PROPOSAL PRAKTIKUM
FORMULASI SEDIAAN STERIL
INFUS INTRAVENA RINGER
Kelompok : B-1.3 Disusun oleh:
1. Imelda Dian Alvita (2014210113)
2. Jatmiko Andrawino (2014210)
3. Kevin Christopher (2014210)
4. Lintang Pambuko (2014210135)
5. Maratus Solikha (2014210)
6. Muthi’ah Hafidza (2014210)
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
I. TUGAS
Infus Intravena Ringer
II. PENDAHULUAN
Infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonus terhadap darah, disuntikkan langsung ke dalam vena dalam volume relatif banyak. Kecuali dinyatakan lain, infus intravena tidak diperbolehkan mengandung bakterisida dan zat dapar. Larutan untuk infus intravena harus jernih dan praktis bebas partikel (FI III hlm 12).
Injeksi Ringer adalah larutan steril dari Natrium Klorida, Kalium Klorida, dan Kalsium Klorida dalam Air untuk Injeksi. Injeksi Ringer tidak boleh mengandung bahan antimikroba (FI V hal 1104).
Infus Ringer adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, dan Kalsium klorida dalam air. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan kadar zat-zat tersebut dalam larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai penambah cairan elektrolit yang diperlukan tubuh (Ansel hal 408).
Keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang diterima sama dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan penambahan / pengurangan jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat. Ini menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang masuk dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian cairan lainnya. Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan Cl. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka dibuatlah sediaan infus Ringers zebagai pengganti cairan tubuh.
Komposisi dari ringer yang akan di buat adalah:
~ Ion natrium (Na+) dalam injeksi berupa natrium klorida dapat digunakan untuk
mengobati hiponatremia, karena kekurangan ion tersebut dapat mencegah retensi air sehingga dapat menyebabkan dehidrasi.
Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta isotonis sel.
Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam proses
penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium di bawah konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi.
III. DATA PREFORMULASI
3.1. PREFORMULASI
Data Zat Aktif
Nama zat aktif
Sifat fisika, kimia, stabilitas
Ekivalen NaCl
Cara sterilitas
Khasiat / dosis Cara pengunaan
NaCl Pemerian: Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur putih; rasa asin (FI V hal 917)
Kelarutan: mudah larut dalam air, sedikit lebih mudah larut dalam etanol air mendidih. (FI V
Autoklaf atau filtrasi
(Martindale 28 hal 35)
Khasiat: larutan NaCl biasa digunakan untuk berbagai jenis sediaan parenteral atau non perenteral. Terutama digunakan pada sediaan
parenteral sebagai bahan pengisotonis dan asupan ion NaCl
Dosis:
1. Injeksi iv 3-5 % dalam 100 ml selama 1 jam (DI 2003 hal 2449)
Intravena (DI 88th
OTT: korosif terhadap besi, perak, merkuri, senyawa
pengoksidasi kuat memisahkan klorida dan larutan NaCl, mengurangi kelaruan
antimikroba metal paraben
Stabilitas: larutan NaCl bersifat stabil tetap dapat
menyebabkan pemisahan partikel gelas untuk
beberapa jenis wadah gelas (DI 88th edition
hal.1451)
2. Injeksi NaCl mengan-dung 2,5-4 mEq/ml
3. Na+ dalam plasma
= 135-145 mEq/L (steril dosage From hal. 251)
KCl Pemerian: Hablur bentuk memanjang, prisma /kubus; tidak berwarna/ serbuk granul putih; tidak berbau; tidak berwarna; rasa asin; stabil di udara; larutan bereaksi netral terhadap lakmus (FI V hal
0,76 (FI V hal. 1799)
Autoklaf atau filtrasi
Khasiat: biasa digunakan dalam jenis sediaan parenteral sebagai senyawa pengisotonis juga sebagai
pencegah kekurangan ion K+ bagi tubuh
yang menyebab-kan iritabilitas dan konvulsi.
594)
Kelarutan: mudah larut dalam air, (FI V hal 594)
pH: 4-8
5% (DI 2003 hal 2493)
OTT: larutan CaCl iv inkompatibel dengan protein hidrosilat
Stabilitas: stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat ditempat sejuk dan kering (DI 88th
edition hal.1410)
Dosis:
1. Konsentrasi kalium pada rute intravena tidak lebih dari 40
mEq/ potassium pada plasma 4mEq/
L (DI
2003 hal 2493) 3. K+ dalam plasma=
3,5-5 mEq/
L (steril
dosage From hal. 251)
CaCl2 Pemerian: granul
atau serpihan, putih, keras tidak berbau (FI V hal 604)
Kelarutan: sangat mudah larut dalam air mendidih, mudah larut dalam air (FI V hal 604)
Autoklaf atau filtrasi
Khasiat:
1. untuk memperta-hankan elektrolit tubuh
2.untuk hipokalemia
Dosis:
1. kalsium secara intravena tidak melampaui 0,7-1,8
mEq/ menit
-Secara iv
-Kalium klorida tidak dapat
pengelupas-pH: 5,5-7,5 10% (Di 2003 hal 1398)
OTT: karbonat, fosfat, sulfat, tatrat, sefalotin, CTM, dengan tetrasiklin membentuk kompleks
Stabilitas: injeksi kalsium
inkompatibel dengan larutan iv yang mengandung banyak zat aktif. (DI 88th ed. hal.
1398)
(DI 88th edition
hal.1398)
2. Ca2+ dalam plasma = 5 mEq/L (Steril
edition hal. 1398)
Data Bahan Pembantu
Fungsi zat Nama zat Sifat fisika kimia Konsentrasi/ dosis
cairan jernih, tidak berwarna; tidak
berbau; tidak mempunyai rasa (FI
III hlm 97)
Stabilitas:
uji yang tertera pada uji keamanan
hayati (FI III hlm.97)
Autoklaf
Depirogenasi Norit (carbo Pemerian: Konsentrasi: Ekivalen
NaCl :
larutan obat adsorben) serbuk hablur, bebas butiran hitam,
tidak berbau, tidak berasa (FI IV hlm
173) pH : pH kurang dari 8
0,1-0,3 % (Martindale
34th edition
hlm.1030)
0,65 (Sprowls hlm 189)
menit
Depirogenasi aqua pro
injeksi
Hidrogen peroksida (H2O2)
Kelarutan:
tidak larut dalam air (Martindale 34th
edition hlm.1030)
Pemerian:
cairan jernih tidak berwarna, bereaksi
asam terhadap lakmus (Martindale
34th edition
hlm.1232)
3.2. TEKNOLOGI FARMASI
Larutan LVP (sediaan parenteral volume besar) dikemas dalam dosis tunggal dalam kemasan gelas atau plastik dangan ketentuan harus steril, non-pirogen, dan bebas dar partikel partikulat. Selain itu, wadah untuk injeksi termasuk penutup tidak boleh berinteraksi melalui berbagai cara baik secara fisik maupun kimiawi dengan sediaan, yang dapat mengubah kekuatan, mutu atau kemurnian diluar persyaratan resmi dalam kondisi biasa pada waktu penanganan, pengangkatan, penyimpanan, penjualan, dan penggunaan. Wadah yang terbuat dari bahan yang dapat mempermudah penanganan terhadap isi (FI IV 1995).
3.3. ALASAN PEMILIHAN BAHAN
2. Kalium merupakan kation utama dalam cairan intraseluler dan lebih penting dalam mengatur keseimbangan asam basa, tonisitas dan elektrodinersitas. Untuk menggantikan kalium yang hilang digunakan KCl yang lebih mudah larut dalam air.
3. Kalsium merupakan kation yang penting sebagai aktivator dan berbagai macam reaksi enzimatis, dipakai dalam bentuk CaCl2 yang lebih mudah larut dalam air. 4. Natrium merupakan kation mayor dalam cairan ekstraseluler. Fungsinya adalah pengontrol distribusi air, cairan kesetimbangan elektrolit dalam keadaan osmotic dari cairan tubuh. NaCl digunakan karena larut dalam air dan digunakan sebagai natrium yang hilang.
5. Norit digunakan untuk menyerap bahan-bahan pengotor yang mungkin ada. 6. H2O2 digunakan untuk membebaskan pirogen dalam sediaan infus karena syarat
untuksediaan infus harus bebas pirogen.
3.4. FARMAKOLOGI
Ringer Laktat merupakan larutan infus untuk memelihara keseimbangan atau mengganti elektrolit dan cairan tubuh.
Kalsium merupakan zat yang penting bagi integritas fungsional sistem saraf, otot, dan tulang. Kalsium berperan dalam mengatur fungsi jantung, fungsi ginjal, respirasi, koagulasi darah, permeabilitas kapiler dan membran sel. Kalsium juga membantu dalam pelepasan dan penyimpanan neurotransmitter dan hormon, peningkatan asam amino, absorpsi vitamin B12 dan sekresi lambung.
Kalium berfungsi untuk memelihara fungsi ginjal dan keseimbangan asam-basa. Konsentrasi kalium intrasel yang tinggi dibutuhkan untuk proses metabolisme sel. Natrium berfungsi membantu memelihara keseimbangan cairan tubuh.
Klorida merupakan anion terpenting dalam memelihara keseimbangan elektrolit.
IV. FORMULA
4.1. FORMULA RUJUKAN
Formula standar infus Ringer (USP 37 hal 4584)
NaCl 8.6 g
KCl 0.3 g
CaCl2 0.33 g
Formula Standar Infus Ringer (Farmakope Indonesia edisi V hal 1104)
NaCl 8,6 g
KCl 0,3 g
CaCl2 0,33 g
Aqua pro.injeksi. ad 1000 mL
4.2. FORMULA JADI
Sediaan infus yang akan di buat sesuai dengan formula yang terdapat dalam Farmakope Indonesia edisi V halaman 1104
NaCl 4,3 g
KCl 0,15 g
CaCl2 0,165 g
Aqua pro.injeksi. ad 500 mL
V. ALAT DAN BAHAN
Beaker glass, Erlenmeyer, Corong glass,
Botol infus, Pipet tetes. Gelas ukur, Kertas saring. Batang pengaduk,
Spatula, Pinset, Kaca arloji, Penjepit besi. Karet tutup botol infus,
Karet tutup pipet tetes
NaCl KCl CaCl2
Aqua pro injeksi
VI. PEMBUATAN
6.1. PERHITUNGAN
Ion dalam Larutan Infus
Σ
Kation Anion
Na+ 147.5
Cl- 156 312
K+ 4
Ca2+ 4.5
Σ 156
Kesetaraan equivalen elektrolit (Martindale 28 hal. 638, Sprowls )
1 g NaCl ~17,1 mEq Na+ E
1 = 1
1 g KCl ~ 13,4 mEq K+ E
2 = 0,76
1 g CaCl2 ~ 13,6 mEq Ca2+ E3 = 0,51
Akan dibuat infus 500 ml sebanyak 2 botol (1000 ml)
Volume total larutan yang dibuat = 1000 mL + (10 % x 1000 mL) = 1100 mL
NaCl = 147,5 mEq x 1 g = 8,6257 g
17,1 mEq
KCl = 4 mEq x 1 g = 0,2982 g
13,41 mEq
13,6 mEq
Perhitungan Isotonis
V = {(W1 x E1) + (W2 x E2) + (W3 x E3) + (W4 x E4)} x 111,11
= {(8,6257 x 1) + (0,2982 x 0,76) + (0,3308 x 0.51) } x 111,11 = {8,6257 + 0,2266 + 0,1687} x 111,11
= 9,021 x 111,11 = 1002,3233 ml
% Tonisitas = 1002,3233 ml x 0,9% = 0,9020 % (ISOTONIS) 1000 ml
Penimbangan bahan
Penimbangan untuk 2 botol infus masing-masing 500 ml V = {(2 x 500 ml) + (10%(2 x 500 ml)} = 1100 ml
Mengapa penimbangan ditambah 5%?
Penimbangan ditambah 5% untuk diserap norit :
NaCl = ( 1100ml / 1000 ml x 8,6257 g) + 5% (1100 ml / 1000ml x 8,6257 g)
= 9.9626 g
KCl = (1100ml / 1000 ml x 0,2982 g) + 5% (1100ml / 1000 ml x 0,2982 g)
= 0,3444 g
CaCl2 = (1100ml / 1000 ml x 0,3308 g) + 5% (1100ml / 1000 ml x 0,3308 g)
= 0,3819 g Aqua p.i ad 1100 ml
Norit = 0,1 / 100 x 1100 ml = 1,1 g
H2O2 = 1 / 100 x 1100 ml = 11 g
6.2. CARA PEMBUATAN
Prinsip: Sterilisasi akhir menggunakan Autoklaf. 1. Dikalibrasi botol infus sampai tanda (500 ml).
2. Dibuat aqua p.i. (aquadest dipanaskan sampai mendidih, biarkan mendidih selama 30 menit) ditambahkan H2O2, dipanaskan 15 menit lalu didinginkan (dispensasi)
0 Pembuatan Aqua p.i. (FI III hal 14 ):
3. Semua alat yang digunakan disterilkan dengan cara sterilisasi yang sesuai. 4. Ditimbang bahan-bahan.
7. Campur ad homogen.
8. Ditambah carbon absorben, lalu dipanaskan sambil diaduk selama 15 menit, jangan sampai mendidih sekitar 50-600C.
9. Disaring dengan kertas saring dua lapis atau sampai jernih. 10. Masukkan dalam wadah botol infus ad tanda (500 ml).
11. Ditutup dengan karet penutup steril, lalu ditutup lagi dengan kap infus. 12. Disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121oC, 15 menit.
Diberi etiket dan label, dikemas dalam dus, lalu diserahkan
VII. EVALUASI
7.1. In Process Control
1. Uji Kejernihan ( Lachman III, hal 1356 )
Produk dalam wadah diperiksa dibawah penerangan cahaya yang baik, terhalang efek dari mata, berlatar belakang hitam dan putih, dengan rangkaian isi dijalankan dengan aksi memutar.
Syarat : Semua wadah diperiksa secara visual dan tia partikel yang terlihat dibuang dari infus volume besar, batas 50 partikel 10 µm dan lebih besar, serta 5 partikel ≥ 25 µm/ml.
2. Uji keseragaman volume (FI V hal 1570)
- Pilih 1 atau lebih wadah bila volume ≥10 ml. Ambil isi tiap wadah alat suntik hipodemik kering berukuran tidak lebih dari 3 kali volume yang diukur dan dilengkapi dengan jarum suntik no.21 panjang tidak kurang dari 2,5cm.
- Keluarkan gelembung udara dari jarum dan alat suntik.
- Pindahkan isi dalam alat suntik tanpa menggosokkan bagian jarum kedalam gelas ukur kering volume tertentu yang telah dibakukan sehingga volume yang diukur memenuhi sekurang-kurangnya 40% volume dari kapasitas tertera (garis-garis penunjuk volume gelas ukur menunjukkan volume yang ditampung, bukan yang dituang).
3. Uji pH (FI IV hal 1039-1040)
Cek pH larutan menggunakan pH meter yang sesuai, yang telah dibakukan sebagaimana mestinya.
1. Uji Sterilitas (FI IV hal 861)
Menggunakan teknik penyaringan membran :
- Bersihkan permukaan luar botol, tutup botol dengan bahan dekontaminasi yang sesuai, ambil isi secara aseptik.
- Pindahkan secara aseptik seluruh isi tidak kurang dari 10 wadah melalui tiap penyaring dari 2 rakitan penyaring atau tidak kurang dari 20 wadah jika hanya digunakan satu rakitan penyari. Lewatkan segera tiap spesimen melalui penyaring dengan bantuan pompa vakum/tekanan.
- Secara aseptik, pindahkan membran dari alat pemegang, potong menjadi
setengah bagian (jika hanya menggunakan satu). Celupkan membran atau setengah bagian membran ke dalam 100 ml media dan inkubasi selama tidak kurang dari 7 hari.
- Lakukan penafsiran hasil uji sterilitas. 2. Uji Kejernihan ( Lachman III, hal 1356 )
Produk dalam wadah diperiksa dibawah penerangan cahaya yang baik, terhalang efek dari mata, berlatar belakang hitam dan putih, dengan rangkaian isi dijalankan dengan aksi memutar.
Syarat : Semua wadah diperiksa secara visual dan tia partikel yang terlihat dibuang dari infus volume besar, batas 50 partikel 10 µm dan lebih besar, serta 5 partikel ≥ 25 µm/ml.
3. Uji keseragaman volume (FI V hal 1570)
- Pilih 1 atau lebih wadah bila volume ≥10 ml. Ambil isi tiap wadah alat suntik hipodemik kering berukuran tidak lebih dari 3 kali volume yang diukur dan dilengkapi dengan jarum suntik no.21 panjang tidak kurang dari 2,5cm.
- Keluarkan gelembung udara dari jarum dan alat suntik.
- Pindahkan isi dalam alat suntik tanpa menggosokkan bagian jarum kedalam gelas ukur kering volume tertentu yang telah dibakukan sehingga volume yang diukur memenuhi sekurang-kurangnya 40% volume dari kapasitas tertera (garis-garis penunjuk volume gelas ukur menunjukkan volume yang ditampung, bukan yang dituang).
4. Uji Pirogenitas (FI IV hal 908) a. Uji Biologik
larutan 10 ml/kg bobot badan dalam vena auricularis. b. Uji Serologi
Lisat darah kepiting (L. polyphemus) + endotoksin, gelatinasi dalam 30 menit.