PEMBELAJARAN KESETIMBANGAN KIMIA DENGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP
DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA Oleh :
Fitria Fathan1, Liliasari2, Ijang Rohman3
Jurusan Pendidikan Kimia, FPMIPA UPI – email : [email protected] Jurusan Pendidikan Kimia, FPMIPA UPI – email : [email protected]
Jurusan Pendidikan Kimia, FPMIPA – email : [email protected] Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa pada materi kesetimbangan kimia. Penelitian ini merupakan penelitian Kuasi Eksperimen menggunakan One Group Pretest-Postest Design.Subjek penelitian sebanyak 30 orang siswa di salah satu SMA di kota Garut. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan multimedia interaktif pada pembelajaran kesetimbangan kimia dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan rata-rata N-Gain sebesar 54,27%. Peningkatan hasil belajar ini menunjukkan peningkatan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa. Konsep yang paling dikuasai oleh siswa setelah belajar dengan menggunakan
courseware MMI “Chemical Equilibrium” adalah Prinsip Le Chatelier dan faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan dengan rata-rata N-Gain 58,64% dan konsep yang kurang dikuasai siswa adalah kesetimbangan kimia dalam bidang industri dengan rata-rata N-Gain 46,32%. Indikator keterampilan berpikir kritis yang paling dikuasai adalah membuat induksi dan mempertimbangkan induksi dengan rata-rata N-Gain 74,28%, sedangkan yang kurang dikuasai adalah mengidentifikasi asumsi dengan rata-rata N-gain sebesar 45,97%. Siswa dan guru memberikan tanggapan yang baik terhadap penggunaan courseware multimedia interaktif pada pembelajaran kesetimbangan kimia. Namun terdapat kelemahan dalam courseware ini, yaitu dalam hal pengoperasian, siswa mengalami kesulitan terkendala bahasa yang digunakan.
Kata Kunci : multimedia interaktif, pengusaan konsep, keterampilan berpikir kritis, kesetimbangan kimia.
TEACHING OF CHEMICAL EQUILIBRIA BY INTERACTIVE MULTIMEDIA TO INCREASE SENIOR HIGH STUDENT CONCEPT COMPREHENSION
AND CRITICAL THINKING SKILLS. Abstract
The objective of this research is to increase student concept comprehension and critical thinking skills at chemical equilibrium concepts. Research methode was designed using one group pretest and postest quasi experiment. The reseasrch subject were thirty students of one of the Senior High School in Garut. The result showed that application of multimedia model could increasing student learning output by N-Gain average at 54.27%. Increasing the learning output is indication of student concept comprehension and critical thinking skills.
The most student understanding concepts after using courseware interactive multimedia “Chemical Equilibrium” were Principle of Le Chatelier and influence factors of into chemical equilibria by average N-Gain at 58,64%. While the less understanding concept was chemical equilibria in industry area by N-Gain average at 46.32%.
The most student understanding of critical thinking indicators were induction making and induction cosideration by average N-Gain at 74.28%. While the less understanding critical thinking indicators was consideration of assumption by N-Gain average at 45.97%. Both teachers and students gave a positive respond in using of courseware interactive multimedia at chemical equilibria. However they still have the difficulty in opertaion and techical language.
Keyword: interactive multimedia, concept comprehension, critical thinking skills, chemical equilibria.
PENDAHULUAN
Pendidikan sains di Indonesia sekarang ini masih menghadapi berbagai permasalahan. Salah satunya adalah pencapaian mutu pendidikan yang masih kurang memadai. Hal ini dapat dilihat dari hasil studi Trends in International Mathematics and Science Study(TIMSS) tahun 2007. Literasi Sains peserta didik Indonesia berada di urutan ke-35 dari 49 negara dengan pencapaian skor 433, dan masih di bawah skor rata-rata internasional yaitu 500.
Rata-rata pencapaian skor sains siswa Indonesia menurut cakupan materi adalah: Biologi 428, Kimia 421, Fisika 432, dan Ilmu Bumi 442. Adapun rata-rata persentase pencapaian jawaban benar siswa Indonesia menurut cakupan materi sains adalah total soal Sains TIMSS 2007; 39 dari 74 (0,6), sedangkan sebelumnya (TIMSS 2003) 40 dari 74 (0,6), untuk soal kimia (14 butir soal) turun dari 0,6 menjadi 0,4. Data tersebut menunjukkan bahwa mata pelajaran kimia merupakan mata pelajaran yang masih dirasakan sulit oleh sebagian besar siswa.
Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengajarkan konsep-konsep kimia agar mudah dipahami oleh siswa adalah melalui kegiatan laboratorium atau praktikum. Kegiatan praktikum memberi kesempatan kepada siswa untuk mengalami
sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek serta keadaan suatu proses. Oleh sebab itu, kegiatan praktikum dirasakan dapat meningkatkan ketertarikan siswa dalam mempelajari kimia sehingga
diharapkan dapat meningkatkan
pemahaman siswa tentang suatu konsep kimia.
Pembelajaran praktikum ini memiliki banyak kelebihan, namun pembelajaran praktikum masih memiliki banyak kendala dalam pelaksanaannya. Pada kenyataannya pembelajaran kimia dengan metode praktikum di SMA masih jarang dilakukan. Alasan yang biasanya muncul diantaranya ketersedian alat dan bahan, fasilitas laboratorium yang belum memadai, serta keterbatasan waktu, khususnya waktu persiapan menjelang praktikum dan alokasi waktu belajar di kelas. Selain itu, tidak semua topik dalam pembelajaran kimia dapat disampaikan dengan metode praktikum.
Kesetimbangan kimia merupakan salah satu konsep kimia dalam kehidupan sehari-hari yang jarang diselenggarakan dengan menggunakan metode praktik karena memerlukan penggunaan alat dan bahan yang mahal, pengerjaan praktikum yang membutuhkan waktu yang lama, memerlukan perlakuan khusus serta dilakukan dengan skala yang besar. Sementara itu, konsep ini memegang
DO NOT COPY
peranan penting dalam mempelajari ilmu kimia. Selain kesulitan tersebut, karakteristik konsep kesetimbangan kimia bersifat abstrak yang membutuhkan kemampuan visualisasi yang baik merupakan salah satu kendala tersendiri dalam usaha peningkatan penguasaan konsep.
Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memanfaatkan teknologi komputer. Model pembelajaran yang memanfaatkan teknologi komputer adalah model pembelajaran dengan menggunakan courseware multimedia interaktif (MMI). Seiring dengan bergesernya paradigma dalam bidang pendidikan pengajaran dari teacher oriented
menuju student oriented yang secara tidak langsung akan menuntut tersedianya fasilitas belajar mandiri yang menarik bagi siswa. Multimedia merupakan saluran pilihan dalam menyampaikan informasi dengan cara yang lebih berkesan. Pembelajaran yang menyenangkan atau berkesan juga dapat memusatkan perhatian siswa secara penuh dalam belajar sehingga waktu curah perhatian siswa cukup tinggi. Perhatian yang tinggi pada apa yang dipelajari akan sangat membantu dan memudahkan siswa dalam mempelajari materi pelajaran (Phing, 2007). Penggunaan multimedia interaktif dapat membantu memvisualisasikan konsep-konsep abstrak yang sulit untuk dipraktekkan di kelas. Kozma (Ardac, 2004) pemanfaatan teknologi berbasis komputer dapat memberikan sarana yang ampuh untuk pemahaman molekuler.
Selain penguasaan konsep,
pembelajaran sains termasuk mata pelajaran kimia juga perlu mengembangkan keterampilan berpikir siswa diantaranya adalah keterampilan berpikir kritis. Hal ini sesuai dengan Peraturan Mendiknas No. 23 Tahun 2006, bahwa tujuan pembelajaran pada kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi adalah
untuk mengembangkan logika, kemampuan berpikir dan analisis peserta didik. Disamping itu, beberapa hasil penelitian pendidikan menunjukkan bahwa berpikir kritis ternyata mampu menyiapkan peserta didik berpikir pada berbagai disiplin ilmu, serta dapat dipakai untuk pemenuhan kebutuhan intelektual dan pengembangan potensi peserta didik, karena dapat mempersiapkan peserta didik untuk menjalani karir dan kehidupan nyatanya (Liliasari, 2009). Oleh karena itu,
courseware multimedia interaktif yang
digunakan pada penelitian ini
menggunakan coursewareyang telah disusun oleh Sagita (2010) dengan memperhatikan aspek-aspek keterampilan berpikir kritis.
Penelitian mengenai penggunaan
multimedia interaktif kesetimbangan kimia dan pengaruhnya terhadap penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis telah dilakukan oleh Sagita (2010). Namun demikian dari hasil kajian yang dilakukan, masih diperlukan perbaikan-perbaikan dari segi animasi, konten, dan keterbacaan teks. Hal tersebut yang mendasari dilakukannya penelitian lanjutan mengenai peranan
courseware MMI dalam meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa pada pembelajaran kesetimbangan kimia.
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan utama pada penelitian ini adalah “Bagaimana peranan multimedia interaktif pada pembelajaran
kesetimba-ngan kimia dalam meningkatkan
penguasaan konsep dan berpikir kritis siswa SMA”.
Tujuan dari penelitian ini adalah: (1)
Memperbaiki courseware MMI
Kesetimbangan Kimia yang telah dikembangkan oleh peneliti sebelumnya. (2) Meningkatkan penguasaan konsep siswa SMA pada pokok bahasan kesetimbangan kimia dengan menggunakan courseware
MMI dalam pembelajaran. (3)
Meningkatkan keterampilan berpikir kritis
siswa SMA pada pokok bahasan
kesetimbangan kimia dengan menggunakan
coursewareMMI.
Peran Multimedia Interaktif pada Pembelajaran
Media pembelajaran menempati posisi penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran. Pada awalnya media hanya terbatas pada alat peraga dan media cetak, seperti tulisan, gambar, atau bagan. Perkembangan teknologi informasi sangat mempengaruhi perkembangan media itu sendiri. Seiring dengan perkembangan teknologi tersebut, berkembang media audio (tape, radio), media video (slide) dan media audio-visual. Perkembangan terkini menunjukkan bahwa media audio-visual dan media cetak dapat digabungkan menjadi sebuah media interaktif yang lazim disebut multimedia.
Fenrich (dalam Pranomo, 2008) menyatakan bahwa manfaat multimedia dalam pembelajaran bagi siswa adalah sebagai berikut:
a. Siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan, kesiapan dan keinginan mereka. Artinya pengguna sendirilah yang mengontrol proses pembelajaran. b. Siswa belajar dari tutor yang sabar
(komputer) yang menyesuaikan diri dengan kemampuan siswa.
c. Siswa akan terdorong untuk mengejar pengetahuan dan memperoleh umpan balik seketika.
d. Siswa menghadapi suatu evaluasi yang obyektif melalui keikutsertaannya dalam latihan/tes yang disediakan.
e. Siswa menikmati privasi di mana mereka tak perlu malu saat melakukan kesalahan.
Pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif diartikan sebagai suatu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa, sehingga dapat mendorong proses belajar. Pembelajaran tidak lagi bersifat teacher oriented namun
bersifat student oriented. Siswa secara aktif bereksplorasi materi, berelaborasi dan mengkonfirmasikan temuannya secara mandiri, namun cukup menyenangkan (Muhammad, 2002). Pembelajaran yang menyenangkan atau berkesan juga dapat memusatkan perhatian siswa secara penuh dalam belajar, sehingga waktu curah perhatian siswa cukup tinggi. Perhatian yang tinggi pada apa yang dipelajari akan sangat membantu dan memudahkan siswa dalam mempelajari materi pelajaran (Phing, 2007).
Keterampilan Berpikir Kritis
Berpikir didefinisikan sebagai proses mental yang dapat menghasilkan pengetahuan. Dalam proses tersebut terjadi kegiatan penggabungan antara persepsi dan unsur-unsur yang ada dalam pikiran, kegiatan manipulasi mental karena adanya rangsangan dari luar membentuk suatu pemikiran, penalaran, dan keputusan, serta kegiatan memperluas aturan yang diketahui untuk memecahkan masalah (Arifin, 2003). Kegiatan berpikir yang dilakukan dalam proses, digunakan keterampilan berpikir dasar dan keterampilan berpikir kompleks. Menurut Costa (1985) yang termasuk keterampilan berpikir dasar meliputi kualifikasi, klasifikasi, hubungan variabel, transformasi, dan hubungan sebab akibat. Sedangkan keterampilan berpikir kompleks melibatkan aspek-aspek pemecahan masalah, pengambilan keputusan, berpikir kreatif dan berpikir kritis.
Di antara proses berpikir tingkat tinggi di atas salah satu yang digunakan dalam pembentukan sistem konseptual IPA adalah berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan cara berpikir reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar yang difokuskan untuk menentukan apa yang harus diyakini dan apa yang harus dilakukan (Ennis dalam Costa, 1985).
Indikator keterampilan berpikir kritis dibagi menjadi lima kelompok yaitu:
memberikan penjelasan sederhana, membangun
DO NOT COPY
keterampilan dasar, menyimpulkan, membuat penjelasan lebih lanjut, serta mengatur strategi dan taktik. Indikator-indikator keterampilan berpikir kritis ini dirinci lebih lanjut yang lebih spesifik dan yang sesuai dengan pembelajaran IPA. Indikator Keterampilan Berpikir Kritis yang dikembangkan dalam penelitian ini diantaranya adalah: (1) memfokuskan pada sebuah pertanyaan, (2) menganalisis argumen, (3) mempertimbang-kan kredibilitas sebuah sumber, (4) meng-observasi dan mempertimbangkan hasil observasi, (5) membuat induksi dan memper-timbangkan induksi, (6) membuat deduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi, (7) membuat dan mempertimbang-kan nilai keputusan, (8) mendefinisimempertimbang-kan istilah dan mempertimbangkan definisi, (9) mengidentifi-kasi asumsi, dan (10) memutuskan sebuah tindakan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode
Quasi Experiment yang dilakukan dengan desain penelitian jenis One Group Pretest-Posttest Design. Penelitian ini dilaksanakan di suatu SMA Negeri Kabupaten Garut pada semester II tahun ajaran 2011/2012. Subjek dalam penelitian ini adalah 30 orang siswa kelas XI. Untuk pengumpulan data digunakan tiga jenis instrumen, yakni soal tes, angket siswa, dan pedoman wawancara terhadap guru. Soal tes berisi item-item soal yang bertujuan untuk
mengukur penguasaan konsep
kesetimbangan kimia dan mengukur penguasaan keterampilan berpikir kritis siswa baik sebelum (pretes) maupun setelah implementasi pembelajaran (postes). Hasil pre-tes dan pos-tes diolah dan dianalisis untuk mengetahui peningkatan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa.
HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan Penguasaan Konsep
Berdasarkan data yang diperoleh, diketahui bahwa secara umum siswa
mengalami peningkatan penguasaan konsep dengan nilai N-Gain(%) sebesar 54,27. Terhadap peningkatan tersebut dilakukan uji signifikansi antara data pretes dan postes dengan menggunakan uji Wilcoxon pada program SPSS 17.0. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa nilai taraf signifikansi 0,000 < taraf nyata 0,05. berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa nilai pretes dan postes berbeda secara signifikan.
Pembelajaran kesetimbangan kimia ini terdiri atas 5 label konsep. Gambar 1
menunjukkan bahwa peningkatan
penguasaan konsep terjadi pada semua label konsep. Peningkatan penguasaan konsep tertinggi terjadi pada konsep faktor-faktor
yang mempengaruhi pergeseran
kesetimbangan kimia dengan nilai N-Gain(%) 58,64, sedangkan peningkatan yang terendah terjadi pada konsep kesetimbangan kimia di bidang industri dengan nilai N-Gain(%) 46,32.
Gambar 1. Persentase N-Gain pada Setiap Konsep
Keterangan:
1 : Definisi Kesetimbangan dinamis 2 : Kesetimbangan Homogen dan
Kesetimbangan Heterogen
3 : Hukum Kesetimbangan dan Tetapan Kesetimbangan Kcdan Kp
4 : Prinsip Le Chatelier, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pergeseran Kesetim-bangan 5 :Kesetimbangan Kimia di Bidang
Indus-tri.
Peningkatan Penguasaan Keterampilan Berpikir Kritis
Indikator Keterampilan Berpikir Kritis yang dikembangkan diantaranya adalah: (1) memfokuskan pada sebuah pertanyaan, (2)
DO NOT COPY
menganalisis argumen, (3) mempertimbang-kan kredibilitas sebuah sumber, (4) meng-observasi dan mempertimbangkan hasil observasi, (5) membuat induksi dan mempertimbangkan induksi, (6) membuat deduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi, (7) membuat dan mempertimbang-kan nilai keputusan, (8) mendefinisimempertimbang-kan istilah dan mempertimbangkan definisi, (9) mengidentifikasi asumsi, dan (10) memutus-kan sebuah tindamemutus-kan. Penggunaan multi-media interkatif pada pembelajaran kesetimbangan kimia dapat meningkatkan kesepuluh indikator keterampilan berpikir kritis tersebut seperti terlihat pada gambar 2.
Gambar 2 Grafik Persentase N-Gain pada Setiap Indikator Keterampilan Berpikir Kritis (KBK) Keterangan:
KBK 1 : Memfokuskan pada sebuah pertanyaan
KBK 2 : Menganalisis argument
KBK 3 : Mempertimbangkan kredibilitas sebuah sumber
KBK 4 : Mengobservasi dan
Mempertimbangkan hasil bservasi KBK 5 : Membuat deduksi dan
mempertimbangkan hasil deduksi KBK 6 : Membuat induksi dan
mempertimbangkan hasil induksi KBK 7 : Membuat dan mempertimbangkan
nilai keputusan
KBK 8 : Mendefinisikan istilah dan mempertimbangkan definisi KBK 9 : Mengidentifikasi asumsi KBK 10 : Memutuskan sebuah tindakan.
Terhadap peningkatan tersebut dilakukan uji signifikansi pada setiap indikator data. Hasil uji signifikansi
menunjukkan bahwa nilai taraf signifikansi 0,000 < taraf nyata 0,05. Berdasarkan uji tersebut dapat disimpulkan bahwa peningkatan terjadi secara signifikan.
Tanggapan Siswa dan Guru terhadap Pembelajaran dengan Multimedia Interaktif
Untuk mengetahui tanggapan siswa mengenai pembelajaran dengan mengguna-kan MMI dilakumengguna-kan pengumpulan data dengan menggunakan angket. Angket diisi oleh seluruh siswa setelah implementasi pembelajaran. Angket yang digunakan merupakan angket terbuka dengan skala Likert. Hasil analisis angket tanggapan siswa terhadap penggunaan courseware MMI pada pembelajaran kimia dapat dirangkum dalam tabel 1.
Tabel 1. Rekapitulasi Angket Siswa
No Tanggapan Siswa Mean % p
1
Pembelajaran dengan menggu-nakan MMI merupakan model pembelajaran baru bagi saya.
3.27 81.7
2
Belajar dengan menggunakan MMI ini menyenangkan sehingga meningkatkan minat dan motivasi belajar.
3.33 83.3
3
Penggunaan MMI ini dapat meningkatkan penguasaan konsep.
3.32 82.9 4
Belajar dengan menggunakan MMI ini dapat melatih kemampuan berpikir.
3.25 81.2 5 Kualitas courseware MMI
"Chemical Equilbrium" 3.29 82.2 Untuk mengetahui tanggapan guru dilakukan wawancara terhadap guru kimia di lokasi penelitian.
Berdasarkan hasil analisis terhadap angket siswa, dapat diketahui bahwa pembelajaran kesetimbangan kimia dengan menggunakan MMI ini mendapatkan tanggapan yang baik dari siswa maupun guru. Siswa mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan MMI ini membantu siswa lebih mudah memahami konsep kimia, meningkatkan
DO NOT COPY
minat, rasa ingin tahu, dan motivasi siswa dalam belajar. Mengenai kualitas courseware
MMI ini, sebagian besar siswa memberikan tanggapan yang baik, siswa mengungkapkan
bahwa courseware MMI ini mudah
dioperasikan video, simulasi, animasi, grafik, dan tabel merupakan hal yang membuat siswa lebih mudah mengingat dan memahami materi yang dipelajari.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, diketahui pula bahwa guru memberikan tanggapan yang baik. Pembelajaran dengan menggunakan
courseware MMI ini sebagai alternatif model yang efektif dan cocok digunakan jika didukung fasilitas yang menunjang dan
dapat membantu guru dalam
menyampaikan materi kimia. Pembelajaran dengan courseware MMI lebih fleksibel artinya siswa dapat belajar secara mandiri. Pembelajaran dengancoursewareMMI relatif lebih singkat dibandingkan jika melaksanakan kegiatan praktikum, bahkan dengan courseware MMI siswa dapat memahami kimia pada aspek yang lebih mendalam, siswa dapat mengamati fenomena yang bersifat molekuler, yang selama ini menjadi kesulitan dalam mempelajari kimia.
Berdasarkan hasil penelitian, secara umum peningkatan penguasaan konsep dialami oleh seluruh siswa. Peningkatan penguasaan konsep siswa juga terjadi pada kelima konsep yang dikembangkan pada materi kesetimbangan kimia, meskipun besar peningkatannya berbeda-beda.
Walaupun demikian peningkatan
penguasaan konsep siswa pada setiap konsep yang dikembangkan seluruhnya terjadi secara signifikan. Peningkatan tersebut salah satunya diakibatkan oleh meningkatnya motivasi belajar siswa. Konsep-konsep kesetimbangan kimia disajikan secara menarik dalam courseware
MMI “Chemical Equilibrium” dengan menyajikan animasi-animasi secara molekuler yang jarang diperlihatkan pada
pembelajaran biasa. Hal ini sejalan dengan apa yang ditemukan Tasker dan Dalton (2006) bahwa animasi tingkat molekuler dapat memotivasi siswa dan merupakan sumber belajar yang efektif. Ariani dan Haryanto (2010) menyatakan bahwa
animasi dapat membantu proses
pembelajaran karena peserta didik dapat lebih mudah melakukan proses kognitif jika dibantu dengan animasi, sedangkan tanpa animasi proses kognitif tidak dapat dilakukan secara maksimal sebab kurang memotivasi siswa dan merangsang daya kognitif siswa. Faktor lain yang dapat mempengaruhi peningkatan penguasaan konsep siswa adalah perhatian siswa terhadap apa yang sedang dipelajari. Pada pembelajaran dengan menggunakan MMI setiap siswa berkesempatan untuk mengoperasikan sendiri MMI, sehingga perhatian siswa dapat terpusat. Hal ini sesuai dengan Phing (2007) perhatian siswa yang tinggi pada apa yang dipelajari akan sangat membantu dan memudahkan siswa mempelajari materi pembelajaran.
Peningkatan terjadi pula pada seluruh indikator keterampilan berpikir kritis siswa yang dikembangkan dengan rata-rata N-Gain(%) 54,27. Hal ini menunjukkan bahwa courseware MMI dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Wiederhold (Costa, 1985) mengemukakan bahwa berbagai jenis sistem yang dapat diprogram oleh komputer merupakan sarana waktu untuk mengulang pembelajaran. Namun terdapat kekurangan dalam courseware MMI ini yaitu dalam hal bahasa yang digunakan. Hal ini terjadi terutama ketika siswa mengisi jawaban pertanyaan, keberagaman kosakata bahasa Inggris yang dimiliki siswa dalam menjawab pertanyaan sangat mempengaruhi proses pengoperasian, karena courseware MMI ini menggunakan bahasa Inggris dan hanya membutuhkan satu jawaban yang sesuai. Oleh karena itu, siswa harus teliti dalam menjawab pertanyaan yang tersedia namun hal ini dapat diminimalisir karena
DO NOT COPY
pertanyaan pada courseware MMI ini menyediakan tiga kesempatan untuk memberikan jawaban yang paling sesuai. Kesulitan bahasa yang dihadapi dapat diminimalkan dengan pengarahan langsung secara individu yang mengalami kesulitan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang mengarah kepada rumusan masalah penelitian, maka dapat disimpulkan: (1) Penggunaan courseware
MMI dalam pembelajaran dapat
meningkatkan penguasaan konsep siswa pada konsep kesetimbangan kimia dengan rata-rata N-gain sebesar 54,27% yang menunjukkan kategori sedang; (2) konsep yang paling dikuasai oleh siswa adalah konsep faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan kimia dengan nilai N-gain sebesar 58,54% yang menunjukkan kategori sedang, sedangkan
konsep yang kurang dikuasai adalah kesetimbangan kimia dalam bidang industri dengan rata-rata N-gain sebesar 46,32% yang menunjukkan kategori sedang; (3)
penggunaan courseware MMI dalam
pembelajaran materi kesetimbangan kimia dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dengan rata-rata N-gain sebesar 54,27% yang menunjukkan kategori sedang. Indikator keterampilan berpikir kritis yang paling dikuasai oleh siswa adalah membuat induksi dan mempertimbangkan hasil induksi dengan nilai N-gain sebesar 74,28% yang menunjukkan kategori tinggi, sedangkan yang kurang dikuasai adalah mengidentifikasi asumsi, dengan nilai N-gain sebesar 45,97% yang menunjukkan kategori sedang; dan (4) pembelajaran kesetimbangan kimia dengan multimedia interaktif mendapatkan tanggapan yang positif dari siswa maupun guru.
REFERENSI
Ariani, N., Dani H. (2010). Pembelajaran Multimedia di Sekolah Pedoman Pembelajaran Inspiratif, Konstruktif, dan Prospektif. Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya.
Arifin, M. (2003).Strategi Belajar Mengajar Kimia. Bandung: IMSTEP JICA.
Costa, A.L. (1985). Developing Minds A Resource Book for Teaching Thinking. Virginia: Virginian Association for Supervision and Curriculum Development.
Depdiknas. (2003).Panduan Umum Pengembangan Silabus dan Penilaian. Jakarta: Depdiknas.
Gonzales, P., Williams, T., Jocelyn, L., Roey, S., Kastberg, D., and Brenwald, S. (2008). Highlights From TIMSS 2007: Mathematics and Science Achievement of U.S. Fourth- and Eighth-Grade Students in an International Context (NCES 2009–001). National Center for Education Statistics, Institute of Education Sciences, U.S. Department of Education. Washington, DC.
Kozma, R. (1997). “Multimedia and Understanding: Expert and Novice Responses to Different Representations of Chemical Phenomena”. Journal of Research in Science Teaching. 34.(9). 949-968.
Liliasari. (2009). Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Kimia Menuju Profesionalitas Guru. [online]. Tersedia:http://file.upi.edu/ai.php. [17 Januari 2011].
Phing, B.S, Tse-Kian. (2007). “Interactive Multimedia: Students Attitudes and Learning Impact in An Animation Course”.The Turkish Online Journal of Educational Technology. 6.(3). 28-37
Pranomo. (2008).Pemanfaatan Multimedia Pembelajaran Modul Pelatihan Pemanfaatan TIK untuk Pembelajaran Tingkat Nasional Tahun 2008. Jakarta: Pusat Teknologi dan Komunikasi Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional.
Tasker, R. Dalton, R. (2006). “Research into Practice: visualization of the molecular world using animation”.
Chemistry Education Research and Practice.7.(2).141-159