DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... iii. HALAMAN PERNYATAAN... iv. KATA PENGANTAR... v. DAFTAR ISI... viii. DAFTAR TABEL...

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

KATA PENGANTAR ... . v

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

ABSTAK ... xiv ABSTRACT ... . xv BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan masalah ... 6 1.3 Batasan Masalah ... 6 1.4 Tujuan Penelitian ... 6 1.5 Manfaat Penelitian ... 7 1.5.1 Manfaat Teoritis ... 7 1.5.2 Manfaat Praktis ... 7 1.6 Sistematika Penulisan ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

(2)

2.2 Kerangka Konseptual... 12

2.2.1 Gerakan Sosial Politik ... 12

2.2.2 Desa Adat ... 14

2.2.3 Reklamasi ... 16

2.3 Landasan Teori ... 19

2.3.1 Teori Resistensi ... 19

2.4 Kerangka Pemikiran ... 23

BAB III METODELOGI PENELITIAN ... 26

3.1 Jenis Penelitian ... 26

3.2 Lokasi Penelitian ... 27

3.3 Waktu Penelitian ... 27

3.4 Sumber Data ... 28

3.4.1 Sumber Data Primer ... 28

3.4.2 Sumber Data Skunder ... 28

3.5 Unit Analisi ... 28

3.6 Teknik Penentuan Informan ... 29

3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 30

3.8 Teknik Analisi Data ... 32

BAB IV PEMBAHASAN ... 35

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian... 35

4.1.1 Kabupaten Karangasem ... 35

4.1.2 Desa Adat Pasedahan Kacamatan Manggis ... 37

4.2 Hasil Temuan ... 39

(3)

4.2.2 Latar Belakang Gerakan Perlawanan Desa Adat Pasedahan ... 43

4.2.3 Bentuk-Bentuk Gerakan Perlawanan Desa Adat Pasedahan... 52

4.3 Analisi Temuan Penelitian ... 64

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 70

5.1 Kesimpulan ... 70

5.2 Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 74

(4)

DAFTAR TABEL

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.4 Bagan Kerangka Pemikiran ... 23

Gambar 3.8.1 Bagan Analisis Data ... 33

Gambar 4.1.1.1 Lokasi Kabupaten Karangasem ... 36

Gambar 4.1.2.1 Lokasi Desa Adat Pasedahan Kacamatan Manggis ... 37

Gambar 4.2.1.1 Titik-Titik Suci di Kawasan Teluk Benoa ... 47

Gambar 4.2.1.2 Daftar Titik Kawasan Suci ... 48

Gambar 4.2.3.1 Baliho Desa Adat Pasedahan ... 54

Gambar 4.2.3.2 Baliho Desa Adat Pasedahan ... 55

Gambar 4.2.3.3 Bendera ForBALI di Desa Adat Pasedahan ... 55

Gambar 4.2.3.4 Aksi Deklarasi Desa Adat Pasedahan ... 57

Gambar 4.2.3.5 Aksi Deklarasi Desa Adat Pasedahan ... 58

Gambar 4.2.3.6 Aksi Deklarasi Desa Adat Pasedahan ... 58

(6)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Daftar Informan Lampiran 2 : Transkip Wawancara Lampiran 3 : Foto Penelitian dan Koran Lampiran 4 : Surat Penelitian

(7)

ABSTRAK

Kebijakan reklamasi Teluk Benoa memunculkan reaksi gerakan perlawanan dari berbagai kalangan masyarakat hingga ketatanan desa adat. Gerakan Perlawanan desa adat mulai meluas, yang awalnya hanya desa-desa adat pesisir Teluk Benoa, kini desa adat yang jauh dari pesisir Teluk Benoa ikut melakukan gerakan perlawanan menolak reklamasi Teluk Benoa. Penelitian ini mengambil desa adat Pasedahan Kabupaten Karangasem sebagai studi kasus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana gerakan perlawanan desa adat Pasedahan Kabupaten Karangasem dalam menolak kebijakan reklamasi Teluk Benoa. Teori yang digunakan adalah Teori Resistensi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data penelitian dengan observasi, wawancara, metode kepustakaan, discorse dan studi dokumentasi. Studi ini menghasilan temuan bahwa gerakan perlawanan yang dilakukan desa adat Pasedahan masih dalam bentuk resistensi semi-terbuka (protes sosial atau demostrasi), pemasangan baliho dan bendera ForBALI, serta keikutsertaan dalam aksi-aksi bersama Pasubayan Desa Adat/Pakraman. Dalam analisa data terdapat dua faktor yang mendasari munculnya gerakan perlawanan desa adat Pasedahan. Pertama, kepercayaan/keyakinan terhadap kawasan suci yang menghasilkan resistensi bahwa terdapat titik-titik suci dikawasan Teluk Benoa. Kedua, rasa solidaritas yang menghasilkan resistensi dapat diartikan sebagai wujud kepedulian masyarakat yang didasarkan pada persamaan moralitas, kolektivitas, dan kepercayaan/keyakinan sebagai masyarakat adat.

(8)

ABSTRACT

Benoa Bay reclamation policies led to the reaction a resistance movement of various circles of society to indigenous villages. Resistance indigenous village began to spread, which initially only indigenous coastal villages Benoa Bay, now the traditional village far from the coast of the Gulf of Benoa party to the resistance movement refuse reclamation of Benoa Bay. This research takes the traditional village Pasedahan Karangasem as a case study. The purpose of this study is to determine and describe how the resistance movement Pasedahan indigenous village in Karangasem regency refuse reclamation policy Benoa Bay. The theory used is the theory of the Resistance. The method used in this research is descriptive qualitative. Research data collection techniques by observation, interviews, literature method, discorse and documentation. This research on the findings discovered that the resistance movement is done the traditional village Pasedahan still in the form of semi-open resistance (social protests or demonstrations), installation of billboards and flags ForBALI, as well as participation in joint actions Pasubayan Village People/Pakraman. In data analyzed that there are two factors that underlie the emergence of resistance movements Pasedahan indigenous villages. First, trust/faith in the sacred area which produces resistance that there are points of sacred region Benoa Bay. Second, the sense of solidarity which produces resistance can be interpreted as a manifestation of concern society based on equality of morality, collectivity, and belief as indigenous peoples.

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Reklamasi merupakan kegiatan dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase (UU Nomer 27 Tahun 2007). Pengembangan pariwisata di Indonesia sering berkaitan erat dengan kebijakan reklamasi. Reklamasi dapat digolongkan sebagai isu lingkungan, yang dapat memunculkan berbagai perdebadat di dalam perencanaan dan pelaksanaannya. Isu lingkungan sering dikaitkan sebagai isu politik, sebab perdebatan tentang masalah ekologis, tidak terlepas dari interaksi kekuatan politik serta momen histori tertentu dalam masyarakat atau negara. Selain itu, isu dalam pengertian ilmu politik merupakan permasalahan yang belum terpecahkan, dan mungkin akan mengundang ataupun tidak mengundang perdebatan, menunggu penyelesaian dari yang berwenang (Aditjondro, 2003:157).

Isu reklamasi berkembang di Pulau Bali yang menjadi sorotan banyak kalangan masyarakat luas. Muncul isu rencana reklamasi di Pulau Bali pada tahun 2012 yang lalu. Sebelumnya reklamasi di Pulau Bali telah dilakukan di Pulau Serangan. Lokasi reklamasi selanjutnya, direncanakan di wilayah pasang surut yang berbatasan langsung dengan Pelabuhan Laut Benoa di utara, Desa Tanjung dan Desa Tengkulung disisi timur, Desa Bualu di

(10)

sebelah selatan, dan Desa Jimbaran disisi barat tepatnya dikawasan Teluk Benoa. Rencana reklamasi tersebut memunculkan aksi penolakan yang dilakukan oleh masyarakat.

Awal penolakan rencana reklamasi dikawasan Teluk Benoa dimulai ketika Gubernur Bali mengeluarkan surat keputusan (SK) bernomor: 2138/02-C/HK/2012 tentang “Pemberian Izin dan Hak Pemanfaatan Pengembangan dan Pengelolaan Wilayah Perairan Teluk Benoa Provinsi Bali kepada PT. Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) sebagai investor yang akan mereklamasi Teluk Benoa”. SK ini dianggap bermasalah oleh sebagian masyarakat dikarena tidak melibatkan masyarakat dalam perencanaan SK, khususnya masyarakat yang berasal di pesisir Teluk Benoa. SK Gubernur bertentangan dengan Perpres No. 45 Tahun 2011 yang menyatakan bahwa Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi tidak boleh dimanfaatkan ataupun di reklamasi. Akan tetapi, pemerintah pusat pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono justru mendukung rencana reklamasi Teluk Benoa dengan mencabut Perpres No. 45 Tahun 2011 dan menggantikannya dengan Perpres No. 51 Tahun 2014 yang mengubah status Teluk Benoa menjadi kawasan budi daya yang dapat dimanfaatkan dan dikembangan. Perubahan Perpres ini memberikan ruang gerak sepenuhnya kepada investor untuk mereklamasi Teluk Benoa.

Selain itu, penolak rencana reklamasi berkaitan erat dengan nilai-nilai agama, sosial dan budaya, yakni pemanfaatan kawasan reklamasi yang tidak sesuai dengan falsafah sosio religi masyarakat Bali. Sebagian besar

(11)

masyarakat Bali mengkhawatirkan, pelaksanaan reklamasi justru akan mengancam aspek Tri Hita Karana sebagai landasan adat, budaya, dan agama di Bali yaitu Parahyangan, Palemahan, dan Pawongan. Reklamasi Teluk Benoa juga mengabaikan studi kelayakan dan reklamasi dikhawatirkan akan memperbesar potensi banjir dikawasan pesisir Teluk Benoa karena mengurangi fungsi Teluk Benoa sebagai reservoir (tampungan banjir).

Aksi penolakan terhadap proyek reklamasi datang dari berbagai elemen masyarakat yakni, aktivis lingkungan, LSM, akademisi, tokoh agama, artis dan seniman yang tergabung dalam Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI). Selain itu, aksi penolakanan telah masuk ke dalam tatanan desa adat, sebagai bentuk perlawanan yang pedulian terhadap lingkungan dan menjaga daerah Teluk Benoa sebagai kawasan suci. Awal gerakan perlawanan dilakukan oleh desa adat pesisir Teluk Benoa yaitu desa adat Tanjung Benoa, Kedonganan, Kerobokan, Jimbaran, Seminyak, Kelan, Kuta, Legian, Canggu, Berawa, Buduk dan Bualu Kabupaten Badung. Selain itu, desa adat Pedungan, Kepaon, Pemogan, Sesetan, Serangan dan Sanur yang berada di Kota Denpasar ikut menyuarakan tolak reklamasi. Aksi penolakan juga datang dari desa adat dari Kabupaten Gianyar yaitu desa adat Cucukan, Keramas, Mendahan, dan Ketewel. Gerakan perlawanan desa adat dilakukan dengan cara pemasangan baliho dititik desa, melakukan aksi bersama mendeklarasi menolak rencana reklamasi, dan diskusi antara desa adat. Namun aksi penolakan ini masih dalam ruang lingkup yang kecil, hanya desa-desa adat sekitar Teluk Benoa. Desa adat pesisir Teluk Benoa sebagai desa-desa

(12)

adat gelombang pertama yang melakukan aksi gerakan perlawanan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa.

Pada akhir bulan februari 2016 muncul kembali gerakan penolakan dari desa adat Tuban yang turun ke jalan untuk mendeklarasikan bahwa mereka menolak rencana reklamasi. Setelah gerakan desa tersebut muncul, secara langsung memunculkan aksi penolakan dari desa lain dengan jumlah massa yang besar. Aksi penolakan desa adat mulai meluas, yang pada awal hanya desa adat yang bedekatan dengan pesisir atau kawanan Teluk Benoa, kini desa adat yang jauh dari pesisir Teluk Benoa ikut dalam aksi yang sama mendeklarasikan menolak rencana reklamasi. Gerakan perlawanan desa-desa adat yang jauh dari pesisir Teluk Benoa adalah desa adat Jahem dan Serokadan dari Kabupaten Bangli yang jauh dari pesisir dan tidak memiliki laut. Selain itu, desa adat Kusamba serta ratusan orang mengatasnamakan dirinya Pemuda Klungkung ikut mendeklarasikan menolak rencana reklamasi. Desa adat yang jauh dari pesisir Teluk Benoa sebagai gerakan perlawanan desa adat gelombang kedua. Gerakan perlawanan tersebut merupakan lanjutan dari gerakan perlawanan yang dilakukan oleh desa-desa adat sebelumnya.

Menjadi hal yang menarik ketika semakin banyak desa adat yang jauh dari pesisir Teluk Benoa bermunculan untuk menolak kebijakan reklamasi. Pada tanggal 17 april 2016 muncul kembali fenomena gerakan perlawanan desa adat gelombang kedua yaitu tiga desa adat dari Kabupaten Karangasem. Desa adat Bugbug, Pasedahan, dan Culik menambah daftar desa adat yang

(13)

menolak rencana reklamasi. Pemasangan baliho bertemakan tolak reklamasi dan pengibaran bendera ForBALI disepanjang jalan desa sebagai bentuk perlawanan. Tidak hanya itu, tiga desa tesebut juga melakukan aksi bersama dalam mendeklarasi tolak reklamasi yang berpusat di wilayah Candidasa. Massa mengawali aksi dengan melakukan persembahyangan bersama di Pura Candidasa, kemudian turun ke jalan berorasi mengajak desa-desa lainnya untuk berjuang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Mereka juga membawa spanduk, bendera dan pamplet yang bertuliskan tolak reklamasi Teluk Benoa pada aksi long march menuju lokasi deklarasi tolak reklamasi Teluk Benoa. Ini menyatakan bahwa desa-desa adat tidak setuju akan proyek reklamasi yang akan dilaksanakan di Teluk Benoa.

Gerakan perlawanan desa adat gelombang kedua menjadi fokus dalam penelitian ini, desa adat Pasedahan Kabupaten Karangasem sebagai subjek studi kasus dalam penelitian ini, karena desa tersebut jauh dari pesisir Teluk Benoa. Selain itu, desa adat tersebut baru muncul dan melakukan aksi secara bersamaan dengan desa lainnya dan membawa massa yang banyak ke dalam aksi mereka. Desa adat Pasedahan menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dengan alasan bahwa reklamasi hanya akan merusak alam Bali, khususnya memperparah dampak abrasi dan ancaman terhadap budaya Bali. Kalau reklamasi dilakukan hanya untuk kepentingan pengembangan pariwisata, tidak setuju hanya dikembangkan di Bali Selatan. Hal tersebut membuat peneliti ingin mengatahui lebih lanjut mengenai dasar-dasar dan tujuan serta

(14)

hal-hal yang membuat desa adat Pasedahan ini ikut melakukan aksi gerakan perlawanan terhadap kebijakan reklamasi Teluk Benoa.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang usulan penelitian diatas, maka penulis rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu; “Bagaimana Gerakan Perlawanan Gelombang Kedua Desa Adat Pasedahan Kabupaten Karangasem Dalam Menolak Kebijakan Reklamasi Teluk Benoa ?”

1.3 Batasan Masalah

Penelitian ini akan menjawab mengenai bagaimana gerakan perlawanan gelombang kedua desa adat dalam menolak kebijakan reklamasi Teluk Benoa, dasar-dasar gerakan penolakan, dan hal-hal yang berkaitan dengan gerakan perlawanan dan gerakan desa adat selanjutnya. Peneliti memilih Desa Adat Pasedahan Kabupaten Karangasem sebagai studi kasus dalam penelitian ini. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan peneliti dari berbagai sumber dan desa tersebut yang paling relevan untuk dijadikan studi kasus.

1.4 Tujuan Penelitian

Sama halnya dengan rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui gerakan perlawanan dan dasar-dasar desa adat dalam menolak kebijakan reklamasi Teluk Benoa dengan studi kasus Desa Adat Pasedahan Kacamatan Manggis Kabupaten Karangasem.

(15)

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Teoritis

1. Mengetahui secara teknis mengenai gerakan perlawanan desa adat dalam menolak kebijakan pemerintah yaitu rencana reklamasi. 2. Diharapkan dapat menjadi referensi/pengetahuan bagi peneliti

selanjutnya yang tertarik meneliti mengenai gerakan perlawanan.

1.5.2 Manfaat Praktis

1. Penelitian ini diharapkan menghasikan informasi kepada masyarakat terkait dengan gerakan perlawanan.

1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini terdiri atas lima bab, yang masing-masing diuraikan sebagai berikut:

BAB I: PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan mengenai latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penilitian, manfaat penelitian dan sistematika penelitian.

BAB II: TINJAUNA PUSTAKA

Bab ini berisikan tinjauan pustaka, kerangka konseptual dan kerangka pemikiran. Dijelaskan juga mengenai penelitian-penelitian sebelumnya terkait tema yang penulis bahas dan teori-teori yang mendukung penelitian mengenai gerakan perlawanan terhadap kebijakan reklamasi Teluk Benoa.

(16)

BAB III: METODE PENELITIAN

Bab ini menguraikan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menganakan jenis penelitian kualitatif. Dalam bab ini juga menguraikan mengenai jenis penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, teknik penyajian data.

BAB IV: PEMBAHASAN

Bab ini menguraikan pembahasan tentang bagaimana gerakan perlawanan gelombang kedua dalam menolak kebijakan reklamasi Teluk Benoa, Desa Adat Pasedahan Kacamatan Manggis Kabupaten Karangasem sebagai studi kasus. Selanjutnya, pada akhir bab akan menguraikan hasil temuan dan analisa yang telah dilakukan oleh peneliti.

BAB V: PENUTUP

Bab ini akan berisikan kesimpulan mengenai penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti serta rekomendasi atas saran-saran yang ada.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :