• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang Penelitian

Fraud adalah suatu perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh orang dari dalam atau dari luar organisasi, dengan maksud untuk memperkaya atau mendapatkan keuntungan diri sendiri, atau badan hukum yang secara langsung atau tidak langsung merugikan pihak lain. Selain pada perusahaan swasta fraud juga dapat terjadi pada badan usaha milik negara (BUMN), badan usaha milik daerah (BUMD), dan instansi pemerintahan. Didalam pemerintahan, fraud sering kali terjadi pada kasus pengadaan barang/jasa, yang digunakan untuk mendukung kegiatan operasional atau proyek pembangunan untuk pelayanan pada masyarakat.

Pengadaan barang/jasa di atur dalam Peraturan Presiden nomor 54 tahun 2010 yang telah beberapa kali diubah, terakhir dengan peraturan presiden nomor 4 tahun 2015 tentang perubahan keempat atas peraturan presiden nomor 54 tahun 2010 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah yang masih terdapat kekurangan dan belum menampung perkembangan kebutuhan pemerintah mengenai pengaturan atas pengadaan barang/jasa yang baik. Maka diperlukan perubahan yang baru yaitu Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 16 tahun 2018 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah. Yang di dalam nya menimbang bahwa pengadaan barang/jasa pemerintah mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pembangunan nasional untuk peningkatan pelayanan publik dan pengembangan perekonomian nasional dan daerah. Yang dimaksud pengadaan barang/jasa didalam perpres ini adalah kegiatan pengadaan/jasa oleh kementerian/lembaga/perangkat daerah yang dibiayai oleh APBN/APBD yang prosesnya sejak identifikasi kebutuhan, sampai dengan serah terima hasil pekerjaan. (PerPres nomor 16 tahun 2018).

(2)

Secara khusus, Lembaga Kebijakan Pengadaan barang/jasa Pemerintah (LKPP, 2011) menjelaskan munculnya fraud procurement pada metode konvensional disebabkan oleh informasi harga dan barang terbatas, akses pasar yang terbatas, pasar yang tersekat sekat (fragmented), persaingan usaha tidak sehat atau premanisme, bad governance, persekongkolan, sumber daya manusia yang terbatas, kredibilitas proses tidak terjamin.

Kelemahan yang terjadi pada metode konvensional membuat pemerintah mengeluarkan sistem pelayanan pengadaan barang/jasa secara elektronik yang akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, meningkatkan akses pasar dan persaingan usaha yang sehat, memperbaiki tingkat efisiensi proses pengadaan, mendukung proses monitoring dan audit dan memenuhi kebutuhan akses informasi yang real time guna mewujudkan clean and good government dalam pengadaan barang/jasa pemerintah.

Sistem pelayanan pengadaan barang/jasa secara elektronik sering juga disebut e-procurement yang pada dasarnya mengubah pelaksanaan pengadaan yang tadinya manual menjadi sistem elektronik dengan menggunakan teknologi informasi, hal ini akan menekan terjadinya fraud karena dilakukan dengan cara sistematik dan akan mengurangi tatap muka yang biasanya menjadi awal terjadinya penyelewengan. Pemanfaatan teknologi dalam pengadaan barang/jasa sudah ditentukan dalam Peraturan Presiden nomor 54 tahun 2010 yang disebut juga dengan sistem pengadaan barang/jasa secara elektronik atau E- Procurement. Sesuai pada pasal 1 ayat 37 yang disebut pengadaan barang/jasa elektronik atau E-procurement adalah pengadaan barang/jasa yang dilaksanakan dengan menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Menurut Staf Divisi Investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) "Sektor pelayanan publik sangat rentan untuk dikorupsi dalam proses Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ). Sepanjang tahun 2017 sedikitnya ada sekitar 84 kasus korupsi yang diproses oleh aparat penegak hukum (APH) pada sektor pelayanan publik

(3)

dengan total nilai kerugian negara sebesar Rp 1,02 triliun," kata Wana Alamsyah (25/2/2018).

Kota Bandung merupakan salah satu pemerintah daerah yang menerapkan e- procurement dalam proses pengadaan barang/jasa. Pemerintah Kota Bandung memiliki fungsi untuk memberikan pelayanan publik dan meningkatkan pengembangan ekonomi daerah serta nasional yang salah satunya dapat diwujudkan melalui pengadaan barang/jasa secara elektronik. Implementasi e- procurement di kota bandung sudah sejak tahun 2008 dan pada tahun 2010 dibentuk dasar hukum nya yaitu Peraturan Presiden nomor 54 tahun 2010 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah.

Walaupun sistem pengadaan secara elektronik sudah diterapkan namun masih ada saja penyelewengan pada pengadaan barang/jasa di kota bandung yaitu pada pengadaan tanah untuk ruang terbuka hijau (RTH) pada tahun 2012-2013 yang baru di ungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah dilakukannya gelar perkara dan pengumpulan bukti yang cukup untuk dinaikan statusnya ke tingkat penyidikan. "Terkait hal tersebut, KPK meningkatkan status penangan perkara ke penyidikan dan menetapkan tiga orang sebagai tersangka yaitu HN (Hery Nurhayat) Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) kota Bandung, TDQ (Tomtom Dabbul Qomar) dan KS (Kadar Slamet) anggota DPRD Bandung periode 2009-2014," kata Ketua KPK Agus Rahardo di konferensi pers di gedung KPK Jakarta, Jumat (20/4/2018) www.republika.co.id.

"Diduga TDQ dan KS menyalahgunakan kewenangan sebagai tim banggar (pelaksanaan harian badan anggaran) DPRD kota Bandung dengan meminta penambahan alokasi anggaran RTH itu selain itu keduanya diduga berperan sebagai makelar dalam pembebasan lahan," ungkapnya. Sedangkan, Hery diduga menyalahgunakan kewenangan sebagai Pengguna Anggaran (PA) dengan membantu proses pencairan pembayaran tanah untuk RTH.

www.republika.co.id.

(4)

Berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II tahun 2017, dalam anggaran tahun 2017 Kota Bandung masih menyisakan masalah yang mengakibatkan kerugian negara pada pengelolaan belanja yang berkaitan dengan ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-undangan dan 3E (Ekonomis, Efektif,dan efisien), dibawah ini merupakan rekapitulasinya :

Tabel 1.1 Rekapitulasi

Rekapitulasi Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan dan 3E PDTT atas Pengelolaan Belanja pada Pemerintah Daerah

(Nilai dalam Rp Juta)

Prov insi/

Entit as

Objek Pemeriksaa

n

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan dan 3E

Total Ketidakpatuhan

dan 3E

Kekurangan volume pekerjaan dan/

atau barang

Kelebihan pembayaran

pekerjaan, namun belum dilakukan pelunasan pembayaran

kepada rekanan

Kelebihan pembayaran

selain kekurangan

volume

Lain-lain Permasalahan Ketidakpatuhan

dan 3E

Permasalahan Permasalahan Permasalahan Permasalaha

n Permasalahan

Jm

l Nilai Jm

l Nilai Jm

l Nilai Jm

l Nilai Jm

l Nilai

Pemk ot Band

ung

Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017 (s.d. 30

November) pada Pemerintah Kota Bandung

di Bandung

12 9.013,86 3 2.082,34 2 1.188,87 1 58,06 6 5.684,59

(5)

Berdasarkan rekapitulasi di atas bahwa Kota Bandung memiliki 12 permasalahan terkait ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan 3E atas pengelolaan belanja yang mengakibatkan kerugian negara sebesar 9.013,86 juta atau 9,013 Miliar. Dengan adanya masalah ini menandakan bahwa pelaksanaan pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh pemerintah kota bandung belum berjalan secara efektif, efisien, dan ekonomis. Selain itu dengan timbulnya kerugian negara ini tentu perlu adanya klarifikasi yang tepat akan penyebab dari munculnya kerugian tersebut. Untuk menilai apakah itu terjadi karena kejadian tidak terduga, kesalahan pada saat pelaksanaannya atau mungkin adanya indikasi kecurangan yang terjadi. Seperti halnya kasus korupsi pengadaan ruang terbuka hijau (RTH) pada anggaran tahun 2012 yang baru biasa terungkap pada awal tahun 2018.

Menurut I Putu Jati Arsana (2016: 339) ada beberapa kasus pengadaan barang/jasa yang menimbulkan kerugian negara yaitu pengadaan barang/jasa fiktif, rekanan yang tidak menyelesaikan pekerjaan, barang/jasa yang diadakan tidak sesuai spesifikasi, kekurangan volume pekerjaan, kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan, pemahalan harga, belanja yang tidak sesuai ketentuan atau melebihi ketentuan.

Dalam pencegahan fraud pengadaan barang/jasa diperlukan pengawasan dalam proses pelaksanaan e-procurement dan sistem pengendalian intern sebagai pengawas yang saat ini masih menjadi solusi terbaik dalam mencegah terjadinya fraud ataupun meminimalisir terjadinya fraud. Pengendalian intern sebagai mana disebutkan dalam peraturan pemerintah no 60 tahun 2008 tentang sistem pengendalian intern pemerintah menyebutkan bahwa “Sistem Pengendalian Intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan”.

(6)

Dengan adanya permasalahan dalam ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan 3E (ekonomis,efektif, dan efisien) yang menimbulkan kerugian negara yang cukup besar menandakan bahwa penggunaan e-procurement dalam pelaksanaan pengadaan barang dan jasa belum baik. Serta dengan adanya kasus pengadaan tanah ruang terbuka hijau (RTH) yang dimana terjadi karena penyalahgunaan wewenang maka itu artinya pengendalian internal tidak berjalan dengan baik.

Berdasarkan fenomena di atas bahwa sangat tingginya fraud yang terjadi pada pengadaan barang/jasa di pemerintahan, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peran E-Procurement dan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Terhadap Pencegahan Fraud Pengadaan Barang dan Jasa (Survei pada Bagian Layanan Pengadaan Pemerintah Kota Bandung)”

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Peran E-Procurement terhadap Pencegahan Fraud Pengadaan Barang/jasa pada Pemerintahan Kota Bandung.

2. Bagaimana Peran Sistem Pengendalian Intern Pemerintah terhadap Pencegahan Fraud Pengadaan Brang/Jasa pada Pemerintahan Kota Bandung.

3. Bagaimana Peran E-Procurement dan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah terhadap Pencegahan Fraud Pengadaan Barang/Jasa di Pemerintahan Kota Bandung.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian ini adalah untuk :

1. Besarnya Peran E-Procurement terhadap Pencegahan Fraud Pengadaan Barang/jasa pada Pemerintahan Kota Bandung.

(7)

2. Besarnya Peran Sistem Pengendalian Intern Pemerintah terhadap Pencegahan Fraud Pengadaan Barang/jasa pada Pemerintahan Kota Bandung.

3. Besarnya Peran E-Procurement dan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah terhadap Pencegahan Fraud Pengadaan Barang/Jasa di Pemerintahan Kota Bandung.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian yang penulis lakukan ini diharapkan akan mempunyai manfaat antara lain :

1. Bagi Penulis

Menambah wawasan dan memahami peran E-Procurement dan sistem pengendalian intern pemerintah dalam pencegahan fraud pengadaan barang/jasa, sehingga dapat memperoleh gambaran dari fakta dilapangan dengan teori yang ada.

2. Bagi pemerintahan kota bandung

Sebagai salah satu cara memberikan masukan kepada bagian layanan pengadaan Pemerintah Kota Bandung bagaimana memaksimalkan E- Procurement dan sistem pengendalian intern pemerintah dalam mencegah terjadinya fraud pada pengadaan barang/jasa.

3. Bagi pembaca lain

Hasil Penelitian ini diharapkan akan menambah keilmuan dan bacaan tambahan bagi pembaca dan mahasiswa lainnya yang berminat untuk melakukan penelitian di sektor publik.

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dan perolehan data dilakukan pada Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan yang berada pada bagian layanan pengadaan Pemerintah Kota Bandung. Adapun waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2018 sampai dengan selesai.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwarestatement pendapatan, beban usaha dan laba bersih mempengaruhi abnormal return secara negatif, hasil ini memiliki arti bahwa ketika perusahaan

Karakteristik  ruang  aktivitas  PKL  disesuaikan  dengan  karakteristik  pengunjung 

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat, rahmat, dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Perencanaan Unit Pengolahan Pangan

Gambar 10. Jawaban siswa MW Gambar 9. Jawaban siswa AH.. Setelah peneliti selesai memeriksa hasil pekerjaan tes akhir siswa pada siklus I, maka peneliti melakukan wawancara

Berdasarkan atas latar belakang yang telah di paparkan di atas maka dengan ini penulis sangat tertarik untuk melakukan suatu penelitian akan mengenai evaluasi

Peningkatan pengeluaran pada laporan biaya lingkungan berdasarkan kategori dapat mengurangi permasalahan perusahaan diantaranya, jumlah karyawan yang mengalami

Tanaman yang dapat dipakai sebagai penyembuhan luka sayat dari studi litaratur adalah: bawang merah (Allium cepa), getah jarak pagar (Jatropha CurcasL), daun kenikir

Kapan, seberapa sering dan untuk berapa lama kita bertatap mata dengan orang lain merupakan cara yang amat penting menyampaikan pesan tentang relasi, khususnya seberapa