KELOMPOK 7 (TUJUH) N
O NAMA ANGGOTA KELOMPOK NO. BP
1 NOVITA SARI PULUNGAN 1411111007
2 NINDI ELISA 1411111017
3 MONICA GUSPA 1411111022
4 ALFIAN PARNEDI 1411111027
5 HAIMICCITA RATNA 1411111028
6 ANGGIE YULIA SARI 1411112008
7 KHAIRIL AGUSTORIA 1411112025
LAB. TEKNIK PENGOLAHAN PANGAN DAN HASIL PERTANIAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS
Mata Kuliah Praktikum : SIFAT-SIFAT PRODUK PERTANIAN
Kelompok : VII (Tujuh)
Tempat Praktikum : LAB. TEKNIK PENGOLAHAN PANGAN DAN HASIL PERTANIAN
Periaoderaktikum : Shift 2 (26 Oktober 2015)
1. ARTOK BUDIANTO 23/LTTPHP/2014 2.
2. DELVA OKTARISNA 24/LTTPHP/2014 3.
3. HENDRI GUSTIAN, S.TP 25/LTTPHP/2014 4.
4. SEPRIA MULYADI 26/LTTPHP/2014 5.
5. SYAKINAH PUTRI 1211111008 6.
6. OVIE ADISTA 1211112015 7.
7. LOLA BUJIANOVA 1211113013 8.
Padang, 30 Oktober 2015 Mengetahui
Kepala Labor. TPPHP Koord. Asisten
Dr. Andasuryani, S. TP, MS Siska Desriani,S.TP
KATA PENGANTAR
Segenap puji dan syukur senantiasa kami perbaharui kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepada kami sebagai penulis, khususnya dalam penyelesaian Laporan Akhir Praktikum Sifat-Sifat Produk Pertanian yang telah kami jalani di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian selama satu semester ini.
Laporan ini disusun berdasarkan data-data yang diperoleh saat melaksanakan praktikum di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian. Dengan selesaainya laporan akhir praktikum ini kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu dalam menyelesaikan penulisan baik berupamoril maupun materi. Ucapan terima kasih terutama kami sampaikan kepada dosen mata kuliah Sifat-Sifat Produksi. Selanjutnya kepada asisten yang telah berkenan membimbing kami selama praktikum dan teman-teman serta rekan kelompok.
Kami menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam laporan ini, oleh karena itu kami mengharapkan kritik maupun saran agar dapat menjadi acuan perbaikan kami kedepan dan memiliki manfaat bagi pembaca.
Padang, Oktober 2015
DAFTAR ISI
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUMi LEMBAR PENGESAHAAN
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
DAFTAR TABEL...v
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Tujuan...2
1.3 Manfaat...2
BAB II PELAKSANAAN PRAKTIKUM...4
I. Objek 1 (SIFAT FISIK GABAH DAN BERAS)...4
2.1.1Tujuan dan Manfaat...4
2.1.2 Tinjauan Pustaka...4
2.1.3 Bahan dan Alat...11
2.1.4 Metoda...11
2.1.5 Hasil dan Pembahasan...14
2.1.6 Kesimpulan dan Saran...18
II. Objek 2 (SIFAT FISIK BIJI-BIJIAN)...20
2.2.1 Tujuan dan Manfaat...20
2.2.2 Tinjauan Pustaka...20
2.2.3 Bahan dan Alat...26
2.2.4 Metoda...26
2.2.5 Hasil dan Pembahasan...28
2.2.6 Kesimpulan dan Saran...33
2.3.1 Tujuan dan Manfaat...34
2.3.2 Tinjauan Pustaka...34
2.3.3 Bahan dan Alat...40
2.3.4 Metoda...40
2.3.5 Hasil dan Pembahasan...42
2.3.6 Kesimpulan dan Saran...47
VI. Objek 4 (SIFAT RHEOLOGI PRODUK PERTANIAN)...48
2.4.1 Tujuan dan Manfaat...48
2.4.2 Tinjauan Pustaka...48
2.4.3 Bahan dan Alat...55
2.4.4 Metoda...55
2.4.5 Hasil dan Pembahasan...56
2.4.6 Kesimpulan dan Saran...68
V. Objek 5. (Sifat Aerodinamis Produk Pertanian)...69
2.5.1 Tujuan dan Manfaat...69
2.5.2 Tinjauan Pustaka...69
2.5.3 Bahan dan Alat...75
2.5.4 Metoda...75
2.5.5 Hasil dan Pembahasan...78
2.5.6 Kesimpulan dan Saran...82
VI. Objek 6 (SIFAT HIDRODINAMIS PRODUK PERTANIAN)...83
2.6.1 Tujuan dan Manfaat...83
2.6.2 Tinjauan Pustaka...83
2.6.3 Bahan dan Alat...89
2.6.4 Metoda...89
2.6.5 Hasil dan Pembahasan...91
BAB III PENUTUP...96 3.1 Kesimpulan...96
3.2 Saran...96
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Ukuran Panjang Padi...11
2. Ukuran Panjang Beras...12
3. Sub Jenis atau Rasio Diameter Padi...12
4. Data Gabah dan Beras...14
5. Data Kriteria Gabah dan Beras...14
6. Data Biji-Bijian...29
7. Kriteria Biji-Bijian...30
8. Pengukuran Buah dan Sayuran...43
9. Kriteria Buah dan Sayuran...43
10. Data Poisson Ratio Sawo...56
11. Data Poisson Ratio Tomat...56
12. Data Poisson Ratio Terong Pirus...57
13. Penentuan Terminal Velocity...78
14. Penentuan Velocity...91
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Grafik Poisson Ratio Sawo I...58
2. Grafik Poisson Ratio Sawo II...58
3. Grafik Poisson Ratio Sawo III...59
4. Grafik Rata-Rata Poisson Ratio Sawo...59
5. Grafik Poisson Ratio Tomat I...60
6. Grafik Poisson Ratio Tomat II...60
7. Grafik Poisson Ratio Tomat III...61
8. Grafik Rata-Rata Poissin Ratio Tomat...61
9. Grafik Poisson Ratio Terong Pirus I...62
10. Grafik Poisson Ratio Terong Pirus II...62
11. Grafik Poissin Ratio Terong Pirus III...63
12. Grafik Rata-Rata Poisson Ratio Terong Pirus...63
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Sifat fisik dari produk pertanian diperlukan dalam penanganan pasca panen, seperti dalam pengemasan, merancang alat, dan sebagainya. Secara umum sifat produk pertanian dapat dibagi menjadi sifat fisik, mekanik, thermodinamik, aerodinamik, hidroninamik, dan sifat elektrik produk pertanian. Sifat fisik ini diperlukan terutama dalam kegiatan sortasi, grading, pemisahan dari benda asing dan juga dalam proses pengangkutan atau transportasi produk. Salah satu yang paling penting yaitu grading, yaitu bentuk seleksi pemutuan bagi produk pertanian. Sifat fisik dari produk pertanian terdiri atas berat, volume, bentuk, warna, tekstur, berta jenis, kadar air juga termasuk kedalam sifat-sifat produk pertanian ini. Biasanya dimana sifat berat maupun volume dipakai dalam pemutuan buah berdasarkan kuantitas.
Dalam kegiatan pascapanen lainnya seperti pengemasan dan pengangkutan sifat fisik sangat diperhatikan. Sifat bahan sangat berhubungan dengan pengelolaan secara mekanis. Banyak para pakar yang profesional di bidangnya khususnya bidang nutrisi telah merekomendasikan secara ilmiah melalui pendekatan formula. Sifat fisik bahan dapat diamati secara langsung tanpa adanya reaksi kimia, sedangkan sifat fisik lainnya dapat diamati dengan terjadinya perubahan warna, suhu, pembentukan endapan atau pembentukan gas.
Sifat fisik bahan ini sangat diperlukan dalam pemisahan produk dengan benda asing yang tidak diinginkan seperti partikel tanah, debu maupun bahan sampah lain yang ikut bersama produk pertanian saat proses pemanenan. Bentuk dan ukuran berat, volume warna yang seragam menjadi pilihan konsumen. Untuk kerusakan seminimal mungkin diperlukan pengetahuan terhadap sifat maupun karakteristik serta sifat teknik dari suatu bahan hasil pertanian yang berkaitan dengan karakteristik fisik mekanis dan teknik.
peralatan pendukung pertanian tidak menjadikan petani serta-merta mendapatkan hasil pertanian yang melimpah karena minimnya pengetahuan terhadap sifat fisik bahan pertanian.
Selain itu pemahaman terhadap sifat produk pertanian juga penting dalam kajian maupun analisis terhadap efisiensi alat pengolahan bahan-bahan pertanian. Sehingganya suatu alat yang diciptakan bukan hanya dapat melakukan pengolahan denganbaik tetapi juga dapat dipergunakan secara efisien dalam jangka panjang oleh petani. Terjadinya keseimbangan antara pengetahuan dan penerapan dilapangan akan menjadikan tujuan pertanian untuk mensejahterakan petani akan tercapai.
1.2 Tujuan
1. Dapat mengetahui sifat produk pertanian dan dapat merancang alat pengolahan hasil pertanian berdasarkan analisa ilmiah yang baik dan benar.
2. Praktikan dapat mempelajari sifat fisik , rheology, aerodinamis, dan hidrodinamis produk pertanian.
3. Dengan memahami sifat fisik dari produk pertanian diharapkan praktikan dapat melakukan penanganan terhadap berbagai macam produk pertanian.
1.3 Manfaat
1. Praktikan dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dari praktikum yang dilakukan pada sifat produk pertanian.
2. Dapat memberi wawasan dalam hal sifat-sifat produk pertanian,baik dalam perancangan alat maupun dalam proses pengolahan produk.
3. Agar kita mampu membedakan produk berkualitas dan produk yang tidak berkualitas.
4. Agar kita mengetahuiAngle of respose dan Angle of frictiondari produk pertanian.
5. Agar kita mengetahui Bulk Density dan manfaat Bulk Density produk tersebut.
7. Agar kita dapat mengetahui kemampuan suatu produk dapat ditumpuk pada proses pengangkutaan.
8. Agar kita dapat mengetahui metode yang tepat dalam melakukan pemisahan produk pertanian dengan benda asing.
BAB II
PELAKSANAAN PRAKTIKUM I. Objek 1 (SIFAT FISIK GABAH DAN BERAS)
2.1.1Tujuan dan Manfaat 2.1.1.1 Tujuan
1) Menentukanbulk density (m/g³)
2) Menentukan Angle of respose gabah dan beras (°) 3) Menentukan Angle of friction gabah dan beras (°)
2.1.1.2 Manfaat
1. Agar praktikan mampu memahami sifat fisik gabah dan beras.
2. Agar praktikan mampu membedakan Angle of respose dan Angle of friction.
3. Agar praktikan dapat mengetahui mana beras yang berkulitas baik mana yang tidak.
4. Agar mampu menentukan sifat fisik gabah dan beras serta menentukan faktor ilmiah yang mempengaruhi sifat tersebut.
5. Agar praktikan memahami tentang sifat fisik utama dari bahan pertanian terutama gabah dan beras sebagai hasil pertanian yang paling utama untuk penelitian dimasa mendatang.
2.1.2 Tinjauan Pustaka
Sifat fisik bahan pertanian merupakan faktor yang sangat penting dalam masalah-masalah dalam merancang suatu alat khusus untuk suatu produk pertanian atau analisa perilaku produk dan cara penanganannya. Karakteristik sifat fisik pertanian adalah bentuk, ukuran, luas permukaan, warna, penampakan, berat, prositas, densitas, dan kadar air (Suharto, 1991)
suatugundukan berbentuk kerucut. Sudut antara permukaan gundukan terhadap permukaan horizontal inilah yang disebut dengan angle of respose. (Khatir, 2006)
Angle of friction adalah sudut yang dibentuk oleh permukaan kayu dengan bidang horizontal, pada saat gabah diatas permukaan tersebut karena gaya berat. Gaya berat adalah massa partikel yang menempati satu unit volume tertentu. Densitas bulk ditentukan dengan oleh berat wadah yang diketahui volumenya dan merupakan hasil pembagian dengan berat granular dengan volume wadah. Porositas merupakan bagian yang tidak ditempati oleh partikel atau bahan padatan.
Kriteria untuk bentuk dan dapat dibagi atas berbagai macam diantaranya: 1. Charterd Standards (Gambar standar)
Yaitu dengan mengukur penampang memanjang dan menglintang akan menghasilkan gambar standar. Contoh: round, oblate, oblong, cone, dan lain-lain. Charted standard sangat sederhana namun bersifat sangat subjektif.
2. Roundnes
Yaitu ukuran keruncingan sudut dari suatu bahan padat. Ada beberap persamaan untuk melakukan perhitungan dengan roundness diantaranya:
Rd= Ap
Ac atau Rd= r
R atau Rd= dr dt 3. Sphericity
Yaitu perbandingan antara luas permukaan bola yang mempunyai volume sama dengan diameter bak terkecil yang dapat mengelilingi objek. Nilai dari skala penentuan sphericity dorentang dari 0-1. Dimana jika suatu benda mendekati nilai 1 maka benda tersebut dapat dinyatakan mendekati nilai kebulatan.
Sphericity juga dirumuskan dengan de
dc . Asumsi dari bahan yang dianggap memiliki bentuk ellips. Sphericity secara jelas dapat dijelaskan dengan rumus:
Sphericity= (volume bahan
volume bola yang mengelilingi )
1 3
Yaitu penentuan sifat fisik suatu benda dengan benda standar yang selain standar tersebut dihubungkan dengan benda geometri. Benda geometri yang dimaksud dapat dikelompokkan menjadi:
a. Bulat memanjang (prolate spheroid) b. Bulat membujur (oblate spheroid) c. Kerucut berputar/silinder.
Dimana dapat didefinisikan masing-masingnya sebagai berikut: a. Bulat memanjang (prolate spheroid)
Yaitu bentuk yang terjadi apabila sebuah bentuk ellips berputar pada sumbu panjangnya. Contoh : lemon.
b. Bulat membuju (oblate spheroid)
Yaitu bentuk yang terjadi apabila sebuah ellips berputar pada sumbu pendeknya. Contoh : anggur.
c. Kerucut berputar/silinder
Yaitu bentuk yang menyerupai kerucut/ tabung. Contoh: wortel dan timun. Bahan pada pangan biasanya berbentuk cairan dan padatan, meskipun demikian bukan berarti bahan mengandung air tidak mengandung bahan padatan begitu juga sebaliknya. Bahan pangan juga memiliki sifat cair seperti airan encer. Kedua sifat inilah yang dinamakan sifat alir bahan pangan.
Beras adalah butiran padi yang telah dibuang, namun kulit sekam telah menjadi bagian bagian kasar yang secara konvensional disebut dengan dedak. Gabah merupakan hasil panenpad dari tangkai induknya. Gabah tersusun atas 15-30% kulit luar atau sekam, 4-5% kulit ari, 12-14% katul, 65-67% endosperm dan sisanya merupakan lembaga.
mengandung protein dan selulosa dalam jumlah banyak serta vitamin dan mineral dalam jumlah kecil.
Berikut ini dikemukakan secara umum kritera dan mutu beras diantaranya: 1. Mutu Pasar
Mutu beras dipasaran umumnya berkaitan dengan harga beras tersebut. Dalam kaitan ini Badan Logistik (Bulog) telah menetapkan ciri penetapan mutu beras yang akan dibeli badan tersebut. Namun ketentuan ini tidak berlaku dipasar bebas. Ukuran beras adalah panjang butiran beras utuh menggunakan mikrometer.
2. Mutu Rasa
Mutu rasa beras yang dapat dijadikan tolak ukur memiliki sifat subjektif yang dipengaruhi oleh daerah, suku bangsa, dan sebagainya. Meskipun belum ada ketentuan yang pasti untuk menetapkan mutu beras, namun mutu rasa sudah menjadi acuan memperkirakan jenis varietas dari produk tersebut.
3. Mutu Tanak
Yaitu persyaratan utama dalam pengolahan beras dalam dunia internasional. Hal ini telah diterapkan dalam penerapan mutu beras di Amerika. Ciri utama dari mutu tanak adalah pengembangan volume, kemampuan mengikat air, stabilitas pengalengan nasi, lama waktu dalam penanakan, serta viskositas padi yang digunakan tesebut.
4. Komposisi Beras
Kandungan standar gizi beras adalah sebesar 360 kalori ,protein sebesar 6,8 gram, kalsium 6 mg dan zat besi 8 mg. Salah satu faktor yang mempengaruhi biologis tanah adalah suhu. Perubahan secara kimia pada proses penyimpanan secara cepat dapat terjadi pada tingkat suhu 30-40°C, sedangkan pada tingkatan suhu lebih dari itu akan menyebabkan hilangnya daya kecambah dari gabah.
tiga bagian. Bagian paling luar disebut sekam. Sekam tersusun dari palea, lemma, dan glume. Bagian keduadisebut bagian bekatul. Bagian bekatul tersusun atas lapisan luar, lapisan tengah, lapisan silang, testa, dan aleuron, sedangkan lapisan yang paling dalam disebut endosperm. Gabah hasil panen kemudian diproses lebih lanjut menjadi beras melalui proses penggilingan. Tahapan pascapanen tanaman padi meliputi perontokan, pengangkutan, pengeringan, penggilingan, penyimpanan, dan pengemasan. Salah satu tahapan pascapanen yang peting yaitu proses penggilingan. Pada tahapan ini, gabah yang sudah siap digiling atau Gabah Kering Giling (KGK) akan diproses menjadi beras putih yang siap dikonsumsi.
Dilihat dari segi kandungan gizi, butiran beras mengandung 70-75% karbihidrat, 6-7,5% protein, 3 % lemak, dan sedikit vitamin B2. Karbohidrat dan protein terdapat di dalam lapisan bekatul dan endosperm, sebagian besar lemak dan vitamin B2 terdapat dalam bekatul. Kandungan protein pada endosperm berpengaruh pada rendemen beras kepala dan derajat keputihan butiran. Kadar protein yang tinggi membuat butiran menjadi keras sehingga cenderung tidak patah pada saat penyosohan atau berat sosoh. Berat sosoh adalah tingkat terlepasnya lapisan bekatul, lembaga, dan edikit endosperm dan butiran beras. Penilaian derajat sosoh :
1. Perhitungan berat bekatul yang terlepas setelah proses penyosohan.
2. Memnggunakan pembanding standar derajat sosoh beras secara visual dengan bantuan alat kaca pembesar.
3. Menggunakan alat Satake Milling Meter MM-1C atau whiteness meter.
Selain itu butiran beras juga tahan terhadap gesekan sehingga hanya sedikit bangian endosperm yang terkikis. Akibatnya, derajat sosoh akan menjadi rendah.
rusak di dalam campuran gabah maka tingkat kemurnian gabah akan menurun. Kemudian gabah dipengaruhi oleh adanya butir yang tidak bernas seperti butir hampa, butir-butir tanah, batu-batu kerikil, potogan kayu, potongan logam, angkai padi, biji-bijian lain, bangkai serangga hama, serat karung, dan sebagainya. Termasuk pula dalam kategori kotoran adalah butiran-butiran bagah yang telah terkelupas dan gabah patah. Kualitas gabah akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas berasyan dihasilkan. Kualitas gabah yang baik akan berpengaruh pada tingginya rendemen giling. Rendemen giling adalah persentase berat sosoh terhadap berat gabah yang digiling.
Kadar air yang optimal untuk melakukan penggilingan adalah 13-15%. Pada kadar air yang lebih tinggi gabah sulit terkelupas, sedangkan pada kadar air yang lebih rendah butiran gabah menjadi mudah patah. Gabah yang baru panen (GKP), memiliki kadar air antara 20-27%. Apabila gabah disimpan sebelum digiling kadar airnya harus diturunkan terlebih dahulu dengan cara dikeringkan sampai kadar air maksimum 18%. Pada kadar air ini gabah disebut gabah kering simpan (GKS). Sebelum digiling GKS dikeringkan lagi hingga kadar air sekitar 13-15%.
sematat-mata disebabkan oleh perbedaan varietas padi, sedangkan persentase beras patah dan beras kepala banyak dipengaruhi oleh kinerja mesin yng dipakai.
Kadar air merupakan salah satu fisik dari bahan yang menunjukkan banyaknya air yang terkandung di dalam bahan. Kadar air biasanya digunakan dalam persentase berat air terhadap bahan basah atau dalam gram air untuk setiap 100gram bahan yang disebut dengan kadar air basis basah (bb). Berat bahan kering atau padatan adalah setelah mengalami pemanasan beberapa waktu tertentu sehingga beratnya tetap.
Cara pengerigan secara umum ke dalam empat golongan menurut suhu udara pengeringnya :
1. Cara pengeringan dengan suhu sangat rendah.
2. Cara pengeringan dengan suhu rendah. 3. Cara pengeringan dengan suhu tinggi.
2.1.3 Bahan dan Alat 2.1.3.1 Bahan
1. Beras 1,5 kg
2. Gabah 1,5 kg
2.1.3.1. Alat
1. Timbangan digital atau manual.
2. Vernier caliper/ jangka sorong. 3. Papan triplek dan plat tipis. 4. Pipa diamerer 21 cm 5. Busur dan penggaris.
2.1.4 Metoda
a. Ukur panjang (d mayor), lebar (d moderate), dan tebal (d minor) untuk padi dan beras dengan menggunakan vernier caliper atau jangka sorong. Sampel pada masing-masing bahan yang digunakan sebanyak 10 butir. Data yang didapat selanjutnya dimasukkan pada tabel sampel bahan rata-ratanya dihitung.
b. Tentukan jenis padi berdasarkan ukuran panjangnya Tabel 1. Ukuran Panjang Padi
D
mayor Jenis>7,5 mm Sangat Panjang
6,5<dmayor<7,5 mm Panjang
5,5< dmayor<6,5mm Sedang
c. Tentukan jenis beras berdasarkan ukuranpanjangnya Tabel 2. Ukuran Panjang Beras
Dmayor Jenis
>7,0 mm Sangat Panjang
6,0<dmayor<7,0 mm Panjang
5,0<dmayor<6,0 mm Sedang
<5,0 mm Pendek
d. Tentukan subjenis atau rasio diameter untuk padi (dmayor/dmoderat)
Tabel 3. Subjenis atau Rasio Diameter Padi
Rasio Jenis
>3,0 mm Slender
2,0<rasio<3,0 mm Bold
<2,0 mm Round
e. Tentukan bulk density bahan, yaitu: perbandingan massa dengan volume.
Bulk density = m v Dimana: m= massa dari bahan (g)
V= volume tabung (V)= ¼πd²t
f. Angle of respose = Arc tan t d
g. Tentukan angle of friction, yaitu :letakkan 10 butir masing-masing bahan diatas permukaan bidang datar (triplek/plat tipis), selanjutnya miringkan bidang pelan-pelan dan ukurlah besar sudut kemiringan bidang pada saat benda meluncur.
% head rice = X1
X *100%
%large broken = X2
X * 100%
2.1.5 Hasil dan Pembahasan 2.1.5.1 Hasil
Tabel 4. Data Gabah dan Beras
Bahan
Sampel
1(cm) 2 (cm)
3(cm) 4(cm) 5(cm) Rata-rata
Beras
Dmayor 0,415 0,510 0,620 0,525 0,605 0,535
dmoderat 0,210 0,205 0,230 0,135 0,210 0,198
Dminor 0,125 0,140 0,125 0,135 0,130 0,131
Gabah
Dmayor 0,820 0,800 0,735 0,840 0,805 0,800
dmoderat 0,235 0,233 0,548 0,215 0,240 0,293
Dminor 0,135 0,108 0,230 0,145 0,145 0,153
Tabel 5. Data Kriteria Gabah dan Beras
Kriteria Gabah Beras
Jenis bahan (sangat panjang, panjang, sedang pendek )
Sangat panjang
Sedang
Sub jenis bahan (slender, bold, round) Bold
-Berat tabung kosong W1 (g) -
-Berat tabung kosong + bahan W2 (g) - -Volume tabung V (cm³) 2528,173 cm³ 1736,378 cm³ Bulk density (g/cm³) 0,593 g/cm³ 0,863 g/cm³
Angle of respose (°) 15,01° 17,34°
Angle of friction (°)
- Triplek
- Plat tipis
43° 30°
40° 25°
% head rice - 15,5%
% large broken - 9%
2.1.5.2 Pembahasan
Pada praktikum objek pertama ini yaitu tentang sifat fisik gabah dan beras. Dimana telah diketahui bahwa antara gabah dan beras memiliki karakteristik yang berbeda. Untuk masing-masing bahan (gabah dan beras) diambil sampel secara acak sebanyak 10 buah sampel dari masing-masing bahan yang ukurannya berbeda.
Dalam menentukan dmayor, dmoderat, dan dminor harus diperhatikan nilai pengukuran bahan. Maksudnya adalah agar tidak terjadi kekeliruan terhadap nilai dmoderat, dan dminor. Karena kebanyakan pembacaan data antara dmoderat, dan dminorsering salah tempat. Nilai dari dmoderat akan selalu lebih besar dibandingkan dengan dminor.
Dari data gabah secara rata-rata didapatkan nilai dmayor, dmoderat, dan dminorberturut-turut adalah 0,800 cm, 0,293 cm, dan 0,153 cm. Sedangkan dari data rata-rata yang didapatkan dari nilai dmayor, dmoderat, dan dminordari beras adalah 0,535 cm, 0,198 cm, dan 0,131 cm. Dari data ini menunjukkan bahwa nilai dari dmayor, dmoderat, dan dminordari gabah akan lebih besar dibandingkan nilai dmayor, dmoderat, dan dminor dari beras. Faktor yang menyebabkan perbedaan nilai ini adalah karena beras merupakan bahan dari gabah yang telah kehilangan sekam. Untuk kasus ini berlaku jika bahan yang dibandingkan berasal dari varietas yang sama. Namun pada varietas berbeda perbandingan ini tidak berlaku karena boleh jadi suatu varietas memang ukurannya pendek atau panjang. Hal inilah yang menyebabkan adanya pembagian sub jenis bahan pertanian.
daya saling memegang antar bahan pada gabah lebih besar dibandingkan dengan beras.
Dari data angle of friction dari gabah dan beras didapatkan 43° gabah pada triplek dan 30° beras pada triplek pula. Sedangkan pada plat tipis pada gabah senilai 40°, sedangkan pada beras sebesar 25°. Hampir sama dengan penjelasan pada angle of respose dimana nilai pada angle of friction sealin dipengaruhi oleh permukaan benda/bahan juga dipengaruhi oleh permukaan benda peluncur (triplek dan plat tipis).
Dalam hal ini nilai angle of friction pada plat tipis lebih rendah dibanding angle of friction pada triplek disebabkan karena koefisien gesek dari plat tipis lebih rendah. Hal inilah yang menyebabkan banyak alat pada pengolahan pertanian lebih sering menggunakan plat tipis terutama jenis plat stainless stell.
Dari nilai bulk density antara gabah dan beras didapatkan nilai bulk density gabah sebesar 0,593 g/cm³ dan bulk density beras 0,863 g/cm³. Dari perbedaan data ini dapat diambil kesimpulan bahwa beras sebagai bahan pangan yang bersifat bulkyatau mengambil banyak tempat dengan jumlah persatuan unit yang lebih banyak. Hal ini menunjukkan bahwa beras lebih bulky atau menempati ruang yang sama dengan massa lebih besar dibandingkan dengan gabah.
Dari penentuan persentase berat beras hasil penggilingan berdasarkan keutuhannya didapatkan head rice sebesar 15,5%, large brokekndan small broken berturut-turut sebesar 9% dan 5,4%. Perhitungan ini berdasarkan anggapan sampel sebenarnya sebanyak 299 dari seluruh jumlah X1,X2 dan X3 didapatkan head rice sebesar 51,8%, sehingga nilai ini merupakan nilai mutu ke IV dari penentuan mutu beras di Indonesia. Sedangkan large rice sebesar 30,10% dan small broken sebesar 18%. Jadi secara berturut-turut nilai keutuhannya menjadi V dan VI diurutan kualitas beras di Indonesia.
panjang, luas permukaan, volume, massa, massa jenis), sifat listrik, sifat panas (mencakup konduktivitas, difusivitas, kemampuan pindah panas, dan sebagainya), karakteristik air (mencakup kadar air, higroskopisitas, kadar air kesetimbangan, dan sebagainya), sifat optik, tegangan mekanis, rheologi, sifat aerodinamika dan hidrodinamika, dan sebagainya. Karakteristik tak langsung seperti gesekan yang terjadi antara bahan pertanian dan bahan pertanian dengan media lain serta kerusakan mekanik dan fisik juga dianalisis.
Luas permukaan bahan-bahan hasil pertanian bermanfaat untuk berbagai kebutuhan seperti menentukan kapasitas laju fotosintesis, menentukan hubungan tanaman, tanah, dan air (transpirasi, evapotranspirasi); menentukan efisiensi penggunaan pestisida, hingga pengujian kualitas produk hasil pertanian (misal kualitas daun tembakau).
Metode yang digunakan adalah planimeter di mana bayangan benda diproyeksikan di atas kertas, lalu luas bayangan benda. Metode lain yang lebih maju adalah dengan menggunakan alat yang disebut dengan air-flow planimeter. Perkembangan teknologi sinar laser dan optik yang dihubungkan dengan komputer mempercepat proses ini dengan fasilitas pemrosesan gambar (image processing).
Volume dan massa jenis berbagai produk pertanian berperan penting pada teknologi proses dan dalam evaluasi kualitas produk. Penggunaan sifat ini ada pada teknologi pengeringan, penyimpanan, penentuan tingkat kemasakan buah, dan lain-lain. Umumnya keduanya diukur secara bersamaan menggunakan metode displacement (perpindahan massa) setelah berat bahan diukur.
Aplikasi dari praktikum pada penentuan sifat fisik gabah dan beras ini diantaranya adalah desain pada mesin pengolahan pertanian seperti Storage Bings, Hooper, Chutes, Pneumetic Conveying System, Screw Conveyers System, Forage Harvester, dan Threser.
kemiringan suatu plat dan jenis plat yang sesuai dengan sifat bahan yang akan diolah.
Kemudian selanjutnya sifat fisik sering digunakan dalam analisa efektifitas pada mesin threser. Dimana thereser sebagai mesin perontok padi yang memiliki bagian pintu masuk sebagai celah perontok batang padi dengan gabah yang akan dipisahkan. Disinilah peran dari angle of respose sebagai kajian jenis plat yang sesuai agarpada saat batang padi didirong tidak menyebabkan adanya gerakan terlalu besar.
Selanjutnya mesin pemotong jerami merupakan alat yang prinsip kerjanya mirip dengan thereser. Dimana peran angle of friction yang lebih mendominasi. Dimana kemiringan wadah tempat untuk meletakkan erami sedemikian mungkin sehingga pada saat pemotongan bagian jerami bisa berjalan tanpa didorong oleh operator.
Sifat bulk density gabah dan beras juga penting untuk desain penggudangan sehinggadalam penggudangan dapat ditentukan luasan tempat dan bentuk tempat yang cocok bagi bahan pertanian tersebut. Pada setiap metode pengukuran ada kesalahan begitu juga perhitungan, terdapat kesalahan yang disebabkan oleh praktikan dan juga akurasi alat yang sudah mulai berkurang.
2.1.6 Kesimpulan dan Saran 2.1.6.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu, kita dapat menetukan angle of respose danangle of friction gabah dan beras baik secara manual maupun dengan perhitungan rumus. Dimana angle of respose dipengaruhi oleh luas gundukan pada beras dan gabah dimana nilai angle of respose dari beras lebih tinggi dibandingkan dengan dengan angle of friction dari gabah. Hal ini disebabkan karena permukaan gabah yang lebih kasar yang disebabkan permukaan sekam sehingga setian bahan saling memegang satu sama lain sehingga besarnya nilai sudut menjadi rendah.
ditambah dengan kemiringan tertentu sehingga nilai sudut yang ditimbulkan juga semakin kecil. Faktor yang menyebabkan terjadinya hal ini adalah perbedaan koefisien gesek beras lebih kecil dengan koefisien gesek gabah.
Pada objek ini kita juga dapat menentukan keutuhan beras, sehingga kita dapat menentukan mutu beras berdasarkan utuh, setengah utuh, dan seperempat utuh. Aplikasi pada objek ini sering digunakan pada desain hooper karena banyak mengandung analisa angle of respose dan angle of friction. Selain itu aplikasi objek ini dapat berupa pada mesin pengolahan bahan pangan diantaranya Storage Bings, Hooper, Chutes, Pneumetic Conveying System, Screw Conveyers System, Forage Harvester, dan Threser.
2.1.6.2 Saran
Saran dalam melakukan praktikum ini adalah agar dalam praktikum serius dalam melakukan pengukuran karena nantinya data yang diperoleh akan berakibat pada perbandingan dengan data acuan sebenarnya. Selanjutnya dalam melakukan praktikum ini harus lebih memahami teori diawal sebelum praktikum sehingganya nanti pada saat melakukan praktikum praktikan telah dapat memahami secara jelas apa yang harus dilakukan didalam laboratorium.
II. Objek 2 (SIFAT FISIK BIJI-BIJIAN) 2.2.1 Tujuan dan Manfaat
2.2.1.1 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum adalah :
1. Menentukan bulk Density (g/cm³) biji-bijian 2. Menentukan angle of repose biji-bijian (°) 3. Menentukan angle of friction biji- bijian (°)
2.2.1.2 Manfaat Praktikum
Sedangkan manfaat praktikum adalah :
1. Mahasiswa dapat mengetahui bulk density biji-bijian yang di ukur atau yang di jadikan sampel
2. Mahasiswa dapat mengetahui angle of repose biji- bijian yang diukur 3. Mahasiswa dapat menentukan angle of friction biji-bijian yang di gunakan 4. Mahasiswa dapat mengetahui sifat alamiah dari biji-bijian yang di
gunakan
2.2.2 Tinjauan Pustaka
Sifat fisik hasil pertanian berbeda dengan sifat fisik hasil industri. Sifat fisik yang merupakan ciri khas produk pertanian adalah:
1. Perishabel, yaitu mudah busuk dan rusak
2. Bulky, yaitu pengambilan banyak tempat sehingga sulit untuk di pindahkan karena berat dan sifat fisiknya agak kaku
3. Voluminous, yaitu hasil pertanian yang tidak berat membutuhkan ruang dan tempat yang cukup besar. Misalnya pada padi
penyimpanan yang lebih baik sebelum barang tersebut menjadi busuk. Jika barang sudah rusak bentuk fisiknya atau busuk, maka sidah pasti nilai dan kualitas barang tersebut menurun.
Barang-barang bulky relatif membutuhkan biaya penyimpanan dan biaya pengankutan yang tinggi.
Sifat fisik bahan yang sangat berpengaruh terhadap desain hoper adalah angle of repose. Sifat ini adalah sifat teknik dari suatu bahan berbentuk granular yang dituang dalam suatu permukaan horizontal maka akan terbentuk suatu gundukan berbentuk kerucut. Sudut antara permukaan gundukan terhadap permukaan horizontal inilah yang disebut dengan angle of repose.
Angle of friction adalah suatu sudut yang dibentuk oleh suatu permukaan dengan bidang horizontal pada saat gabah diatas permukaan tersebut meluncur karena gaya berat. Densitas bulk adalah perbandingan antara berat dan volume. Data dari bulk density penting untuk perhitungan dimensi dari bulk strorege fasilities penampungan kapasitas tertentu.
Karakteristik fisik pada biji-bijian: a. Bentuk dan ukuran
Kriteria untuk benruk dan ukuran : 1. Charted standars (gambar standar)
Digunakan untuk mengukur penampang memanjang dan melintang objek. Contoh bentuknya yaitu:
1. Round (bundar) 2. Oblate (membujur) 3. Cone (kerucut)
2. Roundness
Roundness (Rd)=Ap
Ac
Dimana : Ap = Luas permukaan proyeksi terbesar dlam posisi bebas Ac = Luas permukaan proyeksi terkecil yang membatasinya
Roundness (Rd)=
∑
rNR 3. Sphericity
Merupakan perbandingan antara luas permukaan bola yang mempunyai volume yang sama dengan bahan dan dengan luas permukaan bahan.
Dirumuskan sebagai berikut :
Sphericity
¿
(
volume bahan
volume bola yang mengelilingi
)
1 3
a
Geometric Mean Diameter (GMD) = (a . b . c)13
Bulk Density = massa volume Dimana :
V = 1 4π d
2t
b. Volume dan Densitas
Densitas terbagi menjadi dua yaitu: 1. Densitas kamba (bulk densiti)
Merupakan perbandingan bobot bahan dengan volume yang di tempatinya, termasuk ruang kosong di antara butiran makanan.
2. Densitas nyata
Merupakan perbandingan bobot bahan dengan volume yang hanya di tempati oleh butiran bahan tidak termasuk ruang kosong.
Metode penentuan volume dan densitas: 1. Gelas ukur
Volume dan densitas juga dapat berperan sebagai aplikasi aplikasi seperti : 1. Pengeringan dan penyimpanan
2. Rancangan silo dan ruang penyimpanan 3. Mesin kompresi mekanikal
4. Pemisahan bahan bahan asing 5. Penentuan kemurnian benih 6. Separasi dan grading 7. Evaluasi kematangan 8. Tekstur dan kelunakan buah
9. Estimasi ruang udara di dalam jaringan tanaman
Biji adalah bakal biji dari tumbuhan berbunga yang telah masak. Biji dapat terlindung dari organ lain atau tidak. Dari sudut evolusi, biji merupakan embrio atau tumbuhan kecil yang termodifikasi sehingga dapat bertahan lebih lama pada kondisi kurang sesuai untuk pertumbuhan.
Kacang kedelai adalah salah satu tanaman polong – polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari asia timur seperti kecap, tahu dan tempe.
Kacang tanah adalah tanaman polong – polongan atau legumeanggota suku fabaceae yang di budidayakan, serta menjadi kacang – kacangan terpenting setelah kedelai di Indonesia.
Kacang hijau (vigna radita) adalah sejenis palawija yang di kenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong – polongan (fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari – hari sebagai sumber bahan pangan berprotein tinggi.Kacang merah hampir sama dengan kacang-kacangan yang lainnya.
Bijian merupakan bahan pangan yang tahan lama karena tidak mudah rusak selama pengangkutan akan dapat mempertahankan mutunya dalam penyimpanan yang panjang jika telash diperlakukan dengan berat selama panen, pengeringan, dan penyimpanan. Kegagalan dalam menerapkan cara-cara dan prosedu yang baik dalam berbagai kegiatan penanganan pascapanen tadi dapat menyebabkan penurunan mutu yang cepat dan susut yang tinggi.
Pengetahuan mengenai sifat alamiah dan struktur bijian sangat diperlukan dalam memahami perilaku bijian setelah panen sehingga dapat diupayakan pengembangan system pascapanen yang cocok untuk produk dan kondisi lingkungan tertentu. Sebagai contoh struktur biji jagung mungkin akan mempengaruhi laju pengeringan, misalnya biji jagung akan mengalami kehilangan air yang cepat bila ada bagian yang pecah atau hilang. Komposisi kimia dan sifat-sifat fisik juga dapat mempengaruhi karakteristik penyerapan air oleh bijian dan laju pengeringan.
Tiga jenis bijian utama padi, jagung, dan gandum berasal dari tanaman jenis rerumputa yang menghasilkan biji atau kerel. Kadar air ketiga jenis bijian ini ketika dipanen bervariasi, yaitu antara 18%-38% tetapi agar dapat disimpan dengan aman kadar air harus diturunkan sampai 13%-14% tergantung pada kondisi dan lama penyimpanan. Dengan demikian pengeringan langsung setalah panen adalah umum laju pengeringan semakin tinggi bila bulk density semakin rendah, panas spesifik semakin rendah, porositas semakin tinggi, dan luas permukaan spesifik semakin tinggi.
Tingkat susut bijian juga dipengaruhi oleh factor fisik, biologis, dan fisiologis dari bijian itu sendiri. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat susut bijian antara lain :
1. Faktor fisik, misalnyay terjadi karena :
a. Panen, dimana kemungkinan terjadi ceceran bijian terutama jika panen dilakukan tanpa bantuan peralatan atau mesin.
c. Pengeringan, disebabkan oleh pengeringan yang tidak sempurna atau tidak merata sehingga banyak kerusakan atau yang tidak tergiling dengan baik saat penggilingan.
d. Pengangkutan dan penyimpanan, disebabkan oleh adanya produk yang tercecer akibat penggunaan kemasan yang tidak baik.
2. Faktor biologis, misalnya serangga dan ham yang dapat menyerang produk selama berada pada tanamannya atau selama dalam penyimpanan. Hama tikus mislanya, selain memakan produk juga mencemari produk dengan kotoran dan kencing mereka.
2.2.3 Bahan dan Alat 2.2.3.1 Bahan
1. Kedelai 1 kg
2. Kacang tanah 1kg 3. Kacang merah 1 kg 4. Kacang hijau 1kg
2.2.3.2 Alat
1. Timbangan digital / manual
2. Varnier caliper / micrometer
3. Papan triplek dan kertas karton (40x40) 4. Gelas ukur / tabung kosong
5. Busur
2.2.4 Metoda
a. Ukur panjang (d mayor), lebar (d moderat)dan tebal (d minor)bahan dengan menggunakan verbier caliper atau micrometer. Sample pada masing – masing bahan yang digunakan sebanyak 10 butir. Data yang di dapatkan selanjutnya dimasukkan pada tabel sampel bahan dan hitungan nilai rata ratanya.
b. Tentukan geometric mean diameter, yaitu:
GMD = ( dmayorx dmoderatex dminor¿
1 3
c. Ditentukan shpericityyaitu : S = (GMD / dminor )
d. Tentukan bulk densitybahan, yaitu: timbang tabung kosong (W1), timbang tabung kosong + bahan (W2), ukur volume tabung (V)
Bulk density= mv
Dimana: m = massa dari bahan (g)
e. Tentukan angle of repose, yaitu: tuangkan 1,5 kg bahan di atas bidang datar dan selanjutnya ukur kemiringan tumpukan bahan
Angle of respons= arc tan t d
2.2.5 Hasil dan Pembahasan 2.2.5.1 Hasil
Tabel 6. Data Biji-Bijian
Bahan Sampel
Rata-Rata
1 2 3
Kedelai
dmayor 0,825 0,720 0,735 0,760
dmoderate 0,610 0,540 0,645 0,598
dminor 0,505 0,510 0,510 0,510
Kacang Tanah
dmayor 1,530 1,300 1,315 0,381
dmoderate 0,910 0,920 0,800 0,876
dminor 0,740 0,825 0,710 0,758
Kacang Merah
dmayor 1,930 1,525 1,640 1,689
dmoderate 0,640 0,710 0,730 0,693
dminor 0,540 0,535 0,615 0,563
Kacang Hijau
dmayor 0,505 0,540 0,535 0,526
dmoderate 0,335 0,345 0,420 0,363
dminor 0,315 0,330 0,405 0,350
Tabel 7. Kriteria Biji-Bijian
Kriteria Kedelai Kacang
Tanah
Kacang Merah
Kacang Hijau
Sphericity 0,807 0,728 0,512 0,769
Massa Bahan
(g) 1000 1000 1000 1000
Volume Tabung (
cm3¿
1267,232 1479,336 1337,334 981,431
Bulk Density(g/
cm3¿
0,789 0,676 0,748 1,018
Angle of Repose
11,346° ; 20°
10,679° ; 20°
8,611° ; 30°
11,309° ; 30°
Angle of
Friction 10° ; 14° 15° ; 24° 13° ; 20° 7° ; 20°
2.2.5.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini membahas mengenai sifat fisik biji-bijian. Bahan-bahan yang digunakan yaitu kacang kedelai, kacang tanah, kacang hijau , dan kacang merah.
Didalam hasil Geometric Mean Diameter (GMD), data yang di dapat pada kedelai adalah 0,614 cm. Untuk GMD kacang tanah yang didapat adalah 0,654 cm. GMD kacang merah adalah 0,871 cm dan sedangkan untuk Geometric mean diameter kacang hijau data yang didapat adalah 0,405 cm.
Dari data yang telah diperoleh,untuk geometic mean diameter kedelai dan kacang hijau tidak jauh berbeda karena dilihat dari bentuk kacang hijau dan kedelai yang tidak jauh berbeda. Namun geometric mean diameter pada bahan lain lumayan jauh berbeda, hal ini disebabkan karena ukuran yang terdapat ada bahan-bahan tersebut, jenis bahan tersebut dan luas permuakaan dari bahan tersebut.
diperoleh sebesar 0,728. Untuk kacang merah hasil sphericity yang diperoleh yaitu 0,512. Sedangkan sphericity kacang hijau yang diperoleh adalah 0,769. Dari semua bahan tersebut data yang diperoleh tidak ada sphericity bahan yang lebih dari satu. Karena jika bahan sphericitynya mendekati satu , maka bahan tersebut semakin bulat atau bundar.dari data yang dipeoleh, data yang nilainya mendekati satu adalah kacang kedelai sedangkan bahan yang nilainya mendekati nol adalah merah.
Selanjutnya untuk bulk density dari bahan tersebut. Bulk density merupakan massa sebuah partikel yang menempati suatu bahan. Bulk density ditentukan oleh berat wadah yang di ketahui volumenya dan merupakan hasil pembagian dari berat granular dan volume wadah.
Bulk density yang di dapat pada kedelai yaitu 0,789 g/ cm3 , kacang tanah
sebesar 0,676 g/ cm3 , kacang merah 0,748 g/ cm3 dan kacang hijau sebesar
1,018 g/ cm3 . Dari data tersebut bulk density yang didapat berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena bahan tersebut ketika dimasukkan ke dalam tabung, kedalamannya tidak sama. Hal ini disebabkan karena salah satunya massa yang berbeda-beda antar bahan tersebut. Selain itu jenis bahan yang digunakan juga berbeda-beda, meskipun bahan tersebut sama-sama termasuk kelompok kacang-kacangan.
Angle of repose yang diperolah setelah melakukan praktikum tidak jauh berbeda antara kedelai dan kacang hijau. Sudut yang terbentuk secara manual yaitu 20° dan 30°. Sedangkan sudut angle of repose terbentuk secara rumus antara kedelai dan kacang tanah adalah 11,346° dan 11,309°. Hal ini berbeda karena bahan yang digunakan berbeda meskipun ukurannya hampir sama. Selain itu, yang membuat angle of repose bahan ini berbeda secara rumus adalah kedalaman dari bahan tersebut.
Angle of friction merupakan sudut yang terbentuk oleh permukaan kayu dengan bidang horizontal. Angle of friction yang diukur adalah menggunakan triplek dan plat tipis. Angle of friction pada kedelai yang menggunakan triplek sudut yang terbentuk adalah 14° sedangkan dengan menggunakan plat tipis sudut yang terbentuk adalah sebesar 10°. Pada kacang tanah angle of friction yang terbentuk dengan menggunakan triplek yaitu 24° dan dengan menggunakan plat tipis sudut yang terbentuk adalah 15°. Pada kacang merah sudut yang terbentuk dengan menggunakan triplek yaitu 20° dan dengan menggunakan plat tipis sudut yang terbentuk sebesar 13°. Pada kacang hijau, angle of frictin yang terbentuk dengan menggunakan triplek yaitu 20° dan dengan menggunakan plat tipis sudut yang terbentuk sebesar 7°. Dari data tersebut, bisa dikatakan bahwa angle of friction pada setiap bahan berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena luas permukaan dari triplek dan plat tipis terhadap bahan tersebut dan jaga dapat karena mengangkat bidang yang terlalu cepat dan cara pembacaan busur yang kurang tepat. Selain itu, berdasarkan data yang di peroleh sudut yang terbentuk dengan menggunakan triplek lebih besar dibanding plat tipis. Hal ini disebabkan oleh bentuk permukaan dari triplek dan plat tipis yang berbeda dimana permukaan plat lebih licin di banding permukaan triplek.
Dalam percobaan itu sendiri kesalahan penggunaan alat lebih sering terjadi karena pengukuran yang dilakukan memungkinkan banyak kesalahan. Misalnya dapat melakukan kesalahan dalam pembacaan, kemudian kurangnya ketelitian dari pratikan dalam pengerjaannya.
2.2.6 Kesimpulan dan Saran 2.2.6.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa sifat fisik dari biji-bijian membahas mengenai bentuk dan ukuran dari setiap bahan. Untuk geometric mean diameter dari bahan ini dari yang terkecil adalah kacang hijau, kedelai, kacang tanah, kacang merah. Apabila sphericty satu bahan mendekati satu, maka bahan tersebut semakin bulat. Hal tersebut tergantung kepada GMD dan panjang dari bahan tersebut. Selain itu, mungkin, semakin kecil bulk density yang diperoleh, maka akan kecil pula ukuran dari bahan tersebut. Pada angle of repose, perhitungan rumus dan manual berbeda, hal ini disebabkan karena kurang telitinya dalam membaca hasil pengukuran.
2.2.6.2 Saran
III. Objek 3 (SIFAT FISIK BUAH DAN SAYUR) 2.3.1 Tujuan dan Manfaat
2.3.1.1 Tujuan
1. Menentukan Geometric Mean Diameter (GMD) (cm) . 2. Menentukan Sphericity .
3. Menentukan Densiity (g/cm3)
2.3.1.2 Manfaat
1. Menentukan perbedaan sifat fisik yang ada pada buah dan sayur .
2. Meengetahui pentingnya sifat fisik buah dan sayur untuk proses sortasi dan pengemasan .
3. Mengetahui lapisan dinding buah .
4. Mengetahui beberapa bentuk geometri pada buah dan sayur .
5. Mengetahui kegunan berat jenis dari sifat produk pertanian .
2.3.2 Tinjauan Pustaka
Sifat fisik buah-buahan dan sayur-sayuran yang sering diamati adalah warna,aroma,rasa,bentuk, ukuran,dan kekerasan . Biasanya dalam praktek sehari-hari sifat fisik ini diamati secara subjektif ,sedangkan berat ditentukan secara objektif dengan menggunakan timbangan .
Dalam proses pasca panen pengetahuan akan sifat fisik buah dan sayur sangatlah dibutuhkan . Diantara sifat fisik tersebut adalah berat dan vulume bahan.Berat dan volume dapat ditentukan dengan mengetahui vulume bahan.Berat dan volume dapat digunakan untuk pemilihan buah berdasarkan kualitas bahan untuk nantinya dilakukan pengemasan dan pengangkutan .
Dalam beberapa hal bentuk dapat di aproksimasi dengan salah satu dari bentuk geometri berikut :
1. Spheroid prolat
Yaitu bentuk bahan yang terjadi apabila sebuah bentuk elips berputar pada
sumbu panjangnya. Contoh: lemon 2. Spheroid oblat .
Yaitu bentuk bahan yang terjadi apabila sebuah elips berputar pada sumbu pendeknya. Contoh: Anggur
3. Right circular cone atau silinder .
Yaitu bentuk bahan menyerupai kerucut atau silinder. Contoh: wortel dan timun.
Dengan bentuk-bentuk geometri ini dapat diaprokmasikan.
Tanaman sayuran dan buah dikelompokkan secara bebas berdasarkan karakteristik dari pascapanen serta suhu dan penyimpanan . Pengelompokkan dapat juga melalui resapan tanaman tersebut terhadap pH (keasaman), sanitasi,kebutuhan akan hara serta drainase .Perbedaan respon tanaman terhadap drainase kondisi tersebut menimbulkan keberagaman pada tanaman tersebut .Selain itu tanaman dapat juga dikelompokkan berdasarkan bagian yang bisa dimakan.
Pengelompokkan (klasifikasi) botanis pada umumnya dilakukan berdasarkan keberagaman tipe bunga ,morfologi,dan kecocokan antar tanaman .Misalnya tanaman selada dalam divisi spermatophyta dan dalam sub kelas mondikotiledonae .Sejumlah besar selada dimakan mentah dan merupakan sayuran salad yang populer karena warna , tekstur,aroma serta umumnya mengandung kadar air yang tinggi .Buah dan sayur masing-masing karakteristik berbeda mulai dari rasa,aroma,dan bentuk .
buah dan sayur sangat penting dalam sortasi dan grading .Seringkali sortasi dan pengkelasan mutu buah dan sayur ditetapkan secara objektif dan kualitatif .
Sortasi buah dan sayur memiliki permintaan pasar nasional mauoun internasional yang biasanya melihat mutu suatu produk dari nilai ukuran .warna mutu,rasa dll.Buah biasanya dibedakan berdasarkan struktur dinding buah .Klasifikasi berdasarkan dinding buah ini penting bila dikaitkan dengan penanganan pasca panen secara umum,karena buah dengan karakteristik dinding buah yang mirip akan mempunyai respon yang mirip terjadi perubahan lingkungan .
Pada dasarnya dinding buah terdiri atas tiga komponen yaitu : 1. Lapisan luar
2. Lapisan tengah
3. Lapisan dalam
Beberapa buah mengalami keempukan setelah panen ,sesungguhnya hal ini terjadi salah satunya dalam penyimpanan .Tetapi perubahan selulosa tidak terlalu besar tetapi hemiselulosa dan peptopektin berubahnya besar sekali .Peranan kedua zat ini sangat penting dalam pengempukan buah artinya yaitu bahwa pektin yang hilang tersebut nampaknya diubah menjadi pektin yang mudah larut ,terbukti dengan meningkatnya pektin .
Dalam kaitannya dengan variasi iklim terutama di daerah tropis ,dalam hal ini pemanenan telah diteliti bagaimana untuk menjaga hasilnya tetap maksimum.Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil panen adalah temperatur ,ketersediaan air dan dalam beberapa wilayah,lamanya waktu pemanenan hingga intensitas cahaya.Faktor ini mungkin digunakan sebagai acuan umum untuk menentukan tanah yang baik untuk pertumbuhan sayur-sayuran .Komposisi yang dialami dan hasil dari tanah tersebut digunakan sebagai tempat penanaman sayuran dan buah-buahan .
vilotile yang harusnya keluar pada saat memasak tidak keluar karena panci ditutup sehingga asam vilotile terseut bereaksi dengan klorofil yang menyebabkan warna menjadi coklat,sedangkan perebusan sayuran dengan panci terbuka asam volatilenya akan dapat keluar sehingga tidak bereaksi dengan klorofil dan tidak ada warna kecoklatan .
Pada sayur yang mengalami proses blanching warnanya hijau muda karena asam volatilenya dapat keluar dari panci dan tidak bereaksi dengan klorofil ,suhu blanching mempunyai daya kerja memotong esterfital membentuk klorofilid yang larut dalam air sehingga warnanya hijau segar .Tekstur sayuran yang mengalami proses blanching juga masih renyah karena kadar air yang masuk ke dalam sayuran sedikit dibandingkan dengan yang direbus baik dengan ditutup maupun dibuka tutup pancinya .
1. Tanda-tanda kerusakan pada sayuran dan buah-buahan : 2. Kerusakan sayuran dan buahan sering terjadi akibat benturan
fisik,kehilangan air sehingga layu,serangan serangga ,dan serangan miroba.
3. Busuk air pada buah dan sayur yang disebabkan oleh kepang yang
membentuk spora ,pertumbuhan beberapa bakteri ditandai dengan adanya tekstur yang lunak .
4. Perubahan warna yang disebabkan oleh kepang yang mementuk spora berwarna hitam ,hijau,biru dan abu-abu .
5. Bau alkohol dan rasa asam . Disebabkan oleh pertumbuhan khamir atau bakteri asam laktat,misalnya pada sari buah.
Sayuran adalah tanaman holtikultura ,umumnya memiliki waktu yang relatif pendek (kurang darri 1 tahun) dan merupakan tanaman sayuran.Buah adalah hasil perkawinan antara kepala putik dan benang sari. Umumnya buah merupakan tempat biji dan biasa digunakan sebagai pencuci mulut ,sayuran dan buah-buahan adalah sumber vitamin terutama vitamin A dan C serta zat-zat lain yang menunjang kecukupan gizi .
sifat kimia adalah dengan cara menguji bahan kimia sesuai dengan kandungan buat tesrsebut .
Tanaman sayuran dikelompokkan secara bebas berdasarkan karakteristik dari pascapanen serta suhu dan penyimpanannya,dan dapat juga melalui respon tanaman terhadap pH,drainase,sanitasi,dan kebutuhan akan hara.Perbedaan respon tanaman terhadap beragam kondisi tersebut menimbulkan keberagaman pada tanaman tersebut.Buah adalah pertumbuhan sempurna dari bakal buah (ovarium) dan merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki kandungan gizi ,vitamin,mineral dan pada umumnya sangat baik dikonsumsi setiap hari.Pada jeruk terdapat pigmen berkaroten,zeaxhantin, dan lutein.Pada buah jeruk warna kulit beraneka ragam,jeruk terasa kecut saat dimakan ini menandakan terdapat lebih banyak gizi dibanding jeruk yang manis .
Pengelompokkan pada botanis umumnya dilakukan berdasarkan keberagaman tipe bunga,morfologi dan kecocokan antar tanaman.Pada pematangan buah-buahan dan sayuran terjadi perubahan seperti turgol sel,karbohidrat,protein dan lain-lain.
Sayur-sayuran dan buah-buahan pada umunya mengandung kadar air yang tinggi. Buah dan sayuran masing-masing verietas memiliki karakteristik berbeda mulai dari rasa, aroma, dan bentuk. Pengamatan pada sifat fisik buah dan sayur penting dilakukan untuk sortasi atau grading agar mutu dan kualitasnya bias menjadi lebih baik.
Sortasi buah dan sayur dilakukan sesuai permintaan pasar nasional maupun internasional yang biasanya melihat satu produk dan nilai ukuran, mutu, rasa, dan lain-lain. Buah biasanya dibedakan berdasarkan struktur dinding buah. Klasifikasi berdasarkan dinding buah ini penting bila dikaitkan dengan penggunaan pasca panen secara umum, karena buah dengan karakteristik dinding buah yang mirip akan mempunyai responyang terhadap perubahan lingkungan.
Bahan pangan pada umumnya dalam bentuk cairan dan padatan meskipun demikian bukan berarti bahan-bahan air tidak mengandung baha-bahan padat (solid) dan begitu juga sebaliknya, dalam bahan padat terdapat juga bahan cair. Pada bahan pangan uji sifat fisik biasanya dilakukan terhadap kekerasan, warna, rasa, dan bau bahan tersebut. Sedangkan uji kimai dapat dilakukan terhadap pH, total asam, dan kadar gula. Diantara sifat tersebut berat dan volume biasanya diapakai untuk pemutuan buah berdasarkan kualitas. Dalam kegiatan pasca panen lainnya seperti pengemasan dan pengangkuta sifat fisik sangat diperhatikan.
Berat jenis dan sifat produk pertanian dapat digunakan untuk menduga kematangan dari buah. Volume merupakan salah satu sifat fisik yang banyak digunakan dalam perhitungan awal menduga sifat fisik yang lain seperti massa jenis. Volume bahan pangan dapat dihitunga dengan menggunakan pengukuran berdasarkan pendekatan aproksimasi (pendekatan geometris) dan dengan menggunakan metode platform scale.
Komposisi setiap macam sayuran dan buah-buahan berbeda, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1. Perbedaan varietas
2. Keadaan cuaca tempat tumbuh 3. Pemeliharaan tanaman
4. Kondisi penyimpanan
1. Produktivitas buah per pohon dalam suatu musim panen melebihi produktivitas tanaman buah lain yang sejenis.
2. Dibandingkan dengan jenis lainnya, tanaman sudah mampu berproduksi walaupun umumnya relative lebih muda.
3. Tanaman harus tahan hama penyakit, karena tanaman yang tumbuh sehat dan normal akan menghasilkan buah yang sehat dan penampilan yang menarik.
4. Kelezatan aroma buah di atas rata-rata varietas bauh pada umumnya. 5. Bentul, ukuran, dan warna buah beragam-ragam sehingga berpotensi
ekspor.
2.3.3 Bahan dan Alat 2.3.3.1 Alat :
1. Timbangan digital / manual
2. Vernier caliper / jangka sorong 3. Gelas ukur
4. Benang
2.3.3.2 Bahan :
1. Wortel 3 buah
2. Cabe merah 3 buah 3. Apel hijau 3 buah 4. Jeruk 3 buah 5. Air secukupnya
2.3.4 Metoda
1. Ukur panjang ( dmayor ) ,lebar ( dmoderat ) ,tebal ( dminor ) untuk buah dan
sayuran dengan menggunakan vernier caliper atau jangka sorong.
Sampel untuk masing-masing bahan adalah 3 butir,masukkan data ke tabel dan hitung rata-ratanya .
2. Geometrid Mean Diameter [( dmayor ) x ( dmoderat ) x( dminor )]1/3
3. Spericity = ( GMD / dmayor )
5. Hitung volume : volume = ( WWCF –WWC ) / DW .
2.3.5 Hasil dan Pembahasan 2.3.5.1 Hasil
Tabel 8. Pengukuran Buah dan Sayur
Bahan Sample Rata-rata
1 2 3
Jeruk
dmayor 6,710 cm 6,420 cm 6,210 cm 6,447 cm
dmoderat 6,603 cm 6,215 cm 5,815 cm 6,211 cm
dminor 6,405 cm 4,635cm 5,125 cm 5,388 cm
Wortel
dmayor 11,000 cm 10,500 cm 11,300 cm 10,932 cm
dmoderat 4,105 cm 3,200 cm 4,335 cm 3,880 cm
dminor 1,620 cm 1,815 cm 2,000 cm 1,812 cm
Cabe
dmayor 11,000 cm 7,300 cm 6,100 cm 8,133 cm
dmoderat 0,705 cm 0,840 cm 0,920 cm 0,822 cm
Dminor 0,145 cm 0,210 cm 0,210 cm 0,188 cm
Apel
dmayor 7,615 cm 7,545 cm 7,615 cm 7,592 cm
dmoderat 7,535 cm 7,140 cm 7,130 cm 7,268 cm
dminor 6,935 cm 6,005 cm 7,045 cm 6,662 cm
Tabel 9. Kriteria Buah dan Sayur
Kriteria Apel Jeruk Wortel Cabe
GMD 7,160 5,989 4,242 1,060
Sphericity 0,942 0,928 1,163 0,138
WWC (ml ) 500 500
Volume (cm 3) 0,203 0,110 73,798 4,774
DW (g/ml ) 1000 10000
Density (g/cm3 ) 16,350 951,060 0,919 0,780
2.3.5.2 Pembahasan
Pada praktikum objek tiga yaitu tentang sifat fisik buah dan sayur ,yang pertama dilakukan adalah mengukur panjang (dmayor ) ,lebar (dmoderat ),dan tebal
(dminor ) dari bahan dengan menggunakan vernier caliper atau jangka sorong
.Masing-masing dari bahan diambil tiga sampel.Pengukuran ini untuk menentukan ukuran dari bahan praktikum. Dari data yang diperoleh bahwa sampel pada masing-masing bahan memiliki ukuran yang berbeda .
Pada sampel 3 buah jeruk , panjang (dmayor ) yang didapatkan adalah 6,710 cm,6,420cm,6,210 cm,hasil pengukuran yang didapatkan dari ketiga sampel jeruk tersebut memiliki panjang yang tidak jauh berbeda.Begitupun dengan lebar (d
moderat ) dengan hasil 6,603 cm,6,215 cm,5,815 cm,nilai yang didapatkan pun tidak
terlalu jauh berbeda .Sedangkan pada pegukuran tebal ( dminor ) dari sampel jeruk
ini didapatkan bahwa pada sampel kedua tebal dari jeruk itu sendiri jauh berbeda dari tebal sampel jeruk yang lainnya,nilai pengukuran yang didapatkan yaitu 6,405 cm,4,635 cm,dan 5,125 cm .
Pada sampel 3 buah wortel,panjang (dmayor ) yang didapatkan adalah 11,300 cm, 10,500 dan 11,300 cm dan pada pengukuran panjang wortel ini sendiri pun didapatkan hasil yang hampir mendekati .Pada pengukuran lebar (d moderat )
data pengukuran yang didapatkan adalah 4,105cm, 3,200 cm, 4,335 cm,pada pengukuran ini juga didapatkan bahwa salah satu dari sampel mimiliki lebar yg jauh berbeda dari sampel wortel yang lainnya.hal ini mungkin dapat disebabkan oleh kesalahan saat membaca alat ukur sendiri maupun disebabkan dari perbedaan ukuran wortel itu sendiri .Pada pengambilan data tebal ( dminor ) didapatkan
hasilnya yaitu 1,620cm, 1,815 cm dan 2,000 cm .
Pada sampel 3 buah cabe,panjang (dmayor ) yang didapatkan adalah 11,000 cm, 7,300 cm, 6,100 cm .Data yang didapatkan dari pengukuran panjang cabe ini memilki nilai yang jauh berbeda antara ketiga sampel yang diukur,Ini disebabkan karena adanya perbedaan ukuran panjang dari cabe itu sendiri,karena ada sebagian dari buah cabe memiliki panjang yang bebeda-beda .Pada pengukuran lebar (d moderat ) didapatkan hasilnya yaitu 0,705 cm,0,840 cm,0,920 cm .lebar yang
hasilnya yaitu 0,145 cm, 0 210 cm, 0,210 cm.Hasil pengukuran ini pun tidak jauh berbeda dari ketiga sampel yang diambil .
Pada sampel 3 buah apel ,panjang (dmayor ) yang didapatkan adalah 7,615 cm, 7,545 cm, dan 7,615 cm .Dari data yang didapatkan panjang dari buah apel yang diukur relatif mendekati satu sama lain.Pada pengukuran lebar (d moderat )
didapatkan hasilnya yaitu 7,535 cm, 7,140cm, 7,130 cm.Dari pengukuran lebar buah apel satu sampel dari buah apel yang memiliki nilai yang lebih besar daripada 2 buah sampel yang lainnya,dapat dikarenakan oleh adanya perbedaan ukuran dari buah apel itu sendiri ada yang besar dan ada yang kecil dan mungkin dikarenakan adanya kesalahan dari pembaan alat ukur oleh praktikan .Pada pengukuran tebal ( dminor ) dari buah apel didapatkan hasilnya yaitu 6,935 cm,
6,005 cm dan 7,045 cm .Data pengukuran yan didapatkan dari sampel ini juga memiliki perbedaan nilai yang sangat jauh,dapat disebabkan oleh perbedaan ukuran dari buah apel yang diukur.
Untuk menentukan volume dari masing-masing buah dan sayur diperoleh dengan menggunakan data dari DW,WWC, WWCF serta massanya.Dari perhitungan yang dilakukan didapatkan volume apel 0,203 cm3,volume jeruk
0,110 cm3,pada pencarian volume buah dan sayur berbeda karena ukuran dari
masing-masing bahan tersebut.
Bahan yang digunakan memiliki bentuk bulat memanjang ( prolate spheroid ) yaitu bentuk yang terjadi apabila sebuah bentuk elips berputar pada sumbu panjangnya,pada praktikum ini contohnya adalah buah jeruk dan buah apel .Sedangkan bahan yang digunakan yang memiliki bentuk kerucut berputar atau silinder adalah bentuk yang menyerupai kerucut atau silinder ( tabung ) ,contohnya adalah wortel dan cabe .
Aplikasi dari praktikum ini pada Teknik Pertanian adalah mulai dari bentuk dan ukuran digunakan untuk analisis pemisahan biji-bijian dari bahan lain seperti partikel yang tidak diperlukan dan yang ikut tercampur ke dalam . Selain itu juga berguna dalam proses pengangkutan bahan pertanian agar tidak mudah rusak dalam perjalanan.Aplikaksi yang dapat digunakan di praktikum ini antara lain dari analisa bentuk dan ukuran digunakan dalam proses grading/pemisahan produk maupun dengan skala berat.Selanjutnya aplikasi dari praktikum ini penting untuk sortasi,penentuan kematangan,dan warna permukaan produk serta pada proses penyimpanan produk serta pada proses penyimpanan produk itu sendiri.
Pengukuran dengan menggunakan benang dilakukan karena beberapa bahan pertanian seperti cabe yang memiliki bentuk yang tidak beraturan sehingga jika dilakukan pengukuran menggunakan penggaris maka akan berakibat beberapa bagian dari cabe tidak terukur atau tidak terjangkau alat ukur sehingga data yang didapatkan tidak akurat.
Bahan yang digunakan pada objek ini terdapat dua jenis bentuk prolate spheroid yang memiliki bentuk bulat memanjang yang terjadi pada bahan seperti apel dan jeruk. Sedangkan bahan kedua adalah cabe dan wortel yang memiliki bentuk silinder kerucut berputar. Aplikasi yang dapat digunakan pada objek kali ini adalah pada alat grading dimana alat ini dapat digunakan untuk memisahkan bahan sesuai ukuran, warna kematangan dan indicator keteraturan bentuk.
2.3.6 Kesimpulan dan Saran 2.3.6.1 Kesimpulan
Dari praktikum tentang sifat fisik buah dan sayur dapat disimpulkan bahwa untuk melihat dan membandingkan ukuran dari bentuk bahan dengan melihat panjang (dmayor ),lebar (dmoderat ),dan tebal (dminor ) pada masing-masing bahan
Berdasarkan pengukuran yang dilakukan diketahui bahwa apel dan jeruk memiliki nilai sphericity yang hampir mendekati satu sama lain yaitu 0,942 untuk apel dan 0,928 untuk jeruk .Nilai sphericity menentukan bentuk kebulatan dari suatu benda ,jika nilai sphericity hampir mendekati 1 maka semakin bulat lahsuatu bahan atau benda tersebut .
Nilai density terbesar ada pada jeruk yaitu 951,060,nilai density tersebut dipengaruhi oleh massa dan volume .Untuk wortel dan cabe memiliki bentuk bahan yang jauh dari bulat karena sphericity wortel 1,163 dan cabe 0,138.Secara nyata hal tersebut juga terbukti bahwa wortel dan cabe memiliki bentuk memanjang dan jauh dari bentuk bulat .
2.3.6.2 Saran
VI. Objek 4 (SIFAT RHEOLOGI PRODUK PERTANIAN) 2.4.1 Tujuan dan Manfaat
2.4.1.1 Tujuan
1. Menentukan hubungan antara gaya dan deformasi
2. Menentukan nilai poison ratio dari produk pertanian
3. Menentukan hubungan gaya terhaadap waktu
2.4.1.2 Manfaat
1. Praktikan dapat mengetahui bagaimana hubungan gaya terhadap deformasi
2. Praktikan dapat menentukan nilai poison ratiodari produk pertanian
3. Praktikan dapat mengetahui hubungan gaya terhadap waktu
2.4.2 Tinjauan Pustaka
Faktor-faktor yang mempengaruhi deformasi dan rayapan pada suatubahan pertanian dinamakan sifat rheologis. Kajian tentang rheologi adalah tentang deformasi dan rayapan bahan dengan efek waktu. Kelakuan bahan ditentukan berdasarkan tiga variabel yaitu: tegangan, deformasi atau regangan dan waktu
Rheologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari deformasi dan aliran “flow”
didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari perubahan bentuk suatu material. Gesekan antara bahan padat, sifat alir material bentuk tepung, bahkan pengecilan ukuran suatu partikel seperti pada proses penggilingan, proses emulsifikasi dan atomisasi juga termasuk.
Sifat mekanis bahan dinyatakan berdasarkan tiga parameter, yaitu: 1. Gaya
2. Deformasi
3. Waktu
Ada beberapa alasan mengapa kita mempelajari sifat suatu bahan, pertama kita dapat melihat lebih dalam struktur suatu bahan, misalkan ukuran molekul dan bentuknya dalam suatu larutan terhadap kekentalan, hubungan antara tingkat cross-linh age polymasd dengan elastisitasnya, kedua rheologi juga sering diterapkan untuk mengontrol suatu pengolahan. Contohnya sifat rheologi adonan tepung gandum pada pengolahan roti. Ketiga pengetahuan rheologi diperlukan dalam mendesign alat tertentu seperti pompa, pipa-pipa aliran dan lainya. Design akan lebih efektif jika aliran tersebut diketahui. Ke-empat penerimaan konsumen terhadap suatu produk dipengaruhi oleh sifat rheologinya.
Kendala yang dihadapi dalm mempelajari sifat rheologi suatu produk dengan garis besar adalah sebagai berikut:
1. Sangat bervariasinya produk pangan, ada yang bersifat padat ad yang bersifat cair dan gas
2. Masing-masing produk tersebut mempunyai sifat berbeda pada kondisi yang berbeda, contohnya sebuah batu bersifat bahan padatm, tapi batu bisa bersifat cair.
Sifat-sifat rheologi dari sistem farmaseutika dapar mempengaruhi pemilihan alat yang akan di gunakan untuk memproses produk tersebut. Lebih-lebih lagi tidak adanya perhatian terhadap pemilihan alat yang akan digunakan akan berakibat diperolehnya hasil yang tidak diinginkan. Paling tidak dalam karakteristik alirannya.
2. Aliran pseudoplastik 3. Aliran dilator
Cairan yang sifat alirannya dipengaruhi oleh waktu adalah: 1. Aliran tiksotropik
2. Aliran rheopeksi
3. Aliran viskoelastis
Bahan pangan liquid seperti susu, madu, sari buah dan minuman lainnya serta minyak sayur menunjukan sifat aliran yang sederhana. Bahan liquid yang lebih kental seperti saus tomat dan mayones mempunyai sifat yang lebih rumit.
Bahan pangan semipadat seperti selai kacang dan margarin bereaksi diantara bahan padat dan liquid. Hampir semua bahan pangan ini dialirkan dengan pompaoleh karena itu penting untuk menentukan kebutuhan berada pada proses pemompaan. Pengangkutan bahan liquid dengan pompa ini ditentukan oleh massa jenis dan viscositas.
Dalam mempelajari rheoligi bahan pangan padat kita perlu mempelajari konsep dasar tentang stress dan strain:
1. Stress
Stress adalah intensitas beban force pada suatu luas permukaan. Force adalah suatu gaya yang dikenakan pada suatu benda yang mengakibatkan terjadinya deformasi. Stress didefinisikan sebagai bahan force persatuan luasan, seperti halnya tekanan, tekanan hidrostatik pada kenyataannya adalah contoh bentuk stress satuanya sama dengan satuan stress.
Intensitas gaya internal pada suatu titik atau komponen gaya bekerja pada suatu bidang melalui suatu titik
1. Compressive strength: kekuatan tekan maksimum dimana bahan dapat bertahan tanpa mengalami kerusakan
2. ELastic limit : tegangan / kekuatan dimana bahan dapat bertahan tanpa mengalami regangan permanen saat tegangan dilepas
2. Strain
Deformasi, bila suatu bahan padat dikenakan beban stress, maka satu atau lebih dimensinya akan berubah perubahan dimensi ini yang disebut dengan deformasi. Strain adalah perubahan dimensi relatif terhadap dimensi awal, satuan strain merupakan perbandingan antara dua dimensi panjang, kerenanya tidak memiliki satuan.poison ratio adalah perbandingan antara lateral strain dengan axial strain.
Produk pangan atau produk antara dalam proses pengolahan me