• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan Orang Gila dan Kompleksitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Permasalahan Orang Gila dan Kompleksitas"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 Arif Rohman

School of Humanities and Social Sciences Charles Sturt University

Cite:

Rohman, Arif. (2014). Permasalahan Orang Gila dan Kompleksitas Penanganannya di Indonesia. Kompasiana, 5 November 2014.

Pendahuluan

Pada pertengahan tahun 2014, ketika saya pulang ke kampung saya di Demak – Jawa Tengah, Ibu saya bercerita tentang almarhum Lek Jupri. Lek Jupri adalah penjual ‘bakso kojek tusuk lidi’ dan ‘es pasah sirup frambos’ yang sangat terkenal dan cukup legend di kampung kami. Sampai sekarang saya belum menemukan tandingan kelezatan bakso kojek bikinannya. Kalau membayangkan bakso kojeknya, langsung terbit selera saya, pun saat saya menulis artikel ini. Pada waktu saya masih SD, saya masih ingat, walaupun mulai berdatangan para tukang siomay dari daerah lain (Bandung – Jawa Barat), yang menawarkan dagangan lebih komplit seperti ada kol, tahu, dan pare-nya, namun penggemar Lek Jupri tidak pernah surut. Mungkin karena rasanya yang yummy dan harganya yang relatif lebih murah, disamping penyajiannya yang sederhana, yaitu bakso tepung kecil-kecil yang direbus dan diberi sambal kacang dan kecap dan sedikit saos yang dimasukkan dalam plastik kecil ukuran ½ ons. Saya tidak bisa membayangkan berapa banyak orang yang pernah mencicipi makanannya dan saat ini sudah menjadi orang-orang sukses dalam hidupnya. Dia orang yang baik dan taat beribadah di mata masyarakat sekitar.

(2)

2 pada kehidupannya, tentu saja dengan mencari akar masalah yang membuat dia merasa tertekan.

Tulisan ini berusaha untuk memotret permasalahan orang gila di Indonesia, dan perlakuan yang sering mereka terima dalam kehidupan sehari-hari. Maksud dari tulisan ini adalah untuk menunjukkan betapa kelamnya kehidupan mereka dan untuk menggugah hati nurani dan kepedulian kita terhadap permasalahan orang gila yang ada di sekitar kita. Tulisan ini akan difokuskan pada penderita gangguan psikis yang berat atau lazim disebut schizophrenia.

Penyebutan ‘Orang Gila’

Sebenarnya penyebutan orang gila sebisa mungkin perlu kita hindari mengingat stigma negatif yang melekat di dalamnya. Jadi memberikan label orang gila sebenarnya sangat berbahaya dan hanya memperburuk keadaan saja. Hal ini dikarenakan, mereka sebenarnya adalah orang-orang biasa seperti kita yang hanya sedang mengalami gangguan psikis saja. Gangguan psikis ini memiliki spectrum dari yang ringan sampai yang berat. Gangguan psikis yang ringan dimisalkan seperti stress biasa akibat situasi sulit dan runyam yang agak susah dihadapi. Sebagai contoh, para komuter yang tinggal di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang bekerja di Jakarta, harus mengalami stress setiap pagi hari karena macet di jalanan, ketinggalan kereta, atau kereta yang dijadwalkan berangkat ternyata sedang mogok, tentu sempat mengalami stress karena harus sampai di tempat kerja pada pagi hari, atau akan dapat sanksi dari kantornya. Contoh yang sering terlihat adalah orang-orang yang kalah dalam pemilu di Indonesia. Mereka seringkali jadi orang-orang stress baru. Akibatnya adalah hilang konsentrasi, sering melamun, linglung, atau sebaliknya, yaitu menjadi agresif. Adapun contoh untuk gangguan psikis yang sedang yaitu mereka yang mengalami grieving akibat kehilangan sesuatu dalam hidupnya seperti ditinggal mati pasangan, bayi atau anaknya meninggal, adik atau kakaknya meninggal, orang-orang yang disayangi meninggal, bahkan bisa jadi ketika binatang peliharaannya mati. Korban kecelakaan dan menderita kecacatan, seperti mereka yang diamputasi anggota tubuhnya, mereka yang gagal masuk CPNS, diputus cinta oleh pacar, pasangan yang selingkuh dan perceraian,atau mereka yang di-PHK, sangat potensial untuk menjadi penyebab gangguan psikis berat. Akibatnya adalah mereka bisa menarik diri dari lingkungan sosialnya dan mengurung diri di kamar. Mereka mengalami depresi akibat trauma yang dialaminya. Mereka yang mengalami gangguan psikis berat, contohnya adalah mereka yang menderita schizophrenia.

(3)

3 dopamine yang berlebihan akan mencipatakan racun buat neuron (sel-sel saraf) yang ada di otak. Jika keadaan ini berlangsung lama dan tanpa penanganan yang tepat, maka akan dapat menyebkan kematian pada sel-sel otak. Kematian pada sel-sel otak bisa mengakibatkan gangguan pada fungsi kecerdasan dan kognitif. Dengan penanganan yang tepat dan segera, kondisi otak akan tetap baik, dan seseorang bisa melaksanakan aktifitas seperti biasanya, seperti sekolah, bekerja dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Dari spectrum ini jelas bahwa kita hidup dalam spectrum ini. Bagi mereka yang memiliki coping capacities (kemampuan menghadapi masalah) yang tinggi, mereka mampu menyeimbangkan dan me-manage dengan baik. Mereka yang coping capacitiesnya rendah biasanya akan mudah mengalami gangguan psikis. Di negara-negara maju, mereka lebih memilih penggunaan istilah ‘orang dengan mental illness’ daripada menggunakan istilah orang gila yang dianggap kurang humanis dan stigmatif.

Memahami Orang Dengan Gangguan Psikis Berat : ‘Delusi’ dan ‘Halusinasi’

Perhatian dan rasa kepedulian akan mudah terbangun jika kita bisa memahami secara utuh dan mendalam, mengenai orang dengan gangguan psikis berat. Pemahaman yang cukup akan membuat kita lebih bijak dan tidak terjebak pada pandangan yang menyamakan orang dengan ‘mental illness’ dan orang dengan ‘intelectual disability’, karena itu adalah dua hal yang berbeda. Perlu dibedakan pula antara orang dengan gangguan psikis dan orang dengan dementia (kepikunan). Beberapa contoh gejala yang sering ditemui oleh orang dengan gangguan psikis berat yaitu seseorang yang mengalami delusi mendapatkan wahyu dari Tuhan untuk menjadi nabi, presiden, ataupun menikah dengan makhluk gaib. Kasus lain adalah seseorang yang mengalami halusinasi pendengaran maupun penglihatan, seperti ada yang berkata dan menampakkan pada dirinya secara aneh yang membuat dia terus kepikiran dan berharap. Bisa juga seseorang yang merasa ada yang membicarakannya atau mengikuti dan mengawasinya sehingga membuat dia takut, cemas, panik dan merasa terancam, padahal realitanya tidak seperti itu.

(4)

4 gejala schizophrenia ini sering dianggap karena kerasukan roh-roh halus atau istilahnya kesambet. Namun demikian dalam dunia medis tidak dikenal istilah-istilah seperti ini.

Menghilangkan Stigma ‘Orang Gila’: Melihat Aspek Positif

Orang yang menderita gangguan psikis berat juga bisa berpartisipasi dan berkontribusi dalam masyarakat. Sebagai contohnya adalah seorang ahli matematika, John Nash. Pada umur 31 dia didiagnosis menderita schizophrenia. Namun demikian, satu decade kemudian, dia mampu meraih penghargaan nobel karena ‘game theory of economics’ -nya. Artinya, dengan obat, terapi dan cinta dari orang-orang dekat, tidak menutup kemungkinan sembuh dan berprestasi dalam hidupnya. Kisah hidupnya bahkan pernah diangkat di layar lebar dengan judul ‘A Beautiful Mind’ pada tahun 2001 dengan dibintangi oleh Russel Crowe.

Adapun dari Indonesia, yaitu Poltak Tua Dorens Ambarita, S.Si., M.Sc (32) yang menorehkan prestasi nilai diatas rata-rata (Cum Laude) untuk sarjana Kimia, Institut Teknologi Bandung (2004) dan S2 Double Degree Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Chung Yuan Christian University (CYCU). Dan saat ini bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil di Baristand Industri Manado Kementerian Perindustrian (lihat liputan6.com). Dari sini terlihat bahwa orang dengan gangguan psikis juga bisa sukses dan berhasil. Pengalamam saya di Adelaide (South Australia) pada waktu mengunjungi ‘Diamond House’ untuk mereka yang mengalami gangguan psikis, mereka tidak malu untuk mengatakannya. Pemerintah dan NGO bahu membahu memberikan layanan kepada mereka, karena mereka adalah bagian dari masyarakat. Jadi kenapa kita justru di Indonesia harus menjauhi mereka?

Kompleksitas Penanganan

(5)

5 dan tidak benar-benar menyelesaikan masalah atau istilah kasarnya hanya sekedar memindahkan masalah.

Sudah bukan rahasia umum apabila selama ini ada pejabat yang mau datang, maka razia gelandangan dan pengemis dilakukan. Biasanya waktu-waktu menjelang upacara kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Ada di antara mereka yang ditampung-tampung di panti sosial, selebihnya dioper ke daerah lain, bahkan ke desa-desa dengan menggunakan truk. Itulah sebabnya di kampung-kampung sering terdengar istilah ‘orang gila baru buangan dari tempat lain’. Padahal seharusnya, jika kita konsisten menyebut mereka sebagai orang sakit, Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kesehatan sudah harus siap segalanya, baik dari visi, misi, dan fasilitas, sampai dengan prosedur layanan yang tepat untuk mereka. Memang perlu diakui bahwa masalah ini adalah masalah yang bisa dikatakan abu-abu, Kementerian mana yang harus bertanggung jawab masih belum jelas. Kalau dibilang ini adalah tanggung jawab Kementerian Sosial, mungkin agak rancu. Hal ini dikarenakan dalam fungsi Kementerian Sosial sendiri, yang menjadi tanggung jawabnya adalah rehabilitasi sosial untuk mereka yang sudah dinyatakan sembuh secara medis dari Kementerian Kesehatan. Kementerian Sosial bertanggung jawab dalam integrasi sosial kepada masyarakat dan pemberdayan sosial ekonomi ’setelah dinyatakan sembuh secara medis’. Jadi, apabila semua masalah sosial, salah satunya adalah ‘orang gila’ yang belum dinyatakan sembuh secara medis, harus ditangani oleh Kementerian Sosial, apakah kementerian ini sanggup dan mempunyai kompetensi yang cukup untuk itu? Hal ini didasarkan pada fakta bahwa penyembuhan dari mental illnes bukan merupakan kompetensi dari Kementerian Sosial. Kita tentu saja tidak menginginkan apabila tiba-tiba di Panti Sosial ada klien yang menusuk social worker dengan pisau, atau social worker kalau berjalan selalu takut dan menengok ke belakang, karena khawatir ditimpa batu bata sama kliennya yang belum sembuh dari gangguan psikis berat yang dideritanya. Artinya, anggapan masyarakat bahwa ‘orang gila’ adalah tanggung jawab Kementerian Sosial juga perlu disimak lagi secara lebih bijak. Hal ini penting dikemukakan, karena terkadang ekspektasi yang berlebihan dari masyarakat umum tanpa mendalami sebuah permasalahan dengan baik, sangat potensial menimbulakan salah paham dan kesalahpengertian.

Permasalahan Hak Asasi Manusia

(6)

6 saya bisa mengumpulkan ratusan ‘orang gila jalanan’ apabila diminta oleh Kementerian Kesehatan. Saya berkata begitu karena kalkulasi saya jika sekali razia ketentraman dan ketertiban (Tramtib) untuk gelandangan dan pengemis di satu titik saja bisa mendapatkan ratusan orang, dan beberapa dintaranya adalah orang dengan gangguan psikis berat, terus ada berapa titik di Jakarta, tentu jumlahnya banyak sekali dan itu belum termasuk Bodetabek dan daerah-daerah lainnya. Pertanyaannya adalah terus mau dikemanakan mereka yang sudah kena razia? Apakah rumah sakit jiwa mau menampungnya? Berapa kapasitasnya? Terus teman saya bilang, ‘ya kita punya puskemas-puskesmas yang sekarang menangani masalah itu’. Terus saya bilang, kalau begitu kenapa saya pernah bawa ‘orang gila’ di sebuah puskesmas tapi ditolak dan diusir sama satpamnya? Ternyata jawabannya adalah puskesmas belum siap menangani permasalahan ini. Banyak pekerja medis yang takut dan adanya anggapan tidak bonafid bila berkecimpung dengan permasalahan ini.

Pertanyaan selanjutnya adalah kalau keadaannya seperti ini, terus bagaimana penanganan kedepannya? Paling tidak dari diskusi ini, pembaca bisa memahami keterbatasan pemerintah dalam hal penanganan permasalahan orang dengan gangguan psikis berat selama ini. Lantas, kenapa kita tidak terbuka saja kepada masyaraka, sehingga masyarakat bisa tahu dan paham kondisinya, dan siapa tahu bisa bersumbang sih dalam hal pemikiran ataupun perbuatan? Bukankah jika kita membiarkan hal seperti ini sampai berlarut-larut akan melanggar hak asasi manusia (HAM), karena fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara? Dan jika kita tidak punya konsep yang jelas, bagaimana kita bisa mengukur indikator keberhasilan penanganan seperti tercantum dalam agenda reformasi birokrasi, dan bagaimana kita mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat kita?

Pertanyaan saya ini terinspirasi pada saat saya melihat ‘orang gila’ di jalanan yang dihamili oleh ‘orang gila’ lain dan akhirnya mengandung dan melahirkan bayi. Saya pernah membaca artikel bahwa jumlah orang dengan schizophrenia di Indonesia mencapai 400.000 orang. Mereka yang dipasung atau pernah dipasung mencapai 57.000 orang. Pemasungan di pedesaan sebanyak 18.2% dan di perkotaan sebanyak 10.7%. Pemasungan pun terjadi berpuluh-puluh tahun, sampai ada kasus dipasung sampai 20 tahun. Bandingkan dengan jumlah psikiater yang hanya sekitar 800 orang (mungkin data-data ini perlu dilihat lagi). Hal ini dikarenakan jumlah schizophrenia di Amerika saja mencapai 2 juta orang per tahun.

Praktek Non-Medis dan Isu HAM

(7)

7 medis yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mempunyai latar belakng medis sama sekali yang berasal dari lembaga-lembaga non pemerintah? Dalam sebuah acara TV, secara tidak sengaja, saya melihat praktek penanganan yang menurut pribadi saya sendiri, agak tidak humanis atau kurang manusiawi, misalkan mereka dirantai atau dipasung, dimandikan di tengah malam, dsb. Pertanyaan saya kemudian adalah, apakah perlakuan ini tidak membutuhkan ‘consent’ atau persetujuan dari mereka? Apakah karena mereka dianggap ‘orang gila’ makanya kita sebagai orang yang mengklaim ‘normal’ berhak melakukan sesuatu atas justifikasi kita? Saya memang tidak menafikkan ada dari mereka yang kemudian sembuh dari penyakitnya dan saya sekali lagi sangat mengapresiasi niat dan ketulusan hati teman-teman yang berkecimpung dalam isu ini. Tapi kembali lagi, pertanyaannya adalah. ‘regulasinya seperti apa?’

Penutup

Referensi

Dokumen terkait