• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA SISTEM PAKAR PENENTU BIDANG STUD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISA SISTEM PAKAR PENENTU BIDANG STUD"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISA SISTEM PAKAR PENENTU BIDANG STUDI DI

TINGKAT PERGURUAN TINGGI

Terttiaavini1), Sumi Amariena Hamim2), Rita Wirya Saputra 3) 1Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indo Global Mandiri.

2 Fakultas Teknik, Universitas Indo Global Mandiri. 3Fakultas Teknik Informatika, Universitas Indo Global Mandiri

[email protected], [email protected], [email protected]

Abstract

Improve human resources become a major task for the human educators. Create qualified people who have high competitiveness after studying at the college level the purpose of the implementation of learning. Various attempts were made to find a method that can be a solution. The collaboration of psychometric analysis with expert systems can produce problem-solving model shaped tree structure simpler. The problems faced by the prospective student is often difficult to determine the precise field of study. While Achieving the highest performance can be obtained if a person was educated according to their talents and IQ level. From the collaboration between the two disciplines can produce a rule -based system that can be the basis for software development

Keywords : Expert system, Psychometric analysis, Decision tree

1. PENDAHULUAN

Sering kita menghadapi kondisi dimana sebagian dari mahasiswa sulit memahami materi ajar yang kita (dosen) berikan. Padahal materi, modul, latihan, tugas dan quiz sudah kita berikan dengan lengkap dan sebaik-baiknya. Hal ini harusnya menjadi perhatian mengapa hal tersebut selalu terjadi. Perhatian tertuju pada potensi diri mahasiswa itu sendiri, dimana dari hasil dari tanya jawab yang telah dilakukan, tidak sedikit alasan dari mereka adalah merasa salah memilih jurusan. Pada dasarnya mereka tidak dapat memberikan alasan mengapa mereka mengambil jurusan tersebut, padahal bila dianalisa lebih lanjut, ternyata jurusan tersebut tidak sesuai dengan bakat dan minat mereka yang sebenarnya. Karena sudah terlajur kuliah pada beberapa semester, kebanyakan mahasiswa terus melanjutkan kuliahnya, walaupun dengan kondisi memaksakan diri sehinga tidak mampu mencapai prestasi akademik.

Fenomena salah memilih jurusan dipacu oleh kurang pahamannya mahasiswa terhadap minat dan bakat yang mereka miliki. Ini akan menimbulkan kesulitan bagi mahasiswa dalam

menyesuaikan diri di lingkungan belajar, tidak dapat mengoptimalkan semua potensi dan kemampuan yang dimiliki, prestasi belajar lebih rendah dari yang seharusnya dapat dicapai, serta cenderung lambat dalam menyelesaikan studinya. Jika kasus salah memilih jurusan ini terus dibiarkan, maka akan berpengaruh terhadap pencapaian prestasi.

Setiap manusia memiliki bakat. Bakat (aptitude) merupakan potensi (potensial ability). Bakat yang dimiliki merupakan potensi yang perlu dikembangkan atau dilatih agar dapat mencapai prestasi. Ada berapa pendapat para ahli tentang bakat, yaitu : Kartono K (1995:2) menyatakan

bahwa “bakat adalah potensi atau

kemampuan kalau diberikan kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata.” [1] Monk (2000) menjelaskan bahwa

(2)

maksimal dibidangnya. Tetapi masalahnya adalah “apakah semua orang bisa mengetahui bakatnya ?”. Untuk mengetahui potensi bakat seseorang tidaklah mudah, karena ada perbedaan yang mendasar antara bakat dan minat. Terkadang minat diartikan sebagai bakat, padahal minat bukanlah bakat. Minat sangat dipengeruhi oleh lingkungan keluarga atau teman.

Saat ini banyak sekali jasa konsultasi psikologi yang dapat mendiskripsikan potensi bakat seseorang. Dengan mengunggulkan pemakainan teknologi dan metode yang dianggap akurat untuk membaca karaktek seseorang, namun hal ini harus sebanding dengan jasa konsultasi yang ditawarkan.

Menurut ilmu psikologi bakat merupakan bawaan genetik dan dapat diukur dengan menggunakan pengukuran karakter psikometri. Analisa Psikometri dilakukan dengan penggunakan alat tes semacam psikotes. Hasil dari pengukuran tersebut dapat memberikan gambaran bidang studi yang sesuai dengan bakatnya. Untuk mencapai hasil penilaian yang akurat dalam menentukan jurusan yang tepat, tidak cukup hanya berdasarkan bakat. Bakat merupakan potensi kecerdasan yang tersembunyi yang tidak bisa diukur dengan standar IQ. Menurut Ifa H Misbah (2010) menyatakan bahwa

“intelegensia tidak sama dengan IQ (inteligent quotient). IQ merupakan hasil pengukuran kecerdasan yang sudah dipengaruhi oleh lingkungan (latar belakang pendidikan, pola asuh, proses belajar, emosi dan motivasi) sedangkan intelegensia merupakan kecerdasan dalam bentuk potensi yang belum mendapatkan intervensi lingkungan yang dinamakan bakat”. [3]

Dalam analisa psikologi, pengukuran IQ dapat dilakukan dengan tes IQ. Gabungan dari pengukuran tersebut bila disinergikan dapat menentukan bidang studi yang sesuai berdasarkan bakat dan IQ

yang dimiliki. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan rancangan analisa sistem pakar untuk menentukan bidang studi di tingkat perguruan tinggi berdasarkan minat, bakat dan IQ.

2. KAJIAN LITERATUR

a) Pengertian Sistem Pakar

Menurut Ignizio (1991) Sistem pakar adalah suatu model dan prosedur yang berkaitan, dalam suatu domain tertentu, yang mana tingkat keahliannya dapat dibandingkan dengan keahlian seorang pakar [4]. Struktur dari sistem pakar adalah

Sumber : Ignizio (1991)

Gambar_1. Struktur sistem pakar

Penjelasan dari struktur tersebut yaitu :

1. Pemakai Merupakan mekanisme yang

digunakan oleh pengguna dan sistem pakar untuk berkomunikasi.

2. Basis pengetahuan mengandung

pengetahuan untuk pemahaman, formulasi dan penyelesain masalah. Disusun atas 2 elemen dasar yaitu penalaran berbasis aturan (rule-base reasoning) dan penalaran berbasis kasus (case-based reasoning).

3. Akuisisi pengetahuan (Knowledge

Acquisition) adalah akumulasi,

(3)

4. Mesin inferensi (inference engine)

Merupakan bagian yang bertindak sebagai pencari solusi dari suatu permasalahan berdasarkan pada kaidah-kaidah yang ada dalam basis pengetahuan sistem pakar. Ada dua strategi pencarian dasar yang bisa digunakan oleh mesin pencari inferensi yaitu runut maju (forward chaining) dan runut balik (backward chaining).

5. Fasilitas penjelasan adalah

komponen tambahan yang akan meningkatkan kemampuan sistem pakar. Digunakan untuk melacak respon dan memberikan penjelasan tentang kelakukan sistem pakar secara interaktif.

6. Perbaikan pengetahuan Pakar

memiliki kemampuan untuk menganalisa dan meningkatkan kineja serta kemampuan untuk belajar dari kinerjanya.

Salah satu model yang digunakan untuk mmembangun sistem pakar adalah Model pohon keputusan (Decision tree).

Pohon keputusan adalah salah satu metode klasifikasi yang dinyatakan sebagai partisi rekursif. Pohon keputusan terdiri dari node yang membentuk pohon yang berakar, semua node memiliki satu masukan. Maimon (2005) [5]. Node yang keluar disebut node tes. Node yang lain disebut node keputusan atau sering disebut node daun. Setiap simpul internal membagi dua atau lebih sub-ruang sesuai dengan katagori atribut dan akan dipartisi sesuai dengan nilai kategori kasus. Kasus-kasus tersebut membentuk pohon keputusan yang menghasilkan problem solving (kusrini 2007). Struktur pohon dibangun dengan menggunakan metode forward chaining. Contoh struktur pohon keputusan dapat dilihat pada gambar_2.

Gambar_2 decision tree

dari gambar di atas dapat dijelaskan: A decision tree for the concept buys computer, indicating whether a customer at AllElectronics is likely to purchase a computer. Each internal (nonleaf) node represents a test on an attribute. Each leaf node represents a class (either buys computer = yes or buys computer = no). (Han, J., & Kamber, M, 2006) [5]. Hasil akhir dari pohon keputusan adalah setiap cabangnya menunjukkan kemungkinan skenario dari keputusan yang diambil serta hasilnya

.

b) Pengertian bidang studi

Bidang studi adalah pengelompokan sejumlah mata pelajaran yang sejenis atau memiliki ciri yang sama (mata pelajaran yang telah berkorelasi dengan satu dengan yang lainnya) (kamusbesar.com) [6]. Klasifikasi bidang studi bersumber pada Panduan pelaksanaan penelitian dan PPM edisi IX (2013) [7].

c) Analisa Psikometri

(4)

Guna mencapai tingkat objektivitas yang tinggi, penelitian ilmiah mensyaratkan penggunaan prosedur pengumpulan data yang akurat dan terpercaya melalui analisa kuantitatif dengan melalui proses pengukuran yang tinggi validitas, reliabilitas, objektif dan juga sistematik Alur kerja dalam membuat konstruksi skala psikologi diilustrasikan pada gambar_3.

Kisi-kisi (Blue Print) & Spesifikasi Skala

Pensklalaan

Sumber : Saifuddin Azwar (2011)

Gambar_3. Alur Kerja dalampenyusunan

Skala psikologi

Uraian kegiatan pada tahapan kerja penyususna skala psikologi adalah

1.Identifikasi tujuan ukur, yaitu memilih

suatu defenisi mengenali dan memahami dengan seksama teori yang mendasari konstrak psikologi atribut yang hendak diukur. kemudian dilakukan pembatasan kawasan (domain) ukur.

2.Pembatasan domain ukur, berdasarkan

konstrak yang didefenisikan oleh teori yang dipilih. Dimensi keperilakuan, meskipun sudah jelas konsep keperilakuanya namun belum terukur, sehingga perlu dioperasionalkan kedalam bentuk keperilakuan yang lebih konkret.

3.Operasionalisasi Aspek , Himpunan

indikator-indikator keperilakuan beserta dimensi yang diwakilinya kemudian dituangkan dalam kisi-kisi atau blue-print yang setelah di dilengkapi dengan

spesifikasi skala, akan dijadikan acuan bagi para penulis aitem.

4.Penulisan Aitem, sebelum penulisan

aitem dimulai, perancang skala perlu menetapkan bentuk atau format stimulus (aitem) yang hendak digunakan. Format stimulus ini erat berkaitan dengan metode penskalaannya.

5.Evaluasi Kualitatif, bertujuan untuk

menguji apakah aitem yang ditulis sudah sesuai dengan blueprint dan indikator perilaku yang hendak di ungkapnya, menguji apakah aitem telah ditulis sesuai dengan kaidah penulisan yang benar, dan menilai apakah aitem mengandung social desirability yang tinggi. Evaluasi dan seleksi aitem dalam tahap ini dilakukan oleh panel peneliti (ahli psikologi).

6.Evaluasi Kuantitatif, melakukan

pengujian kualitas aitem secara empirik dengan cara melakukan analisis kuantitatif terhadap parameter-parameter aitem. Pada tahap ini akan dilakukan analisis daya diskriminasi aitem, komputasi validitas dan reliabilitas aitem, analisa distribusi jawaban, analisa item bias, fungsi informasi aitem, dan lain-lain. Data hasil analisa kuantitatif berasal dari sampel yang mewakili populasi. Semakin banyak jumlah sample maka akan menghasilkan nilai validasi dan reliabilitas semakin akurat.

7.Estimasi Reliabilitas

Evaluasi terhadap fungsi item yang biasa dikenal dengan istilah analisis aitem merupakan proses pengujian aitem secara kuantitatif guna mengetahui apakah aitem memenuhi persyaratan psikometrik untuk disertakan sebagian dari skala. Parameter yang diuji adalah daya beda aitem atau daya diskriminasi aitem, yaitu kemampuan aitem dalam membedakan antara subjek yang memiliki atribut yang diukur dan yang tidak.

8.Validasi Konstrak, untuk mengetahui

(5)

diperlukan suatu prose pengujian validitas dan reliabilitas.

9.Kompilasi final, dimaksudkan untuk

menyiapkan tampilan dan informasi yang menarik untuk memudahkan bagi responden membaca dan menjawab aitem yang diberikan.

d) Rumus IQ Deviasi

Salah satu cara yang sering digunakan untuk menterjemahkan tinggi rendahnya tingkat intelegensi adalah menterjemahkan hasil tes intelegensi kedalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relatif terhadap suatu norma. Secara tradisional, angka normatif dari hasil tes intelegensi dinyatakan dalam bentuk radio (Quotient) dan dinamai intellegence quontient (IQ) atau sering dinamakan tes IQ. Tidak semua tes IQ menghasilkan angka IQ karena memang bukan satu-satunya cara untuk menyatakan tingkat kecerdasan. Untuk mengukur IQ berdasarkan tes yang dilakukan menggunakan rumus IQ Deviasi. Rumus deviasi diciptakan oleh Davis Wechsler. IQ tdihitung berdasarkan perbandingan norma kelompok (Mean) dan dinyatakan dalam besarnya penyimpangan (deviasi standar) dari norma kelompok tersebut. Dalam statistika, angka yang dinyatakan dalam satuan deviasi standar disebut skor standar dengan rumus :

Skor standar = m + s [ (X-M) / Sx ] .... (9) Dimana :

m : mean

s : deviasi standar

X : skor mentah yg akan dikonversikan M : mean distribusi skor

Sx : Deviasi standar

Mean yang ditetapkan oleh wechsler adalah 100. Nilai tersebut dimabil untuk melestarikan kebiasaan tradisional menafsirkan IQ sebesar 100 sebagai tingkat intelegensi normal. Nilai Deviasi standar adalah 15 (yang diperoleh dari tes

intelegensi WAIS dan dari tes intelegensi WISC). M diperoleh dari hasil

nilai hasil

tes.

3. METODE PENELITIAN

Tahapan dalam pelaksanaan penelitian dijelaskan pada gambar berikut.

Identifikasi Masalah

Membuat alat ukur / Kuesioner

Menentukan Tingkat Keberbakatan Menyusun Kesesuaian thd

Jurusan (IPA/IPS) Menentukan Domain

Ukur

Menyusun Kesesuaian thd Tingkat Pendidikan (IQ)

Menyusun Kesesuaian Rumpun Ilmu dng Domain

Ukur

Basis Pengetahuan

Pengelompokan Rumpun Ilmu

Menentukan Perhitungan Score

Rancangan Proses

Mesin Interfensi

Pembuatan Tabel Hub.Antara Penjurusan, Rumpun Ilmu, IQ dan Bakat

Membangun Pohon Keputusan

Uji coba Kuesioner Rule based System validasi Kuesioner Konsultasi dng ahli

Membuat Tabulasi data

Gambar_4. Metodologi penelitian

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

a) Menyusun Kontruk sekala Item

(6)

pengukuran tersbut. Berikut domain ukur yang digunkan dalam pengujian :

Tabel_1. Domain Ukur

No Domain Ukur

1 Kemapuan Verbal (SE)

2 Pemahaman (WA)

3 Persamaan Kata (AN) 4 Abstraksi Verbal (GE) 5 Berhitung (RA) 6 Deret Angka (ZR) 7 Susunan Gambar (FA) 8 Rancang balok (WU) 9 Simbol (ME)

b) Kesesuaian score IQ terhadap

tingkat pendidikan

Kemampuan intelegensi (IQ) seseorang sangat menentukan jalur dominan tingkat pendidikan siswa. Semakin tinggi IQ seseorang, maka semakin tinggi pula kemampuan untuk berfikir dan memecahkan masalah. Dari hasil analisa ahli psikologi tingkat pendidikan yang sesuai dengan tingkat IQ seseorang disajikan pada tabel_2.

Tabel_2. Klasifikasi Score IQ dengan

Tingkat Pendidkan

No Score IQ Tingkat Pendidikan

1 96 < IQ ≤ 105 D1/D3

2 105< IQ ≤ 110 S1

3 IQ > 110 S2/S3

c) Menentukan tingkat keberbakatan

Hasil tes memilki tingkat keberbakatan, dijelaskan pada tabel_3.

Tabel_3. TingkatKeberbakatan

Nilai Arti

N ≤ 30 Tidak Berbakat

30 < N ≤ 45 Kurang

45 < N ≤ 60 Rata-rata

60 < N ≤ 75 Berbakat

N ≥ 75 Sangat berbakat

Rentang nilai tersebut merupakan ketentuan dari ahli psikologi namun nilai tersebut tidak menjadi penilaian secara mutlak, karena motivasi, minat, kegigihan dalam mengatasi hambatan dan keinginan untuk belajar sangat memengaruhi bakat seseorang.

d) Penentu terhadap Jurusan

Tes dilakukan apabila calon mahasiswa belum mendapatkan penjurusan disekolah. Persyaratan menentukan jurusan disajikan dalam tabel_4.

Tabel_ 4. Ketetuan penjurusan

Penjurusan dilakukan untuk untuk mempersempit pilihan. Misalkan Jurusan Kedokteran, Psikologi, teknik dll hanya bisa dipilih oleh calon Mahasiswa yang memiliki penjurusan IPA. Hal ini akan mempermudah pengelompokkan sub pohon pada pohon keputusan.

e) Kesesuain Rumpun Ilmu dengan

Domain Ukur

Untuk merumuskan rumpun ilmu berdasarkan Domain ukur, tabel ini merupakan hasil dari penalaran ahli Psikologi. Ahli psikologi merumuskan pontensi yang harus dimiliki seseorang untuk menentukan jurusan. Analisa ini menjadi basis pengetahuan sistem pakar. Tabel_5 merupakan hasil dari analisa yang dilakukan oleh ahli psikologi.

Tabel_5. Kesesuain Rumpun Ilmu dengan

Domain Ukur

Untuk masing-masing rumpun ilmu memiliki ciri kemampuan yang menonjol dari kemampuan lainnya

f) Rancangan Proses

(7)

prosedur digunakan flowchart. Flowchart menggambarkan proses awal sampai menghasilkan kesimpulan yang lebih mudah dipahami. Adapun flowchart yang menjelaskan langkah-langkah dalam analisa sistem pakar adalah sebagai berikut

Mulai

Identitas, Minat

Tes-1, tes-2, 3, 4,

5, 6, tes-7,tes-8, tes-9

Menentukan Penjurusan (IPA/

IPS)

Menghitung IQ

Menentukan Tingkat Pendidikan yang

disarankan

Menentukan Jurusan yang

sesuai

Membuat Kesimpulan

Selesai Membandingkan

Hasil analisa Psikometri dng

minat

Gambar_5. Flowchart proses analisa

Sistem Pakar

g) Hubungan antara Penjurusan

Rumpun Ilmu, IQ dan Bakat

Dari beberapa ketentuan yang telah dijabarkan sebelumnya, maka dilakukan penggabungan antara ketentuan-ketentuan tersebut menghasilkan sehingga menghasilkan tabel keputusan sebagai berikut :

Tabel_6. Tabel Keputusan

Keterangan untuk kolom : 1. Penjurusan

2. Kode Rumpun Ilmu 3. Jenjang Pendidikan 4. Tingkatan IQ 5. Domain Ukur

Keterangan warna untuk jenjang pendidikan :

Untuk jenjang pendidikan D3 / D1 Untuk jenjang pendidikan S1 Untuk jenjang pendidikan D3/S1/S2 Untuk jenjang pendidikan D3/S1 Untuk jenjang pendidikan S1/S2 Untuk jenjang pendidikan S1/S2/S3 Untuk jenjang pendidikan D3/S1/S2/S3

(8)

5) Range 105<IQ≤110 6) Range IQ > 105,

jika diberi warna berarti berada pada Range tersebut.

h) Membangun Pohon Keputusan

Pohon keputusan digunakan untuk memetakan beberapa alternatif pemecahan masalah dari masalah yang dihadapi. Pohon keputusan dapat memperlihatkan faktor-faktor kemungkinan / probabilitas yang mempengaruhi alternatif tersebut disertai estimasi hasil akhir yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.

Gambar_6. Pohon Keputusan

i) Rule based System

Sistem pakar dibangun dengan rule based system yaitu sistem yang berdasarkan pada aturan-aturan untuk memecahkan masalah. Aturan pertama yang dilakukan adalah menjalankan Tes Minat. Tes berbentuk pertanyaan terbuka. Responden dapat memberikan tiga alternatif jurusan. Alternatif menjadi key pembanding untuk menghasilkan kesimpulan. Indikator minat menjadi hal penting untuk diketahui, karena berdasakan analisa psikometri minat dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan jurusan. Langkah selanjutnya adalah melakukan Jurusan (IPA/IPS). Ada sembilan katagori yang diujikan berdasarkan tabel_4. Tes-2 dan tes-6 digunakan untuk menentukan tingkat IQ seseorang. Sedangkan nilai lainnya akan menjadi penentu keberbakatan dibidang tertentu berdasarkan tabel_3. Nilai yang diperoleh akan menentukan jalur pada Pohon keputusan. Setiap simpul akan

membandingkan nilai dengan aturan yang telah ditetapkan. Adapun aturan-aturan tersebut adalah sebagai berikut :

a) Aturan L0.

Menentukan penjurusan (IPA / IPS)

IF (AN and RA and ZR and FA and WU) > 45 THEN kerjakan Rule L1

ELSE kerjakan Rule L2

b) Aturan L1 dan L2

Membandingkan Nilai IQ dengan tingkat IQ dengan ketentuan :

IF (IQ > 96) AND (IQ ≤ 105) THEN kerjakan Rule L21

ELSE IF (IQ > 105) AND (IQ ≤ 110) THEN kerjakan Rule L22

ELSE IF (IQ > 110) THEN kerjakan Rule L23 ELSE

THEN Kerjakan Rule L24 Selesai

c) Aturan L31

Sebelum dilanjutkan ke percabangan L31, proses selanjutnya adalah menghitung nilai SE, WA, AN, GE, RA, ZR, FA, WU dan ME. Nilai-nilai tersebut diurutkan dari tertinggi sampai terendah. Kemudian diseleksi menggunakan ketentuan pada tabel_5 sehingga bentuk algoritma adalah

IF ((SE and AN and GE and ME)> 45) THEN Jurusan = “Hukum”

ELSE IF ((SE and AN and GE) > 45) THEN Jurusan = “Sisip”

ELSE IF((SE and AN and RA and ZR)> 45 ) THEN Jurusan = “Ekonomi”

ELSE IF ((SE and RA and ZR) > 45 ) THEN Jurusan = “Sastra”

ELSE IF ((WA and AN and GE and ME)>45 ) THEN Jurusan = “Fikom”

ELSE IF ((SE andWAand AN and GE and ME) > 45 )

THEN Jurusan = “Psikolog”

ELSE IF (( SE and AN and GE and ME and FA and WU) > 45 )

THEN Jurusan = “Kedokteran”

ELSEIF ((AN and GE and FA and WU)>45 ) THEN Jurusan = “Pertanian”

ELSE IF ((AN and GE and FA and WU)>45 ) THEN Jurusan = “Peternakan”

(9)

THEN Jurusan = “Seni Rupa ”

ELSE IF ((SE and AN and GE and RA and ZR and FA and WU) > 45 ) THEN Jurusan = “Teknik”

ELSE IF ((AN and GE and RA and ZR and FA and WU) > 45 )

THEN Jurusan = “Seni Rupa” Selesai

Setelah Jurusan ditemukan (L31), maka dilanjutkan dengan mencocokkan L31 dengan alternatif minat. Jika salah satu dari alternatif tersebut sama, maka jurusan yang dipilih sudah tepat. Jika alternatif berbeda dengan minat, maka akan diberikan keterangan hasil dari tes tersebut. Keterangan ini yang menjadi masukkan bagi calon Mahasiswa.

j) Pengumpulan data

Untuk meyakinkan tabel keputusan yang dibuat dapat menjadi problem solving dilakukan pengujian pada sejumlah sempel. Sampel diambil dari lima Sekolah menengah Atas (SMU/SMK). Setiap sekolah diambil 100 responden. Dari seluruh sampel dipilih 20 sampel yang memiliki hasil berbeda. Hasil tersebut dapat digunakan untuk melengkapi alternatif percabangan pohon keputusan yang dibangun.

Tabel_7. Analisa data berdasarkan hasil

koesioner

Istilah singkatan pada tabel yaitu : D : Data hasil kuesioner NK : Nilai konversi dari tabel

keberbakatan

NB : Keterangan NK (SB-sangat berbakat, B-berbakat, R- rata-rata, KB-Kurang berbakat, TB-Tidak berbakat)

Data dimasukkan kedalam tabulasi data. Selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan beberapa tahap, yaitu

1. Menghitung nilai keberbakatan (NK) NK diperoleh dari data mentah dikonversi kedalam skala 100. Misal jumlah seluruh item pada tes-1 = 20, untuk mencapai skala 100 setiap jawaban yang benar diberi nilai : 1 x 5 = 5, bila jumlah jawaban yang benar pada tes-1 = 13, maka NK = 13x5 = 65. 2. Menyimpulkan nilai NK

Untuk mengetahui apakah responden berbakat pada pengujian tertentu, maka NK dapat disimpulkan berdasarkan tabel_3. Bardasarkan tabel tersebut setiap NK memiliki jenjang keberbakatan.

3. Menentukan Penjurusan

Penjurusan diperoleh dari perbandingan data dengan indikator penilaian tertentu. Berdasarkan Tabel_4, hanya nilai NK diatas 45 yang dapat digunakan sebagai penentu jurusan. Penilaian ini menghasilkan penjurusan IPA atau IPS. Penjuruan tersebut nantinya digunakan sebagai penentuan rumpun ilmu yang bisa / tidak bisa diambil, ini karena tidak semua rumpun ilmu bisa diambil oleh penjurusan IPS. 4. Menghitung nilai IQ

Nilai IQ dihitung berdasaran hasil tes-2 dan tes-6. Dengan menggunakan rumus skor standar, maka langkah-langkah untuk mendapatkan nilai tersebut adalah sebagai berikut :

1) Menghitung nilai mean (m)

(10)

2) Menentukan nilai s dan m

Berdasarkan ketentuan wechsler , s = 15, m = 100

3) Menentukan nilaisx

Nilai sx diperoleh dari jumlah responden. Dalam pengujian ini sampel yang diambil = 20 responden, sehingga sx = 20

4) Menentukan nilai X

X ditentukan berdasarkan data mentah dari masing-masing responden. Misalkan untuk responden-1, X1 = (21 + tes-61)/2 = (80 + 70)/2 = 75

5) Menghitung nilai skor standar (ss) Rumus :

6) Menentukan tingkat pendidikan yang disarankan

Jenjang pendidikan dapat ditentukan berdasarkan Nilai skor standar. Nilai tersebut disesuaikan dengan tabel_2. Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa responden tersebut disarankan untuk dapat menempuh jenjang pendidikan sampai tingkat setara satu (S1).

7) Menentukan jurusan yang disarankan

Untuk menentukan jurusan, dilakukan dengan cara membandingkan nilai tes yang menonjol (nilai rata-rata keatas) dengan domain ukur. Ketentuan berdasarkan Tabel 4. Setelah dibandingkan maka diperoleh jurusan yang sesuai berdasarkan hasil analisa sistem pakar. Apabila hasil tes memiliki kecocokan pada beberapa jurusan yang berbeda,

maka jurusan tersebut juga akan menjadi alternatif yang disarankan. 8) Membuat kesimpulan

Kesimpulan yang dihasilkan adalah apakah hasil analisa sistem pakar sesuai dengan alternatif jurusan pilihan responden (minat). Jika salah satu alternatif sama dengan hasil analisa, berarti jurusan yang dipilih sudah tepat, namun jika alternatif tersebut tidak sama dengan hasil analisa, maka dapat disimpulkan bahwa alternatif tersebut tidak sesuai dengan Minat, bakat dan IQ seseorang. Hasil Analisa sistem pakar akan memberikan pilihan jurusan, sebagai alternatif lain sebagai masukkan.

5. KESIMPULAN

Berdasarkan beberapa ketentuan dan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, maka dapat disimpukan : 1) Dari tabel keputusan yang dihasilkan

dapat menunjukkan hubungan antar Penjurusan, IQ, bakat untuk menentukan jurusan ditingkat perguruan Tinggi.

2) Perpaduan antara analisa sistem pakar dan analisa psikometri dapat memberikan analisa jurusan yang sesuai berdasarkan minat dan bakat seseorang

6. REFERENSI

[1] Kartini, Kartono.1995. Psikologi Umum. Bandung : Maju Mundur

[2] Mongks, F.J., Knoers, A. M. P, & Haditono, S. R. 2000. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Cetakan 14. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

(11)

Fingerprint Analysis. Cetakan kedua. Transmedia Pustaka.

[4] Ignizio, J.P.1991. Introduction to Expert System : The Development and Implementation of Rule-Based Expert System. Singapore : McGraw-Hill Book Co

[5] Han, J., & Kamber, M., 2006. Data Mining Concept and Tehniques. San Fransisco : Morgan Kauffman

[6] Kamusbesar.com.

http://www.kamusbesar.com/ 48721/

bidang-studi. (diakses tgl 23 april 2014)

[7] Dikti.2013.Panduan pelaksanaan penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat diperguruan Tinggi. Edisi IX

[8] Azwar, Syaifuddin. 1999. Dasar-Dasar Psikometri..Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Referensi

Dokumen terkait

The disease arises from the accumulation of mutations in oncogenes, tumor suppressor genes and mismatch repair genes during progression from normal colon epithelium to adenoma

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan sumber inulin yang berasal dari umbi dahlia, baik dalam bentuk tepung maupun ekstrak mampu

Penelitian ini merupakan penelitian tentang Etnobotani Tumbuhan yang Digunakan dalam Pengobatan Tradisional di Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai Sulawesi

(pendidikan, pengetahuan, sikap, motivasi), faktor pendukung (ketersediaan sarana, pendapatan, pekerjaan), dan faktor pendorong yaitu penyuluhan dan kebiasaan

a) Penyelesaian perselisihan internal Partai Politik dilakukan oleh suatu Mahkamah Partai Politik atau sebutan lain yang dibentuk oleh Partai Politik

Dengan penerapan metode Profile Matching kedalam Sistem Pendukung Keputusan untuk Kenaikan Jabatan merupakan hal yang sangat tepat, dimana metode Profile Matching

Perluasan bisnis pasar modern pastinya akan memiliki dampak kepada pengecer dan penjual tradisional, demikian juga yang terjadi di Kota Tegal, tidak dipungkiri juga bahwa pengecer

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah sebuah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer (sewenang- wenang) yang