LAPORAN TUGAS AKHIR
PROTOTYPE DATABASE
ELEKTORNIC MEDICAL
RECODR
(EMR) MENGGUNAKAN
HL7 messages
SEBAGAI SOLUSI INTEGRASI DATABASE
GUNA MENUNJANG PELAYANAN
KESEHATAN MASYARAKAT
Disusun Oleh:
Nama
: Wise Herowati
NIM
: A11.2009.04739
Program Studi
: Teknik Informatika-S1
FAKULTAS ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO
SEMARANG
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Kesehatan dan masyarakat merupakan dua relasi yang saling terkait kuat. Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.[1]
Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan. Masyarakat terdiri dari individu utuh yang tidak dapat dipisah-pisah, termasuk dalam riwayat kesehatannya.
Sedangkan untuk kesehatan menurut WHO adalah “Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of diseases or infirmity”, dapat dikatakan bahwa sehat merupakan kondisi
optimal fisik, mental dan sosial seseorang sehingga dapat memiliki produktivitas, bukan hanya terbebas dari bibit penyakit.[2] Kondisi sehat dapat dilihat dari dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai salah satu modal produksi atau prakondisi yang dibutuhkan seseorang sehingga dapat beraktivitas yang produktif.
Masyarakat dan kesehatan terhubung tentunya karena manusia pastinya memiliki kondisi fisik yang berbeda-beda dan tidak jarang terjadi gangguan
yang tidak sekedar sekali atau dua kali yang dapat dibuat sebuah catatan kesehatan atau dapat dikatakan sebuat riwayat kesehatan. Riwayat kesehatan yang berkesinambungan akan menghindarkan dari kasus medical error.
Dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 disebutkan bahwa pengertian medication error adalah kejadian yang merugikan pasien, akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah. Studi yang dilakukan oleh Commonwealth Fund menunjukkan bahwa 44.000 – 98.000 kematian per tahun terjadi karena medical error. [3] Medical error ini terjadi dikarenakan tidak berkesinambungan informasi medis pada seorang individu karena terpecah-pecah di setiap institusi pelayanan kesehatan yang pernah didatangi sehingga pelayanan kesehatan yang diberikan sering menjadi tidak tepat.
Kesinambungan informasi medis atau riwayat kesehatan seorang individu dapat terpenuhi ketika berbicara tentang Electronic Health Record (EHR). Saat ini tantangan dalam EHR adalah dibutuhkan interoperability standard
yang dapat membuat sistem komputer di sarana pelayanan kesehatan dapat melakukan share data kesehatan dengan sarana pelayanan kesehatan lain dengan tetap menjaga kualitas klinis tiap individu di dalamnya.
Di Indonesia semakin banyak rumah sakit, poliklinik, puskesmas yang mulai menggunakan Tehnologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di dalam pelayanan kesehatan yang diberikan, akan tetapi dengan software yang sifatnya tailor-made (bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan) sehingga mengakibatkan terciptanya beragam software/aplikasi di sarana pelayanan kesehatan. Hal ini dapat menimbulkan masalah jika suatu saat institusi kesehatan tersebut saling bertukar data atau informasi. Integrasi sistem di Indonesia menjadi semakin sulit karena tidak ada standarisasi pada sistem informasi software di Indonesia baik struktur data, hardware, software, dll.
Di Amerika Serikat telah lama dikembangkan konsep standarisasi yang menunjang integrasi sistem di dalam institusi medis, yaitu HL7 (Health Level Seven), yang merupakan standar ANSI (American National Standards
Institute), yang telah terakreditasi oleh SDO (Standards Developing Organizations); standarisasi ini dipakai khususnya untuk bidang atau area
healthcare system. Khusus untuk HL7 bidang yang dikaji adalah administrasi data klinik atau rumah sakit. HL7 tidak mengembangkan aplikasi software healthcare atau hospital information system melainkan hanya mengembangkan konsep, metodologi, spesifikasi dan standar yang akan memungkinkan beberapa aplikasi software kesehatan yang berbeda dapat bertukar data satu dengan yang lainnya.
2. Rumusan Masalah
Guna mendukung integrasi data kesehatan di masyarakat dibutuhkan standar komunikasi pertukaran data yang bersifat internasional sehingga data dapat dimanfaatkan dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun. Maka pada tugas akhir ini penulis akan membahas mengenai “Prototype Database
Elektornic Medical Record (EMR) Menggunakan HL7 messages sebagai Solusi Integrasi Database guna Menunjang Pelayanan Kesehatan Masyarakat”.
3. Batasan Masalah
Untuk menghindari penyimpangan dari judul dan tujuan yang sebenarnya serta keterbatasan pengetahuan yang dimiliki penulis, maka penulis membuat ruang lingkup dan batasan masalah yakni penulis menyusun laporan akhir sebatas pada pembuatan prototype database dan kode-kode HL7 message hanya terbatas untuk proses pendataan hasil diagnosa pasien dengan menggunakan acuan beberapa field record sebagai pembuatan kode-kode standar komunikasi HL7 message .
4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari laporan tugas akhir yang dibuat oleh penulis ini adalah
a. Mendeskripsikan pembuatan database electornik medical record
b. Mendeskripsikan HL7 message yang telah di sarana pelayanan kesehatan
c. Mengembangkan kode-kode prototype HL7 message.
5. Manfaat Penelitian
Manfaat dari laporan tugas akhir ini adalah : a. Bagi Penulis
Menambah wawasan mengenai HL7 dan cara mengimplemantasi dan mengembangkannya.
b. Bagi Instansi Kesehatan
Tersedianya akses informasi medis pasien yang dapat didistribusikan antar instansi serta dibangun dari berbagai macam variasi narasi, struktur, kode dan multimedia dengan terciptanya Electronic Medical Record (EMR) sebagai wujud implementasi HL7 message
sebagai standart pertukaran data, dalam hal ini tentukan data-data yang berhubungan dengan kesehatan.
c. Bagi Masyarakat
Kesinambungan informasi medis atau riwayat kesehatan seorang individu dapat terpenuhi ketika berbicara tentang Electronic Medical Record(EHR). Penerapan HL7 message pada EMR ini dapat mengurangi resiko medical error yang dapat merugikan masyarakat pada umumnya. Manfaat dari pencegahan medical error adalah: (1) Pencegahan adverse event,
(2) Memberikan respon cepat segera setelah terjadinya adverse event,
(3) Melacak serta menyediakan umpan balik mengenai adverse event.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Electronic Health Record (EHR)
Electronic Health Record (EHR) merupakan kegiatan mengkomputerisasikan isi rekam kesehatan dan proses yang berhubungan dengannya[4].
Rekam Medis Kesehatan menurut Lampiran SK PB IDI No 315/PB/A.4/88 adalah rekaman dalam bentuk tulisan atau gambaran aktivitas pelayanan yang diberikan oleh pemberi pelayanan medis / kesehatan kepada seorang pasien. Berdasarkan SK Menteri Kesehatan Nomor:269/Menkes/PER/III/2008 tentang rekam medis menjelaskan bahwa rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien (Bab I pasal 1).
EHR bukanlah sistem informasi yang dapat dibeli dan diinstall seperti paket word-processing atau sistem informasi pembayaran dan laboratorium yang secara langsung dapat dihubungkan dengan sistem informasi lain dan alat yang sesuai dalam lingkungan tertentu.
EHR merupakan sistem informasi yang memiliki framework lebih luas dan memenuhi satu set fungsi harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
Mengintegrasikan data dari berbagai sumber (Integrated data from multiple source)
Mengumpulkan data pada titik pelayanan (Capture data at the point of care)
Mendukung pemberi pelayanan dalam pengambilan keputusan
Sedangkan Gemala Hatta menjelaskan bahwa EHR terdapat dalam sistem yang secara khusus dirancang untuk mendukung pengguna dengan berbagai kemudahan fasilitas untuk kelengkapan dan keakuratan data; memberi tanda waspada; peringatan; memiliki sistem untuk mendukung keputusan klinik dan menghubungkan data dengan pengetahuan medis serta alat bantu lainnya.[6]
WHO juga memiliki pandangan yang berbeda tentang pengertian EHR, yang berlandaskan pada beberapa perbedaan penerapan EHR di beberapa negara. Namun demikian, WHO menjelaskan bahwa EHR idealnya harus mampu:
Collect clinical, administrative and financial data at the point time;
Exchange data more easily between health professionals to facilitate continuing care;
Measure clinical improvement and health outcomes, compare the outcomes againts benchmarks and facilitate research and clinical trials;
Provide valuable statistical data in a timely and efficient manner to public health and goverment ministries (such reporting of health data is important in the detection and monitoring of disease outbreaks, as well as providing meaningful and accurate statistics to measure the health status of the population; and Support management in administrative and financial reporting and other processes. [7]
Sistem EHR secara umum merupakan suatu sistem pencatatan kesehatan pasien yang yang terdapat pada berbagai lembaga kesehatan seperti administratif, klinik, farmasi, radiologi, laboratorium dan sebagainya. Secara definisi, sistem EHR merupakan kumpulan sistematis informasi kesehatan elektronik pasien secara individu maupun dalam populasi, yang merupakan rekaman dalam format digital dan dapat di share dalam berbagai media, melalui sistem informasi yang
terhubung dalam jaringan. Catatan tersebut dapat berisi berbagai jenis data komprehensif maupun ringkasan, termasuk demografis, rekaman medis, pengobatan dan alergi, status imunisasi, hasil tes laboratorium, gambar radiologi, tanda-tanda vital, status personal seperti usia dan berat badan, serta informasi tagihan.
Sistem EHR dikenal juga sebagai EPR (Electronic Patient Record) atau EMR (Electronic Medical Record). Arsitektur rancangan dalam sistem EHR terdiri dari beberapa komponen dan pengaksesan secara bersama-sama. Adapun komponen utama pada sistem EHR, antara lain yaitu administratif, klinik (rumah sakit, puskesmas dan klinik), radiologi, laboratorium, farmasi, input order dokter dan klinis.
Dengan gambar dibawah akan menunjukkan arsitektur sistem EHR secara konseptual. Dimana pada gambar tersebut terdapat beberapa komponen saling terhubung.
Gambar 2.1 Arsitektur Konseptual HER
Menurut Johan Harlan, komponen fungsional EHR, meliputi: 1. Data pasien terintegrasi
Repository (gudang data) yang memusatkan data dari berbagai komponen lain atau cara lain untuk mengintegrasikan data.
2. Dukungan keputusan klinik
Rules engine, yang menyediakan program logic yang dapat dipakai untuk menunjang keputusan seperti: kewaspadaan dan pernyataan, daftar permintaan (order set) dan protokol klinis. 3. Pemasukan perintah klinikus
Human interface, memperoleh data dalam waktu yang tepat bagi pelayanan (at the point of care) dan kemampuan untuk mengakses data, aturan dan proses data (mined data) melalui data agregat dan analisis data.
4. Akses terhadap sumber pengetahuan
Sumber pengetahuan, yakni membuat informasi yang selalu tersedia bagi kepentingan sumber-sumber luar.
5. Dukungan komunikasi terpadu
Gudang data (data warehouse) data spesifik yang dapat diproses (yakni data agregat dan data yang akan dianalisis) yang menghasilkan informasi yang amat berguna.
Penyelenggaraan EHR di rumah sakit sejalan dengan adanya tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang semakin berkualitas. Keuntungan peralihan dari paper-based pada EHR adalah menjamin kualitas perawatan (quality of care) dan memicu produktivitas, antara lain:
• Mereduksi duplikasi pengujian
• Mereduksi kesalahan medis (medication errors) • Mencegah efek kerugian dari konflik materi
pengobatan/perawatan
• Mengurangi waktu yang dihabiskan oleh pasien dan tenaga medis dalam menunggu order medis, hasil test, diagnosa yang akurat, intervensi medis
• Mereduksi kerja dengan kertas
• Penghematan biaya dari penggunaan kertas untuk pencatatan, • Tidak memerlukan gudang yang besar dalam penyimpanan arsip • Penyimpanan data (record) pasien menjadi lebih lama
• EHR yang dirancang dengan baik akan mendukung otonomi yang dapat dipertanggung jawabkan
• Meningkatkan produktivitas bekerja
• Mengurangi kesalahan dalam menginterprestasikan pencatatan • Standarisasi, terdapat pelaporan data klinik yang standar yang
mudah dan cepat diketahui
• Meningkatkan kualitas informasi klinik dan sekaligus
meningkatkan waktu perawat berfokus pada pemberian asuhan • Accessibility, legibility, artinya mudah dalam membaca dan
mendapat informasi klinik tentang semua pasien dan suatu lokasi. [8]
2.1.2 Pengertian Health Level Seven (HL7) Message
Menurut Amatayakul Magret K dalam bukunya Electronic Health Records: A Practical, Guide for Professionals and Organizations
kriteria dari EHR salah satunya mengintegrasikan data dari berbagai sumber (Integrated data from multiple source) dan guna melakukan integrasi data tersebut, EHR dapat didukung dengan Health Level Seven (HL7) message yang merupakan standar untuk bertukar informasi antara aplikasi medis. Standar ini mendefinisikan format untuk transmisi informasi terkait kesehatan.
Informasi yang dikirim menggunakan standar HL7 dikirim sebagai kumpulan dari satu atau lebih pesan, yang masing-masing mengirimkan satu record atau item informasi terkait kesehatan.
Didirikan tahun 1987, Health Level Seven (HL7) adalah salah satu dari beberapa standar ANSI (American National Standards Institute), yang telah terakreditasi oleh SDO (Standards Developing Organizations. HL7 merupakan organisasi yang mengembangkan
standard bersifat non profit, dimana misinya adalah menyediakan standar untuk pertukaran data, integrasi, share dan penyimpanan informasi kesehatan elektronik untuk mendukung praktis klinis dan mendukung managemen, mengirimkan dan mengevaluasi pelayanan kesehatan. Dapat dikatakan HL7 bukan standar arsitektur aplikasi dan basis Data namun HL7 merupakan standar pertukaran data secara elektronik dalam bentuk messaging standard.
Gambar 2.2 Antarmuka tanpa HL7
Gambar 2.3 Antarmuka tanpa HL7
HL7 atau Health Level Seven maksudnya Layer ke tujuh dari OSI Model yang diaplikasikan dalam konsep healthcare system. Penerapan model OSI atau Open System Interconnection yang mengatur konsep
protocol layers terdiri dari 7 layers. HL7 berada di posisi aplikasi atau di layer ke 7 dan berbasis pada aplikasi healthcare. HL7 menerbitkan suatu framework berupa template struktur data berdasarkan Reference Information Model (RIM) yang berisi spesifikasi tabel dan field sesuai kebutuhan sistem administrasi di klinik maupun rumah sakit secara spesifik. Template tersebut akan dijadikan sumber acuan standar bagi para pengembang aplikasi software.
HL7 interface engine adalah interface atau mesin integrasi yang dibuat khusus untuk industry sarana pelayanan kesehatan. Interface tersebut merupakan system yang ada dengan menggunakan standard messaging protocol, dikarenakan rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain biasanya mempunyai system yang berbeda untuk berbagai aspek pelayanan yang mereka miliki. Mereka seringkali tidak dapat berkomunikasi satu sama lain. HL7 memecahkan masalah tersebut dengan menyediakan framework untuk bertukar data, integrasi, berbagi, pengambilan data dari informasi kesehatan elektronik.
2.1.1 Pemanfaatan HL7 pada EHR
Sistem Informasi Pelayanan Kesehatan berkembang sangat pesat akhir-akhir ini. Bermula dari sistem informasi yang terisolasi di masing-masing rumah sakit ataupun organisasi pelayanan kesehatan primer. Hal ini menyebabkan kondisi spesifik yang dihadapi.
Saat ini di Indonesia tercatat sekitar 1300 RS dan ribuan puskesmas (Menkes RI) yang tentunya pemerintah perlu memikirkan rancangan induk (grand disain) EHR yang disusun secara strategis per regional meliputi wilayah Indonesia Timur, Tengah dan Barat. Rancangan EHR tersebut tentunya harus dapat mengatasi hal-hal yang sering terjadi pada rekam medis berbasis kertas antara lain: (1) Aksesibilitas informasi kesehatan pasien belum real time, (2) kelengkapan, keakuratan dan keamanan informasi kesehatan pasien masih rendah, (3) Pemanfaatan data pasien dalam pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi di sarana pelayanan kesehatan oleh para pengelola sarana pelayanan kesehatan belum optimal, (4) Data pasien belum dioptimalkan oleh para tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan secara berkesinambungan dalam rangka pelayanan yang efektif dan efisien.
EHR terdefinisikan sebagai pencatatan pelayanan kesehatan dalam paket format proses komputer yang dapat terbaca tetapi dapat diperluas termasuk di dalamnya dimanipulasi dalam program dan proses otomatis. (ISO TC 215, ISO/TR 20514).
Interoperability dalam EHR didefinisikan sebagai kemampuan dua atau lebih aplikasi untuk berkomunikasi secara efektif tanpa melakukan kompromi ketika melakukan transmisi EHR. Sangat penting untuk mengembangkan standar secara nasional dan internasional untuk EHR agar dapat :
Bertukar data informasi pasien antara profesi kesehatan dalam berbagai macam pelayanan kesehatan
Bertukar data informasi pasien antara berbagai macam organisasi, lingkup enterprise, regional atau system nasional bahkan antar negara.
Mendukung interoperability antara aplikasi dari pembuat yang berbeda
Terdapat dua tipe interoperability yang sesuai untuk tujuan tersebut yaitu functional interoperability dan semantic interoperabilityI.
Functional interoperability berkaitan dengan pertukaran informasi antara dua atau lebih sistem dalam format yang dapat dibaca oleh manusia. Sedangkan Semantic interoperability berkaitan dengan pertukaran informasi antara dua atau lebih system dalam format yang terproses computer dan diterima system. Untuk memenuhi Semantic Interoperability ada persyaratan yang harus terpenuhi yaitu
Standarisasi EHR reference model, berkaitan dengan EHR struktur
Standarisasi service interface, berkaitan dengan semantic interface antara EHR dan service lain
Standarisasi dalam domain-spesific consept models, berkaitan dengan archetypes dan template untuk domain konsep yang berbeda.
Standarisasi terminology, berkaitan dengan bahasa yang digunakan dalam archetypes.
Dua persyaratan awal berkaitan juga dengan functional
interoperability. Informatika sarana pelayanan kesehatan penuh dengan berbagai macam standar yang membantu untuk menyusun berbagai aspek aplikasi di pelayanan kesehatan. Aplikasi dibangun dari standar tersebut untuk penyimpanan dan struktur semantic. Terdapat berbagai
interoperability dalam EHR di Amerika dan Eropa diantaranya adalah
ISO adalah organisasi internasional untuk standarisasi yang telah diakui di 157 negara. ISO memproduksi standar EHR terbatas pada struktur dan fungsi EHR serta system yang diproses dalam EHR
CEN adalah European Committee for Standardisation, yang terlibat dalam pengembangan multidisiplin standar termasuk system di pelayanan kesehatan. CEN dipakai di Uni Eropa dan beberapa negara di luar Eropa
HL7 adalah Health Level Seven, merupakan salah satu American National Standards Institute (ANSI), terstandarisasi oleh American National Standards Institute (ANSI)-yang bergerak di area pelayanan kesehatan. HL7 dipakai di Amerika, Eropa, Asia dan Australia. Tujuannya adalah menyediakan standar untuk pertukaran data antara berbagai tipe aplikasi computer. HL7 domain termasuk data klinis dan administrative.
DICOM – Digital Imaging and Communication in Medicine adalah asosiasi industry medis dan organisasi profesi medis, berada di bawah the National Electrical Manufacturers Association (NEMA). Mereka telah membuat DICOM sebagai standar untuk komunikasi gambar medis. Standar ini mengatur pertukaran gambar medis dan informasi yang berkaitan.
Pemilihan HL7 dalam pembangunan HER ini karena HL7 menerbitkan suatu framework berupa template struktur data berdasarkan Reference Information Model (RIM) yang berisi spesifikasi tabel dan field sesuai kebutuhan sistem administrasi di klinik maupun rumah sakit secara spesifik. Template tersebut mendukung karena :
Template tersebut akan dijadikan sumber acuan standar bagi para pengembang aplikasi software.
Human-to-Human Communication - templates ini menyediakan konsep atau struktur bagi suksesnya komunikasi antar orang dalam suatu institusi ataupun antar kelompok organisasi yang membutuhkan pertukaran informasi khususnya informasi dalam bidang medis.
Constraint and validation of computer-to-computer messages - templates
ini digunakan untuk merancang validasi atau verifikasi input data dalam suatu medical system.
Construction- templates untuk mengarahkan dan mengatur informasi pada media input data. Selain itu mendefinisikan field-field apa saja yang dibutuhkan dalam sebuah informasi data, apa saja tipe datanya, nilai field-field tertentu dalam sebuah medical system dll.
Predication - templates untuk memastikan output apa saja yang dibutuhkan pada suatu sistem atau sub-system determine, contohnya apa saja yang perlu diinformasikan berkenaan dengan deskripsi hasil test laboratorium, dan informasi apa saja yang dapat dimanfaatkan
untuk para pengambil keputusan seperti dokter dll untuk membantu klien.
Description- templates ini menjelaskan hubungan antara elemen yang dapat dilihat dari sebuah sistem.
Selain itu terdapat HL7 interface engine, dengan melalui HL7
interface engine sarana pelayanan kesehatan dapat mengambil manfaat informasi yang telah ada tanpa melakukan investasi besar lagi dengan teknologi baru, biaya yang murah serta tanpa menganggu sistem yang telah ada. Disamping itu terdapat peluang untuk berhubungan dengan sistem di luar sarana mereka.
Alasan lain menggunakan HL7 adalah biasanya rumah sakit dan organisasi kesehatan lainnya memiliki banyak sistem komputer yang berbeda digunakan untuk segala sesuatu dari catatan penagihan untuk pelacakan pasien.Semua sistem harus berkomunikasi dengan satu sama lain (atau "interface") ketika mereka menerima informasi baru, tetapi tidak semua melakukannya. HL7 menetapkan sejumlah standar yang fleksibel, pedoman, dan metodologi di mana sistem berbagai kesehatan dapat berkomunikasi satu sama lain. Pedoman atau standar data adalah seperangkat aturan yang memungkinkan informasi untuk dibagikan dan diproses dengan cara yang seragam dan konsisten. Standar-standar data dimaksudkan untuk memungkinkan organisasi kesehatan untuk dengan mudah berbagi informasi klinis.Secara teoritis, kemampuan untuk bertukar informasi harus membantu untuk meminimalkan kecenderungan untuk perawatan medis secara geografis terisolasi dan sangat bervariasi.
HL7 mengembangkan standar konseptual (misalnya, HL7 RIM ), standar dokumen (misalnya, HL7 CDA ), standar aplikasi (misalnya, HL7 CCOW ), dan standar pesan (misalnya, HL7 v2.x dan v3.0).Pesan standar sangat penting karena mereka mendefinisikan bagaimana informasi dikemas dan dikomunikasikan dari satu pihak kepada pihak
lain. Standar tersebut mengatur jenis bahasa, struktur dan data yang diperlukan untuk integrasi mulus dari satu sistem ke sistem lain. HL7 meliputi siklus hidup lengkap dari sebuah spesifikasi standar termasuk pengembangan, adopsi, pengakuan pasar, pemanfaatan, dan kepatuhan. Bisnis menggunakan standar HL7 membutuhkan keanggotaan organisasi dibayar dalam HL7 HL7 Anggota Inc dapat mengakses secara gratis standar dan non anggota dapat membeli standar dari HL7 atau ANSI.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah penelitian tindakan atau sering disebut sebagai action research. Zuriah (2003: 54) mengemukakan bahwa penelitian tindakan menekakan pada kegiatan (tindakan) dengan mengujicobakan suatu ide ke dalam praktek atau siduasi nyata dalam skala mikro yang diharapkan kegiatan tersebut mampu memperbaiki, meningkatkan kualitas, dan melakukan perbaikan sosial.[9]
Selain itu penelitian tindakan dapat dikatakan mempunyai tujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung didunia kerja. Dari pengertian dan tujuan tersebut penulis merasa cocok menggunakan metode penelitian tindakan atau action research guna mendukung tercapainya tujuan penulis.
Secara garis besar, langkah-langkah dalam penelitian tindakan ini meliputi perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan
(monitoring), dan refleksi/ penilaian (reflecting). Keempat langkah tersebut dapat dilihat dari bagan berikut ini:
Gambar 3.1 Langkah Penelitian Tindakan
Dari gambar tersebut, dapat kita ketahui bahwa dari langkah-langkah tersebut dapat menjadi satu siklus. Yang artinya, siklus dari keempat langkah
tersebut dapat berulang. Siklus dapat berhenti bila peneliti sudah merasa puas akan hasil yang dicapainya.
Dalam Nazir (1988: 97-98) dikemukakan langkah-langkah pokok dalam penelitian tindakan sebagai berikut:
1. Rumusan masalah dan tujuan penelitian bersama-sama antara peneliti dan pekerja praktis dan decision maker
2. Himpun data yang tersedia tentang hal-hal yang berhubungan dengan masalah ataupun metode-metode dengan melakukan studi kepustakaan.
3. Rumuskan hipotesa serta strategi pendekatan dalam memecahkan masalah
4. Buat desain penelitian bersama-sama antara peneliti dengan pelaksana program serta rumuskan prosedur, alat dan kondisi pada mana penelitian tersebut akan dilaksanakan
5. Tentukan kriteria evaluasi, teknik pengukuran, serta teknik-teknik analisa yang digunakan
6. Kumpulkan data, analisa, beri interpretasi serta generalisasi dan saran-saran
7. Laporkan penelitian dengan penulisan ilmiah
Setelah mendapatkan teori mengenai acuan guna melaksanakan penelitian, peneliti memilih tempat penelitian di Rumah Sakit Telogorejo yang beralamat di Jalan KH.A. Dahlan Semarang Jawa Tengah Indonesia.
3.2 Metode Pengumpulan Data
3.2.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data kualitatif. Jenis data kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data tidak dalam bentuk angka, meliputi informasi tentang kriteria – kriteria apa saja yang dibutuhkan guna mencapai komunikasi data antar database yang berbasis HL7 message.
3.2.2 Sumber Data a. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumber data tersebut yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan, yaitu data-data yang diperoleh dari wawancara dan survei atau pengamatan langsung, yang digunakan sebagai bahan acuan dalam pembuatan aplikasi. Contoh data primer yang dibutuhkan penulis untuk menunjang pembuatan aplikasi adalah data detail dari pasien, data detail dari penyakit, dimana nanti hasil dari data pasein dan penyakit itu dapat dimasukan ke dalam hasil diagnosa. Dan dari hasil diagnosa tersebut akan dibuat standar konumkasi menggunakan HL7 message agar data yang terdapat pada diagnosa pasien bisa dikomunikasikan.
b. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari data penulis dalam bentuk yang sudah jadi yang bersifat informasi dan kutipan, baik dari internet maupun literatur, pustaka, jurnal yang berhubungan dengan penelitian yang dibuat. Contoh data sekunder yang dibutuhkan penulis adalah data yang memuat informasi penggunaan HL7 message dan bagaimana cara atau penentuan dan pengunaan standar-standar yang bisa digunakan pada proses transaksi dan komunikasi data.
3.3Rancangan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah serta tujuan yang telah diuraikan pada bab 1, peneliti menggunakan pendekatan kualitatifyaitu berawal pada data dan berakhir pada kesimpulan. Dengan adanya batasan masalah maka penelitian yang dilakukan pada objek penelitian dimungkinkan tidak melebar dari tujuan yang ingin dicapai, sehingga pengumpulan data dapat dilakukan secara tepat. Agar penelitian semakin terarah dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka diperlukan sebuah rancangan yang
digunakan sebagai pedoman dalam penelitian, dengan tahapan yang akan penulis gambarkan dengan bagan sebagai berikut :
Gambar 3.2 Bagan Rancangan Penelitian
Rincian mengenai rancangan penelitian yang akan penulis gunakan akan penulis jelaskan sebagai berikut :
1. Studi Pustaka
Data sekunder peneliti dapatkan dari hasil studi pustaka. Tahap ini dilakukan dengan mempelajari buku-buku referensi atau sumber-sumber yang berkaitan dengan skripsi ini, baik dari text book maupun internet. Data – data yang peneliti kumpulkan dari hasil studi pustaka adalah :
a) Konsep mengenai penerapan HL7 message yang dapat bermanfaat untuk sinkronisasi database yang bisa diterapkan pada database rumah sakit.
b) Materi mengenai pemnyusunan kode-kode HL7 message.
c) Pengumpulan jurnal – jurnal yang berhubungan dengan konsep database rumah sakit dan penggunaan HL7 message.
d) Teori – teori yang dibutuhkan selama penelitian yang telah diuraikan pada bab 2 tinjauan pustaka.
2. Studi Lapangan
Pada tahap ini data – data primer dikumpulkan. Proses pengumpulan data yaitu dilakukan dengan wawancara kepada kepala Kepala Bagian IT di Rumah Sakit Telogorejo dan melakukan survei
Studi Pustaka
Studi Lapangan
Analisis Data Perancangan sistem
Implementasi Pengujian Sistem Pembuatan Laporan Studi Pustaka Studi Lapangan
Analisis Data Perancangan sistem
Implementasi Pengujian
Sistem Pembuatan
langsung ketika proses pengolahan data pasien. Data – data yang berhasil peneliti kumpulkan selama proses wawancara dan survei adalah :
a) Proses-proses yang biasa terjadi pada rumah sakit yang berhubungan dengan teknik informatika.
b) Kriteria – kriteria yang harus dipenuhi dalam pembuatan database untuk rumah sakit.
c) Kriteria – kriteria yang harus dipenuhi dalam proses-proses transaksi pada rumah sakit.
d) Proses dan manfaat penerapan HL7 message untuk data-data rumah sakit.
3. Analisis Data
Ketika semua data telah terkumpul, maka tahapan selanjutnya adalah melakukan proses analisis data. Pada tahapan ini proses analisis yang dilakukan ada dua hal, yang pertama adalah analisis data yang diperoleh dan analisis kebutuhan, dan yang kedua adalah definisi dari kebutuhan tersebut. Analisis data primer yang telah dikumpulkan meliputi analisis data-data yang dibutuhkan untuk pasien, dokter, dan penyakit. Dan untuk analisis kebutuhan meliputi kebutuhan dari sistem yang tentunya meliputi kriteria proses yang harus memenuhi standar sehingga data dan laporannya dapat diperlakukan sesuai standar HL7 message. Selain itu kebutuhan informasi, kebutuhan perangkat keras, kebutuhan perangkat lunak juga memerlukan analisis guna mendapatkan hasil olahan data untuk sistem yang benar yang tentunya sesuai dengan standar yang diinginkan.
4. Perancangan Sistem
Dalam melakukan perancangan sistem, peneliti menggunakan alat bantu perancangan yaitu Diagram Konteks (Contex Diagram), Diagram Dekomposisi (Decompotition Diagram) dan Diagram Alir Data (Data Flow Diagram / DFD). Sedangkan untuk melakukan perancangan basis datanya, peneliti menggunakan Entity Relationship Diagram (ERD), Transformasi ERD ke tabel. Kemudian dilanjutkan dengan perancangan isian fields yang berisikan kode-kode HL7 message untuk hasil diagnosa pasien.
5. Implementasi
Pada tahap ini mulailah penyusunan kode-kode HL7 message
untuk hasil diagnosa pasien sesuai dengan standar-standar HL7 message. Kode tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai isian fields agar tabel tersebut dapat dikomunikasikan dengan database yang lain.
6. Pengujian Sistem (Testing)
Setelah semua proses implementasi selesai dilakukan, tahap selanjutnya adalah pengujian yang bertujuan untuk menguji kebenaran dalam penyusunan kode-kode standar HL7 message untuk komunikasi data hasil diagnosa pasien.
7. Pembuatan Laporan
Dan tahapan paling akhir adalah pembuatan laporan yang bertujuan untuk dijadikan sebagai dokumentasi hasil penelitian.
3.4 Variabel Penelitian
Variabel penelitian merupakan suatu informasi yang nilainya tidak tetap. Dalam penelitian, terdapat klasifikasi variabel yang akan digunakan untuk mempersiapkan alat dan metode pengumpulan data, metode analisis atau pengolahan data, serta untuk melakukan pengujian.
Karena penelitian ini bersifat kualitatif, maka variabel penelitiannya adalah orang atau aktor yang berperan dalam sistem yang berjalan. Dan aktor yang dimaksud antara lain adalah Kepala Bagian IT Rumah Sakit Telogorejo.
3.5 Populasi dan Sampel
Populasi merupakan kumpulan atau keseluruhan anggota dari objek penelitian dan memenuhi kriteria tertentu yang telah ditetapkan dalam penelitian. Penelitian yang melibatkan populasi sebagai objek disebut sensus. Sedangkan sampel adalah bagian tertentu dari unit populasi.
Dalam penelitian yang bersifat kualitatif ini, penelitian hanya berfokus pada satu objek penelitian saja yaitu proses penerapan HL7 message untuk integrasi database rumah sakit Telogorejo sebagai objek utamanya. Karena sistem yang akan dibuat adalah sistem yang akan menggunakan penerapan
HL7 message untuk solusi inegrasi Database guna Mendukung Pelayanan Kesehatan Masyarakat. Sedangkan untuk sampelnya adalah contoh hasil laporan dan data-data dari penerapan HL7 message.
3.6 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data selama proses penelitian berlangsung. Instrumen atau alat penelitian ini dapat berupa angket atau kuisioner. Karena pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti bersifat kualitatif maka instrumen penelitian adalah peneliti sendiri, karena peneliti sebagai pengumpul data yang mempengaruhi terhadap faktor instrumen. Adapun reliabilitas dan validitasnya lebih pada kelayakan dan kredibilitas peneliti karena alat ukur
dalam penelitian kualitatif juga bersifat kualitatif juga, sehingga sangat abstrak akan tetapi lengkap dan mendalam.
3.7 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian sangat dibutuhkan agar penelitian tetap terarah dan sesuai dengan tujuan dari penelitian ini. Ruang lingkup yang dimaksud adalah menentukan batasan – batasan yang diperlukan untuk melakukan pengumpulan data sebagai bahan analisa data, perancangan sistem dan mendefinisikan kebutuhan – kebutuhan yang diperlukan, untuk membangun sistem serta mengimplementasikannya kepada objek penelitian.
Batasan – batasan penelitian didasarkan pada latar belakang serta tujuan penelitian. Adapun ruang lingkup dalam proses penelitian ini adalah peneliti hanya melakukan penyusunan kode-kode menggunakan standar
HL7 message untuk data diagnosa pasein, penyusunan tersebut diharapkan dapat bermanfaat untuk komunikasi data tersebut di pihak lain.
3.8 Prosedur Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data memiliki peran yang sangat penting, karena metode pengumpulan data akan menentukan kualitas dan keakuratan data yang akan dikumpulkan selama proses penelitian. Dengan berbagai macam metode pengumpulan data, peneliti akan menggunakan metode sebagai berikut :
1. Wawancara (Interview)
Metode pengumpulan data melalui wawancara ini dilakukan pada pihak rumah sakit dan poliklinik guna mendapatkan data-data yang berhubungan dan mendukung untuk pendataan pasien dan pendataan penyakit. Kebutuhan data ini penulis penuhi dengan melakukan wawancara pada pihak Rumah Sakit Telogorejo Semarang.
2. Survei
Metode in dilakukan dengan cara melakukan pengamatan dengan mengamati objek secara langsung dimana objek tersebut tentunya mendukung atau berhubungan dengan penelitian. Kegiatan yang dilakukan adalah melakukan riset mengamati langsung proses olah data dan transaksi data yang dibutuhkan oleh pasien dan penyakit. Dengan metode survei ini penulis akan mencoba mengamati proses dari transaksi data pasien dan penyakit, contohnya proses yang untuk identifikasi penyakit pada pasien. 3. Studi Pustaka (Library Research Method)
Merupakan metode yang dilakukan dengan cara mencari sumber dari buku-buku yang ada, selain buku juga terdapat paper atau artikel yang dapat menambah informasi guna mendukung penelitian. Dengan metode studi pustaka ini penulis sedikit banyak mendapatkan info dari beberapa jurnal yang tentunya menambah informasi penulis mengenai HL7 message .
3.9 Kerangka Pikir
Setelah menjelaskan mengenai rancangan penelitian yang akan dilakukan penulis dalam menyusun laporan tugas akhir ini, sebelum mengungkapkan mengenai variabel penelitian yang memuat informasi-informasi yang dibutuhkan, penulis akan menjabarkan mengenai kerangka pikir dalam proses penelitian yang dilakukan penulis. Penjabaran kerangka pikir akan digambarkan dalam bagan sebagai berikut :
Gambar 3.3 Bagan Kerangka Pikir
Melihat bagan kerangka pikir di atas, penulis memiliki kerangka pikir bahwa masalah yang ada adalah guna melakukan integrasi data-data rumah sakit atau dapat dikatakan data-data rekam medik, dibutuhkan standar komunikas tersendiri, karena pada dasarnya data-data rekam medik memilih kecenderungan isinya sama, hanya penamaan field pada databasenya berbeda tergantung pada pembuatnya. Maka itu, agar terjadi integrasi data sehingga dapat menjalin komunikasi data-data tersebut, diperlukan standar komunikasi. Pada data rekam medik, terdapat standar komunikasi yakni
HL7 message yang dapat digunakan untuk integrasi data-data rekam medik. Sehingga data-data tersebut dapat terjalin integrasi data yang diharapkan dapat memudahkan pengembang dalam mengolah data-data yang sudah ada. Sehingga kesalahan-kesalahan dalam komunikasi data dapat diminimalisir yang dapat berdampak positif pula pada pasien.
Kebutuhan standar integrasi data rumah sakit
Integrasi data rumah sakit Penggunaan HL7 message Meminimalisir kesalahan pengolahan data
3.10 Teknik Analisis Data
Setelah semua data diperoleh, langkah selanjutnya adalah melakukan analisa terhadap data tersebut secara kualitatif. Karena penelitian ini bersifat kualitatif maka alat yang digunakan dalam analisis data adalah peneliti sendiri. Peneliti melakukan analisa data untuk mengidentifikasi kebutuhan, merancang sistem, mengimplementasikan sistem pada objek yang diteliti. Dalam tahap analisis data ini, dilakukan tahap – tahap sebagai berikut : 1. Pengelompokan data
Data yang diperoleh selama proses penelitian kemudian dianalisis sesuai dengan jenis datanya, yaitu jenis data primer dan jenis data sekunder. Jenis data primer adalah data yang didapatkan langsung pada objek penelitian yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan. Data - data tersebut diperoleh dari wawancara dan survei atau pengamatan langsung, yang digunakan sebagai bahan acuan dalam pembuatan aplikasi. Dan yang kedua adalah jenis data sekunder yaitu data yang diperoleh dari hasil studi pustaka yang peneliti ambil dari buku, jurnal, literatur dan media internet yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan. Dan semua data – data tersebut dianalisis agar dapat digunakan dan sesuai dengan standar HL7message yang gunakan oleh peneliti.
2. Analisa kebutuhan
Seteleh menganalisis data dan mengelompokkannya berdasarkan jenis datanya maka tahap selanjutnya adalah melakukan analisis kebutuhan data. Analisis kebutuhan tersebut meliputi :
a. Kebutuhan informasi
Kebutuhan informasi mencakup semua informasi yang dibutuhkan. Baik oleh aktor yang memahami mengenai transaksi HL7 message
b. Kebutuhan perangkat keras
Untuk kebutuhan perangkat keras, peneliti menggunakan perangkat keras yang sudah dimiliki oleh peneliti sendiri.
c. Kebutuhan perangkat lunak
Kebutuhan perangkat lunak disesuaikan dengan kebutuhan pengguna dan kebutuhan dari pembuatan aplikasi nantinya.
3. Perancangan
Setelah tahap analisis kebutuhan selesai dilakukan maka tahap selanjutnya adalah melakukan perancangan sistem yang akan dibuat. Tahap perancangan adalah :
a. Context diagram
Menjelaskan struktur terluar dan paling umum dari sebuah sistem dimana sistem ini akan menggunakan penerapan HL7 message
pada database rumah sakit. Penerapan HL7 message yang akan penulis rancangan adalah penerapan pada proses diagnosa penyakit pada pasien . Identifikasi urutan proses yang harus dilalui adalah : i. Menentukan entitas terkait dalam pembuatan database untuk
penerapan HL7 message, entitas tersebut antara lain : 1) Entitas Penyakit
2) Entitas Pasein 3) Entitas Diagnosa
ii. Menentukan data flow arus input output antara entitas dan sistem diagnosa penyakit pada pasien.
b. DFD levelled
Jika sebuah context diagram telah dirancang, maka akan digambarkan data flow yang lebih terperinci lagi, yaitu DFD level 0 dan seterusnya.
i. DFD level 0
1) Pendataan pasein 2) Pendataan penyakit
3) Pendataan diagnosa ii. DFD level 1
1) DFD level 1 (pendataan pasien) a) Input data pasien
2) DFD level 1 (pendataan penyakit) a) Input data penyakit
3) DFD level 1 (pendataan diagnosa) a) Input data dokter
b) Edit data dokter c. Mendesain database
1) Membuat Entity Relationship Diagram (ERD) 2) Membuat transformasi ERD ke tabel
d. Membuat kode HL7 message
Penyusunan kode HL7 message ini langsung menggunakan pada SQLyog, dimana sebelumnya dapat dilakukan pada notepad ++ yang kemudian dicopy dan paste ke dalam isian fields tabel hasil diagnosa.
e. Melakukan pengujian
Pada tahap ini akan dilakukan 2 tahap pengujian, yang pertama adalah tahap pengujian tiap-tiap program atau unit program untuk memperbaiki error (bug) dalam penulisan kode dan untuk meyakinkan bahwa fungsi-fungsi yang dibentuk dapat berjalan sesuai keinginan. Tujuan dari tahap pertama ini adalah untuk menghasilkan unit program yang dapat dieksekusi dan valid. Pada pengujian tahap pertama, peneliti akan menggunakan metode pengujian User Acceptence Test.
Sedangkan untuk tahap pengujian yang kedua adalah tahap pengujian pencocokan standart HL7 message dari data-data yang telah ada dengan standar-standar yang seharusnya ada saat melakukan transaksi penggunaan data kesehatan. Dalam tahap pengujian ini akan dilakukan pengujian pencocokan hasil
pengolahan data yang dilakukan oleh aplikasi dan dilakukan secara manual oleh peneliti.
f. Melakukan implementasi
Setelah tahap pengujian kode-kode yang telah peneliti buat dan diuji sesuai dengan standar, maka kode tersebut dapat langsung dipakai untuk isia fields tabel hasil diagnosa atau yang berhubungan dengan data diagnosa pasien. Tentunya penerapan tersebut dilakukan pada objek penelitian yaitu pada Rumah Sakit Telogorejo Semarang.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Hasil penelitian memuat data hasil penelitian yang relevan dengan tujuan tugas akhir. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil wawancara dan survei yang dilakukan langsung di lapangan dan studi pustaka yang penulis lakukan secara bertahap dan berkelanjutan untuk mendapatkan data yang sesuai dan benar-benar relevan.
Data - data yang diperoleh kemudian dianalisa lebih lanjut. Sebagai tahap awal, data dikelompokkan berdasarkan jenis sumbernya, yaitu data primer dan data sekunder.
1. Data primer
Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung pada objek penelitian yaitu proses-proses data yang menggunakan standar komunikasi HL7 message . Peneliti melakukan analisa terhadap proses-proses yang berlangsung pada rumah sakit Telogorejo yang berhubungan dengan komunikasi data yang menggunakaan standar HL7 message. Dari analisa dan pengamatan tersebut, peneliti mendapatkan data-data yang dibutuhkan yang dapat dikatakan sebagai data primer. Data tersebut antara lain :
1) Proses diagnosa pasien yang sering terjadi dan pada proses tersebut dapat diterapkan proses standarisasi komunikasi data menggunakan standar HL7 message.
2) Data - data pasien yang diperlukan guna berjalannya proses diagnosa pasien.
3) Data - data diagnosa itu sendiri guna nanti mengehatui hasil diagnosa terhadap pasien rumah sakit.
5) Perangkat keras
Untuk perangkat keras, peneliti mengoptimalkan perangkat keras yang dimiliki oleh instansi.
6) Perangkat lunak
Peneliti menggunakan windows xp. Untuk database beserta peneliti menggunakan SQLyog yang dirasa cukup mudah dalam pembuatan dan pembuktian penggunaan standar HL7message. 2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung untuk mendukung penelitian. Data sekunder tersebut diperoleh dari hasil studi pustaka yang peneliti ambil dari berbagai buku, jurnal, dan media global internet. Data sekunder yang berhasil dikumpulkan untuk mendukung penelitian ini antara lain :
1) Materi mengenai penggunaan standar HL7 message untuk data rumah sakit.
2) Teori – teori yang berkaitan dengan penelitian yang telah dituangkan dalam tinjauan pustaka pada bab 2.
4.2 Analisis Hasil Penelitian
Data hasil penelitian yang telah diperoleh dan dikelompokkan menurut jenis sumber datanya, kemudian dianalisa lebih lanjut. Sebelum melakukan pembuatan sebuah pembuktian komunikasi data menggunakan
HL7message, dilakukan suatu perancangan akan perangkat lunak tersebut. Perancangan berguna untuk melakukan semua persiapan pembuatan perangkat lunak, termasuk menganalisa kebutuhan – kebutuhan yang ada. 4.2.1 Kebutuhan Sistem
Kebutuhan sistem disini akan meliputi kebutuhan informasi yang dibutuhkan, kebutuhan perangkat keras yang akan digunakan, dan juga kebutuhan perangkat lunak yang nantinya digunakan untuk pembuatan program aplikasinya
4.2.1.1 Kebutuhan Informasi
Agar kode-kode HL7 message ini dapat disusun dengan baik dan benar sesuai standar HL7 message , maka perlu dilakukan identifikasi informasi. Informasi yang dibutuhkan antara lain :
a.Informasi untuk data penyakit
Jika proses diagnosa sudah mendapatkan hasil, tentunya hasil dari proses diagnosa ini nantinya akan diberitahukan kepada dokter-dokter yang bersangkutan sesuai dengan kategori dokter yang sesuai dengan hasil diagnosa tersebut.
b. Informasi untuk pasien
Jika pasien telah menjalani proses diagnosa, maka nantinya hasil dari proses tersebut dapat diberitahukan kepada pasien yang berobat dengan sangat menjaga kerahasiaannya. Kerahasiaan tersebut dengan cara tidak memberikan hasil diagnosa kepada pihak yang tidak berwenang.
4.2.1.2 Kebutuhan Perangkat Keras
Aplikasi sistem pendukung keputusan ini akan dibangun secara standalone. Dalam penelitian ini, peneliti memanfaatkan perangkat keras yang sudah dimiliki sebelumnya oleh instansi. Perangkat keras yang dimaksud yaitu sebuah netbook dengan prosesor intel atom @1,83 GHz, RAM berkapasitas 1 GB DDR3, Harddisk 250 GB, dan mouse standar.
4.2.1.3 Kebutuhan Perangkat Lunak
Aplikasi sistem pendukung keputusan yang akan dibuat membutuhkan perangkat lunak sebagai berikut :
1. Windows xp
Windows xp sebagai sistem operasinya. Alasan penggunaan sistem operasi berbasis windows yaitu karena kebanyakan end-user sudah familiar dengan interface dari sistem operasi yang berbasis windows. Dan juga karena fileds tabel diisi HL7 message maka agar mempermudah penulis menggunakan SQLyog.
2. SQLyog
Dalam pembuatan database ini yang nantinya diikuti dengan membuatan kode-kode standar HL7 message untuk proses diagnosa pasien, penulis memilih menggunaan SQLyog agar mempermudah penulis. Karena software ini telah sering digunakan.
4.2.2 Proses Perancangan
4.2.2.1Skenario yang akan Dicapai
Sebagai tahap awal dalam proses perancangan, maka peneliti akan memberikan deskripsi atau gambaran mengenai tujuan yang akan dicapai :
Pada proses diagnosa, diharapakan hasil yang diperoleh nantinya bisa mengalami proses transaksi data, dikarenakan hasil proses diagnosa ini dapat ditangani tidak hanya di Rumah Sakit Telogorejo, namun di rumah sakit lain dengan standar komunikasi yang sama yakni HL7 versi 2.3.
4.2.2.2 Diagram Konteks
Diagram Konteks adalah diagram yang menggambarkan sistem dalam satu lingkaran dan menunjukkan hubungan antara proses dengan entitas luarnya. Sistem yang dimaksud proses diagnosa pasien yang dapat digambarkan diagram konteksnya sebagai berikut.
Data penyakit Data pasien
Data diagnosa Data diagnosa
Gambar 4.1 Diagram Konteks Proses Diagnosa Pasien
4.2.2.3 Diagram Alir Data / Data Flow Diagram (DFD)
Diagram alir data merupakan penggambaran lebih detail dan lebih rinci dari proses yang telah digambarkan sebelumnya pada konteks diagram. Dari proses yang dijelaskan pada konteks diagram akan diperinci ke DFD level 0, dan proses yang dijelaskan pada DFD level 0, akan diperinci lagi pada DFD level 1, dan seterusnya.
4) DFD level 0
i. Pendataan Penyakit ii. Pendataan Pasein
iii. Pendataan Hasil Diagnosa 5) DFD level 1 (pendataan penyakit)
i. Input data penyakit
6) DFD level 1 (pendataan pasien) i. Input data pasien
7) DFD level 1 (pendataan hasil diagnosa) i. Input data diagnosa
0 Diagnosa
Penyakit Pasien
Gambar 4.2 DFD Level 0
4.2.3 Perancangan Basis Data
Setelah tahap perancangan sistem selesai dilakukan maka tahapan selanjutnya adalah melakukan perancangan basis data. Dalam tahapan ini akan dilakukan beberapa hal, yaitu pertama pembuatan ERD, kemudian mentransformasikan ERD ke tabel, normalisasi tabel, pembuatan relasi antar tabel, dan yang terakhir adalah pembuatan kamus data.
ERD merupakan sebuah diagram yang menggambarkan hubungan antar objek data dalam sebuah sistem basis data. Objek data atau entitas yang saling berhubungan dalam sistem basis data yang data pasien pasien 2 Pendataan pasien data penyakit diagnosa 3 Hasil diagnosa data pasien data penyakit penyakit 1 Pendataan penyakit data penyakit data pasien data diagnosa
akan dibuat antara lain adalah penyakit, pasien,hasil diagnosa. ERD yang dapat dijelaskan oleh penulis adalah sebagai berikut:
Gambar 4.3 Entity Relationship Diagram (ERD)
m 1 m m kd_pelayanan kd_puskesmas kd_penyakit kd_pasien jns_kasus message pemeriksaan diagnosa penyakit kd_penyakit kd_icd_induk is_default penyakit kd_pasien kd_puskesmas tgl_pendaftaran nama_depan nama_tengah nama_belakang tgl_lahir pasien dimiliki kd_jenis_kelamin kd_agama status_maritial
Tabel yang telah didefinisikan dalam ERD kemudian digambarkan secara fisik melalui relasi tabel sebagai berikut :
Definisi adri fields yang terdapat pada tabel-tabel yang telah dibuat pada database dapat dijelaskan dalam kamus data sebagai berikut :
1. Tabel penyakit Nama tabel : penyakit
Field kunci : KD_PENYAKIT KD_ICD_INDUK
No. Nama Field Type Width Keterangan 1 KD_PENYAKIT Varchar 20 Kode
penyakit 2 KD_ICD_INDUK Varchar 20 Kode icd
induk 3 PENYAKIT Varchar 500 Nama
penyakit Gambar 4.4 Relasi tabel
4 INCLUDE Varchar 20 Include penyakit 5 EXCLUDE Varchar 20 Exclude penyakit 6 NOTE Varchar 255 Catatan
penyakit 7 STATUS_APP Varchar 255 Status
penerapan penyakit 8 DESCRIPTION Varchar 255 Deskripsi
penyakit 9 IS_DEFAULT Bit 1 Default
penyakit Tabel 4.1 Tabel penyakit
2. Tabel pasien Nama tabel : pasien
Field kunci : KD_PASIEN
No. Nama Field Type Width Keterangan 1 KD_PASIEN Varchar 20 Kode pasien 2 KD_PUSKESMAS Varchar 20 Kode
puskesmas 3 TGL_PENDAFTAR Datetime - Tanggal
pendaftaran 4 NAMA_DEPAN Varchar 50 Nama depan
pasien 5 NAMA_TENGAH Varchar 50 Nama
tengah pasien 6 NAMA_BELAKANG Varchar 50 Nama
pasien 7 TEMPAT_LAHIR Varchar 50 Tempat lahir
pasien 8 KD_JENIS_KELAMIN Varchar 20 Kode janis
kelamin pasien 9 WARGA_NEGARA Bit 20 Warga negara pasien 10. ALAMAT Varchar 500 Alamat
pasien 11. KD_PROPINSI Varchar 20 Kode
propinsi 12. KD_KABKOTA Varchar 20 Kode
kabupaten 13. KD_KECAMATAN Varchar 20 Kode
kecamatan 14. KD_KELURAHAN Varchar 20 Kode
kelurahan 15. KD_POS Varchar 20 Kode pos 16. KD_PENDIDIKAN Varchar 20 Kode
pendidikan 17. KD_PEKERJAAN Varchar 20 Kode
pekerjaan 18. KD_AGAMA Varchar 20 Kode agama 19. STATUS_MARITAL Varchar 20 Status
marital pasien 20. KD_GOL_DARAH Varchar 5 Kode
daraha 21. NAMA_AYAH Varchar 20 Nama ayah
pasien 22. NAMA_IBU Varchar 20 Nama ibu
pasien 23. NAMA_KLG_LAIN Varchar 20 Nama
keluarga lain pasien 24. RINCIAN _PENANGGUNG Varchar 200 Rincian penanggung 25. TELEPON Varchar 50 Telepon 26. HP Varchar 50 No hp 27. KD_CUSTOMER Varchar 20 Kode
kostumer 28. KET_WIL Varchar 20 Keterangan
wilayah 29. STATUS_HIDUP Bit 1 Status hidup 30. NAMA_ASURANSI Varchar 20 Nama
asuransi 31. KETERANGAN Varchar 255 Keterangan 32. NO_ASURANSI Varchar 20 Nomer
asuransi 33. KD_RAS Varchar 20 Kode ras 34. KK Varchar 255 Kakrtu
kelurga 35. Created_By Varchar 20 Ditulis oleh 36. Created_Date Datetime - Ditulis
tanggal 37. Update_By Varchar 20 Diperbaharui
38. Update_Date Datetime - Diperbaharui tanggal 39. NAMA_SUAMI Varchar 20 Nama suami
Tabel 4.2 Tabel pasien 3. Tabel diagnosa
Nama tabel : diagnosa
Field kunci : KD_PELAYANAN
No. Nama Field Type Width Keterangan 1 KD_PELAYANAN Varchar 20 Kode
pelayanan 2 KD_PUSKESMAS Varchar 20 Kode
puskesmas 3 KD_PENYAKIT Varchar 20 Kode
penyakit 4 JNS_KASUS Varchar 10 Jenis kasus 5 KD_PETUGAS Varchar 20 Kode
petugas 6 TANGGAL Datetime - Tanggal 7 MESSAGE Text - Pesan
HL7message
Tabel 4.3 Tabel diagnosa
4.2.4 Perancangan Antarmuka 1. Desain input penyakit
Gambar 4.5 Desain antarmuka form input penyakit
2. Desain input pasien
Gambar 4.6 Desain antarmuka form input pasien
3. Desain input diagnosa
Gambar 4.7 Desain antarmuka form input diagnosa
4.3 Pembahasan
Sebelum membahas mengenai pengkodean HL7 message untuk data hasil diagnosis pasien. Penulisan sajikan terlebih dahulu form untuk input data-data yang dibutuhkan dalam proses diagnosis itu sendiri. Dalam hal ini form yang penulis buat adalah form input penyakit, data pasein dan form hasil diagnosanya.
Gambar 4.8 Form Input Penyakit
Form input penyakit diperlukan untuk data-data penyakit yang nantinya berelasi dengan tabel hasil diagnosa. Selain form input penyakit terdapat pula form input pasien yakni digunakan untuk mendata data pasien.
Gambar 4.9 Form Input Pasien
Dan yang paling dibutuhkan adalah form untuk pendataan hasil diagnosa itu sendiri.
Gambar 4.10 Form Input Hasil Diagnosa
Sedangkan dalam penggunaan HL7 terdapat standar penulisan kode agar nantinya isi fields dapat diintegrasikan oleh para pengembang. Dalam standar tersebut terdapat pula susunan struktur penulisan dan komposisi isian data. Ada pula istilah-istilah yang harusnya dipahami sebelum penyusunan HL7 message.
ii. LIONC
LIONC singkatan dari Logical Observation Identifier Names and Codes merupakan kumpulan elemen data yang telah mengandung isian nama dan kode-kode untuk identifikasi penyusunan HL7 message. Jadi dapat dikatakan bahwa LIONIC ini sendiri adalah acuan penerjemahan kode-kode yang dapat disusun menjadi HL7 message.
LIONC ini menyediakan set nama universal dan kode-kode id untuk mengidentifikasi hasil tes laboratorium, klinis dan unit lainnya serta informasi yang terkait dalam pembentukan HL7 message. Set kode yang terdapat dalam LIONC ini meliputi : a. Kode numerik yang mengidentifikasi pengamatan,
komponen-komponen isian misalnya Kalium, Hepatitis C.
b. Properti yang dapat diukur contohnya konsentrasi massa, panjang(jarak).
c. Pengukuran sesaat, misalnya waktu, atau observasi yang telah dijalani dalam kurun waktu tertentu.
d. Jenis sample atau sumber lain pengamatan, misalnya urin, darah, EMS transportasi.
e. Jenis skala, misalnya pengukuran kuantitatif atau nominal.
Contoh isian LIONC yang telah kita bahas pengertiannya di atas adalah sebagai berikut:
Example From LOINC Publication
SEQ Element Name Required Value
MSH-1 Field Separator | (recommended) MSH-2 Encoding Characters ^~\& (recommended) MSH-7 Date/Time Of Message
MSH-9 Message Type ORU^R01
MSH-10 Message Control ID An identifier that uniquely identifies this message.
MSH-11 Processing ID P MSH-12 Version ID 2.3 MSH-15 Accept Acknowledgment Type NE MSH-16 Application Acknowledgment
Type
NE
PID-3 Patient ID (Internal ID) Provider identification number for patient.
PID-5 Patient Name last^first^mi^prefix^suffix^title
OBR-4 Universal Service ID Code to identify attachment data element in value table, below
OBX-2 Value Type Code to identify data type of OBX-5, see value table, in the section for a specific electronic attachment.
OBX-3 Observation Identifier See value table, in the section for a specific electronic attachment. OBX-5 Observation Value See value table in the section for a
specific electronic attachment. OBX-6 Units See value table in the section for a
specific electronic attachment.
OBX-11 Observ Result Status See HL7 table 0085. This application of HL7 does not include the protocol for amending results. Where the status of the source data is known it must be
represented with one of these values: C - This report was received as a correction to a prior result; F - Final results;
P - Preliminary results; S - Partial results;
X - Results cannot be obtained for this observation. Where the source does not track revisions to its data, send F. Tabel 4.4 Contoh kode-kode LOINC
iii. Data Type
Dalam menyusun HL7 message terdapat aturan0aturan tipe data yang dapat dipakai, tipe data ini tidak jauh berbeda penggunaannya serperti dalam penyusunan program-program menggunakan bahasa pemrograman yang lain. Dalam HL7 message tipe data yang dapat dipakai adalah sebagai berikut:
Data Type Category/ Data type
Data Type Name Comment
Alphanumeric
ST String TX Text data
FT Formatted text Not used for Claims Attachments
Numerical
CQ Composite quantity with units
Not used for Claims Attachments MO Money Not used for Claims Attachments NM Numeric
SI Sequence ID SN Structured numeric
Identifier
ID Coded values for HL7 tables
IS Coded value for user-defined tables HD Hierarchic designator EI Entity identifier RP Reference pointer PL Person location PT Processing type Date/Time DT Date TM Time TS Time stamp Code Values CE Coded element CF Coded element with
formatted values CK Composite ID with
check digit CN Composite ID
number and name Not used for Claims Attachments CX Extended composite
ID with check digit XCN Extended composite
ID number and name
Generic
CM Composite
Demographics
AD Address Not used for Claims Attachments PN Person name Not used for Claims Attachments TN Telephone number
XAD Extended address XPN Extended person
name
XON Extended composite name and ID number for organizations
Not used for Claims Attachments
XTN Extended
telecommunications number
Not used for Claims Attachments
Specialty/Chapter Specific Waveform
CD Channel definition Not used for Claims Attachments MA Multiplexed array Not used for Claims Attachments NA Numeric array Not used for Claims Attachments
Data Type Category/ Data type
Data Type Name Comment
ED Encapsulated data
Price data
CP Composite price
Patient Administration/Financial Information
FC Financial Class Not used for Claims Attachments
Extended Queries
QSC Query selection criteria
Not used for Claims Attachments
QIP Query input
parameter list: Not used for Claims Attachments RCD Row column
definition:
Not used for Claims Attachments
Master Files
DLN Driver’s license number JCC Job code/class
VH Visiting hours Not used for Claims Attachments
Medical Records/Information Management
PPN Performing person time stamp
Time Series
DR Date/time range
RI Repeat interval Not used for Claims Attachments SCV Scheduling class
value pair
Not used for Claims Attachments TQ Timing/quantity
4.5 Tabel tipe data
iv. Karakter Khusus dalam HL7 message (Message Delimiters)
Dalam menyusun kede-kode baik untuk program maupun pesan, tentunya terdapat karakter-karakter khusus yang tentu diperlukan untuk segmen terminator, pemisah kolom, pemisah komponen, pemisah subkomponen, pemisah pengulanagan. Dalam penyusunan HL7 message terdapat karakter-karakter khusu yang akan penulis jabarkan dalam tabel sebagai berikut :
Delimiter Suggested Value Encoding Character Position Usage Segment Terminator <cr> hex 0D (this value required)
- Terminates a segment record. This value cannot be changed by implementors.
Field Separator | - Separates two adjacent data fields within a segment. It also separates the segment ID from the first data field in each segment.
Component Separator
^ 1 Separates adjacent components of data fields, where allowed. Subcomponent
Separator
& 4 Separates adjacent subcomponents of data fields, where allowed. If there are no subcomponents, this character may be omitted.
Repetition Separator ~ 2 Separates multiple occurrences of a field, where allowed.
Escape Character \ 3 Escape character for use with any field represented by an ST, TX or FT data type, or for use with the data (fourth) component of the ED data type. If no escape characters are used in a message, this character may be omitted. However, it must be present if subcomponents are used in the message.
Tabel 4.6 Karakter khusus dalam HL7 mesage v. HL7 Message
Semua pesan yang akan dibuat menjadi kode-kode HL7 message ini berasal dari HL7 ORU terdiri dari MSH, PID,OBR dan OBX. Maka pada setiap pola kode HL7 message akan membentuk pola seperti berikut :
ORUObservational Results (Unsolicited) MSH Message Header PIDPatient Identification {OBRObservations Report ID {OBX}Observation/Result }
Berikut kode-kode yang dapat dipakai sesuai dengan standar HL7 yang telah ada. Agar lebih lengkapnya penulis akan menjelaskan berikut contoh penulisan HL7 message yang dapat digunakan dalam urusan pelaporan data rumah sakit terutama yang berhubungan dengan pasien.
Pesan HL7 adalah tentang Hay Jon pasien, yang tinggal di 124 N. Elm St, Elmo, Utah, 85.912. Sistem pengiriman mengidentifikasi pasien menggunakan nomor 184.569. Pernyataan bahwa adalah subjek dari 275 dikaitkan dengan X48507924 penagihan akun dalam sistem pengiriman. Dalam kunjungan sebelumnya pasien telah diidentifikasi sebagai JJ Hay dan John J. Hay.
Penulisan HL7message:
PID|||184569||Hay^Jon^J||||Hay^JJ~Hay^John^J||124 Elm St^^Elmo^UT^85912|||||||X48507924<cr>
PID merupakan karakter yang menjelaskan mengenai identifikasi pasien, dalam HL7 PID merupakan singkatan dari
patient identification dimana dalam penggunaan PID sendiri memilik struktur sebagai berikut :
PID-3 Patient ID (Internal ID) Provider identification number for patient. PID-5 Patient Name (PN)
PID-9 Patient Alias (XPN) PID-11 Patient Address PID-18 Patient Account
Tabel 4.7 Tabel PID
Untuk PID-9 yang merupakan penyebutan nama alis tidak wajib dicantumkan. Untuk penulisan dalam HL7 message yang