GAMBARAN FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP IMPLEMENTASI PERMENDAGRI NO 13 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH YANG TELAH DIRUBAH DENGAN PERMENDAGRI NO 59
TAHUN 2007 DAN PERMENDAGRI NOMOR 21 TAHUN 2011 DI PUSKESMAS KABUPATEN JOMBANG
(S
tudi Deskriptif Terhadap Pengelolaan Pendapatan (Retribusi Puskesmas) Dan Belanja Operasional Puskesmas)Rachma Fitriana
FISIP UNIVERSITAS AIRLANGGA [email protected]
ABSTRACT
This study examines to describe factors on the implementation of regulation of the budget systems on local government especially on Community Health Clinic (CHC). The background of this research especially is many complains from Head and Treasure of CHC about the new rule about local budget administration. Some rules seem difficult for implemented , e.g. : deposite all of the revenue to local Finance and Asset Management Revenue (DPPKAD) and spend expenditures as effective and effisien as possible. This research was included in a descriptive study by interview 18 key person informants used purpossive sampling and quistionaire for Heads dan Treasures of 34 CHC to gain first data how antecedent factors influence the implementation of rule of budget system. The result of this research are there are 4 factors according to George Edward III affecting the implementation of Permendagri no 13 tahun 2006, eg. : Communication, Resource, Dispotition and the Structure of Bureaucracy. Most respondents answer that the most influenced factor is Human Rresource, Structure of Bureaucracy, Communication and Disposition. Based on the result The recommendations are suggested for Health Office are : gives authority for Community Health Clinics at Jombang District to plan/arrange/manage their own budget (revenues and expenditure) on Document of Budgeting Execution (DPA) which is still integrated to Health Office. The second recommendation is apply short course in finance management for Head of Community Health Clinic and treasure. The third is the recruitment policy of the local government by increasing employee (as treasure in Community Health Clinic) with accounting education background.
Key words : implementation, regulation of management of local budget, communication, resource, disposition and structure of bureaucratic
PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
Untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan, Pemerintah Daerah selaku pengelola dana publik harus mampu menyediakan informasi keuangan yang diperlukan, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui penyampaian laporan pertanggungjawaban APBD berupa laporan keuangan secara akurat, relevan, tepat
waktu dan dapat dipercaya serta disusun sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan yang berterima secara umum.
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan maupun pertanggungjawabannya.
Bahwa dalam pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan peraturan perundang-undangan yang terkait, timbul hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan uang sehingga perlu dikelola dalam suatu sistem pengelolaan keuangan daerah yang merupakan sistem pengelolaan negara, serta merupakan elemen pokok dalam penyelenggaraan pemerintah daerah. Peraturan perundang-undangan yang dimaksud antara lain UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara , UU No. 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan, Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
Untuk melaksanakan pasal 155 Peraturan Pemerintah tersebut maka ditetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang telah direvisi sebanyak dua kali pada tahun 2007 dan 2011, sebagai pengganti Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 29 tahun 2002 tentang Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tatacara Keuangan. Maka terjadi berbagai perkembangan dan perubahan yang sangat mendasar terhadap penyusunan APBD. Tidak hanya struktur yang berubah tetapi juga meliputi format, prosedur, bahkan sistem penyusunan APBD juga berubah.
Bupati sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah, saat ini mendesentralisasikan sepenuhnya keuangan daerah kepada SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah), SKPKD (Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah) dan Sekertaris Daerah sebagai koordinator, sedangkan PA (Pengguna
Anggaran), biasanya dijabat oleh Kepala SKPD yang bertanggungjawab penuh terhadap anggaran yang dikelolanya.
Bahwa saat ini berdasarkan ketentuan tersebut di atas, SKPD, sebagai pusat pertanggungjawaban dan pelaporan serta sebagai entitas akuntansi yang artinya proses administrasi penatausahaan mulai dari SPP (Surat Permintaan Pembayaran), SPM (Surat Perintah Membayar) dan verifikasi dilakukan sendiri oleh SKPD termasuk akuntansi pelaporan atas penggunaan uang dan barang yang merupakan kewenangan dari SKPD.
(akuntabel, efektif, efisien) sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Di dalam Permendagri no 13 tahun 2006 (yang telah mengalami perubahan sebanyak 2 kali yaitu Permendagri no 59 tahun 2007 dan Permendagri no 21 tahun 2011) mulai diberlakukan di Kabupaten Jombang sejak TA 2007. Permendagri yang mengatur tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah ini telah mengakibatkan berubahnya paradigma di dalam pengelolaan keuangan di Puskesmas. Sesuai Perda Kabupaten Jombang Nomor 5 tahun 2005 dan Keputusan Bupati Jombang Nomor 188/6/415.12/2004 menyebutkan bahwa hasil retribusi pelayanan kesehatan dari Puskesmas 50% disetorkan ke Kas Daerah dan 50% dapat digunakan langsung oleh Puskesmas unruk menunjang kelancaran tugas pelayanan kesehatan di Puskesmas. Dari hasil pemeriksaan BPK pada akhir tahun 2008 menyebutkan bahwa semua pemasukan/ pendapatan/PAD harus disetor dulu seluruhnya (bruto) ke Kasda. Maka sejak
bulan April 2009 sistem setor 100% PAD ke Kas Daerah mulai diterapkan pada 34 Puskesmas se Kabupaten Jombang. Sedangkan untuk kegiatan operasional Puskesmas mulai pertengahan tahun 2009 telah diusulkan penganggarannya dalam DPA-P Dinas Kesehatan melalui akun Belanja Langsung, Program Upaya Kesehatan Masyarakat, dengan nama Kegiatan : Penyediaan Biaya Operasional dan Pemeliharaan (16.13) dengan pembebanan pada kode rekening (5.2.2.03.16) yaitu Belanja Jasa Administrasi Pelayanan Kesehatan di Puskesmas yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan belanja operasional di Puskesmas. Permasalahan yang menjadi kendala di Puskesmas adalah sering terlambatnya turunnya uang panjar (SPP-TU/GU), keharusan setor retribusi dalam 1x24 jam sehari, jumlah belanja operasional yang kurang dari PAD puskesmas (50-70%).
bagi Pemerintah Kabupaten Jombang untuk selalu berupaya memperbaiki kinerja SKPD termasuk Dinas Kesehatan dalam Laporan Keuangannya.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Azhar (2008), tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan Permendagri No. 13 Tahun 2006 menunjukkan bahwa komitmen organisasi, sumber daya manusia bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan Permendagri No. 13 Tahun 2006, sedangkan regulasi tidak mempengaruhi secara signifikan. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Andik Tri Sutrisno (2012) dari Universitas negeri Surabaya menyimpulkan bahwa secara umum berbagai faktor harus dipertimbangkan, baik dari segi regulator maupun operator (pengimplementasi) peraturan perundang-undangan tentang manejemen dan akuntansi keuangan daerah dalam menerapkan dan menjalankan tugas masing-masing.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
tentang gambaran faktor yang berpengaruh tehadap implementasi Permendagri No 13 Tahun 2006 dan perubahannya terhadap pengelolaan keuangan Puskesmas di Kabupaten Jombang.
Permasalahan Penelitian
Berdasar latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah Gambaran faktor yang berpengaruh terhadap implementasi Permendagri No 13 Tahun 2006 dan perubahannya di Puskesmas Kabupaten Jombang, khususnya dalam pengelolaan Retribusi dan Belanja Operasional Puskesmas. Tujuan Penelitian
Keuangan Daerah yang telah dirubah dengan Permendagri 59 Tahun 2007 dan Permendagri 21 Tahun 2011.
Manfaat Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan diharapkan dapat memberi manfaat bagi Pemerintah Kabupaten Jombang, masyarakat, peneliti dan lainnya. Manfaat penelitian dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Secara akademis, penelitian ini akan berguna sebagai upaya pendekatan ilmiah dan analisis akademis terhadap implementasi kebijakan pengelolaan keuangan daerah sesuai Permendagri No 13 tahun 2006 yang telah diubah dengan Permendagri No 59 Tahun 2007 dan Permendagri no 21 Tahun 2011 terutama pada Pengelolaan Retribusi dan Belanja Operasional Puskesmas. Hal lain dalam kegunaan secara akademis dari penelitian ini adalah untuk pengembangan literatur tentang faktor yang berpengaruh terhadap implementasi Permendagri di atas.
2. Secara praktis, melalui penelitian ini pula diharapkan mampu memberikan implikasi praktis dan sebagai wacana untuk masukan bagi lembaga yang mengeluarkan aturan-aturan keuangan, Pemerintah Kabupaten Jombang dan Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang dalam membuat kebijakan tentang pengelolaan keuangan baik dari sisi penerimaan maupun belanja khususnya di UPTD Puskesmas serta sebagai khasanah memperdalam kemampuan teoritis dan pengetahuan bagi pembaca serta penulis khususnya.
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI
Implementasi Kebijakan Publik
mewujudkan suatu keputusan kebijakan yang memiliki legalitas hukum - bisa berbentuk undang – undang, peraturan pemerintah, keputusan eksekutif, dll dalam bentuk program-program kerja yang merujuk pada masalah yang akan ditangani oleh kebijakan. Program–program inilah yang kemudian disusun struktur pengimplementasiannya agar selanjutnya menghasilkan perubahan sebagaimana yang diinginkan oleh kebijakan yang dimaksud.
Karena implementasi merupakan perwujudan nyata dari (isi/tujuan) kebijakan publik, maka aktifitas-aktifitas implementasi haruslah dilakukan secara cermat. Bahwa memang ada kebijakan yang bersifat self executed, yakni yang dapat langsung dilaksanakan, tidaklah mengurangi makna penting dari kecermatan dalam menyusun proses implementasi, sebab dari hasil implementasi tersebut kinerja pemerintah dapat dinilai. Selain itu sebagai bagian dari proses kebijakan, maka dari hasil
implementasilah kebijakan memperoleh umpan balik, apakah perlu kebijakan direvisi atau tidak.
Dari sudut pandang sistem, maka implementasi adalah proses bagaimana menstranformasikan input (tujuan dan isi kebijakan) ke dalam bentuk rangkaian tindakan operasional guna mewujudkan hasil yang diinginkan oleh kebijakan tersebut (outputs dan outcomes). Outputs adalah hasil langsung dari pengimplementasian kebijakan (programmes performance). Sedangkan outcomes (impacts/effects) adalah dampak perubahan yang terjadi setelah kebijakan tersebut dilaksanakan.
tersebut, maka implementasi adalah cara untuk menguji validitas preposisi tersebut. Dengan kalimat lain, Pressmann & Wildavsky (1984, pp. xiv – xv) menyatakan bahwa “implementation of policy” adalah menjalankan program kerja yang disusun setelah hipotesis permasalahan ditemukan dan diterjemahkan ke dalam bentuk – bentuk tindakan yang telah disahkan.
Sebagai tindakan intervensi, maka faktor kritis dalam proses implementasi adalah merancang struktur implementasinya, yakni memilih tindakan – tindakan operasional yang tepat, serta mengoperasionalkan tindakan – tindakan tersebut secara tepat pula ke dalam bentuk Program dan Proyek/Kegiatan. Walau telah diperhitungkan sedemikian rupa, bukan berarti kesulitan dalam proses implementasi telah tiada, karena seringkali masalah justru timbul karena kenyataan di lapangan justru tidak sesuai dengan yang diperkirakan.
Sasaran – sasaran program bahkan mungkin harus direvisi secara drastis saat
program tersebut dilaksanakan, selain karena kesulitan menjembatani antara tujuan kebijakan dengan tindakan-tindakan operasional yang dapat dijalankan, juga karena banyak variabel yang dapat mempengaruhi dan membatasi pilihan (alternatif) tindakan operasional, serta pilihan cara mengoperasionalkannya. Diantaranya adalah waktu, uang, tipe kebijakan, kemampuan dan kreatifitas aparat, hubungan antar pelaksana, tingkat kewenangan dll, yang bisa berpengaruh secara langsung atau tidak langsung.
Pernyataan Muhammad Syukur Abdullah (1988) berikut ini mungkin akan dapat memperjelas:
program atau kebijakan menjadi kenyataan, untuk mencapai sasaran dari program yang telah ditetapkan sejak semula.
2. Proses implementasi dalam kenyataan yang sesungguhnya dapat berhasil, kurang berhasil atau gagal sama sekali, ditinjau dari wujud hasil yang dicapai atau outcomes, karena dalam proses tersebut turut bermain dan terlibat berbagai unsur yang pengaruhnya dapat bersifat mendukung atau menghambat pencapaian sasaran program.
3. Pada dasarnya implementasi kebijaksanaan memuat suatu proses tindakan administrasi dan politik, proses administrasi dapat ditunjukkan melalui bagaimana para aktor yang terlibat dalam kebijaksanaan menciptakan suatu sistem, struktur, prosedur dan aturan – aturan untuk melaksanakan kebijaksanaan dalam rangka mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Sedang proses politik dapat
ditelaah dari bagaimana aktor – aktor yang terlibat tersebut memilih dan menentukan alternatif – alternatif mana yang harus diambil dan dapat digunakan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Implementasi Kebijakan Model George C. Edward III
George C. Edward III mengkaji empat faktor atau variabel dari kebijakan yaitu struktur birokrasi, sumber daya , komunikasi, disposisi.
Struktur Birokrasi
Ripley dan Franklin dalam Winarno (2005:149-160) mengidentifikasi enam karakteristik birokrasi sebagai hasil pengamatan terhadap birokrasi di Amerika Serikat, yaitu:
1. Birokrasi diciptakan sebagai instrumen dalam menangani keperluan-keperluan publik (public affair).
publik yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dalam setiap hierarkinya.
3. Birokrasi mempunyai sejumlah tujuan yang berbeda.
4. Fungsi birokrasi berada dalam lingkungan yang kompleks dan luas.
5. Birokrasi mempunyai naluri bertahan hidup yang tinggi dengan begitu jarang ditemukan birokrasi yang mati.
6. Birokrasi bukan kekuatan yang netral dan tidak dalam kendali penuh dari pihak luar.
Implementasi kebijakan yang bersifat kompleks menuntut adanya kerjasama banyak pihak. Ketika struktur birokrasi tidak kondusif terhadap implementasi suatu kebijakan, maka hal ini akan menyebabkan ketidakefektifan dan menghambat jalannya pelaksanaan kebijakan.
Menurut Edwards III dalam Winarno (2005:150) terdapat dua karakteristik utama dari birokrasi yakni: ”Standard Operational Procedure (SOP) dan fragmentasi”. ”Standard Operational Procedure (SOP) merupakan perkembangan dari tuntutan internal akan kepastian waktu, sumber daya serta kebutuhan penyeragaman dalam organisasi kerja yang kompleks dan luas”. (Winarno, 2005:150). Dengan menggunakan SOP, para pelaksana dapat mengoptimalkan waktu yang tersedia dan dapat berfungsi untuk menyeragamkan tindakan-tindakan pejabat dalam organisasi yang kompleks dan tersebar luas, sehingga dapat menimbulkan fleksibilitas yang besar dan kesamaan yang besar dalam penerapan peraturan.
yang berbeda sehingga memerlukan koordinasi”. Pada umumnya, semakin besar koordinasi yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan, semakin berkurang kemungkinan keberhasilan program atau kebijakan.
Fragmentasi mengakibatkan pandangan-pandangan yang sempit dari banyak lembaga birokrasi. Hal ini akan menimbulkan konsekuensi pokok yang merugikan bagi keberhasilan implementasi kebijakan. Berikut hambatan-hambatan yang terjadi dalam fregmentasi birokrasi berhubungan dengan implementasi kebijakan publik (Budi Winarno,2005:153-154):
”Pertama, tidak ada otoritas yang kuat dalam implementasi kebijakan karena terpecahnya fungsi-fungsi tertentu ke dalam lembaga atau badan yang berbeda-beda. Di samping itu, masing-masing badan mempunyai yurisdiksi yang terbatas atas suatu bidang, maka tugas-tugas yang penting mungkin akan terlantarkan
dalam berbagai agenda birokrasi yang menumpuk”.
”Kedua, pandangan yang sempit dari badan yang mungkin juga akan menghambat perubahan. Jika suatu badan mempunyai fleksibilitas yang rendah dalam misi-misinya, maka badan itu akan berusaha mempertahankan esensinya dan besar kemumgkinan akan menentang kebijakan-kebijakan baru yang membutuhkan perubahan”.
Sumber Daya
Syarat berjalannya suatu organisasi adalah kepemilikan terhadap sumberdaya (resources). Seorang ahli dalam bidang sumberdaya, Schermerchorn, Jr (1994:14) mengelompokkan sumberdaya ke dalam: “Information, Material, Equipment, Facilities, Money, People”. Sementara Hodge (1996:14) mengelompokkan sumberdaya ke dalam: ”Human resources, Material resources, Financial resources and Information
Edward III (1980:1) mengemukakan bahwa sumberdaya tersebut dapat diukur dari aspek kecukupannya yang didalamnya tersirat kesesuaian dan kejelasan; “Insufficient resources will mean that laws will not be
enforced, services will not be provided and
reasonable regulation will not be developed “. “Sumber daya diposisikan sebagai input dalam organisasi sebagai suatu sistem yang mempunyai implikasi yang bersifat ekonomis dan teknologis. Secara ekonomis, sumber daya bertalian dengan biaya atau pengorbanan langsung yang dikeluarkan oleh organisasi yang merefleksikan nilai atau kegunaan potensial dalam transformasinya ke dalam output. Sedang secara teknologis, sumberdaya bertalian dengan kemampuan transformasi dari organisasi”. (Tachjan, 2006:135)
Menurut Edward III dalam Agustino (2006:158-159), sumberdaya merupakan hal penting dalam implementasi kebijakan yang baik. Indikator-indikator yang digunakan
untuk melihat sejauhmana sumberdaya mempengaruhi implementasi kebijakan terdiri dari:
1. Staf. Sumber daya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf atau pegawai (street-level bureaucrats). Kegagalan yang sering terjadi dalam implementasi kebijakan, salah-satunya disebabkan oleh staf/pegawai yang tidak cukup memadai, mencukupi, ataupun tidak kompeten dalam bidangnya. Penambahan jumlah staf dan implementor saja tidak cukup menyelesaikan persoalan implementasi kebijakan, tetapi diperlukan sebuah kecukupan staf dengan keahlian dan kemampuan yang diperlukan (kompeten dan kapabel) dalam mengimplementasikan kebijakan.
data kepatuhan dari para pelaksana terhadap peraturan dan regulasi pemerintah yang telah ditetapkan.
3. Wewenang. Pada umumnya
kewenangan harus bersifat formal agar perintah dapat dilaksanakan secara efektif. 4. Fasilitas. Fasilitas fisik merupakan faktor penting dalam implementasi kebijakan. Disposisi
Menurut Edward III dalam Winarno
(2005:142-143) mengemukakan
”kecenderungan-kecenderungan atau disposisi merupakan salah-satu faktor yang mempunyai konsekuensi penting bagi implementasi kebijakan yang efektif”. Jika para pelaksana mempunyai kecenderungan atau sikap positif atau adanya dukungan terhadap implementasi kebijakan maka terdapat kemungkinan yang besar implementasi kebijakan akan terlaksana sesuai dengan keputusan awal. Demikian sebaliknya, jika para pelaksana bersikap negatif atau menolak terhadap implementasi kebijakan karena konflik kepentingan maka
implementasi kebijakan akan menghadapi kendala yang serius.
Bentuk penolakan dapat bermacam-macam seperti yang dikemukakan Edward III tentang ”zona ketidakacuhan” dimana para pelaksana kebijakan melalui keleluasaanya (diskresi) dengan cara yang halus menghambat implementasi kebijakan dengan cara mengacuhkan, menunda dan tindakan penghambatan lainnya.
Faktor-faktor yang menjadi perhatian Edward III dalam Agustinus (2006:159-160) mengenai disposisi dalam implementasi kebijakan terdiri dari:
1. Pengangkatan birokrasi. pengangkatan dan pemilihan personel pelaksana kebijakan haruslah orang-orang yang memiliki dedikasi pada kebijakan yang telah ditetapkan, lebih khusus lagi pada kepentingan warga masyarakat.
para pelaksana kebijakan dengan memanipulasi insentif.
Komunikasi
Menurut Agustino (2006:157); ”komunikasi merupakan salah-satu variabel penting yang mempengaruhi implementasi kebijakan publik, komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik”. Tiga indikator yang dapat digunakan dalam mengukur keberhasilan variabel komunikasi. Edward III dalam Agustino (2006:157-158) mengemukakan tiga variabel tersebut yaitu: 1. Transmisi. Penyaluran komunikasi
yang baik akan dapat menghasilkan suatu implementasi yang baik. Berdasarkan hasil penelitian Edward III yang dirangkum dalam Winarno (2005:127) Terdapat beberapa hambatan umum yang biasa terjadi dalam transmisi komunikasi yaitu:
”Pertama, terdapat pertentangan antara pelaksana kebijakan dengan perintah yang
dikeluarkan oleh pembuat kebijakan. Pertentangan seperti ini akan mengakibatkan distorsi dan hambatan yang langsung dalam komunikasi kebijakan. Kedua, informasi yang disampaikan melalui berlapis-lapis hierarki birokrasi. Distorsi komunikasi dapat terjadi karena panjangnya rantai informasi yang dapat mengakibatkan bias informasi. Ketiga, masalah penangkapan informasi juga
diakibatkan oleh persepsi dan
ketidakmampuan para pelaksana dalam memahami persyaratan-persyaratan suatu kebijakan”.
Perkembangan sistem tata kelola pemerintahan di Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir (1998 s.d 2008) mengalami suatu kemajuan yang sangat pesat. Dalam waktu yang sangat singkat, pemerintah Indonesia telah melewati serangkain proses reformasi sektor public, khususnya reformasi manajemen keuangan daerah. Reformasi manajemen keuangan daerah merupakan suatu berkah dari gerakan reformasi yang digelorakan di tahun 1998 setelah Indonesia mengalami krisis multidimensi.
Perkembangan Reformasi Manajemen Keuangan Daerah
Perjalanan reformasi manajemen keuangan daerah di Indonesia dibagi dalam 3 fase, yaitu :
1. Era pra-otonomi daerah dan desentralisasi fiscal. Selama masa ini belum ada sistem akuntansi keuangan daerah yang baik, yang ada baru sebatas tata buku. Pengelolaan keuangan daerah mendasarkan pada buku Manual
Administrasi Keuangan Daerah (MAKUDA) tahun 1981 yang pada esensinya belum merupakan sistem akuntansi, tetapi sekadar penatausahaan keuangan/ tata buku.
2. Era Transisi Otonomi (2000-2003). Merupakan masa awal implementasi otonomi daerah. Masa ini masih belum mantapnya perangkat hukum, kelembagaan infrastruktur, dan sumber daya manusia daerah dalam mewujudkan tujuan otonomi daerah. Peraturan perundangan yang menonjol dalam era ini adalah Kepmendagri No. 29 tahun 2002.
Aspek Utama Reformasi Manajemen Keuangan Daerah
Aspek Utama Reformasi Manajemen Keuangan Daerah meliputi :
Perubahan Sistem Anggaran
Perubahan sistem anggaran tradisional menjadi sistem anggaran berbasis prestasi kerja. Perubahan sistem penganggaran ini meliputi perubahan dalam proses penganggaran dan perubahan struktur anggaran. Struktur anggaran dirubah dari struktur anggaran tradisional menjadi penganggaran berbasis kinerja.
Pada anggaran tradisional, kinerja anggaran diukur dari sisi inputnya, yakni dilihat dari kemampuannya dalam penyerapan anggaran. Anggaran yang tidak terserap (sisa anggaran) harus dikembalikan lagi ke rekening kas Negara dan sebagai konsekuensinya anggaran satuan kerja tersebut untuk tahun berikutnya terancam tidak akan ditambah bahkan bisa dikurangi.
Perubahan Kelembagaan Pengeloalaan Keuangan Daerah
Perubahan kelembagaan pengelolaan keuangan daerah dari system sentralisasi pada bagian keuangan Sekretariat Daerah menjadi system desentralisasi ke masing-masing satuan kerja.
Penataan ulang kelembagaan pengelolaan keuangan daerah itu selain untuk menyesuaikan system anggaran yang baru, tapi juga untuk mendukung tercapainya tujuan desentralisasi fiscal. Beberapa perubahan kelembagaan pengelolaan keuangan daerah tersebut antara lain:
a. Perubahan pengelolaan keuangan di
mengkonsolidasikan laporan keuangan seluruh satuan kerja yang ada menjadi Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Pejabat yang terkait dengan pengelolaan
keuangan daerah meliputi :
1. Kepala Daerah selaku Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah.
2. Sekretariat Daerah selaku Kuasa Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah sekaligus merupakan Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah
3. Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (Biro/Bagian Keuangan) selaku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) sekaligus merupakan Bendahara Umum Daerah (BUD) 4. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah
selaku Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang
5. Kuasa Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Barang
6. Pejabat Penatausahaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (PPK-SKPD)
7. Bendahara Penerimaan/Pengeluaran SKPD
8. Bendahara Penerimaan/ Pengeluaran Pembantu
9. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)
Perubahan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah
Perubahan system akuntansi dari system tata buku tunggal (single entry bookkeeping) menjadi sistem tata buku berpasangan (double entry bookkeeping). Untuk meningkatkan transparasi dan akuntabilitas publik dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, maka diperlukan reformasi akuntansi sektor publik di Indonesia.
informasi yang komprehensif dan mencerminkan kinerja yang sesungguhnya. Maka beralihlah dari sistem single entry ke double entry.
Double entry ditujukan untuk menghasilkan laporan keuangan yang lebih mudah untuk dilakukan audit dan pelacakan antara bukti transaksi, catatan, dan keberadaan kekayaan, utang, dan ekuitas organisasi. Dengan sistem ini maka pengukuran kinerja dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
Perubahan Basis Pencatatan Akuntansi Basis kas ini dinilai mengandung banyak kelemahan. Memang setiap basis akuntansi yang digunakan, baik basis kas, basis kas modifikasian, akrual modifikasian maupun basis akrual masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Perubahan teknik akuntansi dari basis kas menjadi akrual bertujuan agar pemerintah daerah dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih dapat dipercaya, akurat, komprehensif, dan relevan untuk pengambilan keputusan ekonomi, social, dan politik.
Basis akuntansi merupakan dasar akuntansi yang menetapkan kapan transaksi-transaksi yang berpengaruh terhadap keuangan organisasi harus diakui/ dibukukan untuk tujuan pelaporan keuangan. Ada beberapa basis pencatatan akuntansi yang bias dipilih oleh pemerintah daerah, diantaranya :
1. Akuntansi basis kas (cash basis)
2. Akuntansi basis kas modifikasian
(modified cash basis)
3. Akuntansi basis akrual modifikasian
(modified accrual basis)
4. Akuntansi basis akrual (accrual basis)
Keempat pendekatan ini pada dasarnya bersifat continuum dari basis kas sampai basis akrual. Perbedaan Basis kas Akuntansi tersebut berkaitan dengan penetapan waktu pengakuan dan pengukuran suatu transaksi (timing of recognition).
yaitu menghasilkan laporan keuangan yang kurang komprehensif untuk pengambilan keputusan serta tidak dapat menggambarkan kinerja organisasi secara lebih baik. Dan tidak mampu memberikan informasi aset, utang-piutang, dan ekuitas secara komprehensif.
Basis Akrual mengakui transaksi keuangan pada saat terjadinya, yaitu ketika sudah menjadi hak atau kewajibannya meskipun belum diterima/ dikeluarkan kasnya. Dengan basis akrual organisasi akan mengakui adanya utang, piutang dan asset.
Pemerintah daerah bisa saja langsung pindah dari basis kas ke basis akrual. Namun Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 mengatur pemerintah daerah untuk menggunakan basis kas modifikasian, yaitu kombinasi dasar kas dengan akrual. Berdasrkan basis kas tersebut, transaksi penerimaan kas atau pengeluaran kas dibukukan pada saat uang diterima/ dibayarkan (basis kas). Dan pada akhir periode dilakukan penyesuaian untuk menghasilkan neraca yaitu dengan cara mengakui transaksi dan kejadian dalam periode berjalan walaupun
penerimaan/ pengeluaran kas belum terealisir. Dengan demikian, pencatatan anggaran menggunakan basis kas, sedangkan untuk menghasilkan laporan neraca di akhir periode akuntansi digunakan basis akrual.
Melihat perumusan masalah dan tujuan penelitian, maka penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Arikunto, 1996:14).
Dalam penelitian ini penulis berusaha menggambarkan secara konkret tentang Implementasi Permendagri 13 tahun 2006 terhadap pengelolaan Anggaran Pendapatan (Retribusi Pelayanan Kesehatan) dan Anggaran Belanja Langsung di puskesmas (Belanja Barang dan Jasa/Penyediaan Biaya Operasional Puskesmas) di Jombang dengan berusaha menggali fakta-fakta yang ada, menganalisisnya, menggambarkan secara objektif dan tetap bersandar pada prinsip-prinsip teoritis. Adapun pendekatan dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif, dengan demikian diharapkan mampu mengetahui dan mengkaji kasus yang terjadi secara utuh.
Fokus Penelitian
Yang menjadi fokus dalam penelitian ini antara lain adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap implementasi Permendagri no 13 tahun 2006, sesuai model implementasi yang dikemukakan oleh George C. Edward. Peneliti telah menyusun daftar pertanyaan untuk menggali data-data baik primer maupun sekunder yang didapatkan dari hasil kuisioner dan wawancara dengan para informan yang terkait dengan pengelolaan keuangan daerah mulai dari DPPKAD, Dinas Kesehatan maupun UPTD Puskesmas di Kabupaten Jombang.
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian diambil di Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang dan 3 puskesmas Rawat Inap (Mojoagung, Perak, Cukir) dan 3 Puskesmas Rawat Inap (Jelakombo, Megaluh, Jabon) yang menjadi sampel penelitian.
Populasi Sampel dan Teknik Pengumpulan Sampel Penelitian
Karena berdasar pada fokus dan lokus penelitian maka populasi sampel adalah 17 puskesmas rawat jalan dan 17 rawat inap di kabupaten Jombang. Mereka yang terkait implementasi Permendagri 13 tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan di puskesmas yaitu Kepala Puskesmas sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan dan Bendahara Penerimaan dan Pengeluaran Pembantu di puskesmas.
Untuk menjaring data di awal penelitian peneliti menyebarkan kuisioner yang bersifat terbuka kepada 34 Kepala Puskesmas dan 34 bendahara pembantu di puskesmas di seluruh
wilayah kabupaten Jombang. Namun karena banyak yang kurang memahami akhirnya peneliti memberikan kuisioner dengan pertanyaan multiple choice. Mengingat penelitian ini berjenis kualitatif, maka sumber data manusia dalam penelitian ini disebut informan. Informan ditentukan secara
purposive sampling berdasarkan
pemahamannya.
Berdasarkan hasil empiris setelah dilakukan penelitian, maka sampel akhir mengalami penambahan dari sampel awal yaitu satu sampel kunci, adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang selaku Pengguna Anggaran dan Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran di Dinas Kesehatan. Instrument Penelitian
pelaksanaannya didukung oleh kuisioner. Kuisioner yang pertama dibagikan pada 34 responden yaitu Kepala Puskesmas se Kabupaten Jombang pada saat acara Rapat Kerja Kesehatan Daerah pada hari Jum’at tanggal 21 September 2012 di Hotel Sativa, Pacet dengan pertanyaan yang dikaitkan dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap implementasi Permendagri no 13 tahun 2006 di Puskesmas se Kabupaten Jombang. Kemudian peneliti menyebarkan kuisioner lagi dengan model pertanyaan tertutup dengan jawaban multiple choice. Kuisioner yang kembali hanya 22. Sedangkan kuisioner untuk Bendahara Pengeluaran Pembantu dan Bendahara Penerimaan Pembantu dibagikan pada tanggal 9 januari 2013 pada saat ada rapat rutin bendahara puskesmas. Dari 34 kuisioner yang dibagikan yang dikembalikan hanya 14. Selain Kuisioner, peneliti juga mengadakan wawancara langsung dengan para informan yaitu Kepala Puskesmas, bendahara pembantu
di 3 Puskesmas Rawat Inap (Mojoagung, Perak, Cukir dan 3 Puskesmas Rawat Jalan (Jelakombo, Jabon, Megaluh). Yang terakhir adalah wawancara dengan pejabat pengelola keuangan di Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang yaitu Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran beserta pembantu-pembantunya, Kepala Sub Bagian Keuangan, PPK-SKPD yang dalam hal dijabat oleh Sekertaris Dinas, dan Kepala Dinas Kesehatan.
3.7. Teknik Analisis Data
kesimpulan yang memadai. Bahwa terhadap data yang bersifat kualitatif yaitu yang digambarkan dengan data-data atau kalimat yang terpisah-pisah menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan (Arikunto, 1996: 107). Menurut Sanapiah Faisal (1990: 12) analisa kualitatif dimaksudkan untuk memperoleh kedalaman penghayatan terhadap interaksi atau konsep yang sedang dikaji secara empiris.
Kemudian untuk memahami dan mengkaji mengenai data-data yang diperoleh melalui kasus penelitian yang terjadi, peneliti mendasarkan pada logika analisa data menurut Miles dan Hubermen yang memaparkan 3 alur pemikiran, yaitu:
1. Peringkasan data (Data reduction). Data mentah diseleksi, disederhanakan dan diambil intinya. Pada tahap ini dilakukan proses pemilahan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan.
2. Penyajian data (data display). Data disajikan secara tertulis berdasarkan kasus-kasus faktual yang saling berkaitan, Penyajian data disini adalah transformasi data lisan menjadi bentuk tulisan.
3. Menarik kesimpulan atau verifikasi atas pola keteraturan dan penyimpangan yang ada dalam fenomena tersebut, kemudian membuat prediksi atas kemungkinan selanjutnya. Verifikasi ini bisa sesingkat pemikiran kembali yang melintas dalam pemikiran penganalisa.
HASIL, ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
kemudian diklasifikasi sesuai tingkat keterpengaruhan dari item-item dalam pertanyaan Dari hasil klasifikasi tersebut akan didapat pengelompokan yang akan dihitung berdasarkan jumlah prosentase terbanyak. Setelah itu dari hasil wawancara dengan para informan akan memperkuat pembahasan selanjutnya.
Sistem penganggaran berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan perubahannya Nomor 59 tahun 2007 serta Nomor 21 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dilaksanakan menggunakan pendekatan “Anggaran Berbasis Kinerja” di mana penyusunan anggaran harus dapat memadukan antara perencanaan kinerja dengan anggaran tahunan, yaitu adanya keterkaitan antara dana yang tersedia dengan hasil yang diharapkan (output). Perencanaan dan pelaksanaan anggaran daerah pada hakekatnya merupakan salah satu alat untuk meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan
tujuan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab. Dengan demikian APBD harus benar-benar mencerminkan kebutuhan masyarakat dengan mempertahankan potensi dan keanekaragaman daerah, oleh karena itu penyusunan dan pelaksanaan anggaran harus memperhatikan norma dan prinsip anggaran berbasis kinerja terukur, transparasi dan akuntabilitas anggaran, disiplin anggaran serta efisiensi dan efektifitas anggaran.
Puskesmas yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah bagi Dinas Kesehatan mau tak mau harus melaksanakan aturan-aturan dalam Permendagri 13/2006 dalam penatausahaan keuangannya karena anggaran Puskesmas masih di bawah tanggungjawab Dinas Kesehatan sebagai instansi induknya.
policymakers will not be carried out
successfully. Edward menyarankan untuk memperhatikan empat isu pokok agar implementasi kebijakan menjadi efektif, yaitu communication, resource, disposition or
attitudes dan bureaucratic structure
Analisis Pengaruh Komunikasi dalam Implementasi Permendagri no 13 tahun 2006 di Puskesmas
Karena komunikasi merupakan salah satu variabel penting yang mempengaruhi implementasi kebijakan publik, komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik. Meski sebagian besar sudah pernah mengetahui/mendengar/ membaca tentang Permendagri 13/2006 ternyata ada yang merasa belum pernah mendapat sosialisasi. IInformasi tentang perubahan tatacara pengelolaan keuangan daerah ini masih hanya terbatas di lingkup Dinas Kesehatan (Bendahara, staf SubBag Keuangan, PPK dan PPTK).
Ketika ada pemeriksaan/audit baik dari Itwilkab (Bawasda) maupun BPK dan ditemukan
pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah, kerugian daerah, dan pengelolaan keuangan BLUD (Bagian Kedua, Pasal 3).
Kurun waktu antara 2009-2012 untuk mensosialisasikan aturan/prosedur pengelolaan keuangan hanya dibuat surat tentang Petunjuk Teknis/Belanja Operasional Puskesmas dari Kepala Dinas Kesehatan kepada Kepala Puskesmas se Kab. Jombang. Baru pada tahun 2013 telah disusun dan diterbitkan Peraturan Kepala Dinas No. 01 tahun 2013 tentang Pedoman Teknis Penatausahaan Keuangan di Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang Tahun Anggaran 2013. Didalamnya mengatur antara lain pengelolaan keuangan, prosedur pencairan dan pertanggungjawaban, administrasi keuangan, pertanggungjawaban dan pelaporan, standar belanja. Dengan aturan yang jelas akan memudahkan pengelola keuangan baik di Dinas Kesehatan maupun di UPTD Puskesmas, meski masih saja ditemui adanya tindakakan kompromis
terhadap puskesmas dalam pengelolaan keuangannya.
Pengaruh Sumberdaya dalam Implementasi Permendagri no 13 tahun 2006 di Puskesmas
Menurut Edward III dalam Agustino (2006:158-159), sumberdaya merupakan hal penting dalam implementasi kebijakan yang baik. Indikator-indikator yang digunakan untuk melihat sejauhmana sumberdaya mempengaruhi implementasi :
1. Staf. Sumber daya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf atau pegawai
fungsional kesehatan mungkin tidak ada masalah. Namun apabila di samping sebagai bendahara dia juga melayani pasien, ada kegiatan pelayanan di luar gedung atau mengerjakan laporan, hal ini dapat mengganggu kinerjanya sebagai bendahara yang seharusnya fokus untuk mengelola keuangan di puskesmas. Memang idealnya seorang bendahara adalah paling tidak lulusan SMEA/SMK/D3Akuntansi, sehingga cukup kompeten dalam mengelola administrasi keuangan puskesmas. Mungkin perlu direnungkan juga apa yang disampaikan oleh Kepala Bidang Akuntansi DPPKAD Kab. Jombang yang juga merupakan Ketua Tim Teknis BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) dalam suratnya kepada Sekertaris Daerah kabupaten Jombang selaku Tim Penilai PPK BLUD tanggal 9 Desember 2010 Nomor 01/TT/2010 tentang Penyampaian Hasil Penilaian UPTD Puskesmas. Dalam alinea ke tiga menyebutkan :
“Berdasarkan hasil penilaian tim teknis, perlu kita cermati satu hal penting yang harus kita siapkan sebelum keempat UPTD Puskesmas ditetapkan PPK BLUD adalah kesiapan SDM untuk melaksanakan pengelolaan keuangan secara mandiri, dimulai dari perencnaan, pengelolaan maupun pertanggungjawaban
laporan keuangan. Dari keempat puskesmas yang dinilai belum ada satupun yang sudah memiliki staf yang memiliki kompetensi di bidang tersebut, sehingga yang terjadi adalah overlapping pekerjaan yang akibatnya pelaksanaan pembukuan hanya dilaksanakan seadanya dan hal ini diakui oleh Puskesmas”
Penerimaan Pembantu merangkap menjadi Bendahara Pengeluaran untuk klaim rawat inap, transport Rujukan dan PONED di Program Jamkesmas, Jamkesda sekaligus Bendahara Penerimaan dan Pengeluaran dana Kapitasi Askes. Pengaruh Disposisi dalam Implementasi Permendagri no 13 tahun 2006 di Puskesmas
Perubahan sistem pengelolaan keuangan dari pola lama yang hanya menyetor 50% pendapatan puskesmas kemudian harus setor semua ke Kasda memang pada awal pemberlakuan aturan tersebut banyak mendapat respon negatif dari Kepala Puskesmas. Hal ini bisa dimaklumi karena untuk menunjang kebutuhan pelayanan kesehatan di puskesmas diperlukan sejumlah dana yang selalu tersedia (misal : bayar listrik, telpon, PDAM, ATK, untuk membeli reagen, obat yang habis, bayar insentif tenaga sukwan dll). Apalagi adanya aturan bahwa belanja harus dipertangggungjawabkan tiap bulan ke Dinas Kesehatan (setelah menerima uang panjar dari SPP-GU/TU). SPJ kegiatan yang bersumber dari dana operasional puskesmas harus bisa
dikumpulkan tanggal 5 bulan berikutnya. Apalagi dana Operasional Puskesmas tidak boleh digunakan untuk membeli barang-barang yang termasuk rekening belanja modal (mebelair, alkes, barang elektronik, kendaraan bermotor, gedung dll). Kendala lain yaitu waktu pencairan/turunnya panjar dana operasional puskesmas yang tidak teratur tiap bulannya dengan jumlah yang juga tidak pasti (tidak turun 100%).
memang aturan, sistem dan prosedur pengelolaan keuangan sudah harus berubah menuju arah yang lebih baik sesuai yang diamanatkan oleh Permendagri no 13 tahun 2006 pasal (4) yang berbunyi : keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.
Selain itu sikap Kepala Puskesmas yang dulunya sering protes atau merasa keberatan dengan aturan setor retribusi secara bruto (100%) sekarang sudah mulai melunak karena oleh Tim Anggaran PemKab Jombang selama kurun waktu 1,5 thn ini (2012-2013) dana operasional puskesmas yang turun ke puskesmas sudah terpenuhi 100%. Sehingga puskesmas dapat membayar jasa pelayanan untuk karyawannya.
Analisis Pengaruh Faktor Struktur Birokrasi dalam Implementasi Permendagri no 13 tahun 2006
Dari paparan hasil penelitian tentang pengaruh faktor struktur birokrasi dapat
digambarkan bahwa untuk kompetensi, jumlah dan komposisi pejabat/staf yang mengimplementasikan Permendagri 13 tahun 2006 masih belum memadai karena berbagai alasan antara lain : latarbelakang pendidikan bendahara yang bukan berpendidikan ekonomi/akuntansi sehingga kurang maksimal dalam pengimplementasian aturan/prosedur penatausahaan keuangan. Kemudian adanya perubahan/mutasi karyawan baik di Dinkes maupun Puskesmas sedikit banyak juga mempengaruhi keberlangsungan penataan pembukuan, pengelolaan keuangan puskesmas. Di lain pihak adanya beberapa bendahara yang punya tugas rangkap sehingga beban kerjanya terlalu berat.
para pejabat pengelola keuangan di Dinkes mulai Kepala Dinas, PPK-SKPD, KaSubBag Keuangan, Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran cukup berperan dalam pemahaman Kepala Puskesmas mapun Bendaharanya dan perbaikan terus menerus dalam pengelolaan keuangan di Puskesmas. Pemeriksaan yang dilakukan secara berkala oleh Itwilkab menjadi motivasi tersendiri bagi Puskesmas untuk lebih hati-hati dalam mengelola keuangannya.
Dukungan dari sumber politik (anggota legislatif) memang ada meskipun belum maksimal dan kurang mengutamakan kepentingan puskesmas, karena mungkin pemahaman mereka belum sampai secara teknis dalam penatausahaan keuangan. seperti penambahan tempat setoran Bank/Kasda yang masih sangat kurang dibanding jumlah puskesmas yang tersebar di 21 Kecamatan di Kabupaten Jombang.
Sedangkan komitmen UPTD Puskesmas di Kabupaten Jombang terhadap
implementasi Permendagri 13/2006 yaitu selalu berupaya semaksimal mungkin sesuai aturan yang ada demi untuk akuntabilitas dan transparansi anggaran.
bersikukuh berpendapat bahwa UPTD Puskesmas dianggap belum mampu mengelola keuangan secara tertib sesuai kaidah yang berlaku (SAP). Hal ini dibuktikan dengan kegiatan di tahun 2010 yang lalu ketika 4 Puskesmas (Mojoagung, Bareng, Cukir, Bandar KM) telah dipersiapkan sebagai Puskesmas BLUD dengan pendampingan dari BPKP ternyata tidak disetujui oleh Sekertaris Daerah sebagai Ketua Tim Penilai BLUD Kabupaten Jombang atas pertimbangan dari Tim Teknis Penilai BLUD yang anggotanya gabungan dari beberapa instansi di PemKab Jombang (DPPKAD, BKD, BAPPEDA, Bag. Hukum, Bag. Organisasi).
UPTD Puskesmas tersebut dinilai belum mampu menyusun laporan keuangan secara mandiri, padahal di situlah titik berat pelaksanaan PPK BLUD, selain itu juga belum memiliki kebijakan akuntabilitas yang memadai baik akuntabilitas kinerja, keuangan maupun lingkungan dan limbah.