk Indonesia.
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 16.056 pulau dari Sabang hingga Merauke.1 Dengan luas wilayah 7.81 juta km2 yang terdiri dari 2,01 juta km2 daratan, 3,25 juta km2 lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).2
1 Sabrina Asril, “Indonesia Daftarkan 16.056 Pulau Bernama ke PBB”, KOMPAS.com, 4
Mei 2018. [Berita on-line]; tersedia di
https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/nasional/read/2018/05/04/20442371/indononesi a-daftarkan-16056-pulau-bernama-ke-pbb diakses pada 11 April 2019 20.05 WIB.
2 Elviana Roza, “Maritim Indonesia, Kemewahan yang Luar Bisa”, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. [Jurnal on-line]; tersedia di https://kkp.go.id/artikel2233-maritim-indonesia-kemewahan-yang-luar-biasa diakses pada 11 April 2019, 19.22 WIB.
Hal itu membuktikan bahwa Indonesia ialah sebuah negara yang memiliki wilayah perairan lebih luas dibandingkan luas daratan, sehingga Indonesia disebut sebagai Negara Kepulauan. Dengan wilayah perairan yang luas serta kekayaan laut yang melimpah seperti ikan, udang dan hewan laut lainnya, menyebabkan Indonesia banyak mendapat perhatian dari negera luar. Hal tersebut dapat menjadi daya tarik negara lain untuk melakukan sebuah tindakan terhadap Indonesia.
Salah satunya tindak kejahatan, dengan memanfaatkan kekayaan bahari Indonesia tanpa perizinan, seperti penangkapan ikan secara illegal (illegal fishing), pelanggaran kedaulatan, kerusakan lingkungan laut, dan sebagainya.
Untuk terciptanya Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, tentunya Indonesia melakukan berbagai upaya diplomasi maritim untuk meningkatkan dan melindungi sumber daya di laut, serta untuk memperkenalkan kekuatan maritim Indonesia terhadap dunia internasional. Salah satunya melalui sebuah organisasi regional yang berada di Kawasan Samudera Hindia yang dikenal dengan Indian Ocean Rim Association (IORA).
Samudera Hindia merupakan lautan yang terdiri dari tiga benua, yakni; Asia, Australia, dan Afrika yang masing-masing negaranya memiliki sumber daya alam yang menjanjikan bagi pertumbuhan ekonomi. IORA di deklarasikan di Mauritius pada 7 Maret 1997, dengan mandat untuk mempromosikan pertumbuhan dan pembangunan yang berkelanjutan di kawasan Samudera Hindia pada isu keamanan maritim, perdagangan, budaya, pariwisata, dan perikanan.3
3 M. Guruprasad, “A Fulcrum of Growth-Indian Ocean Rim Association”, International Journal of Innovative and Research Technology, (2017), Hal. 243.
Samudera Hindia memiliki beberapa nilai strategis antara lain menjadi jalur perdagangan dunia yang di dalamnya terdapat sekitar 50 persen kapal dagang, 34 persen lalu lintas kargo, dan 67 persen pengiriman minyak dunia melewati kawasan ini, serta terdapat sekitar 55 persen cadangan minyak bumi dan 40 persen gas berada di kawasan ini.4
Selain itu, Samudera Hindia termasuk kelompok wilayah dengan angka GDP yang tinggi. Sehingga menjadikan wilayah tersebut Sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dunia. International Monetary Fund (IMF) mencatat pada tahun 2013 Samudera Hindia memiliki GDP sebesar US$ 8 triliun, dari keseluruhan GDP di dunia yaitu sekitar US$ 73,9 triliun.5
Jaringan hubungan perdagangan terbentuk karena adanya kedekatan antarnegara di pesisir Samudera Hindia yang dipengaruhi oleh beberapa persamaan, seperti ekonomi dan pengalaman sejarah. Biasanya para pedagang, nelayan, maupun peziarah dari berbagai negara berlayar melewati kawasan ini.
Selain itu, adanya berbagai kegiatan perekonomian di pesisir, hubungan sosial budaya, kerjasama kawasan yang berpusat di Samudera telah menjadi jembatan penghubung antara Asia, Afrika, dan Australia.
IORA memiliki tujuan untuk meliberalisasi perdagangan dan mendorong kerjasama perdagangan. Dengan prinsip keanggotaan yang terbuka, IORA
4 Dhita Anggraini Ayuningtyas, “Kepentingan Indonesia Dalam Indian Ocean Rim Association (Iora) Tahun 2015”, eJournal Ilmu Hubungan Internasional Universitas Mulawarman, (ISSN 2477-2623, 2018), Hal. 4.
5 “International Monetary Fund”, World Economic Outlook Database, April 2014,
[Database on-line]; tersedia di
https://www.imf.org/external/pubs/ft/weo/2015/02/weodata/index.aspx diakes pada 11 April, 19.22 Wib.
menjadi organisasi regional satu-satunya yang merangkul negara-negara di sepanjang pesisir Samudera Hindia sebagai anggotanya, yaitu, Australia, Bangladesh, Comoros, India, Indonesia, Iran, Kenya, Madagaskar, Malaysia, Mauritius, Mozambik, Oman, Seychelles, Singapura, Afrika Selatan, Sri Lanka, Tanzania, Thailand, Uni Emirat Arab, dan Yaman. Negara mitra dialog, yaitu China, Perancis, Inggris, Jepang, Mesir, dan Amerika Serikat, serta dua peninjau (observer), yaitu Indian Ocean Research Group (IORG) dan Indian Ocean Tourism Organization (IOTO).6
Dengan bergabung dalam IORA, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pengaruhnya dan mencapai kepentingan nasionalnya melalui diplomasi maritim di Samudera Hindia. Kawasan ini di nilai memiliki lingkungan yang kondusif dan strategis bagi Indonesia untuk melaksanakan agenda kebijakan politik luar negerinya. Oleh karena itu, pembahasan dalam skripsi ini adalah peran Indian Ocean Rim Association (IORA) terhadap peningkatan diplomasi maritim Indonesia periode 2015-2017.
1.2. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka pertanyaan penelitian yang akan dibahas yaitu “Bagaimana peran Indian Ocean Rim Association (IORA) terhadap peningkatan diplomasi maritim Indonesia periode 2015-2017?”
6 Rizki Roza, “IORA dan Kepentingan Indonesia”, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI Vol. VII No. 06/II/P3DI/Maret 2015. 6.
[Jurnal on-line]; tersedia di http://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-VII-6- II-P3DI-Maret-2015-75.pdf diakses pada 10 April 19.28 Wib.
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran Indian Ocean Rim Association (IORA) terhadap peningkatan diplomasi maritim Indonesia pada periode 2015-2017, dan manfaat yang di dapat Indonesia setelah bergabung dengan Indian Ocean Rim Association (IORA).
Sedangkan manfaat penelitian yang diperoleh antara lain; diharapkan mampu menjadi media referensi bagi pengembangan disiplin Ilmu Hubungan Internasional di masa mendatang, khususnya dalam kajian maritim Indonesia.
Selain itu guna menambah pengetahuan bagi para akademisi untuk lebih memahami bentuk diplomasi maritim dan kerjasama dalam lingkup regional khususnya di kawasan Samudera Hindia.
1.4. Tinjauan Pustaka
Dalam penulisan ini merujuk pada dua penelitian terdahulu sebagai acuan dalam memahami Indonesia dan IORA. Rujukan pertama yaitu skripsi yang berjudul ‘Kepemimpinan Indonesia di Indian Ocean Rim Association (IORA) dalam Mendukung Kebijakan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia’ yang ditulis oleh Astari Dewi Widyawati untuk gelar Strata I Universitas Hasanudin.7
Skripsi ini menjelaskan bagaimana Indonesia dapat memimpin IORA di tahun 2015-2017, peranan Indonesia selama memimpin IORA, dan dampaknya terhadap implementasi kebijakan Indonesia selama menjadi ketua di IORA.
7 Astari Dewi Widyawati, Kepemimpinan Indonesia di Indian Ocean Rim Association (IORA) dalam Mendukung Kebijakan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, (Makassar:
Universitas hasanudin, 2016).
Penelitian ini menggunakan kerangka konseptual Regionalisme, Geopolitik, dan Organisasi Internasional.
Hasil penelitian ini mengatakan, kepemimpinan Indonesia di IORA dalam periode 2015-2017 di karenakan di periode sebelumnya yaitu 2013-2015 Indonesia telah menjadi wakil ketua IORA. Di jelaskan pula implementasi kepemimpinan Indonesia dalam IORA di periode 2015-2017, di mana Indonesia mejadi satu-satunya negara yang menetapkan tema dalam kepemimpinannya, tema tersebut ialah “Strengthening Maritime Cooperation in a Peacefull and Stable India Ocean”
Penelitian yang dilakukan oleh Astari Dewi Widyawati bertujuan untuk menjelaskan implementasi kepemimpinan Indonesia dalam Indian Ocean Rim Association (IORA) beserta dampaknya dalam mendukung kebijakan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan ini ialah untuk mengetahui upaya yang dilakukan Indonesia dalam forum kerjasama Indian Ocean Rim Association (IORA) untuk meningkatkan diplomasi maritim Indonesia.
Rujukan yang kedua berupa jurnal Ilmu Hubungan Internasional yang ditulis oleh Dhita Anggraini Ayuningtyas dengan judul ‘Kepentingan Indonesia dalam Indian Ocean Rim Association (IORA) Tahun 2015’. Penelitian ini berusaha menjelaskan apa yang menjadi kepentingan Indonesia dalam IORA, dengan menggunakan teori regionalisme, maritime security, dan blue economy.
Hasil penelitian ini mengatakan bahwa Samudera Hindia memiliki potensi yang besar, dan juga berbagai tantangan salah satunya perompakan laut dan kurangnya pemahaman masyarakat pesisir mengenai pemanfaatan laut yang berkelanjutan. IORA menjadi media bersama untuk menuntaskan tantangan tersebut dengan menjaga stabilitas di Samudera Hindia.
Kepentingan Indonesia pada 2015 ialah bekerjasama dengan IORA untuk menurunkan angka perompakan dengan menyetujui Deklarasi Maritim dan Indonesia menjalankan Operasi Nusantara dan Operasi Palapa oleh Bakamla sebagai tindakan untuk mencegah aktivitas perompakan.
Jika penelitian Dhita ini berusaha menjelaskan kepentingan Indonesia dalam IORA, serta peluang dan tantangan yang akan dihadapi Indonesia dalam IORA.
Maka hal yang membedakan dengan penelitian yang dilakukan ini yaitu menjelaskan peran strategis IORA bagi Indonesia dalam meningkatkan diplomasi maritim, dengan menggunakan lima pilar poros maritim dunia yang sejalan dengan enam prioritas kerjasama Indian Ocean Rim Association (IORA)
1.5. Kerangka Pemikiran
Dalam menganalisa peran Indian Ocean Rim Association (IORA) terhadap peningkatan diplomasi maritim Indonesia periode 2015-2017, dengan menggunakan Perspektif Neoliberal Institusionalisme, Teori Diplomasi, Konsep Organisasi Internasional, Regionalisme, dan Diplomasi Maritim.
1.5.1. Perspektif Neoliberal Institusionalisme
Neoliberal Institusionalisme merupakan modernisasi dari Perspektif Liberalisme dan juga kritik dari perspektif Neo-realis, keduanya sama-sama mengakui adanya kerjasama dan kompetisi dalam mencapai national interest. Selain itu, kaum liberal tidak hanya mengakui negara sebagai aktor dalam interaksi internasional, terdapat aktor lain seperti Non-Governmental Organizations (NGOs), Intergovernmental Organizations (IGOs), dan Multinational Corporations (MNCs) yang turut mendukung negara dalam mencapai interest.8
Kemudian Neoliberal Institusionalisme memiliki beberapa argumen, pertama, Keohane mengatakan jika sebelumnya liberal menjadikan negara sebagai aktor utama dalam Hubungan Internasional, neo-liberal institusional justru menjadikan aktor non-negara yang terpenting dalam hubungan internasional, akan tetapi aktor non-negara tersebut masuk ke dalam sistem yang dibangun oleh negara. Seperti organisasi internasional, LSM, NGO, IGO dan sebagainya.9
Terkait dengan penelitian ini, Indian Ocean Rim Association (IORA) merupakan organisasi Intergovernmental Organizations (IGOs) yang berada di Kawasan Samudera Hindia. IORA menjadi wadah yang mengatur
8 Steven Lamy L, ed., Contemporary Mainstream Approaches: Neo-Realism and Neo- Liberalism, dalam John Baylish & Smith, ed. The Globalization of World Politics an Introduction to International Relations, eds. (New York: Oxford University Press).
9 Terdapat dalam Robert O.Keohane, Institutionalist Theory and the Realist Challenge After the Cold War, dalam Baldwin (ed.), Neorealism and Neoliberalism, dalam Fawcett & Hurrel, 1995, h:61-62 dalam Nuraini Suparman, Deasy Silvya, dan Arifin Sudirman, 2010, Regionalisme dalam Studi Hubungan Internasional (Yogyakarta: Pustaka Pelajar) hal. 56
kerjasama regional khususnya bagi negara-negara di Kawasan Samudera Hindia. Dalam forum ini agenda pelaksanaan di dominasi oleh pemerintah dalam merencanakan dan membuat keputusan-keputusan serta peraturan untuk memenuhi kepentingan masing-masing negara. Sehingga setiap negara dapat membuat suatu rezim yang nantinya wajib dipatuhi oleh seluruh aktor yang ikut terlibat dalam IORA
Argument kedua, lembaga atau institusi internasional dapat membantu dan meningkatkan kerjasama antar negara. Institusi internasional merupakan sebuah wadah atau seperangkat aturan yang mengatur tindakan negara dalam bidang tertentu, seperti penerbangan atau perkapalan. Institusi ini dapat bersifat universal dengan keanggotaan global seperti PBB.
Kemudian institusi juga dapat bersifat regional (sub-regional).10
Institusi internasional penting bagi kebijakan sebuah negara, karena dapat mempengaruhi dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan suatu negara. Di sini terlihat bagaimana Indonesia memanfaatkan forum Indian Ocean Rim Association (IORA) untuk memainkan kebijakan luar negerinya. Melalui IORA Indonesia dapat meningkatkan posisinya untuk menjadi negara terdepan di Kawasan Samudera Hindia, selain itu Indonesia juga dapat meningkatkan sektor maritimnya dengan menjalin kerjasama di bidang maritim.
10 Robert Jackson dan Georg Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Teori dan Pendekatan, Introduction to International Relations: Theories and Approaches, Fifth Edition, (2013), Hal. 174-178.
Argument ketiga, adanya interdependensi. Sebuah negara membutuhkan negara lain untuk mencapai kepentingannya, karena jika negara saling memperoleh keuntungan, maka masing-masing negara akan berusaha untuk memaksimalkan potensinya. Sehingga tercipta Absolute Gain, ketika negara melihat terdapat keuntungan yang lebih besar bila bekerjasama daripada berkonflik, maka negara akan memilih untuk melakukan kerjasama. Jadi, semakin tinggi tingkat interdependensi maka semakin tinggi pula ‘tuntutan’ untuk melakukan kerjasama.11
Berdasarkan argumen tersebut, tindakan-tindakan yang dilakukan oleh negara-negara di kawasan Samudera Hindia dalam forum IORA bertujuan untuk mewadahi mereka dalam melakukan berbagai upaya kerjasama yang nantinya akan memberi keuntungan bagi para anggotanya.
Bagi Indonesia, bergabung dengan IORA dapat memberikan manfaat terhadap agenda diplomasi maritimnya dalam mewujudkan visi poros maritim dunia dan memperkuat pengaruhnya di Kawasan Samudera Hindia.
1.5.2. Teori Diplomasi
Diplomasi ialah praktek dalam hubungan internasional antarnegara melalui perwakilan-perwakilan resmi. Selain itu diplomasi juga di artikan sebagai alat atau mekanisme kebijakan luar negeri yang dijadikan sebagai
11 Robert O Keohane dan Lisa L Martin. “The Promise of Institutionalist Theory”, (International Security 20(1), 1995), hal. 39-51.
tujuan akhir, atau teknik operasional yang dilakukan oleh suatu negara untuk mencapai kepentingannya.12
Kegiatan diplomasi berkaitan dengan pelaksanaan agenda politik luar negeri suatu negara terhadap negara lain. Dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan lebih dari negara lain, mempererat hubungan kerjasama, dan menjaga hubungan antar negara. Diplomasi biasanya dilakukan oleh para aktor negara, misalnya, Presiden atau para Menteri dalam sebuah forum diskusi dengan saling bertukar gagasan dengan aktor negara lain.
Lord Strang seorang ahli politik internasional dalam bukunya
“Foreign Office” mengatakan fungsi diplomasi sebagai berikut:
…..”The primary function of diplomacy which is the quiet and friendly settlement of international differences by intergovernmental discussion and negotiation, facilitated by good personal contacts and understanding”13
Dapat di artikan bahwa fungsi utama diplomasi yakni untuk menyelesaikan berbagai perbedaan internasional dengan penuh ketenangan dan bersahabat melalui diskusi dan didorong oleh hubungan-hubungan pribadi yang baik dan saling pengertian satu sama lain.
Diplomasi memiliki dua tipe, yaitu Diplomasi Bilateral dan Diplomasi Multilateral. Diplomasi bilateral ialah diplomasi yang terjadi antar dua negara. Sarananya dapat berupa pertemuan atau perundingan yang
12 Jack C Plano dan Roy Olton, The International Relations Dictionary, third edition (Santa Barbara: Western Michigan University, 1982), hal. 24.
13 Drs. Aiyub Mohsin, MA, MM. DIPLOMASI, Teori dan Praktek, (2018), 10
dilakukan oleh dua kepala negara ketika melakukan kunjungan resmi atau kunjungan kerja, atau dalam forum khusus yang dikenal dengan Komisi Bersama (Joint Commission), atau dapat juga dilakukan melalui kontak telfon dan surat menyurat. Sedangkan Diplomasi Multilateral ialah jika pertemuan atau perundingan tersebut dilakukan oleh banyak negara.14
Dalam bentuk diplomasi bilateral, misalnya Indonesia yang mengunjungi China pada Maret 2015, pertemuan tersebut membicarakan kelanjutan kerjasama maritim Indonesia dan China. Seperti yang diketauhi bahwa China merupakan salah satu negara mitra dialog IORA, Indonesia memanfaatkan China untuk mendapat dukungan dalam pembangunan infrastrukturnya.
Sedangakan dalam bentuk diplomasi multilateral, Indonesia banyak mengadakan pertemuan-pertemuan dalam lingkup forum IORA, seperti 3rd Indian Ocean Dialogue, International Symposium 20th IORA, International Maritime Security Symposium, Multilateral Naval Exercis Komodo dan lain sebagainya.
1.5.3. Organisasi Internasional
Seiring berkembangnya pola kerjasama dalam hubungan internasional, menjadikan organisasi internasional semakin berperan dan memperlihatkan efektivitasnya sebagai aktor non-negara. Meskipun negara sebagai aktor utama dalam kerjasama internasional, tetapi perlu diakui
14 Aiyub Mohsin, Diplomasi, Teori dan Praktek, 43.
eksistensi organisasi internasional juga menjadi sangat berperan dalam mewadahi kerjasama antarnegara.
Organisasi internasional merupakan pola kerjasama yang melintasi batas-batas negara dan memiliki struktur organisasi. Organisasi internasional diharapkan dapat berlangsung dan menjalankan fungsinya secara berkesinambungan dan melembaga. Hal itu guna tercapainya tujuan-tujuan yang disepakati bersama, baik antara pemerintah dengan pemerintah maupun sesama aktor non-pemerintah dari negara yang berbeda.15
Berkaitan dengan aktor nonnegara, setiap organisasi internasional memiliki peran tersendiri. Organisasi sebagai sebuah lembaga yang di dalamnya terdapat aturan kerjasama yang dapat memberikan keuntungan timbal balik dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama. Organisasi juga memiliki peran spesifik sesuai jenis organisasi tersebut seperti ruang lingkup, bidang kegiatan, pola kerjasama dan kewenangan.16
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa organisasi internasional memiliki peranan, ruang lingkup, bidang kegiatan, pola kerjasama dan kewenangan tertentu. Dalam penelitian ini, Organisasi yang dimaksudkan ialah Indian Ocean Rim Association (IORA).
IORA menjadi organisasi sub regional bagi negara-negara di Kawasan Samudra Hindia yang memiliki peranan khusus dalam bidang maritim. IORA memiliki enam bidang prioritas kerjasama bagi para
15 Rudy T. May, Administrasi dan Organisasi Internasional, (Bandung, 2005), Hal. 3.
16 Rudy, Administrasi dan Organisasi Internasional, 2005.
anggotanya yakni; maritime safety and security, trade and investment facilitation, fisheries management, disaster preparedness, academic, science and technology coorperation, and tourism and cultural exchange.17
1.5.4. Regionalisme
Regional atau kawasan ialah pengelompokan suatu wilayah berdasarkan kedekatan geografis, budaya, perdagangan, dan saling ketergantungan ekonomi yang saling menguntungkan. Menurut R. Stubbs dan G. Underhill yang dikutip oleh Perwita dan Yani dalam buku Pengantar Ilmu Hubungan Internasional menjelaskan adanya tiga elemen utama dalam regionalisme.
Pertama, persamaan sejarah yang telah dihadapi akan mempengaruhi derajat interaksi antar aktor negara di satu kawasan, dengan persamaan sejarah tersebut akan mendorong kesadaran regional dan identitas yang sama (regional awareness and identity). Kedua, adanya keterkaitan yang erat dari masing-masing negara dalam setiap interaksi di kawasan. Ketiga, terdapat suatu kebutuhan yang sama sehingga terciptalah organisasi yang dapat membentuk kerangka legal dan institusional untuk mengatur interaksi antar negara.18
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa negara yang berada di pinggiran Kawasan Samudra Hindia memiliki beberapa
17 Mohamad Hery Saripudin M.A, Indonesia dan Indian Ocean Rim Association (IORA) tahun 2015-2017: peluang dan Tantangan. (Jakarta: Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika), 11.
18 DR. A. A Banyu Perwita dan DR. Yanyan Mochamad Yani, Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), Hal. 107-108.
persamaan yang akhirnya membentuk sebuah organisasi bersama. Salah satunya, negara-negara di Kawasan Samudera Hindia memiliki wilayah perairan luas yang digunakan sebagai jalur perdagangan internasional.
Sehingga negara tersebut tidak ingin wilayah perairannya dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang hanya mencari keuntungan saja.
Atas persamaan kepentingan, terbentuklah sebuah kerjasama regional IORA yang diharapkan dapat memberikan manfaat dan keuntungan bersama bagi negara-negara yang wilayah perairannya dilewati oleh kapal- kapal internasional. Dengan itu, perekonomian serta keamanan negara kawasan akan mengalami peningkatan.
1.5.5. Diplomasi Maritim
Diplomasi maritim merupakan negosiasi atau perundingan yang dilakukan antar dua negara atau lebih terkait batas laut, pertahanan laut, dan kerjasama maritim. Diplomasi maritim bertujuan untuk memberikan isyarat terhadap negara lain atas kebijakan maritim serta kemampuan pertahanan maritim suatu negara.
Diplomasi maritim Indonesia bukan hanya kegiatan pertemuan atau perundingan internasional terkait bidang kelautan, penetapan perbatasan, atau diplomasi angkatan laut. Melainkan bentuk pelaksanaan politik luar negri terkait berbagai aspek kelautan dalam tingkat bilateral, regional, dan global dengan tidak lupa memanfaatkan aset kelautan yang dimiliki, baik
sipil maupun militer untuk memenuhi kepentingan nasional Indonesia sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan internasional.19
Christine Le Miere membagi diplomasi maritim ke dalam tiga kategori, yaitu, diplomasi kooperatif (cooperation diplomacy), diplomasi persuasive (persuasive diplomacy), dan diplomasi koersif (coercive diplomacy).20
Diplomasi kooperatif atau disebut juga ‘Soft Maritime Diplomacy’
karena dalam pengimplementasiannya lebih mengutamakan soft power dibandingkan hard power, contohnya seperti melakukan kunjungan antar negara, pelabuhan, latihan bersama, serta penyaluran bantuan dan misi kemanusiaan yang ditempuh melalui jalur maritim. Sementara itu, Persuasive Maritime Diplomacy ialah upaya untuk mendapatkan pengakuan kekuatan maritim suatu negara.
Jenis diplomasi ini tidak untuk dibuktikan dengan tindakan langsung ke negara tertentu, atau untuk menakuti negara lain, melainkan untuk meyakinkan negara lain atas efektivitas keberadaan angkatan militer dan sumber daya maritim negara tersebut.
19 Peraturan Presiden RI Nomor 16 Tahun 2017 Tentang Kebijakan Kelautan Indonesia, kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia, 2017, 61. [Database on-line];
tersedia di
http://bpsplpadang.kkp.go.id/pubs/uploads/files/PERPRES_16_2017_Kebijakan_Kelautan_Ind.pdf diakses 25 Juli 2019 20.27 WIB
20 Christian Le Miere, “Maritime diplomacy in the 21st century”. Milton Park, Abingdon, (Oxon: Routledge, 2014). Tersedia di https://doi.org/10.4324/9780203555590 Diunduh 25 Juli 2019, 22.30 WIB.
Terakhir, Coercive Maritime Diplomacy yakni memanfaatkan kekuatan angkatan laut untuk menekan pihak lawan, dapat dikatakan bahwa diplomasi ini lebih banyak menggunakan hard power dibandingan soft power.
Terkait dengan penelitian ini, jika dilihat dari tiga model diplomasi maritim tersebut, Indonesia lebih menggunakan diplomasi maritim kooperatif dan persuasif dalam diplomasi maritimnya. Bentuk diplomasi maritim yang dilakukan Indonesia lebih bersifat soft diplomacy dengan menekankan aspek kerjasama, negosiasi dan persuasi.
Dalam hal ini Indian Ocean Rim Association (IORA) menjadi sebuah forum kerjasama yang dipilih Indonesia untuk meningkatkan sumber daya maritimnya Melalui IORA Indonesia dapat meningkatkan diplomasi maritimnya, yakni dengan berbagai pertemuan, perundingan serta pelatihan kerjasama ekonomi, keamanan serta pertahanan maritim di Kawasan Samudra Hindia.
1.6. Metode Penelitian
Penelitian atau research (Bahasa inggris) berasal dari kata reserare (bahasa latin) yang berarti mengungkapkan. Secara etimologis, kata research berasal dari kata re dan to search. Re berarti kembali dan search berarti mencari, menjelajahi, atau menemukan makna. Jadi penelitian berarti mencari, menjelajahi, atau menemukan makna kembali secara berulang-ulang. Menurut istilah, penelitian merupakan usaha sistematis dan objektif untuk mencari pengetahuan yang dapat
dipercaya.21 Jadi, penelitian didefinisikan sebagai satu penyelidikan yang sistematis dan metodis atau suatu masalah untuk menemukan solusi atas masalah tersebut dan menambah khazanah pengetahuan.22
Kemudian jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena apa yang dialami oleh subjek penelitian.23 Sedangkan karakteristik penelitian kualitatif sebagai berikut;24
a. Menggunakan pola pikir induktif (empiris – rasional)
b. Metode kualitatif digunakan untuk menghasilkan grounded theory, yakni teori yang berasal dari data bukan dari hipotesis seperti dalam metode kuantitatif.
c. Teknik wawancara sangat diutamakan dan dihargai tinggi, karena melalui pandangan narasumber terkait masalah yang diteiliti maka akan menemukan fakta fenomenologis.
d. Penelitian kualitatif tidak menggunakan rancangan penelitian yang baku, rancangan tersebut akan berkembang seiring berjalannya proses penelitian.
e. Tujuan penelitian kualitatif yaitu untuk memahami, mencari makna dibalik data, dan untuk menemukan kebenaran baik berupa empiris sensual atau empiris logis.
21 Drs. Kuntjojo, M.pd, Metodologi Penelitian, (Kediri, 2009), 6.
22 Dr. Uber Silalahi, MA, Metodologi Penelitian Sosial, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2009), 2.
23 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006) 4.
24 Kuntjojo, Metodologi Penelitian, 2009. 15.
f. Analisis data dapat dilakukan selama penelitian sedang dan telah berlangsung.
g. Hasil penelitian berupa deskripsi dan interpretasi dalam konteks waktu serta situasi tertentu.
Alasan menggunakan jenis penelitian kualitatif, karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peran Indian Ocean Rim Association (IORA) terhadap peningkatan diplomasi Indonesia khususnya dalam bidang maritim.
Dalam prosedur penelitian kualitatif, menurut Lexy penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif yang berasal dari kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.25 Penelitian ini menggunakan metode pengamatan, wawancara, atau penelaahan dokumen. Dalam menulis penelitian kualitatif terdapat empat prosedur yang dilakukan, yaitu:26
a. Tahap perlapangan, tahapan ini terkait segala bentuk persiapan yang diperlukan sebelum peneliti terjun ke dalam kegiatan penelitian.
b. Tahap penelitian, dalam tahapan ini peneliti berusaha memahami latar penelitian dan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi lapangan penelitian.
c. Tahap analisis data, dalam tahap ini peneliti mengemukakan konsep analisis data untuk menemukan tema dan hipotesis penelitian.
d. Tahap penulisan laporan, yaitu dalam bentuk skripsi.
25 Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 2006. Hal. 4.
26 Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 2006. Hal. 153.
Dalam menyusun penelitian kualitatif tentunya memerlukan berbagai data untuk menyempurnakan hasil penelitian. Dalam penelitian ini terdapat dua jenis data yang digunakan, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer ialah data yang didapat dari hasil wawancara dengan informan, sedangkan data sekunder ialah data yang diperoleh dengan cara membaca, melihat, atau mendengarkan.
Contoh data sekunder antara lain; buku, dokumen, pengumuman, berita, film, video, foto, dan lain sebagainya.27
Sumber primer yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu dengan melakukan wawancara mendalam bersama Indra Noer selaku Staff Kementerian Luar negeri pada Bidang Pengkajian dan Pengembangan Kawasan Asia-Pasifik dan Afrika.
Selain melakukan proses wawancara, penelitian ini juga menggunakan sumber sekunder yang didapat dari berbagai buku dan literature.
Sumber sekunder yang digunakan antara lain dari artikel dalam berita, atau jurnal-jurnal online. Seperti maritim.go.id, kemenlu.go.id, dpr.go.id, kompas.com, lipi.go.id. Lalu sumber sekunder dari jurnal ilmiah seperti eJournal Ilmu Hubungan Internasional, Jurnal Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia, Journal of the National Maritime Foundation of India, dan Associate paper of Heidelberg University.
Sedangkan sumber sekunder yang berasal dari buku antara lain; Pengantar Ilmu Hubungan Internasional karya Banyu Perwita, Indonesia dan Indian Ocean Rim Association (IORA) tahun 2015-2017: Peluang dan Tantangan karya M. Hery
27 Jonathan Sarwono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), 209-210.
Saripudin, Laut Masa Depan Bangsa karya kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Maritime Diplomacy in the 21st Century karya Chritian L Miere.
1.7. Sistematika Penulisan
Penelitian Skripsi ini dibagi ke dalam lima bab, dengan sistematika yang disusun sebagai berikut:
Pada Bab I, akan mengkaji mengenai Pendahuluan dengan menguraikan latar belakang masalah, pertanyaan penelitian, manfaat dan tujuan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka pemikiran, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Pada Bab II, akan mengkaji kerjasama regional di Kawasan Samudera Hindia atau Indian Ocean Rim Association (IORA). Bab ini terdiri dari tiga sub bab yang menjelaskan tentang sejarah pembentukan, prinsip kerjasama, dan mekanisme kerja yang terdapat dalam IORA.
Pada Bab III, akan mengkaji diplomasi Indonesia di bidang maritim. Bab ini terdiri dari dua sub bab yang menjelaskan bagaimana upaya pemerintah dalam menjaga wilayah maritimnya, realisasi poros maritim dunia melalui diplomasi maritim untuk meningkatkan kerjasama dengan negara-negara Samudera Hindia.
Pada Bab IV, akan mengkaji menggunakan Perspektif Neo-Liberal Institusionalisme, bagaimana peran Indian Ocean Rim Asssociation (IORA) terhadap diplomasi maritim Indonesia. Dalam bab ini terdiri dari tiga sub bab yaitu Indonesia sebagai ketua dalam IORA periode 2015-2017, IORA sebagai platform dalam meningkatkan diplomasi maritim Indonesia, IORA memperkuat
diplomasi maritim dalam bidang keamanan maritim Indonesia di Kawasan Samudera Hindia, dan IORA berpotensi meningkatkan diplomasi maritim Indonesia dalam bidang ekonomi di kawasan Samudera Hindia.
Pada Bab V, merupakan bagian penutup yang berisi kesimpulan dan saran terhadap hasil penelitian Peran Indian Ocean Rim Associatin (IORA) terhadap peningkatan diplomasi maritim Indonesia Periode 2015-2017.
24
BAB II
INDIAN OCEAN RIM ASSOCIATION (IORA)
2.1. Pembentukan Indian Ocean Rim Association (IORA)
Forum kerjasama Kawasan Samudera Hindia awalnya terbentuk dari gagasan bersama tiga negara, yaitu, Afrika Selatan, Australia, dan India. Pada saat itu ketiga negara tersebut berada dalam kondisi yang sama, yaitu membutuhkan suatu wadah untuk membantu negara menjalin kerjasama dengan negara lain.28 Maka terbentuklah Indian Ocean Rim Association Regional Cooperation (IOR- ARC), yang saat ini telah berubah nama menjadi Indian Ocean Rim Association (IORA).
Gambar II.1.1. Lambang Organisasi Indian Ocean Rim Association
Sumber: https://www.iora.int/en
28 Astari Dewi Widyawati, Kepemimpinan Indonesia di Indian Ocean Rim Association (IORA) dalam mendukung kebijakan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, Universitas Hasanudin, hal. 30.
Samudera Hindia yang menjadi latar belakang terbentuknya IORA, memiliki beberapa sisi menarik dimana kawasan ini tercatat mengandung 20 persen dari total perdagangan dunia, dan juga tercatat lebih kurang 70 persen pengangkutan minyak dunia melalui kawasan ini. Sebagai salah satu jalur penting dalam perdagangan dunia saat ini, tercatat bahwa Samudera Hindia telah digunakan sebagai jalur perpdagangan strategis sejak Asia masih didominasi kerajaan- kerajaan yang berwawasan maritim, seperti Dinasti Fatimiddi di Laut Merah, Dinasti Chola di India Selatan, Dinasti Syailendra di Asia Tenggara, dan Dinasti Song di Tiongkok.29
Selain itu, kawasan ini juga menjadi jalur pelayaran imperialis kolonialisme bangsa Eropa di Asia. Aktivitas perdagangan yang melewati Samudera Hindia tidak lepas akan sumber daya alam yang dimiliki negara-negara di kawasan ini, seperti Calcuta (India), Mumbai (India), Chenai (Madras, India), Colombo (Sri Lanka), Durban (Afrika Selatan), Jakarta (Indonesia), Karachi (Pakistan), Fremantle (Australia), dan Teluk Richards ( Afrika Selatan).30
Terbentuknya IORA diawali pada tahun 1990-an, bertepatan dengan Afrika Selatan yang baru saja terlepas dari konflik etnis dalam negeri (Apartheid),31 sedang berupaya untuk mendapatkan pengakuan dari negara-negara dunia.
29 Efraim Anugerah Yusuf Rompon, “Membahas Kemaritiman di IORA”, MaritimNews, 7 Maret 2017, [Berita On-line]; tersedia di http://maritimnews.com/2017/03/membahas- kemaritiman-di-iora/ diakses pada 17 Juni 2020.
30 Efraim Anugerah Yusuf Rompon, Membahas Kemaritiman di IORA, 2017.
31 Apartheid merupakan ideologi sosial ras tertentu yang dikembangkan di Afrika Selatan selama abad ke-20. Apartheid ialah tentang segregasi rasial atau pemisahan ras yang menyebabkan adanya diskriminansi politik dan ekonomi terhadap orang-orang yang berkulit hitam (bantu), berwarna (ras campuran). African Union, 31 Juli 2017. [Artikel on-line]; tersedia di http://www.african-union.org/apa-itu-apartheid-di-afrika-selatan/ Diakses pada12 Mei 2019, 1834 WIB.
Sedangkan dalam kasus India, keruntuhan Uni Soviet membuat India mengubah kebijakan luar negeri dan pandangan strategisnya dengan meningkatkan hubungannya dengan negara-negara terdekat di kawasan.32
Sehingga, pada November 1993, Pik Botha selaku Menteri Luar Negeri Afrika Selatan berkunjung ke India untuk mengusulkan pembentukan forum kerjasama regional di Kawasan Samudera Hindia.33 Lalu, disusul oleh Nelson Mandela Presiden Afrika Selatan yang kembali mengunjungi India pada Januari 1995, dan mendapatkan sebuah inisiatif untuk membentuk sebuah forum kerjasama antarsesama negara Kawasan Samudera Hinda. Pada pertemuan tersebut, Presiden Nelson Mandela mengatakan;34
“Recent changes in the international system demand that the countries of the Indian Ocean shall become a single platform”
Pernyataan tersebut yang menjadi awal gagasan terbentuknya kerjasama Kawasan Samudera Hindia, dan usulan yang disampaikan oleh Afrika Selatan tersebut disambut baik oleh Australia, karena, saat itu Australia tengah mengembangkan arah politik luar negerinya ke Kawasan Asia Selatan, sedangkan
32 Dr. Jivanta Schottli, Associate Paper “The Indian Ocean Rim Association for Regional Co-operation: India Takes the Lead”, (Germany: Heidelberg University, 2012) 1. [Jurnal on-line];
tersedia di http://futuredirections.org.au/wp-content/uploads/2012/06/FDI_Associate_Paper_- _01_June_2012.pdf diakses pada 12 Mei 2019, 19.20 WIB.
33 Saripudin, Indonesia dan Indian Ocean Rim Association (IORA) tahun 2015-2017:
peluang dan Tantangan. 10.
34 Moutusi Islam, “Indian Ocean Rim Association (IORA) at 20: An Assessment”, (Bangladesh: Institute of International and Strategic Studies, 2017) 3. [Jurnal on-line]; tersedia di https://www.researchgate.net/publication/332141355_Indian_Ocean_Rim_Association_IORA_at_
20_An_Assessment diakses pada 12 Mei 2019, 21.37 WIB.
Mauritius ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjadi markas IORA dengan keberadaan secretariat di ibukota Port Louis.35
Namun, tidak semua negara yang berbatasan dengan pesisir Samudera Hindia menjadi anggota IORA karena IORA ini menganut sistem keanggotaan yang terbuka yakni tidak ada pemaksaan bagi negara-negara di sekitar Kawasan Samudera Hindia untuk dapat bergabung dengan IORA.36
Kepemimpinan dalam IORA menganut konsep kepemimpinan tiga negara
“Troika”. Konsep ini memiliki posisi ketua IORA periode sebelumnya ditambah ketua IORA yang sedang menjabat dan wakilnya (ketua IORA pada periode berikutnya). Ketua IORA ditetapkan oleh Dewan Menteri dari sederet calon yang diajukan oleh negara-negara anggota secara sukarela. Jika kondisi tersebut tidak terpenuhi maka ketua akan dipilih berdasarkan pertimbangan geografis (keterwakilan wilayah).37
Adapun anggota IORA saat ini berjumlah 21 negara, yang mana 14 diantaranya bergabung saat IORA dideklarasikan pada tahun 1997. Ke-14 anggota tersebut yaitu Australia, India, Indonesia, Kenya, Madagaskar, Malaysia, Mauritius, Mozambik, Oman, Singapura, Afrika Selatan, Srilanka, Tanzania dan Yaman. Sedangkan 7 anggota lainnya yang bergabung dalam IORA hingga sekarang adalah Saudi Arabia, Thailand, Iran dan Bangladesh yang bergabung
35 Schottli, The Indian Ocean Rim Association for Regional Co-operation India Takes the Lead, Hal. 2.
36 Hasil wawancara dengan bapak Indra Noer, Staff Kementerian Luar Negeri Bidang pengkajian dan Pengembangan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika.
37 M. Hery Saripudin, IORA: Peluang dan Tantangan, hal 13.
pada tahun 1999 diikuti oleh Seychelles diahun 2011, Komoros pada tahun 2012, dan terakhir pada tahun 2015 Somalia turut bergabung dalam IORA.38
Selain anggota forum, IORA memiliki negara mitra dialog. Negara mitra dialog terdiri dari negara-negara berdaulat yang tidak tergabung dalam anggota IORA, namun berminat untuk berkontribusi dalam IORA untuk kepentingan bersama. Terdapat 10 negara mitra dialog sepeti, China, Mesir, Perancis, Jepang, Inggris, Italia, Jerman, Turki, Korea, dan Amerika Serikat.39
Selain itu, IORA memiliki dua kelompok peninjau, yaitu Indian Ocean Research Group (IORG) dan Indian Ocean Tourism Organization (IOTO). IORG bertugas mendorong penelitian tentang isu-isu geopolitik, ekonomi, sosial budaya, lingkungan, ilmiah dan teknologi yang menyangkut Samudera Hindia. Sedangkan tugas bagi IOTO adalah meningkatkan, mempromosikan, serta memfasilitasi praktik pariwisata bagi negara-negara di sekitar Samudera Hindia.40
Setelah pertemuan Afrika Selatan dan India pada 1993, Mauritius mengadakan pertemuan pada 29 - 31 Maret 1995. Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari pemerintah, akademisi, dan pelaku bisnis dari Afrika Selatan, Australia, India, Kenya, Mauritius, Oman, dan Singapura. Ketujuh negara dalam pertemuan tersebut dikenal sebagai core member state (M-tujuh). Selain itu, pertemuan ini juga dihadiri oleh Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, Yaman,
38 Charter of Indian Ocean Rim Association (IORA), 1997.
39 “Dialogue Partners on the Web: Indian Ocean Rim Association – IORA” [Database on- line]; tersedia di https://www.iora.int/en/about/dialogue-partners diakses 17 Mei 2019, 12.10 WIB.
40 “Mitra dialog dalam IORA on the Web: Indian Ocean Rim Associatinon (IORA),”
[Database on-line]; tersedia di http://iora.net/about-us/priority-areas.aspx diakses 15 Mei 2019, 19.35 WIB.
Tanzania, Madagaskar, dan Mozambik atau dikenal dengan M-14. Dari pertemuan tersebut dihasilkan rumusan piagam pembentukan kerjasama regional yang diberi nama Indian Ocean Rim Association for Regional Cooperation (IOR-ARC).41
Selanjutnya, diadakan pertemuan Tingkat Menteri pertama di Mauritius pada 6 - 7 Maret 1997. Pertemuan tersebut merupakan peresmian terbentuknya IORA dengan 14 negara anggota, bersamaan dengan terciptanya Piagam IOR- ARC atau saat ini disebut IORA Charter dan menentukan kerangka kerja administratif serta prosedur yang nantinya akan menjadi fondasi kerjasama IORA.42
Maret 1999 kembali diadakan pertemuan kedua Tingkat Menteri di Maputo, Mozambik. Dari pertemuan tersebut dihasilkan rumusan yang menjadi fokus bagi masa depan IORA dengan menganut sifat “open regionalism”, dimana terdapat tiga komponen di dalamnya, yaitu, liberalisasi perdagangan, fasilitasi perdagangan dan investasi, serta kerjasama ekonomi dan teknik. Dalam pertemuan tersebut juga dibentuk Working Group on Trade and Investmen (WGTI)43 untuk mendukung kerjasama ekonomi dan perdagangan. Selain itu, para menteri juga sepakat mengundang Bangladesh, Iran, Seychelles, Thailand,
41 Saripudin, Indonesia dan Indian Ocean Rim Association, 10.
42 S.K Mohanty dan Priyadarshi Dash, “Trade and Invesment Prospects of the IORARC in the New Millenium: New Economic Frontiers of the Region” (India: Reasearch and Information System for Developing Countries, 2012) 1.
43 WGTI berperan merumuskan dan melaksanakan program kerja sama IORA meliputi peningkatan perdagangan, investasi dan pariwisata, pertukaran sains dan teknologi serta peningkatan SDM. [Database on-line]; tersedia di http://www.iora.net/forum/working-group-of- trade-investment.aspx diakses pada 17 Mei 2019, 18.30 WIB.
dan Emirat Arab untuk bergabung di IORA serta mengundang Mesir dan Jepang sebagai mitra dialog.44
Pada tahun 2000 diadakan pertemuan Tingkat Menteri ke-3 di Oman.
Pertemuan ini menjadi pertemuan pertama forum WGTI sekaligus penambahan fokus IORA dalam bidang Inspeksi Makanan dan Rezim Investasi. Dalam pertemuan ini, Tiongkok dan Inggris diresmikan sebagai mitra dialog dalam IORA. Kemudian pada 2001 dan 2012 terdapat pertemuan sejenis di mana Perancis dan Amerika Serikat diresmikan bergabung sebagai negara mitra dialog.
Sementara, Komoros sah sebagai anggota IORA pada tahun 2012.45
Berikut tabel urutan bergabungnya negara anggota IORA beserta periode keketuaan beberapa negara anggota di IORA:
Tabel 2.1.1. Negara Anggota IORA
Negara Anggota
No Nama Negara Keanggotaan Ketua Wakil Ketua
1 Australia 7 Maret 1997 2013-2015 -
2 Kesultanan Oman 7 Maret 1997 2001-2002 1997, 1999-2000
3 Afrika Selatan 7 Maret 1997 2017-2019 2015-2016
4 India 7 Maret 1997 2011-2013 2009-2010
5 Kenya 7 Maret 1997 - -
6 Mauritius 7 Maret 1997 1997-1998 -
7 Singapura 7 Maret 1997 - -
8 Malaysia 7 Maret 1997 - -
9 Tanzania 7 Maret 1997 - -
10 Indonesia 7 Maret 1997 2015-2017 1998, 2013-2014
11 Madagaskar 7 Maret 1997 - -
12 Mozambik 7 Maret 1997 1999-2000 -
13 Sri Lanka 7 Maret 1997 2003-2005 1997, 2001-2002
44 “Indian Ocean Rim Assoiation on the Web: IORA,” [Database on-line]; tersedia di http://www.iora.net/about-us/how-iora-operates/scope-of-work-aspx diakses 17 Mei 2019, 19.06 WIB.
45 Saripudin, Indonesia dan Indian Ocean Rim Association (IORA). Hal. 10.
14 Yaman 7 Maret 1997 2009-2011 2006-2008
15 Persatuan Emirat Arab 31 Maret 1999 - -
16 Iran 31 Maret 1999 2006-2008 2003-2005
17 Bangladesh 31 Maret 1999 - -
18 Thailand 31 Maret 1999 - -
19 Seychelles 15 November 2011 - -
20 Komoros 2 November 2012 - -
21 Somalia 9 Oktober 2014 - -
Sumber: Astari Dewi Widyawati, Kepemimpinan Indonesia di Indian Ocean Rim Association (IORA) dalam Mendukung Kebijakan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, Universitas
Hasanudin, 2016.
Dalam perkembangannya, IORA terus berupaya meningkatkan intensitas kerjasamanya dengan negara-negara anggota serta memanfaatkan peran para negara mitra dialog. Pada Agustus 2010, kembali diadakan pertemuan tingkat Menteri (Council of Ministers/Com) ke-10 di Sana’a. Dalam pertemuan tersebut telah disepakati pembentukan lembaga-lembaga IORA, seperti, Maritime Transport Council (MTC), amandemen IORA Charter, University Mobility for Indian Ocean Region/UMIOR (bidang pendidikan), Regional Center for Science and Technology Transfer/RCSTT (bidang IPTEK), dan Fisheries Suport Unit/FSU (bidang perikanan).46
Selanjutnya, pada November 2011, terdapat pertemuan Tingkat Menteri ke- 11 di Bengaluru, pertemuan tersebut berhasil merumuskan enam prioritas kerjasama, yaitu, Keselamatan dan Keamanan Maritim, Fasilitasi Perdagangan dan Investasi, Manajemen Perikanan, Manajemen Resiko Bencana, Kerjasama Akademik, Sains dan Teknologi, Promosi Pariwisiata dan Pertukaran Budaya.
46 Saripudin, Indonesia dan Indian Ocean Rim Association (IORA), Hal. 11.