• Tidak ada hasil yang ditemukan

Zalim Dalam Perspektif Islam docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Zalim Dalam Perspektif Islam docx"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II.

TINJAUAN UMUM TENTANG ZALIM

A. Definisi Zalim

Perkataan zalim berasal dari kata zulm yang mempunyai beberapa pengertian,

diantaranya ia berarti meletakkan sesuatu tidak kena pada tempatnya, menghampiri

kemurkaan, penindasan dan mempercepatkan sesuatu sebelum tiba masanya.

Perkataan zulm dari segi bahasa mengandung empat pengertian apabila dihubungkan

dengan para nabi dan rasul yaitu orang yang dibuktikan maksum perkataan-perkataan

yang tidak membawa maksud dosa dan salah adalah lebih wajar. Jika diambil

pengertian menghampiri kemurkaan Tuhan, ini jelas menunjukkan tuhan memberi

tahu adam seandainya beliau menghampiri pohon itu, dia hanya akan mendekatkan

dirinya dalam kesusahan. Dalam konteks ini, perkataan itu juga dapat digunakan

dengan maksud mempercepatkan sesuatu sebelum tiba masanya. Dalam hal ini

walaupun Adam sudah ditetapkan oleh Tuhan akhirnya akan turun ke bumi, tetapi

seandainya dia mendekati pohon khuldi, dia akan diturunkan ke bumi lebih cepat.1

Selain itu juga pengertian zalim yang berasal dari bahasa Arab, dengan huruf

“dho la ma” (

م ل ظ

) yang bermaksud gelap. Di dalam al-Qur’an menggunakan kata

zhulm selain itu juga digunakan kata baghy, yang artinya juga sama dengan zalim

yaitu melanggar haq orang lain. Namun demikian pengertian zalim lebih luas

(2)

itu memiliki berbagai bentuk di antaranya adalah syirik. Kalimat zalim bisa juga

digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka

melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran,

penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidak adilan dan banyak lagi pengertian

yang dapat diambil dari sifat zalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini

merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah

manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.2

Makna kata zalim adalah: “wadl’u syai-a fi ghairi mahallihi” artinya meletakkan

sesuatu bukan pada tempatnya.3

Di dalam al-Qur’an untuk menyebut orang seperti ini selain “zhulm” juga

digunakan kata “baghy” yang maknanya juga sama dengan zalim yaitu melanggar

hak orang lain. Namun demikian pengertian zalim lebih luas maknanya daripada

“baghy” kezaliman itu memiliki beberapa bentuk diantaranya adalah syirik.

Sebagaiman dijelaskan dalam QS. Lukman(31): 13















































Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar .

4

2http://id.wikipedia.org/wiki/Zalim diunduh tgl 22 Juni 2014

(3)

Berikut ini kata-kata dalam al-Qur’an tentang kata zalim.5

Dianiaya 15 ﻦﻮﻣﻞﻆﻳ

Kezaliman 7 ﻢﻞﻆ

Kezaliman 8 ﺎﻣﻝﻆ

Kezaliman 2 ﻪﻣﻞﻆ

Kezaliman 3 ﻡﻬﻣﻞﻆ

Menzalimi 5 ﻢﻞﺎﻆ

Menzalimi 4 ﺔﻣﻞﺎﻆ

Menzalimi 33 ﻦﻮﻣﻞﺎﻆ

Menzalimi 2 ﻦﻴﻣﻞﺎﻆ

Menzalimi 91 ﻦﻴﻣﻞﺎﻆ

Lebih aniaya 16 ﻢﻞﻆﺃ

Kezaliman 1 ﻢﻮﻞﻆ

Kezaliman 1 ﺎﻤﻮﻞﻆ

Menganiaya 5 ﻢﻼﻆ

Secara zalim 1 ﺎﻤﻮﻞﻆﻤ

Gelap 1 ﻢﻞﻆﺃ

Gelap gulita 1 ﺎﻤﻞﻆﻣ

4 Departemen Agama R.I, Al-Hikmah, al-Quran dan Terjemah, Diponegoro, Bandung, 2010, hlm: 412

(4)

Kegelapan 1 ﻦﻮﻤﻞﻆﻣ

Kegelapan-kegelapan

23 ﺖﺎﻣﻞﻆ

Jumlah 315

Namun qur’an juga menyebut beberapa kata yang semakna dengan kata zhalim,

yaitu hadhama dan janafa. Kata hadhama hanya disebut satu kali dalam qur’an yang

ternyata juga dirangkai dengan kata zhalim, yaitu dalam Q.S. Thaha(20):112









 

























Dan Barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam Keadaan beriman,

Maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula)

akan pengurangan haknya.6

Terlihat dalam terjemahan di atas bahwa antara kata zhalim yang diterjemahkan

dengan “tidak adil” hampir sama dengan kata hadhama yang diartikan dengan

pengurangan hak. Dengan demikian, keadilan adalah menyangkut masalah hak

seseorang apakah terpenuhi haknya atau tidak.7

6 Departemen Agama R.I, Al-Hikmah, al-Quran dan Terjemah, Diponegoro, Bandung, 2010, hlm:

(5)

Ketidakadilan juga disebut dengan menggunakan kata jenafa, ayat yang menjelaskan

hal ini yaitu Q.S al-Baqarah(2):182



















































(akan tetapi) Barangsiapa khawatir terhadap orang yang Berwasiat itu, Berlaku berat

sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, Maka tidaklah ada

dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.8

Ayat tersebut berkaitan dengan masalah wasiat. Dalam ayat tersebut kata janafa

diterjemahkan dengan berat sebelah. Itu artinya bahwa keadilan yang dituntut dalam

ayat ini khususnya soal berwasiat adalah tidak berat sebelah.9

B. Tinjauan Umum Perilaku Zalim

1. Inventarisir Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Zalim Q.S Al. Baqarah : 165











































































































8 Departemen Agama R.I, Al-Hikmah, al-Quran dan Terjemah, Diponegoro, Bandung, 2010, hlm:

(6)

dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).10

"Ayat sebelumnya di akhiri dengan sebuah pernyataan aksiomatis: ممﻮوققللل تمﺎيقل

نقﻮللقلعويق [la-ayātin liqawmin ya’qilŭn, (di situ) pasti ada tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang menggunakan akal]? Karena melalui ayat 164 itu

kita bisa melihat bahwa kehadiran Allah dalam kehidupan ini begitu jelas bagi akal,

sejelas matahari di siang bolong. Namun, kendati begitu, banyak saja manusia—

makhluk berakal ini—yang mengambil tandingan-tandingan bagi-Nya, yang mereka

perlakukan sebagaimana atau bahkan melebihi perlakuan mereka terhadap-Nya: ﻦقﻣلوق

اادادقنأق ﻪللللا نلودل ﻦﻣل ذلخلتلقيق ﻦﻣق سلﺎنلقلا (wa minan-nāsi man yattakhidzu min dŭnillā i andādaɦ ,

dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan

selain Allah). Mereka mengaku menyembah kepada Allah, tetapi mereka rela

mengabaikan ibadah kepada-Nya demi memenuhi keinginannya memperoleh materi.

Mereka mengaku beriman kepada Allah, tetapi mereka lebih mengutamakan hukum

buatan manusia ketimbang hukum-Nya. Mereka mengaku mengagungkan Allah,

tetapi takutnya kepada sesama melebihi takutnya kepada-Nya. Mereka mengaku anti

syirik, tetapi tak pernah berani meluruskan rajanya yang jelas-jelas menjadi sekutu

tiranik penguasa imperialis yang tiap hari merampas tanah-tanah saudaranya. Semua

(7)

yang mereka takuti selain Allah itulah yang disebut دادقنأق (andād, bentuk jamak dari

nidd yang artinya peer, equal, match, colleague, counterpart). Mereka mencintai دادقنأق

(andād, sekutu-sekutu) itu sepertimana mereka mencintai Allah: ﻪللللا بللحلكق ﻢوﻬلنقﻮبللحليل

(yuhibbŭna um kahubbillā iɦ ɦ, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai

Allah). “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon

(pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila

Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang

pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia

mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari

jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu;

sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka’.” (39:8).11

Q.S Huud : 101











 





































































dan Kami tidaklah Menganiaya mereka tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri, karena itu Tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.12

(8)

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa dibinasakannya mereka itu

bukanlah tindakan aniaya dari Dia, tetapi mereka sendirilah yang menganiaya dirinya

yang menyebabkan Allah terpaksa mengambil tindakan demikian. Mereka

mempersekutukan Allah, mengadakan kerusakan di muka bumi terus-menerus

sehingga azab tidak dapat ditunda-tunda daripadanya. Andaikata mereka dibiarkan

dalam keadaan yang demikian berlarut-larut, niscaya mereka akan tetap saja demikian

malah bertambah-tambah penganiayaan, kejahatan dan pengrusakannya di muka

bumi sebagaimana tercantum di dalam Alquran:



































Artinya:

Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (Q.S. Nuh: 27)

Rasul-rasul yang diutus kepada mereka cukup gigih dan tangguh memberikan

pelajaran dan petunjuk, tetapi mereka tetap saja angkuh dan membangkang. Apabila

diberi ancaman, mereka makin membangkang dan menentang karena mereka terlalu

percaya bahwa tuhan-tuhan sembahan-sembahannya itulah yang akan

menyelamatkannya dari segala marabahaya dan azab yang akan menimpanya,

padahal apabila Allah swt. telah memutuskan akan menurunkan azab dan

membinasakan suatu kaum, maka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah

(9)

untuk menahan dan menghalangi keputusan Allah itu. Kepercayaan mereka kepada

sembahan-sembahannya itu tidak lain kecuali hanya menambah kebinasaan dan

kehancurannya. Mereka percaya bahwa sembahan-sembahan itu akan menimpakan

malapetaka kepada Nabi yang diutus sebagaimana diceritakan Allah swt. di dalam

firman-Nya mengenai kaum Nabi Hud a.s.:



 























































Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan Kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu." Huud menjawab: "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, (Q.S. Hud: 54)13

Q.S. Al. Maa-idah: 72











































 

































































 









Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", Padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan

13 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Huud 10,

(10)

kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.14

Allah swt. menegaskan dengan sesungguhnya bahwa orang-orang Nasrani adalah

orang-orang kafir karena mereka berkeyakinan bahwa Allah itu adalah Isa Al-Masih

anak Maryam. Pendirian inilah yang menjadikan mereka itu kafir dan sesat, oleh

sebab mereka berlebih-lebihan memuji Isa a.s. sebagaimana orang Yahudi keterlaluan

pula menghina Isa terutama terhadap Maryam. Pendirian orang-orang Nasrani

terhadap diri Isa a.s. tersebut adalah suatu pendirian yang dianut oleh mayoritas

golongan Nasrani dan siapa di antara mereka yang menyimpang dari pendirian

tersebut, maka dianggaplah murtad. Orang-orang Nasrani berpendirian bahwa Tuhan

itu terdiri dari unsur-unsur yang mereka namakan tiga oknum, yaitu Bapak, Putra dan

Ruhul Kudus. Isa adalah putra, Allah adalah Bapak yang menjelma pada anak yang

merupakan Ruhul Kudus dan mereka adalah tiga kesatuan yang tidak terpisah-pisah.

Dengan demikian Allah itu adalah Isa dan dan Isa itu adalah Allah. Pendirian mereka

ini sangat menyimpang dari kebenaran, karena Isa sendiri berkata kepada Bani Israel

supaya mereka menyembah Allah, yaitu Tuhannya Isa dan Tuhannya Bani Israel. Jadi

ayat ini jelas menunjukkan pengakuan langsung dari Isa bahwa Tuhan yang disembah

itu adalah Allah semata. Tegasnya seruan-seruan Nabi Isa kepada Bani Israel seperti

yang diterangkan oleh ayat ini untuk menegaskan agama Tauhid. Hal itu dapat dilihat

di dalam kitab-kitab Injil asli. Selanjutnya Allah swt. menerangkan bahwa Isa dengan

tegas berkata bahwa orang-orang yang mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu baik

(11)

dengan malaikat atau dengan bintang atau dengan batu, maka orang itu tidak akan

mendapat surga dan tempatnya adalah di dalam neraka, karena orang yang

mempersekutukan Allah itu adalah orang-orang yang berbuat lalim kepada diri

mereka itu sendiri yang karenanya tidak wajar mendapat pembelaan dan pertolongan

Allah.15

Q.S. Al-Kahfi : 35







































dan Dia memasuki kebunnya sedang Dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata:

"Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,16

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan memasuki kebunnya bersama

saudaranya itu dan menyatakan lagi kepada saudaranya yang mukmin itu sambil

menunjuk kepada kebunnya bahwa kebun-kebunnya itu tidak akan binasa

selama-lamanya.

Ada dua sebab yang mendorongnya berkata demikian:

Pertama: Kepercayaan yang penuh terhadap kemampuan tenaga manusia untuk

memelihara kebun-kebun itu, sehingga selamat dari kebinasaan. Dengan kekayaannya

berupa mas dan perak sebagai modal, dan tenaga manusia yang berpengalaman dan

berpengetahuan tentang perawatan dan pemeliharaan tanaman dan kebun, dia percaya

15 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 72

(12)

sanggup menjaga kelestarian dan keindahan dan kesuburan kebun dan

tanam-tanamannya. Ia sama sekali tidak menginsafi keterbatasan tenaga dan akal manusia

dan dia tidak percaya bahwa ada kekuatan gaib yang kuasa berbuat sesuatu terhadap segala

kekayaannya itu.

Kedua : Kepercayaan akan keabadian alam dan zaman. Dia berkeyakinan segala yang

maujud ini kekal abadi. Tidak ada yang musnah dalam alam ini, yang terjadi hanyalah

perubahan-perubahan dan pergantian menurut hukum yang berlaku. Tapi adanya air,

tumbuh-tumbuhan, tanah dan lain-lainnya tidak akan putus-putusnya. Demikianlah

pandangan pemilik kebun itu. Sesungguhnya dia dalam hal demikian itu telah berbuat

lalim terhadap dirinya sendiri. Dia tidak jujur terhadap dirinya. Seharusnya dia

bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan segala kenikmatan kepadanya.

Tiada seorangpun yang hidup bahagia dalam dunia ini hanya berdiri di atas kaki

sendiri, tanpa bantuan atau kerjasama dengan orang lain. Mengapa dia

menyombongkan diri pada hal dia sebenarnya menyadari hal demikian itu. Mengapa

dia ingkar kepada Tuhan, pada hal dia ikut menyadari, ikut terlibat dalam perubahan

alam itu sendiri, mengapa dia tidak mau mengakui siapakah sebenarnya yang

menciptakan perubahan-perubahan dalam alam ini dan yang menciptakan

hukum-hukum perubahan itu. Mengapa dia tidak jujur terhadap pengakuan hati nuraninya

sendiri akan adanya Tuhan Yang Maha Pencipta? Sesungguhnya sikap demikian suatu

kelaliman yang besar.17

17 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Kahfi 35

(13)

Q.S. Al-Anbiyaa : 13



















 





 















janganlah kamu lari tergesa-gesa; Kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu

rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu

ditanya[953].

[953] Maksudnya: orang yang zalim itu di waktu merasakan azab Allah melarikan diri, lalu orang-orang yang beriman mengatakan kepada mereka dengan secara cemooh agar mereka tetap ditempat semula dengan menikmati kelezatan-kelezatan hidup sebagaimana biasa untuk Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dihadapkan kepada mereka.18

Q.S. Lukman : 13















































dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran

kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya

mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".19

Allah SWT memperingatkan kepada Rasulullah saw nasihat yang pernah

diberikan kepada putranya, waktu ia memberi pelajaran kepada putranya itu. Nasihat

itu ialah: "Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan sesuatu dengan Allah,

(14)

sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah kelaliman yang sangat besar.

Mempersekutukan Allah dikatakan kelaliman, karena perbuatan itu berarti

menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu menyamakan sesuatu yang

melimpahkan nikmat dan karunia itu. Dalam hal ini menyamakan Allah SWT sebagai

sumber nikmat dan karunia dengan patung-patung yang tidak dapat berbuat

sesuatupun. Dikatakan bahwa perbuatan itu adalah kelaliman yang besar, karena yang

disamakan itu ialah Allah Pencipta dan Penguasa semesta alam, yang seharusnya

semua makhluk mengabdi dan menghambakan diri kepada Nya.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibnu Masud, ia berkata: tatkala turun ayat:



















































Artinya:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. Al An'am: 82)

Maka timbullah keresahan di antara para sahabat Rasulullah saw karena mereka

berpendapat bahwa amat beratlah rasanya tidak mencampur adukkan keimanan dan

kelaliman, lalu mereka berkata kepada Rasulullah saw: "Siapakah di antara kami

yang tidak mencampur adukkan keimanan dan kelaliman? Maka Rasulullah

menjawab: "Maksudnya bukan demikian, apakah kamu tidak mendengar perkataan

Luqman: "Hai anakku, jangan kamu memperserikatkan sesuatu dengan Allah,

(15)

Dari ayat ini dipahami bahwa di antara kewajiban ayah kepada anak-anaknya ialah

memberi nasihat dan pelajaran, sehingga anak-anaknya itu dapat menempuh jalan

yang benar, dan menjauhkan mereka dari kesesatan. Hal ini sesuai dengan firman

Allah SWT:

























 

































































Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. At Tahriim : 6)

Jika diperhatikan susunan kalimat ayat ini, maka dapat diambil kesimpulan

bahwa Luqman sangat melarang anaknya melakukan syirik. Larangan ini adalah

suatu larangan yang memang patut di sampaikan Luqman kepada putranya karena

mengerjakan syirik itu adalah Suatu perbuatan dosa yang paling besar.

Anak adalah sambungan hidup dari orang tuanya, cita-cita yang tidak mungkin dapat

dicapai orang tua selama hidup di dunia diharapkannyalah anaknya yang akan

mencapainya. Demikian pula kepercayaan yang dianut orang tuanya di samping budi

pekerti yang luhur sangat diharapkannya agar anak-anaknya menganut dan memiliki

semuanya itu di kemudian hari. Seakan-akan dalam ayat ini diterangkan bahwa

(16)

menyampaikan agama yang benar dan budi pekerti yang luhur. Cara Luqman

menyampaikan pesan itu wajib dicontoh oleh setiap orang tua yang mengaku dirinya

muslim.20

2. Bentuk-Bentuk Perilaku Zalim

Rasulullah SAW bersabda : Zalim ada tiga jenis : Zalim yang Allah tidak akan ampunkan ; Zalim yang Allah akan ampunkan ; Zalim yang Allah tidak akan tinggalkan. Adapun zalim yang Allah tidak akan ampunkan adalah syirik. Allah berfirman : Sesungguhnya syirik adalah zalim yang amat besar (Luqman : 13) ; Adapun zalim yang Allah akan ampunkan ialah kezaliman manusia terhadap dirinya sendiri dengan melakukan dosa-dosa antara dia dengan Tuhannya ; Adapun zalim yang Allah tidak akan meninggalkannya adalah zalim insan kepada sesama insan sehingga mereka diadili kelak (di akhirat) – ( HR Al-Taualisiy dan Abu Na’im dari Anas Bin Malik – Menurut Syeikh Nasiruddin Albaniy – Hadis Hasan - Sahih Al-Jaami’ – No 3961) 21

Berdasarkan hadis sahih di atas bahawa zalim yang dilakukan oleh manusia ada

tiga jenis. Ada zalim yang Allah SWT enggan mengampuninya iaitu dosa syirik.

Adapun zalim yang Allah bersedia mengampuninya ialah perbuatan dosa-dosa besar

kepada Allah selain syirik. Kedua-dua jenis zalim ini termaktub di dalam firman

Allah : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia

mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang

dikehendaki-Nya. An-Nisa’/ 4 : 48:

20 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Lukman 13

http://tafsiranmanusia.blogspot.com/2012/04/huud-101-110.html di unduh tgl 27 Juni 2014

(17)

Dengan melaksanakan maksiat, kita telah menjerumuskan diri kepada jurang

kezaliman. Kita sendiri sedang menempah kesusahan di dunia dan akhirat. Zalim

membawa keburukan bukan saja kepada orang yang melakukannya, tetapi orang yang

merelekan. Menurut Islam, orang yang tidak berbuat zalim juga turut mendapat

seksaan jika mereka reda dan membiarkan kezaliman itu berleluasa, wajib bagi orang

yang melihat kezaliman dan mempunyai keupayaan untuk mencegahnya agar

menghentikan kezaliman tersebut. Islam juga melarang kita mempunyai

kecenderungan hati dan kebergantungan kepada orang zalim.22

Walaupun seseorang melakukan kezaliman terhadap orang lain, dia sebenarnya

telah melakukan kezaliman terhadap dirinya sendiri. Kemungkinan orang yang

dizalimi lemah, miskin, jahil dan tidak berdaya untuk membalas, tetapi Allah pasti

membalas kezaliman yang dilakukan. Sekalipun orang Islam menzalimi orang bukan

Islam, Allah tetap membela orang yang dizalimi itu. Perbuatan zalim tidak selalu

identik dengan menyakiti orang lain. Bisa saja seseorang dikatakan telah berbuat

zalim, karena menzalimi diri sendiri. Melakukan berbagai tindak kejahatan, perbuatan

haram, dan jauh dari ketaatan kepada Allah, semua perbuatan ini termasuk perbuatan

zalim terhadap diri sendiri.23 Dan diantara perbuatan zalim terhadap diri sendiri

adalah:

1. Syirik terhadap Allah

22 http://islam2u.mywapblog.com/bentuk-penzaliman-terhadap-diri-sendiri.xhtml di unduh tgl 27 Juni 2014

(18)

2. Tidak mensyukuri nikmat allah

3. Tidak menafkahkan sebagian harta ke jalan Allah

4. Meninggalkan zikrullah.24

Kezaliman termasuk penyakit hati. Adapun keadilan merupakan tanda kesehatannya. Imam Ahmad Ibn Hanbal berkata “jika hati sehat, engkau tidak perlu

takut pada siapapun”. Maksudnya, rasa takut pada ciptaan Allah menandakan adanya

penyakit dalam hati. Misal, syirik dan dosa.25

Antara bentuk kezaliman ialah memukul dan menyiksa manusia

Al-Imam Ahmad, al-Bukhari dalam al-Tarikh al-Kabir dan Ibn Abi Asim

meriwayatkan dari Khalid ibn al-Walid berkata saya mendengar Rasullullah saw

bersabda

نلقإل دلقشقأق سلﺎنلقلا ﺎبااذقعق مقﻮويق لواﺔلﻣقﺎﻴققل دللشقأق سلﺎنلقلا ﺎﻴقنودلللا يفل سلﺎنلقللل

"Manusia yang paling berat diazab pada Hari Qiyamat ialah manusia yang

menyiksa manusia ketika di dunia"

Zalimnya seseorang terhadap orang lain tidak terbatas pada beberapa perilaku

saja. Setiap perilaku yang mengganggu kepentingan orang lain atau lalai dalam

memberikan hak-hak mereka, maka perilaku itu disebut zalim, baik melalui ucapan

maupun perbuatan. Berikut beberapa di antaranya.Islam sangat mencegah terjadinya

kezaliman itu dengan memberikan balasan yang sangat berat kepada para pelakunya.

24 http://islam2u.mywapblog.com/bentuk-penzaliman-terhadap-diri-sendiri.xhtml

(19)

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa melihat ke dalam rumah satu kaum tanpa izin mereka, maka dihalalkan bagi mereka untuk mencongkel matanya.” (HR: Bukhari).

Kemudian Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum, padahal mereka tidak menyukainya, maka Allah akan menusuk telinganya dengan peluru yang meleleh pada hari kiamat.” (HR: Bukhari).

Riwayat yang lain juga menyebutkan bahwa, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menzalimi sejengkal tanah, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh bumi.” (HR. Bukhari).

Jadi, kezaliman bukan perkara ringan. Perbuatan itu akan sangat memberatkan

pelakunya baik dan di akhirat. Jika pelaku zalim adalah seorang ahli ibadah, maka ia

akan bangkrut di hari kiamat karena harus merelakan seluruh pahalanya untuk orang

yang dizalimi. Kemudian dosa orang yang dizalimi dibebankan kepada sang pelaku

kezaliman.26

3. Zalim Dalam Fenomena Masyarakat





























































 







dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim.27

26 http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2013/04/05/4666/zalim-sumber-kebangkrutan-di-hari-kiamat.html di unduh tgl 27 Juni 2014

(20)

Dalam surat ini Allah memerintahkan nabi Adan dan Hawa menahan diri mereka

untuk mendekati “buah terlarang”. Namun, karena mereka tidak mampu menahan diri

dari dorongan nafsu setan, mereka dijatuhkan dari surga ke bumi.

Kisah nabi Adam dan Hawa menjelaskan, bahwa sejak awal sejarahnya telah

diperintahkan untuk mampu menahan dan mengendalikan diri sendiri dari berbagai

bentuk kezaliman.28 Selain itu bentuk perbuatan zalim yang ada dalam al-Qur’an

adalah: Q.S al-Qashash: 76, Q.S Shad : 22 dan 24























 

 

































































“Sesungguhnya Karun adalah Termasuk kaum Musa [Karun adalah salah seorang anak paman Nabi Musa a.s. ], Maka ia Berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri". Q.S Al- Qashash : 76).29























































































28 Azyumardi Azra, Malam Seribu Bulan: Renungan-Renungan 30 hari Ramadhan, Erlangga, Jakarta Sealatan, 2005, hlm:5

(21)

ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. mereka berkata: "Janganlah kamu merasa takut; (Kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari Kami berbuat zalim kepada yang lain; Maka berilah keputusan antara Kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah Kami ke jalan yang lurus.30

Ayat tersebut menjelaskan tentang kisah orang-orang yang berperkara kepada

Nabi Daud. Mereka itu menemui Daud. Daud pada waktu itu berada di tempat

peribadatannya, Nabi Daud pun terperanjat karena beliau menyangka mereka itu

datang untuk memperdayakannya. Nabi Daud menduga demikian, karena mereka

datang dengan cara dan dalam waktu yang tak biasa. Pada saat itulah mereka

meminta kepada Daud agar tidak takut. Selanjutnya mereka menjelaskan bahwa

mereka mempunyai perkara yang harus diputuskan, dan meminta agar perkaranya

diputuskan dengan keputusan yang adil, lagi tidak menyimpang dari kebenaran.31













































































 





 













 

































Daud berkata: "Sesungguhnya Dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan Amat sedikitlah mereka ini". dan Daud mengetahui bahwa

30 Departemen Agama R.I, Al-Hikmah, al-Quran dan Terjemah hlm: 31 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Shad 22

(22)

Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.32

Di dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan apa yang dikatakan oleh Nabi Daud.

Ia mengatakan bahwa tergugat telah berbuat aniaya kepada penggugat, karena yang

digugat itu telah mengambil kambing penggugat untuk dimiliki, sehingga

kambingnya menjadi banyak. Di dalam ayat ini tidak dijelaskan lebih luas apakah

Nabi Daud sesudah mendapat keterangan dari penggugat, meminta keterangan juga

kepada tergugat. Juga tidak diterangkan apakah jawaban Nabi Daud itu didasarkan

atas bukti-bukti yang memberi keyakinan. Menurut pengertian yang tampuk dalam

ayat, Nabi Daud hanyalah memberi jawaban sesudah mendapat keterangan dari pihak

penggugat saja. Padahal mungkin saja pihak penggugat mengemukakan keterangan

yang berlawanan dengan kenyataan, atau karena cara mengemukakan kata diatur

demikian rupa, hingga timbullah kesan seolah-olah si penggugat itu orang jujur.

Seharusnya Nabi Daud tidak memberi jawaban secara tergesa-gesa, atau ditunda saja

jawabannya hingga mendapat keyakinan yang sebenar-benarnya. Ditinjau dari cara

mereka masuk menemui Daud dengan memanjat pagar, dan waktunya yang tidak

tepat, dan persoalannya yang diajukan sebenarnya, mereka tidak bermaksud untuk

meminta keputusan kepada Daud, tetapi mereka mempunyai maksud yang lain.

Hanya karena kewaspadaan Daudlah maka rencana mereka itu tidak dapat mereka

laksanakan. Di dalam sejarah dapat diketahui bahwa orang-orang Bani Israel sering

kali berusaha untuk membunuh Nabinya misalnya mereka telah menuduh Ilyasa dan

(23)

Zakaria. Patutlah dikatakan bahwa kedua orang itu (penggugat dan tergugat)

sebenarnya ingin menganiaya Nabi Daud, hanya saja mereka tidak sampai

melaksanakan niat jahatnya karena ketahuan terlebih dahulu.

Kemudian Allah SWT menjelaskan jawaban Daud lebih terperinci. Daud mengatakan

kepada orang yang berperkara itu bahwa sebagian besar orang yang mengadakan

perserikatan, menganiaya anggotanya yang lain hal ini terjadi karena sifat hasad,

dengki dan memperturutkan hawa nafsu sehingga hak anggota yang satu terambil

oleh anggota yang lain. Terkecuali orang-orang yang dalam hatinya penuh dengan

iman dan mencintai amal saleh yang terhindar dari perbuatan yang jahat itu.

Di akhir ayat Allah SWT menjelaskan bahwa Nabi Daud merasa bahwa ia sedang

mendapat cobaan dari Allah. Lalu ia meminta ampun kepada Allah atas kesalahan

yang in sadari, seraya bersungkur sujud bertobat kepada-Nya karena merasakan

kekurangan yang ada pada dirinya.

Kesalahan dan kekurangan yang la sadari dari peristiwa yang menimpa dirinya ialah

ketergesaannya memberikan jawaban kepada orang yang berperkara, padahal ia

belum memperoleh keyakinan yang sebenar-benarnya dan prasangkanya bahwa

kedatangan orang yang ingin memperdayakannya itu adalah cobaan dari Allah,

padahal apa yang ia duga itu tidak terjadi.33

33 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Shad 24

(24)

Referensi

Dokumen terkait

Sesungguhnya perbuatan menyekutukan ALLAH (syirik) itu kedzaliman yang sangat besar... Knowing

Karena Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, “Orang-orang yang terdahulu (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,

Sebab, di dalam al-Quran, syirik dikatakan sebagai kezaliman besar, seperti dikatakan Lukman kepada anaknya: ”Wahai anakku, janganlah kamu menserikatkan

- Allah berfirman yang bermaksud: “Dan demi sesungguhnya aku akan sesatkan mereka dan ku perdayakan mereka dengan angan-angannya serta ku suruh mereka memotong telinga ternak

Maqashid al-Qur’an dalam melarang israf yang terdapat pada ayat-ayat perilaku zalim dan rusak ialah guna memberikan petunjuk bahwa bentuk perbuatan zalim dan rusak itu

Apakah serangga ialah binatang yang amat kecil, mempunyai sayap, bukan dari jenis burung, dan kadang tidak bersayap.. Sesungguhnya perkataan ini

126 Artinya: Sesungguhnya yang mengadakan kebohongan ialah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka adalah orang yang pendusta.” (Q. Ayat ini

najis dengan kotoran syirik kepada Allah, sedang mereka itu mengakui kekafiran mereka, adapun wanita yang berhaid, maka ianya bukan najis syirik hinggakan dirinya dilarang untuk