• Tidak ada hasil yang ditemukan

Refer At

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Refer At"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

REFERAT SINDROM MIDBRAIN Pembimbing: Dr.Dyah Nuraini, Sp.S Penyusun: Rica Yonathan 030.07.217

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RSUD KOTA SEMARANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI PERIODE 26 DESEMBER 2011-28 JANUARI 2012

(2)

H A L A M A N P E N G E S A H A N N a m a : R i c a Y o n a t h a n , S . K e d N I M : 0 3 0 . 0 7 . 2 1 7 F a k u l t a s : K e d o k t e r a n U n i v e r s i t a s : T r i s a k t i T i n g k a t : P r o g r a m P e n d i d i k a n P r o f e s i D o k t e r B a g i a n : I l m u P e n y a k i t S a r a f P e r i o d e : 2 6 D e s e m b e r 2 0 1 1 - 2 8 J a n u a r i 2 0 1 2 J u d u l : S i n d r o m M i d b r a i n P e m b i m b i n g : D r . D y a h N u r a i n i , S p . S D i a j u k a n : J a n u a r i 2 0 1 2 - 0 1 - 1 5 T e l a h d i p e r i k s a d a n d i s a h k a n t a n g g a l : . . . M e n g e t a h u i , K e p a l a S M F I l m u P e n y a k i t S a r a f P e m b i m b i n g R S U D K o t a S e m a r a n g D r . D y a h N u r a i n i , S p . S D r . D y a h N u r a i n i , S p . S

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang sebesar-besarnya penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehongga referat dengan judul “Sindrom Midbrain” ini dapat selesai dengan baik dan tepat pada waktunya.

Referat ini disusun dalam rangka memenuhi syarat Kepaniteraan Klinik Bidang Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti di RSUD Kota Semarang periode 26 Desember 2011- 28 Januari 2012. Selain itu, referat ini ditujukan untuk menambah pengetahuan bagi kita semua tentang Sindrom Midbrain.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih atas bantuan dan kerja sama yang telah diberikan selama penyusunan referat ini, kepada:

1. Dr. Nanik, Sp.M, selaku direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang. 2. Dr.Dyah Nuraini, Sp.S selaku Ketua SMF Ilmu Penyakit Saraf Kota Semarang

dan selaku pembimbing referat.

3. Dr.Mintarti, selaku dokter pembimbing kepaniteraan klinik saraf.

4. Para staf medis dan non-medis Ruang Yudistira, Bima, ICU, Arimbi, Banowati, dan Poliklinik penyakit saraf Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang.

5. Rekan-rekan anggota Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Penyakit saraf Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang periode 26 Desember 2011-28 Januari 2012. Penulis menyadari masih banyak kekurangan, maka penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak, agar referat ini dapat menjadi lebih baik dan dapat berguna bagi semua yang membacanya. Penulis memohon maaf yang sebesarnya apabila masih banyak kesalahan maupun kekurangan dalam referat ini.

Semarang, Januari 2012

(4)

HALAMAN PENGESAHAN... i

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 mesensephalon (otak tengah)...7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi... 15 2.2 Sindrom Midbrain...17 2.2.1 Sindrom Weber...18 2.2.2 Sindrom Benedik...20 2.2.3 Sindrom Parinaud...21 2.2.4 Sindrom claude...22

2.3 Patofisiologi Nervus Okulomotorius...24

BAB III KESIMPULAN...26 DAFTAR PUSTAKA...

BAB I PENDAHULUAN

(5)

1.1 Otak(1)

Otak (encephalon) adalah pusat sistem saraf pada vertebrata dan banyak invertebrata lainnya. Otak manusia [1]adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar, gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran. Otak dan sel saraf didalamnya dipercayai dapat memengaruhi kognisi manusia. Pengetahuan mengenai otak memengaruhi perkembangan psikologi kognitif. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya.

Otak terbentuk dari dua jenis sel: glia dan neuron. Glia berfungsi untuk menunjang dan melindungi neuron, sedangkan neuron membawa informasi dalam bentuk pulsa listrik yang di kenal sebagai potensi aksi. Mereka berkomunikasi dengan neuron yang lain dan keseluruh tubuh dengan mengirimkan berbagai macam bahan kimia yang disebut neurotransmiter. Neurotransmiter ini dikirimkan pada celah yang dikenal sebagai sinapsis. Avertebrata seperti serangga mungkin mempunyai jutaan neuron pada otaknya, vertebrata besar bisa mempunyai hingga seratus miliar neuron.

Neuron otak mengandung dua jenis asam lemak PUFA (polyunsaturated fatty acids), yaitu asam arakidonat (AA) dan asam dokosaheksaenoat (DHA) yang terletak pada posisi sn2 dari molekul fosfogliserida dalam membran sel neuron.[2] PUFA dapat terlepas dari fosfogliserida oleh stimulasi fosfolipase PLA-2. Molekul AA yang terlepas akan diproses oleh enzim siklo oksigenase menjadi prostaglandin dan tromboksan, atau diproses oleh enzim 5-lipo oksigenase menjadi lipoksin. Baik AA maupun DHA dapat diproses oleh enzim lipo oksigenase guna membentuk senyawa turunan hidroksi dan leukotriena

Anatomi

Pada anatomi otak vertebrata, otak depan (prosencephalon, forebrain) adalah bagian atas dari otak. Pada tahap perkembangan sistem saraf pusat ( five-vesicle stage), otak depan berkembang dan memisahkan diri menjadi otak besar dan diensefalon. Jika pada masa

(6)

embrio, otak depan mengalami hambatan untuk berkembang menjadi kedua lobus ini, maka akan terjadi suatu kondisi yang disebut holoprosensefali.

Otak Besar

Otak besar (telencephalon, cerebrum) adalah bagian depan yang paling menonjol dari otak

depan. Otak besar terdiri dari dua belahan, yaitu belahan kiri dan kanan. Setiap belahan mengatur dan melayani tubuh yang berlawanan, belahan kiri mengatur tubuh bagian kanan dan sebaliknya. Jika otak belahan kiri mengalami gangguan maka tubuh bagian kanan akan mengalami gangguan, bahkan kelumpuhan. Tiap belahan otak depan terbagi menjadi empat lobus yaitu frontal, pariental, okspital, dan temporal. Antara lobus frontal dan lobus pariental dipisahkan oleh sulkus sentralis atau celah Rolando.

Istilah telencephalon mengacu pada struktur embrio yang kemudian berkembang menjadi cerebrum:

Dorsal telencephalon atau pallium berkembang menjadi cerebral cortex Ventral telencephalon atau sub-pallium berkembang menjadi basal ganglia.

Korteks otak besar

Korteks otak besar (grey matter) merupakan lapisan tipis berwarna abu-abu yang terdiri dari 15 - 33 miliar neuron yang masing-masing tersambung ke sekitar 10.000 sinapsis, satu milimeter kubik terdapat kurang lebih satu miliar sinapsis. Komunikasi yang terjadi antar

Bagian Otak 1. Otak besar (cerebrum) 2. Talamus 3. Hipotalamus 4. Otak tengah (Mesencephalon-Midbrain) 5. Pons 6. Otak kecil (Cerebellum) 7. Medula oblongata 8. Medula spinalis Gambar dan keterangan gambar diambil dari :

(7)

neuron dalam bentuk deret panjang pulsa sinyal yang disebut potensial aksi dimungkinkan melalui fiber protoplamik yang disebut akson yang dapat dikirimkan hingga ke bagian jauh dari otak atau tubuh untuk menemukan reseptor sel tertentu.

Terdapat enam lapisan korteks, neokorteks/isokorteks, arcikorteks, paleokorteks, allokorteks yang berlipat-lipat sehingga permukaannya menjadi lebih luas dengan ketebalan 2 hingga 4 mm. Lapisan korteks terdapat berbagai macam pusat saraf yang mengendalikan ingatan, perhatian, persepsi, pertimbangan, bahasa dan kesadaran.

Ganglia dasar

Ganglia dasar (white matter) merupakan lapisan yang berwarna putih. Lapisan dalam banyak mengandung serabut saraf, yaitu Dendrit dan Neurit

Otak besar merupakan pusat saraf utama, karena memiliki fungsi yang sangat penting dalam pengaturan semua aktivitas tubuh, khususnya berkaitan dengan kepandaian (inteligensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan.

Secara terperinci, aktivitas tersebut dikendalikan pada daerah yang berbeda.

Di depan celah tengah (sulkus sentralis) terdapat daerah motor yang berfungsi mengatur gerakan sadar. Bagian paling bawah pada korteks motor tersebut mempunyai hubungan dengan kemampuan bicara.

Daerah pada lobus frontalis berhubungan dengan kemampuan berpikir.

Di belakang sulkus entralis merupakan daerah sensori. Pada daerah ini berbagai sifat perasaan dirasakan kemudian ditafsirkan.

Daerah pendengaran (auditori) terletak pada lobus temporal. Di daerah ini, kesan atau suara diterima dan diinterpretasikan.

Daerah visual (penglihatan) terletak pada ujung lobus oksipital yang menerima bayangan dan selanjutnya bayangan itu ditafsirkan. Adapun pusat pengecapan dan pembau terletak di lobus temporal bagian ujung anterior.

Diensefalon

(8)

• mid-diencephalic territory

– pretalamus / ventral talamus / subtalamus, terletak di bawah kelenjar hipotalamus. Nuklei berupa zona incerta, thalamic reticular nucleus, dan fields of Forel. Pretalamus terpola sinyal SHH (: sonic hedgehog homolog) dari ZLI dan setelah itu membuat koneksi yang berbeda-beda ke striatum (caudate nucleus dan putamen) dalam otak depan, ke talamus (gugus medial dan lateral nucleus) dalam otak kecil, dan ke red nucleus dan substantia nigra dalam otak tengah. Pretalamus ditengarai mempunyai andil dalam pengendalian pola konsumsi termasuk defekasi dan kopulasi.

– zona limitan intratalamika (ZLI) yang berfungsi sebagai pusat sinyal layaknya cerebrum dan sebagai pembatas antara talamus dan pretalamus.

– talamus / dorsal talamus yang berfungsi antara lain menghubungkan komunikasi antar belahan otak besar.

• hipotalamus, merupakan pusat pengendalian waktu biologis, suhu tubuh dan sekresi hormon dan fungsi biologis lain. Hipotalamus terletak di dasar otak depan.

• Epitalamus

• pretektum

(9)

Otak tengah (mesencephalon) adalah bagian otak yang mempunyai struktur:

1. tektum, terdiri dari 2 pasang colliculi yang disebut corpora quadrigemina:

inferior colliculi, terlibat pada proses pendengaran. Sinyal yang diterima dari berbagai nukleus batang otak diproyeksikan menuju bagian dari talamus yang disebut medial geniculate nucleus untuk diteruskan menuju korteks pendengaran primer (primary auditory cortex).

superior colliculi, berperan sebagai awal proses visual dan pengendalian gerakan mata

1. cerebral peduncle

• tegmentum adalah jaringan multi-sinapsis yang terlibat pada sistem homeostasis dan lintasan refleks.

• crus cerebri

• substantia nigra

Otak belakang

(10)

Otak belakang (myelencephalon, metencephalon, rhombencephalon) meliputi jembatan Varol (pons, pons Varolii), sumsum lanjutan (medulla oblongata), dan otak kecil (cerebellum). Ketiga bagian ini membentuk batang otak (brainstem).

Jembatan Varol berisi serabut saraf yang menghubungkan lobus kiri dan kanan otak kecil, serta menghubungkan otak kecil dengan korteks otak besar.

Sumsum lanjutan membentuk bagian bawah batang otak serta menghubungkan jembatan pons dengan sumsum tulang belakang. Sekelompok neuron pada formasi retikular di dalam sumsum lanjutan berfungsi mengontrol sistem pernafasan, dan syaraf kranial yang berfungsi mengatur laju denyut jantung juga berada pada sumsum ini.[3] Selain itu juga berperan sebagai pusat pengatur refleks fisiologi, tekanan udara, suhu tubuh, pelebaran atau penyempitan pembuluh darah, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan. Fungsi lainnya ialah mengatur gerak refleks, seperti batuk, bersin, dan berkedip.

Otak Kecil

Otak kecil (cerebellum) merupakan bagian terbesar otak belakang. Otak kecil ini terletak di bawa lobus oksipital serebrum. Otak kecil terdiri atas dua belahan dan permukaanya berlekuk-lekuk. Fungsi otak kecil adalah untuk mengatur sikap atau posisi tubuh, keseimbangan, dan koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar. Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

(11)

Otak tengah merupakan bagian rostral yang paling tipis (sekitar 1, 5 cm) dari batang otak. Pada potongan melintang otak tengah dapat dibagi menjadi empat bagian:

1. Tektum, bagian yang paling dorsal, diwakili oleh lempeng quadrigeminal; batas ventralnya adalah garis imajiner transversal yang menyebrangi aquaductus,

Bagian Otak 1. Otak besar (cerebrum) 2. Talamus 3. Hipotalamus 4. Otak tengah (Mesencephalon -Midbrain) 5. Pons 6. Otak kecil (Cerebellum) 7. Medula oblongata Gambar dan keterangan gambar diambil dari :

(12)

2. Tegmentum, terletak diantara substansia nigra dan tektum. 3. Substansisa nigra

4. Pedunkel serebral atau krura serebri.

Lamina quadrigemina terdiri dari dua kolikuli superior dan dua kolikli inferior. Kolikuli ini sangat berdifferensiasi, terdiri atas tujuh lapisan grisea, yang mempunyai sejumlah hubungan aferen dan eferen. Semua digambarkan hanya sepintas lalu.

Kolikuli inferior merupakan stasiun relai bagi beberapa serat jaras auditorius, lemniskus lateral. Serat auditoris ini berlanjut melalui brakia kolikuli inferior ke korpus genikulata medial dan dari sini ke korteks auditori lobus temporalis dalam fisura sylvii (konvolusi transversal; gyrus Heschl).

Nukleus kolikuli superior menerima serat traktus optikus dari korteks oksipitalis, medulla spinalis (traktus tektospinalis), nukleus ruber dan formasio retikularis.

Hubungan antara kolikuli superior dan inferior adalah bagian lengkung refleks yang bertanggung jawab untuk memutar mata dan kepala ke arah suara. Serat retina yang memasuki kolikuli superior melaluikorpus genikulata lateral adalah bagian dari lengkung refleks untuk menututp mata dan mungkin memalingkan kepala dari hadirnya stimulus visual yang tiba-tiba. Traktus tektonuklearis dan tektospinalis, penting dalam refleks ini.

Nukleus, pretektal, terdiri dari dua kelompok kecil neuron, terletak di dalam tektum rostrolateral dari kolikuli superior. Nukelus merupakan stasiun relai untuk serat yang datang dari retina, melingkar di sekeliling substansia grissea periakuaduktal, dan berakhir pada nukleus parasimpatik Edinger-Westphal. Nukleus ini adalah bagian dari arkus refleks yang melebarkan atau menyempitkan pupil dalam respon terhadap intensitas cahaya.

Nukleus ruber memenuhi pusat dari setiap separuh dari tegmentum. Warnanya sebagian disebabkan oleh kepadatan jaringan kapilernya dan sebagian karena kandungan besinya. Separuh kaudal dari setiap nukleus adalah magniseluler; separuh rostral adalah parviselular. Impuls aferen datang dari emboliformis serebelar dan nukleus dentata melalui pedunkel serebelar superior (konjungtiva brakia). Serat yang berasal dari nukleus emboliformis yang secara filogenetik lebih tua, merupakan bagian dari arkus refleks yang membantu mengontrol sikap tubuh dan gerakan. Serat yang datang dari nukleus dentata, yang terutama sudah berkembang baik pada manusia, merupakan bagian dari arkus refleks serebelar yang berhubungan dengan korteks serebral melalui thalamus dan mengontrol ketepatan serta kelembutan dari gerakan volunter. Banyak dari serat-serat ini berakhir pada bagian dari

(13)

parviselular dari nukleus ruber, Semua serat serebelorubral menyeberang pada dekusasi konjungtiva brakia pada otak tengah bawah. Impuls aferen lainnya yang mencapai nukleus ruber, datang dari korteks serebral (traktus kortikorubral) dan tektum dari otak tengah. Semua impuls yang diterima oleh nukleus ruber menjadi eferen melalu jaras rubrospinalis dan rubroretikularis, yang mempengaruhi motoneuron spinalis. Kedua traktus menyeberang secara dini pada dekusasi tegmental ventral (Forel). Sebagai tambahan, serat eferen rubroolivarius dalam traktus tegmental, melapor kembali ke serebelum.

Traktus trigeminalis mesensefalik, lemniskus medial dan trigeminal, dan traktus spinotalamikus, mengisi bagian lateral dari tegmentum. Nukleus dari saraf trokhlearis terletak di depan substansia grissea periakuaduktal dari otak tengah bagian bawah pada setiap sisi garis tengah. Akson dari sel-sel saraf berada di sekeliling substansia grisea, periakuaduktal dan menyeberang dalam tektum di belakang kolukili inferior. Karena merupakan satu-satunya saraf kranialis, saraf trokhlearis menyeberang dan muncul kemudian pada sisi dorsal dari tektum. Saraf ini kemudai melingkari otak tengah bawah dari belakang dan berjalan di bawah bingkai tentorium ke sinus kavernosus.

Nukleus saraf okulomotorius dan nukelus parasimpatik Edinger-Westphal dan nukleus Perlia, terletak di depan substansia grissea periakuaduktal pada tingkat kolikuli superior. Mereka terletak pada masing-masing sisi garis tengah dan di medial dari fasikel longitudinalis medial. Sebelum meninggalkan otak tengah, dalam fossa interpedunkularis, serat dari saraf berjalan melingkar dan sebagian melalui nukleus ruber.

Fasikulus longitudinali medialis merupakan sekumpulan sistem saraf yang bervariasi, yang membawa impuls dari nukleus vestibularis. Berkas yang berjalan menurun ke medula spinalis dan ke atas melalui pons dan otak tengah dekat garis tengah,dibawah lantai ventrikel keempat dan di ventral terhadap substansia grissea periakuaduktal sentralis. Beberapa serat berakhir dalam nukleus saraf abdusens, trokhlearis, dan okulomotorius dan menghubungkan saraf-saraf tersebut. Serat-serat ini juga berhubungan dengan nukleus formasio retikularis (nukleus interstitialis Xajal dan nukelus Darkschewitsch).

Traktus simpatetikus sentralis mungkin berasal dari nukelus hipotalamus dan dalam formasio retikularis. Dalam otak tengah dan pons, traktus tersebut berjalan dekat dengan akuaduktus dan lantai ventrikel keempat. Dalam medulla oblongata, traktus itu mengisi bagian lateral. Dari sini traktus tersebut berlanjut ke kornu lateral medulla spinalis. Interupsi menyebabkan sindrom Horner.

(14)

Substansia nigra adalah daerah motorik besar yang terletak diantara tegmentum dan oedunkel serebralis (krus serebri). Warnanya yag gelap disebabkan oleh pigmen melanin dalam neuronnya, yang menumpuk secara bertahap dalam masa kanak-kanak dan dewasa. Substansia nigra adalah bagian dari sistem motorik ekstrapiramidal.

Pedunkel serebral dibuat hampir hanya dari jaras desenden saja; traktus kortokospinalis atau piramidalis, kortikonuklearis, dan kortikoponton. Setelah melewati kapsula interna, berkas serat ini segera berkumpul untuk membentuk pedunkel. Serat kortikospinalis dan kortikonuklearis dibatasi pada kedua sisi oleh serat kortikopontin.

Formatio retikularis meliputi tegmentum dari seluruh batang otak dan mengisi ruangan antara nukleus saraf kranialis dan korpus olivarius, dan antara traktus serat asenden dan desenden dengan kelompok akson dan neuron. Neuronnya menerima impuls aferen dari medulla spinalis, nukleus saraf kranialis, serebelum, dan serebrum. Neuron mengirim impuls eferen ke struktur yang sama. Satu kelompok dari nukleus retikularis mempengaruhi kerja motorik spinalis seperti juga fungsi otonom melalui serat desenden. Nukleus lainnya dari formasio retikularis, terutama yang terletak pada otak tengah, diproyeksikan pada pusat yang terletak lebih rostral, terutama melalui nukleus intralaminar dari talamus, dan lebih langsung, melalui subtalamus. Nukelus-nukleus ini menerima kolateral dari berbabgai kelompok serat asenden (traktus spinotalamkius, traktus trigeminalis spinalis, nukleus traktus solitarius dan sistem olfaktorius). Nukleus mengirim berbagai impuls secara polisinaptik ke daerah yang tersebar luas dari korteks serebral, dimana nukleus mempunyai pengaruh aktivasi. Stimulus nukleus retikularis ini pada binatang yang sedang tidur, akan membangunkan binatang tersebut. Berdasarkan pada penelitian oelh Mouzzi dan Magnoun (1949) dan beberapa penulis lainnya, dipercaya bahwa pada manusia, bagian ini dari sistem retikularis adalah penting untuk mempertahankan keadaan sadar, keadaan siap siaga, dan irama bangun dan tidur.Bagian ini disebut sebagai sistem aktivasi retikularis asenden. Jika sistem ini rusak, makan akan terjadi gangguan kesadaran atau koma. Oleh karena itu, bagaimanapun juga, masih terdapat pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab; dapat dianggap tanpa keraguan bahwa lebih dari satu area dari otak yang terlbat dalam menghasilkan ketidaksadaran.

Jaras retikularis desenden (traktus retikulospinalis lateral dan ventral) berasal dari nukleus yang mempunyai pengaruh aktivasi (fasilitasi), sebaik pengaruh inhibis pada neuron motorik spinalis. Nukelus-nukleus ini dipengaruhi oleh korteks serebral, oleh serebelum, dan oleh ganglia basal. Nukleus merupakan bagian dari sistem ekstrapiramidalis. Impuls aktivasi berasal dalam bagian lateral formatio retikularis, terutama dalam pons dan otak tengah.

(15)

Impuls dikirim melalui traktus retikulospinalis dan vestibulospinalis dalam funikulus anterior lateral medula spinalis. Impuls inhibisi berasal dari nukleus retikularis dalam bagian ventromedial dari medula oblongata. Impuls dikirim secara polisinaptik ke neuron motorik spinalis di atas traktus retikulospinalis lateralm, yang terletak di dekat jaras kortikospinalis. Kedua sistem fasikulasi utnuk mengirim impulsnya ke sel-sel gamma. Formasio retikularis memainkan peranan penting dalam menjaga tonus supaya tetap adekuat untuk berjalan, berdiri, dan mempertahankan keseimbangan, karena pengaruhnya pada arkus refleks spinalis. Banyak neuron dari formasio retikularis mempunyai fungsi otonom. Neuron-neuron ini tersebar melalui pons dan medulla, yange menjelaskan hubungannya yang erat dengan nukleus saraf kranialis somatil. Neuron otonom ini menerima impuls dari hipotalamus dan mengirimnnya ke saraf kranialis sebaik ke saraf spinalis.

Salivasi dikontrol oleh nukleus salivatorius superior dan inferior. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, aliran saliva dapat dicetuskan oleh refleks selama mengecap atau mencium. Tetapi salivasi dapat berhenti, dan mulut menjadi kering akibat emosi secara murni. Salivasi juga berhenti apabila seseorang tertidur.

Neuron nukleus retikularis lainnya mengontrol tekanan darah. Sinus karotid mengirim impuls aferen melalui saraf glossofaringeus dan vagus ke nukleus-nukleus ini dalam medula oblongata ) pusat otonom untuk tekanan darah, aktivitas jantung, dan pelebaran dari pembuluh darah), yang terletak disekitar nukleus IX dan X. Impuls eferen dari saraf vagus, menghambat denyut jantung dan nadi. Impuls lain berjalan melalui medulla spinalis, dan menghambat kelompok neuron dalam sistem simpatik, mengontrok pelebaran pembuluh darah. Akibatnya, terjadi vasodilatasi dorsal sampai olova inferios mengontrol pernapasan; terdapat pusat untuk ekspirasi dan lainnya untuk ekspirasi. Nukelus retikularis lainnya mengontrol atau mengkoordinasi gerakan usus. Menelan adalah proses refleks yang rumit. Berbagai otot ikut serta dalam kerja ini, harus dipersarafi juga dengan kekuatan yang tepat dan berurutan jika makanan akan dikirim dari mulut ke lambung. Pusat menelan dekat nukelus motorik saraf kranialis dalam medula oblongata, bertanggung jawab dalam mengkoordinasi aktivitas berbagai saraf yang mempersarafi otot-otot yang ikut serta dalam menelan. Pusat berdahak berada alam daerah yang sama. Dalam atau dekat area postrema adalah pusat muntah.Lokus seruleus dalam tegmentum dari pons rostral, tampaknya mengkoordinasi pernapasan dan sirkulasi (nukleus pneumotaktik). Otak tengah berisi daerah dengan urutan yang lebih tinggi untuk gerakan oral yang bertanggung jawab dalam asupan makanan, seperti mengunyah, menjilat dan mengecap.

(16)

Suplai Darah dari Batang Otak Arteri

Dua arteri vertebralis merupakan pensuplai darah utama bagi batang otak, serebelum, dan medula spinalis atas. Arteri ini merupakan cabang pertama dari arteri subklavia, berasal dari tingkat batas atas dari iga pertama. Pada perjalanannya ke prosessus transversus vertebrae servikalis tujuh, semua terletak dibelakang vena jugularis interna, vena vertebralis, traktus simpatikus, dan ganglia simpatik servikalis. Serat dari ganglia ini menyertai arteri yang naik ke atas lebih jauh melalui foramina transversal dari enam vertebrae servikalis rostral. Diatas tersebut, semua berputar mengelilingi massa lateralis dari atlas dan menembus membran atlanto-okspitalis posterior. Arteri memasuki fossa kranialis posterior pada setiap sisi medula oblongata dan muncul di depan piramid untuk membentuk arteri basilaris di depan sambungan pontomedular.

Arteri vertebralis memberikan cabang-cabang berikut ini di dalam kranium sebelum membentuk arteri basilaris:

1. Cabang asenden yang membentuk arteri spinalis anterior. 2. Arteri spinalis posterior desenden.

3. Arteri fossa lateral dan paramedial dari medulla oblongata, mensuplai paramedial dan sepertiga tengah dari masing-masing separuh medula. (arteri-arteri ini dapat berasal dari arteri basilaris atau arteri serebelaris anterior).

4. Arteri serebelaris posterior inferior. Cabang pertama dari arteri-arteri ini mensuplai sepertiga dorsal dari medulla oblongata.

Arteri basilaris merupakan pensuplai utama dari pons, memebrikan cabang ke masing-masing separuh pons paramedia sebagai cabang sirkumferensia longus dan brevis. Cabang paramedian dari arteri basilaris rostral, memasuki lantai fossa interpedunkularis dan mensuplai tidak hanya basis pons yang paling atas pada setiap sisi garis tengah, tetapi juga bagian paramedian dari separuh atas tegmentum pontin dengan menuruni melalui foramen sekum rostral pada akhir fossa interpedunkularis. Secara sama, cabang paramedian memanjang dari arteri basilaris kaudal pada sambungan belokan arteri basilaris kaudal di sekeliling basis kaudal dari pons dan memasuki foramen sekum, misalnya pada ujung akhir rostral dari fissura medialis longitudinalis dia antara piramid. Cabang-cabang ini mensuplai

(17)

bagian paramedian dari tegmentum separuh kaudal dari pons. Duapertiga lateral dari basis dan tegmentum, disuplai oleh pasangan cabang sirkumferensia longus dan brevis.

Arteri serebelaris anterior inferior berjalan turun dari separuh kaudal arteri basilaris. Sebelum mensuplai strukturs serebelaris, aretri tersebut memberikan cabang ke sepertiga tengah dari setiap sisi medula oblongata rostral dan ke basis pons dekat medulla.

Dalam kebanyakan kasus, juga memberikan cabang ke arteri labirintin atau arteri audotorius interna, yang berjalan melalui kanalis auditorius interna untuk mensuplai telinga dalam, kadang-kadang arteri itu merupakan cabang dari arteri serebelaris inferior posterior atau arteri basilais itu sendiri. Sumbatan dari arteri ini menyebabkan ketulian.

Arteri serebelaris superior berjalan turun dari arteri basilaris, tepat sebelum arteri tersebut terbagi menjadi dua arteri serebralis posterior. Pada perjalanannya ke serebellum, arteri tersebut mengkiut sambungan pontoserebelaris ke dalam fisura pontoserebelaris rostral. Setelah membentuk loop sekali atau dua kali. Arteri tersebut muncul dari fisura sepanjang tepi rostral dari serebelum. Di dalam fisura, arteri tersebut memberikan cabang ke pedunkel serebelaris superior (brakium konjuntivum), dimana ia berjalan melalui tegmentum rostral. Cabang kecil lainnya mensuplai kolikuli inferior dari lempeng kuadrigeminal dan tegmentum dorsolateral dari otak tengah bawah.

Vena

Vena-vena dari batang otak membentuk jaringan anastomosis yang kaya. Vena medula oblongata, mencakup vena dinding ventrikel keempat, berhubungan dengan vena medulla spinalis rostralis dan dengan vena serebelaris kaudal, yang berdrainase ke dalam sinus transversus. Atau sinus petrosal superior bersama dengan vena pons bawah. Vena medula oblongata juga berhubungan dengan vena flocculares, yang mengumpulkan darah dri bagian ventral serebelum dan berdrainase ke dalam sinus petrosal inferior atau superior. Vena dari bagian ventral pons, berhubungan dnegan fossa interpedunkularis otak tengah, yang berdrainase melalui vena basalis Rosenthal ke dalam vena magna Galen. Vena bagian lateral dari pons, membentuk vena pengumpul yang berjalan di rostral di dalam sulki lateral dari otak tengah dan berhubungan dnegan vena basalis ketika berjalan mengelilingi otak tengah, seperti juga vena serebelaris rostomedial dan vena-vena otak tengah.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sindrom yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi

Sindrom yang berhubungan dengan insufisiensi vertebrobasiler dan impaksi tentorium dan foragmen magnum, dibicarakan dalam bagian pada sistem sirkulasi serebral. Semua sindrom ini merupakan akibat infark lokal, terjadi selalu pada daerah tertentu dan menghancurkam terutama nukleus dan jaras. Sindrom-sindrom ini, beberapa mempunyai nama. Infark

(19)

biasanya bervariasi dalam ukuran. Oleh karena itu, sindrom seringkali bervariasi, tergantung pada struktur tambahan mana yang rusak.

Kelumpuhan piramidalis akibat lesi di batang otak merupakan gejala bagian dari sindroma batang otak yang dapat diperinci dalam: (1) sindroma mesensefalon (sindrom Weber, sindrom Benedict, sindrom Claude), (2) sindrom pons (sindrom foville, sindrom Raymond-Cestan, sindrom Millard-Gubller) dan (3) sindrom medulla oblongata (sindrom Pra-Olivar, sindrom retro-Olivar, sindrom Lateralis/Wallenberg).

Sindrom-sindrom tersebut terdiri dari manifestasi gangguan motorik dan sensibilitas, bahkan manifestasi gangguan sistema autonom juga bisa menjadi gejala tambahan.

Kelumpuhan piramidalis akibat kelumpuhan di batang otak, tidak perduli lokalisasinya, mempunyai satu ciri yang khas, yaitu: kelumpuhan UMN kontralateral yang disertai oleh kelumpuhan saraf otak motorik atau defisit sensorik akibat kerusakan pada saraf otak sensorik pada sisi dan tingkat lesi. Kelumpuhan tersebut berupa hemiparesis. Dan hemiparesis yang diiringi gangguan saraf otak tersebut dinamakan hemiparesis alternans. (1)

Crossed brainstem syndromes

Crossed brainstem syndromes

Syndrome Site of lesion Ipsilateral side Contralateral side Weber (hemiparesis alternans oculomotoria) Oculomotor palsy Hemiparesis Benedikt Oculomotor palsy Hyperkinesis (athetosis,chorea) Rigor Disturbance of deep sensibility

Raymond-Cestan oral pons Internuclear ophthalmoplegia Hemiparesis Ataxia Hypesthesia Raymond (hemiparesis alternans abducens)

(20)

Millard-Gubler (hemiparesis alternans

facialis)

Facial paresis Hemiparesis

Brissaud-Siccard Facial hemispasm Hemiparesis

Foville

Facial paresis Abducent paresis Horizontal gaze paralysis

Hemiparesis

Avellis

(hemiparesis alternans vaga)

Signs of vagus lesion Hemiparesis

Schmidt

(hemiparesis alternans accessoria)

Paresis of m. trapezius and

m. sternocleidomastoideus Hemiparesis

Jackson

(hemiparesis alternans hypoglossa)

Hypoglossus palsy Hemiparesis

Déjerine Hypoglossus palsy

Hemiparesis Disturbance of deep

sensibility

P O S T E D B Y H E L P I N G M E D I C A T

Kali ini akan dibahas mengenai sindrom midbrain (sindrom Weber, sindrom Benedict, sindrom Claude).

2.2 SINDROM MIDBRAIN

Depresi mental, defisit nervus okulomotorius ipsilateral, kelemahan spastik atau paralisis dari keempat ekstremitas atau bagian dari kontralateral dari tubuh. Hal tersebut dapat

(21)

disebabkan karena trauma cranial, tumor otak, atau proses degeneratif atau proses inflamasi dari mesensefalon. (3)

Mesensefalon dapat dibagi dalam daerah-daerah yang sesuai dengan kawasan arteri-arteri. (4) daerah di kedua sisi garis tengah, yang mengandung inti nervus okulomotorius, inti nervus trokhlearis, fasikulus longitudinalis medialis dan satu per tiga bagian medial dari pedunkulus serebri, diperdarahi oleh ramus perforantes medial dari arteria basilaris. Sebagai cabang arteria basilaris yang menembus ke dalam mesensefalon dari bawah, tepat di garis tengahnya, ia menuju ke dorsal dan memberikan cabang-cabang ke dua samping kepada bangunan-bangunan tersebut tadi. (5) cabang-cabang arteria basilaris yang menembus permukaan bawah mesensefalon di sisi lateral dari garis tengah mesensefalon dinamakan rami perforantes paramedialis. Cabang ini mengurus vaskularisasi dua pertiga bagian lateral dari pedunkulus dan hampir seluruh daerah nucleus rubber berikut substansia nigra.(6) Bagian tektum mesensefalon diperdarahi oleh cabang-cabang arteria serebeli superior (kolikulus inferior) dan cabang-cabang arteria serebri posterior (kolikulus superior). (4)

Manifestasi klinis yang ditimbulkan dapat dengan mudah dimengerti oleh karena setiap gejala dan tanda mencerminkan disfungsi sistema sarafi yang terlibat dalam lesi tertentu. Lesi yang disebabkan oleh proses neoplasmatik dapat merusak bangunan-bangunan mesensefalon sebagai akibat invasi dari thalamus atau serebelum. Oleh karena proses tersebut berupa pinealoma, glioblastoma dan spongioblastoma dari serebelum, maka tiap corakan kerusakan dapat terjadi, sehingga lesi neoplasmatik sukar sekali memperlihatkan suatu keseragaman.

Lesi unilateral di mesensefalon mengakibatkan timbulnya hemiparesis atau hemiparesis kontralateral

Lesi yang merusak bagian medial pedunkulus serebri akan menimbulkan hemiparesis yang disertai paresis nervus okulomotorius ipsilateral. Kombinasi kedua jenis kelumpuhan ini dikenal dengan nama hemiparesis alternans nervus okulomotorius atau Sindroma dari weber. Lesi pada daerah fasikulus longitudinalis medialis akan mengakibatkan timbulnya hemiparesis alternans nervus okulomotorius yang diiringi juga dengan gejala yang dinamakan oftalmoplegia internuklearis. (5,6,7,8)

2.2.1 Sindrom Weber ( sindrom serebellar pedunkel; paralisis okulomotorius alternating; sindrom otak tengah bagian depan tengah)

Sindrom Weber adalah suatu sindrom yang terdiri dari paralysis okulomotor pada sisi yang sama dengan lesi, yang mengakibatkan ptosis, strabismus, dan hilangnya refleks cahaya serta

(22)

akomodasi, juga hemiplegi spastik pada sisi yang berlawanan dengan lesi dengan peningkatan refleks-refleks serta hilangnya refleks superfisial.(3)

Sindrom Weber disebut juga Alternating oculomotor hemiplegia atau Weber’s paralysis atau hemiparesis alternans nervus okulomotorius. (4,6)

ETIOLOGI

Sindrom Weber ini biasanya unilateral dapat disebabkan oleh hal sebagai berikut:

1. Penyumbatan pembuluh darah cabang samping yang berinduk pada ramus perforantes medialis arteria basilaris.

2. Insufisiensi peredaran darah yang mengakibatkan lesi pada batang otak.

3. Lesi yang disebabkan oleh proses neoplasmatik sebagai akibat invasi dari thalamus atau serebelum. Lesi neoplasmatik sukar sekali memperlihatkan keseragaman oleh karena prosesnya berupa pinealoma, glioblastoma dan spongioblastoma dari serebelum.

4. Lesi yang merusak bagian medial pedunkulus serebri. 5. Stroke (perdarahan atau infark) dipedunkulus serebri. 6. Hematoma epirduralis.

7. Tumor lobus temporalis. (4,6,7)

Gambaran klinis: (9,10, 11, 12, 13)

Sistem peredaran otak manusia batang otak # 6, dan ada di balik itu.

Sumber:

http://upload.wikimedia.or g/

(23)

Adanya ptosis,kelumpuhan nervus tiga homolateral (biasanya komplit), dan dilatasi pupil. Selain itu juga terdapat hemiplegia kontralateral, rigor kontralateral (parkinsonisme, substansia nigra), distaksia kontralateral (traktus kortikopontin)

Kerusakan unilateral yang terjadi dapat mempengaruhi beberapa struktur dalam otak tengah, termasuk:

Struktur yang rusak EFEK

Substantia nigra Adanya parkinsonisme kontralateral karena proyeksi dopaminergik terhadap basal ganglia mempersarafi bidang belahan gerakan motorik ipsilateral, mengarah ke gangguan gerakan tubuh kontralateral.

Serat kortikospinalis hemiplegia kontralateral dan temuan UMN yang khas Tractus kortikobulbar Gangguan dengan otot-otot wajah bagian bawah yang

kontralateral dan fungsi saraf hypoglossal yang terganggu Serat saraf okulomotorius Kelumpuhan saraf okulomotorius dengan kelopak mata

yang terjatuh dan pupil yang lebar dan kearah bawah dan keluar.

DIAGNOSIS

Diagnosis sindroma dapat ditegakkan dengan melakukan

– anamnesis tentang riwayat penyakit, termasuk juga riwayat keluhan, berapa lama keluhan sudah timbul dan apakah unilateral ataukah bilateral.

– Pemeriksaan saraf biasanya dapat dilakukan dan dapat sangat membantu untuk menentukan adanya sindroma weber.

2.2.2 Sindrom Benedik (Sindrom tegmental) DEFINISI

Sindrom Benedikt merupakan akibat tersumbatnya cabang-cabang interpedunkularis dari arteri basilaris atau serebralis posterior atau keduanya pada otak tengah. Ini digambarkan sebagai suatu kelumpuhan Nervus III (Okulomotorius) ipsilateral yang disertai oleh tremor kontralateral (cerebelar). Sebuah tremor berirama (ritmik) pada tangan atau kaki bagian kontralateral yang ditingkatkan oleh adanya gerakan mendadak atau tanpa disengaja, menghilang ketika beristirahat. Merupakan akibat dari kerusakan pada nukleus red (nukleus ruber) yang menuju keluar dari sisi yang berlawanan pada hemisfer cerebelum. Bisa juga terdapat hiperestesia kontralateral.(14)

(24)

Sindrom Benedikt terjadi bila salah satu cabang dari rami perforantes paramedial arteri basilaris yang tersumbat, maka infark akan ditemukan di daerah yang mencakup 2/3 bagian lateral pedunkulus cerebri dan daerah nukleus ruber. Maka hemiparesis alternans yang ringan sekali tidak saja disertai oleh hemiparesis ringan Nervus III, akan tetapi dilengkapi juga dengan adanya gerakan involunter pada lengan dan tungkai yang paretik ringan (di sisi kontralateral) itu.(4)

Sindrom Benedikt terjadi jika lesi menduduki kawasan nukleus ruber sesisi yang ikut rusak bersama-sama radiks Nervus Okulomotorius ialah neuron-neuron dan serabut-serabut yang tergolong dalam susunan ekstrapiramidal. Maka gejala yang muncul ialah paralisis Nervus Olulomotorius ipsilateral, ataksia dan tremor pada lengan sesisi kontralateral.(15) Sindrom benedik merupakan lesi pada area nukleus red memotong saraf fasikuler dari Nervus III pada saat mereka melewati otak tengah bagian ventral, beberapa lesi menyebabkan kelumpuhan okulomotorius, dengan diskinesia (hiperkinesia, ataksia) kontralateral dan tremor yang menetap terjadi hanya pada lengan. Sindrom benedik (paramedial midbrain syndrome) merupakan hasil dari penggabungan dan pelunakan fasikuler dari satu Nervus Okulomotor pada regio nukleus red ipsilateral. Maka pasien akan mengalami kelumpuhan N.III tipe perifer dengan diskinesia (hiperkinesia dan ataksia) kontralateral dan tremor yang menetap pada lengan.

Sindrom Benedikt adalah bila pada otak tengah tingkat kerusakan sampai di nukleus red atau di fasikulus Nervus III akan menyebabkan kelumpuhan pada Nervus III yang komplit atau parsial; kerusakan sampai pada nukleus red (diluar dari sisi lain hemisfer cerebelum) juga akan menyebabkan tremor kontralateral.(4,16). Sindrom Benedikt adalah sindrom neurologi paralisis Nervus III karena trauma pada Nervus Okulomotor dan nukleus red.

Etiologi dan gejala klinis (17,18,19)

Secara umum: adanya lesi pada nukleus ruber dengan adanya oklusi pada nervus okulomotorius; adanya oklusi pada cabang dari arteri basiler, trauma, dan perdarahan pada otak tengah, dan keganasan merupakan penyebab yang paling sering

Gambaran klinis

Pada mata akan terdapat paralisis homolateral dari nervus okulomotorius, yang dihubungkan dengan pergerakan konvergensi, elevasi dan depresi dari mata, juga hilangnya refleks cahaya dan akomodasi. (interupsi saraf radiks III di dalam otak tengah).

Selain itu juga terdapat hiperkinesia secara unilateral, hemiparesis kontralateral, tremor pada pada bagian ekstremitas atas (yang meningkat saat aktivitas), hemihipoestesia, dan

(25)

kehilangan sensibilitas yang dalam; juga ataxia ipsilateral1.Kelumpuhan Nervus III (Okulomotorius).

2.5 Sindrom Parinaud atau aquaductus Sylvii(2)

Penyebab tumor, biasanya pinealoma, menekan kolikuli superior dari otak tengah, atau yang lainnya, seperti astrositoma periakuaduktal, melibatkan daerah prerektal dekat akuaduktus (nukleus interstitialis Cajal).

Sindrom ini terdiri dari paralisis gerakan konjugat ke atas dari mata, tanpa adanya paralisis konvergensi. Perasat kepala boneka positif untuk gerakan mata vertikal; pada waktu menolehkan kepala, mata bergerak secara konjugat ke atas secara refleksif.

Dengan tumbuhnya tumor ke dalam tegmentum otak tengah, akan terjadi paresis nukleus tambahan dari saraf III dengan refleks pupiloplegia dari paresis IV. Kompresi dari akuaduktus menyebabkan hidrosefalus hipertensif dari ventrikel lateral dan ventrikel ketiga. Kerusakan kolikuli inferior menyebabkan hilangnya pendengaran. Ada kecenderungan untuk jatuh ke belakang dan ke sisi yang berlawanan.

Ataksia disebabkan oleh keterlibatan dari pedunkel serebelaris superior (brakium konjungtivum) dan serebelum. Kadang-kadang, herniasi tentorial mencetuskan serangan kekakuan deserebral. Dengan tumbuhnya tumor ke dalam hipotalamus dan ventrikel ketiga, dapat berkembang gejala hipotalamik (diabetes insipidius).

1.6 Sindrom Claude (sindrom nukleus ruber bawah; sindrom pedunkel rubrospinal)

(20,21,22,23)

Sindrom ini dikarenakan terdapat lesi dimulai dari otak tengah, kemudian terjadi oklusi pada cabang dari suplai dari arteri paramedian dibagian bawah dari nukleus ruber.

Secara klinis akan terjadi paralisis dari nervus okulomotorius dan nervus trokhlearis ipsilateral. Sealin itu juga akan terdapat hemiplegia secara motorik.

Pemeriksaan nervus okulomotorius biasanya dilakukan bersama-sama dengan pemeriksaan nervus troklearis dan nervus abdusen, pemeriksaan tersebut terdiri atas:

1. Celah kelopak mata

Pasien disuruh memandang lurus ke depan → kemudian dinilai kedudukan kelopak mata terhadap pupil dan iris.

(26)

- Pupil

Yang perlu diperiksa adalah:

(1) ukuran: apakah normal (diameter 4-5 mm), miosis, midriasis atau pin pont pupil (2) bentuk: apakah normal, isokor atau anisokor

(3) posisi: apakah central atau eksentrik

(4) refleks pupil: refleks cahaya langsung → cahaya diarahkan pada satu pupil → reaksi yang tampak untuk kontraksi pupil homolateral, refleks cahaya tidak langsung (konsensual /crossed light refleks) → selain kontraksi homolateral juga akan tampak kontraksi kontralateral,

refleks akomodasi-konvergensi → pasien diminta melihat jauh kemudian melihat ketangan

pemeriksa yang diletakkan 30 cm di depan hidung pasien. Pada saat melihat tangan pemeriksa, kedua bola mata pasien bergerak secara konvergensi (kearah nasal) dan tampak pupil mengecil. Refleks ini negatif pada kerusakan saraf simpatikus leher,

2. Gerakan bola mata

Fungsi otot-otot ekstrinsik bola mata dinilai dengan gerakan bola mata keenam arah yaitu lateral, medial, lateral atas, medial atas, medial atas dan medial bawah

caranya : pasien menghadap ke depan dan bola mata digerakkan menurut perintah atau mengikuti arah objek Kelainan-kelainan yang dapat terjadi antara lain :

1. Kelemahan otot-otot bola mata (opthalmoparese/opthalmoplegi) berupa:(1) gerakan terbatas, (2) kontraksi skunder dari anta-gonisnya, (3) strabismus, (4) diplopia

2. Nistagmus (gerakan bolak-balik bola mata yang involunter) → dapat terlihat saat melihat ke samping, atas, bawah.

(27)

PATOFISIOLOGI KELUMPUHAN NERVUS III.

Kelumpuhan Nervus III disebabkan karena kerusakan pada Nervus okulomotorius di sembarang tempat, bisa terjadi pada nukleus di dorsal mesenchepalon, vesikel di parenkim batang otak, akar nervus di ruang subarakhnoid, atau di sinus kavernosus atau di orbitalis posterior. Kerusakan pada nervus III di daerah nukleus akan menyebabkan kelumpuhan nervus III ipsilateral dengan m. rektus superior kontralateral tak terkendali dan ptosis bilateral. Kerusakan nervus III vesikel akan menyebabkan kelumpuhan nervus III ipsilateral dengan tremor terkendali kontralateral. Infark vaskuler, penyakit metastase dan demielinisasi adalah penyebab umum dari penyakit pada batang otak.

Kerusakan nervus III di ruang subarakhnoid menghasilkan suatu kelumpuhan Nervus III terisolasi-penyebab utamanya adalah penekanan pada saraf akibat perluasan aneurisma pada arteri komunikantes superior atau arteri basilaris, dan iskemi vaskulopati. Selalu ada nyeri pada penekanan aneurisma dengan ciri khas akibat pengaruh pada fungsi pupil. Pada kelumpuhan-iskemi vaskuler Nervus III nyeri hilang timbul dan pupil biasanya normal dan berespon.

Kerusakan pada nervus III pada sinus kavernosus fisura orbitalis superior atau orbita posterior, sepertinya tidak muncul sebagai kelumpuhan Nervus III. Karena pertemuan

Sumber:

(28)

struktur-struktur lain di daerah tersebut. Keterlibatan sinus kavernosus juga dapat muncul parese Nervus IV, Nervus VI dan V-1. Penyebab yang paling umum adalah kerusakan pada daerah-daaerah tersebut termasuk penyakit metabolisme, inflamasi, gerpes zoster, aneurisma a. karotis, adenoma phytuitari dan aplopleksi dan meningioma sayap sphenoid.

PENANGANAN KELUMPUHAN NERVUS III.

Pada Kelumpuhan Nervus III dengan komplikasi dimana struktur netral turut sert anjurkan pasien menjalani MRI. Kelumpuhan Nervus III terisolasi tanpa keterkaitan pupil pada pasien di atas usia 50 tahun diindikasikan MRI scaning, evaluasi iskemik vaskular dan evaluasi pupil tiap hari. Bila pasien usianya dibawah 50 tahun dan pupil tidak terpengaruh pada kemumpuhan Nervus III terisolasi, angiografi intrakranial juga diindikasikan sejak iskemi vaskulopati, jarang muncul pada kelompok usia seperti ini daripada aneurisma. Jika pasien dewasa semua usia mengalami inkomplit atau kelumpuhan komplit Nervus III terisolasi dengan keterlibatan pupil, pertimbangkan ini sebagai medical emergency dan anjurkan pasien menjalani angiografi intrakranial segera.

Dalam kasus-kasus seperti ini, penyebab yang paling mungkin ialah aneurisma subarachnoid dan pasien bisa mati bila terjadi ruptur aneurisma. Anak-anak di bawah ini jarang mengalami aneurisma; dan umumnya kelumpuhan Nervus III pada kelompok usia ini karena kongenital atau trauma.

Kelumpuhan Nervus III karena iskemik vaskulopati dapat sembuh dan pulih spontan setelah tiga sampai enam bulan. Jika kelumpuhan tidak ssembuh dalam periode ini ulangi MRI untuk mencari etiologi yang pasti.

KESIMPULAN

Sindrom adalah Depresi mental, defisit nervus okulomotorius ipsilateral, kelemahan spastik atau paralisis dari keempat ekstremitas atau bagian dari kontralateral dari tubuh. Hal tersebut

(29)

dapat disebabkan karena trauma cranial, tumor otak, atau proses degeneratif atau proses inflamasi dari mesensefalon.

Kelumpuhan piramidalis akibat lesi di batang otak merupakan gejala bagian dari sindroma batang otak yang dapat diperinci dalam: (1) sindroma mesensefalon (sindrom Weber, sindrom Benedict, sindrom Claude), (2) sindrom pons (sindrom foville, sindrom Raymond-Cestan, sindrom Millard-Gubller) dan (3) sindrom medulla oblongata (sindrom Pra-Olivar, sindrom retro-Olivar, sindrom Lateralis/Wallenberg).

Jika terjadi kerusakan serat nervus III, IV, dan VI di dalam batang otak setelah melewati nukelus akan disebut sebagai sindrom fasikular dari nervus kranialis III, IV, dan VI. Jika tejadi kerusakan pada nervus tiga dan pedunkulus serebral superior akan menyebabkan sindrom nothnagel. Apabila terjadi lesi di nervus III dan nukleus red akan mengakibatkan sindrom benedik. Jika terjadi kerusakan nervus III dan pedunkulus serebral akan menyebabkan sindrom Weber dan apabila terjadi kerusakan nervus III dan pedunkulus serebral superior dan nukleus red akan menyebabkan sindrom claude.

DAFTAR PUSTAKA

1. http://id.wikipedia.org/wiki/Otak . accessed on Desember 28, 2011.

2. Suwono, Wita., Ronardy devy. Diagnosis Topik Neurologi: Anatomi, Fisiologi, Tanda dan Gejala. EGC, Jakarta. Hal 144-152.

3. http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/midbrain+syndrome. Accessed January 10, 2012.

4. Mardjono M, Sidharta P. Saraf otak dan Patologinya. Dalam: Neurologi Klinis Dasar. Penerbit PT. Dian Rakyat. Jakarta. 2000: 29 – 42.

(30)

5. Dorland: Kamus Kedokteran, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Edisi 26, cetakan II, Jakarta 1996

6. Prof. Dr. I. Gusti Ng. Gd. Ngoerah. Nervi Kranialis. Dalam: Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Saraf. Penerbit Universitas Airlangga. Surabaya. 1990: 130 – 133.

7. Http://www.yahoo.net/seach/cache?/neuro24.de/hirnnerven_webersyndrome.html 8. Http://www.yahoo.net/search/cache?/angelfire.com/nc/neurosurgery/Topik.html 9. Kistler JP, Ropper AH, Martin JB. Cerebrovascular diseases. In: Isselbacher KJ, et al.,

eds. Harrison’s Principles of Internal Medicine, 13th ed. New York: McGraw-Hill, 1994:2242.

10. Newman NJ. Third, fourth and sixth-nerve lesions and the cavernous sinus. In: Albert DM, Jakobiec FA, eds. Principles and Practice of Ophthalmology, vol. V. Philadelphia: WB Saunders, 1994:2451.

11. Miller NR, ed. Walsh and Hoyt’s Clinical Neuro-Ophthalmology, vol. 4, part 1, 4th ed. Baltimore: Williams & Wilkins, 1991:2384.

12. Weber HD. A contribution to the pathology of the crura cerebri. Med Chir Trans 1863; 46:121.

13. Wolf S, et al. The posterior inferior cerebellar artery on vertebral angiography. AJR Am J Roentgenol 1962; 87:322.

14. Duus, Peter. Diagnosis Topik Neurologi. Edisi 2. 1996.hal.145,157.

15. Price, A Silvia, Wilson M. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Volume 2. Edisi 6. 2005. Hal. 1025-1026.

16. Prof. DR. dr. S.M. Lumbantobing, Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental; FK UI 1999. Hal 37 – 8

17. Antworth MV, Beck RW Third nerve palsy as a presenting sign of acquired immune deficiency syndrome. J Clin Neuro-Ophthalmol 1987; 7: 125-128.

18. Benedikt M. Tremblement Avec Paralysie Croisee du Monteur Oculaire Commune. Bull Med (Paris) 1889; 3:547.

19. Magalini SI, Scrascia E. Dictionary of Medical Syndromes, 2nd ed. Philadelphia: JB Lippincott, 1981

(31)

21. Cremieux G, Serratrice G. A case of retraction nystagmus associated with Claude's syndrome. Mars Med (Fre) 1972; 109:635.

22. Gaymard B, et al. Two mesencephalic lacunar infarcts presenting as Claude's syndrome and pure motor hemiparesis. Eur Neurol 1991; 31:152-155.

Referensi

Dokumen terkait